Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sang Pencipta Tari Cak I Wayan Limbak, Hidup Sepanjang Hayat

BALIILU Tayang

:

de
I WAYAN LIMBAK: Sang pencipta tari Cak di usianya yang ke-96 tahun. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Brosur-brosur kepariwisataan mencitrakan: Bali begitu identik dengan tari Cak. Tapi amat sedikit yang  paham, Cak lahir dari lelaki kukuh bernama I Wayan Limbak dari Desa Bedulu Gianyar.

SUATU senja April 2003 di bawah naungan pohon leci rindang, angkul-angkul pekarangan rumah itu tertutup rapat. Penulis datang mengetuk-ngetuk daun pintu kayu beberapa kali. Pada ketukan terakhir, bukan sapaan orang menyahut melainkan gonggongan anjing menyalak. Baru kemudian ada anak muda terburu-buru membukakan pintu, menyilakan kami masuk.

Toh kami tak serta merta merasa tenang. Enam anjing merubung kaki kami, meskipun tiada satu pun yang menggigit. Dari jarak dekat mereka menyalak kencang, lalu perlahan mengendur. Inilah ‘’upacara sapaan’’ barangkali bagi tetamu asing yang hendak berkunjung ke rumah dengan seluruh bangunan bergaya Bali itu. Setelah kami berdiri di natah (halaman) rumah, anjing-anjing itu sontak jinak, melengos manja. Ekornya kutal-kutil memberi isyarat bersahabat. Lamat-lamat lagu ‘si unyil’ dilantunkan burung Koak Kaok, Lombok dari sangkarnya di depan bale delod (selatan).

Gaya bangunan itu terlihat kukuh mempertahankan tradisi Bali. Sanggah-sanggah kuna berukir, ada bale daje di sisi utara, bale gede (tiang 12) di sisi timur, bale dauh di sisi barat dan rumah tinggal di sisi selatan, dapur berada di sisi tenggara berjejer dengan rumah tinggal di sisi selatan.

Seorang kakek hanya berselempang handuk, tanpa baju, duduk di kursi di samping pintu dapur, kakek itu tidak menghiraukan gonggongan anjing-anjing ras peking dan Kintamani tadi. Tangannya sibuk menggaruk-garuk sekujur tubuhnya. Dari kepala, tangan, dada, punggung, sampai ke kaki. Lelaki renta itulah I Wayan Limbak, pencipta tari Cak asal Banjar Marga Bingung Desa Bedulu Blahbatuh Gianyar. ‘’Kak anggo bajune, ada tamu!’’ tegur menantunya dengan suara meninggi, menyuruh mertuanya memakai baju.

de
I WAYAN LIMBAK: Di bangunan bale dauh dimana Krisman menginap. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Kakek itu tergagap. Matanya awas melihat kami. Sontak ia berdiri, tergopoh-gopoh menuju bale dauh, kamar yang digunakan untuk tidur. Di bale dauh bertiang paras berukir itulah Krisman, arkeolog purbakala Belanda, penemu situs Goa Gajah nun sebelum menjadi objek wisata tenar, sehari-hari tidur.

Beberapa menit kakek yang sudah berkelab (anak dari cicit) keluar menggunakan sarung, baju dan kaca mata hitam. Menantunya bilang, kakek kini doyan berdandan, memang. ‘’Tiang kapok naar be celeng,’’ ungkap I Wayan Limbak kepada kami yang telah menunggu di bale daja. Katanya, dia kini merasa kapok menyantap daging babi, karena membikin sekujur tubuhnya gatal-gatal. Mungkin ia alergi. Sudah beberapa kali diobati dokter kulit, tetap saja tidak kunjung sembuh.

Tak terasa sudah 17 tahun berlalu penulis berbincang lama dengan I Wayan Limbak, sebelum akhirnya berpulang lima bulan kemudian. Dan, siang umanis Galungan 20 Februari 2020, penulis kembali berkunjung ke rumah sang pencipta tari Cak yang kini tarian teatrikal itu banyak dipentaskan sebagai tontonan para turis. Di antara stage besar di Bali yang menampung ratusan bahkan ribuan penonton saban hari adalah Cak Uluwatu, Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana, Sahadewa Stage Batubulan, Pura Taman Saraswati Ubud dan masih banyak lagi termasuk khusus pementasan di hotel. Memang, tari Cak kini menjadi paket wisata yang paling digandrungi wisatawan. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Bali tanpa merasakan sensasi atraksi tari Cak sambil menikmati sunset (matahari terbenam).

Pohon leci masih kokoh berdiri di samping angkul-angkul. Cuma pintu yang sudah terbuka penuh diberi rangka besi setengah badan, ada lonceng mini yang digantung di bawah. Manakala penulis mencoba mendorong pintu besi itu, suara dentingan lonceng berbunyi nyaring. Anjing-anjing mini kembali menyalak berbarengan pertanda sapaan. Sebentar kemudian wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh menyilakan kami masuk sambil menanyakan tujuan datang.

Siang itu, penulis datang memang bukan ingin bertemu I Wayan Limbak yang sempat kami wawancarai pertengahan April 2003. Karena kami tahu, I Wayan Limbak telah berpulang pada 3 November 2003, 5 bulan setelah kami sempat berbincang seputar kelahiran tari Cak hingga ngelimbak (terkenal) sampai seantero dunia. Tetapi, ingin bertemu dengan salah seorang putranya I Wayan Patra meminta izin untuk kembali memutar ulang tulisan I Wayan Limbak yang pernah dimuat di majalah Sarad edisi 37 April 2003 untuk diunggah di sebuah media online baliilu.com. ‘’Silakan saja pak, tidak apa-apa!,’’ ujar I Wayan Patra menyilakan sambil berbincang di bale delod yang kemudian mencetuskan keinginannya membuat yayasan I Wayan Limbak yang bergerak di bidang pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali. Tentu pembentukan yayasan ini tak lepas dari semangat almarhum yang selama hidupnya mendedikasikan diri mengabdi di bidang seni.

Kembali mengenang Limbak yang kala itu sudah berusia hampir seabad, 96 tahun, Limbak memang tidak lagi seperti tampak di setiap foto-fotonya yang dipajang di berbagai museum di Bali maupun di luar negeri. Cuma di buku-buku yang bercerita tentang tari Cak zaman lampau, pada masa-masa awal Cak, Limbak kerap memerankan tokoh kokoh perkasa Kumbakarna, adik maharaja raksasa Rahwana. Tubuhnya tegap, kukuh, bola batanya bulat berbinar. Rambutnya keriting memanjang. Lengan-lengannya kukuh layaknya batang-batang pohon leci di depan rumahnya.

de
KUKUH: Di usia senja Limbak masih kukuh, penuh semangat. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Tak heran bila Limbak menjadi idola zamannya, untuk peran-peran perkasa. Selain Kumbakarna, ia juga kerap memerankan tokoh sakti Subali, maupun penari jauk dan baris. Setiap pentas, sakaa (kelompk) Cak Bedulu yang dibentuknya pun memukau. Dan, di sana Limbak adalah pusat perhatian, medan magnet, penyedot rasa kagum penonton. Mereka puas bila dapat menyaksikan kibasan tangan, sabetan  kaki, dan sorot mata cemerlang Limbak. Orang-orang pun mempersamakan sekaa Cak Bedulu dengan sekaa Cak Limbak.

Di layar potret dan kenangan ingatan, Limbak ketika ditemui penulis, hanyalah sesosok kakek renta. Pendengarannya tidak lagi bernas, kulitnya keriput. Matanya yang dulu berbinar kini menyipit. Ia tidak lagi awas melihat benda jauh, sehingga kerap mengenakan kaca mata hitam, agar tidak silau. Yang tersisa pada pemilik belasan cicit kelahiran 1907 ini adalah, semangat hidupnya yang energik, tiada putus berdenyut, meskipun usianya hampir genap seabad.

Di usia hampir seabad Limbak masih kuat dan teguh, menyapu halaman rumah. Saban pagi ia ngayah nyapuh di Pura Samuan Tiga. Bila diminta menari, ia masih tangkas menarikan polah Kumbakarna dengan nengkleng, ngulap-ulap, dan ngecak. Daya ingatnya pun masih bernas. Pun, ketika kami bertanya perihal kisah kelahiran tari Cak, ia sanggup bertutur berjam-jam tiada jeda. Tangannya berkelebat-kelebat mengikuti penggambaran ingatannya, episode demi episode, dengan data akurat.

Tari Cak dalam kesaksian Limbak terlahir dari inspirasi tari Shang Hyang Jaran. Di Bedulu, ketika itu, ada tradisi: Jika ada orang sakit maka pihak keluarga nguntap (menanggap) tari Shang Hyang Jaran. Selain sebagai pengusir roh jahat, tarian yang disakralkan masyarakat Bedulu itu juga dipentaskan di Pura Goa Gajah saat piodalan.

de
LIMBAK: Ketika menari Cak tempo dulu. (FT: Koleksi keluarga)

Walter Spies, seniman asal Jerman menetap di Ubud yang menonton tari Shang Hyang Jaran itu, lantas tertarik menciptakan tarian yang bisa disuguhkan untuk para pelancong. Keinginan Walter Spies tersebut dilontarkan kepada I Wayan Limbak. Dari tari Shang Hyang Jaran itulah, tahun 1930 Limbak lantas melahirkan tarian yang kelak diberi nama  tari Cak.

Nyanyiannya, diambil dari ritme tari Shang Hyang Jaran, sedangkan komposisi diciptakan baru bersama Walter Spies, juga suara cak cak cak itu. Nama Cak itu, memang diangkat dari suara cak cak cak yang bersahutan, berinterkoneksi, silih berganti.

Hanya beranggotakan 40 orang yang diambil dari warga Bedulu, sekaa Cak pun berdiri. Semula mereka pentas, di depan tetamu Jerman yang khusus diundang Walter Spies pentas selama 45 menit. Mereka kerap menukil kisah-kisah epos Ramayana, yang memang tenar di Bali.

Tari Cak ciptaan Limbak pun bersambut dengan cita rasa tetamu Jerman. Meskipun digarap bersahaja. Tata rias muka dan busananya serba sederhana. Mereka hanya mabulet ginting, kain dililitkan sebatas untuk menutupi kemaluan. Terang saja pantat penari menyembul benderang. Rambut dibiarkan tergerai.

de
TERIMA PENGHARGAAN: Dari banyak penghargaan, Piagam Parama Satya Citra Kara diterima tahun 2019. (Foto: GS)

Kesahajaan itulah yang justru memikat, memancarkan karakter kuat, hingga menebarkan aura pesona. Saat Limbak ngagem Kumbakarna, misalnya, empat butir kelapa digantungkan di lengannya untuk mencitrakan kekukuhan. Penonton seakan diajak mengingat adegan Kumbakarna yang dikeroyok di medan laga oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa dari Gunung Kiskenda. Kokoh, kuat, dan pantang menyerah.

Gambaran sosok Limbak sebagai tokoh Kumbakarna dalam tarian Cak tempo dulu ini banyak tersimpan di museum-museum ternama, seperti di museum Suteja Neka, serta di museum negeri Belanda dalam bentuk-bentuk berukuran besar.

Limbak memang sosok seniman terbuka. Ia tidak segan menimba ilmu kepada orang lain, tidak pula jerih ditiru seniman lain.  Dasar-dasar tari ia banyak reguk dari I Gusti Ngurah Regug, penari jauk asal Tegal Tamu, dan I Made Jagung, penari Gambuh asal Denjalan, Batubulan. Namun, ia tetap giat menciptakan perbendaharaan gaya tari Cak yang sebelumnya gerakannya sederhana, terus diperbaharui dengan gaya telungkup, menaikkan tangan, atau tidur. Limbak juga mengajak I Gusti Kompyang Gelas, penari Cak asal Bona Gianyar untuk bergabung di sekaa-nya.

Dari orang inilah, kemudian di Bona tari Cak berbiak dan meretas ke berbagai wilayah di Bali sampai ke luar negeri. Limbak juga mendorong kemunculan sekaa Cak di Bedulu Delod Pempatan, sehingga di Desa Bedulu ada dua sekaa Cak: Sekaa Delod Pempatan dan Dajan Pempatan. Kedua sekaa ini bahkan sempat adu kepiawaian saat pasar malam di alun-alun Gianyar. ‘’Tiang bahagia, tari Cak bisa berkembang menjadi duen jagat, milik masyarakat,’’ tutur Limbak, polos.

Keterbukaan Limbak kepada siapa saja terlihat dari banyaknya tamu yang datang ke rumahnya. Termasuk para tamu asing yang bermaksud belajar budaya Bali, terkhusus tari Cak. Tidak terhitung jumlah orang yang berkunjung. Mereka datang dari Jerman, Cekoslovakia, Belanda, Jepang. Ada juga mahasiswa Narova University, Amerika Serikat, yang kerap meneliti tari Cak di rumah Limbak.

Ia pun dengan lapang memberikan informasi berjam-jam tanpa keluh lelah, sebaliknya ia justru merasa puas secara bathin. Dengan bertutur kata ia merasa gelora kesenimanannya tidak beku tersumbat, melainkan terus mengalir deras lewat orang-orang yang datang menimba ilmu padanya.

‘’Jika hanya berpentas untuk para tamu, kelak tari Cak hanya akan dikenal turis-turis asing,’’ pikir Limbak terhadap tari Cak-nya semula hanya pentas di depan tamu asing. Karena itu, untuk memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali, Limbak bersama sekaa Cak Bedulu ngelawang ke pelosok-pelosok desa. Selain menambah penghasilan sekaa, pentas itu sekaligus memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali. Ini tentu pengorbanan tiada ternilai, karena anggota sekaa harus berjalan kaki ke seantero Bali, meninggalkan keluarga, berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan.

‘’Tiang sempat menerima undangan tuan Branch, subandar pelabuhan Buleleng.  Setelah pentas di depan para tamu di pelabuhan, kami kemudian ngelawang ke daerah-daerah di Buleleng,’’ kenang Limbak, satu-satunya penari sekaa Cak Bedulu generasi pertama yang masih hidup tahun 2003.

Kegigihan Limbak memperkenalkan tari Cak, mendapat sambutan hangat masyarakat. Sampai-sampai terdengar ke telinga  Presiden Soekarno yang doyan tari Bali. Sekaa Cak Limbak pun kerap pentas di Istana Tampak Siring, di hadapan Presiden Soekarno.

Suatu ketika, sekaa Cak pentas di pura. Mereka menari menggunakan pakaian ada ke pura. Dari sinilah kemudian busana tari Cak tidak lagi mabulet ginting. Mereka mulai menggunakan saput dan kamben (kain). ‘’Tapi para tamu asing lebih menyukai mabulet ginting,’’ papar Limbak.

Ketenaran sebagai penari cak menjadikan kakek bercucu 21 ini didaulat sebagai perbekel Desa Bedulu oleh raja Gianyar. Kemampuan melobi dan hubungan bagus dengan tetamu manca negara, lebih-lebih lagi dengan Walter Spies, menjadikan banyak aliran sumbangan mengarus ke Desa Bedulu termasuk ke kantongnya sendiri. Dana itu lantas digunakan untuk membangun Pura Samuan Tiga dan Pura Pengastulan. ‘’Wenten jinah tumbasang paras, anggen ngewangun pura,’’ ujar kakek beristri tiga ini.

Gaya kepemimpinan Limbak memang lain. Dia tidak saja mengorbankan materinya, yang sepatutnya dia terima, juga memberikan cuma-cuma rumahnya untuk kantor kepurbakalaan dan tempat tinggal Krisman, bertahun-tahun. Kemurahan Limbak tersebut membuahkan penemuan berbagai benda purbakala di Bedulu. Salah satunya Pura Goa Gajah yang kini banyak dikunjungi wisatawan, sebagai sumber pendapatan warga Bedulu.

Keterbukaan Limbak sebagai pemimpin di desa tidak saja disukai masyarakat juga para pejabat. Rumahnya yang terbuka bagi para tetamu itu pun disinggahi orang-orang terkenal semisal Raja Gianyar AA Gde Agung dan pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai, juga arkeolog Prof. Dr. Soekmono. ‘’Saya sering berbincang-bincang tentang Bali dengan mereka di sini,’’ kenang Limbak yang membiarkan bangunan bale dauh-nya tetap kuno hingga kini. Dengan gaya ceplas-ceplosnya, Presiden Soekarno pun doyan ngobrol berlama-lama dengannya. Kerap pula ia diajak makan semeja. Keakraban itu mengantarkan Limbak suatu kali lolos nyelonong masuk ke ruangan presiden di Tampak Siring. Saat itulah ia melihat sang Presiden RI pertama itu tanpa topi. ‘’Wah, saya tidak menyangka yang tidak memakai topi itu Pak Karno, tampangnya lain sekali bila tidak memakai topi,’’ kenang Limbak.

Kesibukan sebagai perbekel, tidak mengurangi jadwal pentasnya ke desa-desa lain, memang, namun dia tak lagi bisa mengajar menari orang lain secara khusus. Dia seakan kehabisan kesempatan buat menularkan kemampuannya. Namun ia tak menampik ketika orang lain meniru watak maupun gaya tariannya. Andaikan Limbak orang barat yang fanatik dengan hak cipta, tentulah dia sudah kaya raya, karena kebanjiran royalti. Kini tari Cak ciptaannya telah dikenal luas, menjadi maskot industri kepariwisataan Bali. Saban kali dipentaskan, dipotrek jadi kartu pos dijadikan sampul kaset, vcd, latar iklan, dll.

Tapi, Limbak tidak pernah minta hak royalti. Dia sama sekali tidak bermaksud kikir terhadap ilmu yang dimilikinya. Ketika tidak sedikit yang berhasil meniru gayanya, Limbak pun tidak keberatan. Sebut saja, tari Cak yang kini berkembang pesat di Bona, yang mengalir ke daerah-daerah pariwisata, seperti Nusa Dua, Kuta, Ubud, Batubulan. Tarian ini juga banyak mengilhami koreografer maupun pencipta lagu seperti Guruh Soekarno Putra lewat lagu ‘’Kembalikan Baliku Padaku’’ yang kental nuansa caknya. Padahal di Bedulu tempat kelahirannya, tari Cak nyaris punah. Artinya sekaa tersebut sekarang sudah tidak lagi aktif, walaupun benih-benihnya masih ada.

‘’Walaupun ditiru-tiru, saya tidak apa-apa. Yang penting tarian itu tetap hidup dan tetap disukai masyarakat luas,’’ papar peraih penghargaan pencipta tari Cak dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Republik Indonesia 1996, ini.

Yang membuat dia kerap merasa sedih, justru pementasan tari di hotel-hotel yang berdampak buruk terhadap sekaa-sekaa sebunan yang berbasis di desa. Dalam ingatan dia, tahun 1960-an turislah yang datang ke desa dan menikmati tari-tarian di desa. Para tamu itu, di samping menikmati tarian juga bisa melihat perajin di desa bersangkutan. Sebaliknya kini, senimanlah datang ke hotel menjajakan tarian. ‘’Ini jelas membunuh sekaa sebunan,’’ ujar Limbak.

Sekaa Cak Bedulu, contohnya. Dulu mereka sempat pentas rutin di tiga tempat di seputar Bedulu: di Goa Gajah, Pura Samuan Tiga, dan Mandala Wisata Samuan Tiga. Kini mereka praktis menganggur, karena wisatawan tidak mau lagi datang ke desa. Sekaa Cak dan Legong Ganda Manik Bedulu ini sempat pentas di hotel namun buru-buru tidak dilanjutkan karena upah tidak sesuai dengan pengorbanan kreativitas yang mereka berikan. Kini mereka beralih menjadi perajin ukir.

‘’Meskipun sekaa bubar, namun jika suatu ketika pentas, mereka cukup latihan beberapa kali, pasti jadi,’’ jamin Limbak yang sejak 1967 mengundurkan diri menjadi perbekel, lalu mengabdi sebagai ketua panitia Pura Samuan Tiga hingga tahun 1992.  ‘’Tiang merasa ditakdirkan mengabdi di desa ini sampai akhir hayat,’’ ujar bapak empat putra ini.

de
I WAYAN PATRA: Putra Limbak yang segera akan membentuk Yayasan I Wayan Limbak untuk mengenang dedikasinya di bidang seni khususnya tari Cak. (Foto:GS)

Meski usia Limbak mendekati 1 abad, toh semangat Kumbakarna membela negeri kelahirannya hingga akhir hayat tiada putus berdenyut di jiwanya. Raganya yang kian rapuh tiada dihiraukan benar. Saban pagi ia setia kukuh bergegas menuju Pura Samuan Tiga, 500 meter dari rumahnya. Di tempat suci yang disebut-sebut sebagai lokasi pendeta visioner asal tanah Jawa Mpu Kuturan mempersatukan sekta-sekte di Bali abad ke-11 itu, Limbak penuh bakti menunaikan tugasnya: menyapu kotoran, ranting-ranting, dan dedaunan yang jatuh ke natar pura nan luas. ‘’Bahkan 10 hari sebelum Bapak meninggal masih sempat berjalan sendiri nyayah nyapuh ke pura,’’ ujar I Wayan Patra, suatu siang setelah 17 tahun berlalu.

Di pura tersebut ia serahkan seluruh jiwa dan raganya. Lewat sapu lidi, Limbak saban hari bermeditasi menghilangkan sifat-sifat rajas dan tamas yang melekat di tubuhnya. Usai ngayah nyapuh terkadang ia tertidur pulas di bale-bale pura, begitu lepas merdeka, tiada beban. ‘’Tiang merasa segar setelah ngayah iriki,’’ ujarnya polos.

de
I WAYAN LIMBAK: Lahir tahun 1907 dan meninggal 3 November 2003. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Di lain waktu, jika ada tamu-tamu yang datang menjenguk baik di pura saat pagi hari maupun di rumahnya, ia dengan riang meluangkan waktu berjam-jam memaparkan sejarah tari Cak disertai gerakan-gerakannya yang kuat, kukuh, penuh daya pukau. Ia tidak tampak begitu tua. Namun setelah orang-orang pergi meninggalkannya, ia kembali dalam kesendirian, pun ketika menghadap Hyang Maha Kuasa. Namanya kian sayup seperti irama suara cak-cak cak penari Cak yang kian menjauh. (Gede Sumida)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Les Kelanguan Memukau PKB XLVIII, Duta Badung Angkat Spirit “Mebuug-buugan” Kedonganan

Published

on

By

barong landung
PENAMPILAN LES KELANGUAN: Penampilan Duta Kabupaten Badung melalui Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta dengan garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Selasa (7/7/2026) pukul 17.00 Wita. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar dipadati penonton yang antusias menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Selasa (7/7/2026) pukul 17.00 Wita. Dipentaskan oleh Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” berhasil memukau penonton melalui perpaduan seni pertunjukan, tradisi, dan pesan spiritual yang kuat.

Pementasan diawali dengan tabuh petegak bebarongan berjudul “Jala Maasin”. Garapan ini mengangkat filosofi air sebagai sumber kehidupan yang mengalir dari pegunungan hingga bermuara di pesisir. Pertemuan air tawar dan air laut yang menghasilkan air payau dimaknai sebagai simbol keharmonisan alam. Dalam ajaran Hindu, perpaduan air tersebut juga memiliki nilai sakral sebagai salah satu sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya.

Memasuki garapan utama, “Les Kelanguan” mengangkat tradisi “Mebuug-buugan”, ritual khas masyarakat Desa Adat Kedonganan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi bermain lumpur ini menjadi metafora perjalanan menuju Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha. Kisah diawali dari keceriaan anak-anak yang bermain lumpur merah di pesisir sebagai simbol sifat alami manusia yang masih dipenuhi kekotoran. Perjalanan kemudian berkembang menjadi konflik yang mencerminkan gejolak batin dan ego manusia.

Alur cerita berlanjut dengan hadirnya sosok dukuh yang menanamkan nilai-nilai dharma sebagai tuntunan hidup. Perjalanan spiritual kemudian mencapai tahap penyucian di pesisir barat melalui prosesi Sesuhunan yang lunga ngintar merespons mrana desa. Kehadiran Legong, Telek, hingga manifestasi sakral Ida Jro Wayan dan Ida Jro Luh dalam wujud Barong Landung memperkuat pesan bahwa manusia akan mencapai keseimbangan apabila mampu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya hingga mencapai jiwa yang Sidha Parisudha.

Koordinator Nglawang Barong Landung Duta Kabupaten Badung, Agus Suanjaya, mengatakan tema “Les Kelanguan” terinspirasi dari kawasan hutan mangrove di pesisir timur Kedonganan. Menurutnya, garapan tersebut menjadi media untuk memperkenalkan tradisi-tradisi yang masih hidup di Desa Adat Kedonganan kepada masyarakat luas.

“Kami mengangkat tradisi yang ada di Desa Adat Kedonganan, terutama Mebuug-buugan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi itu kami hadirkan ke dalam konsep garapan agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya yang kami miliki. Harapan kami, desa adat maupun duta kabupaten lainnya juga terdorong mengangkat tradisi yang dimiliki daerahnya masing-masing,” ujar Agus Suanjaya.

Ia menjelaskan proses kreatif pementasan telah dimulai sejak 11 Februari 2026 dan berlangsung selama sekitar empat setengah bulan. Sebanyak 108 seniman dilibatkan dalam proses latihan hingga akhirnya tampil mewakili Kabupaten Badung pada panggung PKB XLVIII.

Sementara itu, penari yang memerankan tokoh kakek, Agus Suwira, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali. Menurutnya, festival seni tahunan ini menjadi wadah penting bagi para seniman untuk terus berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan seni dan budaya Bali.

“Pesta Kesenian Bali memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga kegiatan ini terus berkembang sehingga seni dan budaya Bali tetap lestari dan semakin dicintai oleh generasi muda,” kata Agus Suwira.

Dalam pementasan tersebut, Agus Suwira memerankan sosok kakek yang menjadi panutan keluarga dengan memberikan tuntunan kepada cucu-cucunya agar tumbuh menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, mampu menjaga nilai-nilai budaya, serta menjadi kebanggaan masyarakat.

Sementara itu, Gung Gita yang memerankan tokoh nenek menjadi simbol kasih sayang dan kebijaksanaan dalam keluarga. Kehadiran kedua tokoh tersebut memperkuat pesan moral pementasan tentang pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai dharma, menjaga keharmonisan kehidupan, serta mewariskan tradisi kepada generasi penerus.

Tepuk tangan panjang dari penonton menutup pementasan sore itu. Melalui garapan “Les Kelanguan”, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menyuguhkan pertunjukan yang memukau secara artistik, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memahami makna penyucian diri, menjaga keharmonisan dengan alam, serta melestarikan tradisi sebagai identitas budaya Bali yang terus hidup dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bersama Ribuan Masyarakat, Gubernur Koster Saksikan Parade Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Gianyar dan Badung

Published

on

By

gubernur koster
SAKSIKAN GONG KEBYAR: Gubernur Bali Wayan Koster saat hadir langsung menyaksikan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa pada PKB 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar pada Rabu (8/7) malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Sebagai bentuk dukungan terhadap seniman yang tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung menyaksikan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar pada Rabu (8/7) malam.

Pada kesempatan ini tampil Komunitas Seni Sanggar Naya Art, Br. Menguntur Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar dan Komunitas Seni Baturenggong, Br. Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Duta Kabupaten Badung.

Duta Kabupaten Gianyar mengawali dengan persembahan garapan Tabuh Lima Lelambatan berjudul “Guntur Madu”. Sementara Duta Kabupaten Badung mempersembahkan garapan Tabuh Lima Lelambatan Kreasi berjudul “Lawas”.

Pada penampilan kedua, Duta Gianyar mempersembahkan Tari Kreasi Kekebyaran berjudul “Gonggang”. Sementara Duta Kabupaten Badung selanjutnya mempersembahkan Tari Kreasi Kekebyaran berjudul “Masepuh”.

Pada persembahan pamungkas, Komunitas Seni Sanggar Naya Art, Br. Menguntur Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar mempersembahkan Pragmen Tari berjudul “Sri Tanjung”.

Pragmen tari ini berkisah tentang kesetiaan Sri Tanjung yang difitnah oleh Prabu Sulakrama. Karena hasutan tersebut, sang suami, Sidapaksa, menjadi murka dan membunuh Sri Tanjung. Ketika akhirnya dia tahu jika istrinya Sri Tanjung adalah wanita tak berdosa, Sidapaksa harus membayar mahal dengan penggalan kepala Prabu Sulakrama yang sempat menjamah tubuh yang suci setelah dia ditolak oleh Sri Tanjung. Sebelum ia datang membawa penggalan kepala Prabu Sulakrama, Sidapaksa lalu menyerang Prabu Sulakrama dan berhasil memenggal kepalanya untuk dipersembahkan kepada istrinya Sri Tanjung untuk menyucikan jiwanya yang ternoda akibat tubuhnya yang dijamah oleh Prabu Sulakrama.

Sementara Komunitas Seni Baturenggong, Br. Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Duta Kabupaten Badung mempersembahkan Pragmen Tari berjudul “Jero Luh”.

Garapan ini menceritakan hidup Si Luh Punggul periode 1890 masehi, seorang perempuan sepuh yang mengabdikan hidupnya sebagai abdi setia Anak Agung Gede Agung di Puri Gede Abiansemal. Berkat kawisesan atau kekuatan spiritual yang dimilikinya, serta ikatan batin yang kuat dengan permaisuri Agung Gede Agung, Si Luh Punggul dipercaya sebagai pelindung abdi dan pawang hujan yang senantiasa menjalankan tugasnya dengan penuh kesetiaan. Menjelang akhir hayatnya, Si Luh Punggul menyampaikan sebuah permohonan terakhir agar Tapel (Topeng-red) Rangda diletakkan di atas jasadnya. Permohonan itu bukan sekadar wasiat, melainkan wujud tekadnya untuk tetap mengabdi meskipun raganya telah tiada.

Taksu cerita yang dibawakan oleh Duta Kabupaten Badung ini benar terlihat dan dirasakan dengan turunnya hujan tepat saat puncak cerita pementasan yang langsung disambut gemuruh tapuk tangan penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra.

Acara ditutup dengan foto bersama. Hadir pada kesempatan ini, Bupati Badung Nyoman Adi Arnawa, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, Kadis Kebudayaan Provinsi Bali Ida Bagus Alit Suryana, Kadis PMA Provinsi Bali  I.G.A.K Kartika Jaya Saputra. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bupati Adi Arnawa Bangga Saksikan Penampilan Duta Gong Kebyar Dewasa Badung pada PKB XLVIII

Published

on

By

bupati adi arnawa
SAKSIKAN GONG KEBYAR DEWASA: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Gubernur Bali Wayan Koster, berfoto bersama usai menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Rabu (8/7/2026). (Foto: Hms Badung)

Denpasar, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Gubernur Bali Wayan Koster, sangat bangga menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Rabu (8/7/2026).

Pada kesempatan tersebut, Kabupaten Badung diwakili oleh Komunitas Seni Baturenggong, Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, yang tampil berpasangan dengan Duta Kabupaten Gianyar.

Turut hadir Wakil Bupati Gianyar AA Gde Mayun, Ketua TP PKK Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa beserta Kepala OPD di lingkungan Pemkab Badung dan Gianyar.

Bupati Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi atas dedikasi seluruh seniman, pelatih, pembina, serta masyarakat yang telah mempersiapkan penampilan terbaik Gong Kebyar Dewasa sebagai representasi Kabupaten Badung pada ajang seni budaya terbesar di Bali tersebut.

Pemkab Badung akan terus hadir memberikan dukungan terhadap pembinaan kesenian agar warisan budaya Bali tetap lestari, berkembang, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

“Kami bangga melihat semangat para seniman yang tampil tadi, khususnya generasi muda, yang mampu menampilkan karya berkualitas dengan mengangkat sejarah serta nilai-nilai budaya lokal. Semoga penampilan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menjaga jati diri budaya Bali,” ujar Bupati.

Meski sempat diguyur hujan, namun tak menyurutkan semangat Bupati Adi Arnawa dan seluruh undangan untuk menyaksikan tiga garapan yang dibawakan oleh Komunitas Seni Baturenggong, Duta Kabupaten Badung.

“Penampilan Badung sangat mistis sekali, dengan menampilkan cerita Jero Luh yang terdapat memang ada ceritanya, salah satu kemampuannya bisa menjadi pawang hujan. Dan itu terbukti tadi, secara nyata bahwa sempat ada hujan langsung reda. Saya sempat bicara dengan Bapak Gubernur, itulah alam, benar-benar ada kekuatan dan interaksi. Itu luar biasa mistis dan Pak Gubernur sangat puas, kita semua cukup puas juga,” ungkapnya.

Komunitas Seni Baturenggong membawakan tiga garapan yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Sajian diawali dengan Tabuh Lelambatan yang menggambarkan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Mengwi, dilanjutkan Tari Kreasi yang mengangkat kisah Masepuh, putra Raja Mengwi yang hingga kini diyakini dan dihormati masyarakat di kawasan Seseh dan Munggu.

Penampilan ditutup dengan fragmentari yang mengisahkan Jero Luh, tokoh perempuan spiritual yang menjadi sungsungan masyarakat Mengwi dan memiliki keterkaitan erat dengan ritual sakral di Pura Dalem Mengwi. Pementasan melibatkan sebanyak 147 seniman yang sebagian besar merupakan generasi muda. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca