Badung, baliilu.com – Koperasi Pemasaran Kopitu (Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu) Alam Bali Jaya menggelar Grand Seminar bertajuk ‘’Growth Your Spirit Bussiness 2022, Sarana Menuju Jiwa yang Damai dan Rejeki Berlimpah’’. Acara yang menerapkan protokol kesehatan yang ketat digelar di Warung Uma Asri, Mengwi Kabupaten Badung, Minggu (20/2).
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Koperasi Pemasaran Kopitu Alam Bali Jaya, Wayan Sudana Bima, Ketua Umum Kopitu Indonesia, Yoyok Pitoyo, DPW Kopitu Bali, Rediyasa, Regional CEO Draiv Bali, Wayan Suarsa, dan Guest Star dalam seminar, Roy Samudra, M.M., M.Psi., CH, Mht, MNNLP, CI, serta undangan terkait.
Ketua Koperasi Pemasaran Kopitu Bali Jaya, Wayan Sudana Bima mengatakan, seminar ini adalah acara pertama yang digelar oleh Koperasi Pemasaran Kopitu Alam Bali Jaya. Adapun tujuan dari seminar ini adalah untuk mengubah mental block, karena saat pandemi ini yang lebih menjadi permasalahan adalah bukannya bagaimana cara untuk melakukan usaha, akan tetapi mental para pelaku UMKM yang masih ter-block karena situasi pandemi.
“Besar harapan saya sebagai Ketua Koperasi yang baru agar anggota kami, dan masyarakat umum yang akan masuk menjadi anggota koperasi pemasaaran, yang mana notabene para UMKM kita khususnya yang ada di Bali bisa memiliki produk yang bisa bersaing baik secara nasional bahkan internasional,” ujar Bima yang juga merupakan founder dari UMKMart.
Lebih lanjut dikatakan, Koperasi Pemasaran Kopitu Alam Bali Jaya akan melakukan terobosan yang berbeda yakni akan mengajak semua pelaku usaha untuk ber-partnership bergandengan tangan untuk memasarkan produk-produk UMKM yang ada di Bali.
Ketua Koperasi Pemasaran Kopitu Alam Bali Jaya, Wayan Sudana Bima (kiri), Ketua Umum Kopitu Indonesia, Yoyok Pitoyo (kanan)
“Kami sebagai Ketua Koperasi Pemasaran Kopitu mengajak para pelaku UMKM untuk ikut bergabung. Karena ini adalah koperasi pemasaran yang mana pemasaran merupakan garda terdepan dari produk-produk yang dijalankan. Sebagai anggota koperasi, pelaku UMKM akan mendapatkan tiga keuntungan yakni, keuntungan harian, keuntungan secara SHU yang merupakan asas koperasi, dan produk-produk yang ada di koperasi adalah produk UMKM tentu akan mendapatkan nilai jual atau value dari hasil usahanya karena mereka memasarkan produknya sendiri dan menjual ke anggota kita yang ada di koperasi karena asas koperasi adalah dari kita dan untuk kita,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Umum Kopitu Indonesia, Yoyok Pitoyo di sela-sela seminar mengungkapkan, harapan dalam agenda acara hari ini agar ada kemajuan bagi para UMKM. Pelaku UMKM diharapkan bisa mendapatkan suatu pengetahuan tentang value atau nilai, dimana value adalah salah satu bagian kunci kesuksesan pelaku UMKM.
Para UMKM diharapkan sudah mulai melek digitalisasi, terhadap perekonomian, terutama dengan keberadaan maraknya market place yang berupa ecommerce. “Ke depan para UMKM juga harus sudah mulai melek dengan adanya teknologi dunia baru yakni Metaverse dimana nanti Metaverse ini akan ada banyak sesuatu yang growing di masa depan yang bisa diambil nilai-nilai manfaatnya bagi para UMKM terutama tentang aspek pasarnya. Kalau para UMKM bisa lebih cepat mengambil peluang ini, maka para UMKM masuk bagian dari Metaverse bukan bagian dari obyek pasar dari Metaverse itu,” tuturnya.
Dikatakannya juga, para UMKM perlu menyadari pentingnya berorganisasi dan membentuk jaringan sesama UMKM, sehingga mereka tetap update tentang situasi dan perkembangan bisnis. “Karena suatu bisnis pasti tidak lepas dari kendala atau permasalahan. Ketika ada kendala, dengan terbentuknya jaringan-jaringan bisnis bagi para UMKM yang senantiasa memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan,” imbuh Yoyok.
Pada kesempatan yang sama, Regional CEO Draiv Bali, Wayan Suarsa mengungkapkan, sudah dilakukan penandatangann MoU antara Draiv Bali dengan UMKMart yang kemudian di dalamnya juga ada hubungan usaha atau partnership dengan Koperasi Pemasaran Kopitu Alam Bali Jaya.
“Pada intinya kami sebagai salah satu usaha yang bergerak di bidang transportasi online menjalin sebuah kerja sama bisnis tentu ada simbiosis mutualisme yang kita peroleh dalam kerja sama ini. Kopitu, UMKMart dan Koperasi Pemasaran Kopitu Alam Bali Jaya memang intens bergerak di bidang usaha yang membangkitkan dan membangun pelaku UMKM yang ada di Bali. Saat UMKM dibangun hal yang paling utama adalah bidang pemasaran. Di sinilah Draiv Bali dengan berbagai fitur pelayanannya bisa menjadi sebuah solusi, sehingga akan memudahkan anggotanya di dalam memasarkan produk dari UMKM itu,” tutup Suarsa. (eka/bi)
Infografis inflasi Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Juli 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,71% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Mei sebesar 0,42% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh permintaan barang/jasa akibat perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) non subsidi.
Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,99% (yoy) pada Mei 2026 menjadi 3,27% (yoy), masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% serta berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,92% (mtm) atau 3,43% (yoy).
Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,75% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,46% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,80% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Buleleng yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,46% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,26% (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Juni 2026 bersumber dari kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, wortel, dan buncis. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, angkutan udara, dan telur ayam ras. “Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%,” ujarnya.
Ke depan, kata Achris Sarwani, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino moderat yang memengaruhi produksi pertanian, serta potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.
Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkahlangkah implementasinya diantaranya melalui intensifikasi operasi pasar murah, pemantauan harga secara berkala, monitoring serta sidak distribusi LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada di level optimis sebesar 121,9 (nilai indeks > 100). Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya (124,09), IKK Bali masih lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 120,9. Optimisme konsumen pada Mei 2026 didorong oleh peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp 6-7 juta sebesar 21% (mtm), Rp 5-6 juta sebesar 11% (mtm), Rp 2-3 juta sebesar 9% (mtm), dan Rp 3-4 juta sebesar 8% (mtm). Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor informal (124,7) dan sektor formal (119,3), sebagaimana hasil Survei Konsumen Bank Indonesia.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa perlambatan IKK dibandingkan bulan sebelumnya terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 120,7 pada April 2026 menjadi 117,5 pada Mei 2026 atau menurun sebesar 2,7% (mtm).
Penurunan IKE bersumber dari seluruh komponen utama, yaitu konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (105,0), ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (125,0), serta penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (122,5).
Sementara, kata Achris Sarwani, komponen kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu relatif stabil pada level 100,0. Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan menjadi 126,3 atau turun 0,9% (mtm) dibandingkan IEK April 2026. Penurunan terutama terjadi pada komponen prakiraan penghasilan (125,5) dan kegiatan usaha (127,5).
Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang masih menunjukkan peningkatan sebesar 0,8% (mtm) atau menjadi 126,0. “Penurunan IKK pada periode awal hingga pertengahan Mei 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan domestik, antara lain meningkatnya kekhawatiran kenaikan harga pangan global dan perlambatan kunjungan wisatawan, akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah,“ ujar Achris Sarwani.
Selain itu, inflasi Provinsi Bali pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,42% (mtm) dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas seperti beras, cabai rawit, cabai merah yang memengaruhi persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Sebagai respons, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar, pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)
Infografis indeks penjualaan riil. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada April 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 125,3 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,8% (mtm), terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada kategori suku cadang dan aksesori sebesar 5,0% (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor 2,2% (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,8% (mtm). Peningkatan tersebut sejalan dengan menguatnya aktivitas mobilitas masyarakat pada periode libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung serta meningkatnya aktivitas ekonomi daerah seiring dengan rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Momentum tersebut turut mendorong permintaan pada sejumlah kelompok barang, khususnya yang berkaitan dengan mobilitas, rekreasi, dan aktivitas konsumsi masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani melalui siaran pers mengatakan bahwa kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan tetap kuat. IPR Mei 2026 diprakirakan sebesar 126,0, atau meningkat 0,6% (mtm) ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau. Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat di tengah periode HBKN Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, lanjut Achris Sarwani bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026 dan Oktober 2026, diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 dan Oktober 2026 sebesar 200, meningkat signifikan dibandingkan IEH pada Juni 2026 dan September 2026 sebesar 192,0. “Peningkatan ekspektasi harga tersebut perlu terus dicermati ditengah tekanan inflasi tahunan yang masih terkendali,” ujar Achris Sarwani.
Pada Mei 2026, katanya, inflasi Bali tercatat sebesar 2,99% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga April 2026 tercatatat tumbuh sebesar 1,99% (yoy).
Optimisme penjualan ritel ke depan juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP tiga bulan mendatang yaitu Juli 2026 sebesar 172,0, meningkat dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0.
Sementara itu, sebut Achris Sarwani bahwa IEP enam bulan mendatang, yaitu Oktober 2026 tercatat sebesar 190,0, lebih tinggi dibandingkan IEP September 2026 sebesar 184,0. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100) yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek penjualan ritel Bali tetap terjaga.
Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth).
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapa inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)