Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Hadiri Upacara ‘’Ngenteg Linggih’’ di Banjar Sakeh, Bupati Tabanan: Bukti Sinergi Masyarakat dengan Pemerintah

BALIILU Tayang

:

de
PENANDATANGANAN PRASASTI: Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M. saat menandatangani prasasti Pura Banjar Sakeh, Desa Sudimara Kecamatan Tabanan, Rabu pagi (9/2). (Foto: Ist)

Tabanan, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Tabanan tak henti-hentinya mendukung aksi nyata kebersamaan masyarakat dalam mewujudkan Visi Tabanan melalui pembangunan yang saling bersinergi, secara sekala dan niskala. Dibuktikan dengan hadirnya Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M. dalam kegiatan keagamaan uleman upacara Pemelaspasan lan Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa Pura di Banjar Sakeh, Desa Sudimara Kecamatan Tabanan, Rabu pagi (9/2). 

Kehadiran jajaran Pemkab Tabanan, dalam hal ini yang mendampingi Bupati Tabanan, Ketua DPRD Kabupaten Tabanan, Perwakilan Ketua DPRD Provinsi Bali, Asisten 2, Kasatpol PP, Camat dan Jro Bandesa Adat Banjar Sakeh dan OPD terkait serta tokoh mayarakat setempat, disambut hangat oleh krama Desa Banjar Sakeh. 

Upacara Ngenteg Linggih yang digelar oleh masyarakat Banjar Sakeh, tentunya menuai pujian dan apresiasi yang sangat baik oleh Bupati Sanjaya. Mulanya dari kemegahan dan agungnya situasi Pura Khayangan yang menyambut kedatangan para undangan, dirasa sangat istimewa terlebih karena dibangun oleh masyarakat dengan jumlah yang sangat minim, yaitu 55 KK. 

Pembangunan yang sudah dirancang sejak tahun 2020 ini, sempat tertunda karena pandemi Covid-19, hingga pengerjaannya baru dimulai pada 14 Juli 2021. Sementara untuk pembangunan fisik, dilaporkan langsung oleh ketua panitia, menghabiskan biaya kurang lebih Rp 3,5 milyar dari anggaran dana yang didapat melalui pemekas swadaya masyarakat, bantuan punia dari provinsi dan yang terpenting adalah bantuan dari Pemerintah Kabupaten Tabanan. 

Pengerjaan yang dilakukan di dalam masa pandemi ini, memiliki nilai positif dan negatif. Bantuan ngayah dari masyarakat secara gotong-royong dan menjadi nilai positif yang dijunjung tinggi dalam penyelesaian pembangunan ini. Sementara keterbatasan kesehatan dan ekonomi masih menjadi penghalang dan kendala selama pengerjaan. 

Baca Juga  Bupati Sanjaya Hadiri Rapat Paripurna Ke-2 dan Ke-3 Masa Persidangan III Tahun 2024 DPRD Tabanan

“Meskipun dikerjakan dengan jumlah masyarakat yang terbatas, tapi hasil yang didapat sangatlah agung, ini hanya dilandasi oleh kemauan, tekad, gotong-royong yang luar biasa yang mampu mewujudkannya. Semangat inilah yang patut mendapat apresiasi dan menjadi suri tauladan bagi Pemkab Tabanan. Masyarakat tidak mudah menyerah pada keadaan, apa pun itu,” kata Bupati Sanjaya.

Ia juga mengatakan, bahwa kita tidak boleh mengeluh terhadap apa yang sudah diberikan Ida Sang Hyang Widi Wasa, termasuk Covid. “Tetap harus kita jalani dan siasati dengan semangat dan protokol kesehatan yang sudah dirancang baik oleh pemerintah pusat dan pemerintah Tabanan,” tambahnya. 

Dengan kehadiran jajaran pemerintah dalam pelaksanaan uleman pemelaspasan ini, menjadi pelengkap sekaligus doa bagi kelancaran jalannya acara. Menurut Bupati Sanjaya, dalam menjalankan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, upacara Ngenteg Linggih sudah masuk dalam ke-6 kerthi, baik Wana, Segara, Danu, Jana, Atma dan Jagat Buana Kerthi. Yaitu pembangunan yang dilaksanakan secara sekala dan niskala.

“Jika dilihat dari Pola Pembangunan Semesta Berencana, ini sudah masuk di point ke-4, yaitu dalam pelestarian adat, agama dan budaya, ini sudah sangat masuk dalam mewujudkan Visi Misi, menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani, jadi pembangunan ini harus saling terintegrasi dari hulu, tengah dan hilir,” ujarnya.

Menanggapi pujian dari Bupati Sanjaya, krama Banjar Sakeh juga tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih atas perhatian langsung Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam menghadiri upacara ngenteg linggih ini serta bantuan yang sangat berarti bagi pembangunan di Banjar Sakeh, Desa Sudimara, Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Walikota Apresiasi Upacara Adat Massal di Kesiman

Ringankan Beban Masyarakat, Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Upacara Metatah Massal

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Metatah Massal Kesiman
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.

Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.

Baca Juga  Wujud Cihna Bhakti, Bupati Sanjaya Hadiri ‘’Karya Pemelaspasan’’ di Desa Adat Kikian

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.

Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Hadiri Rapat Paripurna Ke-2 dan Ke-3 Masa Persidangan III Tahun 2024 DPRD Tabanan

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Hadiri Puncak “Karya Panca Wali Krama” Ulun Danu Batur, Rawat Kesucian Alam Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama
HADIRI PUNCAK KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, terasa begitu khidmat dan penuh harmoni di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung dalam puncak karya yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat tersebut.

Turut hadir Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Gubernur Wayan Koster, karya di Pura Ulun Danu Batur memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual keagamaan. Di tempat yang menjadi salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan yang erat dengan sumber air dan kehidupan ini, nilai-nilai Sad Kerthi menemukan bentuknya secara nyata.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi menjadi bagian penting dari rangkaian karya. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dikembangkan Wayan Koster, menempatkan keharmonisan alam, manusia dan kehidupan sebagai fondasi pembangunan Bali.

“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri”. Semangat inilah yang tercermin dalam pelaksanaan karya, ketika ritual keagamaan sekaligus menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam Bali.

Dua Bulan Menuju Puncak Karya

Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Berbagai prosesi dilaksanakan secara bertahap sesuai wariga dan dresta Bali.

Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.

Baca Juga  Bupati Tabanan Teken Nota Kesepakatan Bersama Ombudsman RI, Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Tahapan inti berlangsung melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan. Puncaknya, Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Subakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober.

Puncak karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca