Denpasar, baliilu.com – Ke depan, prospek perbaikan kinerja ekonomi Balinusra 2021 diperkirakan dalam tren meningkat seiring pelaksanaan vaksinasi yang mendorong confident to travel dan meningkatnya optimisme pelaku usaha.
Sementara itu, kinerja ekspor barang diperkirakan juga akan terdorong oleh penambahan kapasitas penambangan dan seiring dengan meningkatnya kuota ekspor tembaga serta kenaikan ekspor kerajinan dan produk-produk pertanian ke luar negeri. Dengan perbaikan di awal tahun 2021 tersebut, untuk keseluruhan tahun 2021 perekonomian Balinusra diperkirakan tumbuh positif sekitar 2,8 – 3,8% (yoy).
Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho saat memberikan sambutan pada kegiatan webinar dengan tema Transformasi Ekonomi Bali seri II, Kamis (10/6).
Hadir sebagai keynote speaker Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi, dengan narasumber Gubernur Bali Wayan Koster, Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, dihadiri secara virtual Kepala Kantor Perwakilan BI Seluruh Indonesia, Kepala Kr OJK 8 Balinusra, para pimpinan perbankan, para pimpinan organisasi perangkat derah di provinsi maupun kabupaten kota, dan lain-lain.
Trisno Nugroho lanjut mengatakan, secara perlahan, ekonomi Balinusra diamati sudah mulai mengalami pergeseran dari sektor primer kepada sektor sekunder selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2010 sektor primer pangsa 32,37% (terbesar Lapangan Usaha Pertanian) sementara sektor sekunder pangsa 14,14% (terbesar LU Konstruksi), pada tahun 2020 sektor primer pangsa 25,89% (LU Pertanian), sementara sektor sekunder pangsa 15,33% (LU Perdagangan). Adapun bentuk transformasi ekonomi dapat terjadi secara struktural (between sectors) maupun secara sektoral (within sector).
Dipaparkan, pada tahun 2019, pariwisata diperkirakan berkontribusi sebesar 52% pada ekonomi (PDRB) Bali. Kontribusi sektor pariwisata ini tidak terlepas dari penerimaan devisa pariwisata yang pada tahun 2019 yang menurun secara signifikan (-82%) menjadi pada tahun 2020. Penurunan penerimaan devisa pariwisata ini akibat penurunan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dari sekitar 6,28 juta wisman tahun 2019 menjadi hanya 1,05 juta wisman tahun 2020.
Pelajaran berharga dari kondisi tersebut adalah bahwa perekonomian yang terlalu bergantung pada satu sektor, menjadikan kinerja perekonomian sangat rentan terhadap guncangan. ‘’Kami sampaikan apresiasi kepada Bapak Gubernur (pemerintah daerah dan pelaku usaha di BaliNusra) yang terus mencari berbagai terobosan dan upaya untuk membangkitkan ekonominya. Berbagai pihak bekerjasama dan berkolaborasi mencari solusi dari permasalahan ini, diperlukan sumber pertumbuhan baru (new growth engine) untuk menopang pertumbuhan yang sustainable dan resilience, antara lain melalui digitalisasi sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan sektor pendidikan,’’ ujar Trisno Nugroho.
Dikatakan, pandemi Covid-19 telah mengakibatkan tekanan mendalam pada perekonomian Indonesia khususnya di Balinusra. Meskipun mengalami perbaikan, perekonomian wilayah Balinusra masih mengalami kontraksi terdalam dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Pada triwulan I 2021 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar -5,16% (yoy), sementara perekonomian nasional hanya terkontraksi sebesar -0,74% (yoy). Kondisi ini mendorong para pemangku kepentingan, pelaku usaha, didukung oleh Bank Indonesia untuk mencari terobosan agar wilayah Balinusra dapat tumbuh kembali sejajar dengan wilayah lain di Indonesia.
‘’Kami mengkaji bahwa pemulihan berbeda antar-provinsi di Balinusra. Pada triwulan I 2021, Bali dan NTB masih terkonstraksi masing-masing -9,85% dan -1,13% (yoy) sedangkan NTT sudah mulai tumbuh positif 0,12% (yoy). Masih terkontraksinya ekonomi Bali disebabkan oleh masih berlangsungnya penyebaran Covid-19 yang menyebabkan sejumlah negara masih melakukan kebijakan travel restriction, termasuk Indonesia, selanjutnya berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali,’’ ujarnya.
Sementara NTB terkontraksi seiring dengan perlambatan target produksi konsentrat akibat penurunan kandungan logam yang dibarengi dengan penurunan permintaan domestik. Di sisi lain, NTT dapat tumbuh didukung oleh sektor pertanian yang meningkat sebesar 8,32% (yoy). Peningkatan sektor ini didorong oleh pelaksanaan program pemerintah seperti Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), Pembangunan Lumbung Pangan, dan didukung pembangunan infrastruktur pertanian.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan pemulihan ekonomi Bali dalam jangka pendek dilakukan dengan mengoptimalisasi jangkauan vaksinasi, refocusing APBD untuk penanganan Covid-19, mempercepat belanja pemerintah (APBD/APBN), seperti hibah, belanja modal, dan pengerjaan proyek-proyek infrastruktur strategis, memastikan kesiapan penerapan protokol CHSE pada sektor pariwisata, dan memfasilitasi program PEN bagi masyarakat /kelompok yang berhak mendapatkan.
Transformasi perekonomian Bali yakni penguatan sektor pertanian dalam arti luas, perikanan dan kelautan, serta industri. Sedangkan upaya tindak lanjut harmonisasi penyeimbangan perekonomian Bali melalui percepatan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir, percepatan implementasi sistem pertanian organik menuju Bali pulau organik, dan mengembangkan kedaulatan pangan. (gs)