Thursday, 18 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gianyar Sepakat Tak Gelar Pengarakan Ogoh-Ogoh Saat Pengerupukan

BALIILU Tayang

:

de
BUPATI MAHAYASTRA: Saat rapat tentang situasi kamtibmas dan rencana pengamanan hari suci Nyepi di Kabupaten Gianyar, di ruang serbaguna Polres Gianyar, Rabu (18/3-2020). (Foto:Ist)

Gianyar, baliilu.com – Menindaklanjuti Surat Edaran Bersama Gubernur Bali, No. 019/PHDI-Bali/III/2020, No.019/MDA-Prov Bali/III/2020 dan No. 510/Kesra/B.Pem.Kesra tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi tahun Saka 1942 di Bali, Bupati Gianyar Made Mahayastra menegaskan pengarakan ogoh-ogoh yang selalu identik dengan perayaan hari suci Nyepi, tahun ini pengarakan ditiadakan. Ogoh-ogoh yang telanjur dibuat atau sudah selesai dibuat tetap diupacarai dan dihadirkan di catus pata wilayah masing-masing.

“ Saya harap semua masyarakat dapat menaati ketentuan dalam surat edaran tersebut dan untuk pengarakan ogoh-ogoh tahun ini ditiadakan cukup diupacarai saja,” tegas Bupati Mahayastra usai rapat bersama Kapolres Gianyar AKBP I Dewa Made Adnyana,S.IK, M.H, Dandim 1616/Gianyar Letkol Inf Frandi Siboro, Danyon Zipur 18/YKR yang diwakili Lettu Czi Aryo tentang situasi kamtibmas dan rencana pengamanan hari suci Nyepi di Kabupaten Gianyar, di ruang serbaguna Polres Gianyar, Rabu (18/3-2020).

Dalam rapat yang dibuka Kapolres Gianyar AKBP I Dewa Made Adnyana,S.IK, M.H, selain membahas pelaksanaan hari suci Nyepi tahun Saka 1942 di Kabupaten Gianyar serta rencana pengamanan dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah hukum Polres Gianyar, juga membahas tentang pelaksanaan melasti, pengerupukan, arakan ogoh-ogoh terkait upaya pencegahan penyebaran virus corona di Bali.

Bupati Mahayastra menegaskan pelaksanaan tawur Kesanga saat ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam surat edaran bersama tersebut, masyarakat Bali diminta menaati dan melaksanakan arahan Presiden RI dan Gubernur Bali berkaitan dengan situasi penyebaran virus corona, khususnya di Pulau Dewata. Dalam surat edaran tersebut ditegaskan, khusus kepada umat Hindu di Bali kegiatan melasti, tawur Kesanga dan pelaksanaan hari suci Nyepi dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

Baca Juga  Tim A-Kidzue Unud Sukses Raih Prestasi

Bagi desa adat yang wewidangan-nya berdekatan dengan segara (laut), melasti dilaksanakan di pantai/segara. Kemudian bagi desa adat yang wewidangan-nya berdekatan dengan danu melasti dilaksanakan di danau, sedangkan bagi desa adat yang wewidangan-nya berdekatan dengan campuhan, melasti dilaksanakan di campuhan, dan bagi desa adat yang memiliki beji dan atau pura beji, melasti dilaksanakan di beji. Dan bagi desa adat yang tidak melaksanakan melasti dapat melasti dengan cara ngubeng atau ngayat dari pura setempat.

Pada surat edaran bersama itu juga diatur tentang himbauan tentang pembatasan jumlah peserta yang ikut dalam prosesi upacara, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus tetap diperhatikan, para pemangku agar menggunakan panyiratan yang sudah bersih untuk nyiratang tirta kepada krama. Selain itu juga dihimbau pada masyarakat agar tidak menganggu ketertiban umum, tidak mabuk-mabukan, memiliki pengurus atau koordinator yang bertanggung jawab kepada prajuru banjar adat atau sebutan lain di wewidangan banjar adat setempat. Bagi umat yang sakit atau merasa kurang sehat agar tidak mengikuti rangkaian upacara guna menghindari berbagai potensi penyebaran virus corona dan semua panitia dan peserta diharapkan agar mengikuti protap (prosedur tetap) dari instansi yang berwenang. 

Mahayastra juga menambahkan,  terkait dengan upaya pencegahan penyebaran virus corona, sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Bali agar membentuk Gugus Tugas Bersama, Bupati akan menggunakan dana tak terduga atau sisa dana proyek atau kas daerah yang nanti akan dimasukkan ke dalam APBD perubahan untuk mengatasi wabah virus corona.

Hadir juga  pada rapat tersebut, Sekda Kab. Gianyar Made Gede Wisnu Wijaya, Ida Pedanda Wayahan Bun Griya Sanur Pejeng, MMDP Kab. Gianyar, PHDI Kab. Gianyar dan pihak-pihak terkait. (*/dar)

Baca Juga  Custom War 2023 Dapat Dukungan dari Wagub Cok Ace

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Jaya Negara ‘’Ngayah Nyangging’’ Serangkaian ‘’Karya Atma Wedana’’ dan ‘’Mepandes Kinambulan’’ Desa Adat Sesetan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang berkesempatan ‘’ngayah nyangging’’ serangkaian ‘’Karya Atma Wedana’’ dan ‘’Mepandes Kinambulan’’ yang digelar untuk keenam kalinya oleh Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, bertempat di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kamis (18/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging serangkaian Karya Atma Wedana dan Mepandes Kinambulan yang digelar untuk keenam kalinya oleh Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, bertempat di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kamis (18/7).

Terlihat sejak pagi ratusan warga sudah tampak memadati areal bale peyadnyan untuk mengikuti prosesi upacara Metatah Kinambulan. Di mana dari prosesi upacara mepandes massal ini, dari 20 Sangging yang akan bertugas mengasah gigi para peserta tampak diantaranya, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang berkesempatan ngayah nyangging dan diakhiri dengan penyerahan punia kepada panitia.

Di sela-sela Karya Mepandes, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, bahwa ritual potong gigi (mepandes) yang merupakan salah satu ritual manusa yadnya yang wajib dilakukan.

“Dalam agama Hindu Mepandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujarnya.

Selebihnya dikatakan, menetralisir Sad Ripu yang meliputi, Kama (sifat penuh nafsu indriya), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan irihati), dan Moha (sifat kebingungan atau susah menentukan sesuatu).

Sementara Bendesa Adat Sesetan, Made Widra mengungkapkan, pihaknya di Desa Adat Sesetan telah memiliki program metatah massal. Program ini sejatinya sudah ada sejak lama yang dirancang setiap tiga tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan.

Baca Juga  Komisaris BRI Soni Keraf, Puji Ekonomi Kerakyatan dengan Semangat Gotong Royong di Bali

Program ini bertujuan untuk membantu dan meringankan beban, sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Selain metatah massal dalam rangkaian upacara ini juga dilaksanakan kegiatan Atma Wedana yang diikuti sebanyak 141 sawa.

Mepandes massal kali ini diikuti 174 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 20 orang sangging, serta upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin kedepannya,” ungkapnya.

Disampaikan pula, ucapan terima kasih kepada Pemkot Denpasar terutama Bapak Walikota karena sudah hadir dan memberikan stimulan kepada karya ini, semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat kedepannya. (eka/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri ‘’Karya Mapedudusan’’ Pura Dalem Ularan Tatasan Kaja

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri ‘’Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung’’, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Rabu (17/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Rabu (17/7).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Denpasar, I Nyoman Sumardika, Camat Denpasar Utara, I Wayan Yusswara, Lurah Tonja, I Made Sunantra, dan tokoh masyarakat setempat.

Walikota Jaya Negara di sela-sela kesempatan tersebut menyampaikan, pelaksanaan Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja dapat memberikan penguatan kebersamaan sosial. Pelaksanaan upacara tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memelihara dan meneruskan warisan budaya Hindu yang kaya di Bali.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara juga mengharapkan, pelaksanaan Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja dapat memurnikan jiwa dan lingkungan fisik, sehingga menciptakan keseimbangan dan harmoni.

“Hal ini juga merupakan perayaan atas pencapaian atau momen penting dalam kehidupan individu atau komunitas, serta penghormatan terhadap leluhur,” ujar Jaya Negara.

Sementara Manggala Karya, I Nyoman Suparta menyampaikan, ucapan terima kasih kepada Walikota Denpasar dan seluruh jajaran Pemkot Denpasar yang telah hadir serta memberikan dukungan dalam pelaksanaan upacara ini.

Pelaksanaan puncak Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan bertepatan dengan Rainan Pagerwesi yang jatuh pada tanggal 17 Juli 2024. Puncak karya di-puput tiga sulinggih yang juga dilangsungkan dengan pementasan tari wali dan wayang lemah.

“Pelaksanaan karya telah berjalan baik, dengan Pengerajeg Karya, Ida Pedanda Anom Surya Puja, serta kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak Walikota Jaya Negara beserta jajaran, dan tokoh masyarakat setempat dalam memberikan dukungan dan restu pelaksanana upacara di Pura Dalem Ularan,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Habis Berbenah, 15 Juni Ini Toya Devasya Natural Hot Spring Resmi Dibuka

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Tabanan Apresiasi Semangat Krama Panti Bendesa Manik Mas Desa Serampingan Dalam Membangun Yadnya

Published

on

By

sanjaya
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri Karya Mamungkah lan Mupuk Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih dan Wraspati Kalpa di Pura Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (17/7). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Beri dukungan langsung atas kekompakan karya yang digelar krama/masyarakat, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya Ngupasaksi Uleman Karya Mamungkah lan Mupuk Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih dan Wraspati Kalpa di Pura Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (17/7).

Upacara yang dipuput oleh Ida Peranda Gede Subali Sukawati Manuaba dari Griya Sukawati Selemadeg, juga dihadiri Anggota DPRD Tabanan, Edi Nugraha Giri, Sekda dan para OPD terkait di lingkungan Pemkab Tabanan, Perbekel Serampingan dan Tegalmengkeb, Bendesa dan tokoh masyarakat setempat.

Pelaksanaan upacara ini merupakan hasil gotong-royong dari masyarakat setempat, yakni dari dua desa, Serampingan dan Tegalmengkeb yang terdiri dari 70 Kepala Keluarga (KK) pengempon Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas Desa Serampingan. Tentunya orang nomor satu di Tabanan saat itu memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap terselenggaranya karya yang luar biasa ini. Baginya, kebersamaan yang dipupuk merupakan kunci penting dalam pembangunan Tabanan kedepannya, baik secara infrastruktur maupun karya yang bersifat niskala.

Sanjaya menegaskan, bahwa kebersamaan dan gotong-royong adalah kunci utama dalam pembangunan daerah. ‘’Kebersamaan yang dipupuk oleh masyarakat Desa Serampingan, yakni Pratisentana Bendesa Manik Mas dalam melaksanakan upacara ini adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai budaya dan tradisi dapat menjadi landasan yang kuat dalam pembangunan Tabanan. Tidak hanya dalam hal infrastruktur, tetapi juga dalam hal spiritual dan sosial,‘‘ ujarnya.

Karya Agung ini juga dapat dimaknai sebagai wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, prosesi yang dijalankan dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, harmonisasi antara pembangunan sekala dan niskala dapat tercapai, menciptakan kesejahteraan yang menyeluruh bagi masyarakat. Bupati Sanjaya juga sampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk terus mendukung pelestarian budaya dan tradisi lokal.

Baca Juga  Kasus Pencemaran Nama Baik di Facebook, Korban Pertanyakan Keterangan Saksi Ahli

Ia juga menekankan Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan dan budaya yang menjadi identitas masyarakat. ‘‘Saya sangat bangga dengan semangat gotong-royong yang ditunjukkan oleh krama/ masyarakat. Ini adalah contoh nyata dari kekuatan kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama,‘‘ tambah Sanjaya.

I Ketut Sandi, selaku Ketua Panitia Pelaksana Karya, mewakili seluruh krama, mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan dan partisipasi seluruh warga dan terutama atas perhatian yang terus ditunjukkan oleh Bupati Tabanan terhadap kramanya. ‘‘Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Bupati dan jajaran yang sudah hadir dan juga seluruh warga yang telah berkontribusi, baik berupa materi maupun tenaga. Tanpa kebersamaan dan kerja keras kita semua, upacara ini tidak akan terlaksana dengan baik,‘‘ pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca