Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

“Pujawali” Pura Dhang Kahyangan Petitenget, Hingga 10 Januari Umat Tak Diperkenakan Laksanakan Upacara “Atiwa-tiwa”

BALIILU Tayang

:

NGAJUM: Upacara “Ngajum” Ida Bhatara sebagai rangkaian awal menjelang “Pujawali” Pura Dhang Kahyangan Petitenget, Kerobokan, Kabupaten Badung yang akan digelar pada Rabu, 7 Januari 2026. (Foto: bi)

Badung, baliilu.com – Pura Dhang Kahyangan Petitenget, Kerobokan, Kabupaten Badung, pada hari ini melaksanakan upacara Ngajum Ida Bhatara sebagai rangkaian awal menjelang Pujawali yang akan digelar pada Rabu, 7 Januari 2026.

Upacara diawali dengan pelaksanaan pangajuman, sebagai tanda persiapan menyambut Ida Bhatara yang akan malinggih di pura. Adapun jadwal upacara saat puncak Pujawali yaitu Ida Bhatara Tirta Tedun ke Jaba Tengah pukul 08.00 Wita, Pasamuan Hidangan di Jaba Tengah pukul 08.00 Wita, Pasamuan Lelengisan di Jeroan pukul 10.00 Wita.

Pukul 13.00 Wita, Ida Pedanda Mapuja Ngaturang Pujawali, muspa bersama pukul 14.30 Wita, majaya-jaya parajuru pukul 15.00 Wita, Paecan-ecan Ida Bhatara pukul 15.30 Wita.

Pamucuk Parajuru Pura Dhang Kahyangan Petitenget lan Pura Masceti Ulun Tanjung, Drs. A.A. Ngurah Rai Yuda Darma, MAP, Selasa (6/1/2026) menjelaskan, hari ini dilaksanakan ngajum yaitu madengan-dengan dan ngias Ida Bhatara.

Selama Pujawali, ia mengingatkan umat sedharma bahwa Ida Bhatara diperkirakan telah malinggih sekitar pukul 12.00 Wita, sehingga umat sudah dapat mulai tangkil sejak hari ini.

Umat juga diimbau untuk mengatur waktu persembahyangan dengan baik. Mengingat puncak Pujawali diperkirakan akan berlangsung padat, umat disarankan untuk tangkil dari pukul 07.00 Wita.

Pada puncak Pujawali akan dilaksanakan upacara pangilen yang dipuput oleh Ida Perande Putra Telaga Griya Sanur dan diperkirakan selesai pukul 19.00 Wita malam.

Sehubungan dengan pelaksanaan Pujawali, pengempon pura juga mengingatkan umat agar tidak melaksanakan upacara atiwa-tiwa di Pura Dalem Desa Adat Kerobokan mulai 6 Januari hingga 10 Januari 2026. Hal ini sesuai dengan purana Pura Dang Kahyangan Petitenget, yang menyebutkan bahwa saat Ida Bhatara dihaturkan Pujawali, upacara atiwa-tiwa tidak diperkenankan dilaksanakan.

Baca Juga  Walikota Denpasar Laksanakan Persembahyangan di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap

“Ida Bhatara Nyejer dari tanggal 8-10 Januari 2026 dan sampai tanggal 10 Januari agar krama di Desa Adat Kerobokan tidak melaksanakan upacara atiwa-tiwa,” ujarnya.

Ida Bhatara akan malinggih hingga 10 Januari 2026 sekitar pukul 16.30 Wita sebelum dilakukan prosesi masineb atau penutupan upacara.

Adapun tingkatan pujawali di Pura Dang Kahyangan Petitenget tergolong Jelih Nadi dengan upakara Bebangkit Pregembal.

Pujawali di Pura Kahyangan Jagat ini dilaksanakan enam bulan sekali pada Buda Wage Merakih dan menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk memperkuat sradha dan bhakti. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

“Karya Agung“ 10 Tahunan di Kintamani, Bupati Adi Arnawa Ajak Jaga Danau Batur Sebagai Jantung Air Bali

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Hadiri Karya Tawur Agung di Danau Batur
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri “Karya Tawur Agung Manca Wali Krama“ di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Upacara keagamaan Danu Kertih serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama digelar megah di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). Karya di salah satu Pura Tri Kahyangan Jagat yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali ini dilaksanakan sebagai momentum penting untuk mendoakan kerahayuan, keselamatan, serta menjaga keharmonisan alam dan spiritual Bali.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir mendampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta. Turut serta Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, dan Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, yang bersama-sama mengikuti prosesi sakral mendak tirta amertha dan mulang pekelem di tengah Danau Batur.

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan apresiasi mendalam kepada krama Desa Adat Songan atas pelaksanaan karya agung ini. Ia menegaskan bahwa ritual tersebut bukan hanya milik warga setempat, melainkan demi keharmonisan seluruh jagat Bali.

“Puncak Karya Agung akan jatuh pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Astungkara melalui pelaksanaan karya ini, Pulau Bali senantiasa gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Senada dengan Wagub Bali, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa turut memuji semangat gotong-royong warga dalam menjaga kelestarian tradisi spiritual dan alam Danau Batur. Baginya, karya agung ini menjadi pengingat penting akan keseimbangan ekosistem (Bhuana Agung) dan spiritualitas (Bhuana Alit).

“Upacara Danu Kertih ini bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan wujud nyata penghormatan kita terhadap alam, khususnya Danau Batur sebagai jantung sumber air di Pulau Bali. Harapan kita bersama, melalui kesucian yadnya Manca Wali Krama ini, Bali senantiasa dianugerahi kedamaian, kerahayuan, serta kelimpahan sumber daya alam yang membawa berkah bagi seluruh masyarakat,” ungkap Adi Arnawa.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Hadiri Pujawali di Pura Tambangan Badung

Jalannya karya keagamaan ini di-puput oleh Yajamana Karya, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun bersama Ida Istri Nata Nawa Wangsa dari Griya Kedhatuan Kawista, Banjar Munduk Ngandang, Desa Belatungan, Pupuan, Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Sembahyang Rahina Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau, Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Jaga Keharmonisan dengan Alam

Published

on

By

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati I Made Dirga dan Gubernur Bali Wayan Koster sembahyang Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau
PERSEMBAHYANGAN BERSAMA: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta jajaran memaknai perayaan hari suci Tumpek Uye melalui persembahyangan bersama di Pura Luhur Batukaru, Sabtu (5/9). Turut hadir Gubernur Bali Wayan Koster. (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Dalam rangka memperingati Rahina Tumpek Uye, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta jajaran memaknai perayaan hari suci yang menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus menjaga keharmonisan dengan alam dan seluruh makhluk hidup, khususnya satwa, melalui persembahyangan bersama di Pura Luhur Batukaru, Sabtu (5/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Sekda Provinsi Bali beserta Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemprov Bali.

Rahina Tumpek Uye atau yang dikenal dengan Tumpek Kandang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memuliakan satwa sebagai bagian dari kehidupan sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas manfaat dan keberadaan seluruh makhluk hidup. Nilai tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan satwa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan memberi makan ikan serta pelepasan burung, yakni burung crucuk, titiran, dan kukur, sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan dan kelestarian ekosistem dan satwa. Kemudian persembahyangan bersama dilaksanakan di Pura Beji dan di utama mandala Pura Luhur Batukau sebagai wujud syukur dan penghayatan terhadap makna Rahina Tumpek Uye.

Sanjaya menyampaikan bahwa peringatan Rahina Tumpek Uye hendaknya tidak hanya dimaknai melalui pelaksanaan upacara, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata untuk menjaga alam serta seluruh makhluk hidup. Menurutnya, keharmonisan antara manusia dan alam merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Lebih lanjut, Bupati Sanjaya mengapresiasi kebersamaan Gubernur Koster dan jajaran Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam memperingati Rahina Tumpek Uye. Pihaknya berharap semangat untuk menjaga alam dan satwa dapat terus ditumbuhkan serta diwujudkan melalui tindakan nyata, sehingga nilai-nilai keharmonisan dan keseimbangan yang terkandung dalam Rahina Tumpek Uye dapat terus terjaga dalam kehidupan masyarakat. (gs/bi)

Baca Juga  Wagub Giri Prasta Dukung Restorasi Puri Belayu sebagai Warisan Budaya

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngaturang Bhakti Pitenget” Tumpek Uye, juga Gelar Vaksinasi Rabies dan Sterilisasi Gratis

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara didampingi Sekda Eddy Mulya menghadiri persembahyangan Tumpek Uye di Pura Agung Jagatnatha Denpasar
TUMPEK UYE: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, didampingi Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, menghadiri persembahyangan bersama dalam rangka Pitenget Rahina Tumpek Uye atau Tumpek Kandang yang dipusatkan di kawasan Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Sabtu (5/9). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, didampingi Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, menghadiri persembahyangan bersama dalam rangka Pitenget Rahina Tumpek Uye atau Tumpek Kandang yang dipusatkan di kawasan Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Sabtu (5/9). Perayaan Tumpek Uye yang jatuh pada Saniscara Kliwon, Wuku Uye tersebut menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memuliakan dan menghormati keberadaan hewan sebagai bagian dari ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain persembahyangan bersama, kegiatan juga dirangkaikan dengan vaksinasi rabies dan sterilisasi hewan peliharaan secara gratis bagi masyarakat.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan Tumpek Uye memiliki makna penting dalam kehidupan umat Hindu. Momentum tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap hewan, tetapi juga mengingatkan manusia untuk menjaga keharmonisan dengan alam dan seluruh makhluk hidup.

“Melalui Tumpek Uye, kita diingatkan untuk menghormati dan menyayangi seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Vaksinasi rabies gratis yang dilaksanakan hari ini juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan sekaligus bagian dari upaya bersama dalam mencegah penyebaran rabies,” ujar Jaya Negara.

Pihaknya menambahkan, pelaksanaan vaksinasi rabies bertepatan dengan Tumpek Uye diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk semakin bertanggung jawab dalam memelihara hewan peliharaan. Menurutnya, upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam mendukung kesehatan masyarakat serta mewujudkan lingkungan yang aman dan sehat.

Sementara itu, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, menyampaikan bahwa vaksinasi rabies gratis merupakan salah satu kegiatan yang secara rutin dilaksanakan Pemerintah Kota Denpasar. Namun, pelaksanaan kali ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan Rahina Tumpek Uye.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Apresiasi ‘’Karya Atiwa-tiwa’’ Krama Banjar Adat Koripan

“Vaksinasi rabies gratis sudah sering kita laksanakan. Hari ini menjadi spesial karena bertepatan dengan Tumpek Uye, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi nyata dari semangat memuliakan hewan,” jelas Eddy Mulya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama. Usai persembahyangan, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi otonan bagi hewan peliharaan yang dibawa oleh masyarakat.

Selanjutnya, hewan peliharaan yang telah mengikuti prosesi tersebut mendapatkan pelayanan vaksinasi rabies secara gratis di jaba Pura Agung Jagatnatha. Masyarakat juga mendapatkan pelayanan sterilisasi hewan peliharaan sesuai dengan ketentuan dan layanan yang tersedia.

Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Putu Agus Jayadi, menjelaskan bahwa Tumpek Uye bukan sekadar momentum untuk memuliakan hewan sebagai bagian dari Bhuwana Agung, tetapi juga menjadi sarana penyucian diri manusia atau Bhuwana Alit dari sifat-sifat kebinatangan.

“Makna Tumpek Uye sangat luas. Kita diajak untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, serta seluruh makhluk hidup. Karena itu, kegiatan vaksinasi rabies ini sangat relevan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Tumpek Uye,” ungkapnya.

Perayaan Tumpek Uye di Kota Denpasar diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap hewan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan sebagai bagian dari upaya mewujudkan kehidupan yang harmonis. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca