Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Tumpek Krulut Nemu Purnama, Ketika Kasih Sayang Dalam Cahaya Kesadaran

BALIILU Tayang

:

Tumpek Krulut
Menghaturkan sembahyang saat Rahina Tumpek Krulut yang dimaknai sebagai hari penyucian rasa. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Momentum pertemuan yang sangat luar biasa, karena tidak setiap hari suci hadir dengan getaran yang sama. Ada hari-hari tertentu yang seolah membawa pesan lebih dalam dari semesta, mengetuk kesadaran manusia agar berhenti sejenak dan mendengar suara batinnya sendiri.

Tumpek Krulut yang bertepatan dengan Purnama Kepitu adalah salah satu sebuah perjumpaan sakral antara kasih sayang dan cahaya kesadaran. Dalam Lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan batin dan merawat keindahan jiwa. Ia dipersembahkan kepada Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan.

“Ketika Tumpek Krulut jatuh bertepatan dengan Purnama Kepitu, maknanya menjadi berlapis. Purnama adalah fase bulan paling terang sebuah simbol puncak kejernihan pikiran dan keterbukaan hati. Kepitu sendiri secara spiritual sering dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemurnian emosi, konsep sederhana namun penuh makna dari kemampuan untuk memahami konsep Sapta Timira yang selalu mengikuti ritme kehidupan, tujuh kegelapan yang ada dalam diri manusia, yang harus diperhitungkan dengan spirit dan kecerdasan,” ujar koordinator penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng Luh Irma Susanthi.

Lebih lanjut diterangkan oleh Irma, di tengah realitas hari ini ketika kasus bullying, depresi, dan bunuh diri, terutama di kalangan Gen Z, semakin mengkhawatirkan perpaduan Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu terasa sangat relevan. Kita hidup di zaman yang ramai suara, tetapi miskin empati. Banyak anak muda terlihat kuat di layar, namun rapuh di balik senyum digitalnya. Mereka sering merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dimengerti, dalam konteks inilah pesan Tumpek Krulut menemukan urgensinya. Kasih sayang dalam Hindu bukan emosi sesaat, tetapi laku hidup.

Baca Juga  Pemkab Tabanan Peringati Tumpek Krulut Sebagai Implementasi Keharmonisan Alam

Diungkapkan bullying tumbuh dari ego dan kebencian, sedangkan bunuh diri sering lahir dari perasaan tidak dicintai. Maka jawaban spiritualnya bukan sekadar nasihat “harus kuat”, melainkan kehadiran yang menenangkan dan empati yang nyata. Purnama Kepitu menguatkan pesan ini dengan simbol cahaya.

“Lontar Sundarigama secara halus mengingatkan bahwa upacara tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas kosong. Hendaknya seseorang mengangkat dirinya dengan kesadaran, jangan menjatuhkan dirinya sendiri,” imbuhnya.

Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di keluarga dan sekolah, serta mengakui bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma menjaga kehidupan.

Penutup, pihaknya mengatakan kemarahan kehilangan tempatnya, kebencian melemah, empati menemukan ruang tumbuh, inilah kondisi batin ideal untuk menekan kekerasan verbal, bullying, dan keputusasaan hidup. Nilai dalam cahaya kesadaran dan kasih sayang adalah  yang termulia, makna dari kitab suci Bhagavadgita dan kajian lontar Sundarigama sebagai peneguh kesadaran umat dan menegaskan bahwa cahaya kesadaran adalah kunci pembebasan dari kegelapan batin. (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan

BUDAYA

Pemkot Denpasar “Ngaturang Bhakti” Siwaratri di Pura Agung Jagatnatha Denpasar

Published

on

By

PERSEMBAHYANGAN BERSAMA: Pemerintah Kota Denpasar saat menggelar persembahyangan bersama Hari Suci Siwaratri di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Sabtu (17/1) petang. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Hari Suci Siwaratri sebagai wahana penyucian diri, mulat sarira atau introspeksi diri diperingati Pemerintah Kota Denpasar dengan menggelar persembahyangan bersama Hari Suci Siwaratri di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Sabtu (17/1) petang.

Hadir secara langsung Pj. Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya didampingi Ny. I Gusti Ayu Putu Suwandewi Eddy Mulya, DPRD Kota Denpasar I Wayan Sutama. Turut hadir Forkopimda Kota Denpasar, PHDI Kota Denpasar, Sabha Upadesa Kota Denpasar, Pimpinan OPD serta pemedekmasyarakat Kota Denpasar yang mengikuti rangkaian acara.

Diringi suara kidung dan gambelan Bali, rangkaian persembahyangan Hari Suci Siwaratri di Kota Denpasar diawali dengan persembahan sejumlah Tari Wali. Dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Oka Bajing Griya Bajing Kesiman 

Persembahyangan Hari Suci Siwaratri di Kota Denpasar akan dilaksanakan tiga kali. Yakni pukul 18.00 Wita saat sandikala, pukul 00.00 tengah malam, dan pukul 06.00 pagi keesokan harinya. 

Pj. Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya menekankan bahwa Hari Suci Siwaratri merupakan momen untuk memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam prabawanya sebagai Dewa Siwa. Sehingga pada hari ini sangat baik merenungi segala perbuatan lebih dikenal dengan malam peleburan dosa. Momentum Hari Siwartari hendaknya dilakukan dengan mulat sarira dan introspeksi untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Eddy Mulya menambahkan, umat manusia dapat menjalani swadarma kewajibannya dengan baik dan selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa Tuhan Yang Maha Esa. 

“Tentunya Hari Siwaratri harus diisi dengan kegiatan yang positif dengan kesadaran, seperti Dharma Tula, Monobrata, Jagra, Upawasa, Mulat Sarira dan mengendalikan Panca Indra sebagai wujud wiwekaumat Hindu,” imbuh Eddy Mulya.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Gelar Upacara "Jana Kerthi"

Sementara Kabag Kesra Kota Denpasar IB Alit Surya Antara mengatakan bahwa Hari Suci Siwaratri penting bagi umat Hindu sebagai ajang mulat sarira. Tentunya dalam setiap perayaan rutin dilaksanakan guna memberikan edukasi dan pemahaman bagi masyarakat terkait makna dan tujuan perayaan Hari Suci Siwaratri. 

“Dari pelaksanaan persembahyangan yang dilanjutkan dengan beragam kegiatan keagamaan seperti Makekawin, Mageguritan dan Dharma Tula diharapkan memberikan pehamaman luas bagi masyarakat terkait Hari Siwaratri,” jelasnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Sanjaya Resmikan Graha Yadnya Sanjayaning Singasana Desa Adat Kota Tabanan

Published

on

By

Bupati Sanjaya
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menandatangani prasasti menandai upacara Pemelaspasan Gedung Graha Yadnya Sanjayaning Singasana Desa Adat Kota Tabanan, Selasa (13/1). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com – Sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian adat, budaya, serta penguatan sarana upacara keagamaan di wilayah Kabupaten Tabanan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menghadiri undangan ngupasaksi Upacara Pemelaspasan Gedung Graha Yadnya Sanjayaning Singasana Desa Adat Kota Tabanan, Selasa (13/1). Bupati Sanjaya sekaligus meresmikan sebagai simbol dimulainya operasional Gedung Graha Yadnya yang berlokasi di Jln. Kresna No. 1 Tabanan yang ditandai dengan penandatanganan prasasti.

Peresmian gedung tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh krama Desa Adat sebagai pusat kegiatan yadnya, sosial, dan kemasyarakatan, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan serta kearifan lokal masyarakat setempat. Turut hadir, Ida Tjokorda Anglurah Tabanan, Ketua DPRD Kabupaten Tabanan, jajaran Forkopimda Tabanan atau yang mewakili, Sekda, para Asisten Sekda dan para Kepala Perangkat Daerah terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan, Bendesa Adat dan Perbekel se-Kecamatan Tabanan, jajaran, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, serta undangan terkait lainnya.

Upacara Pemelaspasan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Pesaji Dangin Carik, sebagai bentuk permohonan penyucian dan pembersihan niskala agar bangunan yang diresmikan memiliki taksu, memberikan kenyamanan, keselamatan, serta kedamaian bagi seluruh krama yang memanfaatkannya. Bupati Sanjaya menegaskan, bahwa pembangunan Graha Yadnya ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik semata, melainkan merupakan wujud nyata kehadiran dan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam mendukung kehidupan beragama, adat, dan budaya masyarakat Bali.

“Graha Yadnya ini dibangun dengan tujuan mulia, sebagai pusat kegiatan keagamaan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, mempermudah krama dalam mempersiapkan sarana upacara secara lebih tertata, serta menjadi simbol keharmonisan antara pembangunan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan,” ujar Sanjaya. Ia juga berpesan, aktivitas yadnya merupakan nafas kehidupan masyarakat Bali yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian krama.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Gelar Upacara "Jana Kerthi"

Oleh karena itu, dikatakannya pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan fasilitas yang layak, nyaman, dan representatif, sehingga pelaksanaan upacara adat dan keagamaan dapat berlangsung dengan baik, tertib, dan bermartabat. Keberadaan bangunan yang megah dan fungsional dikatakannya juga harus diiringi dengan kesadaran kolektif untuk merawat dan menjaganya secara berkelanjutan.

“Membangun itu tidak mudah, namun merawat jauh lebih sulit. Untuk itu, saya titipkan Graha Yadnya ini kepada seluruh masyarakat dan pengelola agar dijaga kebersihan, kesucian, serta dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat,” tegas Sanjaya. Sekaligus menambahkan, Graha Yadnya adalah cerminan kesungguhan sradha bhakti masyarakat yang diharapkan mampu menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, gotong-royong, dan nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia, I Gusti Made Adi Purama dalam laporannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian dan dukungan penuh Bupati Tabanan terhadap Desa Adat Kota Tabanan. Ia menegaskan, bahwa Graha Yadnya Sanjayaning Singasana merupakan gagasan, konsep, sekaligus inisiatif langsung dari Bupati Tabanan, yang telah lama diimpikan oleh krama desa adat.

Disampaikan pula, kompleks Graha Yadnya ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, di antaranya kori lumbung, gedung sekretariat, ballroom, bale pawedan, hingga fasilitas pendukung lainnya yang terintegrasi dengan kawasan setra dan lingkungan desa adat. Graha Yadnya Sanjayaning Singasana akan langsung mulai beroperasi pada bulan ini, Januari 2026 dan diharapkan menjadi pusat pelayanan kegiatan yadnya, upacara adat, serta kegiatan keagamaan masyarakat, tidak hanya bagi Desa Adat Kota Tabanan, tetapi juga sebagai contoh pengelolaan fasilitas keagamaan yang tertata dan berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

ITB Stikom Bali Support Total Mantan Wakil Rektor Didiksa Menjadi Sulinggih

Published

on

By

Pasek I Made Sarjana
HADIRI UPACARA: Pembina Yayasan Widya Dharma Santi Denpasar Prof. Dr. I Made Bandem, MA, bersama Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si., Ak., dan Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Stikom Bali Dr. Dadang Hermawan saat menghadiri upacara Rsi Yadnya Apodgala Sulinggih, Ida Bhawati Pasek I Made Sarjana bersama Sang Istri Ida Bhawati Pasek Lily Marheni, pada Redite Umanis Merakih, Minggu (4/1/2026) di Banjar Dinas Desa, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. (Foto: Hms Stikom Bali)

Buleleng, baliilu.com – Sosok akademisi yang dikenal luas di dunia pendidikan tinggi Bali, Ida Bhawati Pasek I Made Sarjana, yang merupakan mantan Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Stikom Bali, resmi menjalani Upacara Rsi Yadnya Apodgala Sulinggih pada Redite Umanis Merakih, Minggu (4/1/2026). Upacara suci tersebut dilaksanakan di Banjar Dinas Desa, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, dan berlangsung dengan penuh kekhidmatan.

Upacara Rsi Yadnya Apodgala Sulinggih ini juga dilaksanakan bersama Sang Istri Ida Bhawati Pasek Lily Marheni, sebagai bagian dari prosesi penyucian dan pengukuhan untuk menjalani swadharma sebagai sulinggih. Kehadiran mantan Wakil Rektor III Stikom Bali dalam prosesi ini menjadi perhatian tersendiri, mengingat perjalanan hidup beliau yang sebelumnya banyak diabdikan di dunia akademik dan pendidikan tinggi.

Prosesi upacara dipuput oleh sejumlah sulinggih terkemuka di Bali. Bertindak sebagai Pinaka Nabe Napak adalah Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Sandhika Yoga dari Griya Sunia Amertha Tengah Padang, Denpasar. Sementara Pinaka Nabe Waktra dipercayakan kepada Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda dari Griya Mumbul Sari Serongga, Gianyar. Adapun Pinaka Nabe Saksi diemban oleh Ida Pandita Mpu Nabe Siwananda Wira Dharma Jaya Dangkara dari Griya Santhi Bhuwana Asram, Mayong, Buleleng.

Upacara yang dimulai sekitar pukul 16.00 Wita ini dihadiri oleh para sulinggih, jro mangku, Bapak Bupati Buleleng beserta jajarannya serta para tokoh masyarakat adat dan dinas serta krama dan semeton Pasek dari berbagai daerah, serta hadir langsung Pembina Yayasan Widya Dharma Santi Denpasar Prof. Dr. I Made Bandem, MA, Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si., Ak., Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Stikom Bali Dr. Dadang Hermawan, serta jajaran pimpinan dan civitas akademika Stikom Bali. Kehadiran unsur pimpinan yayasan dan perguruan tinggi tersebut mencerminkan kedekatan serta penghormatan dunia pendidikan terhadap pengabdian spiritual yang dijalani oleh Ida Bhawati Pasek I Made Sarjana.

Baca Juga  Wakil Gubernur Bali Tjok. Oka Artha Ardana Sukawati Mengucapkan Rahajeng Rahina Tumpek Krulut

Dalam sambutannya, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., selaku Pembina Yayasan Widya Dharma Santi Denpasar, menyampaikan apresiasi atas perjalanan hidup dan pengabdian Ida Bhawati Pasek I Made Sarjana selama menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di dunia pendidikan tinggi, khususnya pada masa menjabat sebagai Wakil Rektor III Stikom Bali.  Prof Bandem menilai bahwa Ida Bhawati I Made Sarjana adalah sosok profesional yang sangat kreatif dan inovatif menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan, keteladanan, sehingga selama beliau memimpin banyak sekali ide-ide dan terobosan-terobosan cerdas yang diciptakan guna memajukan dan membesarkan ITB Stikom Bali. Bagi Prof. Bandem sosok beliau ini merupakan landasan kuat dalam menapaki jalan kerohanian sebagai sulinggih.

Rektor ITB Stikom Bali juga menyampaikan doa dan harapan agar Ida Bhawati Made Sarjana beserta istri senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan lahir batin, serta mampu mengemban swadharma dengan penuh kebijaksanaan demi kemajuan umat dan masyarakat Hindu di Bali, nusantara dan dunia.

Rangkaian upacara berjalan sesuai dengan tuntunan sastra dan dresta, sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta penghormatan kepada Ida Batara Kawitan. Hal senada juga disampaikan Prof. Bandem bahwa dengan dilaksanakannya Upacara Rsi Yadnya Apodgala Sulinggih ini, Ida Bhawati Pasek I Made Sarjana — yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh akademisi dan mantan Wakil Rektor III Stikom Bali— bersama Ida Bhawati Pasek Lily Marheni, diharapkan mampu mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang spiritual serta memberikan tuntunan dharma bagi umat Hindu dan masyarakat luas.

Pada kesempatan sambutan yang lain dari pihak PHDI Kabupaten Buleleng sangat berbangga karena dari penilaian Sisya Turiksa dari pihak MGPSSR Buleleng dan penilaian Diksa Pariksa dari pihak PHDI Buleleng diputuskan bahwa Ida Bhawati Made Sarjana dan Ida Bhawati Lily Marheni sebagai calon sulinggih terbaik.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Pimpin Pitenget Tumpek Krulut di Kota Denpasar

Selanjutnya setelah prosesi Diksa Nyeda Raga berakhir PHDI Buleleng atas usulan para Nabe ditetapkan bahwa Abhiseka Ida Bhawati I Made Sarjana adalah Ida Pandita Mpu Acharya Sandhikajaya Nanda, sedangkan Ida Bhawati Lily Marheni diberi abhiseka Ida Pandita Mpu Istri Sandhikajaya Nanda.

Sebagai wujud dukungan dari rasa bangga pimpinan ITB Stikom Bali pada sesi penutupan upacara Apodgala Sulinggih telah diserahkan secara simbolis oleh Pembina dan Ketua Yayasan WDS serta Rektor ITB Stikom Bali punia CSR ITB Stikom Bali seperangkat Siwa Krana (Pakaian kebesaran Sulinggih dan alat-alat upakara Sulinggih) jangkep diikuti penyerahan punia dari Bupati Buleleng. (*/gs)

Loading

Advertisements
IKLAN STIKOM 1A
Advertisements
Nataru 2026 dprd badung
Advertisements
bks lpd
Advertisements
Nataru Pemkot
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca