Klungkung, baliilu.com – Terkait wabah pandemik corona virus disease (Covid-19) yang penyebarannya semakin meningkat, prajuru Desa Adat Lepang Klungkung bersama, jro mangkudesa, prajuru dinas, kerthadesa, sabhadesa, ketua pecalang, sekaa yowana, Sabtu (21/3-2020) malam menggelar rapat terbatas di balai banjar adat dalam rangka perayaan hari suci Nyepi tahun Saka 1942. Dari berbagai pertimbangan dan juga masukan peserta yang hadir, prajuru Desa Adat Lepang memutuskan melasti dilaksanakan dengan jalan ngubeng, tidak ada pengarakan ogoh-ogoh, upacara tawur Kesanga hanya dilakukan oleh petugas terbatas serta persembahyangan dilaksanakan dengan cara ngayeng dari rumah masing-masing.
Bendesa Adat Lepang I
Made Merta menandaskan pengambilan keputusan yang dihadiri seluruh perangkat adat
baik prajuru dinas, jro mangku desa, kertha desa, sabha desa, pecalang
dan sekaa yowana berdasarkan atas pertimbangan
wabah pandemik Covid-19 di Indonesia yang penyebarannya semakin meningkat dan upaya
bersama pencegahan penyebaran Covid-19 yang harus semakin ditingkatkan demi penyelamatan
umat manusia.
RAPAT: Dihadiri perangkat desa adat, baik pemangku desa, kertha desa, sabha desa, prajuru dinas, pecalang dan sekaa yowana.
Made Merta menegaskan keputusan rapat juga memperhatikan Instruksi Gubernur Bali nomor 267/01-B/HK/2020 yang menginstruksikan kepada bupati/walikota se-Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia Se-Bali, majelis desa adat se-Bali, bandesa adat / kelihan desa adat se-Bali untuk upacara malasti/ makiyis/malis, Tawur Kasanga, dan pangrupukan dilaksanakan dengan melibatkan para petugas pelaksana upacara dalam jumlah yang sangat terbatas, paling banyak 25 (dua puluh lima) orang, hanya untuk pelaksana utama, yaitu pamangku, sarati, dan pembawa sarana utama. Instruksi kedua tidak melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh, dalam bentuk apa pun dan di mana pun.
Juga memperhatikan Surat Edaran Bersama, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Majelis
Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, dan Pemerintah Provinsi Bali, Nomor : 019/PHDI-Bali/11/2020;
Nomor : 019/MDA-Prov Bali/1/2020; Nomor : 510/Kesn/ B.Pem.Kesra tentang
Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali. Serta Surat Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana Kepada Gubernur Bali Nomor: B-128/KA BNPB/ PD.01.01/03/2020 tanggal 20 Maret 2020.
Berdasarkan dari
pertimbangan dalam upaya pencegahan dan juga memperhatikan Instruksi Gubernur, prajuru Desa Adat Lepang memutuskan upacara
melasti dilaksanakan dengan jalan ngubeng. Hanya nunas tirta ke segara dan
dilaksanakan oleh prajuru, pemangku
dan serati yang bersifat terbatas.
Dikatakan upacara tawur Kesanga tahun Saka 1942 tetap
dilaksanakan. Ida Sesuhunankaturan sesuai yang sudah berjalan,
tetapi pelaksana yang terlibat sangat terbatas. Sebagai pelaksana ditetapkan prajuru, pemangku desa, kertha desa, sabha
desa dan pecalang. Krama yang tidak mendapat tugas, agar melaksanakan
persembahyangan dengan jalan ngayeng
dari rumah masing-masing. Diputuskan juga tidak mengadakan pengarakan ogoh-ogoh
dalam bentuk apa pun dan di mana pun.
DUDUK BERSAMA: Cari solusi terbaik demi kebaikan bersama.
Selain itu, pada tanggal 24 Maret 2020 sore, bertepatan akan digelar pangerupukan, diadakan penyemprotan desinfektan massal di tempat-tempat umum, pura-pura, di rumah-rumah yang dibantu sekaa yowana dan warga setempat. Pada saat pelaksanaan upacara, desa adat menyediakan sanitizer yang sewaktu-waktu bisa digunakan, juga diharapkan yang terlibat upacara agar menggunakan masker. ‘’Kami mengambil keputusan ini berdasarkan berbagai pertimbangan demi keselamatan kita bersama tanpa mengurangi makna upacara. Karena itu, kami juga memohon agar krama meningkatkan kewaspadaan, mengurangi aktifitas di luar rumah dan ngiring malarapan ngerastiti bakti ring jero suwang-suwang prasida kabrebehan jagate puniki mewali becik,’’ imbau Made Merta.
Ketua kertha desa I Nyoman Mudita menambahkan Covid-19 yang mewabah di berbagai belahan dunia, termasuk Bali, sudah saatnya
rantai sebarannya diputus dengan mengurangiatau
menjaga jarak melalui tidak mengumpulkan orang dalam
jumlah banyak. “Karena itu, mari keputusan yang sudah
diambil ini kita dukung bersama dalam upaya penanggulangan sebaran Covid-19 ini,” imbau Nyoman Mudita yang juga Perbekel Desa
Takmung. (GS)
PERSEMBAHYANGAN: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri persembahyangan bersama memperingati Rahina Tumpek Wayang di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Sabtu (14/3) pagi. (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Pemkot Denpasar menggelar persembahyangan bersama memperingati Rahina Tumpek Wayang di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Sabtu (14/3) pagi. Persembahyangan bersama tersebut dihadiri langsung Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, jajaran Forkopimda, OPD di lingkungan Pemkot Denpasar, undangan lain serta masyarakat yang ikut membaur didalamnya.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan bahwa secara filosofis Tumpek Wayang merupakan hari suci pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa yang memberi pencerahan kehidupan di dunia, menerangi kegelapan serta membangkitkan daya kesenian dan keindahan dalam setiap ciptaan-NYA.
Ditambahkan Walikota Jaya Negara, dalam ritualnya pada Rahina Tumpek Wayang, umat Hindu mengupacarai berbagai jenis kesenian dan benda kesenian seperti Wayang, Barong, Rangda, Topeng, segala jenis gamelan dan lain sebagainya.
“Ritual ini juga sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu. Sang Hyang Taksu ini sendiri disimbolkan dengan kesenian Wayang Kulit. Karena dalam kesenian Wayang Kulit ini semua eksistensi dan esensi kesenian sudah terkandung didalamnya,” ujar Jaya Negara.
Sementara Kabag Kesra Setda Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara ditemui usai kegiatan menjelaskan persembahyangan bersama memperingati Rahina Tumpek Wayang oleh Pemkot Denpasar ini dipuput oleh Ida Pedanda Made Taman Dwija Putra Grya Pahang Penatih.
“Prosesi diawali dengan sesolahanWayang Lemah dan diiringi suara Kekidungan Suci. Semoga kegiatan ini dapat memberikan energi positif bagi kita semua, sebagai penanda untuk senantiasa mulat sarira atau introspeksi diri untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya,” ujarnya. (eka/bi)
WAYANG SAPUH LEGER: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri pelaksanaan “Karya Penglukatan Wayang Sapuh Leger Astapungku“ yang digelar di Pura Kahyangan Badung, Desa Adat Denpasar yang bertepatan dengan rahina Tumpek Wayang pada Sabtu (14/3). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri pelaksanaan Karya Penglukatan Wayang Sapuh Leger Astapungku yang digelar di Pura Kahyangan Badung, Desa Adat Denpasar yang bertepatan dengan rahina Tumpek Wayang pada Sabtu (14/3).
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Camat Denpasar Barat, I Wayan Yusswara, Bendesa Desa Adat Denpasar, A.A. Ngurah Alit Wirakesuma, Penglingsir Puri Agung Pemecutan, Penglingsir Puri Agung Denpasar, tokoh masyarakat setempat, serta pengempon dan Krama Pura Kahyangan Badung, Desa Adat Denpasar.
Kegiatan sakral ini dilaksanakan oleh krama Desa Adat Denpasar sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan sekala dan niskala serta melestarikan tradisi leluhur Bali.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama Desa Adat Denpasar yang telah melaksanakan karya dengan penuh gotong-royong dan rasa bhakti.
Menurutnya, pelaksanaan upacara Penglukatan Wayang Sapuh Leger ini memiliki makna penting sebagai sarana penyucian diri sekaligus menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat Bali.
“Kegiatan ini bukan hanya bentuk sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian tradisi, budaya, dan kearifan lokal yang harus terus dijaga oleh generasi mendatang,” ujarnya.
Pemerintah Kota Denpasar, lanjut Arya Wibawa akan terus mendukung kegiatan adat dan keagamaan yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Bali, khususnya di Kota Denpasar.
Sementara Ketua Panitia, Gede Agus Kurniawan mengatakan Upacara Penglukatan Wayang Sapuh Leger sendiri merupakan ritual penyucian yang dalam tradisi Hindu Bali diyakini dapat menetralisir pengaruh buruk bagi seseorang yang lahir pada wuku tertentu atau yang secara spiritual memerlukan prosesi penyucian melalui pertunjukan wayang sakral.
Pelaksanaan karya berlangsung khidmat dengan diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari krama Desa Adat Denpasar yang turut serta dalam rangkaian persembahyangan dan prosesi penglukatan. Suasana kebersamaan dan kekompakan masyarakat terlihat jelas dalam setiap tahapan upacara.
“Hari ini ada 500 peserta yang merupakan Krama Desa Adat Denpasar, yang ikut acara ini,” ungkapnya.
Melalui pelaksanaan karya ini diharapkan masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, keharmonisan, serta keseimbangan kehidupan, baik secara sekala maupun niskala. (eka/bi)
NGINGSAH: Wakil Walikota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri dan melaksanakan prosesi “ngingsah” serangkaian “Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa Agung” Pura Desa Lan Bale Agung, Desa Adat Penyaringan Sanur, Minggu (8/3). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri dan melaksanakan prosesi ngingsah serangkaian Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa Agung Pura Desa lan Bale Agung, Desa Adat Penyaringan Sanur, Minggu (8/3).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar, Wayan Mariana Wandira, OPD terkait serta Bendesa dan tokoh adat setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Arya Wibawa memberikan apresiasi atas antusiasme dan kekompakan krama Desa Adat Penyaringan dalam melaksanakan karya agung ini. Menurutnya, karya tersebut merupakan wujud sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran Hindu.
“Karya ini tidak hanya sebagai bentuk persembahan suci, tetapi juga sebagai upaya memohon anugerah dan tuntunan agar diberikan keselamatan, kesejahteraan, serta kerahayuan jagat, khususnya bagi Desa Adat Penyaringan Sanur,” ujar Arya Wibawa.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pelaksanaan karya ini juga sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Sementara itu, Bendesa Adat Penyaringan, I Wayan Sudiartha menyampaikan terima kasih atas bantuan hibah dari Pemerintah Kota Denpasar.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat untuk mendukung jalannya upacara, terlebih karya ini dilaksanakan setelah rampungnya berbagai palinggih dan bale yang ada di pura,” ujarnya.
Pihaknya mengatakan selain bantuan dana dari Pemerintah Kota Denpasar, pembiayaan karya juga bersumber dari swadaya masyarakat serta dukungan berbagai elemen dan tokoh sebagai wujud bhakti umat.
Karya telah dimulai sejak 17 Februari lalu dengan rangkaian matur piuning, pada hari ini dilaksanakan prosesi ngingsah. Sementara puncak karya akan dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) 14 Maret 2026 mendatang. (eka/bi)