Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gelung Agung dan Tetangunan Anyar Pura Agung Jagatnatha Dipelaspas

Pentaskan 1.007 Penari Rejang Sutri Witala, Diharapkan Jadi Ikon Arsitektur Gaya Bebadungan Khas Kota Denpasar

Loading

BALIILU Tayang

:

Karya Melapas Gelung Agung dan Tetangunan Pura Jagatnatha Denpasar
KARYA MELASPAS: Pelaksanaan Karya Melaspas Gelung Agung dan Tetangunan Anyar Renovasi Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar bertepatan dengan Wraspati Kliwon Wuku Menail, Kamis (26/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Sebanyak 1.007 Penari Rejang Sutri Witala turut dipentaskan serangkaian Karya Melapas Gelung Agung dan Tetangunan Anyar Renovasi Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar bertepatan dengan Wraspati Kliwon Wuku Menail, Kamis (26/10). Upacara pemelaspasan tersebut dilaksanakan setelah pengerjaan renovasi fisik tembok penyengker, kori agung dan beberapa bangunan tuntas dilaksanakan.

Diiringi dengan suara kidung dan Gambelan Gong Gede, rangkaian upacara diawali dengan Pementasan Tari Rejang Sutri Witala, Rejang Sari, Rejang Renteng dan Rejang Dewa. Turut dipentaskan juga Tari Baris Gede yang dibawakan oleh Anggota DPRD Kota Denpasar bersama Forum Perbekel Lurah se-Kota Denpasar, Topeng Wali dan Topeng Sidakarya.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Kota Denasar, I Gusti Ngurah Gede, dan Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana turut mendem pedagingan. Tampak hadir pula Panglingsir Puri se-Kota Denpasar, Forkopimda Kota Denpasar, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, Bandesa Madya MDA Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, Pimpinan OPD serta masyarakat. Tampak pula Walikota Denpasar Priode Tahun 2008-2021, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra.

Seluruh rangkaian Karya Melapas Gelung Agung dan Tetangunan Anyar Renovasi Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipuput Tri Sadhaka yakni Ida Pedanda Putra Telaga, Griya Gulingan Sanur, Ida Pedanda Gede Made Kerti, Griya Budha Saraswati, Taman Sari Batuan Sukawati, dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kerta Bhuana, Griya Batur Sari Murti Denpasar. Setelah karya melaspas, rangkaian upacara akan dilanjutkan dengan Karya Pujawali Padudusan Alit bertepatan dengan Purnama Kalima, Redite Pon Prangbakat, 29 Oktober mendatang.

Baca Juga  Efektifkan Pengelolaan Sampah, Kelurahan Panjer Sinergikan Bank Sampah dan TPS-3R

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara didampingi Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menjelaskan, pelaksanaan Karya Melapas Gelung Agung dan Tetangunan Anyar Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar dilaksanakan lantaran pengerjaan fisik telah selesai dikerjakan. Dimana, setelah upacara melaspas, rangkaian akan dilanjutkan dengan Pujawali pada 29 Oktober mendatang.

“Upacara ini dilaksanakan setelah pengerjaan fisik selesai, dan setelahnya akan dilaksanakan Pujawali pada Purnama Kalima, 29 Oktober ini,” jelasnya.

Sementara itu, Kadis Perkim Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmdja mengatakan, renovasi Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar dilaksanakan untuk memperbaiki beberapa bangunan yang mengalami kerusakan. Selain itu, dengan konsep bangunan yang menggunakan gaya Bebadungan ini diharapkan dapat menjadi ikon baru Kota Denpasar.

“Harapan kami tentu Pura Agung Jagatnatha dengan sejarahnya dapat menjadi ikon baru di Kota Denpasar, terlebih juga ikon bangunan atau tempat suci dengan ciri khas style Bebadungan dengan bata merah sebagai gaya arsitektur Kota Denpasar,” ujar Cipta Sudewa. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

BUDAYA

Bupati dan Wabup Badung Hadiri “Karya Melaspas” di Pura Dalem Suargan Bongkasa

Published

on

By

karya pura dalem suargan
HADIRI UPACARA NGERATEP: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Wabup Bagus Alit Sucipta menghadiri Upacara “Ngeratep“ dan “Melaspas“ Ida Betara di Pura Dalem Suargan, Banjar Kedewatan, Desa Bongkasa, Kamis (28/5). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menghadiri Upacara Ngeratep dan Melaspas Ida Betara di Pura Dalem Suargan, Banjar Kedewatan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kamis (28/5).

Turut mendampingi Bupati, Ketua TP PKK Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Ketua WHDI Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta, Plt. Camat Abiansemal I Wayan Bagiarta Gunawan, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya, Bendesa Adat Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta, Angga Puri Bongkasa, serta tokoh masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan prosesi Ngeratep Tapakan Ida Bhatara. Pada kesempatan tersebut, Bupati Adi Arnawa bersama Wabup Alit Sucipta juga menyerahkan bantuan hibah secara simbolis sebesar Rp 700 juta yang disaksikan krama Banjar Kedewatan.

Dalam sambutannya, Bupati mengapresiasi semangat gotong-royong masyarakat Banjar Kedewatan yang mampu melaksanakan karya pemelaspasan secara bersama-sama dengan penuh rasa kekeluargaan. “Semoga atas asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karya yang dilaksanakan ini dapat berjalan dengan labda karya sida sidaning don sesuai harapan krama masyarakat,” ujar Adi Arnawa.

Ia juga berharap masyarakat terus mendukung program pembangunan berkelanjutan yang menjadi visi dan misi Pemerintah Kabupaten Badung.

Sementara itu, Manggala Karya I Putu Jana mewakili masyarakat Banjar Kedewatan menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Badung melalui bantuan hibah yang diberikan.

“Kami bersama masyarakat berkomitmen mendukung visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Badung dalam pembangunan di Kabupaten Badung,” katanya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Tindaklanjuti Laporan Kasus Demam Berdarah, Puskesmas II Densel Lakukan Fogging
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Tawur” di Pura Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Sumerta

Published

on

By

walikota jaya negara
KARYA TAWUR: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan menghadiri rangkaian Karya Tawur dan melaksanakan penandatanganan prasasti pada Kamis (28/5) di Pura Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Karya Tawur dalam rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung dan Tawur Balik Sumpah Utama di Pura Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur, Kamis (28/5).

Suasana khidmat dan penuh kebersamaan tampak mewarnai jalannya karya tawur tersebut. Krama adat bergotong-royong mengikuti setiap rangkaian upacara sebagai wujud sradha bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, serta tokoh masyarakat setempat.

Upacara dipuput sejumlah sulinggih, yakni Ida Pandita Empu Padma Ananda Griya Sumerta, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Tembau Griya Batur Tembau, Ida Pandita Empu Siwa Ananda Griya Kroya, Ida Rsi BW Putra Sara Shri Satya Joti Griya Buana Santhi Sesetan, Ida Pedanda Putra Bajing Griva Tegal Jingga, Ida Rsi Agung Wayabya Karang Griya Buda Buduk, Ida Rsi BW Kertha Bhuana Griya Glogor, Ida Pedanda Gede Made Putraka Timbul Griya Timbul Kesiman, serta Ida Pedanda Gede Putra Keniten Griya Tainsiat.

Rangkaian karya juga dimeriahkan dengan sajian Gong Lelambatan dan Gambelan Wali, Wayang, serta pementasan Baris Gede oleh Paiketan Jero Bendesa Adat Kota Denpasar yang semakin menambah kekhidmatan suasana upacara. Di sela kegiatan, Walikota Jaya Negara juga tampak ngayah menarikan Topeng Wali bersama krama adat setempat dan diakhiri dengan penandatanganan prasasti serta penyerahan punia.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara mengapresiasi semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Sumerta dalam menjaga serta melestarikan adat, tradisi, dan budaya Bali. Menurutnya, pelaksanaan karya yadnya tidak hanya menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti umat, namun juga memperkuat nilai menyama braya di tengah masyarakat.

Baca Juga  Pengurus KONI Denpasar Masa Bakti 2025-2029 Dikukuhkan

“Pelaksanaan karya seperti ini merupakan wujud nyata pelestarian adat, tradisi dan budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun. Semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat tentu menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Sumerta, I Made Ariawan Payuse menjelaskan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 16 April 2026 yang diawali dengan prosesi nyukat genah dan berbagai tahapan upacara lainnya. Sebelum puncak karya, pihaknya juga telah melaksanakan prosesi melasti sebagai bagian dari penyucian sarana dan prasarana upacara.

Ia mengatakan, puncak karya akan dilaksanakan pada 31 Mei 2026 yang bertepatan dengan Purnama Sadha. Adapun upacara tersebut merupakan Karya Utama Mamungkah, Ngenteg Linggih, dan Tawur Agung Balik Sumpah Utama.

“Upacara Mamungkah dan Ngenteg Linggih di pura ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan setelah puluhan tahun, bahkan sebelumnya belum pernah dilaksanakan sama sekali. Tentu ini menjadi tonggak sejarah penting bagi Desa Adat Sumerta,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, skala upacara tergolong besar atau tingkatan utama, setara dengan pelaksanaan karya di Pura Dalem maupun pura-pura Kahyangan Desa lainnya. Pelaksanaan karya juga melibatkan kerja sama erat antara wilayah Sumerta, Tanjung Bungkak dan Pagan.

Menurutnya, secara historis wilayah Sumerta Gede dahulu mencakup sekitar 21 Banjar Adat. Karena itu, dalam pelaksanaan karya besar seperti ini, semangat saling membantu antarkrama adat tetap dijaga dan diwariskan hingga kini.

“Dalam pelaksanaan upacara ini kami dibantu penuh oleh warga Tanjung Bungkak dan Pagan, termasuk melibatkan seluruh pemangku di Pura Kahyangan Desa setempat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian upakara,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan sastra dan tradisi yang diwariskan, upacara besar seperti Ngenteg Linggih idealnya dilaksanakan setiap 30 tahun sekali. Namun karena upacara ini baru pertama kali dilaksanakan di pura tersebut, pihak desa adat belum dapat memastikan kapan pelaksanaan serupa akan kembali digelar.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Buka Porsenijar 2025

Pada kesempatan itu, pihaknya juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Walikota Denpasar beserta jajaran Pemerintah Kota Denpasar yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” di Pura Dalem Pengaotan, Rangkaian Karya Pedudusan Agung Desa Adat Bekul

Published

on

By

walikota jaya negara
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat “ngayah nyangging” dalam rangkaian Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur Kamis (28/5). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut ngayah nyangging dalam rangkaian Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Kamis (28/5).

Kehadiran Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama krama adat menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelestarian adat, budaya, dan tradisi spiritual masyarakat Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara tampak membaur bersama masyarakat melaksanakan prosesi nyangging sebagai bagian dari semangat ngayah dan gotong-royong dalam menyukseskan yadnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan meninjau pelinggih yang ada di Pura Dalem Pengaotan

Walikota Jaya Negara mengatakan bahwa pelaksanaan karya besar seperti Pedudusan Agung bukan hanya sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun juga menjadi momentum mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat adat.

Karya seperti ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga bersama. Semangat ngayah yang ditunjukkan krama adat menjadi kekuatan utama dalam menjaga adat, budaya, dan nilai kebersamaan masyarakat Bali. Pemerintah Kota Denpasar tentu memberikan dukungan agar tradisi dan kearifan lokal tetap lestari,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Bendesa Adat Bekul, Made Yuliarta mengatakan, karya tersebut merupakan rangkaian dari Upacara Memungkah Ngenteg Linggih Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung yang turut melengkapi pelaksanaan Panca Yadnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya Upacara Pitra Yadnya telah dilaksanakan sekitar 10 hari lalu. Sedangkan pada Kamis (28/5) ini digelar Upacara Manusa Yadnya berupa metatah dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang serta Upacara Menek Kelih yang diikuti 8 peserta, sehingga total keseluruhan mencapai 68 orang.

Baca Juga  Distan Denpasar Antisipasi Resiko Penyakit Hewan Menular Strategis

“Selain itu juga dilaksanakan Sri Yadnya berupa pewintenan Jro Mangku dan Sri Pujangga. Saat panyineban karya nantinya akan dilaksanakan Pedudusan Agung, Tawur Balik Sumpah Agung Merawa Ratna,” ujarnya.

Tidak hanya itu, rangkaian karya juga melaksanakan upacara pekelem di Ulun Danu Batur dan Puncak Gunung Agung sebagai bagian dari rentetan upacara yadnya.

Made Yuliarta menambahkan, Pura Dalem Pengaotan diempon oleh sekitar 250 kepala keluarga dari empat banjar, yakni Banjar Gunung, Banjar Buaji, Banjar Bekul sebagai banjar pengarep atau inti, serta Banjar Pala Giri sebagai banjar pendatang.

Menurutnya, Pedudusan Agung merupakan karya besar yang wajib dilaksanakan secara turun-temurun oleh generasi masyarakat adat dalam rentang waktu sekitar 50 hingga 70 tahun sekali, disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan kemampuan pendanaan.

“Kalau karya rutin dilaksanakan setiap 15 tahun berupa Pedudusan Alit. Sedangkan Pedudusan Agung ini merupakan tingkatan karya yang lebih utama dan wajib dilaksanakan masyarakat apabila situasi dan kondisi sudah memungkinkan,” jelasnya.

Untuk pelaksanaan karya kali ini, pihak desa adat menganggarkan dana sekitar Rp 3,5 miliar yang bersumber dari swadaya masyarakat sebesar Rp 3,5 miliar serta dukungan bantuan Pemerintah Kota Denpasar. Anggaran tersebut juga digunakan untuk rangkaian karya di empat pura, termasuk pelaksanaan Pedudusan Alit di Pura Taman Beji dan Pura Puseh Desa.

Ia berharap, pelaksanaan karya tersebut mampu memberikan kerahayuan secara sekala dan niskala bagi masyarakat.

“Harapan kami tentunya masyarakat selalu mendapat lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diberikan kesehatan dan kerahayuan. Dari sisi sekala, yadnya ini juga menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong-royong, dan rasa kebersamaan seluruh krama adat,” pungkasnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca