Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Pidato Gubernur Bali, Memuliakan Keluhuran Kebudayaan Bali Guna Meningkatkan Kualitas Kehidupan Krama Bali Niskala-Sakala

BALIILU Tayang

:

de
Gubernur Bali Wayan Koster. (Foto: Ist)

Tabanan, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, Bali memiliki warisan adiluhung berupa Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya, serta Kearifan Lokal yang sangat kaya, unik, unggul, agung, dan luhur. Adat Istiadat Bali menyatukan Manusia/Krama atau masyarakat Bali dalam tata-titi hukum adat, kebudayaan, tata pemerintahan, dan tata kemasyarakatan. Kebijaksanaan luhur hukum adat menata Krama Bali dalam dimensi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Etik dan etos, serta swagina Krama Bali membentuk kebudayaan yang khas, lentur, dan berdayaguna dalam membangun kesejahteraan bersama. Tata pemerintahan Desa Adat dikelola dalam semangat gotong-royong sesuai dengan linggih, sesana, swadharma, dan swadikara.

‘’Adat Istiadat Bali yang terlembagakan dalam wadah Desa Adat sejak ribuan tahun telah menjadi benteng pertahanan peradaban Bali dari berbagai bentuk ancaman, guncangan, dan intervensi serta persaingan global,’’ demikian pidato pembuka Gubernur Bali Wayan Koster yang disampaikan pada, Sabtu (Saniscara Wage, Dukut), 19 Maret 2022 di Pura Luhur Batukau, Penebel, Tabanan. Teks pidato Gubernur Bali secara resmi disampaikan kepada awak media online, pada Senin (Soma Umanis, Watugunung), 21 Maret 2022.

Gubernur Koster dalam pidatonya memaparkan, pada setiap Desa Adat terdapat beragam tradisi luhur yang terwarisi turun-temurun. Ragam tradisi berupa permainan rakyat (dedolanan), olahraga (cacepetan), pengobatan (usadha), pengetahuan (kawicaksanaan), arsitektur (undagi), kuliner (boga) dan tradisi lisan (satua) telah terwarisi sebagai sarana membangun jiwa dan raga Krama Bali. Pada beragam tradisi Bali tersebut terkandung nilai-nilai universal, sehingga kecakapan dan keterampilan Krama Bali di bidang tradisi dapat menjadi media untuk berprestasi baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Selain itu, tradisi Bali seperti usadha dan kuliner juga dapat dikembangkan menjadi industri produk olahan yang berdaya saing.

Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini mengatakan, nilai tradisi juga terwujud dalam seni-budaya yang merupakan kekayaan genuine Bali, antara lain: Seni Tari (Sasolahan), Seni Karawitan (Tetabuhan), Seni Pedalangan (Reringgitan), Seni Lukis (Meranggi), Seni Patung (Nogog), Seni Kriya (Pepatran), Bahasa-Aksara-Sastra (Nyastra), Desain (Reriptan), dan Busana (Wewastran). Kesenian Bali yang menyatu dalam tata-titi/tatanan kebudayaan Bali berfungsi baik sakral (Wali), semisakral (Bebali), maupun profan (Balih-balihan), telah menarik perhatian, kekaguman, dan kecintaan masyarakat dunia terhadap Bali. Hal ini menyebabkan Bali menjadi pulau yang sangat terkenal di dunia (Kaloktah ring Satungkeb Bhuwana). Ragam karya, capaian estetika, beserta teknik artistik yang khas, detail, berkarakter, mewujud dalam sistem pengetahuan yang dialihgenerasikan dalam tata-titi kemasyarakatan Desa Adat bahkan telah menjadi sumber pengetahuan masyarakat berbagai negara.

‘’Pewarisan Seni-Budaya Bali menjadi tanggung jawab geneologis Krama Bali dari zaman ke zaman, karena bakat seni-budaya bagi masyarakat Bali merupakan titipan Bhatara Sasuhunan, Guru-Guru Suci, Leluhur, dan Lelangit kepada setiap generasi Bali,’’ ujar Gubernur.

Dikatakan, peneguhan geneologis Krama Bali senantiasa ditopang warisan kearifan lokal yang suci, luhur, dan agung, diantaranya: tata nilai, norma, kebijaksanaan luhur, upakara dan upacara. Kearifan lokal telah menyatu padu dalam sanubari masyarakat Bali. Setiap pribadi manusia Bali sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh, dewasa, tua hingga meninggal dunia dituntun, disucikan, serta dimuliakan melalui tata-titi kearifan lokal Bali sehingga terbentuk pribadi berkarakter budi luhur. Upakara dan upacara menjadi tata-titi kehidupan yang mesti dilaksanakan sebagai wujud dreda bhakti kepada Hyang Widhi Wasa, Bhatara Sasuhunan, Guru-Guru Suci, Leluhur, dan bukti welas asih kepada Alam Semesta beserta Isinya.

Gubernur yang jebolan ITB ini memaparkan, pada setiap wujud Dreda Bhakti, Krama Bali mempersembahkan upakara. Upakara merupakan simbol-simbol suci, wujud ekspresi, wahana, sekaligus sarana untuk mendekatkan diri kepada Hyang Pencipta, Guru-Guru Suci, Leluhur, Sesama, dan Alam Semesta. Upakara dilaksanakan/dilakoni dengan landasan tulus ikhlas, semangat kebersamaan, Desa Kala Patra, Desa Mawacara, dan menjunjung nilai Kebenaran (Satyam), Kesucian (Siwam), dan Keindahan (Sundaram). Upakara dari yang Alit, Madya, dan Agung/Utama dirangkai dari hasil bumi dan swagina Krama Bali, seperti: berbagai jenis dedaunan, bunga, buah, akar, batang, duri, umbi-umbian, telur, olahan daging, olahan sayur, dan olahan jajan. Upakara dijaga kerajegannya dengan dasar Tatwa, Ajaran, dan Etika yang tersurat dalam Pustaka Suci Lontar, diantaranya: Lontar Pelutuk Banten, Yadnya Prakreti, Widhi Sastra, Dharma Caruban, dan berbagai Dresta Lokal lainnya di Bali. Bali mewarisi bermacam jenis upakara yang sakral, suci, dan indah, dari Canang Sari, Pejati, Soroan, Gebogan, Pajegan, Dangsil, Gayah, Sarad, Pulogembal, hingga Bagia Pulakerti dan Panyejeg.

Persembahan upakara dilaksanakan melalui Upacara Yadnya yang dipimpin oleh Sulinggih atau Pamangku. Upacara Yadnya didasarkan pada siklus: wewaran, pawukon, sasih, dan tahun. Mulai dari Lima Harian (setiap Kliwon), Lima Belas Harian (Kajeng Kliwon), Tiga Puluh Harian (Purnama dan Tilem), Tiga Puluh Lima Harian atau Satu Bulan Bali (setiap Tumpek), Enam Bulanan atau 210 Hari Sekali (seperti Galungan; Kuningan; Saraswati; Pagerwesi; dan lain-lain), Setahun Sekali (Ngusaba, Nyepi), 10 Tahun Sekali (Pancawali Krama), 100 Tahun Sekali (Eka Dasa Rudra), sampai 1.000 Tahun Sekali (Baligya Marebhu Bhumi). Upacara yadnya dilaksanakan dalam skala tempat (Satuan Palinggih), Ruang (Pura, Setra, Perempatan/Catusphata atau Pertigaan, Pantai, Laut, Danau, Hutan, Mata Air, Sawah, dan Tegalan), dan Wilayah (Pekarangan, Desa Adat, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Negara). Berdasarkan jenis, Upacara Yadnya meliputi: Yadnya untuk memuliakan Hyang Pencipta (Dewa Yadnya), memuliakan Leluhur (Pitra Yadnya), memuliakan Guru-Guru Suci (Rsi Yadnya), memuliakan Sesama (Manusa Yadnya), dan untuk memuliakan Alam Semesta (Butha Yadnya). Pada setiap pelaksanaan Upacara Yadnya ditampilkan seni-budaya sakral, yakni: Tarian Sakral (seperti: Tari Sanghyang, Tari Rejang, Tari Baris, Topeng Sidakarya, dan/atau Wayang Lemah), Gamelan Sakral (seperti: Selonding, Gong Gede, Saron, dan lain-lain), Nyanyian Sakral (seperti: Kidung, Wirama, Palawakya, dan lain sebagainya). Selain upakara yang meliputi berbagai jenis banten juga dilengkapi wahana ritus: Sanggar Surya, Sunari, Penjor, Lelontek, Pangawin, Bebandrangan, Bade, Jempana, dan lain-lain. Pada momen bersamaan juga diusung Pralingga, Pratima, Pusaka dan Arca-arca Suci.

Baca Juga  Wayan Koster Ikuti Prosesi ''Pakelem'' dan ''Nuwur Tirtha'' di Danau Batur

Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan, Upakara dan Upacara Krama Bali memiliki tata-titi sangat unik yakni menyatukan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya dan Kearifan Lokal. Upakara dan Upacara yang sangat unik ini dilakukan sebagai wujud rasa bhakti dan terima kasih kehadapan Hyang Pencipta, Guru-Guru Suci, dan Leluhur serta welas asih kepada Alam Semesta beserta isinya. Bersamaan dengan itu keberadaan Upakara dan Upacara menjadi perekat kohesi sosial Krama Bali dari zaman dahulu hingga kini, sekaligus memutar roda perekonomian masyarakat. Banyak industri kecil dan menengah serta usaha mikro kecil dan menengah milik Krama Bali yang bergerak di bidang produksi, distribusi, jasa, dan jual beli sarana upacara. Penguatan ekosistem Upakara dan Upacara Dresta Bali telah ditata dari hulu sampai hilir. Di hulu, Pemerintah Provinsi Bali Bersama Desa Adat saling bersinergi dalam pengembangan Taman Gumi Banten; konservasi tanaman langka endemik Bali untuk sarana upacara dengan memanfaatkan telajakan pekarangan rumah dan tanah palaba milik Desa Adat. Di tengah, dilakukan sinergi Majelis Desa Adat se-Bali dengan berbagai lembaga terkait di semua tingkatan dalam sosialisasi, pembinaan, serta pelatihan kepada Serati Banten. Di hilir mulai dikembangkan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) dalam unit usaha penyediaan sarana Upakara dan Upacara Dresta Bali.

Gubernur yang mantan anggota DPR RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan, berefleksi dari sejarah peradaban Bali yang panjang, bahwa keberadaan Upakara dan Upacara yang menyatu-padu langsung dengan seluruh Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya, serta dilandasi Kearifan Lokal yang luhur dan suci terbukti tidak menjadikan Krama/Masyarakat Bali kekurangan pangan dan miskin. Sebaliknya melalui Upakara dan Upacara yang menyatu padu dalam Kebudayaan Bali justru membuat Alam Bali menjadi lestari; Krama Bali memiliki jati diri, berkarakter, dan berkepribadian, serta kreatif-inovatif; dan Kebudayaan Bali menjadi semakin berkembang. Aktivitas Upacara terbukti telah mampu mendorong perekonomian lokal Krama Bali terus tumbuh, serta telah menjadikan Krama Bali sejahtera.

Baca Juga  Gubernur Bali Wayan Koster dan Wagub Cok Ace Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia Ke-77 dan Selamat Hari Jadi Provinsi Bali Ke-64

‘’Upakara dan Upacara Dresta Bali benar-benar merupakan pondasi eksistensi peradaban Bali sepanjang zaman, yang telah teruji menjadikan Bali eksis dan survive dengan kokoh, lentur, dan berkelanjutan serta memberi manfaat kesejahteraan dan kebahagiaan Krama Bali secara niskala-sakala dari dahulu sampai saat ini, berlanjut sampai masa mendatang, sepanjang zaman. Inilah tata-titi kehidupan Krama Bali yang telah diwariskan oleh leluhur yang harus kita jaga bersama keberlanjutannya sepanjang zaman,’’ ucap Gubernur yang juga menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini.

‘’Bayangkan, betapa tidak mudah Guru-Guru Suci kita menentukan lokasi pura di puncak-puncak gunung, betapa sulitnya pendahulu/panglingsir kita dalam membangun pura di puncak-puncak gunung itu, berikut betapa loyal dan konsisten Krama Bali dalam melaksanakan upacara piodalan atau pujawali dengan perangkat upakara yang lengkap, yang dilaksanakan secara berkala sejak ribuan tahun hingga saat ini. Tidak pernah sekali pun, Beliau mengeluh, lelah, menyerah, apalagi secara sengaja mengabaikan dan meninggalkan upakara dan upacara suci tersebut. Tantangan, masalah, dan kondisi yang dihadapi justru semakin menebalkan rasa bhakti Beliau kepada Hyang Maha Pencipta. Spirit dari seluruh rangkaian perjuangan dan wujud bhakti Guru-Guru Suci, Leluhur, dan Panglingsir Bali inilah yang mesti kita hormati, kita junjung tinggi, kita muliakan dengan meneladani dalam sikap dan semangat hidup kita bersama. Alangkah tidak bijak, jikalau sampai berani menyatakan bahwa Upakara dan Upacara Suci itu sebagai bentuk pemborosan, pemiskinan, apalagi sampai menghasut orang untuk meninggalkan tata-titi warisan Upakara dan Upacara Suci ini,’’ kata Gubernur.

Gubernur Koster menegaskan, sungguh merupakan tindakan tidak terpuji mengagung-agungkan budaya luar, berikut membawa budaya luar itu ke Gumi Bali, membenturkan dengan budaya Bali, apalagi sampai meninggalkan dan menenggelamkan Kebudayaan Bali. Hal ini benar-benar bertentangan dengan masyarakat dunia yang justru sangat mengagumi, mencintai, dan menghormati Kebudayaan Bali. Bahkan mereka sampai berulang kali mengunjungi Bali hanya untuk melihat kekayaan, keunikan, dan keunggulan Kebudayaan Bali.

Dalam arus deras dinamika zaman secara lokal, nasional, dan global saat ini, Bali tengah menghadapi permasalahan dan tantangan berat serta kompleks yang berpengaruh terhadap eksistensi dan keberlanjutan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya, juga Kearifan Lokal Bali. Krama Bali agar senantiasa eling, waspada, tragia, dan pageh dalam menghadapi ancaman baik internal maupun eksternal yang berupaya merongrong, melemahkan, bahkan berniat menggantikan keberadaan Kebudayaan Bali beserta tata-titi Upakara-Upacara Dresta Bali ini.

Gubernur mengingatkan, kita patut bersyukur, Bali memiliki Desa Adat yang diwariskan oleh Leluhur Bali, di mana Krama Desa Adat secara konsisten terus melaksanakan Upakara dan Upacara dengan tata-titi yang menyatukan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya, dan Kearifan Lokal, sehingga secara otomatis kehidupan Seni-Budaya Bali terpelihara secara permanen dan berkelanjutan. Seni-Budaya Bali tidak akan pernah mati, tidak akan pernah punah, dan tidak akan pernah redup, tetapi justru akan terus hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat sepanjang zaman. Inilah yang menjadi kekuatan inheren Alam, Krama, dan Kebudayaan Bali, sehingga Bali menjadi pulau yang sangat religius, kultural, tenget, dan mataksu.

‘’Dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, saya berkomitmen sungguh-sungguh menjadikan Kebudayaan sebagai hulu pembangunan Bali, guna mewujudkan Gumi dan Krama Bali benar-benar berkepribadian dalam Kebudayaan sesuai Prinsip Trisakti Bung Karno. Saya memastikan bahwa saya senantiasa berada di garda terdepan dalam penguatan dan pemajuan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya dan Kearifan Lokal Bali. Arah dan pola kebijakan Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali telah dituangkan dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur Bali, serta telah diimplementasikan secara nyata dan berkelanjutan dalam berbagai program,’’ ucap Gubernur.

Adapun kebijakan yang dilaksanakan untuk memajukan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya, dan Kearifan Lokal Bali yaitu: Memperkuat Desa Adat melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali. Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020. Menerapkan Hari Penggunaan Busana Adat Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018. Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018. Pelindungan Pura, Pratima, dan Simbol Keagamaan Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 25 Tahun 2020. Menyelenggarakan Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (SIPANDU BERADAT) melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020. Pelindungan Danau, Mata Air, Sungai, dan Laut melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020. Pelestarian Tanaman Endemik Bali sebagai Taman Gumi Banten, Puspa Dewata, Usada, dan Penghijauan melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 29 Tahun 2020. Memberdayakan Minuman Khas Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Bali Energi Bersih melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019. Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019. Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 55 Tahun 2019. Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018. Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019. Penggunaan Kain Tenun Endek Bali/Kain Tenun Tradisional Bali melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2021. Pemanfaatan Produk Garam Tradisional Lokal Bali melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 17 Tahun 2021. Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Provinsi Bali melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 05 Tahun 2022.

Baca Juga  Pengurus Paguyuban Pasundan Bali Silaturahmi dengan Wayan Koster

‘’Oleh karena itu, sebagai Gubernur, saya mengajak segenap Krama Bali di mana pun berada, mari bersama-sama dengan penuh kesadaran berguru kepada Leluhur dan Panglingsir kita tentang kekuatan Rasa Bhakti, yang diwujudkan dengan sikap pageh, kukuh, tidak pernah lelah, dan tidak pernah menyerah dalam kondisi seberat apa pun. Mari bersama-sama kita menjaga dan memuliakan keluhuran serta kesucian Upakara dan Upacara Dresta Bali dalam keutuhan Kebudayaan Bali yang telah teruji dan terbukti rajeg sekaligus bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman,’’ ajak Gubernur Bali.

Sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab terhadap warisan Alam, Manusia/Krama, dan Kebudayaan Bali, Saya mengajak: ‘’Mari dengan penuh keyakinan dan ketangguhan, bergerak serentak, bersatu padu, bersama-sama terus memperkokoh, memperkuat, dan memajukan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya, dan Kearifan Lokal Bali karya adi luhung Ida Bhatara Sahununan, Guru-Guru Suci, Ida Dalem Raja-raja Bali, Leluhur, Lelangit, Kawi Wiku, serta Panglingsir Bali. Marilah kita dengan terhormat menjadikan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya dan Kearifan Lokal Bali yang adiluhung sebagai sumber nilai-nilai kehidupan yang kokoh, membangun Sumber Daya Manusia Bali unggul yang memiliki jati diri, berkarakter, dan bermartabat dalam menghadapi arus deras perubahan zaman.’’

Ayo dengan penuh bangga, kita jadikan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya dan Kearifan Lokal Bali yang adiluhung sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan karya-karya seni-budaya secara kreatif dan inovatif yang mencerahkan masyarakat sejagat. Mari kita dengan percaya diri tinggi menjadikan Adat Istiadat, Tradisi, Seni-Budaya dan Kearifan Lokal Bali yang adiluhung sebagai basis untuk mengembangkan perekonomian lokal Krama Bali dengan Ekonomi Kerthi Bali, guna meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan Krama Bali niskala-sakala.

‘’Dengan keseluruhan cara, pola perilaku demikian, yang dilakukan secara bersama-sama dengan konsisten dan teguh pendirian oleh segenap komponen Krama Bali, saya meyakini bahwa Gumi Bali dengan kebudayaannya akan tetap kokoh dan lentur dalam menghadapi arus deras perkembangan zaman, termasuk munculnya permasalahan dan tantangan dalam skala lokal, nasional, dan global. (*/gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Inovasi Genteng Biomassa Ramah Lingkungan dan Aman Gempa

BRIN Bersama BRIDA Buleleng Jajaki Pengembangan dengan Pelaku Usaha Lokal

Loading

Published

on

By

Kunjungan BRIN dan BRIDA ke Pelaku Usaha Buleleng
TINJAU PELAKU USAHA: BRIN Bersama BRIDA Buleleng saat meninjau pelaku usaha yang memanfaatkan limbah untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Pemanfaatan sumber daya alam lokal menjadi salah satu peluang strategis dalam mendorong lahirnya inovasi material ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah sabut kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi.

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng menerima kunjungan kerja dan diskusi teknis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa, 3 November 2026, bertempat di Ruang Rapat Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng. Kegiatan mengangkat tema “Potensi Pemanfaatan Serat Alam sebagai Bahan Baku Genteng Biomassa Ramah Lingkungan”.

Kunjungan tersebut dihadiri tim BRIN, yakni Dr. Jajang Sutiawan, S.Hut., M.Si., Yeyen Nurhamiyah, S.Si., Ph.D., dan Mulya Supianto, S.Pd., M.Sc., Ph.D. Rombongan diterima langsung oleh Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, S.STP., M.M., didampingi Putu Angga Kristyawan, M.Ing., I Made Ardaka, M.Si., dan Ferdi Kurniawan.

Dalam pemaparannya, tim BRIN memperkenalkan teknologi HERBAL-ROOF (Genteng Biomassa Indonesia), yaitu inovasi material atap berbasis biomassa yang dikembangkan melalui pemanfaatan serat alam sebagai bahan komposit. Teknologi ini membuka peluang pemanfaatan berbagai sumber biomassa, seperti sabut kelapa, bambu, tandan kosong kelapa sawit, dan bahan alam lainnya sebagai alternatif material konstruksi yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan materi yang dipaparkan, teknologi genteng biomassa BRIN telah mencapai tahap prototipe skala penuh, memenuhi standar SNI, dan siap memasuki tahap pilot manufacturing. Inovasi ini juga memiliki sejumlah keunggulan, antara lain bobot material yang lebih ringan, kemampuan meredam panas, efisiensi penggunaan material, serta potensi mengurangi beban struktur atap sehingga dapat mendukung aspek keselamatan bangunan, khususnya di wilayah rawan gempa.

Baca Juga  Begini Edukasi Cerdas Wayan Koster Soal Tagline One Komando Pusat dan Daerah

Diskusi kemudian diarahkan pada potensi ketersediaan sabut kelapa di Kabupaten Buleleng, karakteristik bahan baku, proses pengolahan, formulasi material, hingga kebutuhan pengujian teknis. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi kekuatan mekanis, penyerapan air, ketahanan terhadap cuaca dan api, stabilitas dimensi, serta kelayakan ekonomi dan dampak lingkungan dari produk yang dikembangkan.

Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, menekankan pentingnya hilirisasi inovasi material hijau dengan memanfaatkan potensi unggulan daerah. Menurutnya, Buleleng memiliki peluang besar untuk mengembangkan komoditas perkebunan dan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku usaha.

Ia juga mendorong agar potensi sabut kelapa dan bambu dapat dikembangkan menjadi material komposit serat alam yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan limbah perkebunan tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru, memperkuat ekonomi sirkular, serta mendukung ketahanan bangunan dan perumahan daerah.

BRIDA Buleleng turut mendorong penjajakan pemanfaatan hasil riset Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN agar teknologi genteng biomassa dapat dikembangkan dan direplikasi secara bertahap melalui keterlibatan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, hasil riset tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi dapat berlanjut menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari kegiatan, rombongan juga melaksanakan kunjungan lapangan ke Rumah Plastik Mandiri (RPM), sebuah perusahaan sosial, bank sampah induk, sekaligus pusat daur ulang sampah plastik inovatif di Kabupaten Buleleng. Berdiri sejak 2016, RPM yang didirikan oleh Putu Eka Darmawan berfokus pada pengelolaan sampah secara mandiri, edukasi daur ulang, serta pengembangan teknologi pengolahan limbah plastik lokal.

Kunjungan dilanjutkan ke PT Balisynwood, merek UMKM inovatif asal Buleleng yang mengembangkan produk kayu sintetik ramah lingkungan berbahan dasar limbah pertanian, khususnya jerami dan sekam padi. Dalam kesempatan tersebut, rombongan melihat langsung potensi pengembangan material alternatif berbasis limbah pertanian yang dikelola oleh Gede Wikrama Putra Setya Adiyana selaku Direktur Operasional.

Baca Juga  Pengurus Paguyuban Pasundan Bali Silaturahmi dengan Wayan Koster

Kunjungan ke kedua pelaku usaha tersebut menjadi bagian penting dalam melihat secara langsung praktik pengolahan limbah dan pengembangan material alternatif di Buleleng. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa potensi inovasi daerah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kreativitas, teknologi, dan kemampuan pelaku usaha dalam mengolah bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui pertemuan dan kunjungan lapangan ini, terbangun komunikasi awal antara BRIN dan BRIDA Kabupaten Buleleng untuk menjajaki peluang kolaborasi riset, karakterisasi bahan baku, pengembangan prototipe, pemanfaatan fasilitas pengujian, hingga peluang hilirisasi produk. Ke depan, penjajakan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui identifikasi sumber bahan baku, penyusunan formulasi material, serta pengujian kelayakan produk bersama calon mitra.

Sinergi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah. Dengan mengoptimalkan potensi sabut kelapa, bambu, serta limbah pertanian dan perkebunan lainnya, Buleleng berpeluang mengembangkan industri material ramah lingkungan yang berdaya saing, meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, dan memberikan manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Semarak Hari Lahir Ke-73, KPU Bali Gelar Donor Darah untuk Kemanusiaan

Published

on

By

Donor Darah Hari Lahir KPU ke-73 di KPU Bali
DONOR DARAH: KPU Provinsi Bali saat menggelar aksi donor darah sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi dalam rangka memperingati Hari Lahir KPU ke-73 yang berlangsung di Ruang Rapat KPU Bali, Jumat (6/11/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – KPU Provinsi Bali menggelar aksi donor darah sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi dalam rangka memperingati Hari Lahir KPU ke-73. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat KPU Bali ini bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali, Jumat (6/11/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan tim medis UDD PMI Provinsi Bali yang diwakili oleh dokter Nyoman Sastrini. Aksi donor darah ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh jajaran KPU Provinsi Bali, KPU kabupaten/kota se-Bali, serta insan media. Tercatat sebanyak 53 orang berpartisipasi sebagai pendonor dalam kegiatan tersebut.

Kepala Bagian yang membidangi Perencanaan, Data dan Informasi, Partisipasi Masyarakat, serta Sumber Daya Manusia KPU Provinsi Bali, I Wayan Gede Budiartha, menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan bentuk nyata kepedulian KPU terhadap sesama. Selain memeriahkan peringatan Hari Lahir KPU ke-73, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan darah.

Menurutnya, aksi kemanusiaan seperti ini perlu terus didorong agar menjadi bagian dari budaya kepedulian dan kebersamaan, tidak hanya di lingkungan penyelenggara pemilu, tetapi juga masyarakat luas.

Sementara itu, dokter Nyoman Sastrini mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap aksi donor darah dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, idealnya setiap tiga bulan sekali. Ketersediaan darah yang cukup sangat penting untuk membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah.

Melalui kegiatan ini, KPU Bali berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh serta diwujudkan melalui aksi nyata. Peringatan Hari Lahir KPU ke-73 pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen KPU tidak hanya dalam melayani demokrasi, tetapi juga memberikan manfaat bagi kemanusiaan. (gs/bi)

Baca Juga  Tokoh Pemuda Nasional Apresiasi Pembangunan Bali Era Baru 100 Tahun, Wujud Keberpihakan Koster pada Generasi Muda

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Perkuat Swasembada Pangan, Pangdam IX/Udayana Tinjau Optimalisasi Lahan Muntig Karangasem

Published

on

By

Pangdam IX/Udayana Tinjau Lahan Pertanian Muntig
TINJAU LAHAN: Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Made Putra Widiastawa saat meninjau lokasi Optimalisasi Lahan Muntig, di Banjar Muntig, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Kamis (5/11/2026). (Foto: Pendam IX)

Karangasem, baliilu.com – Dalam rangka mendukung program pemerintah pusat mewujudkan swasembada pangan nasional, Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Made Putra Widiastawa meninjau lokasi Optimalisasi Lahan Muntig, di Banjar Muntig, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Kamis (5/11/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi lahan pertanian, hasil panen, sekaligus menyerap aspirasi petani dalam meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.

Kedatangan Pangdam IX/Udayana beserta rombongan disambut Ketua Kelompok Tani Lahar Sari, I Made Jaya, di Banjar Muntig, sebelum dilanjutkan dengan peninjauan area pertanian dan dialog bersama para petani. Dalam kesempatan tersebut, Pangdam melihat langsung potensi lahan serta mendengarkan berbagai kendala yang dihadapi kelompok tani dalam mengoptimalkan pengelolaan lahan pertanian.

Ketua Kelompok Tani Lahar Sari menyampaikan bahwa lahan yang saat ini dikelola memiliki luas sekitar 30 hektare dengan anggota kurang lebih 40 kepala keluarga yang tergabung dalam satu kelompok tani. Pihaknya berharap adanya dukungan perluasan lahan dan ketersediaan sarana produksi, khususnya bibit, guna meningkatkan hasil pertanian serta memperluas pemanfaatan potensi lahan yang tersedia.

Menanggapi aspirasi tersebut, Pangdam IX/Udayana menyampaikan rencana untuk membantu pemenuhan kebutuhan bibit bagi Kelompok Tani Lahar Sari serta memberikan penjelasan mengenai mekanisme pengusulan pembangunan saluran air melalui program pemerintah pusat. Selain itu, kelompok tani tersebut diketahui telah terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN), sehingga diharapkan dapat semakin mempermudah koordinasi dan pendataan dalam mendukung program pertanian pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok Tani Lahar Sari, I Made Jaya, menyampaikan harapannya terhadap dukungan yang diberikan. “Dengan luas lahan sekitar 30 hektare dan anggota kurang lebih 40 kepala keluarga, kami berharap adanya bantuan perluasan lahan dan suplai bibit agar pengelolaan pertanian semakin optimal serta hasil panen dapat terus meningkat,” ungkapnya.

Baca Juga  Wayan Koster Ikuti Prosesi ''Pakelem'' dan ''Nuwur Tirtha'' di Danau Batur

Sementara itu, Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution menjelaskan bahwa kunjungan Pangdam merupakan wujud komitmen Kodam IX/Udayana dalam mendukung program strategis pemerintah, khususnya mewujudkan swasembada pangan nasional melalui penguatan sektor pertanian di wilayah.

“Melalui pendampingan, koordinasi, dan sinergi dengan instansi terkait serta kelompok tani, Kodam IX/Udayana terus mendorong pemanfaatan potensi lahan pertanian agar lebih produktif, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan nasional,” demikian tandas Kapendam. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca