Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Kajian Wayang Topeng Antarkan Tri Wahyuningtyas Raih Gelar Doktor Kajian Budaya

BALIILU Tayang

:

de
Tri Wahyuningtyas, S. Pd., M.Si. saat pertahankan disertasinya. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana kembali menyelenggarakan promosi Doktor dengan promovenda Tri Wahyuningtyas, S. Pd., M.Si. Promosi Doktor dilaksanakan pada Jumat, 28 Januari 2022 secara semidaring di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Ujian terbuka dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. Tri Wahyuningtyas, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Praktik Pendisiplinan Tubuh Pelaku Seni Dalam Kebijakan Menjadikan Wayang Topeng Sebagai Identitas Kabupaten Malang”. Setelah melalui ujian terbuka, Tri Wahyuningtyas dinyatakan lulus dengan predikat Sangat MemuaskanIa merupakan Doktor ke-160 di lingkungan FIB Unud dan Doktor ke-260  di lingkungan Prodi S3 Kajian Budaya.

Dalam disertasinya Tri Wahyuningtyas yang kini berstatus sebagai dosen di Universitas Negeri Malang memaparkan, bahwa Wayang Topeng adalah pertunjukan teater tradisi dengan pemainnya mengenakan penutup wajah (topeng). Isu utama penelitian ini adalah adanya kesenjangan dalam seni pertunjukan Wayang Topeng di Kabupaten Malang. Perekayasaan sosial terjadi melalui wacana (kebijakan) menjadikan Wayang Topeng sebagai identitas Kabupaten Malang. Saat ini Wayang Topeng menjadi kesenian yang dikonstruksi oleh penguasa, sehingga bersifat elitis-birokratik sarat dengan kepentingan kekuasaan.

Pihak-pihak yang menyetujui atau berkompromi dengan wacana tersebut adalah individu-individu yang telah mengalami praktik pendisiplinan tubuh. Pendisiplinan tubuh pelaku seni terbentuk setelah tanpa disadari bahwa pelaku seni menerima atau berkompromi dengan kebijakan menjadi Wayang Topeng sebagai identitas Kabupaten Malang. Sebagai tubuh-tubuh yang berdisiplin, patuh dan berguna terhadap kebenaran yang tersembunyi dalam kebijakan pemerintah daerah, pelaku seni menerima kebijakan tersebut sebagai sesuatu yang alamiah padahal di dalamnya terkandung dominasi.

Baca Juga  Seminar Kebijakan Publik dalam Kajian Budaya

Alur wacana pendisiplinan tubuh pelaku seni didasarkan pada Peraturan Daerah yang menjadi pondasi dan dasar hukum bagi pemikiran menjadikan Wayang Topeng sebagai identitas Kabupaten Malang. Aktualisasi Peraturan Daerah tentang seni dan budaya tergantung dari penalaran, pengalaman, dan episteme yang membentuk pengetahuan para birokrat, mereka yang memiliki kuasa istimewa di Kabupaten Malang untuk berbicara atas nama budaya.

Faktor penyebab dan pendukung kepatuhan pelaku seni akan kebijakan kebijakan Wayang Topeng sebagai identitas Kabupaten Malang ada 2 faktor yang mempengaruhi yaitu faktor eksternal antara lain adanya pengusulan naskah cerita Panji sebagai warisan non-benda ke Unesco, pendaftaran Wayang Topeng sebagai warisan budaya dunia tak benda, serta adanya kepentingan media massa online. Kemudian adanya faktor internal yaitu pengaruh adanya episteme, habitus dan modal pelaku seni, semakin dominan modal, penalaran dan pengalaman yang dimiliki oleh pelaku seni semakin menempatkan pula posisi dominan pada ranah-ranah tertentu lainnya.

Pendisiplinan tubuh pelaku seni akan kebijakan Wayang Topeng sebagai identitas Kabupaten Malang berimplikasi pada 3 hal yaitu: a) munculnya berbagai industri kreatif; b) penguatan ikon atau identitas seni dan budaya di Malang; c) pengembangan Wayang Topeng di berbagai Perguruan Tinggi dan lembaga.

Temuan empiris dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kepentingan Pemerintah Kabupaten Malang menjadikan Wayang Topeng sebagai identitas tersebut bukan hanya seputar sebagai usaha pelestarian seni Wayang Topeng dan atau untuk menjadikannya sebagai warisan dunia tak benda Unesco, melainkan juga dan yang terpenting agar Malang mempunyai identitas daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Kepentingan bersama ini, menjadikan bukan hanya pelaku seni pertunjukan Wayang Topeng yang mengalami pendisiplinan tubuh, melainkan juga sebagian besar warga Malang yang majemuk secara kultural dan kepercayaan, bersama-sama mengambil manfaat dari wacana tersebut sesuai dengan ranahnya masing-masing.

Baca Juga  Peringatan Bersejarah HUT Ke-21, Kenang-kenangan Kartun untuk Mantan Koprodi Doktor Kajian Budaya

Pada ranah teoritis hasil penelitian ini menjawab teori Foucault yaitu relasi pengetahuan kekuasaan dan teori struktural generatif Bourdieu. Kedua teori Foucault maupun Bourdieu berbicara tentang praktik kekuasaan pada pendisiplinan tubuh.

Makna disertasi disampaikan oleh Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. selaku promotor. Prof. Suarka menyampaikan bahwa kontribusi penelitian ini memberi warna dalam penelitian kajian budaya, khususnya pertentangan serta konflik yang terjadi dalam pergerakan budaya.

“Penelitian ini menunjukkan pada kita bahwa terjadi pertentangan bahkan konflik yang terjadi dalam dunia kebudayaan. Berbagai kepentingan berkelindan dalam medan budaya, pada kasus ini adalah Wayang Topeng. Berbagai estetika dalam Wayang Topeng terpaksa harus tunduk pada berbagai kepentingan para agen kuasa,” pandangan Prof. Suarka.

Melalui penelitian ini dapat kita lihat bahwa tidak selalu segala yang diagendakan pada usaha pemajuan sebuah kebudayaan berimplikasi positif pada masyarakat pendukungnya. Sumber: www.unud.ac.id (gp/gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

BUDAYA

Dukung Pelestarian Adat, Wabup Bagus Alit Sucipta Apresiasi Semangat Gotong-royong Krama Puri Punggul

Published

on

By

wabup Alit Sucipta
HADIRI KARYA: Wabup Bagus Alit Sucipta, menghadiri “Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih” di Merajan Kemimitan Puri Punggul dan Pura Batur, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Selasa (28/4). (gs/bi)

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, menghadiri rangkaian upacara (Karya) Padudusan Alit, Mamungkah, Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa, hingga Mupuk Pedagingan di Merajan Kemimitan Puri Punggul dan Pura Batur, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Selasa (28/4).

Kehadiran Wabup Bagus Alit Sucipta disambut hangat oleh Penglingsir Puri Punggul, Puri Taman, Puri Gerana, dan Puri Selat. Turut mendampingi, Camat Abiansemal IB Putu Mas Arimbawa, Perbekel Desa Punggul I Kadek Sukarma, Bendesa Adat Punggul I Gst Ngr Wedastra, Tokoh Masyarakat I Wayan Muntra, serta krama pengempon.

Sebagai wujud nyata dukungan Pemerintah Kabupaten Badung, Wabup menyerahkan bantuan Dana Aci sebesar Rp 150 juta. Dukungan juga mengalir dari Anggota DPRD Badung Putu Yunita Oktarini sebesar Rp 10 juta dan I Wayan Muntra sebesar Rp 5 juta.

Dalam sembrama wecana-nya, Wabup Bagus Alit Sucipta menyampaikan rasa angayu bagia dapat hadir dan bersembahyang bersama masyarakat (ngrastiti bhakti) guna mendoakan agar seluruh rangkaian upacara berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi semua.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada krama pengempon atas semangat gotong-royong yang luar biasa. Dengan ketulusan dan kebersamaan dalam ngayah, kami meyakini Ida Bhatara akan memberikan anugerah kesehatan dan kesejahteraan bagi kita semua,” ujarnya

Sementara itu, Manggala Karya I Gusti Lanang Oka mengungkapkan bahwa puncak upacara ini merupakan tindak lanjut setelah rampungnya renovasi pelinggih yang sebelumnya dibantu oleh hibah Pemkab Badung senilai Rp 2 miliar.

“Kami mewakili 375 KK pengempon mengucapkan terima kasih mendalam atas kehadiran Bapak Wakil Bupati serta dukungan dana yang diberikan. Upacara ini terlaksana berkat swadaya murni masyarakat sebesar Rp 250 ribu per KK, punia pasemetonan, serta bantuan penuh dari Pemerintah Kabupaten Badung,” jelasnya. (gs/bi)

Baca Juga  I Made Rajendra Raih Gelar Doktor Ke-40 PSDIT FT Unud

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Penyineban IBTK 2026 di Pura Agung Besakih Resmi Ditutup, Gubernur Bali Turut “Ngayah Megambel”

Published

on

By

ibtk 2026
PENYINEBAN: Rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 di Pura Agung Besakih resmi ditutup melalui upacara penyineban pada Kamis (23/4). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com  — Rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 di Pura Agung Besakih resmi ditutup melalui upacara penyineban pada Kamis (23/4). Prosesi sakral yang berlangsung khidmat ini dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster bersama Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra.

Tak hanya hadir secara seremonial, Gubernur Koster juga menunjukkan keterlibatan langsung dalam tradisi dengan “megambel” atau memainkan gamelan gangsa bersama para pemedek.

Aksi ngayah tersebut berlangsung di sela-sela prosesi penyineban dan menjadi perhatian umat yang hadir.

Momen langka itu pun banyak diabadikan warga sebagai simbol kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.

Selain itu, kehadiran Gubernur juga disambut antusias. Di sela prosesi, ia tampak dikerumuni pemedek yang ingin berfoto bersama. Dengan ramah, Gubernur melayani permintaan tersebut tanpa meninggalkan kekhidmatan jalannya upacara.

Upacara penyineban diawali dengan pelaksanaan bhakti penganyar terakhir pada pagi hari, dilanjutkan prosesi utama pada sore hari sekitar pukul 15.00 WITA. Ritual ini ditandai dengan doa bersama, diikuti rangkaian prosesi seperti Nuwek Bagia Pula Kerthi, nedungan Ida Bhatara, katuran tetingkeb ring ambal-ambal, hingga mundur mawali ke pesineban.

Umat juga melaksanakan persembahyangan (muspa) kepada Ida Bhatara Lingsir serta ritual ngeseng dan mendem Bagia Pulekerthi.

Ketua Panitia IBTK Pura Agung Besakih, Jro Mangku Widiartha, menjelaskan bahwa penyineban merupakan simbol berakhirnya masa nyejer, yakni periode Ida Bhatara berstana di Pura Penataran Agung sejak puncak karya pada 2 April 2026.

“Setelah doa bersama, seluruh pralingga Ida Bhatara kembali ke pelinggih masing-masing, menandai berakhirnya rangkaian karya,” ujarnya.

Ia menambahkan, prosesi penyineban dipuput oleh enam sulinggih yang memimpin di sejumlah lokasi utama.

Baca Juga  Kaji Pengaturan Obligasi Daerah, Togar Situmorang Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum FH Unud

Di Bale Gajah, upacara dipimpin oleh Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa dari Griya Kedhatuwan Kawista Blatungan bersama Ida Dalem Semara Putra dari Puri Semara Pura. Sementara di Tapini, dipuput oleh Ida P Istri I Wayah Jelantik Dwaja dari Griya Budakeling Karangasem bersama Ida P Istri Karang.

Untuk tahapan Pengrajeg Karya dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Kemenuh dari Griya Batan Manggis Singarata, sedangkan Pengemit Karya dipimpin oleh Ida Rsi Wayabya Sogata Suprabhu Karang dari Griya Buduk Badung. Adapun pada saat pelaksanaan bhakti penganyar, upacara dipimpin oleh Ida Pandita Empu Maha Yoga dari Griya Angsoka Bebanda.

Selain dihadiri Gubernur dan Sekda Provinsi Bali, prosesi ini juga dihadiri Wakil Gubernur Bali periode 2018–2024 Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktur Jenderal Bimbingan Komunitas Hindu, jajaran Kepolisian Daerah Bali, Komando Militer Resor 163/Wira Satya, Parisada Hindu Dharma Indonesia, serta Majelis Adat Desa Provinsi Bali.

Selain prosesi keagamaan, panitia juga menyampaikan laporan keuangan pelaksanaan karya. Selama 21 hari kegiatan, total dana yang terkumpul mencapai Rp 8.965.742.204, dengan pengeluaran sebesar Rp 6.477.534.000, sehingga tercatat saldo akhir sebesar Rp 2.488.208.204.

Jro Widiartha menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya karya, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga keagamaan, hingga umat Hindu yang turut ngayah dengan tulus.

“Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan, untuk itu kami mohon maaf sebesar-besarnya. Namun berkat dukungan semua pihak, karya ini dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan secara sekala dan niskala,” ungkapnya.

Sebagai penutup keseluruhan rangkaian IBTK 2026, upacara Mejauman dijadwalkan berlangsung pada 26 April 2026, yang menjadi simbol berakhirnya seluruh prosesi karya secara menyeluruh. (gs/bi)

Baca Juga  Ni Ketut Sari Adnyani Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum di FH Unud

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri “Karya Ngenteg Linggih” di Merajan Ageng Bhujangga Waisnawa Renon

Published

on

By

wawali arya wibawa
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menyerahkan dana bantuan saat menghadiri Karya Ngenteg Linggih lan Padudusan Wrespati Kalpa Alit di Merajan Ageng Bhujangga Waisnawa Renon, bertepatan dengan rahina Buda Cemeng Ukir, Rabu (22/4). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Karya Ngenteg Linggih lan Padudusan Wrespati Kalpa Alit di Merajan Ageng Bhujangga Waisnawa Renon, bertepatan dengan rahina Buda Cemeng Ukir, Rabu (22/4).

Pada kesempatan itu, Wawali Kota Arya Wibawa juga turut menyerahkan secara simbolis bantuan hibah dari Pemerintah Kota Denpasar sebesar Rp 200 juta untuk pelaksanaan karya tersebut.

Wawali Kota Arya Wibawa menyampaikan apresiasinya atas semangat gotong-royong dan kebersamaan warga dalam menyukseskan pelaksanaan karya. Ia berharap, kegiatan ini dapat memperkuat nilai-nilai srada dan bhakti umat Hindu di Kota Denpasar.

“Upacara ini merupakan wujud bakti dan keimanan umat dalam menjaga warisan leluhur,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan harapan supaya renovasi merajan yang telah rampung dapat terus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Ia menilai keberadaan tempat suci sangat penting sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya.

“Semoga keberadaan merajan ini memberikan manfaat spiritual dan sosial bagi pangempon, serta masyarakat sekitar,” harap Arya Wibawa.

Sementara ketua panitia, Putu Wira Yudha Segara menjelaskan, rangkaian upacara telah dimulai sejak 8 April lalu. Puncak karya dilaksanakan hari ini, setelah rampungnya renovasi merajan.

“Kami bersyukur bisa menyelesaikan renovasi merajan ini secara gotong-royong. Terima kasih kepada Bapak Wakil Walikota atas kehadiran dan dukungannya kepada pangempon,” katanya.

Upacara ini menjadi simbol semangat pelestarian adat dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Melalui pelaksanaan karya ini, para pangempon diharapkan terus menjalankan swadharma untuk kepentingan umat dan generasi mendatang. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Pande Gde Bagus Naya Primananda Raih Gelar Doktor di Prodi Doktor Manajemen FEB Unud
Lanjutkan Membaca