Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Balinomics Soroti Dampak Ekonomi Global dan Strategi Penguatan Investasi di Bali

BALIILU Tayang

:

Balinomics
BALINOMICS: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menyelenggarakan kegiatan diseminasi perkembangan ekonomi dan kebijakan terkini melalui event bertajuk Balinomics pada Selasa, 25 Februari 2025 di Kantor BI Bali. Hadir para narasumber dari kiri Advisor KPw BI Bali Indra Gunawan Sutarto, Kepala KPw BI Bali Erwin Soeriadimadja, Deputi KPw BI Bali Butet Linda HP, dan Ketua Bali Tourism Board Bali Ida Bagus Agung Partha A. (Foto: Hms BI)

Denpasar, baliilu.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Melalui kegiatan Balinomics menyoroti perkembangan ekonomi global dan dampaknya terhadap Indonesia, khususnya bagi perekonomian Bali. Perkembangan kebijakan ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga serta proteksionisme yang diterapkan Amerika Serikat (AS), menjadi faktor utama yang perlu dicermati dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan regional.

Advisor Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Indra Gunawan Sutarto, menyampaikan bahwa ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi akibat dinamika kebijakan AS, termasuk penerapan tarif impor dan kebijakan moneter yang lebih terbatas. Hal ini berdampak pada apresiasi dolar AS serta berkurangnya aliran modal ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Meskipun demikian, di tengah tantangan global, nilai tukar Rupiah tetap stabil, didukung oleh kebijakan stabilisasi yang diterapkan Bank Indonesia serta berlanjutnya aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik,” sebut Indra.

Bank Indonesia juga terus memperkuat strategi operasi moneter pro-market guna menarik lebih banyak investasi portofolio asing dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Optimalisasi instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sekuritas Utang Valas Bank Indonesia (SUVBI) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik.

Selain dampak ekonomi global, sektor investasi juga menjadi fokus utama dalam diskusi di Balinomics. Realisasi penanaman modal di Bali menunjukkan capaian positif, mencapai Rp 28,1 triliun pada tahun 2024 atau melampaui target sebesar Rp 16,23 triliun. Investasi langsung (Foreign direct investment/FDI) di Bali terutama mengalir ke sektor perhotelan, restoran, kawasan industri, dan perkantoran, dengan investor utama berasal dari Prancis dan Rusia. Guna memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, upaya untuk terus mendorong diversifikasi sumber investasi dengan menarik minat investor dari Uni Emirat Arab, India, dan negara lainnya perlu dilakukan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sektor hilirisasi dan meningkatkan daya tarik investasi di sektor-sektor strategis.

Baca Juga  BI Bali Terus Dorong Lahirkan Konsumen Cerdas Berdaya Melalui PQN

Dalam konteks regional, Indra menyampaikan bahwa Bank Indonesia bersama mitra kerja terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi Bali dengan berbagai langkah strategis, termasuk pemenuhan kebutuhan uang Rupiah menjelang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Upaya ini diwujudkan melalui penyediaan layanan kas yang optimal, edukasi kepada masyarakat mengenai Cinta, Bangga, Paham Rupiah, serta distribusi uang yang merata untuk menjaga kelancaran transaksi ekonomi di Bali. “Dengan berbagai strategi ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung stabilitas ekonomi nasional, termasuk Bali, serta mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berkembang,” ucap Indra menyimpulkan paparannya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Tahun 2025, Inflasi Bali Terjaga dalam Sasaran

Published

on

By

Info Grafis Inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Rilis BPS Provinsi Bali pada 5 Januari 2026 menyebutkan bahwa perkembangan harga gabungan kabupaten/kota perhitungan inflasi di Provinsi Bali pada Desember 2025 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,40% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali mengalami peningkatan menjadi 2,91% (yoy) dari 2,51% (yoy) pada November 2025. Inflasi Bali pada Desember 2025 terjaga dalam sasaran 2,5±1% dan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 2,92% (yoy). Capaian inflasi Bali sejalan dengan pertumbuhan Bali tahun 2025 yang diprakirakan berada pada batas atas kisaran 5,0-5,8% (yoy). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota di Bali mengalami inflasi bulanan pada Desember 2025.

Denpasar mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,38% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,45% (yoy), diikuti Tabanan sebesar 1,02% (mtm) atau 2,70 (yoy). Selanjutnya, Singaraja mengalami inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan 2,51% (yoy). Lebih lanjut Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 1,12% (mtm) atau 2,37% (yoy). Inflasi di Provinsi Bali terutama disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, seiring dengan keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di daerah sentra penghasil Bali. Berdasarkan komoditasnya, secara bulanan inflasi Desember 2025 terutama bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan pemeliharaan/service. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan.

Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode libur tahun baru dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. Lebih lanjut, puncak musim hujan berisiko menyebabkan produksi hortikultura kurang optimal, gangguan distribusi, dan berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan hama dan organisme pengganggu tanaman yang dapat mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura. Kewaspadaan tetap perlu dilakukan untuk mengawal stabilitas harga dalam menghadapi periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta libur Idulfitri dan Nyepi pada triwulan I 2026.

Baca Juga  BI Bali Konsisten Dorong Pengembangan Standar Kualitas Layanan dan Inovasi QRIS

Oleh karena itu, sinergi TPID perlu terus diperkuat dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras dan hortikultura. Untuk menghadapi potensi tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali melalui implementasi strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif. Strategi 4K akan diperkuat melalui 3 (tiga) fokus utama yakni stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi.

Ke depan, TPID Provinsi dan seluruh TPID Kabupaten/Kota di Bali akan terus mendorong penguatan dan perluasan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai upaya menjaga inflasi yang stabil melalui penguatan regulasi, stabilitas pasokan, dan efisiensi distribusi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada TPID seluruh Pemerintah Daerah se-Provinsi Bali atas sinergi dan langkah konkret yang telah dilakukan secara konsisten, sehingga inflasi Bali tetap terjaga dan terkendali sepanjang tahun 2025.

“Pada tahun 2026 sinergi akan terus diperkuat melalui intensifikasi operasi pasar yang terencana, pengawasan dan percepatan penyaluran SPHP, penguatan produksi dalam daerah, kerja sama antardaerah baik intra-Bali maupun dengan luar Bali, peningkatan efisiensi rantai pasok pangan, dan membangun ekosistem ketahanan pangan yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi,“ ujar Erwin.

Sinergi pengendalian inflasi pangan juga mencakup kolaborasi antara pelaku hulu dan hilir, mulai dari petani, penggilingan, Perumda pangan, KDKMP, SPPG, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali optimis inflasi pada tahun 2026 akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Baca Juga  BI Bali Terus Dorong Lahirkan Konsumen Cerdas Berdaya Melalui PQN

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Hari Raya Keagamaan dan Musim Panen Dorong Optimisme Konsumen Bali

Published

on

By

Optimisme konsumen bali
Infografis Humas Bank Indonesia Provinsi Bali. (Foto Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme konsumen di Bali pada November 2025 berlanjut menguat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, seiring dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali serta musim panen pada beberapa komoditas perkebunan yang meningkatkan optimisme konsumsi masyarakat. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode November 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 141,58 (naik 1,2%; mtm) dan berada pada level optimis (indeks > 100). Optimisme IKK berdasarkan kelompok usia mayoritas didorong oleh usia 20-30 tahun (149,0), usia >60 tahun (147,2), 51-60 tahun (143,3), 31-40 tahun (137,7), serta usia 41-50 tahun (133,3). Optimisme IKK turut tercermin dari responden pekerja di sektor formal (140,3) dan informal (142,7). Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilakukan Bank Indonesia untuk mengetahui tingkat keyakinan konsumen mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian ke depan.

Peningkatan komponen IKK terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 148,3 menjadi 152,3 (naik 2,7%; mtm). Faktor pendorong laju pertumbuhan IKK berasal dari indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,4% (mtm) atau sebesar 151,5; indeks penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 3,2% (mtm) atau sebesar 163,5; serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,4% (mtm) atau sebesar 142,0. Peningkatan ekspektasi konsumsi masyarakat utamanya didorong oleh adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan yang meningkatkan permintaan jasa penjahit pakaian. Lebih lanjut, terdapat musim panen pada beberapa komoditas perkebunan seperti buah jeruk dan mangga sehingga sebagian responden petani perkebunan optimis akan adanya peningkatan konsumsi.

Baca Juga  BI Bali: Inflasi Bali Juni 2022 Didorong Peningkatan Harga Pangan

Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan moderat dari sebelumnya 131,5 menjadi 130,8 (turun 0,5%; mtm). Perlambatan tersebut utamanya disebabkan oleh menurunnya indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -5,1% (mtm) atau sebesar 131,0; serta indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar -3,8% (mtm) atau sebesar 114,0. Responden menyatakan tingginya persaingan dalam mencari pekerjaan, serta adanya kecenderungan untuk menahan pembelian barang tahan lama karena persediaan barang responden saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, penurunan IKE lebih dalam tertahan oleh indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu yang masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,9% (mtm) atau sebesar 147,5. Hasil tersebut menunjukkan IKE dan IEK berada pada level optimis (> 100,0) yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi terus bertumbuh.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Selama Hari Raya Galungan dan Kuningan, TPID terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan pangan melalui pelaksanaan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga. Dengan terjaganya tingkat inflasi, diharapkan dapat mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, menarik minat investor, serta memperkuat aktivitas perekonomian daerah,“ ujarnya.

Lebih lanjut, demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah risiko curah hujan tinggi, Bank Indonesia pada 18-19 November 2025 mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Dalam hal mencegah risiko bencana hidrometeorologi, Pemerintah Provinsi Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berkoordinasi untuk memetakan daerah rawan banjir, banjir bandang, dan longsor, serta melakukan inspeksi lebih awal terhadap saluran sungai dan daerah aliran sungai. Oleh karenanya, berbagai macam inisiatif tersebut akan mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  SERAMBI 2024 di Pasar Badung, Kas Keliling BI Bali Diserbu Warga

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Hasil Survei November, Penjualan Eceran di Bali Meningkat

Published

on

By

Penjualan eceran Bali
Info grafis pertumbuhan penjualan eceran di Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan November 2025 diprakirakan meningkat tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 121,7 atau secara tahunan tumbuh 3,8% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). Secara bulanan, IPR Bali meningkat sebesar 1,1% (mtm) seiring dengan adanya peningkatan penjualan pada kategori Barang Budaya dan Rekreasi, yang meliputi mainan anak-anak.

Hal ini didorong oleh banyaknya pedagang mainan eceran yang memanfaatkan momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan berjualan di sekitar pura. Oleh karenanya, pedagang mainan grosir mengalami peningkatan permintaan.

Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan bulanan indeks penjualan riil kategori Barang Budaya dan Rekreasi yang mengalami peningkatan tertinggi dibandingkan dengan kategori lain, sebesar 2,9% (mtm). Optimisme penjualan sejalan dengan level inflasi tahunan di Provinsi Bali sebesar 2,51% (yoy) atau masih berada dalam rentang target sasaran inflasi tahun 2025 sebesar 2,5±1%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui keterangan pers menyampaikan bahwa Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi. Berdasarkan komponen pembentuknya, selain kategori Barang Budaya dan Rekreasi, prakiraan pertumbuhan penjualan eceran di Bali pada November 2025 turut diikuti oleh lima sub sektor pembentuk IPR, seperti Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 2,3% (mtm); Sandang sebesar 1,0% (mtm); Barang Lainnya (Farmasi, Kosmetik, Elpiji untuk Rumah Tangga, dan Barang Kimia untuk Rumah Tangga) sebesar 0,6% (mtm); serta Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 0,4% (mtm).

Baca Juga  BI Pacu Digitalisasi Keuangan Daerah, Luncurkan Blueprint Kawasan Digital Tirta Empul di HLM TP2DD Gianyar

Erwin lanjut menegaskan bahwa kinerja IPR di Bali yang masih terjaga positif menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif. Prospek penjualan ritel di Bali diperkirakan tetap tumbuh positif ke depan. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP), yang menggambarkan optimisme pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah, terus menunjukkan tren meningkat. Para responden memperkirakan penjualan dalam 3 hingga 6 bulan mendatang tetap terjaga, tercermin dari IEP Januari 2026 yang mencapai 190 dan April 2026 sebesar 186, keduanya berada di zona optimis (IEP > 100).

“Meskipun dinamika ekonomi global masih terus membayangi, IEP mencerminkan perekonomian Bali diproyeksikan terus berkembang. Demi menjaga pergerakan ekonomi domestik, Bank Indonesia menahan tingkat suku bunga di bulan November 2025,“ ujar Erwin.

Lebih lanjut, sebut Erwin, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali aktif menggelar operasi pasar murah pada Hari Raya Galungan dan Kuningan serta menjelang libur Natal dan akhir tahun 2025 untuk komoditas pangan strategis. Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus bersinergi untuk menjaga kestabilan harga, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca