Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Ny. Putri Koster: Berupaya Berdayakan Perajin di Masa Pandemi Covid-19

BALIILU Tayang

:

de
NY. PUTRI SUASTINI KOSTER: Ketua Dekranasda Provinsi Bali.

Denpasar, baliilu.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini belum mereda, Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster terus berupaya memotivasi agar perajin di Bali tidak mati suri.

Bersinergi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali melakukan berbagai upaya motivasi, mulai dari pendampingan agar perajin tidak putus asa dan kehilangan semangat, pembinaan dalam menciptakan motivasi baru sekaligus ikut berlomba mengambil-alih peluang yang ada, terutama penyediaan masker saat pandemi yang memang sedang dibutuhkan semua orang.

Ny. Putri Koster mengungkapkan hal itu saat didaulat sebagai narasumber, mengangkat tema “Memberdayakan Perajin di Masa Pandemi Covid-19”, di salah satu stasiun TV di Denpasar, Kamis (4/6-2020).

Sinergitas yang dibangun, dimana tugas Dekranasda kepada pelaku UMKM saat pandemi ini dipadukan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, terus mengawal perajin Bali mulai dari sebelum industri dikerjakan, setelah produk jadi hingga pada pemasaran yang disalurkan kemana saja.

Dengan memastikan pengantaran produk, hasil produk kesenian dan hasil perajin seniman akan dipamerkan melalui fashion show dengan melibatkan para pemilik karya dan modelnya. Dengan maksud, memperkenalkan produk kesenian dan inovasi terbaru yang nantinya akan disampaikan kepada konsumen.

Agar lebih leluasa memperkenalkan produk lokal, ungkap Ny. Putri Koster, Dewan Kerajinan Nasional Daerah Bali yang tahun lalu sempat masuk ke dalam lima (5) besar Pembina Teladan Dekranas Award 2019 memilih aktif melaksanakan pameran produk kerajinan di daerah Bali dan mengundang buyer untuk datang langsung dan mengenal serta melihat langsung produksi lokal dari perajin yang ada.

Dekranasda Provinsi Bali, kata Ny. Putri Koster memiliki banyak jenis produksi mulai dari aksesoris, lukisan, hingga kerajinan home made, dengan konsep mengalir dari kita untuk kita, maka pada waktu ke depan Bali diharapkan menggunakan pruduksi daerahnya sendiri.  Selain itu di saat pandemi ini diharapkan menjadi momentum lebih mengenal warisan budaya leluhur.

Baca Juga  Luncurkan GrabProtect di Bali, Hadirkan Standar Kebersihan Terbaik bagi Pelanggan

Ketua Dekranasda Bali ini memiliki keinginan gebrakan untuk kembali mengamankan dan melestarikan produk lokal kita, khususnya dengan mengutamakan bahan yang bagus dengan hasil yang berkualitas tinggi. Sehingga, mampu mengangkat harga di tengah persaingan global. Keinginan ini menjadi hal utama yang akan dilakukan Ny. Putri Suastini Koster selaku Ketua Dekranasda Bali.

“Jika berbicara kualitas maka perajin ditekankan untuk mengingat penggunaan bahan dan sasaran pemasaran ke depan, sehingga kualitas mampu menentukan harga jual,” ungkap Ny. Putri Koster.

Tidak jauh berbeda, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Wayan Jarta menambahkan di tengah pandemi Covid-19 yang mematikan hampir seluruh sektor perekonomian, pihaknya bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Darah Bali berupaya me-manage bangkitnya perajin bukan hanya dari satu sektor saja, tetapi dari empat lini baik itu pariwisata, koperasi, pertanian dan juga IKM. Sehingga pembangunan industri di Bali ini terus melaju dan berkembang yang tidak lupa harus disesuaikan dengan pelestarian budaya dengan menghasilkan produk yang berkualitas.

Selain itu kebutuhan pasar juga harus menjadi hal penting untuk diketahui sebelum memproduksi barang kerajinan dengan maksud dapat disesuaikan dengan produksi perajin. Hal ini ditujukan agar pendampingan yang maksimal dapat berjalan beriringan, karena saat ini di Bali hanya memiliki industri kecil (home industri) sehingga untuk selanjutnya keikutsertaan dinas dalam memfasilitasi pemasaran di lapangan sangat penting.

de
NY. PUTRI KOSTER: Saat mengisi acara di salah satu stasiun TV di Denpasar.

Peran Disperindag salah satunya memfasilitasi pemenuhan bahan baku produksi selain pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pembinaan dan pendampingan, dengan tujuan dapat menghasilkan produksi yang menembus ekspor luar negeri dengan ijin dan hak paten. Dari segi permodalan juga dibantu untuk membuat pembukuan yang baik dengan membuat pengelolaan keuangan yang transparan dan kredibel.

Baca Juga  Hadiri Upacara Ngeratep, Bupati Giri Prasta Komit terhadap Pelestarian Budaya

Untuk saat ini anggaran Dekranasda digunakan pemenuhan kebutuhan pokok bagi warga yang kurang mampu termasuk pemenuhan masker dengan cara memberdayakan perajin yang ada di Bali, namun tetap memperhatikan protokol kesehatan (jenis kain, ketebalan masker dan kelayakan guna bagi warga).

Ketua Dekranasda ingin menampilkan agar masyarakat Bali mengutamakan penggunaan produk lokal, dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan konsumen lokal asal produksi daerah. “Contohnya penggunaan kain songket oleh warga di wilayah tertentu, dengan bahan benang hasil pemintalan lokal mengutamakan kualitas dan warna yang cerah sehingga warga dan daerah tersebut memiliki identitas tersendiri dan lain dari daerah yang lainnya,” imbuh Ny. Putri Koster.

Untuk saat ini sedang digalakkan pengerjaan masker, hand sanitizer dan alat pelindung diri (APD) dengan maksud ke depan pemenuhan kebutuhan di bali dapat dilakukan dengan maksimal.

Di akhir acara Ny. Putri Suastini Koster menambahkan bagi yang berada di ranah interpreneur maka setiap orang harus berdikari dan berinovasi, dalam kondisi apa pun jika kita punya kemauan maka akan mampu menjadi seseorang yang kreatif dengan menciptakan karya baru yang berguna bagi orang banyak, contohnya masker yang dimodifikasi dengan berbagai model dan warna, sehingga menjadi fashionable dan menunjang harga, mengingat ke depan masker akan menjadi kebutuhan wajib pakai saat di luar rumah.

“Kita bangkitkan optimisme sehingga mampu berkarya dan berdiri sendiri, karena melalui kemauan yang keras baik saat pandemi ataupun pasca-pandemi akan dapat mewujudkan skema yang pemerintah sedang rancang, namun masyarakat diharapkan tetap aman dan produktif,” tutupnya. (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Provinsi Bali Agustus 2026 Meningkat namun Tetap Terjaga pada Rentang Sasaran

Published

on

By

Infografis inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026 yang menunjukkan tren inflasi bulanan dan tahunan berdasarkan rilis BPS.
Infografis inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 September 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm), berbeda arah dibandingkan bulan Juli yang mengalami deflasi sebesar 0,51% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali terutama didorong oleh masuknya peak season pariwisata yang meningkatkan permintaan tiket pesawat dan bahan pangan seperti daging ayam ras di tengah permintaan yang tinggi dari penyelenggaraan pernikahan, upacara adat dan ngaben, serta normalisasi permintaan MBG pasca libur sekolah.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,42% (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,45% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19% namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.

Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026 yakni Kabupaten Buleleng dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12% (mtm) atau 3,61% (yoy). Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,65% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,64% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,35% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,86% (yoy), dan selanjutnya kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,33% (mtm) atau inflasi tahunan 3,59% (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis Rabu (2/9/2026) mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Agustus 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, dan baju kaos tanpa kerah/t-shirt pria.

Achris Sarwani lanjut menyampaikan Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain berlanjutnya permintaan barang dan jasa yang tinggi pada periode peak wisatawan mancanegara (Juli – September), berlanjutnya musim kemarau panjang disertai El Nino kuat yang memengaruhi produksi pertanian, serta tetap tingginya biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.

Baca Juga  Sekaa Yowana Setia Bakti Gelar Penyemprotan Disinfektan Massal di Desa Adat Lepang

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, sebut Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Pemerintah Targetkan Ekonomi Tumbuh 6 Persen pada 2027

Published

on

By

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar RUU APBN TA 2027 di Jakarta, Selasa (1/9).
RAKER: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar RUU APBN TA 2027 di Jakarta pada Selasa (1/9). (Foto: Hms Kemenkeu)

Jakarta, baliilu.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027 dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan kesinambungan fiskal. Target tersebut menjadi arah utama kebijakan ekonomi dan fiskal dalam penyusunan RAPBN 2027, yakni untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mencapai 6 persen di tahun 2027, dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7 persen,” ujar Menkeu dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar RUU APBN TA 2027 di Jakarta pada Selasa (1/9).

Menurut Menkeu, pencapaian target tersebut akan didukung kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan Danantara. Investasi pemerintah akan berperan sebagai katalis, sementara sektor swasta didorong menjadi motor utama investasi dan Danantara berkontribusi pada investasi di sektor strategis dan hilirisasi.

Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pada semester I 2026, ekonomi tumbuh 5,45 persen dengan inflasi yang tetap terkendali. Sementara itu, hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen dan defisit APBN berada pada level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Ketahanan ekonomi dan solidnya kinerja fiskal yang terus terjaga sepanjang 2026 menjadi landasan yang kuat bagi perumusan kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027,” kata Menkeu.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Menkeu mengatakan bahwa pemerintah akan memperkuat stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian inflasi, dukungan terhadap suku bunga yang kompetitif, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan dan kepastian bagi dunia usaha.

Baca Juga  Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster: PKK Mesti Berperan Aktif Sosialisasikan Kebijakan Pemerintah

“Stabilitas ini menjadi pondasi penting untuk menciptakan kepastian, meningkatkan kepercayaan pelaku ekonomi, dan mendorong investasi secara berkelanjutan,” ujar Menkeu.

Sejalan dengan upaya memperkuat investasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, Pemerintah juga terus mendorong optimalisasi sektor strategis, khususnya minyak dan gas bumi, melalui peningkatan lifting, percepatan pengembangan cadangan migas, pemanfaatan teknologi, serta perbaikan iklim investasi hulu migas melalui kepastian berusaha, pemberian insentif fiskal, dan penyederhanaan regulasi.

Menkeu mengungkapkan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi akan tetap diiringi dengan komitmen menjaga kesehatan fiskal. Pemerintah melanjutkan reformasi fiskal melalui optimalisasi pendapatan, peningkatan kualitas belanja, serta pembiayaan defisit yang dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.

“Berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memperkuat investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi tersebut harus didukung oleh APBN yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan,” ujar Menkeu.

Komitmen menjaga APBN yang sehat, prudent, dan berkelanjutan tersebut tercermin dalam keseluruhan postur RAPBN 2027. Pendapatan negara direncanakan sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun, dengan defisit dijaga pada 2,40 persen terhadap PDB.

“Postur RAPBN ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan untuk mendukung akselerasi pembangunan dan komitmen menjaga kesinambungan fiskal,” terang Menkeu dikutip dari laman kemenkeu.go.id.

Adapun asumsi dasar ekonomi makro 2027 meliputi pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen, suku bunga SBN tenor 10 tahun 6,9 persen, dan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, Indonesian Crude Price (ICP) ditetapkan sebesar 75 dolar AS per barel, dengan lifting minyak bumi 612,5 ribu barel per hari dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari.

Pertumbuhan ekonomi pada 2027 selanjutnya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi 6-6,5 persen, tingkat pengangguran terbuka 4,3-4,87 persen, dan rasio gini 0,362-0,367.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Terima Lencana Kehormatan Keteladanan sebagai Anak Pejuang

“Stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang solid yang didukung oleh kebijakan fiskal yang efektif menjadi faktor pendorong tercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Menkeu. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Juli 2026, Optimisme Penjualan Eceran Tetap Kuat Ditopang High Season Pariwisata dan Tahun Ajaran Baru

Published

on

By

Infografis Indeks Penjualan Riil Provinsi Bali yang dirilis Bank Indonesia
Infografis Indek Penjualan Riil Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pada Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 126,4 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,5% (mtm), terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada kategori Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 2,2% (mtm), Makanan, Minuman dan Tembakau 2,0% (mtm), serta Barang Lainnya sebesar 0,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode libur sekolah serta persiapan berbagai aktivitas pariwisata yang berlangsung pada musim wisata pertengahan tahun. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat, sehingga turut menopang kinerja perdagangan dan penjualan eceran di Bali.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juli 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 128,7, atau meningkat 1,8% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori Sandang, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat memasuki periode ajaran baru serta momentum high season. Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu September 2026 dan Desember 2026 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 dan Desember 2026 masing-masing sebesar 192 dan 200. Sementara itu, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Inflasi yang tetap terkendali tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat, sehingga memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh dan menopang aktivitas perdagangan eceran.

Baca Juga  Sekaa Yowana Setia Bakti Gelar Penyemprotan Disinfektan Massal di Desa Adat Lepang

Optimisme pelaku usaha tetap terjaga sebagaimana tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang berada di level optimis (>100). IEP enam bulan mendatang (Desember 2026) meningkat menjadi 198 dari 190 pada survei sebelumnya. Sementara itu, IEP tiga bulan mendatang (September 2026) tercatat 184, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi Agustus 2026 sebesar 190. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 1,47% (yoy).

Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapai inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca