Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Bali 2024 Terkendali dan Berada Dalam Target Sasaran

BALIILU Tayang

:

inflasi bali 2024
Infografis inflasi Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, perkembangan harga Provinsi Bali pada Desember 2024 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,31% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm). Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali menurun menjadi 2,34% (yoy) dari 2,50% (yoy) pada November 2024, didukung oleh upaya Pemerintah dalam memitigasi kenaikan harga barang dan jasa pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan tahun baru.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui siaran pers Jumat (3/1) mengatakan secara keseluruhan tahun, inflasi Provinsi Bali tahun 2024 tersebut lebih rendah dari inflasi tahun 2023 sebesar 2,77% (yoy). Sementara itu, pada tingkat Nasional, inflasi bulanan pada Desember 2024 tercatat sebesar 0,44% (mtm) dan inflasi tahunan sebesar 1,57% (yoy). Inflasi yang terjaga dalam rentang sasaran didukung oleh upaya pengendalian inflasi yang terus diperkuat melalui kolaborasi, inovasi, dan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Secara spasial, seluruh kota penghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan. Kota Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,19% (mtm) atau 2,69% (yoy), demikian pula dengan Kabupaten Badung mengalami inflasi sebesar 0,37% (mtm) atau 1,98% (yoy).

Lebih lanjut, Erwin menyampaikan Kabupaten Tabanan mengalami inflasi sebesar 0,49% (mtm) atau 2,44% (yoy) dan Kota Singaraja mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm) atau 1,93% (yoy). Secara keseluruhan tahun, inflasi Kota Denpasar dan Singaraja lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang masing-masing sebesar 2,54% (yoy) dan 4,31% (yoy).

‘‘Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi sepanjang tahun 2024,‘‘ ujar Erwin Soeriadimadja.

Baca Juga  Wabup Suiasa Hadiri ‘’High Level Meeting’’ TPID Provinsi Bali

Berdasarkan komoditasnya, kata Erwin, inflasi Desember 2024 terutama bersumber dari kenaikan harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, dan sawi hijau. Kenaikan harga komoditas hortikultura dan sayuran disebabkan oleh berakhirnya periode panen disertai faktor cuaca yang menghambat produksi. Di sisi lain, laju inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga daging babi, tarif angkutan udara, daging ayam ras, kangkung, dan beras. Penurunan tarif angkutan udara disebabkan oleh kebijakan penurunan harga tiket pesawat pada periode Natal dan Tahun Baru sebesar 10%.

Ke depan, Erwin menegaskan bahwa terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai, seperti kenaikan permintaan menjelang libur panjang pada akhir Januari 2025, berlanjutnya kenaikan harga komoditas hortikultura seiring dengan berakhirnya panen dan faktor cuaca. ‘‘Selain itu, berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren harga global dan kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) yang berpotensi mempengaruhi harga minyak goreng,‘‘ ujarnya.

Meski demikian, beberapa faktor diprakirakan dapat mendukung terkendalinya inflasi, yakni perluasan areal tanam (PAT) padi di Bali yang telah mencapai 90,09% dari target Kementerian Pertanian, penguatan pasokan beras, kebijakan diskon tarif listrik, dan penurunan harga tiket pesawat pada periode tahun baru.

Untuk memitigasi risiko inflasi ke depan, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama seluruh Kabupaten/Kota di Bali dalam upaya pengendalian inflasi yang berkesinambungan. Kolaborasi antara seluruh TPID di Bali diwujudkan melalui implementasi kebijakan 4K, yang mencakup pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah, serta Gerakan Tanam Pangan Cepat Panen (Genta Paten) di lahan milik Pemerintah.

Erwin mengungkapkan, langkah-langkah lainnya meliputi penguatan pengawasan terhadap ketersediaan stok, perluasan distribusi cadangan pangan pemerintah melalui mitra distributor, Toko Pangan Kita, dan pengecer, serta optimalisasi bantuan transportasi guna memperlancar distribusi pangan. Selain itu, upaya peningkatan sarana dan prasarana produksi pangan, penyebaran informasi pasar murah kepada masyarakat diiringi imbauan untuk berbelanja secara bijak, serta penguatan data neraca pangan daerah dan integrasinya dengan data neraca pangan pusat terus dilanjutkan.

Baca Juga  BI Bali Gelar Edukasi Budaya Cerdas Finansial di Era Digital Bersama PPPATK, Polda dan OJK

Dengan terus memperkuat implementasi kebijakan 4K, Bank Indonesia meyakini inflasi Provinsi Bali pada tahun 2025 akan tetap terjaga dalam kisaran target inflasi nasional 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Pasar Properti Komersial Provinsi Bali TW IV 2025: Harga Terkoreksi di Tengah Dinamika Akomodasi

Published

on

By

harga properti Bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Perkembangan Properti Komersial (PPKom) Bank Indonesia Bali menunjukkan bahwa harga properti komersial di Bali mengalami pelambatan. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan V 2025 yang tumbuh sebesar 0,68% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,56% (yoy). Perkembangan harga properti tahunan didorong oleh pertumbuhan perkantoran sewa, ritel sewa, serta hotel, masing-masing sebesar 5,93% (yoy), 0,51% (yoy), dan 0,68% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa secara kuartalan, harga properti komersial di Bali melemah pada triwulan IV 2025 dengan pertumbuhan yang terkontraksi sebesar -3,16% (qtq). “Penurunan harga beriringan dengan koreksi harga oleh pelaku usaha perhotelan agar tetap kompetitif di tengah melandainya permintaan,” ujarnya.

Melandainya permintaan ditunjukkan oleh Indeks Permintaan Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan V 2025 yang mengalami penurunan sebesar -4,80% (yoy), didorong oleh penurunan pada segmen perkantoran sewa sebesar -5,98% (yoy) dan hotel sebesar -6,71% (yoy). “Pada segmen perkantoran sewa, responden menuturkan bahwa penurunan disebabkan oleh adanya pergeseran preferensi masyarakat untuk bekerja dari perkantoran ke co-working space,” katanya.

Erwin lanjut mengungkapkan, bahwa adapun pada segmen hotel, penurunan permintaan didominasi oleh wisatawan asing, didorong oleh tersedianya banyak pilihan akomodasi lainnya (vila, apartemen, dan properti sewa). Hal ini selaras dengan data dari BPS Provinsi Bali yang menyatakan terdapat penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada hotel bintang dan non-bintang pada bulan November dan Desember 2025.

Di sisi lain, pasokan properti komersial Bali pada triwulan IV 2025 tetap solid. Hal ini tercermin dari Indeks Pasokan Properti Komersial triwulan N2025 tumbuh sebesar 0,69% (yoy) didorong oleh peningkatan pada segmen apartemen sewa sebesar 13,07% (yoy) dan hotel sebesar 0,77% (yoy). Kondisi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -0,07% (yoy).

Baca Juga  BI Pacu Digitalisasi Keuangan Daerah, Luncurkan Blueprint Kawasan Digital Tirta Empul di HLM TP2DD Gianyar

Sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan properti yang berkualitas, Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia senantiasa mendorong pembiayaan perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Dengan demikian, pasokan dan permintaan properti dapat terjaga sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Capaian Indikator Makro Tahun 2025, Tunjukkan Kinerja Sangat Baik

Published

on

By

indikator makro bali
Infografis capaian indikator Makro tahun 2025 di Bali. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diumumkan oleh pada tanggal 5 Februari 2026, pencapaian indikator makro hasil pembangunan Bali tahun 2025 menunjukkan kinerja yang sangat baik, melampaui target yang direncanakan dalam pembangunan sebagai implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan melalui keterangan tertulisnya pada Minggu (Redite Umanis, Menail), 8 Februari 2026 bahwa pencapaian kinerja tersebut diukur dengan 7 indikator, yaitu:

  1. Sesuai yang diperkirakan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 secara kumulatif sebesar 5,82%, meningkat sebesar 0,34% dibanding tahun 2024 yang sebesar 5,48%, merupakan peringkat ke-5 tertinggi secara nasional. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,82% juga merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 7 tahun terakhir.
  2. Pendapatan per kapita masyarakat Bali tahun 2025 mencapai Rp72,66 juta, meningkat sebesar Rp 5,34 juta dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp 67,32 juta.
  3. Tingkat kesenjangan ekonomi masyarakat Bali yang diukur dengan Indeks Gini Rasio Tahun 2025 sebesar 0,333, menurun dibanding tahun 2024 sebesar 0,348, yang artinya pendapatan masyarakat di Bali semakin merata dan semakin baik.
  4. Tingkat kemiskinan di Bali tahun 2025 adalah sebesar 3,42%, menurun sebesar 0,38%, dibanding tahun 2024 yang sebesar 3,80%. Tingkat kemiskinan di Bali terendah secara nasional.
  5. Tingkat pengangguran di Bali tahun 2025 adalah sebesar 1,45%, menurun sebesar 0,34%, dibanding tahun 2024 sebesar 1,79%. Tingkat pengangguran di Bali terendah secara nasional.
  6. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025 adalah sebesar 79,37, meningkat dibanding tahun 2024 sebesar 78,63. Pencapaian angka IPM Bali merupakan peringkat ke-5 tertinggi secara nasional.
  7. Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Bali tahun 2025 adalah sebesar 75,46 tahun, meningkat dibanding tahun 2024 sebesar 75,10 tahun. Pencapaian kinerja ini juga menunjukkan bahwa pembangunan Bali pada tahun 2025 telah berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan program sebagaimana yang direncanakan meliputi 6 Bidang Prioritas.
Baca Juga  BI Bali Bersinergi dengan PMI Wujudkan Kepedulian Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi Bali

Gubernur Koster menegaskan bahwa adapun 6 Bidang Prioritas tersebut yaitu: Bidang 1, Adat, Tradisi, Seni dan Budaya serta Kearifan Lokal; Bidang 2, Kesehatan, Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Jaminan Sosial dan Ketenagakerjaan; Bidang 3, Transformasi perekonomian dengan Ekonomi Kerthi Bali; Bidang 4, Infrastruktur Darat, Laut, dan Udara serta Transportasi; Bidang 5, Lingkungan, Kehutanan, dan Energi; dan Bidang 6, Bali Pulau Digital dan Keamanan Bali.

“Pencapaian kinerja yang sangat baik ini merupakan hasil kerja keras secara kolektif yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kota/Kabupaten, pelaku usaha, serta masyarakat Bali,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Pertumbuhan Ekonomi Bali Tumbuh Tinggi pada Triwulan IV 2025

Published

on

By

perekonomian Bali
Infrografis pertumbuhan ekonomi Bali Triwulan IV tahun 2025. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, perekonomian Bali pada Triwulan IV 2025 tumbuh kuat sebesar 5,86% (yoy). Capaian tersebut berada di atas nasional (5,39% yoy). Dengan realisasi ini, Bali menjadi salah satu provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, ekonomi Bali tumbuh tinggi pada 5, 82% (yoy), lebih tinggi dari nasional (5,11% yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa kondisi ini menunjukkan kinerja ekonomi Bali yang tetap kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh menguat sebesar 5,85% (yoy) dipengaruhi oleh pengeluaran transportasi, rekreasi dan budaya, serta penginapan dan hotel sejalan dengan aktivitas pariwisata yang lebih tinggi. Konsumsi pemerintah meningkat 10,73% (yoy) seiring peningkatan belanja pegawai serta belanja bantuan sosial baik dari APBN maupun APBD. “Sedangkan investasi (PMTB) tumbuh 5,47% (yoy) terutama pada subkomponen PMTB bangunan didukung peningkatan realisasi investasi PMA dan PMDN,’’ ujarnya.

Sementara itu, sebut Erwin, ekspor luar negeri tumbuh 5,43 % (yoy) seiring ekspor jasa oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara. Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Bali yang kuat didorong pertumbuhan semua LU. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terdapat pada LU Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh sebesar 8,90 % (yoy), didukung peningkatan kunjungan wisatawan.

Selanjutnya, LU Perdagangan tumbuh sebesar 5,97% (yoy), yang tercermin dari peningkatan aktivitas wisatawan dan perdagangan bahan baku konstruksi. Kemudian, LU Transportasi dan Pergudangan tumbuh 5,53%, didorong tingginya kunjungan wisatawan khususnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai. LU Konstruksi juga tumbuh 2,84% (yoy), sejalan dengan realisasi investasi. Berikutnya, LU Pertanian tumbuh 0,25 % (yoy) didorong oleh subsektor perkebunan (kelapa dan kakao) dan peternakan (telur ayam, daging ayam, dan daging sapi).

Baca Juga  Antisipasi Nataru, Sekda Dewa Indra Dorong Kolaborasi Pengendalian Inflasi

Erwin menegaskan bahwa ke depan, Bank Indonesia memprakirakan perekonomian Bali akan tetap tumbuh kuat pada triwulan I 202 6 seiring dengan optimisme konsumen yang tetap terjaga, realisasi investasi yang terus berlanjut, dan pertumbuhan sektor pariwisata. Pada triwulan I 2026 terdapat momentum HBKN Imlek, Nyepi, dan Ramadan -Idulfitri yang dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Sementara dari sisi pariwisata, peningkatan penerbangan internasional dan kegiatan MICE, serta penambahan akomodasi pariwisata baru turut mendorong peningkatan kunjungan wisata . Dari sektor pertanian, kebijakan penurunan HET pupuk subsidi, penggunaan bibit unggul, dan iklim yang lebih baik berpotensi menghasilkan hasil pertanian yang lebih tinggi. Selain itu, masih kuat nya konstruksi proyek swasta terutama terkait pariwisata dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali.

Lebih lanjut, kata Erwin, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan, Bank Indonesia merekomendasikan 5 (lima) strategi utama ‘Panca Kerthi’ yakni: i) Memperkuat sektor unggulan diluar sektor pariwisata sebagai new source of economy Bali melalui penguatan sektor pertanian, mendorong ekonomi kreatif, perluasan investasi berkualitas . ii) Mengakselerasi terwujudnya pariwisata yang berkualitas melalui perluasan dan diversifikasi destinasi wisata sesuai karakteristik daerah dan budaya lokal. iii) Mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat melalui penguatan sinergi dalam TPID dan GNPIP, optimalisasi rantai pasok melalui Perumda, perluasan KAD berkualitas, serta perluasan distribusi melalui berbagai gerai inflasi. iv) Meningkatkan akses pembiayaan yang lebih inklusif, salah satunya melalui pembiayaan kepada UMKM dan sektor prioritas. v) Memperluas dan mengakselerasi digitalisasi Sistem Pembayaran melalui perluasan penggunaan QRIS, pengembangan ekosistem digital UMKM, peningkatan edukasi keamanan transaksi.

“Melalui penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi, dan pemangku kepentingan terkait, Bank Indonesia berkomitmen mendukung berbagai inovasi serta kebijakan strategis daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya. (gs/bi)

Baca Juga  BI Bali Gelar Edukasi Budaya Cerdas Finansial di Era Digital Bersama PPPATK, Polda dan OJK

Loading

Advertisements
STIKOM Bali
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca