Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Di Tengah Pandemi, Ny. Putri Koster: Pemprov Bali Beri Ruang bagi Seniman untuk Berkreasi

BALIILU Tayang

:

se
NY. PUTRI SUASTINI KOSTER

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Bali telah memberi dampak ke berbagai sendi kehidupan, tidak hanya kesehatan, ekonomi dan sosial, tetapi juga pada seni. Kegiatan seni panggung yang biasanya melibatkan banyak orang dan penonton, tidak lagi bisa dilakukan mengingat virus akan menyebar cepat di keramaian. Social distancing dan physical distancing yang menyebabkan pertunjukan tidak bisa dilakukan.

‘’Namun bukan berarti kreativitas seni akan ikut mati di tengah pandemi ini. Kreativitas harus terus berjalan. Hanya aktivitasnya dilakukan dalam format yang berbeda. Kegiatan seni dialihkan dari panggung ke pementasan virtual. Tidak ada yang bisa menghalangi seniman untuk terus berkreativitas, malah di tengah pandemi ini seniman diharapkan untuk terus berkarya,’’ ujar Ny. Putri Koster ketika menjadi narasumber dalam acara Webinar ‘Kreativitas Seni di Era Pandemi’ yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Bali, Jumat (19/6-2020)

Seniman multitalenta ini kembali memaparkan gejolak, gelegat dan gairah berkesenian orang Bali sangat luar biasa dan kita terlahir untuk itu. Jangan sampai dihambat tetapi malah harus diwadahi, diberikan kesempatan dan beri ruang yang seluas-luasnya. Dalam hal ini pemerintah hadir untuk menggawangi dengan payung hukum, mendorong dan mensupport sehingga akan terlahir seniman yang mumpuni.

Istri orang nomor satu di Bali ini menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali memberi ruang dan suatu wadah yang besar bagi para seniman untuk berkreasi. Pemprov Bali memiliki dua wadah besar yang memberi keleluasaan bagi para seniman dari segala lini untuk berkreasi. Jika dilihat dari pelaksanaan  Pesta Kesenian Bali, kegiatannya mengerucut pada seni tradisional yang diwariskan para leluhur. Ruang gerak bagi seni modern seperti puisi, teater modern ruangnya sangat terbatas di PKB.

Baca Juga  Cegah Transmisi Lokal, Desa Dangin Puri Kelod Lakukan Pendataan Duktang secara Ketat

Untuk itu, Pemprov Bali memberi ruang pada seni modern melalui Festival Seni Bali Jani. Di arena Festival Seni Bali Jani dilombakan seni modern seperti teater, puisi, lomba drama modern serta pameran buku bagi para pegiat sastra.

Sastrawan Bali harus terus didorong untuk terus berkarya sehingga akan menghasilkan karya sastra yang luar biasa, sehingga nantinya dapat diselenggarakan pameran buku tingkat internasional di Bali yang materinya dipenuhi oleh karya-karya sastrawan Bali. Dengan demikian, sastrawan Bali akan bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Tidak hanya sastrawan, ke depannya harus bisa menggawangi seniman dari semua ranah seni, baik itu seni modern maupun perupa dan yang lainnya.

Ke depannya, Ny. Putri Koster berharap agar kreativitas seni kita menjadi kreativitas seni di Bali Era Baru. Bali yang kembali pada jati dirinya, Bali yang kembali pada tatanan lamanya, Bali yang sujatinya Bali, Bali yang orang-orangnya adalah para seniman. Seniman Bali tidak hanya menghasilkan karya, tapi juga mengolah jati dirinya dan memiliki taksu.

Ny. Putri Koster berpesan untuk para generasi muda yang baru masuk ke dalam dunia sastra atau seni bidang apa pun untuk terus tekun dan tidak meninggalkan tradisi keaksaraan yang ada. Seniman yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga meminta generasi muda untuk rajin mendengar, karena ketika kita rajin mendengar maka memori kita akan penuh, sehingga kita mampu mengucap dengan baik dan benar. Karenanya, rajin-rajinlah membaca, karena dengan membaca memori kita akan terisi sehingga kita mampu menulis dengan baik dan benar, apa yang ada dalam hati dan pikiran. Dari sana kita beranjak menjadi seniman yang berkreasi tinggi.

Baca Juga  Gubernur Bali I Wayan Koster dan Wagub Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati Mengucapkan Rahajeng Rahina Nyepi

Di akhir arahannya, Ny. Putri Koster mengajak para seniman lewat kemampuan berkesenian terus dapat berkreasi di bidang seninya masing-masing untuk tetap bisa menjaga imun dan iman, sehingga pada akhirnya bisa melewati wabah Covid-19 ini dengan aman dan sampai pada waktunya kita bisa berkarya seperti sedia kala. Ny. Putri Koster juga mengajak para peserta webinar untuk terus mematuhi imbauan serta anjuran pemerintah. Harus disiplin dan jangan bengkung dan mesti patuh pada protokol kesehatan yang ada karena virus ada di mana-mana.

Webinar juga menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu Putu Fajar Arcana serta Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, MLit, serta diikuti oleh Rektor Universitas Udayana Prof. AA Raka Sudewi serta Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dr. Made Sri Satyawati, SS, MHum.  Webinar yang berlangsung sekitar tiga jam itu mendapat antusias yang luar biasa dari sekitar 150 peserta yang terdiri atas para tokoh seniman dan sastrawan, baik dari Bali maupun luar Bali. Kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab serta pembacaan puisi oleh Ny. Putri Koster. (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Pameran Nasional Rupa Jnana Rasmi, Suklu Representasikan “Malam Temaram“

Published

on

By

Suklu Bersama Pengunjung di Depan Karya Malam Temaram
I Wayan Sujana Suklu bersama pengunjung swafoto di depan karya “Malam Temaram” 2026. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Lukisan “Malam Temaram” (2026) karya I Wayan Sujana Suklu menjadi salah satu karya dalam seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju yang dipresentasikan dalam pameran nasional RUPA JNANA RASMI, yang dibuka oleh Ida Bagus Sidharta Putra, Rabu, 26 Agustus 2026.

Berukuran 150 × 195 cm, karya ini bermedia acrylic, sodas, dan glue on canvas. Secara visual, Malam Temaram menghadirkan sebuah bidang horizontal yang nyaris sepenuhnya dipenuhi oleh repetisi garis kurva berwarna, lengkungan, atau bulan sabit. Tanda-tanda tersebut disusun berulang dalam barisan horizontal, membentuk suatu medan visual yang padat, ritmis, dan berlapis.

Pada pandangan pertama, lukisan tampak seperti hamparan malam yang gelap dengan sebuah purnama di bagian kanan atas. Namun ketika diamati lebih dekat, purnama tersebut tidak hadir sebagai bentuk tunggal yang berdiri sendiri. Ia juga dibangun dari tanda-tanda kecil yang sama dengan tanda yang memenuhi seluruh permukaan kanvas. Dapat saya katakana: bulan dilahirkan oleh malam itu sendiri.

Inilah salah satu karakter penting Malam Temaram: keseluruhan visual tidak dibangun melalui penggambaran objek secara konvensional, tetapi melalui repetisi garis kurva berwarna sederhana.

Garis-garis kecil yang berulang membentuk semacam denyut visual. Setiap tanda memiliki ukuran dan intensitas yang relatif kecil, tetapi akumulasi ribuan tanda tersebut menghasilkan kekuatan visual yang jauh lebih besar. Repetisi mengubah garis individual menjadi tekstur, tekstur menjadi atmosfer, dan atmosfer kemudian menjadi pengalaman ruang.

Permukaan lukisan didominasi warna-warna gelap, hitam, cokelat, hijau tua, serta nuansa tanah, yang sesekali ditembus oleh warna-warna lebih terang. Di tengah kepadatan tersebut, garis-garis berwarna cokelat-oranye menjadi elemen yang paling dominan. Warna ini menghadirkan kesan hangat seperti cahaya yang tersisa di dalam malam.

Di bagian kanan atas terdapat lingkaran berwarna kuning-oranye yang secara intuitif terbaca sebagai purnama. Bentuk lingkaran tersebut menjadi pusat perhatian sekaligus sumber cahaya imajiner. Namun permukaannya tidak polos. Ia tetap mempertahankan sistem repetisi yang digunakan pada seluruh bidang. Purnama seolah-olah tersusun dari ingatan-ingatan kecil, fragmen-fragmen pengalaman yang dikumpulkan terus-menerus sampai akhirnya membentuk satu kesatuan.

Baca Juga  Wujudkan Sinergi Kesehatan Hewan Nasional, FKH Unud Jajaki Kerja Sama dengan PT. RIST

Karena itu, purnama dalam Malam Temaram bukan sekadar objek astronomis atau simbol dekoratif. Ia merupakan titik konsentrasi ingatan.

Ida Bagus Sidharta Putra, saat membuka pameran. (Foto: ist)

Repetisi sebagai Cara Melihat

Suklu membangun karya ini melalui repetisi. Tindakan mengulang garis atau tanda yang relatif sederhana secara terus-menerus menghasilkan konsekuensi visual yang kompleks. Satu garis tidak memiliki beban makna yang besar. Tetapi ketika garis tersebut diulang ratusan bahkan ribuan kali, ia mulai menciptakan ritme, kepadatan, arah, tekstur, dan suasana.

Repetisi dalam karya ini juga memperlihatkan hubungan antara tubuh, waktu, dan bidang lukisan.

Setiap tanda merupakan hasil dari sebuah tindakan tubuh. Tangan bergerak, memberi tekanan, membuat lengkungan, kemudian berpindah ke titik berikutnya. Proses tersebut berlangsung berulang. Waktu penciptaan tidak berada di luar karya, melainkan mengendap menjadi permukaan. Kanvas menjadi semacam arsip dari gerakan tubuh.

Apa yang terlihat sebagai tekstur visual sebenarnya merupakan kumpulan dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara berkesinambungan. Dalam pengertian ini, Malam Temaram dapat dipandang sebagai lukisan yang menggambarkan malam, sekaligua juga merekam durasi ketika malam itu diciptakan.

Repetisi juga membawa karya menuju keadaan meditatif. Ketika tindakan yang sama dilakukan berulang-ulang, perhatian tidak lagi hanya diarahkan kepada hasil akhir. Perhatian berpindah kepada proses: jarak antartanda, tekanan tangan, ritme gerakan, kepadatan bidang, dan perubahan kecil yang muncul secara spontan. Maka, Malam Temaram memperlihatkan sebuah paradoks: semakin sesuatu diulang, semakin banyak perbedaan yang muncul di dalamnya.

Karya I Wayan Sujana Suklu “Malam Temaram” 2026. 150C195 Cm, media acrylic, sodas, glue on canvas. (Foto: ist)

Malam sebagai Ruang Ingatan

Judul Malam Temaram merujuk pada kondisi cahaya yang tidak sepenuhnya gelap dan tidak sepenuhnya terang. Temaram adalah keadaan ambang. Sesuatu masih dapat dilihat, tetapi tidak lagi hadir dengan ketegasan penuh. Kondisi ambang tersebut menjadi penting dalam konteks seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju.

Seri ini mempertemukan dua ruang pengalaman: Bali sebagai ruang tempat purnama dialami dan Jeju sebagai ruang yang kembali hadir melalui ingatan. Pertemuan keduanya tidak dilakukan dengan menggambarkan secara literal lanskap Bali atau Jeju. Tidak ada keharusan menghadirkan gunung, pantai, rumah, pepohonan, atau ikon geografis tertentu. Yang dibawa ke dalam lukisan adalah jejak pengalaman.

Purnama menjadi pemicu bagi proses tersebut. Bulan yang dilihat di Bali dapat membawa kembali pengalaman tentang Jeju. Jarak geografis kemudian tidak lagi menjadi persoalan karena ingatan menciptakan ruangnya sendiri. Bali dan Jeju bertemu bukan sebagai dua lokasi geografis, tetapi sebagai dua pengalaman yang hidup di dalam kesadaran.

Baca Juga  Sabtu Ini ’Penggak PKK’ Sasar Karangasem, Ny. Putri Koster: Murni Swadaya Ibu-ibu PKK

Dari Garis Menjadi Atmosfer

Secara formal, kekuatan karya ini terletak pada transformasi skala. Jika dilihat dari dekat, penonton berhadapan dengan ribuan tanda kecil yang memiliki karakter grafis. Mata dapat mengikuti satu demi satu bentuk kurva tersebut. Namun ketika jarak penglihatan berubah, tanda-tanda individual kehilangan otonominya. Mereka menyatu menjadi bidang, gelombang, tekstur, dan atmosfer. Perubahan jarak melihat ini penting karena membuat pengalaman terhadap lukisan menjadi dinamis.

Dekat: penonton melihat tanda. Sedikit menjauh: penonton melihat repetisi. Lebih jauh: penonton melihat medan. Secara keseluruhan: penonton mengalami malam.

Elan, Malam Temaram bekerja melalui pergeseran antara mikro dan makro, antara detail dan keseluruhan, antara garis dan atmosfer. Purnama di kanan atas kemudian menjadi semacam jangkar visual. Mata dapat meninggalkan detail-detail kecil dan kembali menemukan lingkaran cahaya tersebut. Tetapi setelah mengamatinya lebih dekat, penonton kembali menemukan bahwa purnama juga tersusun dari tanda-tanda yang sama.

Tidak ada pemisahan mutlak antara bulan dan malam. Keduanya berasal dari bahasa visual yang sama.

Purnama sebagai Ingatan

Dalam konteks pameran nasional RUPA JNANA RASMI, Malam Temaram dapat dibaca sebagai karya yang mempertemukan pengalaman visual dengan pengalaman batin. Purnama bukan lagi sekadar objek yang dilihat, tetapi menjadi perangkat untuk mengingat.

Bulan memiliki karakter khusus dalam pengalaman manusia: ia muncul kembali secara berkala, tetapi setiap kemunculannya dapat membawa pengalaman yang berbeda. Bulan yang sama dapat menyaksikan masa kanak-kanak, perjalanan, perjumpaan, kehilangan, kesunyian, atau sebuah tempat yang pernah ditinggalkan.

Dalam karya Suklu, purnama menjadi semacam penanda waktu yang melampaui waktu. Ia berada di satu titik pada bidang lukisan, tetapi membuka ruang pengalaman yang jauh lebih luas. Ia menghubungkan malam yang sedang dilihat dengan malam-malam yang pernah dialami.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Soal Virus Corona, Ketakutan dan Kepanikan Akan Nambah Masalah Baru

Di sinilah Malam Temaram memperoleh dimensi puitiknya: yang dilukis bukan hanya malam, melainkan pengalaman seseorang ketika memandang malam dan tiba-tiba menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang di dalam ingatan.

Malam yang Tidak Pernah Selesai

Malam Temaram tidak menawarkan gambaran malam yang selesai. Bidang lukisan seolah dapat terus diperpanjang ke luar batas kanvas. Barisan tanda bergerak secara horizontal dan menciptakan kesan kontinuitas. Mata dapat membayangkan bahwa repetisi tersebut terus berlangsung di luar bidang yang terlihat.

Karya ini akhirnya menjadi sebuah meditasi tentang pengulangan, waktu, ingatan, dan keberadaan. Setiap garis adalah satu tindakan. Setiap tindakan meninggalkan jejak. Setiap jejak menjadi bagian dari repetisi. Setiap repetisi membangun permukaan. Dan dari permukaan itu, sebuah purnama muncul.

Akhir kisah, Malam Temaram memperlihatkan bagaimana sesuatu yang sederhana, sebuah garis melengkung yang terus diulang, dapat berkembang menjadi pengalaman visual yang kompleks.

Bagi I Wayan Sujana Suklu, lukisan tidak berhenti pada persoalan bagaimana sebuah objek terlihat. Lukisan juga menjadi ruang untuk menguji bagaimana tubuh mengingat, tangan mengulang, waktu mengendap, dan pengalaman berubah menjadi bentuk.

Dalam Malam Temaram, Ia adalah cahaya yang menerangi ingatan. Dan ingatan itu, melalui ribuan repetisi garis, perlahan-lahan menemukan bentuknya di atas kanvas. (*/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Cegah Transmisi Lokal, Desa Dangin Puri Kelod Lakukan Pendataan Duktang secara Ketat
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Indeks Reformasi Birokrasi dan SAKIP Pemprov Bali Dinilai Tim Kemen PAN-RB

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Satgas Covid-19 MGPSSR Bali Kembali Gelar Bakti Sosial, Minggu (7/6) Ini Sasar Gianyar dan Klungkung

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca