Thursday, 18 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gubernur Koster Instruksikan Tidak Gelar Pengarakan Ogoh-Ogoh

BALIILU Tayang

:

de
GUBERNUR BALI WAYAN KOSTER: Instruksikan tidak gelar pengarakan ogoh-ogoh.

Denpasar, baliilu.com – Dalam upaya pencegahan penyebaran corona virus disease (Covid-19) yang semakin meningkat, Gubernur Bali Wayan Koster dalam Instruksi Gubernur Bali Nomor 267/01-B/HK/2020 tentang pelaksanaan rangkaian hari suci Nyepi tahun Saka 1942 di Bali, Gubernur Koster menginstruksikan tidak melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh, dalam bentuk apa pun dan di mana pun.

Terkait dengan rangkaian hari suci Nyepi ini, Gubernur Koster juga menginstruksikan upacara melasti/makiyis/malis, Tawur Kasanga, dan pangrupukan dilaksanakan dengan melibatkan para petugas pelaksana upacara dalam jumlah yang sangat terbatas. Paling banyak 25 (dua puluh lima) orang, hanya untuk pelaksana utama, yaitu pamangku, sarati, dan pembawa sarana utama.

Instruksi ini dikeluarkan, ungkap Gubernur, atas pertimbangan penyebaran Covid-19 di Indonesia yang semakin meningkat dan upaya-upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang harus ditingkatkan demi penyelamatan umat manusia.

Instruksi Gubernur ini juga memperhatikan Surat Edaran Bersama, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, dan Pemerintah Provinsi Bali, Nomor : 019/PHDI-Bali/11/2020; Nomor : 019/MDA-Prov Bali/1/2020; Nomor : 510/Kesn/ B.Pem.Kesra tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali.

Memperhatikan Surat Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat Nomor: 310/ PHDI Pusat/11/ 2020, perihal Pedoman Pelaksanaan Hari Suci Nyepi, tanggal 19 Maret 2020; Surat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Kepada Gubernur Bali Nomor: B-128/KA BNPB/ PD.01.01/03/2020 tanggal 20 Maret 2020, tentang hal penundaan kegiatan keagamaan; serta hasil rapat bersama Gubernur Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali pada Jumat, 20 Maret 2020.

Poin utama Instruksi Gubernur Bali ini, menginstruksikan kepada bupati/walikota se-Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia Se-Bali, majelis desa adat se-Bali, bandesa adat / kelihan desa adat se-Bali untuk upacara malasti/ makiyis/malis, Tawur Kasanga, dan pangrupukan dilaksanakan dengan melibatkan para petugas pelaksana upacara dalam jumlah yang sangat terbatas, paling banyak 25 (dua puluh lima) orang, hanya untuk pelaksana utama, yaitu pamangku, sarati, dan pembawa sarana utama.

Baca Juga  Setelah Gianyar, Gubernur Koster Bangun Kantor Majelis Desa Adat di Bumi Mekepung

Instruksi kedua tidak melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh, dalam bentuk apa pun dan di mana pun.

Dengan ditetapkan Instruksi ini, ketentuan angka 6 huruf b dalam Surat Edaran Bersama, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, dan Pemerintah Provinsi Bali, Nomor : 019/PHDI-Bali/III/ 2020; Nomor : 019/MDA- Prov Bali/III/2020; Nomor : 510/Kesra/ B.Pem.Kesra tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali, dinyatakan tidak berlaku.

Gubernur Koster meminta bupati/walikota se-Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia se-Bali, majelis desa adat se-Bali, bandesa adat / kelihan desa adat se-Bali agar melaksanakan, mengkoordinasikan, dan mengawasi pelaksanaan instruksi ini dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.

Instruksi Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan pada Jumat, 20 Maret 2020. (*/balu1)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Jaya Negara ‘’Ngayah Nyangging’’ Serangkaian ‘’Karya Atma Wedana’’ dan ‘’Mepandes Kinambulan’’ Desa Adat Sesetan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang berkesempatan ‘’ngayah nyangging’’ serangkaian ‘’Karya Atma Wedana’’ dan ‘’Mepandes Kinambulan’’ yang digelar untuk keenam kalinya oleh Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, bertempat di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kamis (18/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging serangkaian Karya Atma Wedana dan Mepandes Kinambulan yang digelar untuk keenam kalinya oleh Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, bertempat di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kamis (18/7).

Terlihat sejak pagi ratusan warga sudah tampak memadati areal bale peyadnyan untuk mengikuti prosesi upacara Metatah Kinambulan. Di mana dari prosesi upacara mepandes massal ini, dari 20 Sangging yang akan bertugas mengasah gigi para peserta tampak diantaranya, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang berkesempatan ngayah nyangging dan diakhiri dengan penyerahan punia kepada panitia.

Di sela-sela Karya Mepandes, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, bahwa ritual potong gigi (mepandes) yang merupakan salah satu ritual manusa yadnya yang wajib dilakukan.

“Dalam agama Hindu Mepandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujarnya.

Selebihnya dikatakan, menetralisir Sad Ripu yang meliputi, Kama (sifat penuh nafsu indriya), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan irihati), dan Moha (sifat kebingungan atau susah menentukan sesuatu).

Sementara Bendesa Adat Sesetan, Made Widra mengungkapkan, pihaknya di Desa Adat Sesetan telah memiliki program metatah massal. Program ini sejatinya sudah ada sejak lama yang dirancang setiap tiga tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan.

Baca Juga  Gubernur Koster: Bali Sangat Siap Menerima Kedatangan Wisatawan Mancanegara

Program ini bertujuan untuk membantu dan meringankan beban, sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Selain metatah massal dalam rangkaian upacara ini juga dilaksanakan kegiatan Atma Wedana yang diikuti sebanyak 141 sawa.

Mepandes massal kali ini diikuti 174 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 20 orang sangging, serta upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin kedepannya,” ungkapnya.

Disampaikan pula, ucapan terima kasih kepada Pemkot Denpasar terutama Bapak Walikota karena sudah hadir dan memberikan stimulan kepada karya ini, semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat kedepannya. (eka/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri ‘’Karya Mapedudusan’’ Pura Dalem Ularan Tatasan Kaja

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri ‘’Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung’’, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Rabu (17/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Rabu (17/7).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Denpasar, I Nyoman Sumardika, Camat Denpasar Utara, I Wayan Yusswara, Lurah Tonja, I Made Sunantra, dan tokoh masyarakat setempat.

Walikota Jaya Negara di sela-sela kesempatan tersebut menyampaikan, pelaksanaan Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja dapat memberikan penguatan kebersamaan sosial. Pelaksanaan upacara tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memelihara dan meneruskan warisan budaya Hindu yang kaya di Bali.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara juga mengharapkan, pelaksanaan Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja dapat memurnikan jiwa dan lingkungan fisik, sehingga menciptakan keseimbangan dan harmoni.

“Hal ini juga merupakan perayaan atas pencapaian atau momen penting dalam kehidupan individu atau komunitas, serta penghormatan terhadap leluhur,” ujar Jaya Negara.

Sementara Manggala Karya, I Nyoman Suparta menyampaikan, ucapan terima kasih kepada Walikota Denpasar dan seluruh jajaran Pemkot Denpasar yang telah hadir serta memberikan dukungan dalam pelaksanaan upacara ini.

Pelaksanaan puncak Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan bertepatan dengan Rainan Pagerwesi yang jatuh pada tanggal 17 Juli 2024. Puncak karya di-puput tiga sulinggih yang juga dilangsungkan dengan pementasan tari wali dan wayang lemah.

“Pelaksanaan karya telah berjalan baik, dengan Pengerajeg Karya, Ida Pedanda Anom Surya Puja, serta kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak Walikota Jaya Negara beserta jajaran, dan tokoh masyarakat setempat dalam memberikan dukungan dan restu pelaksanana upacara di Pura Dalem Ularan,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Di Tengah Pandemi, Ny. Putri Koster: Pemprov Bali Beri Ruang bagi Seniman untuk Berkreasi

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Tabanan Apresiasi Semangat Krama Panti Bendesa Manik Mas Desa Serampingan Dalam Membangun Yadnya

Published

on

By

sanjaya
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri Karya Mamungkah lan Mupuk Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih dan Wraspati Kalpa di Pura Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (17/7). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Beri dukungan langsung atas kekompakan karya yang digelar krama/masyarakat, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya Ngupasaksi Uleman Karya Mamungkah lan Mupuk Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih dan Wraspati Kalpa di Pura Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (17/7).

Upacara yang dipuput oleh Ida Peranda Gede Subali Sukawati Manuaba dari Griya Sukawati Selemadeg, juga dihadiri Anggota DPRD Tabanan, Edi Nugraha Giri, Sekda dan para OPD terkait di lingkungan Pemkab Tabanan, Perbekel Serampingan dan Tegalmengkeb, Bendesa dan tokoh masyarakat setempat.

Pelaksanaan upacara ini merupakan hasil gotong-royong dari masyarakat setempat, yakni dari dua desa, Serampingan dan Tegalmengkeb yang terdiri dari 70 Kepala Keluarga (KK) pengempon Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas Desa Serampingan. Tentunya orang nomor satu di Tabanan saat itu memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap terselenggaranya karya yang luar biasa ini. Baginya, kebersamaan yang dipupuk merupakan kunci penting dalam pembangunan Tabanan kedepannya, baik secara infrastruktur maupun karya yang bersifat niskala.

Sanjaya menegaskan, bahwa kebersamaan dan gotong-royong adalah kunci utama dalam pembangunan daerah. ‘’Kebersamaan yang dipupuk oleh masyarakat Desa Serampingan, yakni Pratisentana Bendesa Manik Mas dalam melaksanakan upacara ini adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai budaya dan tradisi dapat menjadi landasan yang kuat dalam pembangunan Tabanan. Tidak hanya dalam hal infrastruktur, tetapi juga dalam hal spiritual dan sosial,‘‘ ujarnya.

Karya Agung ini juga dapat dimaknai sebagai wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, prosesi yang dijalankan dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, harmonisasi antara pembangunan sekala dan niskala dapat tercapai, menciptakan kesejahteraan yang menyeluruh bagi masyarakat. Bupati Sanjaya juga sampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk terus mendukung pelestarian budaya dan tradisi lokal.

Baca Juga  Gubernur Koster: Bali Sangat Siap Menerima Kedatangan Wisatawan Mancanegara

Ia juga menekankan Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan dan budaya yang menjadi identitas masyarakat. ‘‘Saya sangat bangga dengan semangat gotong-royong yang ditunjukkan oleh krama/ masyarakat. Ini adalah contoh nyata dari kekuatan kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama,‘‘ tambah Sanjaya.

I Ketut Sandi, selaku Ketua Panitia Pelaksana Karya, mewakili seluruh krama, mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan dan partisipasi seluruh warga dan terutama atas perhatian yang terus ditunjukkan oleh Bupati Tabanan terhadap kramanya. ‘‘Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Bupati dan jajaran yang sudah hadir dan juga seluruh warga yang telah berkontribusi, baik berupa materi maupun tenaga. Tanpa kebersamaan dan kerja keras kita semua, upacara ini tidak akan terlaksana dengan baik,‘‘ pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca