Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Dasarian III Februari 2026 dari BMKG yang menyatakan Bali berada pada puncak musim hujan dengan potensi hujan ringan hingga lebat hingga akhir Februari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali melaporkan bahwa berdasarkan hasil pengukuran curah hujan tanggal 22 dan 23 Februari 2026, tercatat intensitas hujan kategori sedang hingga sangat lebat di sejumlah wilayah di Bali.
Pada tanggal 22 Februari 2026, beberapa pos pengamatan mencatat curah hujan tinggi antara lain di pos pengamatan Ampadan 290 mm/hari, Rejasa 208 mm/hari, Megati 152,5 mm/hari, Sanggulan 142 mm/hari, Kuwum Marga 138 mm/hari, Bajera 109 mm/hari, Bongan 125 mm/hari dengan rata rata curah hujan 116,5 mm/hari, atau hujan tergolong lebat.
Pada tanggal 23 Februari 2026, tercatat curah hujan signifikan di antaranya: Pos Pengamatan Blahkiuh 92 mm/hari, Jimbaran 133 mm/hari, Kapal 115 mm/hari, Mengwi 62 mm/hari, Nusa Dua 121 mm/hari, Pecatu 56 mm/hari, Stamet Ngurah Rai 216,9 mm/hari, Peguyangan Kaja 143 mm/hari, Sumerta 175 mm/hari, Suwung Kangin 140 mm/hari, Tegallalang 62 mm/hari, Batukandik (Nusa Penida) 143 mm/hari, Batununggul (Nusapenida) 124 mm/hari, Dawan 99 mm/hari, Kusamba 122 mm/hari, Penida 138 mm/hari, Semarapura Kangin 124 mm/hari, Bajera 83 mm/hari, Banjar Sanggulan 134 mm/hari, Bongan 135 mm/hari, Megati 108 mm/hari dan rata rata 120,3 mm/hari atau hujan tergolong sangat lebat.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menegaskan bahwa intensitas hujan dengan akumulasi tinggi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan debit air pada sungai dan saluran drainase, yang kemudian memicu kejadian banjir dan longsor di sejumlah wilayah.
BPBD Provinsi Bali mencatat kejadian bencana hidrometeorologi pada Selasa, 24 Februari 2026 sampai dengan pukul 15.30 WITA sebanyak 76 titik kejadian, dengan rincian: 42 titik banjir, 5 titik tanah longsor, 1 titik tanggul jebol, 1 titik angin puting beliung, 23 titik pohon tumbang, 4 titik senderan jebol. Sebaran kejadian didominasi di Kota Denpasar (36 titik), Kabupaten Badung (12 titik), Kabupaten Karangasem (12 titik), Kabupaten Gianyar (5 titik), Kabupaten Tabanan (5 titik), Kabupaten Buleleng (4 titik), Kabupaten Klungkung (1 titik) dan Kabupaten Jembrana (1 titik).
Status Penanganan
Dari total 76 titik kejadian tersebut, Kalaksa menyebutkan sejumlah titik telah dilakukan penanganan lapangan sesuai permohonan dan kebutuhan masyarakat sebagaimana tercatat dalam laporan operasi. “Beberapa titik masih dalam proses penanganan dan terus dimonitor secara berkala, sementara titik lainnya tidak memerlukan intervensi langsung setelah dilakukan verifikasi dan asesmen cepat oleh petugas,” ujar Agung Teja.
Dikatakan, BPBD Provinsi Bali bersama BPBD Kabupaten/Kota, TNI/Polri, perangkat daerah terkait serta unsur relawan melakukan upaya penanganan yakni: mengevakuasi 30 orang di Jalan Dewi Sarawati II, Seminyak; evakuasi 10 orang di Jalan Gunung Athena II, Seminyak; evakuasi 1 bayi dan 3 balita di Sesetan, Denpasar; penanganan banjir di Legian, Sanur, dan Seminyak; penanganan tanah longsor di Pura Taman Beji, Denpasar; penanganan senderan jebol di Gatsu Timur; penyedotan banjir di RS BMC; pemantauan tinggi muka air Tukad Badung serta memastikan pintu air hilir dalam kondisi terbuka dan terpantau.
Agung Teja mengungkapkan, berdasarkan hasil asesmen cepat dan verifikasi lapangan hingga pukul 15.30 WITA, dampak yang ditimbulkan akibat kejadian cuaca ekstrem ini bersifat lokal dan terkendali. BPBD Provinsi Bali bersama BPBD Kabupaten/Kota terus melakukan pendataan dan pemutakhiran data dampak dengan hasil sementara warga terevakuasi sementara 350 orang, bangunan rusak dan terendam dalam proses pendataan hingga pukul 15.30 WITA, tidak terdapat laporan korban jiwa.
“Curah hujan kategori sangat lebat selama dua hari berturut-turut menjadi faktor dominan meningkatnya debit sungai dan genangan perkotaan di sejumlah wilayah, khususnya kawasan dengan kepadatan aktivitas masyarakat yang tinggi,” ucapnya.
Berdasarkan hasil pemantauan dan upaya penanganan di lapangan, BPBD Provinsi Bali juga mencatat adanya peningkatan kesadaran dan empati masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Pada sebagian besar lokasi terdampak, volume sampah yang menyertai kejadian banjir relatif sangat kecil. Kondisi ini menunjukkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga saluran air dan lingkungan sekitar, sehingga membantu meminimalkan dampak genangan,” tegasnya.
BPBD Provinsi Bali menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas kepedulian tersebut, karena kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko banjir, khususnya di wilayah perkotaan.
Mengingat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan sesuai informasi BMKG, Agung Teja mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, longsor, dan pohon tumbang; menghindari aktivitas di bantaran sungai saat hujan lebat; menjaga kebersihan saluran air dan lingkungan sekitar; dan mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG.
BPBD Provinsi Bali terus melakukan pemantauan situasi dan koordinasi lintas sektor guna memastikan respons cepat serta meminimalkan risiko lanjutan. (gs/bi)