Denpasar, baliilu.com – Sebagai Ibu Kota Provinsi Bali dengan jumlah penduduk kurang lebih 960 ribu jiwa, semestinya Kota Denpasar memiliki PAD lebih tinggi dari kabupaten lain yang jumlah penduduknya lebih kecil.
Hal itu dikatakan Calon Walikota Denpasar Ngurah Ambara didampingi Ketua Bapelu Demokrat Provinsi Bali Gede Ngurah Wididana atau dikenal Pak Oles kepada awak media, Rabu (11/11) di Posko Pemenangan Jalan Tulip No. 15 Denpasar setelah sebelumnya juga menyampaikan ketika bertemu dengan warga Banjar Sembung Sari, Desa Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Selasa (10/11) malam.
Terkait dengan kurang maksimalnya PAD Denpasar, Paslon AMERTA Nomor Urut 2 Gede Ngurah Ambara Putra meyakinkan bahwa potensi-potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih banyak yang bisa digali untuk Pemerintah Kota Denpasar sehingga bisa mensejahterakan masyarakat.
Ngurah Ambara mencontohkan perkembangan Kabupaten Gianyar. Sesuai dari hasil data tahun 2019, tax ratio PAD Kota Denpasar hanya sebesar 1,8% (berbanding produk domestik regional bruto). Namun kalah dengan tax ratio Kabupaten Gianyar yang mencapai 3,47%.
Jika dilihat dari hasil data PAD Kota Denpasar, tahun 2019 sekitar Rp 1,01 triliun dari jumlah penduduk 960 ribu dengan PDRB Rp 55,7 triliun. Sementara PAD Kabupaten Gianyar juga hampir sama yaitu Rp 989,1 miliar dari 560 ribu penduduk dengan PDRB Rp 28,5 triliun. “Sudah jelas Kabupaten Gianyar lebih baik produktivitas PAD dari Kota Denpasar. Ini yang mesti digali ke depannya. Masak Kota Denpasar PAD-nya terus stagnan,” terangnya.
Ngurah Ambara selaku Calon Walikota Denpasar yang diusung Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai NasDem menyampaikan terkait potensi bonus demografi maupun potensi ekonomi pariwisata yang dimiliki Kota Denpasar seharusnya PAD bisa ditingkatkan lagi. “Jika terpilih menjadi Walikota Denpasar, maka yang utama akan dioptimalkan adalah peningkatan PAD sebagai stimulus meningkatkan daya saing kota Denpasar sebagai Ibu Kota Provinsi Bali, dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat seperti pasar agar terus bergairah,” ucapnya.
Dikatakan, Kota Denpasar memiliki sumber-sumber dan pusat ekonomi yang cukup banyak. Salah satunya pasar tradisional atau pasar rakyat. Pasar rakyat ini menjadi indikator menggeliatnya perekonomian daerah.
“Apalagi di pasar tradisional terdapat UMKM yang ke depanya harus terus digenjot dan diperhatikan. Melalui apa, pastinya melalui visi misi Paslon AMERTA untuk bisa mewujudkan Denpasar Berseri (Bersih, Sejahtera dan Indah berlandaskan Tri Hita Karana), Smart City, Berbudaya, dan Berdaya Saing,” imbuhnya.
Sementara dari Calon Wakil Walikota Denpasar Made Bagus Kertha Negara menambahkan, Kota Denpasar sangat perlu adanya perubahan. Salah satunya yakni manajemen tata kelola pemerintahan harus berbasis digital. “Karena pemerintahan yang dijalankan dengan model digitalisasi akan berjalan lebih efektif, efisien, akuntabel dan transparan,” tambahnya.
Made Bagus Kertha Negara juga mengimbuhkan kalau dari sekian kegiatan dan kunjungan yang dilakukan oleh Paslon AMERTA rata-rata masyarakat Kota Denpasar menginginkan perubahan terkait infrastruktur dan layanan birokrasi. Salah satunya terkait masalah kependudukan dan penyaluran bantuan yang tidak merata.
Oleh karena itu, manajemen tatakelola pemeritahan harus berbasis digitalisasi. Apalagi Kota Denpasar menuju Kota Metropolitan berbasis digital, sehingga kota Denpasar bukan saja dikenal sebagai Kota Budaya nantinya tapi juga sebagai kota metropolitan digital.
“Karena itu sebagai kota metropolitan, maka tata kelola pemerintahan akan dibangun berbasiskan digitalisasi di semua aspek kehidupan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk untuk mengurangi kebocoran-kebocoran PAD,” pungkasnya. (*/eka)