Denpasar, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyatakan setuju mengangkat keberhasilan Bali dalam menangani Covid-19 sebagai salah satu promosi pariwisata. Melihat perkembangan kasus hingga saat ini tingkat kesembuhan sebesar 65% tertinggi di Indonesia dengan angka kematian sebesar 1,2% terendah di Indonesia.
“Ini bisa meyakinkan wisatawan untuk datang ke Bali,” ujar Cok Ace saat melakukan
Rakor Persiapan Pemulihan Pariwisata di Bali di ruang rapat Praja Sabha, Kantor
Gubernur Bali, Denpasar, Kamis (14/5-2020) siang. Rakor tersebut mengagendakan perumusan dan sinergi strategi
bersama untuk memulihakan pariwisata nasional khususnya Bali.
Akan tetapi, Wagub Cok Ace berharap pembukaan wisata di Bali
tidak dilakukan secara serentak, bisa dimulai dari Nusa Dua terlebih dahulu.
“Mengingat banyak wisatawan yang sudah sangat rindu dengan Bali, kita bisa buka
ITDC di Nusa Dua terlebih dahulu. Mengingat di sana secara fisik sudah
terisolasi dan jauh dari pemukiman dan dengan fasilitas yang sudah lengkap,”
ujarnya.
Jika trend covid-19 di seluruh dunia sudah 0%,
kita bisa buka secara bertahap beberapa spot wisata di Bali, seperti spot Tanah
Lot atau Monkey Forest di Ubud. Sebagai catatan pembukaan spot tersebut tidak
diikuti dengan pembukaan area di sekitarnya, untuk memaksimalkan social distancing terlebih dahulu.
Ia juga yakin Bali akan siap menerima
wisatawan lagi setelah pandemi ini. Karena Bali sudah membuktikan selalu
bangkit pasca musibah, seperti bom Bali dan meletusnya Gunung Agung.
Sementara itu Pihak Kementerian Pariwisata yang dipimpin oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan
Giri Adnyani, menyatakan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah
menimbulkan dampak yang signifikan kepada seluruh aspek perekonomian, termasuk
pariwisata.
“Khusus Provinsi Bali, dampak tersebut sangat terasa dan
berpengaruh mengingat Bali adalah destinasi pariwisata utama. “Untuk itu perlu
segera dilakukan langkah-langkah yang cepat dan tepat guna memulihkan seluruh
destinasi pariwisata yang terdampak,” ujarnya.
Untuk itu Kementerian Pariwisata telah merumuskan program CHS (Cleanliness, Health, Safety) sebagai tagline pariwisata pasca-pandemi Covid-19. “Saat
ini kita memasuki dunia yang new normal, segala kebiasaan baru yang dulunya
tidak dianggap normal saat ini menjadi normal. Untuk itu implementasi CHS
sangat tepat dilakukan sekarang,” jelasnya.
Cleanliness atau kesehatan mencakup kebersihan objek wisata serta pintu masuk, health atau kesehatan berupa pengecekan
kesehatan para wisatawan serta safety
atau keamanan yang mencakup keamanan wisatawan dan masyarakat Bali.
Bali dijadikan pilot project mengingat
provinsi ini menjadi yang terbagus dalam menekan dan mengatasi pandemi
Covid-19. Saat ini Bali menjadi provinsi terbaik dalam menekan kematian akibat
virus tersebut, yaitu sebesar 1,2%, dan tingkat kesembuhan yang tinggi. Bali
juga bisa menekan angka transmisi lokal dibandingkan provinsi lain di
Indonesia, padahal Bali sebagai daerah pariwisata dunia yang hingga bulan maret
lalu masih dikunjungi oleh berbagai wisatawan manca negara.
Keberhasilan Bali sebagai provinsi yang mampu
mengendalikan virus dan telah mendapatkan apresiasi oleh Gugus Tugas Nasional ini juga bisa
dijadikan nilai jual untuk pariwisata Indonesia, khususnya Bali.
Adapun berbagai strategi yang perlu
diperhatikan untuk program ini adalah: protokol kesehatan yang dibuat oleh
Dinas Kesehatan terkait bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan, kesiapan
wilayah Bali seperti entry point dan
lokasi wisata dan destinasi.
Adnyani juga menambahkan
saat ini kurva Covid-19 sudah menuju datar (flat) dan dia berharap semoga cepat
menurun. Jika trend positif ini terus berlanjut maka Kementerian Pariwisata telah
membuat program yang dibagi menjadi dua periode, yaitu bulan Juni-Oktober disebut
sebagai gaining confidence yang
mencakup persiapan dan revitalisasi destinasi, perencanaan program promosi
serta bantuan terhadap para pelaku pariwisata.
Mulai bulan Oktober 2020 disebut sebagai appealing yaitu pembukaan destinasi
pariwisata secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat,
promosi, penyelenggaraan event dan MICE Roadshow dan Media Campaign. Sehingga
pada tahun 2021 diharapkan pariwisata Indonesia bisa normal kembali.
Adapun provinsi yang menjadi prioritas untuk
program ini adalah Bali, Yogya dan Kepulauan Riau. Setelah berhasil maka akan
dilanjutkan dengan provinsi-provinsi lainnya.
Wagub Cok Ace sangat mengapresiasi program
Kementerian
Pariwisata, apalagi Bali menjadi prioritas dalam bersama dengan 3 provinsi
lainnya. Ia
juga menekankan pembukaan pariwisata kelak, harus mematuhi protokol kesehatan
dan keamanan yang sesuai dengan instansi terkait. (*/gs)