Thursday, 18 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sang Pencipta Tari Cak I Wayan Limbak, Hidup Sepanjang Hayat

BALIILU Tayang

:

de
I WAYAN LIMBAK: Sang pencipta tari Cak di usianya yang ke-96 tahun. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Brosur-brosur kepariwisataan mencitrakan: Bali begitu identik dengan tari Cak. Tapi amat sedikit yang  paham, Cak lahir dari lelaki kukuh bernama I Wayan Limbak dari Desa Bedulu Gianyar.

SUATU senja April 2003 di bawah naungan pohon leci rindang, angkul-angkul pekarangan rumah itu tertutup rapat. Penulis datang mengetuk-ngetuk daun pintu kayu beberapa kali. Pada ketukan terakhir, bukan sapaan orang menyahut melainkan gonggongan anjing menyalak. Baru kemudian ada anak muda terburu-buru membukakan pintu, menyilakan kami masuk.

Toh kami tak serta merta merasa tenang. Enam anjing merubung kaki kami, meskipun tiada satu pun yang menggigit. Dari jarak dekat mereka menyalak kencang, lalu perlahan mengendur. Inilah ‘’upacara sapaan’’ barangkali bagi tetamu asing yang hendak berkunjung ke rumah dengan seluruh bangunan bergaya Bali itu. Setelah kami berdiri di natah (halaman) rumah, anjing-anjing itu sontak jinak, melengos manja. Ekornya kutal-kutil memberi isyarat bersahabat. Lamat-lamat lagu ‘si unyil’ dilantunkan burung Koak Kaok, Lombok dari sangkarnya di depan bale delod (selatan).

Gaya bangunan itu terlihat kukuh mempertahankan tradisi Bali. Sanggah-sanggah kuna berukir, ada bale daje di sisi utara, bale gede (tiang 12) di sisi timur, bale dauh di sisi barat dan rumah tinggal di sisi selatan, dapur berada di sisi tenggara berjejer dengan rumah tinggal di sisi selatan.

Seorang kakek hanya berselempang handuk, tanpa baju, duduk di kursi di samping pintu dapur, kakek itu tidak menghiraukan gonggongan anjing-anjing ras peking dan Kintamani tadi. Tangannya sibuk menggaruk-garuk sekujur tubuhnya. Dari kepala, tangan, dada, punggung, sampai ke kaki. Lelaki renta itulah I Wayan Limbak, pencipta tari Cak asal Banjar Marga Bingung Desa Bedulu Blahbatuh Gianyar. ‘’Kak anggo bajune, ada tamu!’’ tegur menantunya dengan suara meninggi, menyuruh mertuanya memakai baju.

de
I WAYAN LIMBAK: Di bangunan bale dauh dimana Krisman menginap. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Kakek itu tergagap. Matanya awas melihat kami. Sontak ia berdiri, tergopoh-gopoh menuju bale dauh, kamar yang digunakan untuk tidur. Di bale dauh bertiang paras berukir itulah Krisman, arkeolog purbakala Belanda, penemu situs Goa Gajah nun sebelum menjadi objek wisata tenar, sehari-hari tidur.

Beberapa menit kakek yang sudah berkelab (anak dari cicit) keluar menggunakan sarung, baju dan kaca mata hitam. Menantunya bilang, kakek kini doyan berdandan, memang. ‘’Tiang kapok naar be celeng,’’ ungkap I Wayan Limbak kepada kami yang telah menunggu di bale daja. Katanya, dia kini merasa kapok menyantap daging babi, karena membikin sekujur tubuhnya gatal-gatal. Mungkin ia alergi. Sudah beberapa kali diobati dokter kulit, tetap saja tidak kunjung sembuh.

Tak terasa sudah 17 tahun berlalu penulis berbincang lama dengan I Wayan Limbak, sebelum akhirnya berpulang lima bulan kemudian. Dan, siang umanis Galungan 20 Februari 2020, penulis kembali berkunjung ke rumah sang pencipta tari Cak yang kini tarian teatrikal itu banyak dipentaskan sebagai tontonan para turis. Di antara stage besar di Bali yang menampung ratusan bahkan ribuan penonton saban hari adalah Cak Uluwatu, Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana, Sahadewa Stage Batubulan, Pura Taman Saraswati Ubud dan masih banyak lagi termasuk khusus pementasan di hotel. Memang, tari Cak kini menjadi paket wisata yang paling digandrungi wisatawan. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Bali tanpa merasakan sensasi atraksi tari Cak sambil menikmati sunset (matahari terbenam).

Pohon leci masih kokoh berdiri di samping angkul-angkul. Cuma pintu yang sudah terbuka penuh diberi rangka besi setengah badan, ada lonceng mini yang digantung di bawah. Manakala penulis mencoba mendorong pintu besi itu, suara dentingan lonceng berbunyi nyaring. Anjing-anjing mini kembali menyalak berbarengan pertanda sapaan. Sebentar kemudian wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh menyilakan kami masuk sambil menanyakan tujuan datang.

Siang itu, penulis datang memang bukan ingin bertemu I Wayan Limbak yang sempat kami wawancarai pertengahan April 2003. Karena kami tahu, I Wayan Limbak telah berpulang pada 3 November 2003, 5 bulan setelah kami sempat berbincang seputar kelahiran tari Cak hingga ngelimbak (terkenal) sampai seantero dunia. Tetapi, ingin bertemu dengan salah seorang putranya I Wayan Patra meminta izin untuk kembali memutar ulang tulisan I Wayan Limbak yang pernah dimuat di majalah Sarad edisi 37 April 2003 untuk diunggah di sebuah media online baliilu.com. ‘’Silakan saja pak, tidak apa-apa!,’’ ujar I Wayan Patra menyilakan sambil berbincang di bale delod yang kemudian mencetuskan keinginannya membuat yayasan I Wayan Limbak yang bergerak di bidang pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali. Tentu pembentukan yayasan ini tak lepas dari semangat almarhum yang selama hidupnya mendedikasikan diri mengabdi di bidang seni.

Kembali mengenang Limbak yang kala itu sudah berusia hampir seabad, 96 tahun, Limbak memang tidak lagi seperti tampak di setiap foto-fotonya yang dipajang di berbagai museum di Bali maupun di luar negeri. Cuma di buku-buku yang bercerita tentang tari Cak zaman lampau, pada masa-masa awal Cak, Limbak kerap memerankan tokoh kokoh perkasa Kumbakarna, adik maharaja raksasa Rahwana. Tubuhnya tegap, kukuh, bola batanya bulat berbinar. Rambutnya keriting memanjang. Lengan-lengannya kukuh layaknya batang-batang pohon leci di depan rumahnya.

de
KUKUH: Di usia senja Limbak masih kukuh, penuh semangat. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Tak heran bila Limbak menjadi idola zamannya, untuk peran-peran perkasa. Selain Kumbakarna, ia juga kerap memerankan tokoh sakti Subali, maupun penari jauk dan baris. Setiap pentas, sakaa (kelompk) Cak Bedulu yang dibentuknya pun memukau. Dan, di sana Limbak adalah pusat perhatian, medan magnet, penyedot rasa kagum penonton. Mereka puas bila dapat menyaksikan kibasan tangan, sabetan  kaki, dan sorot mata cemerlang Limbak. Orang-orang pun mempersamakan sekaa Cak Bedulu dengan sekaa Cak Limbak.

Di layar potret dan kenangan ingatan, Limbak ketika ditemui penulis, hanyalah sesosok kakek renta. Pendengarannya tidak lagi bernas, kulitnya keriput. Matanya yang dulu berbinar kini menyipit. Ia tidak lagi awas melihat benda jauh, sehingga kerap mengenakan kaca mata hitam, agar tidak silau. Yang tersisa pada pemilik belasan cicit kelahiran 1907 ini adalah, semangat hidupnya yang energik, tiada putus berdenyut, meskipun usianya hampir genap seabad.

Di usia hampir seabad Limbak masih kuat dan teguh, menyapu halaman rumah. Saban pagi ia ngayah nyapuh di Pura Samuan Tiga. Bila diminta menari, ia masih tangkas menarikan polah Kumbakarna dengan nengkleng, ngulap-ulap, dan ngecak. Daya ingatnya pun masih bernas. Pun, ketika kami bertanya perihal kisah kelahiran tari Cak, ia sanggup bertutur berjam-jam tiada jeda. Tangannya berkelebat-kelebat mengikuti penggambaran ingatannya, episode demi episode, dengan data akurat.

Tari Cak dalam kesaksian Limbak terlahir dari inspirasi tari Shang Hyang Jaran. Di Bedulu, ketika itu, ada tradisi: Jika ada orang sakit maka pihak keluarga nguntap (menanggap) tari Shang Hyang Jaran. Selain sebagai pengusir roh jahat, tarian yang disakralkan masyarakat Bedulu itu juga dipentaskan di Pura Goa Gajah saat piodalan.

de
LIMBAK: Ketika menari Cak tempo dulu. (FT: Koleksi keluarga)

Walter Spies, seniman asal Jerman menetap di Ubud yang menonton tari Shang Hyang Jaran itu, lantas tertarik menciptakan tarian yang bisa disuguhkan untuk para pelancong. Keinginan Walter Spies tersebut dilontarkan kepada I Wayan Limbak. Dari tari Shang Hyang Jaran itulah, tahun 1930 Limbak lantas melahirkan tarian yang kelak diberi nama  tari Cak.

Nyanyiannya, diambil dari ritme tari Shang Hyang Jaran, sedangkan komposisi diciptakan baru bersama Walter Spies, juga suara cak cak cak itu. Nama Cak itu, memang diangkat dari suara cak cak cak yang bersahutan, berinterkoneksi, silih berganti.

Hanya beranggotakan 40 orang yang diambil dari warga Bedulu, sekaa Cak pun berdiri. Semula mereka pentas, di depan tetamu Jerman yang khusus diundang Walter Spies pentas selama 45 menit. Mereka kerap menukil kisah-kisah epos Ramayana, yang memang tenar di Bali.

Tari Cak ciptaan Limbak pun bersambut dengan cita rasa tetamu Jerman. Meskipun digarap bersahaja. Tata rias muka dan busananya serba sederhana. Mereka hanya mabulet ginting, kain dililitkan sebatas untuk menutupi kemaluan. Terang saja pantat penari menyembul benderang. Rambut dibiarkan tergerai.

de
TERIMA PENGHARGAAN: Dari banyak penghargaan, Piagam Parama Satya Citra Kara diterima tahun 2019. (Foto: GS)

Kesahajaan itulah yang justru memikat, memancarkan karakter kuat, hingga menebarkan aura pesona. Saat Limbak ngagem Kumbakarna, misalnya, empat butir kelapa digantungkan di lengannya untuk mencitrakan kekukuhan. Penonton seakan diajak mengingat adegan Kumbakarna yang dikeroyok di medan laga oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa dari Gunung Kiskenda. Kokoh, kuat, dan pantang menyerah.

Gambaran sosok Limbak sebagai tokoh Kumbakarna dalam tarian Cak tempo dulu ini banyak tersimpan di museum-museum ternama, seperti di museum Suteja Neka, serta di museum negeri Belanda dalam bentuk-bentuk berukuran besar.

Limbak memang sosok seniman terbuka. Ia tidak segan menimba ilmu kepada orang lain, tidak pula jerih ditiru seniman lain.  Dasar-dasar tari ia banyak reguk dari I Gusti Ngurah Regug, penari jauk asal Tegal Tamu, dan I Made Jagung, penari Gambuh asal Denjalan, Batubulan. Namun, ia tetap giat menciptakan perbendaharaan gaya tari Cak yang sebelumnya gerakannya sederhana, terus diperbaharui dengan gaya telungkup, menaikkan tangan, atau tidur. Limbak juga mengajak I Gusti Kompyang Gelas, penari Cak asal Bona Gianyar untuk bergabung di sekaa-nya.

Dari orang inilah, kemudian di Bona tari Cak berbiak dan meretas ke berbagai wilayah di Bali sampai ke luar negeri. Limbak juga mendorong kemunculan sekaa Cak di Bedulu Delod Pempatan, sehingga di Desa Bedulu ada dua sekaa Cak: Sekaa Delod Pempatan dan Dajan Pempatan. Kedua sekaa ini bahkan sempat adu kepiawaian saat pasar malam di alun-alun Gianyar. ‘’Tiang bahagia, tari Cak bisa berkembang menjadi duen jagat, milik masyarakat,’’ tutur Limbak, polos.

Keterbukaan Limbak kepada siapa saja terlihat dari banyaknya tamu yang datang ke rumahnya. Termasuk para tamu asing yang bermaksud belajar budaya Bali, terkhusus tari Cak. Tidak terhitung jumlah orang yang berkunjung. Mereka datang dari Jerman, Cekoslovakia, Belanda, Jepang. Ada juga mahasiswa Narova University, Amerika Serikat, yang kerap meneliti tari Cak di rumah Limbak.

Ia pun dengan lapang memberikan informasi berjam-jam tanpa keluh lelah, sebaliknya ia justru merasa puas secara bathin. Dengan bertutur kata ia merasa gelora kesenimanannya tidak beku tersumbat, melainkan terus mengalir deras lewat orang-orang yang datang menimba ilmu padanya.

‘’Jika hanya berpentas untuk para tamu, kelak tari Cak hanya akan dikenal turis-turis asing,’’ pikir Limbak terhadap tari Cak-nya semula hanya pentas di depan tamu asing. Karena itu, untuk memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali, Limbak bersama sekaa Cak Bedulu ngelawang ke pelosok-pelosok desa. Selain menambah penghasilan sekaa, pentas itu sekaligus memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali. Ini tentu pengorbanan tiada ternilai, karena anggota sekaa harus berjalan kaki ke seantero Bali, meninggalkan keluarga, berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan.

‘’Tiang sempat menerima undangan tuan Branch, subandar pelabuhan Buleleng.  Setelah pentas di depan para tamu di pelabuhan, kami kemudian ngelawang ke daerah-daerah di Buleleng,’’ kenang Limbak, satu-satunya penari sekaa Cak Bedulu generasi pertama yang masih hidup tahun 2003.

Kegigihan Limbak memperkenalkan tari Cak, mendapat sambutan hangat masyarakat. Sampai-sampai terdengar ke telinga  Presiden Soekarno yang doyan tari Bali. Sekaa Cak Limbak pun kerap pentas di Istana Tampak Siring, di hadapan Presiden Soekarno.

Suatu ketika, sekaa Cak pentas di pura. Mereka menari menggunakan pakaian ada ke pura. Dari sinilah kemudian busana tari Cak tidak lagi mabulet ginting. Mereka mulai menggunakan saput dan kamben (kain). ‘’Tapi para tamu asing lebih menyukai mabulet ginting,’’ papar Limbak.

Ketenaran sebagai penari cak menjadikan kakek bercucu 21 ini didaulat sebagai perbekel Desa Bedulu oleh raja Gianyar. Kemampuan melobi dan hubungan bagus dengan tetamu manca negara, lebih-lebih lagi dengan Walter Spies, menjadikan banyak aliran sumbangan mengarus ke Desa Bedulu termasuk ke kantongnya sendiri. Dana itu lantas digunakan untuk membangun Pura Samuan Tiga dan Pura Pengastulan. ‘’Wenten jinah tumbasang paras, anggen ngewangun pura,’’ ujar kakek beristri tiga ini.

Gaya kepemimpinan Limbak memang lain. Dia tidak saja mengorbankan materinya, yang sepatutnya dia terima, juga memberikan cuma-cuma rumahnya untuk kantor kepurbakalaan dan tempat tinggal Krisman, bertahun-tahun. Kemurahan Limbak tersebut membuahkan penemuan berbagai benda purbakala di Bedulu. Salah satunya Pura Goa Gajah yang kini banyak dikunjungi wisatawan, sebagai sumber pendapatan warga Bedulu.

Keterbukaan Limbak sebagai pemimpin di desa tidak saja disukai masyarakat juga para pejabat. Rumahnya yang terbuka bagi para tetamu itu pun disinggahi orang-orang terkenal semisal Raja Gianyar AA Gde Agung dan pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai, juga arkeolog Prof. Dr. Soekmono. ‘’Saya sering berbincang-bincang tentang Bali dengan mereka di sini,’’ kenang Limbak yang membiarkan bangunan bale dauh-nya tetap kuno hingga kini. Dengan gaya ceplas-ceplosnya, Presiden Soekarno pun doyan ngobrol berlama-lama dengannya. Kerap pula ia diajak makan semeja. Keakraban itu mengantarkan Limbak suatu kali lolos nyelonong masuk ke ruangan presiden di Tampak Siring. Saat itulah ia melihat sang Presiden RI pertama itu tanpa topi. ‘’Wah, saya tidak menyangka yang tidak memakai topi itu Pak Karno, tampangnya lain sekali bila tidak memakai topi,’’ kenang Limbak.

Kesibukan sebagai perbekel, tidak mengurangi jadwal pentasnya ke desa-desa lain, memang, namun dia tak lagi bisa mengajar menari orang lain secara khusus. Dia seakan kehabisan kesempatan buat menularkan kemampuannya. Namun ia tak menampik ketika orang lain meniru watak maupun gaya tariannya. Andaikan Limbak orang barat yang fanatik dengan hak cipta, tentulah dia sudah kaya raya, karena kebanjiran royalti. Kini tari Cak ciptaannya telah dikenal luas, menjadi maskot industri kepariwisataan Bali. Saban kali dipentaskan, dipotrek jadi kartu pos dijadikan sampul kaset, vcd, latar iklan, dll.

Tapi, Limbak tidak pernah minta hak royalti. Dia sama sekali tidak bermaksud kikir terhadap ilmu yang dimilikinya. Ketika tidak sedikit yang berhasil meniru gayanya, Limbak pun tidak keberatan. Sebut saja, tari Cak yang kini berkembang pesat di Bona, yang mengalir ke daerah-daerah pariwisata, seperti Nusa Dua, Kuta, Ubud, Batubulan. Tarian ini juga banyak mengilhami koreografer maupun pencipta lagu seperti Guruh Soekarno Putra lewat lagu ‘’Kembalikan Baliku Padaku’’ yang kental nuansa caknya. Padahal di Bedulu tempat kelahirannya, tari Cak nyaris punah. Artinya sekaa tersebut sekarang sudah tidak lagi aktif, walaupun benih-benihnya masih ada.

‘’Walaupun ditiru-tiru, saya tidak apa-apa. Yang penting tarian itu tetap hidup dan tetap disukai masyarakat luas,’’ papar peraih penghargaan pencipta tari Cak dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Republik Indonesia 1996, ini.

Yang membuat dia kerap merasa sedih, justru pementasan tari di hotel-hotel yang berdampak buruk terhadap sekaa-sekaa sebunan yang berbasis di desa. Dalam ingatan dia, tahun 1960-an turislah yang datang ke desa dan menikmati tari-tarian di desa. Para tamu itu, di samping menikmati tarian juga bisa melihat perajin di desa bersangkutan. Sebaliknya kini, senimanlah datang ke hotel menjajakan tarian. ‘’Ini jelas membunuh sekaa sebunan,’’ ujar Limbak.

Sekaa Cak Bedulu, contohnya. Dulu mereka sempat pentas rutin di tiga tempat di seputar Bedulu: di Goa Gajah, Pura Samuan Tiga, dan Mandala Wisata Samuan Tiga. Kini mereka praktis menganggur, karena wisatawan tidak mau lagi datang ke desa. Sekaa Cak dan Legong Ganda Manik Bedulu ini sempat pentas di hotel namun buru-buru tidak dilanjutkan karena upah tidak sesuai dengan pengorbanan kreativitas yang mereka berikan. Kini mereka beralih menjadi perajin ukir.

‘’Meskipun sekaa bubar, namun jika suatu ketika pentas, mereka cukup latihan beberapa kali, pasti jadi,’’ jamin Limbak yang sejak 1967 mengundurkan diri menjadi perbekel, lalu mengabdi sebagai ketua panitia Pura Samuan Tiga hingga tahun 1992.  ‘’Tiang merasa ditakdirkan mengabdi di desa ini sampai akhir hayat,’’ ujar bapak empat putra ini.

de
I WAYAN PATRA: Putra Limbak yang segera akan membentuk Yayasan I Wayan Limbak untuk mengenang dedikasinya di bidang seni khususnya tari Cak. (Foto:GS)

Meski usia Limbak mendekati 1 abad, toh semangat Kumbakarna membela negeri kelahirannya hingga akhir hayat tiada putus berdenyut di jiwanya. Raganya yang kian rapuh tiada dihiraukan benar. Saban pagi ia setia kukuh bergegas menuju Pura Samuan Tiga, 500 meter dari rumahnya. Di tempat suci yang disebut-sebut sebagai lokasi pendeta visioner asal tanah Jawa Mpu Kuturan mempersatukan sekta-sekte di Bali abad ke-11 itu, Limbak penuh bakti menunaikan tugasnya: menyapu kotoran, ranting-ranting, dan dedaunan yang jatuh ke natar pura nan luas. ‘’Bahkan 10 hari sebelum Bapak meninggal masih sempat berjalan sendiri nyayah nyapuh ke pura,’’ ujar I Wayan Patra, suatu siang setelah 17 tahun berlalu.

Di pura tersebut ia serahkan seluruh jiwa dan raganya. Lewat sapu lidi, Limbak saban hari bermeditasi menghilangkan sifat-sifat rajas dan tamas yang melekat di tubuhnya. Usai ngayah nyapuh terkadang ia tertidur pulas di bale-bale pura, begitu lepas merdeka, tiada beban. ‘’Tiang merasa segar setelah ngayah iriki,’’ ujarnya polos.

de
I WAYAN LIMBAK: Lahir tahun 1907 dan meninggal 3 November 2003. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Di lain waktu, jika ada tamu-tamu yang datang menjenguk baik di pura saat pagi hari maupun di rumahnya, ia dengan riang meluangkan waktu berjam-jam memaparkan sejarah tari Cak disertai gerakan-gerakannya yang kuat, kukuh, penuh daya pukau. Ia tidak tampak begitu tua. Namun setelah orang-orang pergi meninggalkannya, ia kembali dalam kesendirian, pun ketika menghadap Hyang Maha Kuasa. Namanya kian sayup seperti irama suara cak-cak cak penari Cak yang kian menjauh. (Gede Sumida)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Disaksikan Pj. Gubernur Mahendra Jaya, Pergelaran Drama Gong Lawas Pukau Penonton PKB Ke-46

Published

on

By

drama gong lawas
DRAMA GONG LAWAS: Pj. Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya berfoto bersama usai menyaksikan pergelaran drama gong lawas yang dibawakan Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas (Padsmagol) Provinsi Bali, Puri Gandapura, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, di Panggung Terbuka Ardha Chandra Taman Budaya Provinsi Bali serangkaian PKB ke-46, Kamis (11/7/2024) malam. (Foto: Hms Pemporv Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pj. Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya menyaksikan rekasadana (pergelaran) drama gong lawas yang dibawakan Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas (Padsmagol) Provinsi Bali, Puri Gandapura, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, Kamis (11/7/2024) malam.

Drama gong yang mengangkat judul “Manik Kilat Bumi” itu dipertunjukkan di Panggung Terbuka Ardha Chandra Taman Budaya Provinsi Bali serangkaian memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 Tahun 2024. Penampilan sederet bintang drama gong kawakan memukau penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra.

Penampilan I Nyoman Subrata yang berperan sebagai Petruk masih mampu mengocok perut penonton dengan guyonannya yang segar dan spontan. Bahkan di tengah pertunjukan, Petruk, Perak dan punakawan lainnya mengundang Pj. Gubernur Mahendra Jaya dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha naik ke atas panggung untuk berinteraksi dan membagikan hadiah berupa kaos kepada dua penonton.

Naskah drama yang ditulis Jro Dasaran Suyadnya dibawakan secara apik oleh jajaran pemain drama gong senior. Manik Kilat Bumi berkisah tentang Waringin Sungsang, raja angkuh dan sombong yang ingin menguasai kerajaan di sekitarnya seperti Ratna Dwipa, Windu Pura dan lainnya. Dari sekian banyak wilayah yang ingin dikuasai, hanya Kerajaan Merta Buana yang belum bisa ditaklukkan hingga ia pun menggunakan cara kotor dengan menggunakan ilmu hitam.

Diah Mertawati, putri satu-satunya kerajaan Merta Buana diteluh hingga sakit tanpa ada yang bisa mengobati. Karena kebingungan, putra-putra raja sepakat mencarikan orang pintar demi kesembuhan sang putri.

Kabar itu didengar Patih Agung yang melapor kepada Raja Waringin Sungsang. Lalu, sang raja memerintahkan Patih Agung mencegat putra dari Kerajaan Merta Buana. Karena tipu daya kelompok Waringin Sungsang, Raden Wira Jaya hampir kehilangan calon istri. Ia nyaris saling bunuh dengan Wira Darma karena memperebutkan Galuh Liku (Putri Raja Waringin Sungsang).

Setelah serangkaian tipu daya, hari naas Raja Waringin Sungsang tiba dan ia akhirnya terkena tusukan keris Wira Jaya dan Wira Darma. Kematian Raja Waringin Sungsang membuat suasana menjadi gaduh. Atas restu Dukuh Banyu Biru yang memberikan Pusaka Manik Kilat Bumi, seluruh putra dari Kerajaan Merta Buana terselamatkan termasuk kesembuhan putri raja. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

“Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem”, Kisah Mengharukan dari Sanggar Surya Art di PKB Ke-46

Published

on

By

Sanggar Seni Surya Art
TOPENG: Topeng "Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem" dari Sanggar Seni Surya Art, duta Kabupaten Badung saat tampil di PKB ke-46, Rabu (10/7/2024), di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 kembali menjadi ajang unjuk bakat bagi para seniman dari berbagai kabupaten di Bali. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian publik kali ini adalah Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” dari Sanggar Seni Surya Art, Kabupaten Badung, Rabu (10/7/2024). Pertunjukan ini digelar di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar dan berhasil memikat hati para pengunjung dengan cerita yang penuh makna.

Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” mengisahkan Hyang Pasupati yang beryoga hingga manik sinarnya jatuh ke sungai dan menimpa batu, melahirkan dua anak kembar bernama Dalem Batu Putih dan Dalem Batu Selem. Kedua anak tersebut terpisah sejak lahir dan tidak dapat hidup bersama hingga dewasa. Ketika dewasa, mereka teringat satu sama lain dan memutuskan untuk saling mencari.

Penampilan ini dipimpin oleh I Gusti Ngurah Artawan dan dibawakan oleh tujuh penari yaitu termasuk I Gusti Ngurah Artawan, I Wayan Eka Santa Purwita, I Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja, Ketut Sumadi, I Gusti Made Darma Putra, Anak Agung Ketut Surya Adi Putra, dan Kadek Karunia Artha. Tari Topeng ini juga diiringi oleh 28 penabuh yang telah berlatih selama tiga bulan.

Anak Agung Ketut Surya Adi Putra, salah satu penari, menyampaikan harapannya agar pertunjukan ini dapat menginspirasi seniman muda untuk terus maju dan mengembangkan diri. Sementara itu, I Gusti Ngurah Artawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Listibiya Kabupaten Badung, menekankan pentingnya pelestarian, pengembangan, dan pembinaan kebudayaan. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan telah melakukan seleksi dan pembinaan selama setahun untuk memilih duta terbaik yang tampil di ajang PKB.

“Kami memilih yang terbaik dari Kabupaten Badung untuk ditampilkan di Pesta Kesenian Bali ini,” ujar Ngurah Artawan seusai pementasan.

Ia berharap semua pihak, baik dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali maupun kabupaten/kota, dapat bekerja sama untuk meningkatkan tata pementasan serta kualitas pertunjukan seni di masa depan.

Penampilan Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” menjadi bukti nyata dari dedikasi dan usaha para seniman dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. Ajang PKB ke-46 ini tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya seni, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat ikatan budaya dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Komunitas Seni Nyenit Nyenir Banjar Sulangai, Bawakan Joged Bumbung Tradisi di PKB Ke-46

Published

on

By

joged bumbung pkb
JOGED BUMBUNG: Joged Bumbung Tradisi dari Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Petang, sebagai duta Kabupaten Badung, saat tampil di PKB ke-46, di Kalangan Madya Mandala, Art Center Bali, Rabu, 10 Juli 2024. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Petang, sebagai duta Kabupaten Badung, tampil pada pementasan parade joged bumbung tradisi, Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46. Bertempat di Kalangan Madya Mandala, Art Center Bali, Rabu, 10 Juli 2024, sebanyak 4 penari tampil maksimal di hadapan pengunjung.

Menurut Ketua Komunitas Seni Nyenit Nyenir Sulangai, I Made Yudiarta, ditunjuk sebagai duta Badung dalam pementasan parade joged bumbung tradisi di PKB ke-46 ini, menjadi suatu kehormatan. Sebagai Ketua Komunitas, pihaknya menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan, Listibya Badung, Listibya Kecamatan Petang dan Pemerintah Desa Sulangai, atas kepercayaan yang diberikan kepada Komunitas Nyenit Nyenir sebagai duta Badung. Termasuk dukungan masyarakat Badung dan masyarakat Bali dalam melestarikan joged bumbung tradisi. “Kami dari komunitas berharap kepada masyarakat Bali, agar tradisi ini bisa terus dilestarikan,” harapnya.

Untuk tabuh petegak yang ditampilkan, mengangkat cerita berjudul Jana Raga. Dikatakan, Jana Raga ini adalah keseimbangan dalam diri yang bertujuan untuk menguatkan energi positif pada diri sebagai manusia yang merupakan bagian dari Sad Kerthi secara sekala dan niskala. “Secara garis besar karya ini adalah sebuah implementasi konsep catur sadhana yang bermuara pada Jana Kerthi dan tertuang melalui karya tabuh kreasi joged bumbung yang berjudul Jana Raga,” bebernya.

Adapun penampilan joged yang dibawakan, pertama dengan judul tabuh “Kembang Rampe”. Kemudian untuk joged kedua dengan judul tabuh “Sekar Sandat”, joged ketiga dengan judul tabuh “Burat Wangi”, dan joged keempat dengan judul tabuh “Kembang Cempaka”. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca