Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gubernur Koster Minta Pelaku Pariwisata Berkomitmen Lestarikan Budaya Bali

Meautya Hafid Sebut Wayan Koster Sejak di Komisi IX DPR Sudah Perjuangkan Kebudayaan

Loading

BALIILU Tayang

:

wayan koster
Gubernur Bali Wayan Koster (pakaian adat Bali) foto bersama Ketua Komisi I DPR - RI, Meautya Hafid usai membuka acara Deklarasi Bersama Mewujudkan Peradaban Baru Penyiaran Melalui Informasi Berkualitas. (Foto: Ist)

Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster meminta pelaku usaha pariwisata di Bali berkomitmen setiap hari Kamis, Purnama dan Tilem, serta Hari Jadi Pemerintah Provinsi Bali menggunakan Busana Adat Bali sesuai pelaksanaan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali yang sejalan dengan semangat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, hingga Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali.

Permintaan tersebut dengan tegas disampaikan oleh orang nomor satu di Pemprov Bali ini, setelah menegur salah satu manajer hotel di ITDC, Nusa Dua, Badung saat membuka acara Deklarasi Bersama Mewujudkan Peradaban Baru Penyiaran Melalui Informasi Berkualitas pada, Kamis (Wraspati Pon, Wariga) 12 Mei 2022 pagi di The Westin Resort, Nusa Dua, Badung.

Dalam sambutannya dihadapan Ketua Komisi I DPR RI, Meautya Hafid dan Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, Wayan Koster menjelaskan Provinsi Bali saat ini sudah mulai menggeliat kepariwisataannya sejak 7 Maret 2022 yang lalu, baik wisatawan domestik (Wisdom) maupun wisatawan mancanegara (Wisman) sudah mulai berdatangan, karena pandemi Covid-19 di Bali sejak awal tahun sampai Mei 2022 ini sudah melandai dan stabil.

Tanda – tanda melandainya pandemi Covid-19 di Bali sudah menunjukkan hasil, dimulai pascaadanya keterlibatan banyak orang di upacara adat di Bali, seperti di Pura Agung Besakih maupun sebelumnya saat perayaan Hari Suci Nyepi tanggal 3 Maret yang lalu di semua kabupaten/kota di Bali ada perayaan Ogoh – Ogoh yang melibatkan banyak orang, tapi ternyata Covid-19 tidak mengalami lonjakan kasus.

“Jadi tetap stabil sampai saat ini. Begitu juga ketika hari libur Idul Fitri dan cuti bersama, banyak yang ke Bali dan sampai hari ini saya amati kasusnya tetap stabil,” jelas Gubernur Koster yang disambut tepuk tangan.

Baca Juga  Peluncuran Buku ‘’Padmabhuwana Bali’’, Gubernur Koster: Sejalan dengan Visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’

Melandainya pandemi Covid-19, kata Gubernur Koster hal itu disebabkan masyarakat Bali tertib menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi boosternya sekarang sudah hampir 70 persen. “Jadi ini vaksin booster tertinggi di Indonesia,” ujar Gubernur Bali seraya menyebut dari parameter itulah, Bali sejatinya sudah sangat kondusif dikunjungi oleh Wisdom dan Wisman.

Mengenai pariwisata Bali, mantan Anggota DPR-RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini menyebut bahwa Pulau Bali tidak didesain secara khusus dengan suatu perencanaan, tapi berkembang secara alamiah. Sehingga karena budayanya, menjadikan Bali berkembang pariwisatanya. Namun terlalu lama pariwisata di Bali tidak diarahkan dengan satu kebijakan yang tepat, sehingga perkembangannya menjadi kurang baik, compang – camping, dan di sana – sini ada yang kurang, tetapi karena budaya Bali ini menarik bagi masyarakat luar, membuat Bali tetap menjadi perhatian dan pilihan nomor satu masyarakat dunia untuk berkunjung.

Atas hal itu, Gubernur Bali jebolan ITB ini membayangkan pariwisata Bali yang dikelola secara tidak baik saja, dulu orang masih rajin berkunjung ke Bali, apalagi dikelola dengan baik. “Itulah sebabnya, saya sekarang ini betul – betul menata pariwisata Bali secara fundamental dan komprehensif berbasis pada budaya, serta berorientasi pada kualitas dan bermartabat. Ini yang ingin kami tekankan betul,” tegas Wayan Koster.

Sehingga kami tidak ingin pariwisata ini mengorbankan budaya, justru pariwisata harus membangun budaya. Karena Bali tanpa budaya tidak akan mungkin bisa menjadi daerah wisata. “Selama ini yang memelihara pariwisata adalah budaya, seharusnya pariwisata yang memelihara budaya, karena pariwisata yang bekepentingan dengan budaya,” tegas Gubernur Koster yang telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 28 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Pariwisata Bali ini.

Baca Juga  Gubernur Koster Kumpulkan Pelaku Usaha, Minta Segera Jalankan Gerakan Bali Bersih Sampah

Maka sekarang, kata Gubernur Wayan Koster bahwa kami akan mulai seimbangkan antara pelaku pariwisata dengan masyarakat di Bali yang begitu kuat di dalam menjaga budayanya. Itulah sebabnya, saya sekarang ini dalam membangun Bali, betul – betul menggunakan budaya sebagai hulunya pembangunan, menjadikan budaya sebagai mainstream pembangunan, karena Bali tidak mempunyai kekayaan apa – apa seperti tidak punya gas, batu bara, hingga tidak punya emas. Tapi Bali cuma punya kekayaan satu, yakni budaya saja. Kalau ini tidak dipelihara dengan baik, saya kira pariwisata itu akan tertinggal, orang tidak akan lagi beralih ke Bali untuk berwisata.

“Kalau alam indah, lebih indah dari Bali atau sama dengan Bali, di luar Bali banyak ada alam yang indah. Tapi yang membedakan Bali dengan daerah lain itu adalah budaya. Itulah sebabnya, saya sekarang mulai tegas dalam urusan budaya dengan menggunakan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali yang diiringi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali,” ujarnya.

Untuk Penggunaan Busana Adat Bali, setiap hari Kamis, Purnama, Tilem dan Hari Jadi Pemerintah Daerah Provinsi Bali semua pelaku di Bali mulai dari pegawai negeri maupun swasta, hotel juga harus berbusana Adat Bali. “Maka tadi saya melihat manajer hotel tidak berbusana Adat Bali, saya langsung tegur. Jadi saya tidak mau melihat perilaku – perilaku yang tidak tertib dan disiplin di Bali, tapi semua harus hormat dengan budaya Bali,” tegasnya.

“Kita butuh tata kehidupan yang tertib, disiplin dan betul – betul menghormati budaya, karena kita bangsa yang berbudaya, jadi budaya kita harus dihormati,” jelas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Baca Juga  Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur Koster Pimpin Korve Bersih Sampah di Pantai Samuh

Mengakhiri arahannya terkait pariwisata Bali, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan berwisata boleh, tapi harus menghormati budaya, jangan dia (pelaku pariwisata, red) cuma mencari untung di Bali dengan tidak memelihara budaya, i’m sorry. ”Saya tidak akan membiarkan itu. Jadi kalau mau berusaha di Bali, bangunlah budaya Bali ini secara bersama – sama, supaya bisa tumbuh bersama, kuat bersama, serta mendapat manfaat secara bersama – sama. Saya kira itu yang harus ditumbuhkan di Bali,” pungkas Gubernur Bali.

Sementara Ketua Komisi I DPR – RI, Meautya Hafid saat mendengarkan pidato Gubernur Wayan Koster dalam pandangannya mengungkapkan bahwa sebelum menjadi Gubernur Bali, Bapak Wayan Koster sejak Tahun 2004 beliau sudah memperjuangkan kebudayaan ketika itu saat menjadi Anggota Komisi IX DPR – RI. “Saya senang sekali Bapak Gubernur, kebetulan mengikuti perkembangan di Bali, mulai kami datang, hotelnya dibuka khusus dan sampai sekarang dari Canggu menuju Tabanan macetnya luar biasa. Jadi kita berikan applause kepada Bapak Gubernur yang sudah membawa Bali, mudah – mudahan lebih baik lagi pascapandemi Covid-19,” tutup Ketua Komisi I DPR – RI ini. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Rangkaian Mepeed dan Persembahyangan Bersama, Bupati Sanjaya Perkuat Kebersamaan Jajaran Pemkab Tabanan

Published

on

By

Sanjaya Ikuti Mepeed Pujawali Tri Kahyangan Tabanan
MEPEED: Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). Kegiatan berlangsung di Pura Puseh Desa Bale Agung Desa Adat Kota Tabanan dan dilanjutkan ke Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan.

Tradisi Mepeed yang diikuti jajaran Pemkab Tabanan dan juga ratusan pegawai yang berjalan bersama dalam satu rangkaian menuju tempat persembahyangan tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan sosial serta nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. Kehadiran bersama dalam rangkaian tersebut mencerminkan semangat gotong-royong sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan beserta istri, Sekda Tabanan beserta istri, Asisten III, para kepala perangkat daerah dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Tabanan, Perbekel Delod Peken, Bendesa Adat Kota Tabanan, serta para pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.

Persembahyangan bersama yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tersebut menjadi momentum bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk memanjatkan doa bersama. Bupati Sanjaya menyampaikan bahwa kehadiran dalam rangkaian pujawali merupakan bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh masyarakat.

“Tujuan kami ngaturang ayah di pemerintah daerah ini adalah bagaimana kita bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan sesuai dengan visi dan misi yang sudah dicanangkan oleh bapak gubernur dan juga Pemkab Tabanan, aktualisasi dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kita ajak pemerintah bersama jajaran ngayah, mepeed, nari rejang, menggambel di sini, kita ikut peran serta sehingga terjalin kebersamaan bagaimana kita kompak antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dan desa adat sejebag Kabupaten Tabanan, rahayu,” ungkapnya.

Baca Juga  <strong>Akademisi Sambut Baik Perjuangan Gubernur Koster Memperdakan Haluan Pembangunan Masa Depan Bali</strong>

Mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat, Bupati Sanjaya dan jajaran kemudian melanjutkan persembahyangan dari Pura Puseh Desa Bale Agung menuju Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Rangkaian tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai wujud shrada bhakti sekaligus doa bersama untuk kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Serangkaian Karya di Pura Dalem Penataran Sari Banjar Pekandelan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Pura Penataran Sari
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, saat ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, melaksanakan ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9).

Kegiatan ngayah tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian Walikota Denpasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat di tengah masyarakat. Kehadiran Walikota juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah dengan krama adat serta masyarakat Kota Denpasar.

Serangkaian karya di Pura Dalem Penataran Sari tersebut turut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara metatah yang diikuti 45 orang dan menek kelih diikuti 5 orang. Prawartaka Karya, I Wayan Arya, menyampaikan bahwa rangkaian karya dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong seluruh krama. Pelaksanaan metatah dan menek kelih yang dirangkaikan dalam karya tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.

Walikota IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya keagamaan dan adat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, serta nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali.

“Melalui pelaksanaan karya seperti ini, kita tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjaga adat, tradisi dan budaya Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jaya Negara.

Ia juga mengapresiasi semangat krama Banjar Pekandelan dan Desa Adat Denpasar yang secara bersama-sama menyukseskan rangkaian karya, termasuk pelaksanaan metatah massal dan menek kelih.

“Kebersamaan dan gotong-royong seperti ini menjadi kekuatan dalam menjaga adat dan budaya Bali. Semoga seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi seluruh krama,” tambahnya.

Pelaksanaan karya berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, dengan melibatkan krama serta masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan upacara. (eka/bi)

Baca Juga  Gubernur Koster Kumpulkan Pelaku Usaha, Minta Segera Jalankan Gerakan Bali Bersih Sampah

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa dan Ketua DPRD Badung “Ngupasaksi Karya Utama” di Pura Dalem Kahyangan Tuban

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Tanda Tangani Prasasti Karya Pura Tuban
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti menandatangani prasasti karya saat menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Upacara ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama yang puncak karyanya dipimpin Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda pada 26 September 2026.

Dalam prosesi tersebut, Bupati Adi Arnawa naik ke Padmasana setinggi 12 meter untuk ngunggahang kwangen, menandatangani prasasti pura. Bupati mendoakan agar karya berjalan sida sidaning don labda karya dan sida paripurna demi kerahayuan jagat Badung dan Bali, serta berharap krama Tuban tetap menjaga persatuan dengan semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka.

“Kebersamaan ini penting untuk menjaga Desa Adat Tuban yang menjadi gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melarapan subakti, kita memohon kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman dan berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Adi Arnawa.

Pemkab Badung menegaskan komitmen melakukan penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai guna mengurangi kemacetan.

Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, mengungkapkan bahwa pemugaran Pura Dalem Kahyangan didanai melalui hibah Pemkab Badung TA 2025 sebesar Rp 15,9 miliar pada APBD induk. Namun, karena dana tersebut hanya untuk fisik bangunan pura, kas desa adat harus mengeluarkan biaya mandiri hingga hampir Rp 9 miliar, sehingga total pembangunan diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.

Prosesi upacara sendiri telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 yang diawali dengan Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring. Rangkaian akan memuncak pada Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026, dilanjutkan penganyaran selama empat hari, dan prosesi sineb pada 30 Oktober 2026 yang ditutup ritual Nyegara Gunung.

Mendra menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah besar dari Pemkab Badung, meski ia berharap dukungan ke depan terus ditingkatkan karena kebutuhan belum sepenuhnya tercukupi. Ia juga berharap pemerintah daerah serta PT. Angkasa Pura Indonesia memberikan perhatian lebih pada Desa Adat Tuban sebagai beranda depan dan belakang Bali.

Baca Juga  <strong>Akademisi Sambut Baik Perjuangan Gubernur Koster Memperdakan Haluan Pembangunan Masa Depan Bali</strong>

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Anggota DPRD Badung Dapil Kuta seperti I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, Majelis Desa Adat, Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, BBMKG Wilayah III, serta jajaran Jasa Marga Bali Tol. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca