Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Didampingi Ketua Dekranasda Bali, Gubernur Koster Buka Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 1/2022

BALIILU Tayang

:

de
BUKA PAMERAN: Gubernur Bali Wayan Koster yang didampingi Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster membuka secara resmi Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 1 Tahun 2022 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, pada Kamis (Wraspati Umanis, Matal) 20 Januari 2022. (Foto: eka)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster yang didampingi Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster membuka secara resmi Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 1 Tahun 2022 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, pada Kamis (Wraspati Umanis, Matal) 20 Januari 2022.

Dalam sambutannya, Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini memberikan apresiasi Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster yang telah berupaya membangkitkan perekonomian Bali melalui IKM/UKM di Bali selama masa pandemi Covid-19.

“Saya masih ingat, saat pandemi Covid-19 dimulai di Indonesia. Selama tiga bulan kita melakukan pembatasan aktivitas yang mengakibatkan ekonomi mandeg. Pada pertangahan tahun 2020, Ibu Putri bertanya kepada saya, apakah bisa memanfaatkan Ardha Candra untuk pameran IKM secara gratis? Saat itu, saya langsung jawab iyakan niat mulia ini,” cerita Wayan Koster dihadapan Pimpinan BPD Bali, Balimall.id, Ketua Gatriwara, Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Bali, Ketua Bhayangkari Provinsi Bali, Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota se-Bali, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta jajaran di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali yang hadir dengan protokol kesehatan yang ketat.

Perlahan-lahan, lebih lanjut diceritakannya bahwa Pameran IKM yang awalnya dilaksanakan secara daring, mulai membaik dan terlihat hasilnya. “Berikutnya pameran dilaksanakan secara hybrid, atau perpaduan daring dengan konvensional, serta berkembang terus menjadi konvensional seperti Pameran IKM Bali Bangkit yang kita kenal selama ini. Jadi tentu ini luar biasa, karena awalnya pameran dilakukan tanpa membebani APBD sepeser pun,” ungkapnya.

Gubernur Koster didampingi Ketua Dekranasda Bali Ny. Putri Koster berfoto dengan para desainer dan model. (Foto: eka)

Mengenai Pameran IKM Bali Bangkit yang diselenggarakan selama ini, Gubernur jebolan ITB tersebut menyampaikan rasa bangganya akan prinsip Ketua Dekranasda Ny. Putri Koster untuk melestarikan budaya yang ditularkan secara langsung kepada para peserta pameran. Menurutnya, prinsip pelestarian warisan leluhur yang tertuang dalam Mars Dekranasda sangatlah sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali serta prinsip Ekonomi Kerthi Bali membangun Bali Era Baru yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. “Ekonomi Kerthi Bali terdiri atas enam pilar sektor unggulan yaitu: 1) Sektor Pertanian dalam arti luas dengan sistem pertanian organik; 2) Sektor Kelautan dan Perikanan; 3) Sektor Industri; 4) sektor IKM, UMKM dan Koperasi; 5) Sektor Ekonomi Kreatif dan Digital; serta 6) Sektor Pariwisata. Sehingga pameran ini sangat sesuai dengan sektor yang keempat di Ekonomi Kerthi Bali, yakni IKM dan UMKM,” imbuhnya seraya mengatakan prinsip Ekonomi Kerthi Bali untuk menjaga serta memanfaatkan sebaik-baiknya potensi Bali secara keseluruhan untuk kepentingan masyarakat Bali.

Baca Juga  Gubernur Koster Tegaskan Kemasan Produk Arak Bali Harus Tertib Gunakan Aksara Bali

Lebih lanjut orang nomor satu di Pemprov Bali ini mengajak Dekranasda Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota se-Bali agar benar-benar menjaga warisan leluhur, jangan sampai budaya kita dimanfaatkan orang lain. “Sama seperti Kain Tenun Endek Bali yang dulu diproduksi di luar dan dibawa ke Bali, lalu masyarakat kita di Bali menjadi pangsa pasar keuntungan dari pihak luar,” jelas Gubernur Koster yang telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali/Kain Tradisional Bali.

Atas masalah itu (Kain Tenun Endek Bali yang dulu diproduksi di luar dan dibawa ke Bali, red), menurut Wayan Koster membuat Bali kehilangan banyak hal. “Pertama kita kehilangan warisan budaya, kedua warisan budaya kita dinikmati oleh pelaku usaha dari  luar Bali, ketiga Kain Tenun Endek Bali yang diproduksi di luar Bali menjadikan produk kita dibuat di luar, lalu budaya kita diambil, dan kita beli pula,” sebutnya dengan nada miris sembari mengatakan jumlah penduduk Bali yang 4,3 juta sangatlah sedikit, jadi jangan sampai diambil oleh orang lain lagi. Hal ini menyebabkan perajin semakin terjepit. Maka ini harus ditata ulang, dari hulu sampai hilir, jadi apa yang kita lakukan saat ini diharapkan bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Bali.

Di akhir sambutannya, orang nomor satu di Pemprov Bali ini memberikan dukungan penuh kepada Dekranasda Provinsi Bali dalam upaya melestarikan warisan budaya Bali. Hal ini menurutnya patut ditiru oleh Dekranasda Kabupaten/Kota se-Bali. “Apa yang sudah dilakukan oleh Dekranasda Provinsi Bali sudah sangat tepat, jika perlu ditegaskan lagi, sehingga para perajin, IKM bisa terus mengikuti aturan dalam Pameran IKM Bali Bangkit ini. Apalagi Presiden RI, Joko Widodo sudah mengapresiasi langsung saat berkunjung ke Pameran IKM Bali Bangkit ini tahun lalu, serta langsung memerintahkan Menko Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Pandjaitan untuk membuka stand khusus IKM/UMKM seluruh Indonesia pada perhelatan G20 mendatang di Nusa Dua, Bali. Jadi berkat berkunjung ke Pameran IKM Bali Bangkit, Bapak Presiden mendapatkan ide tersebut, jadi saya harap para perajin terus jaga bahkan tingkatkan kualitas produknya,” tutupnya yang disambut tepuk tangan.

Baca Juga  Anggota DPRD Badung Yandinata: Gubernur Koster Tolak Timnas Israel Bertanding di Bali Merupakan Kebijakan Sangat Tepat

Sementara itu Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster mengatakan perhetalan Pameran IKM Bali Bangkit Tahun 2022 kali ini merupakan sinergitas dari Dekranasda Provinsi, Dekranasda Kabupaten/Kota serta BPD Bali dan Balimall.id. Tujuan dari program ini adalah untuk menggeliatkan para perajin serta perekonomian kita di Bali di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia. “Yang kami lakukan mungkin kecil, namun dengan cinta yang besar, serta dengan harapan para perajin bisa bergeliat kembali serta semangat kembali dalam berkarya,” ujarnya.

Ny. Putri Koster juga mengungkapkan bahwa setahun terakhir ini dari akhir tahun 2020 hingga akhir tahun 2021, Dekranasda telah melaksanakan tugas tanggung jawab untuk mengawasi, mengarahkan, membimbing agar perajin IKM/UMKM tetap berada pada koridor, serta ikut memperkuat ekonomi Bali, dan melestarikan warisan leluhur. “Biasanya karena ingin kejar untung banyak jadinya melupakan pola warisan leluhur. Jadi warisan leluhur harus tetap pada kualitasnya,” harapnya seraya menyatakan selama Pameran IKM Bali Bangkit 2021, Dekranasda telah menghadirkan 700 pelaku IKM/UMKM yang terus berpameran baik secara bergantian ataupun tetap di Taman Budaya Denpasar. Rata-rata penjualan pada pameran tersebut adalah Rp 1,8 miliar per bulan, bahkan di akhir tahun 2021 hampir menyentuh Rp 2,9 miliar dan selama pameran setahun kemarin kurang lebih Rp 20 miliar. Itu hasil jualan para perajin yang murni masuk kantong mereka selama pandemi. Tentu ke depan jika kondisi telah kembali normal, pemasukan bisa lebih dari itu,” jelasnya. (eka/gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  Ny. Putri Koster Tutup Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 2 Tahun 2023

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Baca Juga  PPKM Bali Turun ke Level 3, Gubernur Koster: Tetap Waspada, Jangan Disikapi Euphoria Berlebihan

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Peluncuran Buku ‘’Padmabhuwana Bali’’, Gubernur Koster: Sejalan dengan Visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada Triwulan I 2026

Published

on

By

harga properti bali
Infografis Harga Properti Residensial Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy). Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 ), dan besar (luas bangunan > 70 m2 ) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah.

“Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah. Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non-bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%.

Baca Juga  Digelar Pertama Kalinya, Ny. Putri Koster Harap Beautiverse Angkat Produk Kesehatan Tradisional

Dari sisi konsumen, sebut Achris Sarwani, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca