Tuesday, 16 August 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Cegah Stunting Melalui Pola Asuh, Ny. Putri Koster tak pernah Lelah Sosialisasikan Bahaya Stunting

BALIILU Tayang

:

Stunting
Ketua TP PKK pada Dialog Interaktif di Studio TVRI. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Ketua TP PKK Prov Bali Ny. Putri Koster tidak pernah bosan dan lelah menyosialisasikan tentang kesehatan terutama bahaya stunting pada masyarakat. Tak terkecuali saat berkesempatan menjadi narasumber bersama dengan Kepala Perwakilan BKKBN Ni Luh Gede Sukardiasih dalam Dialog Interaktif dengan tema Cegah Stunting Melalui Pola Asuh bertempat di Studio TVRI Bali, Denpasar pada Rabu, Buda Umanis Tambir (3/8/2022).

Dalam kesempatan tersebut, wanita yang akrab disapa Bunda Putri mengatakan, meskipun Provinsi Bali mempunyai tingkat stunting terendah secara nasional, yaitu 10,9% dari 24,4%, namun kita tetap harus waspada.

“Bicara stunting adalah tentang masa depan anak-anak dan bangsa. Karena tanggung jawab kita bersama juga mencetak generasi penerus untuk bangsa dan negara,” demikian disampaikannya pada kesempatan tersebut.

Melihat angka yang cukup kecil di atas, Ny. Putri Koster juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Bali yang telah mempunyai kesadaran tinggi tentang kesehatan sejak dini. Karena menurutnya stunting tidak hanya dipengaruhi oleh tumbuh kembang anak semata, namun juga dari gaya hidup calon ibu.

“Jadi dari remaja, calon ibu juga sudah harus benar-benar menjaga kesehatan agar bisa melahirkan penerus yang sehat juga,” imbuhnya seraya menumbuhkan kesadaran calon ibu untuk merawat kesehatan tubuhnya sejak dini, KEK ini bisa terjadinya akibat pola makan yang tidak teratur bahkan bisa juga akibat konsumsi obat-obatan diet yang terlalu aktif.

“Saya sebagai ibu dari masyarakat Bali tidak akan pernah lelah untuk meminta kepada semua remaja putri mulai menjaga pola makan, pola tidur atau istirahat yang cukup sekaligus meminimalisir penggunaan gadget.

Stunting atau gagal tumbuh kembang anak tidak hanya terjadi saat dalam kandungan yang diakibatkan oleh kurangnya asupan bergizi ibu saat hamil atau kekurangan energi kronis (KEK) saat hamil. Namun seperti yang kita ketahui bersama bahwa stunting atau gagal tumbuh kembang anak harus dicegah saat 1000 hari pertama bayi tersebut dilahirkan.

Baca Juga  Bali Membutuhkan Generasi Sehat dan Cerdas

“Pemenuhan gizi saat bayi sudah dilahirkan (terutama 1000 hari pertamanya) juga menjadi peran penting dalam menentukan dan membantu tumbuh kembang bayi yang maksimal,” ungkapnya.

Ny. Putri Koster saat berfoto bersama (Foto : Ist)

Ia pun menambahkan, bahwa masalah stunting adalah masalah bersama dan perlu dukungan semua pijak, terutama anggota PKK yang juga merupakan ujung tombak karena bisa menyentuh lapisan masyarakat terkecil yaitu keluarga.

“Untuk itu saya minta TP PKK tingkat desa hingga kader-kader untuk terus bersinergi dengan pemerintah dan kepala desa dalam upaya sosialisasi pencegahan stunting,” tutupnya seraya menjelaskan selain sosialisasi TP PKK Provinsi Bali juga mempunyai program aksi sosial yang langsung menyentuh masyarakat dengan memberikan bantuan baik kepada ibu hamil dan balita untuk mencegah stunting.

Sementara Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Bali Ni Luh Gede Sukardiasih juga setuju dengan Ny. Putri Koster bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya ada di satu level saja, tetapi semua level dari muara ke hilir harus bergerak bersama. Semua stakeholder harus berbuat sesuai kewenangan masing-masing.

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi, dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yg dialami ibu hamil  maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah perlunya dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) dari anak balita, seperti pola pengasuhan yang  baik,  pengetahuan Ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan masa kehamilan serta setelah melahirkan.

Di samping itu, ditekankan juga  pentingnya Komunikasi, Informasi dan Edukasi khususnya kepada remaja sebagai calon  pasangan suami istri yang nantinya memasuki fase pernikahan agar sebelumnya memeriksakan diri dan memastikan diri sudah dalam keadaan siap dan sehat. Sehingga nantinya bisa melahirkan generasi yang sehat secara kognitif dan fisik. (gs/bi)

Baca Juga  TP PKK Badung Laksanakan Gerakan Bersih-bersih di Pura Dalem Legian Kuta

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
logo dies natalis
Advertisements
iklan dtw tanah lot

KESEHATAN

Perkecil Angka Stunting, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Lakukan Gemarikan

Published

on

By

stunting
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali I Made Sudarsana saat melaksanakan kegiatan gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan), di Kantor Perbekel Desa Akah, Kabupaten Klungkung. (Foto: Ist)

Klungkung, baliilu.com – Melahirkan generasi sehat, kuat dan cerdas bisa dilakukan sejak dini. Mulai memahami kebutuhan asupan gizi sebelum hamil, menjelang hamil, saat hamil bahkan setelah melahirkan itu penting bagi calon ibu (perempuan saat menginjak usia remaja).

Asupan gizi ini harus seimbang antara daging, sayur mayur dan ikan. Asupan gizi yang lengkap bisa didapatkan dengan mengkonsumsi ikan. Namun tidak cukup hanya segar, untuk mendapat gizi yang cukup, maka ikan yang diolah juga harus bersih. “Makanan sehat itu tidak perlu mahal, namun harus bersih dan kaya vitamin dan sesuai dengan kebutuhan organ tubuh. Dengan lengkapnya asupan gizi untuk kebutuhan tubuh, maka secara langsung stunting dapat dihindari dari tumbuh kembang anak.” Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali I Made Sudarsana saat melaksanakan kegiatan gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan), di Kantor Perbekel Desa Akah, Kabupaten Klungkung, Soma Pon, Wuku Matal (15/8).

Mencegah stunting pada tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab bersama, baik itu orangtua, calon ibu (semua perempuan di muka bumi), pemerintah khususnya Tim Penggerak PKK mulai dari tingkat pusat hingga desa. Tanggung jawab ini dapat dilakukan dengan sama-sama saling mengingatkan tata cara menjaga kesehatan mulai dari tata pola makan, jenis makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi untuk tubuh termasuk pola istirahat yang cukup.

Untuk menjaga kesehatan organ tubuh agar tidak mempengaruhi rahim dan perkembangan janin saat hamil nanti, perempuan remaja dapat rutin mengkonsumsi tablet penambah darah. Sedangkan bagi ibu-ibu yang sedang hamil harus menjaga asupan gizi bayi mulai dari 1.000 hari pertama kehidupannya (terhitung mulai dari dalam kandungan).

Baca Juga  Bali Membutuhkan Generasi Sehat dan Cerdas

Stunting atau gangguan pada tumbuh kembang bayi dan balita akan mempengaruhi kehidupan dan masa ke depannya. Karena apabila seorang bayi kekurangan asupan gizi, maka pertumbuhannya akan menghambat perkembangan organ tubuh dan juga otaknya. Hal ini tentu akan membuat si anak akan kehilangan masa depan dan dunia masa kecilnya. Dengan begitu, stunting juga akan mempengaruhi perkembangan kemajuan bangsa tanpa generasi yang sehat.

Pada gerakan memasyarakatkan makan ikan kali ini, diberikan layanan kesehatan pada bayi dan balita mulai dari dilakukan penimbangan berat badan yang nantinya disesuaikan dengan pertumbuhan tinggi badan dan usia. Karena dari sini akan diketahui bagaimana pertumbuhan bayi dan balita tersebut, sehingga apabila memiliki gejala stunting akan dapat dicegah dengan pemberian makanan tambahan termasuk susu.

Kali ini, selain sosialisasi pentingnya mengkonsumsi ikan, gerakan memasyarakatkan makan ikan juga diisi dengan pembagian paket ikan olahan dan ikan segar bagi bayi, balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Klungkung Ny. Ayu Suwirta yang berkesempatan hadir menyampaikan sejumlah cara untuk mengolah ikan menjadi lauk di atas meja yang disajikan agar anak-anak tidak bosan. “Mengolah ikan itu tidak perlu ribet, cukup sederhana (bisa dibentuk menjadi bakso) namun harus bersih. Karena makanan sehat itu tidak hanya berasal dari makanan yang mewah dan mahal, melainkan makanan sehat itu berasal dari olahan yang bersih. Anak-anak jangan dibiasakan makan makanan yang siap saji terus, karena penyajiannya yang cepat tentu dibarengi dengan pengawet yang sangat membahayakan tubuh dan organ dalamnya. Mari kita mulai menyajikan makanan untuk keluarga dengan olahan tangan sendiri,” ungkapnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
logo dies natalis
Advertisements
iklan dtw tanah lot
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Sebanyak 51 Orang Sembuh Covid-19 di Kota Denpasar

Published

on

By

Satgas Covid
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai. (Foto : Ist)

Denpasar, baliilu.com – Kasus sembuh Covid-19 di Kota Denpasar kembali bertambah signifikan. Berdasarkan data resmi harian penanganan Covid-19 Kota Denpasar pada Senin (15/8) diketahui kasus meninggal dunia bertambah 1 orang. Kondisi ini dibarengi dengan penambahan kasus sembuh sebanyak 51 orang dan kasus positif Covid-19 bertambah 23 orang.

Berdasarkan data, secara kumulatif kasus positif Covid-19 di Kota Denpasar tercatat 53.762 kasus, angka kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Denpasar mencapai 52.300 orang  (97,28 persen), meninggal dunia 1.116 orang (2,08 persen) dan kasus aktif yang masih dalam perawatan 346 orang (0,64 persen).

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai saat dikonfirmasi menjelaskan, saat ini penularan  Covid -19 di Kota Denpasar masih terkendali, tetapi masih ditemukan kasus penularan baru.  Karenanya, diimbau kepada masyarakat agar jangan sampai kendor menerapkan protokol kesehatan.

“Kondisi  ini harus menjadi perhatian kita bersama, tidak boleh kendor dalam menerapkan protokol kesehatan, karena jika lengah dan abai dengan prokes tidak menutup kemungkinan kasus Covid akan kembali meningkat, sehingga diperlukan kerjasama berbagai pihak serta seluruh lapisan masyarakat, kita harus terus waspada dan disiplin prokes, taati aturan saat penerapan PPKM,” ujar Dewa Rai.

Pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan tidak lengah atas perkembangan kasus saat ini. Dalam beraktivitas, penerapan protokol kesehatan tetap harus wajib dilaksanakan dengan berpedoman pada penerapan PPKM Level 1 Jawa-Bali. Terlebih lagi saat ini adanya mutasi Covid-19 dengan varian baru yang disebut dengan varian Omicron.

“Jangan mengurangi kewaspadaan, titik-titik lengah kemungkinan menyebabkan tingkat kasus Covid-19 di Denpasar meningkat, jadi intinya kapanpun dan dimanapun harus tetap waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, terlebih saat ini virus sudah bermutasi,” imbuhnya.

Baca Juga  Minimalisir Stunting, Ny. Sagung Antari Jaya Negara Gencar Serahkan Bantuan PMT

Lebih lanjut Dewa Rai mengatakan bahwa berbagai upaya  terus dilaksanakan guna mendukung upaya penurunan zona resiko, penurunan tingkat penularan, meningkatkan angka kesembuhan pasien dan mencegah kematian.  Hal ini dilaksanakan dengan sosialisasi dan edukasi berkelanjutan.

Selain itu, Pemkot Denpasar juga terus berupaya untuk memaksimalkan realisasi vaksinasi kepada masyarakat, dan vaksinasi  menyasar anak- anak usia sekolah 12-17 tahun serta usia 6-11 tahun,  ibu hamil dan disabilitas. Selain itu, Kota Denpasar juga telah memulai pelaksanaan vaksinasi dosis ketiga atau Booster.

Tak hanya itu, Satgas Covid-19 Kota Denpasar telah merancang 6 langkah strategis mengatasi lonjakan kasus Covid 19, mulai dari peningkatan kapasitas 3 T ( tracing, testing, treatment), menggencarkan pelaksanaan vaksinasi termasuk Booster, mewajibkan penerapan aplikasi Peduli Lindungi, optimalisasi rumah sakit rujukan mulai dari ketersediaan bed, oksigen dan obat- obatan.

“Mohon kepada masyarakat untuk  melakukan prokes secara ketat, termasuk saat di rumah wajib menerapkan prokes untuk meminimalisir klaster keluarga, termasuk juga kami mengajak masyarakat untuk mensukseskan vaksinasi Covid-19,” ajak Dewa Rai.  

Terkait upaya menekan angka kematian akibat Covid-19, Dewa Rai mengatakan bahwa Satgas mengimbau kepada masyarakat yang memiliki penyakit bawaan atau yang berada pada usia rentan untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Hindari kerumunan, gunakan masker dan sesering mungkin mencuci tangan setelah melakukan aktivitas, selain itu mari bersama terapkan 5M,” kata Dewa Rai. (eka/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
logo dies natalis
Advertisements
iklan dtw tanah lot
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Ny. Putri Koster Gelorakan Pencegahan Stunting di Singaraja

Ny. Putri Koster: Cegah Stunting sangat Penting Mengingat Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental dari Generasi Emas Penerus Bangsa

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster saat menjadi narasumber Dialog Interaktif di RRI Singaraja. (Foto: Ist)

Buleleng, baliilu.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menjadi narasumber dalam Dialog Interaktif dengan tema “Cegah Stunting Melalui Pola Asuh” bertempat di RRI Singaraja, Senin (Soma Pon Matal) 15 Agustus 2022.

Mengawali arahannya, Ny. Putri Koster menyampaikan pencegahan stunting sangat penting mengingat stunting berdampak pada kesehatan fisik dan mental dari generasi emas penerus bangsa di masa yang akan datang. Meskipun angka stunting di Provinsi Bali relatif rendah daripada angka rata-rata tingkat nasional, upaya pencegahan harus terus digelorakan agar angka stunting bisa terus kita tekan bahkan mencapai nol kasus.

Lebih jauh pendamping orang nomor satu di Bali ini menyampaikan penyebab terjadinya stunting ada banyak faktor baik itu faktor gizi, pendidikan, kemiskinan termasuk di dalamnya pola asuh. Terkait pola asuh di dalam keluarga, wanita yang akrab dipanggil Bunda Putri ini kembali mengingatkan pentingnya peran serta seluruh anggota keluarga dalam pola asuh anak terutama di 1.000 hari usia tumbuh kembang anak. Pola asuh yang saling asah, asih dan asuh diterapkan dalam keluarga disamping pemenuhan terhadap kebutuhan akan gizi, pendidikan, komunikasi serta sanitasi yang sehat di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Bunda Putri juga mengingatkan pentingnya perhatian gizi serta kesehatan dari para remaja putri yang nantinya akan menjadi calon calon ibu yang akan mengandung, melahirkan serta mengasuh anak anak mereka yang merupakan generasi bangsa di masa yang akan datang. Terlebih, di tahun 2045 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi sehingga generasi yang lahir sekarang akan menjadi pemimpin bangsa di masa akan datang, dengan demikian kita jangan sampai lengah, kita jaga pola makan, pola hidup serta pola asuh dari para remaja putri kita remaja putri diingatkan bagaimana menjaga kesehatan tubuh, istirahat yang cukup, makanan yang bergizi sehingga mereka tidak mengalami kekurangan energi kronis ataupun anemia.

Baca Juga  Awali Kegiatan, TP PKK dan WHDI Denpasar Sembahyang Bersama di Pura Lokanatha Lumintang

Di akhir arahannya, Ny. Putri Koster meminta seluruh kader PKK untuk bergerak untuk melakukan upaya pencegahan terjadinya stunting baik melalui sosialisasi maupun edukasi sehingga tumbuh kesadaran di tengah masyarakat untuk bergotong-royong, bersinergi dalam upaya menjaga kesehatannya yang dimulai dari kesehatan diri sendiri dan keluarga sehingga akan terwujud anggota keluarga yang sehat, terasah kecerdasannya, berdaya guna, berakhlak mulia dan berbudi pekerti sehingga tercipta anakku sehat, bangsaku kuat.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., M.A.R.S yang juga hadir dalam dialog interaktif pada siang hari ini menyampaikan, stunting kenapa harus dicegah karena stunting menghambat pembangunan sumber daya manusia berkualitas untuk menciptakan generasi emas. Stunting bukanlah sebuah penyakit melainkan suatu kondisi gangguan perkembangan pertumbuhan anak terutama di 1.000 hari masa pertumbuhan, yang diakibatkan karena kurangnya asupan gizi yang dapat mengganggu pertumbuhan otak dan jasmaninya sehingga muncul keluhan anak akan lebih pendek dari teman usianya, sakit-sakitan, kecerdasan menurun sehingga produktivitas juga menurun. Selain itu sunting juga bisa disebabkan faktor lain seperti pola asuh, sanitasi yang buruk, lingkungan yang kurang sehat sehingga anak sakit sakitan, infeksi berulang dan lahir prematur

BKKBN telah melakukan berbagai upaya pencegahan stunting dari hulu diantaranya dengan penyuluhan kesehatan reproduksi, pemberian vitamin penambah darah serta melakukan screening terhadap calon pengantin, dimana calon pengantin wajib screening kesehatan 3 bulan sebelum menikah untuk memeriksa status gizi dan HB dari calon pengantin remaja putri. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap calon pengantin berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil.

BKKBN sendiri telah meluncurkan Aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL). ELSIMIL adalah aplikasi skrining dan pendampingan untuk calon pengantin (Catin). Setiap pasangan Catin akan mendapatkan pendampingan dari Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berada di Desa/Kelurahan yang sama dengan wilayah domisili Catin. Tujuan aplikasi ELSIMIL adalah untuk melakukan deteksi dini terhadap kesehatan Catin untuk mitigasi risiko melahirkan bayi stunting.

Baca Juga  Kongres PSBI IV 2022 di Puspem Badung, Bupati Giri Prasta Dukung Secara Materiil dan Moril Keluarga Besar Warga Simbolon

Upaya pencegahan stunting harus dilakukan dengan sinergitas semua komponen masyarakat melibatkan multipihak baik itu pemerintah, akademisi, media, serta Tim Penggerak PKK yang merupakan mitra kerja Pemerintah yang mendapat amanat dan tanggung jawab untuk berpartisipasi aktif dalam percepatan penurunan angka stunting. (gs/bi)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
logo dies natalis
Advertisements
iklan dtw tanah lot
Lanjutkan Membaca