Nusa Dua, Badung, baliilu.com – Pertemuan hari kelima acara seminar “Central Bank Policy Mix for Stability and Economic Recovery” yang merupakan rangkaian side event G20 Finance Track: Finance and Central Bank Deputies (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (15/7) mengemuka soal komitmen Indonesia menuju ekonomi hijau untuk mencapai net zero sebelum tahun 2060.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung sebelum pertemuan menyampaikan kepada media bahwa untuk Indonesia menuju ekonomi hijau, pertama, pentingnya merumuskan kebijakan yang terus mendorong transisi ekonomi hijau, yang tahapan-tahapannya harus dipersiapkan dengan baik agar disrupsi-disrupsi tidak merugikan perekonomian kita. Kedua, mendorong sektor keuangan perbankan, pasar uang, untuk terus membiayai atau memberikan financing kepada sektor hijau.
‘’Apabila kita tidak bergegas untuk mendorong transisi ekonomi menuju hijau tentu saja dampaknya akan sangat signifikan terhadap ekonomi dan keuangan, ekspor kita bisa terhambat. Investasi hijau dari luar negeri juga akan beralih ke negara-negara yang memang sudah siap dari sisi kebijakan-kebijakan ekonomi hijau. Dan juga akses keuangan kita di luar negeri menjadi terbatas karena investor sekarang ini prefer untuk melakukan investasi kepada sektor-sektor yang sudah hijau, baik itu untuk portofolio maupun juga untuk direct investment karena mereka juga kalau tidak hijau di sana kena pajak yang lebih tinggi,’’ ujar Juda Agung.
Untuk itu, Juda Agung mengemukakan pertama ke depan bagaimana untuk mendorong ini perlu adanya kebijakan-kebijakan dari stakeholder, dari pemerintah, Bank Indonesia, OJK, untuk terus memberikan insentif kepada sektor hijau ini. Kedua, harus melakukan inovasi-inovasi, instrument-instrument keuangan untuk pembiayaan ekonomi hijau ini dan perbankan harus segera untuk melakukan reposisi menuju ekonomi hijau.
‘’Tentu saja semua ada transisinya, ada tahapan-tahapannya supaya ekonominya tidak terdisrupsi kalau kemudian kita tiba-tiba semua beralih ke hijau,’’ terangnya.
Sementara itu, Sinta Kamdani, selaku Wakil Ketua Kadin dan mewakili dunia usaha menyampaikan acara seminar yang diinisiasi Bank Indonesia bersama WWF dalam rangkaian G20 timingnya sangat tepat. ‘’Kami melihat bahwa memang sudah tidak bisa dipungkiri bahwa pada saat komitmen Indonesia untuk mencapai net zero sebelum tahun 2060 dan itu jelas harus ditranslasikan juga ke dalam dunia usaha,’’ ujar Sinta.
Sekarang perusahaan-perusahaan juga harus sudah memikirkan bagaimana mencapai net zeronya. Oleh karena itu, investasi hijau dan dalam rangkupan investasi hijau dibutuhkan financing. Green financing ini menjadi salah satu hal yang paling penting.
‘’Jadi kami sangat apresiasi upaya dari Bank Indonesia untuk bisa menggerakkan, memobilisasi dari segi perbankan maupun financing untuk bisa menyiapkan pembiayaan untuk industri-industri hijau. Kami dari pelaku usaha juga siap, tentu saja ini suatu komitmen bersama yang harus kita semua lakukan dan juga dukungan dari pemerintah untuk pemberian insentif-insentif yang sangat dibutuhkan dan dalam kaitan ini saya rasa dari segi pelaku usaha kami juga sudah menginisiasi beberapa upaya untuk juga memfasilitasi industri tidak hanya industri- industri besar tapi juga industri kecil menengah,’’ ujarnya.
Jadi, ungkap Sinta Kamdani, salah satu upaya yang dilakukan pelaku usaha dengan cara menginisiasi adanya net zero hub, ini untuk membantu perusahaan-perusahaan untuk mencapai net zero dengan menyiapkan road map maupun bagaimana bisa memberikan mereka pengetahuan edukasi sehingga bisnis ini bisa menjadi sesuatu yang bisa terealisasi.
‘’Jadi sekali lagi dari pelaku usaha kami siap baik itu dari berbagai unsur, baik itu dari segi energi transisi maupun kita bicara dari segi secular ekonomi dan lain-lain. Namun apa pun yang kita lakukan untuk investasi di hijau jelas perlu pembiayaan. Dan saya rasa judulnya sangat tepat hari ini scaling up untuk akselerasi khusus untuk investasi hijau,’’ ucap Sinta Kamdani.
Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Pur. Moeldoko yang juga Ketua Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Perkilindo). (Foto: gs)
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Pur. Moeldoko yang juga Ketua Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Perkilindo) mengungkapkan tantangan kendaraan listrik Indonesia, ibaratnya ayam sama telur. Maksudnya, kendaraan dibangun massif tapi charging station belum ada, masalah. Charging station dibangun tapi pertumbuhan mobil listrik belum tumbuh dengan baik, itu juga masalah. Tidak ada yang mau investasi. Maka, ini perlu intervensi pemerintah.
Yang kedua, lanjut Moeldoko, tantangannya adalah pembiayaan. ‘’Pertemuan ini saya harapkan bisa membuat kesepakatan bersama. Karena apa, karena kesadaran dari pihak finance, perbankan terhadap mobil listrik ini masih belum memiliki kesadaran yang sama menuju kepada green ekonomi ini,’’ ujarnya.
Yang ketiga tantangannya adalah awareness masyarakat. Masyarakat perlu diberikan penjelasan yang optimum tentang mobil listrik. ‘’Ini perlu sosialisasi yang massif, karena sebagian besar masyarakat kita belum tahu isinya,’’ ujarnya seraya menegaskan perlu adanya penyadaran bersama agar masyarakat memiliki awareness yang besar, menuju kepada sustainable.
Moeldoko menyebut, kontribusi mobil listrik terhadap ekonomi kita luar biasa. Yang pertama PLN membuat sebuah ilustrasi apabila ada 6 juta mobil listrik, Indonesia ditargetkan pada tahun 2025, maka ada sebuah penghematan yang luar biasa. Yang pertama dari sisi perbaikan lingkungan akan ada 4 juta ton per tahun, emisi karbon kita akan berkurang. Yang kedua akan menghemat 13 juta barrel per tahun. ‘’Bayangkan berapa duit yang bisa dihemat kalau nanti terjadi akumulatif dari perubahan mobil konvensional kepada mobil listrik. Itu luar biasa,’’ujarnya.
Berikutnya, ada dua kebijakan pemerintah dalam rangka menuju ke mobil listrik. Yang pertama bagaimana terjadi transisi dari mobil atau kendaraan konvensional menuju kepada kendaraan listrik, yang kedua ada konversi dari yang exsisting sekarang baik itu sepeda motor maupun mobil menuju kepada mobil listrik atau kendaraan listrik.
‘’Dua strategi itu dan saat ini telah disusun regulasinya baik itu ke transisi maupun ke konversi. Transisi telah disiapkan inpresnya, yang akan datang ini bagaimana pemerintah mempersiapkan penggunaan kendaraan listrik di lingkungan government baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, TNI/Polri semuanya yang berkaitan dengan kendaraan administrasi untuk bisa digantikan secara bertahap menuju kepada kendaraan listrik,’’ pungkasnya. (gs/bi)
Infografis optimisme konsumen di Bali. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terus berlanjut yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 sebesar 127,3 (nilai indeks > 100), meskipun mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,6% (mtm). Penurunan tersebut melandai dibandingkan dengan IKK Februari 2026 yang turun sebesar 3,6% (mtm).
Lebih lanjut, IKK Provinsi Bali masih lebih tinggi dari IKK Nasional dengan IKK sebesar 122,9. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp 3-4 juta (138,6), Rp 5-6 juta (136,8), dan kelompok pendapatan Rp 2-3 juta (130,5). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (127,2) dan informal (127,3).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui siaran pers menyatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK tertahan oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari sebelumnya 140,2 menjadi 124,7. Faktor penahan pertumbuhan IEK berasal dari penurunan seluruh komponen pembentuk IKE, antara lain indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini yang menurun sebesar 15,5% (mtm) atau sebesar 123,0, indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang yang menurun sebesar 9,6% (mtm) atau sebesar 122,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 7,9% (mtm) atau sebesar 129,0.
Responden menyatakan adanya kecenderungan penurunan perjalanan wisatawan ke Bali seiring dengan konflik perang di Timur Tengah yang meningkatkan risiko kenaikan harga avtur dan keterbatasan maskapai. Adanya sejumlah pembatalan perjalanan wisatawan ke Bali ini memberikan efek domino bagi keberlangsungan kondisi usaha di Bali sebagai wilayah yang bergantung dari sektor pariwisata.
Meskipun demikian, Erwin Soeriadimadja menegaskan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri turut mendorong IKK Maret 2026 tumbuh lebih baik jika dibandingkan IKK Februari 2026. Optimisme tersebut sejalan dengan data Angkasapura pada bulan Maret 2026 yang menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan sebesar 9,6% (mtm) atau total jumlah kunjungan sebanyak 892 ribu orang. Adapun peningkatan wisatawan didorong oleh peningkatan kunjungan wisatawan nusantara sebesar 26,3% (mtm), lebih tinggi dibandingkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 0,8% (mtm). Peningkatan kunjungan wisatawan yang selaras dengan peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mampu menahan penurunan IKK lebih lanjut, dari IKE 121,0 menjadi 129,8 (naik 7,3%; mtm).
Erwin lanjut mengungkapkan bahwa faktor pendorong pertumbuhan IKE berasal dari peningkatan tiga komponen yaitu indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 15,0% (mtm), indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,5% (mtm), serta indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 3,0% (mtm).
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID terus memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan jalur distribusi pangan tetap terjaga.
Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga konsumsi masyarakat di tengah instabilitas geopolitik, pada tanggal 1 April 2026 Pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Perkembangan inflasi Provinsi Bali berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 April 2026 mencatatkan bahwa secara bulanan Provinsi Bali pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Februari sebesar 0,70% (mtm).
Beberapa catatan peristiwa seperti perayaan HBKN Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mendorong dinamika pergerakan inflasi secara bulanan. Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan menurun dari 3,89% (yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Maret 2026.
Singaraja mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,90% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,40 % (yoy), diikuti Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,63% (yoy) atau inflasi tahunan sebesar 2,67% (yoy), selanjutnya Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,09% (yoy). Lebih lanjut Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,42% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,02% (yoy).
Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Maret 2026 bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, dan cabai merah. Sementara itu, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga tarif angkutan udara, emas, bawang putih, beras dan kangkung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengapresiasi berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan koordinasi bersama dalam High Level Meeting (HLM) menjelang HBKN Idulfitri dan Nyepi sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran.
“Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau yang disertai potensi El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta peningkatan permintaan HBKN Galungan Kuningan,” ujarnya.
Untuk memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali, yang difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat aspek regulasi. Strategi tersebut diimplementasikan utamanya melalui intensifikasi operasi pasar dengan kaidah 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah baik intra-Bali maupun luar Bali, dan perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (gs/bi)
KINERJA POSITIF: Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan kinerja positif pendapatan negara hingga akhir Februari 2026 di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta pada Rabu (11/3). (Foto: kemenkeu.go.id)
Jakarta, baliilu.com – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan kinerja positif pendapatan negara hingga akhir Februari 2026. Dalam paparan APBN KiTa, Suahasil menyoroti pertumbuhan neto penerimaan pajak yang mencapai 30,4% (yoy), didorong kuat oleh tingginya aktivitas transaksi ekonomi masyarakat.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 245,1 triliun. Secara khusus, Suahasil memberikan catatan pada pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak hingga 97%.
“PPN dan PPnBM dibayar jika ada transaksi. (Lonjakan) ini menunjukkan bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus, kegiatan ekonomi, aktivitas ekonomi itu berjalan terus.,” ujar Suahasil di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta pada Rabu (11/3).
Empat sektor utama, yakni industri pengolahan, perdagangan, keuangan dan asuransi, serta pertambangan, tercatat masih menjadi kontributor mayoritas dengan sumbangan mencapai 74% dari total penerimaan pajak.
Sejalan dengan pendapatan yang kuat, pemerintah melakukan akselerasi belanja negara guna mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026. Realisasi belanja negara hingga akhir Februari mencapai Rp 493,8 triliun, tumbuh signifikan 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Salah satu pendorong utama kenaikan belanja adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga 9 Maret 2026, program ini telah menjangkau 61,6 juta penerima yang terdiri dari 50 juta siswa dan 10,5 juta nonsiswa (ibu hamil, menyusui, dan lansia) dengan total serapan anggaran mencapai Rp 44 triliun.
Selain itu, Kemenkeu juga melaporkan realisasi pembayaran THR ASN, TNI, dan Polri tahun 2026. Hingga 10 Maret, pemerintah telah menyalurkan Rp 24,7 triliun atau sekitar 45 persen dari total alokasi Rp 55 triliun. “Kami mendorong seluruh K/L dan Pemerintah Daerah segera menuntaskan pembayaran THR agar tuntas sebelum hari raya,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia (ICP) akibat konflik di Timur Tengah. Meskipun sempat menyentuh angka di atas US$100 per barel, harga minyak menunjukkan tren volatilitas tinggi. Suahasil menegaskan bahwa APBN akan terus berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) melalui skema subsidi dan kompensasi energi untuk melindungi daya beli masyarakat dari fluktuasi harga global.
Dalam bidang kepabeanan, terdapat peningkatan signifikan pada frekuensi penindakan rokok ilegal, dari 1.993 kali pada tahun lalu menjadi 2.872 kali penindakan di tahun 2026. Jumlah rokok ilegal yang disita naik dua kali lipat menjadi 369 juta batang.
Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp 147,7 triliun. Pemerintah juga memberikan atensi khusus pada daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan mengalokasikan tambahan dana sebesar Rp 10,65 triliun yang disalurkan dalam tiga tahap mulai Februari hingga April 2026. (gs/bi)