Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Relevansi Tumpek Uye dalam Pelayanan pada Semesta

BALIILU Tayang

:

Tumpek Uye
TUMPEK UYE: Hari Suci Tumpek Uye sesungguhnya merupakan system ajaran tentang kesadaran hidup, tanggung jawab manusia, dan keharmonisan kosmis. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.comTumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam tradisi Hindu Bali hingga Hindu Nusantara yang mengandung nilai spiritual, etis, dan ekologis yang sangat mendalam. Perayaan ini sering kali dipahami secara sederhana sebagai hari untuk memberi persembahan kepada binatang. Namun, jika ditelaah melalui sastra suci, khususnya Lontar Sundarigama, Tumpek Uye sesungguhnya merupakan system ajaran tentang kesadaran hidup, tanggung jawab manusia, dan keharmonisan kosmis.

Tumpek Uye (disebut juga Tumpek Kandang) dirayakan setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali. Hari ini diperuntukkan untuk menghormati binatang, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam. Tumpek Uye mengajarkan satu hal penting, manusia bukan penguasa mutlak alam, tetapi penjaga kehidupan,” ujar Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng dikonfirmasi, Kamis (5/2).

Dijelaskan oleh Irma, Lontar Sundarigama sebagaimana dikaji oleh I Nyoman Suarka dalam bukunya Sundarigama, dalam lontar tersebut disebutkan: Uye Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang ngaran, pakreti ring sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wenang widhi-widananya.

Artinya: “Pada hari Saniscara Kliwon Uye disebut Tumpek Kandang, sebagai hari suci (pakreti) bagi seluruh binatang berkaki empat, semua satwa, ikan, burung, serta makhluk hidup lainnya yang patut diperlakukan sesuai ketentuan dharma.”

Tumpek Uye menegaskan bahwa manusia tidak berada di atas alam, melainkan di dalam sistem kehidupan yang saling bergantung. Ajaran ini sejalan dengan Kitab Suci Bhagavad Gita 5.18 yang berbunyi, “Vidya-vinaya-sampanne brahmane gavi hastini suni caiva sva-pake ca panditah sama-darsinah” Artinya: “Orang bijaksana memandang sama seorang brahmana, seekor sapi, seekor gajah, seekor anjing, maupun orang yang hina, karena mereka melihat dengan penglihatan spiritual,” paparnya.

Baca Juga  Maknai Rahina Tumpek Uye, Pemkot Denpasar Gelar Persembahyangan di Pura Agung Lokanatha Lumintang Denpasar

Irmapun menekankan, leluhur Nusantara memuliakan perayaan ini dalam setiap ritus perayaan sesuai dengan Desa, Kala, Patra masing- masing.  Tata upacara berperan sebagai sebuah Nilai Pendidikan Kesadaran yang membentuk kasih yang penuh tanggung jawab. Ritual berfungsi sebagai media pendidikan spiritual, bukan sekadar formalitas keagamaan. Sang Hyang Rare Angon sangat erat kaitannya dengan perayaan hari suci ini.

“Sang Hyang Rare Angon” merupakan simbol Tuhan sebagai penggembala dan pelindung makhluk hidup. Ia melambangkan aspek ilahi yang mengasuh, menjaga, dan melindungi kehidupan, khususnya makhluk-makhluk yang lemah dan tak bersuara. Pemujaan ini menegaskan bahwa Tuhan hadir tidak hanya di tempat suci, tetapi juga dalam relasi manusia dengan alam,” jelas Irma.

Irma menyimpulkan bahwa Tumpek Uye dalam konsep Seva adalah bentuk sebuah pengetahuan dalam nilai pelayanan yang sangat sederhana tetapi sarat dengan makna. Tumpek Uye mengajarkan nilai yang sangat signifikan yaitu pelayanan tanpa pamrih. Merawat binatang, memberi makan, menjaga kesehatannya, dan tidak menelantarkan kehidupannya. Nilai inilah reward bagi kemuliaan terlahir sebagai manusia. Keutamaan manusia dalam ajaran Hindu tidak terletak pada kekuasaan untuk menundukkan alam, melainkan pada kemampuan untuk bertanggungjawab secara etis. “Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa semakin tinggi kesadaran manusia, semakin besar pula kewajibannya untuk melindungi kehidupan,”  imbuhnya.

Di akhir, Irma mengingatkan bahwa kasih tanpa kesadaran adalah kebiasaan kosong, kesadaran tanpa kasih adalah kekeringan batin, ketika kasih menjadi kesadaran, manusia menata hidupnya dengan penuh makna. Tumpek Uye mengajak manusia untuk kembali menyadari tanggung- jawabnya sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung. Kasih yang lahir dari kesadaran akan menuntun manusia untuk hidup lebih bijak, tidak eksploitatif dan penuh empati, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Baca Juga  Gubernur Koster Instruksikan Perayaan ‘’Tata-titi Rahina Tumpek Uye’’ kepada Masyarakat Bali

“Mengasihi hewan bukan sekedar simbol ritual, melainkan wujud tanggung-jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam, menghormati kehidupan dan mengendalikan ego. Pada akhirnya, Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa kasih sejati tidak selalu terlihat atau terdengar, tetapi terasa dalam kesadaran dan tanggung- jawab,” tutup Irma. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri “Pemelaspasan” Bale Kulkul dan “Piodalan Nadi” Banjar Bun

Published

on

By

warga Banjar Bun, Desa Adat Denpasar, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur melaksanakan Karya Pemelaspasan Bale Kulkul
KARYA PEMELASPASAN: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa saat hadiri Karya Pemelaspasan Bale Kulkul sekaligus Piodalan Nadi di Banjar Bun, Sabtu (24/5). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Bertepatan dengan rahina Saniscara Kliwon Wuku Wariga, warga Banjar Bun, Desa Adat Denpasar, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur melaksanakan Karya Pemelaspasan Bale Kulkul sekaligus Piodalan Nadi di Banjar Bun, Sabtu (23/5).

Prosesi sakral tersebut berlangsung khidmat dan penuh makna sebagai wujud bhakti masyarakat dalam menjaga adat, budaya, dan keharmonisan banjar.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, yang turut membunyikan kulkul, menandatangani prasasti sebagai tanda diresmikannya Bale Kulkul. Acara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama serta menyerahkan punia dan bantuan hibah sebesar Rp 300 juta untuk pembangunan bale kulkul tersebut.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Mahendra Jaya, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmaja, Camat Denpasar Timur, Ketut Sri Karyawati, serta tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Arya Wibawa menyampaikan apresiasi atas terlaksananya upacara pemelaspasan Bale Kulkul tersebut. Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan semangat gotong royong serta kecintaan masyarakat terhadap adat dan budaya Bali yang patut dijaga dan dilestarikan.

“Setelah usai diupacarai melaspas, dumogi masyarakat Banjar Bun semakin erat dan kompak,” ujar Arya Wibawa.

Sementara itu, Ketua Panitia, I Gede Anom Pawira Suta menjelaskan bahwa Karya Pemelaspasan dilaksanakan seiring rampungnya pembangunan Bale Kulkul Banjar Bun. Prosesi tersebut kemudian dirangkaikan dengan Piodalan Nadi di Pura Merajan Banjar Bun sehingga kedua upacara dapat berlangsung bersamaan dalam satu hari yang penuh makna.

Upacara dipuput oleh Ida Pedanda Putra Keniten dari Griya Keniten, Banjar Tainsiat, Denpasar. Dengan jumlah sekitar 200 Kepala Keluarga yang tergabung dalam Banjar Bun, pihak panitia berharap keberadaan Bale Kulkul ini dapat menjadi pengingat bagi seluruh krama untuk senantiasa sadar berbanjar serta aktif dalam setiap kegiatan adat dan sosial kemasyarakatan.

Baca Juga  Honorary President World Water Council dari Brazil Terkesan Dengarkan Pidato Gubernur Bali ’’Memuliakan Air Melalui Upakara Tumpek Uye’’

Astungkara semoga dengan selesainya pemelaspasan bale kulkul ini akan semakin menambah manfaat bagi umat,” katanya.

Lebih lanjut, Bale Kulkul ini juga diharapkan menjadi simbol pemersatu masyarakat adat Banjar Bun sekaligus memperkuat keharmonisan kehidupan adat dan budaya di Kota Denpasar. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa Hadiri “Karya Ngenteg Linggih” di Desa Adat Semana Abiansemal

Published

on

By

ngenteg linggih
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Nyonya Rasniathi Adi Arnawa menghadiri pelaksanaan “Karya Ngenteg Linggih” di Pura Dalem dan Prajapati, Desa Adat Semana, Mambal, Kecamatan Abiansemal, Selasa (19/5). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Nyonya Rasniathi Adi Arnawa menghadiri pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan dan Mapedudusan Agung Menawa Ratna, serta Tawur Balik Sumpah yang digelar di Pura Dalem dan Prajapati, Desa Adat Semana, Mambal, Kecamatan Abiansemal, Selasa (19/5).

Kehadiran Bupati turut didampingi anggota DPRD Badung Made Ponda Wirawan, Kepala Dinas Kebudayaan I Gede Sukadana, Plt. Camat Abiansemal I Wayan Bagiarta Gunawan, serta prajuru dan tokoh masyarakat setempat.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Adi Arnawa menyerahkan bantuan hibah Pemerintah Kabupaten Badung secara simbolis sebesar Rp 1,35 miliar, yang dirangkaikan dengan penandatanganan prasasti pura. Selain itu, juga diserahkan dana punia sebesar Rp 25 juta sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya.

Bupati Wayan Adi Arnawa mengapresiasi semangat gotong-royong krama Desa Adat Semana sehingga seluruh rangkaian karya dapat terlaksana dengan baik dan lancar. “Pelaksanaan yadnya ini bukan hanya wujud sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga sarana memperkuat keharmonisan di tengah masyarakat. Pemerintah Kabupaten Badung senantiasa mendukung upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian adat dan budaya. Semoga upacara ini berjalan lancar, labda karya, sida sidaning don,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kabupaten Badung sepanjang tahun 2025 serta program-program strategis yang akan dilaksanakan pada tahun 2026. Program tersebut mencakup berbagai sektor, diantaranya pembangunan infrastruktur, olahraga, pelestarian adat dan budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia I Wayan Suwen melaporkan bahwa Karya Ngenteg Linggih ini telah direncanakan sejak tahun sebelumnya dan diawali dengan matur piuning pada 16 Februari 2026.

Baca Juga  Perayaan Rahina Tumpek Uye, Upacara Segara Kerthi Dipusatkan di Pantai Yeh Gangga Tabanan

“Untuk rangkaian karya pada 19 Mei 2026, dilaksanakan upacara Tawur dan Pedanan yang dipuput oleh lima sulinggih, yakni Ida Pedanda dari Griya Pada Mambal, Ida Pedanda Griya Gede Baha, Ida Pedanda Putra Mayun Griya Babakan Baleran, Ida Pedanda Budha Saraswati, Bujangga Sibanggede dan Ida Bagus Putra Padang Tegal,” jelasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Denpasar Jaya Negara Ngupasaksi Pemelaspasan Gedung Serbaguna Banjar Batanpoh Sanur Kaja 

Published

on

By

walikota denpasar
NGUPESAKSI: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri sekaligus ngupasaksi karya Upacara Pemelaspasan Pewaregan dan Gedung Serbaguna Balai Banjar Batanpoh, Sanur Kaja, yang bertepatan dengan Rahina Tilem Jiyestha, Sabtu (16/5). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir sekaligus ngupasaksi karya Upacara Pemelaspasan Pewaregan dan Gedung Serbaguna Balai Banjar Batanpoh, Sanur Kaja, yang bertepatan dengan Rahina Tilem Jiyestha, Sabtu (16/5).

Turut hadir pula pada kesempatan itu, anggota DPRD Kota Denpasar, Ida Bagus Yoga Adi Putra, tokoh Penglingsir Sanur, Ida Bagus Ngurah Mudita, dan tamu undangan lainnya.

Suara tetabuhan mengiringi tari-tarian persembahan, berpadu dengan lantunan kidung suci, menambah khidmat dan sakral proses rangkaian upacara yang sejak pagi telah dilaksanakan itu.

Pada momentum itu, Walikota Denpasar Jaya Negara, usai meninjau gedung serbaguna Balai Banjar Batanpoh itu, menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir menyaksikan langsung pelaksanaan upacara pemelaspas bangunan tersebut.

Jaya Negara juga berharap, bangunan baru ini, utamanya gedung serbaguna nantinya akan dapat bermanfaat bagi para warga, tak terkecuali Sekaa Teruna-teruni yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan positif.

Astungkara, nantinya pewaregan dan gedung serbaguna ini bisa memberi manfaat agar bisa digunakan untuk tempat latihan seni, atau kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya,” ungkap Jaya Negara.

Sementara itu, Ketua Panitia acara, I Wayan Sudiarta mengatakan, adapun pembangunan pewaregan dan gedung serbaguna ini sudah dilaksanakan sejak bulan September 2025 lalu.

“Kami segenap warga Banjar Batanpoh, Sanur Kaja mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kota Denpasar sehingga bangunan ini dapat diselesaikan,” katanya.

Pihaknya juga akan mendorong para warga terutama Teruna-Teruni Banjar Batanpoh agar bisa menggunakan gedung serbaguna ini untuk latihan kesenian, ataupun kegiatan kreativitas anak muda lainnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Rayakan Tumpek Uye di Pura Sakenan, Gubernur Koster dan Jajaran Pemprov Bali Lakukan Aksi Nyata Lindungi Alam
Lanjutkan Membaca