Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Di Stovia, Doni Monardo Membeber Pengalaman Bencana

BALIILU Tayang

:

monardo
Letjen TNI Purn DR. HC Doni Monardo. (Foto: ist)

Jakarta, baliilu.com – Stovia adalah gedung bersejarah. Sekolah kedokteran zaman Hindia Belanda. Di sini, hari ini, Selasa (27/6), Letjen TNI Purn DR. HC Doni Monardo membeberkan pengalaman manajerial dalam menghadapi bencana-bencana. Baik bencana alam, maupun bencana non-alam, khususnya Covid-19.

Sosok Doni, bagi kebanyakan orang memang masih sangat lekat dengan bencana dan Covid-19. Takdir sejarah telah memposisikan dirinya sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), dan Ketua Satuan Tugas Covid-19, periode 2019 – 2021. Kiranya, itu pula yang melatarbelakangi manajemen Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto mendaulatnya menjadi pembicara pada seminar “Refleksi, Mitigasi serta Kesiapan Kesehatan TNI dalam Menghadapi Bencana”.

Dalam seminar yang berlangsung di Aula Museum Kebangkitan Nasional (Gedung Stovia) itu, Doni kebagian sub-tema “Pengalaman Managerial dari Bencana ke Bencana”. 

“Cicero mengatakan, ‘’Salus Populi Suprema Lex Esto’, yang artinya, ‘Keselamatan Rakyat Merupakan Hukum Tertinggi’. Itu yang selalu menjadi landasan saya bertindak mengatasi bencana,” ujar Doni yang saat ini menjabat Komisaris Utama MIND ID itu.

Di hadapan tamu undangan, serta para peserta daring dari seluruh pelosok Indonesia, Doni Monardo juga menunjukkan fakta penting, bahwa bencana adalah peristiwa berulang. Ia menunjukkan fakta bersejarah yang terukir di dalam Gua Ek Leuntie, Aceh, sebagai contoh.

Bahwa tsunami dahsyat yang terjadi tahun 2004, menggenapi catatan 12 tsunami yang terjadi dalam 7.500 tahun terakhir. Gua itu baru ditemukan tahun 2011, dan sudah diteliti oleh Earth Observatory of Singapore di bawah pimpinan Charles Rubin. Sebelum tsunami tahun 2004, pernah terjadi tsunami sekitar 2.800 tahun sebelumnya. Itu diketahui berdasar analisis radiocarbon material, termasuk clamshell dan sisa-sisa organisme mikroskopis yang ada dalam gua yang menghadap laut itu.

Baca Juga  Denpasar Siaga Bencana, Sekda Denpasar IB Alit Wiradana Minta Jajarannya Siap Siaga
monardo
Gua Ek Leuntie Aceh ditemukan tahun 2011, dan sudah diteliti oleh Earth Observatory of Singapore di bawah pimpinan Charles Rubin. (Foto: ist)

“Termasuk bencana-bencana alam lain yang terjadi ratusan atau ribuan tahun lalu di berbagai wilayah kita. Bukti serta catatan itu sebagian tersimpan di Belanda,” ujar Doni Monardo, yang bersama tim BNPB mengunjungi Leiden University, Mei 2019, untuk menelusuri riwayat bencana di Hindia Belanda.

Catatan Sejarah

Sebagai Ketua Satgas Covid, Doni Monardo pun mengilas balik sejarah. Betapa peran dokter serta aparat TNI-Polri begitu vital, mulai dari perintah pertama Presiden untuk membuat karantina di Natuna, karantina kru kapal pesiar di kepulauan Seribu, penyediaan APD, pendirian RS Darurat Covid “Wisma Atlet”, kerja sama dengan 5.000 wartawan untuk menangkal hoaks, dan sebagainya.

“Di sini hadir dr. Tjen (Mayjen TNI Purn. Dr. Dr. Daniel Tjen, red). Beliau adalah tim advance yang termasuk saksi sejarah bagaimana peran dokter menangani Covid-19. Saya juga menghimpun dan mengolah data, dibantu teman saya Prof. Wiku Adisasmito, teman Lemhanas, yang kemudian menjadi Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19. Itulah pentingnya satu sistem, satu manajemen, satu komando dalam apa pun. Termasuk mengatasi bencana,” papar Danjen Kopassus (2014-2015) itu.

Doni juga mengisahkan, betapa di awal musibah, hantaman nyata bukan saja dari cepatnya virus menyebar, tetapi juga oleh dua hal lain. Pertama, hoax. Termasuk penyebar informasi dari para “pakar dadakan” yang ada kalanya justru membuat masyarakat kebingungan dan berpotensi chaos. Kedua, ego sectoral yang mengakibatkan sulitnya koordinasi.

Doni menunjukkan bukti sejarah yang pernah ia dapat dari Leiden, sebelum musibah itu datang. Algemeen Handelsblad edisi 30 Oktober 1918 menulis Spaansche Griep (Flu Spanyol). Kemudian, De Masbode edisi 7 Desember 1918 menulis berita “Kolonien Uit Onze Oost, De Spaansche Ziekte op Java” (Dari Timur Kami, Penyakit Spanyol di Jawa).

Baca Juga  Wabup Suiasa Serahkan Fisik Bangunan Bantuan Pascabencana

Bukti ketiga, berita De Telegraaf edisi 22 November 1918 berjudul “De Spaansche Griep op Java” (Flu Spanyol di Jawa). Masih dari media yang sama, tanggal 5 Februari 1919, menurunkan berita “De Spaansche Griep op Java de Officieele Sterftecijfers” (Angka kematian resmi flu Spanyol di Jawa). Dan masih banyak catatan sejarah lain.

Termasuk literatur “Yang Terlupakan: Pandemi 1918 di Hindia Belanda”, yang ditulis sejarawan pandemi Tb. Arie Rukmantara dan tim pada 2009. Buku menunjukkan fakta sejarah bahwa pandemi adalah peristiwa berulang yang sudah tercatat sejak tahun 1700. Dalam 100 tahun terakhir, interval antarpandemi flu berkisar antara 10 dan 50 tahun sekali.

Bank Data

Sebagai catatan penting dari semua fungsi manajerial kebencanaan adalah “data”. Bisa disebut bank data, atau big data. Data harus digali dan diuji akurasinya sedemikian rupa, sehingga bisa diambil sebuah kebijakan yang tepat.

Terkait bidang kesehatan. Maka, Doni Monardo mengatakan, Kesehatan TNI harus memiliki data akurat tentang jumlah dan ketersebaran dokter dan paramedis di seluruh Indonesia. Berapa jumlah dokter umum, dokter spesialis, perawat, ahli nutrisi/gizi, analis kesehatan, bahkan ambulans.

Data kesehatan juga meliputi ketersediaan obat-obatan, darah, alkes, dan lain-lain. Juga meliputi data rumah sakit (berbagai type), Puskesmas, klinik, hingga Rumah Sakit Lapangan yang siap digelar.

Solusi Mitigasi

Dalam Rakornas Penanggulangan Bencana tahun 2020, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya mitigasi kebencanaan. Maka, mitigasi adalah solusi kebencanaan yang paling hakiki. Kegiatan penanggulangan bencana menjadi lebih maksimal ketika program mitigasi berjalan dengan baik.

Hasil mitigasi tersebut, akan sangat bermanfaat pada saat “tanggap darurat”. Yaitu, hari-hari pasca terjadinya bencana (alam maupun non-alam).

Baca Juga  Kapolsek Ubud Tinjau Lokasi Tanah Longsor dan Berikan Dukungan Moril kepada Korban di Banjar Pengosekan Kaja

Di akhir slide presentasi, Doni Monardi menyampaikan kutipan yang sangat menarik, “Perang, mungkin. Bencana pasti”.  (Egy Massadiah/gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

NEWS

Polri Libatkan Ary Ginanjar dalam Assessment Jenderal, Perkuat Meritokrasi dan Keterbukaan

Published

on

By

KPRP Polri
ASSESSMENT: Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo berfoto bersama Founder ESQ Corp., Ary Ginanjar, dalam pelaksanaan Assessment Center Perwira Tinggi Polri pada Kepangkatan Brigadir Jenderal Polisi Tahun Anggaran 2026 di Mabes Polri, Selasa (9/6). (Foto: Hms Polri)

Jakarta, baliilu.com – Polri terus memperkuat reformasi internal melalui penguatan sistem meritokrasi dan manajemen talenta sebagai tindak lanjut rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP). Salah satu langkah yang dilakukan adalah melibatkan Founder ESQ Corp., Ary Ginanjar, dalam pelaksanaan Assessment Center Perwira Tinggi Polri pada Kepangkatan Brigadir Jenderal Polisi Tahun Anggaran 2026 yang dibuka Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (9/6).

Keterlibatan pihak eksternal tersebut menjadi bagian dari komitmen Polri untuk membangun tata kelola sumber daya manusia yang semakin transparan, objektif, dan berbasis kompetensi. Langkah ini sekaligus menjawab salah satu rekomendasi KPRP terkait penguatan sistem merit dalam kaderisasi dan pengisian jabatan strategis di lingkungan Polri.

Dalam arahannya, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa tantangan Polri ke depan semakin kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, ancaman siber, kejahatan transnasional, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik. Karena itu, Polri membutuhkan pemimpin yang adaptif, berintegritas, humanis, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui sistem kaderisasi yang objektif, transparan, dan berbasis meritokrasi.

Sementara itu, As SDM Kapolri Irjen Pol. Dr. Anwar menjelaskan bahwa Assessment Center Polri merupakan instrumen strategis dalam membangun sistem manajemen talenta yang modern dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan assessment center di berbagai institusi dunia saat ini tidak lagi sekadar digunakan untuk menilai kompetensi individu, tetapi telah berkembang menjadi instrumen untuk memetakan potensi kepemimpinan, kemampuan adaptasi, kapasitas kolaborasi, pengambilan keputusan, hingga kesiapan menghadapi perubahan yang dipicu perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

Assessment Center Polri dibangun untuk memastikan bahwa pembinaan karier personel berjalan secara objektif dan berbasis data. Tujuannya bukan sekadar menilai seseorang layak atau tidak menduduki jabatan tertentu, tetapi menemukan potensi terbaik yang dimiliki setiap personel agar dapat dikembangkan secara optimal, ujar Anwar.

Baca Juga  Anggota DPRD Badung Dendy Astra Wijaya Dampingi Wabup Badung Tinjau DTW Alas Pala Sangeh Pasca-Bencana Pohon Tumbang

Ia mengatakan keberadaan Assessment Center menjadi salah satu fondasi penting dalam penerapan sistem merit dan manajemen talenta di lingkungan Polri.

Melalui assessment, kita dapat memetakan kompetensi, potensi, kesiapan, serta karakter kepemimpinan personel secara lebih komprehensif. Hasilnya menjadi dasar dalam pengembangan karier, pendidikan, promosi jabatan, maupun penyiapan kader-kader pimpinan Polri di masa depan, katanya.

Menurut Anwar, penguatan Assessment Center juga menjadi bagian dari upaya transformasi SDM Polri yang sejalan dengan Grand Strategy Polri 2025–2045 serta berbagai rekomendasi reformasi kelembagaan yang mendorong tata kelola SDM yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

Kami ingin memastikan bahwa setiap personel memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang berdasarkan kompetensi, integritas, dan potensi yang dimiliki. Inilah esensi meritokrasi yang terus diperkuat di lingkungan Polri, tegasnya.

Sementara itu, Ary Ginanjar mengatakan dunia saat ini tengah memasuki era Talentism, yaitu periode ketika keunggulan organisasi semakin ditentukan oleh kemampuannya mengelola dan mengembangkan talenta manusia.

Mengacu pada berbagai kajian global, termasuk World Economic Forum (WEF), Ary menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan robotika akan mengubah banyak pola kerja konvensional. Karena itu, kemampuan yang tidak dapat digantikan teknologi seperti kepemimpinan, kreativitas, kemampuan beradaptasi, pengaruh sosial, integritas, dan pengambilan keputusan akan menjadi faktor pembeda utama.

Di masa depan, organisasi tidak lagi bersaing berdasarkan siapa yang memiliki sumber daya terbesar, tetapi siapa yang paling mampu menemukan, mengembangkan, dan menempatkan talenta terbaiknya secara tepat, kata Ary.

Menurutnya, organisasi modern di berbagai negara kini mulai beralih dari pendekatan penilaian berbasis jabatan menuju pendekatan berbasis talenta dan potensi. Assessment tidak lagi dipandang sebagai alat evaluasi semata, tetapi menjadi instrumen strategis untuk memetakan kekuatan individu dan menyiapkan kepemimpinan masa depan.

Baca Juga  Cegah Insiden Terulang, DPRD Badung Desak DTW Sangeh Lakukan Peremajaan Pohon Tua

Ary mengapresiasi langkah Polri yang mulai membangun Big Data talenta untuk memetakan potensi personel secara lebih akurat sebagai dasar pengembangan karier dan penempatan jabatan.

“Saya melihat Polri menjadi salah satu institusi pionir yang mulai membangun Big Data talenta untuk mengidentifikasi profil keunggulan setiap personel secara lebih presisi. Ini merupakan fondasi penting bagi sistem meritokrasi yang objektif dan terukur,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa asesmen modern tidak lagi berfokus pada pencarian kelemahan individu, melainkan mengungkap potensi autentik yang selama ini belum terpetakan.

“Assessment bukan tentang mencari siapa yang paling hebat, tetapi menemukan di mana seseorang dapat memberikan kontribusi terbaiknya. Ketika talenta ditempatkan secara tepat, organisasi akan bergerak lebih efektif dan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Ary.

Menurut Ary, penempatan berbasis talenta akan menghasilkan personel yang lebih memahami makna tugasnya, lebih mandiri dalam bekerja, lebih cepat berkembang kompetensinya, dan mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi organisasi maupun masyarakat.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan pemimpin yang sukses secara individu, tetapi membangun organisasi yang mampu berkembang secara berkelanjutan melalui sistem yang berjalan berdasarkan kompetensi, talenta, dan integritas,” tutupnya.

Assessment Center Perwira Tinggi Polri Tahun Anggaran 2026 diikuti 100 peserta dan menjadi bagian dari langkah konkret Polri menindaklanjuti rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) dalam memperkuat sistem meritokrasi, manajemen talenta, dan tata kelola SDM yang profesional. Melalui proses yang objektif serta keterlibatan perspektif eksternal, Polri berupaya memastikan kaderisasi kepemimpinan berjalan berdasarkan kompetensi, integritas, dan potensi terbaik setiap personel. Pada akhirnya, penguatan kualitas pemimpin Polri diharapkan mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin profesional, humanis, transparan, dan semakin dipercaya masyarakat. (gs/bi)

Baca Juga  Denpasar Siaga Bencana, Sekda Denpasar IB Alit Wiradana Minta Jajarannya Siap Siaga

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Indonesia Harus Dikelola untuk Kesejahteraan Rakyat

Published

on

By

Presiden Prabowo
BUKA MUNAS: Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr/presidenri.go.id)

Bandar Lampung, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemakmuran rakyat Indonesia akan terwujud apabila pengelolaan kekayaan alam dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 33. Menurut Presiden, Indonesia merupakan negara yang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, sehingga tantangan utama bangsa saat ini adalah mengelolanya secara optimal demi kesejahteraan rakyat.

“Dari dulu, Nusantara kita didatangi karena kekayaannya. Bangsa-bangsa asing itu datang ke sini waktu itu, berbulan-bulan ke sini. Bukan wisata, dia ke sini mencari kekayaan, sampai sekarang. Jadi saudara-saudara, segala kekayaan kita, tantangannya adalah harus dikelola oleh kita dengan sebaik-baiknya. Dengan secerdas-cerdasnya,” ucap Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Presiden menekankan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menyangkut hajat hidup orang banyak harus berada dalam penguasaan negara sebagaimana diamanatkan konstitusi. “Saudara-saudara, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Ini bahasa Indonesia, tidak perlu ditafsirkan, tidak perlu diterjemahkan, harus dilaksanakan,” ungkap Presiden Prabowo.

Kepala Negara juga menyoroti pentingnya pengelolaan kekayaan alam nasional agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara maksimal oleh rakyat Indonesia. Kepala Negara mengatakan bahwa hasil pengelolaan sumber daya alam seharusnya menjadi modal pembangunan nasional dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

“Kita perang kemerdekaan dengan Undang-Undang Dasar ini dan logikanya, ini kekayaan kita. Masa kekayaan kita diolah, diambil, dijual ke luar negeri, hasil jualannya tidak ditaruh di Indonesia,” kata Presiden.

Baca Juga  Cegah Insiden Terulang, DPRD Badung Desak DTW Sangeh Lakukan Peremajaan Pohon Tua

Lebih lanjut, Kepala Negara menyampaikan optimismenya terhadap masa depan Indonesia. Presiden meyakini bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara yang makmur apabila mampu mengelola kekayaan dan potensi nasional secara tepat.

Presiden Prabowo pun menegaskan pentingnya persatuan, kerja sama, dan semangat gotong royong dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera. “Rakyat paling ngerti. Rakyat ngerti bahwa untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan. Harus ada apa? Harus ada paguyuban. Harus ada kerja sama. Harus ada saling mengisi. Bukan saling menghantam. Tapi elit semakin pintar,” pungkas Kepala Negara. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo Resmi Buka Munas XVIII HIPMI, Tekankan Nasionalisme sebagai Fondasi Kemajuan Ekonomi Bangsa

Published

on

By

presiden prabowo
BUKA MUNAS: residen Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr/presidenri.go.id)

Bandar Lampung, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Rabu, 10 Juni 2026. Kehadiran Kepala Negara dalam forum tertinggi organisasi pengusaha muda tersebut menegaskan dukungan pemerintah terhadap peran strategis HIPMI dalam memperkuat perekonomian nasional dan mencetak generasi wirausahawan yang berdaya saing.

Setibanya di lokasi acara, Presiden Prabowo disambut antusias oleh ribuan peserta Munas yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian acara pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Hymne dan Mars HIPMI yang menggema di ruang pertemuan. Suasana khidmat kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.

Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchar dalam laporannya menegaskan bahwa Munas XVIII menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, semangat kemandirian ekonomi yang diwariskan para pendiri bangsa harus terus menjadi pedoman bagi generasi pengusaha muda Indonesia.

“Kita sangat meresapi pesan dari Bapak Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tanpa kemandirian ekonomi hanyalah sebuah seremoni. Kita tidak ingin kemerdekaan kita hanya sekadar seremoni. Oleh karena itu, Munas ini menjadi ajang bagi HIPMI untuk merumuskan kontribusi nyata, memastikan Indonesia tidak hanya merdeka secara politik, tapi juga berdaulat secara ekonomi,” ujar Akbar.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberadaan HIPMI sebagai wadah pengusaha muda memiliki arti penting bagi masa depan Indonesia. Kepala Negara menilai semangat nasionalisme yang menjadi landasan lahirnya HIPMI merupakan faktor utama yang menentukan kemajuan suatu bangsa.

Baca Juga  Gercep! Bupati Kembang Langsung Turun ke Lokasi, Tinjau Dampak Angin Puting Beliung di Penyaringan

“HIPMI sebagai wadah pengusaha muda adalah wadah yang sangat penting dan lahirnya HIPMI dengan wawasan nasionalisme sebagaimana diutarakan adalah sangat penting. Sebenarnya tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme, sudah tidak ada. Bahkan, Mbah-mbahnya kapitalisme, guru-guru kapitalisme sekalipun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo pun secara resmi membuka Munas XVIII HIPMI yang mengusung tema ‘Sinergi Pengusaha Muda Membangun Kekuatan Ekonomi Nasional’. Peresmian pembukaan ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Lampung, oleh Presiden Prabowo didampingi oleh para tokoh HIPMI dan para calon ketua umum BPP HIPMI.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Rabu, 10 Juni 2026, saya Prabowo Subianto, dengan ini secara resmi saya buka Musyawarah Nasional ke-XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia,” ucap Presiden. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca