SENI
Sang Pencipta Tari Cak I Wayan Limbak, Hidup Sepanjang Hayat
BALIILU Tayang
7 tahun yang lalu:
Brosur-brosur kepariwisataan mencitrakan: Bali begitu identik dengan tari Cak. Tapi amat sedikit yang paham, Cak lahir dari lelaki kukuh bernama I Wayan Limbak dari Desa Bedulu Gianyar.
SUATU senja April 2003 di bawah naungan pohon leci rindang, angkul-angkul pekarangan rumah itu tertutup rapat. Penulis datang mengetuk-ngetuk daun pintu kayu beberapa kali. Pada ketukan terakhir, bukan sapaan orang menyahut melainkan gonggongan anjing menyalak. Baru kemudian ada anak muda terburu-buru membukakan pintu, menyilakan kami masuk.
Toh kami tak serta merta merasa tenang. Enam anjing merubung kaki kami, meskipun tiada satu pun yang menggigit. Dari jarak dekat mereka menyalak kencang, lalu perlahan mengendur. Inilah ‘’upacara sapaan’’ barangkali bagi tetamu asing yang hendak berkunjung ke rumah dengan seluruh bangunan bergaya Bali itu. Setelah kami berdiri di natah (halaman) rumah, anjing-anjing itu sontak jinak, melengos manja. Ekornya kutal-kutil memberi isyarat bersahabat. Lamat-lamat lagu ‘si unyil’ dilantunkan burung Koak Kaok, Lombok dari sangkarnya di depan bale delod (selatan).
Gaya bangunan itu terlihat kukuh mempertahankan tradisi Bali. Sanggah-sanggah kuna berukir, ada bale daje di sisi utara, bale gede (tiang 12) di sisi timur, bale dauh di sisi barat dan rumah tinggal di sisi selatan, dapur berada di sisi tenggara berjejer dengan rumah tinggal di sisi selatan.
Seorang kakek hanya berselempang handuk, tanpa baju, duduk di kursi di samping pintu dapur, kakek itu tidak menghiraukan gonggongan anjing-anjing ras peking dan Kintamani tadi. Tangannya sibuk menggaruk-garuk sekujur tubuhnya. Dari kepala, tangan, dada, punggung, sampai ke kaki. Lelaki renta itulah I Wayan Limbak, pencipta tari Cak asal Banjar Marga Bingung Desa Bedulu Blahbatuh Gianyar. ‘’Kak anggo bajune, ada tamu!’’ tegur menantunya dengan suara meninggi, menyuruh mertuanya memakai baju.

Kakek itu tergagap. Matanya awas melihat kami. Sontak ia berdiri, tergopoh-gopoh menuju bale dauh, kamar yang digunakan untuk tidur. Di bale dauh bertiang paras berukir itulah Krisman, arkeolog purbakala Belanda, penemu situs Goa Gajah nun sebelum menjadi objek wisata tenar, sehari-hari tidur.
Beberapa menit kakek yang sudah berkelab (anak dari cicit) keluar menggunakan sarung, baju dan kaca mata hitam. Menantunya bilang, kakek kini doyan berdandan, memang. ‘’Tiang kapok naar be celeng,’’ ungkap I Wayan Limbak kepada kami yang telah menunggu di bale daja. Katanya, dia kini merasa kapok menyantap daging babi, karena membikin sekujur tubuhnya gatal-gatal. Mungkin ia alergi. Sudah beberapa kali diobati dokter kulit, tetap saja tidak kunjung sembuh.
Tak terasa sudah 17 tahun berlalu penulis berbincang lama dengan I Wayan Limbak, sebelum akhirnya berpulang lima bulan kemudian. Dan, siang umanis Galungan 20 Februari 2020, penulis kembali berkunjung ke rumah sang pencipta tari Cak yang kini tarian teatrikal itu banyak dipentaskan sebagai tontonan para turis. Di antara stage besar di Bali yang menampung ratusan bahkan ribuan penonton saban hari adalah Cak Uluwatu, Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana, Sahadewa Stage Batubulan, Pura Taman Saraswati Ubud dan masih banyak lagi termasuk khusus pementasan di hotel. Memang, tari Cak kini menjadi paket wisata yang paling digandrungi wisatawan. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Bali tanpa merasakan sensasi atraksi tari Cak sambil menikmati sunset (matahari terbenam).
Pohon leci masih kokoh berdiri di samping angkul-angkul. Cuma pintu yang sudah terbuka penuh diberi rangka besi setengah badan, ada lonceng mini yang digantung di bawah. Manakala penulis mencoba mendorong pintu besi itu, suara dentingan lonceng berbunyi nyaring. Anjing-anjing mini kembali menyalak berbarengan pertanda sapaan. Sebentar kemudian wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh menyilakan kami masuk sambil menanyakan tujuan datang.
Siang itu, penulis datang memang bukan ingin bertemu I Wayan Limbak yang sempat kami wawancarai pertengahan April 2003. Karena kami tahu, I Wayan Limbak telah berpulang pada 3 November 2003, 5 bulan setelah kami sempat berbincang seputar kelahiran tari Cak hingga ngelimbak (terkenal) sampai seantero dunia. Tetapi, ingin bertemu dengan salah seorang putranya I Wayan Patra meminta izin untuk kembali memutar ulang tulisan I Wayan Limbak yang pernah dimuat di majalah Sarad edisi 37 April 2003 untuk diunggah di sebuah media online baliilu.com. ‘’Silakan saja pak, tidak apa-apa!,’’ ujar I Wayan Patra menyilakan sambil berbincang di bale delod yang kemudian mencetuskan keinginannya membuat yayasan I Wayan Limbak yang bergerak di bidang pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali. Tentu pembentukan yayasan ini tak lepas dari semangat almarhum yang selama hidupnya mendedikasikan diri mengabdi di bidang seni.
Kembali mengenang Limbak yang kala itu sudah berusia hampir seabad, 96 tahun, Limbak memang tidak lagi seperti tampak di setiap foto-fotonya yang dipajang di berbagai museum di Bali maupun di luar negeri. Cuma di buku-buku yang bercerita tentang tari Cak zaman lampau, pada masa-masa awal Cak, Limbak kerap memerankan tokoh kokoh perkasa Kumbakarna, adik maharaja raksasa Rahwana. Tubuhnya tegap, kukuh, bola batanya bulat berbinar. Rambutnya keriting memanjang. Lengan-lengannya kukuh layaknya batang-batang pohon leci di depan rumahnya.

Tak heran bila Limbak menjadi idola zamannya, untuk peran-peran perkasa. Selain Kumbakarna, ia juga kerap memerankan tokoh sakti Subali, maupun penari jauk dan baris. Setiap pentas, sakaa (kelompk) Cak Bedulu yang dibentuknya pun memukau. Dan, di sana Limbak adalah pusat perhatian, medan magnet, penyedot rasa kagum penonton. Mereka puas bila dapat menyaksikan kibasan tangan, sabetan kaki, dan sorot mata cemerlang Limbak. Orang-orang pun mempersamakan sekaa Cak Bedulu dengan sekaa Cak Limbak.
Di layar potret dan kenangan ingatan, Limbak ketika ditemui penulis, hanyalah sesosok kakek renta. Pendengarannya tidak lagi bernas, kulitnya keriput. Matanya yang dulu berbinar kini menyipit. Ia tidak lagi awas melihat benda jauh, sehingga kerap mengenakan kaca mata hitam, agar tidak silau. Yang tersisa pada pemilik belasan cicit kelahiran 1907 ini adalah, semangat hidupnya yang energik, tiada putus berdenyut, meskipun usianya hampir genap seabad.
Di usia hampir seabad Limbak masih kuat dan teguh, menyapu halaman rumah. Saban pagi ia ngayah nyapuh di Pura Samuan Tiga. Bila diminta menari, ia masih tangkas menarikan polah Kumbakarna dengan nengkleng, ngulap-ulap, dan ngecak. Daya ingatnya pun masih bernas. Pun, ketika kami bertanya perihal kisah kelahiran tari Cak, ia sanggup bertutur berjam-jam tiada jeda. Tangannya berkelebat-kelebat mengikuti penggambaran ingatannya, episode demi episode, dengan data akurat.
Tari Cak dalam kesaksian Limbak terlahir dari inspirasi tari Shang Hyang Jaran. Di Bedulu, ketika itu, ada tradisi: Jika ada orang sakit maka pihak keluarga nguntap (menanggap) tari Shang Hyang Jaran. Selain sebagai pengusir roh jahat, tarian yang disakralkan masyarakat Bedulu itu juga dipentaskan di Pura Goa Gajah saat piodalan.

Walter Spies, seniman asal Jerman menetap di Ubud yang menonton tari Shang Hyang Jaran itu, lantas tertarik menciptakan tarian yang bisa disuguhkan untuk para pelancong. Keinginan Walter Spies tersebut dilontarkan kepada I Wayan Limbak. Dari tari Shang Hyang Jaran itulah, tahun 1930 Limbak lantas melahirkan tarian yang kelak diberi nama tari Cak.
Nyanyiannya, diambil dari ritme tari Shang Hyang Jaran, sedangkan komposisi diciptakan baru bersama Walter Spies, juga suara cak cak cak itu. Nama Cak itu, memang diangkat dari suara cak cak cak yang bersahutan, berinterkoneksi, silih berganti.
Hanya beranggotakan 40 orang yang diambil dari warga Bedulu, sekaa Cak pun berdiri. Semula mereka pentas, di depan tetamu Jerman yang khusus diundang Walter Spies pentas selama 45 menit. Mereka kerap menukil kisah-kisah epos Ramayana, yang memang tenar di Bali.
Tari Cak ciptaan Limbak pun bersambut dengan cita rasa tetamu Jerman. Meskipun digarap bersahaja. Tata rias muka dan busananya serba sederhana. Mereka hanya mabulet ginting, kain dililitkan sebatas untuk menutupi kemaluan. Terang saja pantat penari menyembul benderang. Rambut dibiarkan tergerai.

Kesahajaan itulah yang justru memikat, memancarkan karakter kuat, hingga menebarkan aura pesona. Saat Limbak ngagem Kumbakarna, misalnya, empat butir kelapa digantungkan di lengannya untuk mencitrakan kekukuhan. Penonton seakan diajak mengingat adegan Kumbakarna yang dikeroyok di medan laga oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa dari Gunung Kiskenda. Kokoh, kuat, dan pantang menyerah.
Gambaran sosok Limbak sebagai tokoh Kumbakarna dalam tarian Cak tempo dulu ini banyak tersimpan di museum-museum ternama, seperti di museum Suteja Neka, serta di museum negeri Belanda dalam bentuk-bentuk berukuran besar.
Limbak memang sosok seniman terbuka. Ia tidak segan menimba ilmu kepada orang lain, tidak pula jerih ditiru seniman lain. Dasar-dasar tari ia banyak reguk dari I Gusti Ngurah Regug, penari jauk asal Tegal Tamu, dan I Made Jagung, penari Gambuh asal Denjalan, Batubulan. Namun, ia tetap giat menciptakan perbendaharaan gaya tari Cak yang sebelumnya gerakannya sederhana, terus diperbaharui dengan gaya telungkup, menaikkan tangan, atau tidur. Limbak juga mengajak I Gusti Kompyang Gelas, penari Cak asal Bona Gianyar untuk bergabung di sekaa-nya.
Dari orang inilah, kemudian di Bona tari Cak berbiak dan meretas ke berbagai wilayah di Bali sampai ke luar negeri. Limbak juga mendorong kemunculan sekaa Cak di Bedulu Delod Pempatan, sehingga di Desa Bedulu ada dua sekaa Cak: Sekaa Delod Pempatan dan Dajan Pempatan. Kedua sekaa ini bahkan sempat adu kepiawaian saat pasar malam di alun-alun Gianyar. ‘’Tiang bahagia, tari Cak bisa berkembang menjadi duen jagat, milik masyarakat,’’ tutur Limbak, polos.
Keterbukaan Limbak kepada siapa saja terlihat dari banyaknya tamu yang datang ke rumahnya. Termasuk para tamu asing yang bermaksud belajar budaya Bali, terkhusus tari Cak. Tidak terhitung jumlah orang yang berkunjung. Mereka datang dari Jerman, Cekoslovakia, Belanda, Jepang. Ada juga mahasiswa Narova University, Amerika Serikat, yang kerap meneliti tari Cak di rumah Limbak.
Ia pun dengan lapang memberikan informasi berjam-jam tanpa keluh lelah, sebaliknya ia justru merasa puas secara bathin. Dengan bertutur kata ia merasa gelora kesenimanannya tidak beku tersumbat, melainkan terus mengalir deras lewat orang-orang yang datang menimba ilmu padanya.
‘’Jika hanya berpentas untuk para tamu, kelak tari Cak hanya akan dikenal turis-turis asing,’’ pikir Limbak terhadap tari Cak-nya semula hanya pentas di depan tamu asing. Karena itu, untuk memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali, Limbak bersama sekaa Cak Bedulu ngelawang ke pelosok-pelosok desa. Selain menambah penghasilan sekaa, pentas itu sekaligus memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali. Ini tentu pengorbanan tiada ternilai, karena anggota sekaa harus berjalan kaki ke seantero Bali, meninggalkan keluarga, berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan.
‘’Tiang sempat menerima undangan tuan Branch, subandar pelabuhan Buleleng. Setelah pentas di depan para tamu di pelabuhan, kami kemudian ngelawang ke daerah-daerah di Buleleng,’’ kenang Limbak, satu-satunya penari sekaa Cak Bedulu generasi pertama yang masih hidup tahun 2003.
Kegigihan Limbak memperkenalkan tari Cak, mendapat sambutan hangat masyarakat. Sampai-sampai terdengar ke telinga Presiden Soekarno yang doyan tari Bali. Sekaa Cak Limbak pun kerap pentas di Istana Tampak Siring, di hadapan Presiden Soekarno.
Suatu ketika, sekaa Cak pentas di pura. Mereka menari menggunakan pakaian ada ke pura. Dari sinilah kemudian busana tari Cak tidak lagi mabulet ginting. Mereka mulai menggunakan saput dan kamben (kain). ‘’Tapi para tamu asing lebih menyukai mabulet ginting,’’ papar Limbak.
Ketenaran sebagai penari cak menjadikan kakek bercucu 21 ini didaulat sebagai perbekel Desa Bedulu oleh raja Gianyar. Kemampuan melobi dan hubungan bagus dengan tetamu manca negara, lebih-lebih lagi dengan Walter Spies, menjadikan banyak aliran sumbangan mengarus ke Desa Bedulu termasuk ke kantongnya sendiri. Dana itu lantas digunakan untuk membangun Pura Samuan Tiga dan Pura Pengastulan. ‘’Wenten jinah tumbasang paras, anggen ngewangun pura,’’ ujar kakek beristri tiga ini.
Gaya kepemimpinan Limbak memang lain. Dia tidak saja mengorbankan materinya, yang sepatutnya dia terima, juga memberikan cuma-cuma rumahnya untuk kantor kepurbakalaan dan tempat tinggal Krisman, bertahun-tahun. Kemurahan Limbak tersebut membuahkan penemuan berbagai benda purbakala di Bedulu. Salah satunya Pura Goa Gajah yang kini banyak dikunjungi wisatawan, sebagai sumber pendapatan warga Bedulu.
Keterbukaan Limbak sebagai pemimpin di desa tidak saja disukai masyarakat juga para pejabat. Rumahnya yang terbuka bagi para tetamu itu pun disinggahi orang-orang terkenal semisal Raja Gianyar AA Gde Agung dan pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai, juga arkeolog Prof. Dr. Soekmono. ‘’Saya sering berbincang-bincang tentang Bali dengan mereka di sini,’’ kenang Limbak yang membiarkan bangunan bale dauh-nya tetap kuno hingga kini. Dengan gaya ceplas-ceplosnya, Presiden Soekarno pun doyan ngobrol berlama-lama dengannya. Kerap pula ia diajak makan semeja. Keakraban itu mengantarkan Limbak suatu kali lolos nyelonong masuk ke ruangan presiden di Tampak Siring. Saat itulah ia melihat sang Presiden RI pertama itu tanpa topi. ‘’Wah, saya tidak menyangka yang tidak memakai topi itu Pak Karno, tampangnya lain sekali bila tidak memakai topi,’’ kenang Limbak.
Kesibukan sebagai perbekel, tidak mengurangi jadwal pentasnya ke desa-desa lain, memang, namun dia tak lagi bisa mengajar menari orang lain secara khusus. Dia seakan kehabisan kesempatan buat menularkan kemampuannya. Namun ia tak menampik ketika orang lain meniru watak maupun gaya tariannya. Andaikan Limbak orang barat yang fanatik dengan hak cipta, tentulah dia sudah kaya raya, karena kebanjiran royalti. Kini tari Cak ciptaannya telah dikenal luas, menjadi maskot industri kepariwisataan Bali. Saban kali dipentaskan, dipotrek jadi kartu pos dijadikan sampul kaset, vcd, latar iklan, dll.
Tapi, Limbak tidak pernah minta hak royalti. Dia sama sekali tidak bermaksud kikir terhadap ilmu yang dimilikinya. Ketika tidak sedikit yang berhasil meniru gayanya, Limbak pun tidak keberatan. Sebut saja, tari Cak yang kini berkembang pesat di Bona, yang mengalir ke daerah-daerah pariwisata, seperti Nusa Dua, Kuta, Ubud, Batubulan. Tarian ini juga banyak mengilhami koreografer maupun pencipta lagu seperti Guruh Soekarno Putra lewat lagu ‘’Kembalikan Baliku Padaku’’ yang kental nuansa caknya. Padahal di Bedulu tempat kelahirannya, tari Cak nyaris punah. Artinya sekaa tersebut sekarang sudah tidak lagi aktif, walaupun benih-benihnya masih ada.
‘’Walaupun ditiru-tiru, saya tidak apa-apa. Yang penting tarian itu tetap hidup dan tetap disukai masyarakat luas,’’ papar peraih penghargaan pencipta tari Cak dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Republik Indonesia 1996, ini.
Yang membuat dia kerap merasa sedih, justru pementasan tari di hotel-hotel yang berdampak buruk terhadap sekaa-sekaa sebunan yang berbasis di desa. Dalam ingatan dia, tahun 1960-an turislah yang datang ke desa dan menikmati tari-tarian di desa. Para tamu itu, di samping menikmati tarian juga bisa melihat perajin di desa bersangkutan. Sebaliknya kini, senimanlah datang ke hotel menjajakan tarian. ‘’Ini jelas membunuh sekaa sebunan,’’ ujar Limbak.
Sekaa Cak Bedulu, contohnya. Dulu mereka sempat pentas rutin di tiga tempat di seputar Bedulu: di Goa Gajah, Pura Samuan Tiga, dan Mandala Wisata Samuan Tiga. Kini mereka praktis menganggur, karena wisatawan tidak mau lagi datang ke desa. Sekaa Cak dan Legong Ganda Manik Bedulu ini sempat pentas di hotel namun buru-buru tidak dilanjutkan karena upah tidak sesuai dengan pengorbanan kreativitas yang mereka berikan. Kini mereka beralih menjadi perajin ukir.
‘’Meskipun sekaa bubar, namun jika suatu ketika pentas, mereka cukup latihan beberapa kali, pasti jadi,’’ jamin Limbak yang sejak 1967 mengundurkan diri menjadi perbekel, lalu mengabdi sebagai ketua panitia Pura Samuan Tiga hingga tahun 1992. ‘’Tiang merasa ditakdirkan mengabdi di desa ini sampai akhir hayat,’’ ujar bapak empat putra ini.

Meski usia Limbak mendekati 1 abad, toh semangat Kumbakarna membela negeri kelahirannya hingga akhir hayat tiada putus berdenyut di jiwanya. Raganya yang kian rapuh tiada dihiraukan benar. Saban pagi ia setia kukuh bergegas menuju Pura Samuan Tiga, 500 meter dari rumahnya. Di tempat suci yang disebut-sebut sebagai lokasi pendeta visioner asal tanah Jawa Mpu Kuturan mempersatukan sekta-sekte di Bali abad ke-11 itu, Limbak penuh bakti menunaikan tugasnya: menyapu kotoran, ranting-ranting, dan dedaunan yang jatuh ke natar pura nan luas. ‘’Bahkan 10 hari sebelum Bapak meninggal masih sempat berjalan sendiri nyayah nyapuh ke pura,’’ ujar I Wayan Patra, suatu siang setelah 17 tahun berlalu.
Di pura tersebut ia serahkan seluruh jiwa dan raganya. Lewat sapu lidi, Limbak saban hari bermeditasi menghilangkan sifat-sifat rajas dan tamas yang melekat di tubuhnya. Usai ngayah nyapuh terkadang ia tertidur pulas di bale-bale pura, begitu lepas merdeka, tiada beban. ‘’Tiang merasa segar setelah ngayah iriki,’’ ujarnya polos.

Di lain waktu, jika ada tamu-tamu yang datang menjenguk baik di pura saat pagi hari maupun di rumahnya, ia dengan riang meluangkan waktu berjam-jam memaparkan sejarah tari Cak disertai gerakan-gerakannya yang kuat, kukuh, penuh daya pukau. Ia tidak tampak begitu tua. Namun setelah orang-orang pergi meninggalkannya, ia kembali dalam kesendirian, pun ketika menghadap Hyang Maha Kuasa. Namanya kian sayup seperti irama suara cak-cak cak penari Cak yang kian menjauh. (Gede Sumida)
![]()
Berita Terkait
SENI
Pameran Nasional Rupa Jnana Rasmi, Suklu Representasikan “Malam Temaram“
Published
3 minggu agoon
27 Agustus 2026
Denpasar, baliilu.com – Lukisan “Malam Temaram” (2026) karya I Wayan Sujana Suklu menjadi salah satu karya dalam seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju yang dipresentasikan dalam pameran nasional RUPA JNANA RASMI, yang dibuka oleh Ida Bagus Sidharta Putra, Rabu, 26 Agustus 2026.
Berukuran 150 × 195 cm, karya ini bermedia acrylic, sodas, dan glue on canvas. Secara visual, Malam Temaram menghadirkan sebuah bidang horizontal yang nyaris sepenuhnya dipenuhi oleh repetisi garis kurva berwarna, lengkungan, atau bulan sabit. Tanda-tanda tersebut disusun berulang dalam barisan horizontal, membentuk suatu medan visual yang padat, ritmis, dan berlapis.
Pada pandangan pertama, lukisan tampak seperti hamparan malam yang gelap dengan sebuah purnama di bagian kanan atas. Namun ketika diamati lebih dekat, purnama tersebut tidak hadir sebagai bentuk tunggal yang berdiri sendiri. Ia juga dibangun dari tanda-tanda kecil yang sama dengan tanda yang memenuhi seluruh permukaan kanvas. Dapat saya katakana: bulan dilahirkan oleh malam itu sendiri.
Inilah salah satu karakter penting Malam Temaram: keseluruhan visual tidak dibangun melalui penggambaran objek secara konvensional, tetapi melalui repetisi garis kurva berwarna sederhana.
Garis-garis kecil yang berulang membentuk semacam denyut visual. Setiap tanda memiliki ukuran dan intensitas yang relatif kecil, tetapi akumulasi ribuan tanda tersebut menghasilkan kekuatan visual yang jauh lebih besar. Repetisi mengubah garis individual menjadi tekstur, tekstur menjadi atmosfer, dan atmosfer kemudian menjadi pengalaman ruang.
Permukaan lukisan didominasi warna-warna gelap, hitam, cokelat, hijau tua, serta nuansa tanah, yang sesekali ditembus oleh warna-warna lebih terang. Di tengah kepadatan tersebut, garis-garis berwarna cokelat-oranye menjadi elemen yang paling dominan. Warna ini menghadirkan kesan hangat seperti cahaya yang tersisa di dalam malam.
Di bagian kanan atas terdapat lingkaran berwarna kuning-oranye yang secara intuitif terbaca sebagai purnama. Bentuk lingkaran tersebut menjadi pusat perhatian sekaligus sumber cahaya imajiner. Namun permukaannya tidak polos. Ia tetap mempertahankan sistem repetisi yang digunakan pada seluruh bidang. Purnama seolah-olah tersusun dari ingatan-ingatan kecil, fragmen-fragmen pengalaman yang dikumpulkan terus-menerus sampai akhirnya membentuk satu kesatuan.
Karena itu, purnama dalam Malam Temaram bukan sekadar objek astronomis atau simbol dekoratif. Ia merupakan titik konsentrasi ingatan.

Ida Bagus Sidharta Putra, saat membuka pameran. (Foto: ist)
Repetisi sebagai Cara Melihat
Suklu membangun karya ini melalui repetisi. Tindakan mengulang garis atau tanda yang relatif sederhana secara terus-menerus menghasilkan konsekuensi visual yang kompleks. Satu garis tidak memiliki beban makna yang besar. Tetapi ketika garis tersebut diulang ratusan bahkan ribuan kali, ia mulai menciptakan ritme, kepadatan, arah, tekstur, dan suasana.
Repetisi dalam karya ini juga memperlihatkan hubungan antara tubuh, waktu, dan bidang lukisan.
Setiap tanda merupakan hasil dari sebuah tindakan tubuh. Tangan bergerak, memberi tekanan, membuat lengkungan, kemudian berpindah ke titik berikutnya. Proses tersebut berlangsung berulang. Waktu penciptaan tidak berada di luar karya, melainkan mengendap menjadi permukaan. Kanvas menjadi semacam arsip dari gerakan tubuh.
Apa yang terlihat sebagai tekstur visual sebenarnya merupakan kumpulan dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara berkesinambungan. Dalam pengertian ini, Malam Temaram dapat dipandang sebagai lukisan yang menggambarkan malam, sekaligua juga merekam durasi ketika malam itu diciptakan.
Repetisi juga membawa karya menuju keadaan meditatif. Ketika tindakan yang sama dilakukan berulang-ulang, perhatian tidak lagi hanya diarahkan kepada hasil akhir. Perhatian berpindah kepada proses: jarak antartanda, tekanan tangan, ritme gerakan, kepadatan bidang, dan perubahan kecil yang muncul secara spontan. Maka, Malam Temaram memperlihatkan sebuah paradoks: semakin sesuatu diulang, semakin banyak perbedaan yang muncul di dalamnya.

Karya I Wayan Sujana Suklu “Malam Temaram” 2026. 150C195 Cm, media acrylic, sodas, glue on canvas. (Foto: ist)
Malam sebagai Ruang Ingatan
Judul Malam Temaram merujuk pada kondisi cahaya yang tidak sepenuhnya gelap dan tidak sepenuhnya terang. Temaram adalah keadaan ambang. Sesuatu masih dapat dilihat, tetapi tidak lagi hadir dengan ketegasan penuh. Kondisi ambang tersebut menjadi penting dalam konteks seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju.
Seri ini mempertemukan dua ruang pengalaman: Bali sebagai ruang tempat purnama dialami dan Jeju sebagai ruang yang kembali hadir melalui ingatan. Pertemuan keduanya tidak dilakukan dengan menggambarkan secara literal lanskap Bali atau Jeju. Tidak ada keharusan menghadirkan gunung, pantai, rumah, pepohonan, atau ikon geografis tertentu. Yang dibawa ke dalam lukisan adalah jejak pengalaman.
Purnama menjadi pemicu bagi proses tersebut. Bulan yang dilihat di Bali dapat membawa kembali pengalaman tentang Jeju. Jarak geografis kemudian tidak lagi menjadi persoalan karena ingatan menciptakan ruangnya sendiri. Bali dan Jeju bertemu bukan sebagai dua lokasi geografis, tetapi sebagai dua pengalaman yang hidup di dalam kesadaran.
Dari Garis Menjadi Atmosfer
Secara formal, kekuatan karya ini terletak pada transformasi skala. Jika dilihat dari dekat, penonton berhadapan dengan ribuan tanda kecil yang memiliki karakter grafis. Mata dapat mengikuti satu demi satu bentuk kurva tersebut. Namun ketika jarak penglihatan berubah, tanda-tanda individual kehilangan otonominya. Mereka menyatu menjadi bidang, gelombang, tekstur, dan atmosfer. Perubahan jarak melihat ini penting karena membuat pengalaman terhadap lukisan menjadi dinamis.
Dekat: penonton melihat tanda. Sedikit menjauh: penonton melihat repetisi. Lebih jauh: penonton melihat medan. Secara keseluruhan: penonton mengalami malam.
Elan, Malam Temaram bekerja melalui pergeseran antara mikro dan makro, antara detail dan keseluruhan, antara garis dan atmosfer. Purnama di kanan atas kemudian menjadi semacam jangkar visual. Mata dapat meninggalkan detail-detail kecil dan kembali menemukan lingkaran cahaya tersebut. Tetapi setelah mengamatinya lebih dekat, penonton kembali menemukan bahwa purnama juga tersusun dari tanda-tanda yang sama.
Tidak ada pemisahan mutlak antara bulan dan malam. Keduanya berasal dari bahasa visual yang sama.
Purnama sebagai Ingatan
Dalam konteks pameran nasional RUPA JNANA RASMI, Malam Temaram dapat dibaca sebagai karya yang mempertemukan pengalaman visual dengan pengalaman batin. Purnama bukan lagi sekadar objek yang dilihat, tetapi menjadi perangkat untuk mengingat.
Bulan memiliki karakter khusus dalam pengalaman manusia: ia muncul kembali secara berkala, tetapi setiap kemunculannya dapat membawa pengalaman yang berbeda. Bulan yang sama dapat menyaksikan masa kanak-kanak, perjalanan, perjumpaan, kehilangan, kesunyian, atau sebuah tempat yang pernah ditinggalkan.
Dalam karya Suklu, purnama menjadi semacam penanda waktu yang melampaui waktu. Ia berada di satu titik pada bidang lukisan, tetapi membuka ruang pengalaman yang jauh lebih luas. Ia menghubungkan malam yang sedang dilihat dengan malam-malam yang pernah dialami.
Di sinilah Malam Temaram memperoleh dimensi puitiknya: yang dilukis bukan hanya malam, melainkan pengalaman seseorang ketika memandang malam dan tiba-tiba menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang di dalam ingatan.
Malam yang Tidak Pernah Selesai
Malam Temaram tidak menawarkan gambaran malam yang selesai. Bidang lukisan seolah dapat terus diperpanjang ke luar batas kanvas. Barisan tanda bergerak secara horizontal dan menciptakan kesan kontinuitas. Mata dapat membayangkan bahwa repetisi tersebut terus berlangsung di luar bidang yang terlihat.
Karya ini akhirnya menjadi sebuah meditasi tentang pengulangan, waktu, ingatan, dan keberadaan. Setiap garis adalah satu tindakan. Setiap tindakan meninggalkan jejak. Setiap jejak menjadi bagian dari repetisi. Setiap repetisi membangun permukaan. Dan dari permukaan itu, sebuah purnama muncul.
Akhir kisah, Malam Temaram memperlihatkan bagaimana sesuatu yang sederhana, sebuah garis melengkung yang terus diulang, dapat berkembang menjadi pengalaman visual yang kompleks.
Bagi I Wayan Sujana Suklu, lukisan tidak berhenti pada persoalan bagaimana sebuah objek terlihat. Lukisan juga menjadi ruang untuk menguji bagaimana tubuh mengingat, tangan mengulang, waktu mengendap, dan pengalaman berubah menjadi bentuk.
Dalam Malam Temaram, Ia adalah cahaya yang menerangi ingatan. Dan ingatan itu, melalui ribuan repetisi garis, perlahan-lahan menemukan bentuknya di atas kanvas. (*/bi)
![]()
SENI
Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026
Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende
![]()
Published
2 bulan agoon
20 Juli 2026
Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.
Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.
Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.
Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.
Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)
![]()
SENI
Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026
Published
2 bulan agoon
19 Juli 2026
Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.
Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.
Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.
Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.
Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.
Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.
Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.
Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.
Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.
Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.
Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.
Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.
“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.
Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.
Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)
![]()



