Karangasem,
baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster terus menggenjot pembangunan
infrastruktur di Provinsi Bali, meskipun pandemi Covid-19 belum menunjukkan
gejala usai. Setelah menggelar Ground
Breaking Pelabuhan Nusa Penida di Sampalan dan Pelabuhan Nusa Ceningan di
Bias Munjul dengan menghadirkan Menteri Perhubungan (Menhub) RI Budi Karya Sumadi
pada Senin, Soma, Umanis, Tolu (3/8-2020) lalu, kini Gubernur Bali yang juga
menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini menghadirkan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pada, Kamis,
Wraspati, Wage, Tolu (6/8-2020). Setiba di kawasan Bencingah Pura Manik Mas, Besakih, kedua pemimpin itu kian
memperlihatkan kinerjanya untuk mewujudkan kawasan Pura Besakih nyaman sebagai
tempat persembahyangan terbesar umat Hindu di Bali hingga Indonesia.
Untuk mewujudkan Program Pelindungan Kawasan Suci Pura Agung
Besakih ini, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bersama Gubernur Wayan Koster
sepakat melakukan kolaborasi kerja antara Pemerintah Provinsi Bali dengan
Pemerintah Pusat, dimana proyek yang akan membangun fasilitas parkir di jaba Pura Manik Mas Besakih lengkap
dengan pembangunan bale pesandekan
dan fasilitas kios untuk UMKM, hingga penyediaan jalur pejalan kaki yang nyaman
yang dilengkapi oleh pesona taman yang indah, serta dilengkapi oleh bangunan graha
wiyata (tempat menayangkan video segala kegiatan berkaitan Pura Besakih, red)
ini tercatat akan dimulai pada awal Tahun 2021, dan ditargetkan rampung pada
Desember 2021 dengan anggaran Rp 900 miliar.
“Kawasan Besakih saat ini dalam kondisi semrawut,
kotor, jorok, toiletnya tidak tertata, sehingga niat orang untuk sembahyang di sini
(Pura Besakih, red) tidak nyaman, untuk itu wilayah yang akan dijadikan Program
Pelindungan Kawasan Suci Pura Agung Besakih kita harapkan segera terwujud
,” ujar Gubernur Koster asal Desa Sembiran, Buleleng ini seraya menegaskan
Bapak Menteri PUPR Basuki Hadimuljono komitmen untuk membantu mewujudkannya,
dan saya pribadi juga sudah melapor ke Presiden RI Joko Widodo agar program ini
berjalan sampai 2021.
Alasan Gubernur Bali Wayan Koster menggenjot Program
Pelindungan Kawasan Suci Pura Agung Besakih bersama Menteri PUPR Basuki
Hadimuljono, karena di tahun 2022 umat Hindu di Bali akan menggelar upacara
keagamaan yang akan berlangsung, Maret 2022.
“Jadi semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan jalan
terbaik, sehingga pembangunannya diharapkan bisa mengakomodir umat Hindu di
Bali dan di Indonesia yang hadir saat upacara di Besakih,” jelasnya saat
didampingi Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa serta Arsitek dan Penanggungjawab
Penataan Kawasan Suci Besakih, Nyoman Popo Danes seraya mengucapkan terimakasih
kepada Bapak Menteri Basuki Hadimuljono.
Menteri Basuki : Pura
Agung Besakih adalah Aset Nasional yang harus Diperhatikan
Mendengar hal itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan
Pura Agung Besakih adalah aset nasional yang harus diperhatikan bersama,
sehingga berdasarkan rencana akan ada sembilan (9) item paket pekerjaan untuk
menata kawasan Pura Agung Besakih.
Pemerintah Pusat akan membangun kawasan parkir di wilayah
Manik Mas dengan luas 52.000 m2, kemudian menata kawasan Bencingah 12.287 m2. Untuk mempersiapkan penataan kawasan tersebut,
Menteri Basuki menegaskan telah menyelesaikan studi kelayakan (FS), sedangkan
untuk desain akan dikerjakan dengan metode rancang bangun (design and build) untuk mempercepat pelaksanaan.
“Karena luasan kawasannya sudah lebih dari 10 ribu m2 dan
juga lokasinya sebagai destinasi wisata sekaligus cagar budaya, maka kami pula
akan melengkapi pekerjaan ini dengan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan),” ucapnya seraya menegaskan
penataan kawasan Pura Besakih akan memperhatikan adat istiadat serta kearifan
lokal budaya Bali, yang mana lahan parkir itu akan dibangun tidak bertingkat ke
atas, namun dibuat dengan konsep parkir 4 lantai ke bawah (basement), sehingga
parkir ini tidak melebihi batas ketinggian kawasan suci yang sudah menjadi acuan
Bali dalam membangun.
Tidak hanya itu, Menteri Basuki pula menegaskan kawasan
utama Pura Agung Besakih yang digunakan sebagai tempat ibadah juga tidak akan
tersentuh dalam proyek ini. Sehingga yang terpenting dari penataan kawasan ini
tercapainya kualitas kenyamanan pengunjung untuk tempat sembahyang dan ada juga
tempat khusus untuk berwisata.
“Karena menurut informasi, saat ada upacara besar di
Pura Agung Besakih kondisinya sangat ramai, sebagai solusinya kami rancang juga
pintu masuk dan keluar, sehingga tidak ada penumpukan, karena sirkulasi jalan
untuk kendaraan akan diatur,” pungkasnya. (gs)