Badung, baliilu.com
– Ny. Putri Suastini Koster mengungkapkan kebanggaannya saat menghadiri ‘Gebyar
Pasar Minggu’ yang dilaksanakan manajemen Krisna Oleh-Oleh di Kuta, Kabupaten
Badung, Minggu (9/8-2020).
Di pasar yang melibatkan para petani itu, menyediakan
sejumlah bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Ratusan pengunjung ‘Gebyar Pasar Minggu’ mendapatkan bahan
sayuran yang segar dengan harga yang cukup murah. Hal ini karena yang berjualan
adalah pelaku petani yang langsung membawa hasil panennya kemudian bertransaksi
dengan para pembeli di pasar tersebut.
Sesaat setelah meninjau ‘Gebyar Pasar Minggu’, Ny. Putri
Koster mengharapkan kegiatan ini dapat memacu semangat pengusaha lainnya untuk
ikut menyiapkan pasar gotong-royong di wilayahnya masing-masing.
“Dengan demikian, kita dapat membantu upaya pemasaran
hasil panen para petani, di tengah lesunya daya beli masyarakat sebagai dampak
pandemi Covid-19,” ujarnya di antara para pengunjung yang bertransaksi untuk
mendapatkan bahan sayur segar, ikan, bumbu dapur dan lainnya.
Sejumlah kebutuhan pokok mulai dari jenis sayur dijual
dengan harga Rp 2.000-Rp10.000 per kg, telur dijual Rp 8.000 per 10 butir,
beras merah Rp 18.000 dan beras C4 seharga Rp 55.000 per kg, dan buah bisa dibeli
mulai dari harga Rp 7.000 sampai Rp 24.000 per kilogramnya.
Ny. Putri Koster bangga dengan kesempatan ini, di mana para
petani dapat berjualan langsung di halaman Krisna Oleh-Oleh dan memberi dampak
positif bagi warga sekitar untuk membeli kebutuhan dapur dengan harga yang
relatif terjangkau.
“Mari kita bergotong-royong membangkitkan perekonomian
masyarakat secara perlahan, sekaligus memberikan kesempatan pada petani untuk
menyalurkan hasil panennya kepada masyarakat umum, karena saat ini hasil
pertanian yang sebelumnya terserap oleh hotel dan restoran mengalami keanjlokan
karena tidak tersalurkan pemasarannya dengan baik,” ujar pendamping orang
nomor satu di Bali itu.
Seniman muntitalenta itu menyebutkan, harga jual hasil panen
petani yang disalurkan melalui tengkulak sangat jauh dengan harga jual di
pasaran pada umumnya. Dengan adanya wadah yang memberikan mereka tempat dan
lahan berjualan, maka para petani ini akan dapat langsung memberikan harga
dasar kepada masyarakat luas.
“Hal ini tentu saja memberikan keuntungan kepada kedua
belah pihak, yakni hasil panen petani terserap ke pasar dengan baik, dan bagi
konsumen juga diuntungkan dengan mendapatkan sayuran segar dan harga yang cukup
murah,” ujar Ny. Putri Koster.
Seperti yang diungkapkan I Made Sandi, seorang petani asal
Munduk Andong, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan yang merasa
sangat bersyukur masih ada pihak yang peduli dengan keadaan para petani.
“Bersyukur kami dapat menjual hasil panen yang sejak
wabah virus Corono cukup sulit untuk dapat menyalurkannya ke pasaran,”
ujarnya, berbangga.
Pihak penyelenggara ‘Gebyar Pasar Minggu’ menyatakan kegiatan
ini dimaksudkan untuk melakukan sinergitas antara pemerintah, pihak swasta dan
petani dalam rangka pemasaran yang sehat dengan kualitas yang baik dan harga
terjangkau. Pasar ini diharapkan menjadi momen bagi semua pihak untuk turut
menikmatinya, sehingga sayur organik juga bisa dibeli dengan harga murah.
Ny. Putri Koster menyebutkan, lewat pasar ini para petani
dapat langsung bertransaksi dengan para pembeli, namun jika keadaan sudah
normal kembali, maka persaingan pasti akan kembali terjadi sehingga ke depan
perlu dilakukan kesepakatan tentang harga jual komoditas pertanian.
Setelah kran pariwisata kembali dibuka, Ny. Putri Koster
mengharapkan perekonomian masyarakat Bali dapat kembali menggeliat dan
dibarengi dengan konsumsi sayur dan buah organik yang bebas kimia, sekaligus
mampu mensejahterakan petani dan masyarakat luas. (gs)