Connect with us

SENI

Sang Pencipta Tari Cak I Wayan Limbak, Hidup Sepanjang Hayat

BALIILU Tayang

:

de
I WAYAN LIMBAK: Sang pencipta tari Cak di usianya yang ke-96 tahun. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Brosur-brosur kepariwisataan mencitrakan: Bali begitu identik dengan tari Cak. Tapi amat sedikit yang  paham, Cak lahir dari lelaki kukuh bernama I Wayan Limbak dari Desa Bedulu Gianyar.

SUATU senja April 2003 di bawah naungan pohon leci rindang, angkul-angkul pekarangan rumah itu tertutup rapat. Penulis datang mengetuk-ngetuk daun pintu kayu beberapa kali. Pada ketukan terakhir, bukan sapaan orang menyahut melainkan gonggongan anjing menyalak. Baru kemudian ada anak muda terburu-buru membukakan pintu, menyilakan kami masuk.

Toh kami tak serta merta merasa tenang. Enam anjing merubung kaki kami, meskipun tiada satu pun yang menggigit. Dari jarak dekat mereka menyalak kencang, lalu perlahan mengendur. Inilah ‘’upacara sapaan’’ barangkali bagi tetamu asing yang hendak berkunjung ke rumah dengan seluruh bangunan bergaya Bali itu. Setelah kami berdiri di natah (halaman) rumah, anjing-anjing itu sontak jinak, melengos manja. Ekornya kutal-kutil memberi isyarat bersahabat. Lamat-lamat lagu ‘si unyil’ dilantunkan burung Koak Kaok, Lombok dari sangkarnya di depan bale delod (selatan).

Gaya bangunan itu terlihat kukuh mempertahankan tradisi Bali. Sanggah-sanggah kuna berukir, ada bale daje di sisi utara, bale gede (tiang 12) di sisi timur, bale dauh di sisi barat dan rumah tinggal di sisi selatan, dapur berada di sisi tenggara berjejer dengan rumah tinggal di sisi selatan.

Seorang kakek hanya berselempang handuk, tanpa baju, duduk di kursi di samping pintu dapur, kakek itu tidak menghiraukan gonggongan anjing-anjing ras peking dan Kintamani tadi. Tangannya sibuk menggaruk-garuk sekujur tubuhnya. Dari kepala, tangan, dada, punggung, sampai ke kaki. Lelaki renta itulah I Wayan Limbak, pencipta tari Cak asal Banjar Marga Bingung Desa Bedulu Blahbatuh Gianyar. ‘’Kak anggo bajune, ada tamu!’’ tegur menantunya dengan suara meninggi, menyuruh mertuanya memakai baju.

de
I WAYAN LIMBAK: Di bangunan bale dauh dimana Krisman menginap. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Kakek itu tergagap. Matanya awas melihat kami. Sontak ia berdiri, tergopoh-gopoh menuju bale dauh, kamar yang digunakan untuk tidur. Di bale dauh bertiang paras berukir itulah Krisman, arkeolog purbakala Belanda, penemu situs Goa Gajah nun sebelum menjadi objek wisata tenar, sehari-hari tidur.

Beberapa menit kakek yang sudah berkelab (anak dari cicit) keluar menggunakan sarung, baju dan kaca mata hitam. Menantunya bilang, kakek kini doyan berdandan, memang. ‘’Tiang kapok naar be celeng,’’ ungkap I Wayan Limbak kepada kami yang telah menunggu di bale daja. Katanya, dia kini merasa kapok menyantap daging babi, karena membikin sekujur tubuhnya gatal-gatal. Mungkin ia alergi. Sudah beberapa kali diobati dokter kulit, tetap saja tidak kunjung sembuh.

Tak terasa sudah 17 tahun berlalu penulis berbincang lama dengan I Wayan Limbak, sebelum akhirnya berpulang lima bulan kemudian. Dan, siang umanis Galungan 20 Februari 2020, penulis kembali berkunjung ke rumah sang pencipta tari Cak yang kini tarian teatrikal itu banyak dipentaskan sebagai tontonan para turis. Di antara stage besar di Bali yang menampung ratusan bahkan ribuan penonton saban hari adalah Cak Uluwatu, Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana, Sahadewa Stage Batubulan, Pura Taman Saraswati Ubud dan masih banyak lagi termasuk khusus pementasan di hotel. Memang, tari Cak kini menjadi paket wisata yang paling digandrungi wisatawan. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Bali tanpa merasakan sensasi atraksi tari Cak sambil menikmati sunset (matahari terbenam).

Pohon leci masih kokoh berdiri di samping angkul-angkul. Cuma pintu yang sudah terbuka penuh diberi rangka besi setengah badan, ada lonceng mini yang digantung di bawah. Manakala penulis mencoba mendorong pintu besi itu, suara dentingan lonceng berbunyi nyaring. Anjing-anjing mini kembali menyalak berbarengan pertanda sapaan. Sebentar kemudian wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh menyilakan kami masuk sambil menanyakan tujuan datang.

Siang itu, penulis datang memang bukan ingin bertemu I Wayan Limbak yang sempat kami wawancarai pertengahan April 2003. Karena kami tahu, I Wayan Limbak telah berpulang pada 3 November 2003, 5 bulan setelah kami sempat berbincang seputar kelahiran tari Cak hingga ngelimbak (terkenal) sampai seantero dunia. Tetapi, ingin bertemu dengan salah seorang putranya I Wayan Patra meminta izin untuk kembali memutar ulang tulisan I Wayan Limbak yang pernah dimuat di majalah Sarad edisi 37 April 2003 untuk diunggah di sebuah media online baliilu.com. ‘’Silakan saja pak, tidak apa-apa!,’’ ujar I Wayan Patra menyilakan sambil berbincang di bale delod yang kemudian mencetuskan keinginannya membuat yayasan I Wayan Limbak yang bergerak di bidang pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali. Tentu pembentukan yayasan ini tak lepas dari semangat almarhum yang selama hidupnya mendedikasikan diri mengabdi di bidang seni.

Kembali mengenang Limbak yang kala itu sudah berusia hampir seabad, 96 tahun, Limbak memang tidak lagi seperti tampak di setiap foto-fotonya yang dipajang di berbagai museum di Bali maupun di luar negeri. Cuma di buku-buku yang bercerita tentang tari Cak zaman lampau, pada masa-masa awal Cak, Limbak kerap memerankan tokoh kokoh perkasa Kumbakarna, adik maharaja raksasa Rahwana. Tubuhnya tegap, kukuh, bola batanya bulat berbinar. Rambutnya keriting memanjang. Lengan-lengannya kukuh layaknya batang-batang pohon leci di depan rumahnya.

de
KUKUH: Di usia senja Limbak masih kukuh, penuh semangat. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Tak heran bila Limbak menjadi idola zamannya, untuk peran-peran perkasa. Selain Kumbakarna, ia juga kerap memerankan tokoh sakti Subali, maupun penari jauk dan baris. Setiap pentas, sakaa (kelompk) Cak Bedulu yang dibentuknya pun memukau. Dan, di sana Limbak adalah pusat perhatian, medan magnet, penyedot rasa kagum penonton. Mereka puas bila dapat menyaksikan kibasan tangan, sabetan  kaki, dan sorot mata cemerlang Limbak. Orang-orang pun mempersamakan sekaa Cak Bedulu dengan sekaa Cak Limbak.

Di layar potret dan kenangan ingatan, Limbak ketika ditemui penulis, hanyalah sesosok kakek renta. Pendengarannya tidak lagi bernas, kulitnya keriput. Matanya yang dulu berbinar kini menyipit. Ia tidak lagi awas melihat benda jauh, sehingga kerap mengenakan kaca mata hitam, agar tidak silau. Yang tersisa pada pemilik belasan cicit kelahiran 1907 ini adalah, semangat hidupnya yang energik, tiada putus berdenyut, meskipun usianya hampir genap seabad.

Di usia hampir seabad Limbak masih kuat dan teguh, menyapu halaman rumah. Saban pagi ia ngayah nyapuh di Pura Samuan Tiga. Bila diminta menari, ia masih tangkas menarikan polah Kumbakarna dengan nengkleng, ngulap-ulap, dan ngecak. Daya ingatnya pun masih bernas. Pun, ketika kami bertanya perihal kisah kelahiran tari Cak, ia sanggup bertutur berjam-jam tiada jeda. Tangannya berkelebat-kelebat mengikuti penggambaran ingatannya, episode demi episode, dengan data akurat.

Tari Cak dalam kesaksian Limbak terlahir dari inspirasi tari Shang Hyang Jaran. Di Bedulu, ketika itu, ada tradisi: Jika ada orang sakit maka pihak keluarga nguntap (menanggap) tari Shang Hyang Jaran. Selain sebagai pengusir roh jahat, tarian yang disakralkan masyarakat Bedulu itu juga dipentaskan di Pura Goa Gajah saat piodalan.

de
LIMBAK: Ketika menari Cak tempo dulu. (FT: Koleksi keluarga)

Walter Spies, seniman asal Jerman menetap di Ubud yang menonton tari Shang Hyang Jaran itu, lantas tertarik menciptakan tarian yang bisa disuguhkan untuk para pelancong. Keinginan Walter Spies tersebut dilontarkan kepada I Wayan Limbak. Dari tari Shang Hyang Jaran itulah, tahun 1930 Limbak lantas melahirkan tarian yang kelak diberi nama  tari Cak.

Nyanyiannya, diambil dari ritme tari Shang Hyang Jaran, sedangkan komposisi diciptakan baru bersama Walter Spies, juga suara cak cak cak itu. Nama Cak itu, memang diangkat dari suara cak cak cak yang bersahutan, berinterkoneksi, silih berganti.

Hanya beranggotakan 40 orang yang diambil dari warga Bedulu, sekaa Cak pun berdiri. Semula mereka pentas, di depan tetamu Jerman yang khusus diundang Walter Spies pentas selama 45 menit. Mereka kerap menukil kisah-kisah epos Ramayana, yang memang tenar di Bali.

Tari Cak ciptaan Limbak pun bersambut dengan cita rasa tetamu Jerman. Meskipun digarap bersahaja. Tata rias muka dan busananya serba sederhana. Mereka hanya mabulet ginting, kain dililitkan sebatas untuk menutupi kemaluan. Terang saja pantat penari menyembul benderang. Rambut dibiarkan tergerai.

de
TERIMA PENGHARGAAN: Dari banyak penghargaan, Piagam Parama Satya Citra Kara diterima tahun 2019. (Foto: GS)

Kesahajaan itulah yang justru memikat, memancarkan karakter kuat, hingga menebarkan aura pesona. Saat Limbak ngagem Kumbakarna, misalnya, empat butir kelapa digantungkan di lengannya untuk mencitrakan kekukuhan. Penonton seakan diajak mengingat adegan Kumbakarna yang dikeroyok di medan laga oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa dari Gunung Kiskenda. Kokoh, kuat, dan pantang menyerah.

Gambaran sosok Limbak sebagai tokoh Kumbakarna dalam tarian Cak tempo dulu ini banyak tersimpan di museum-museum ternama, seperti di museum Suteja Neka, serta di museum negeri Belanda dalam bentuk-bentuk berukuran besar.

Limbak memang sosok seniman terbuka. Ia tidak segan menimba ilmu kepada orang lain, tidak pula jerih ditiru seniman lain.  Dasar-dasar tari ia banyak reguk dari I Gusti Ngurah Regug, penari jauk asal Tegal Tamu, dan I Made Jagung, penari Gambuh asal Denjalan, Batubulan. Namun, ia tetap giat menciptakan perbendaharaan gaya tari Cak yang sebelumnya gerakannya sederhana, terus diperbaharui dengan gaya telungkup, menaikkan tangan, atau tidur. Limbak juga mengajak I Gusti Kompyang Gelas, penari Cak asal Bona Gianyar untuk bergabung di sekaa-nya.

Dari orang inilah, kemudian di Bona tari Cak berbiak dan meretas ke berbagai wilayah di Bali sampai ke luar negeri. Limbak juga mendorong kemunculan sekaa Cak di Bedulu Delod Pempatan, sehingga di Desa Bedulu ada dua sekaa Cak: Sekaa Delod Pempatan dan Dajan Pempatan. Kedua sekaa ini bahkan sempat adu kepiawaian saat pasar malam di alun-alun Gianyar. ‘’Tiang bahagia, tari Cak bisa berkembang menjadi duen jagat, milik masyarakat,’’ tutur Limbak, polos.

Keterbukaan Limbak kepada siapa saja terlihat dari banyaknya tamu yang datang ke rumahnya. Termasuk para tamu asing yang bermaksud belajar budaya Bali, terkhusus tari Cak. Tidak terhitung jumlah orang yang berkunjung. Mereka datang dari Jerman, Cekoslovakia, Belanda, Jepang. Ada juga mahasiswa Narova University, Amerika Serikat, yang kerap meneliti tari Cak di rumah Limbak.

Ia pun dengan lapang memberikan informasi berjam-jam tanpa keluh lelah, sebaliknya ia justru merasa puas secara bathin. Dengan bertutur kata ia merasa gelora kesenimanannya tidak beku tersumbat, melainkan terus mengalir deras lewat orang-orang yang datang menimba ilmu padanya.

‘’Jika hanya berpentas untuk para tamu, kelak tari Cak hanya akan dikenal turis-turis asing,’’ pikir Limbak terhadap tari Cak-nya semula hanya pentas di depan tamu asing. Karena itu, untuk memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali, Limbak bersama sekaa Cak Bedulu ngelawang ke pelosok-pelosok desa. Selain menambah penghasilan sekaa, pentas itu sekaligus memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat luas di Bali. Ini tentu pengorbanan tiada ternilai, karena anggota sekaa harus berjalan kaki ke seantero Bali, meninggalkan keluarga, berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan.

‘’Tiang sempat menerima undangan tuan Branch, subandar pelabuhan Buleleng.  Setelah pentas di depan para tamu di pelabuhan, kami kemudian ngelawang ke daerah-daerah di Buleleng,’’ kenang Limbak, satu-satunya penari sekaa Cak Bedulu generasi pertama yang masih hidup tahun 2003.

Kegigihan Limbak memperkenalkan tari Cak, mendapat sambutan hangat masyarakat. Sampai-sampai terdengar ke telinga  Presiden Soekarno yang doyan tari Bali. Sekaa Cak Limbak pun kerap pentas di Istana Tampak Siring, di hadapan Presiden Soekarno.

Suatu ketika, sekaa Cak pentas di pura. Mereka menari menggunakan pakaian ada ke pura. Dari sinilah kemudian busana tari Cak tidak lagi mabulet ginting. Mereka mulai menggunakan saput dan kamben (kain). ‘’Tapi para tamu asing lebih menyukai mabulet ginting,’’ papar Limbak.

Ketenaran sebagai penari cak menjadikan kakek bercucu 21 ini didaulat sebagai perbekel Desa Bedulu oleh raja Gianyar. Kemampuan melobi dan hubungan bagus dengan tetamu manca negara, lebih-lebih lagi dengan Walter Spies, menjadikan banyak aliran sumbangan mengarus ke Desa Bedulu termasuk ke kantongnya sendiri. Dana itu lantas digunakan untuk membangun Pura Samuan Tiga dan Pura Pengastulan. ‘’Wenten jinah tumbasang paras, anggen ngewangun pura,’’ ujar kakek beristri tiga ini.

Gaya kepemimpinan Limbak memang lain. Dia tidak saja mengorbankan materinya, yang sepatutnya dia terima, juga memberikan cuma-cuma rumahnya untuk kantor kepurbakalaan dan tempat tinggal Krisman, bertahun-tahun. Kemurahan Limbak tersebut membuahkan penemuan berbagai benda purbakala di Bedulu. Salah satunya Pura Goa Gajah yang kini banyak dikunjungi wisatawan, sebagai sumber pendapatan warga Bedulu.

Keterbukaan Limbak sebagai pemimpin di desa tidak saja disukai masyarakat juga para pejabat. Rumahnya yang terbuka bagi para tetamu itu pun disinggahi orang-orang terkenal semisal Raja Gianyar AA Gde Agung dan pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai, juga arkeolog Prof. Dr. Soekmono. ‘’Saya sering berbincang-bincang tentang Bali dengan mereka di sini,’’ kenang Limbak yang membiarkan bangunan bale dauh-nya tetap kuno hingga kini. Dengan gaya ceplas-ceplosnya, Presiden Soekarno pun doyan ngobrol berlama-lama dengannya. Kerap pula ia diajak makan semeja. Keakraban itu mengantarkan Limbak suatu kali lolos nyelonong masuk ke ruangan presiden di Tampak Siring. Saat itulah ia melihat sang Presiden RI pertama itu tanpa topi. ‘’Wah, saya tidak menyangka yang tidak memakai topi itu Pak Karno, tampangnya lain sekali bila tidak memakai topi,’’ kenang Limbak.

Kesibukan sebagai perbekel, tidak mengurangi jadwal pentasnya ke desa-desa lain, memang, namun dia tak lagi bisa mengajar menari orang lain secara khusus. Dia seakan kehabisan kesempatan buat menularkan kemampuannya. Namun ia tak menampik ketika orang lain meniru watak maupun gaya tariannya. Andaikan Limbak orang barat yang fanatik dengan hak cipta, tentulah dia sudah kaya raya, karena kebanjiran royalti. Kini tari Cak ciptaannya telah dikenal luas, menjadi maskot industri kepariwisataan Bali. Saban kali dipentaskan, dipotrek jadi kartu pos dijadikan sampul kaset, vcd, latar iklan, dll.

Tapi, Limbak tidak pernah minta hak royalti. Dia sama sekali tidak bermaksud kikir terhadap ilmu yang dimilikinya. Ketika tidak sedikit yang berhasil meniru gayanya, Limbak pun tidak keberatan. Sebut saja, tari Cak yang kini berkembang pesat di Bona, yang mengalir ke daerah-daerah pariwisata, seperti Nusa Dua, Kuta, Ubud, Batubulan. Tarian ini juga banyak mengilhami koreografer maupun pencipta lagu seperti Guruh Soekarno Putra lewat lagu ‘’Kembalikan Baliku Padaku’’ yang kental nuansa caknya. Padahal di Bedulu tempat kelahirannya, tari Cak nyaris punah. Artinya sekaa tersebut sekarang sudah tidak lagi aktif, walaupun benih-benihnya masih ada.

‘’Walaupun ditiru-tiru, saya tidak apa-apa. Yang penting tarian itu tetap hidup dan tetap disukai masyarakat luas,’’ papar peraih penghargaan pencipta tari Cak dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Republik Indonesia 1996, ini.

Yang membuat dia kerap merasa sedih, justru pementasan tari di hotel-hotel yang berdampak buruk terhadap sekaa-sekaa sebunan yang berbasis di desa. Dalam ingatan dia, tahun 1960-an turislah yang datang ke desa dan menikmati tari-tarian di desa. Para tamu itu, di samping menikmati tarian juga bisa melihat perajin di desa bersangkutan. Sebaliknya kini, senimanlah datang ke hotel menjajakan tarian. ‘’Ini jelas membunuh sekaa sebunan,’’ ujar Limbak.

Sekaa Cak Bedulu, contohnya. Dulu mereka sempat pentas rutin di tiga tempat di seputar Bedulu: di Goa Gajah, Pura Samuan Tiga, dan Mandala Wisata Samuan Tiga. Kini mereka praktis menganggur, karena wisatawan tidak mau lagi datang ke desa. Sekaa Cak dan Legong Ganda Manik Bedulu ini sempat pentas di hotel namun buru-buru tidak dilanjutkan karena upah tidak sesuai dengan pengorbanan kreativitas yang mereka berikan. Kini mereka beralih menjadi perajin ukir.

‘’Meskipun sekaa bubar, namun jika suatu ketika pentas, mereka cukup latihan beberapa kali, pasti jadi,’’ jamin Limbak yang sejak 1967 mengundurkan diri menjadi perbekel, lalu mengabdi sebagai ketua panitia Pura Samuan Tiga hingga tahun 1992.  ‘’Tiang merasa ditakdirkan mengabdi di desa ini sampai akhir hayat,’’ ujar bapak empat putra ini.

de
I WAYAN PATRA: Putra Limbak yang segera akan membentuk Yayasan I Wayan Limbak untuk mengenang dedikasinya di bidang seni khususnya tari Cak. (Foto:GS)

Meski usia Limbak mendekati 1 abad, toh semangat Kumbakarna membela negeri kelahirannya hingga akhir hayat tiada putus berdenyut di jiwanya. Raganya yang kian rapuh tiada dihiraukan benar. Saban pagi ia setia kukuh bergegas menuju Pura Samuan Tiga, 500 meter dari rumahnya. Di tempat suci yang disebut-sebut sebagai lokasi pendeta visioner asal tanah Jawa Mpu Kuturan mempersatukan sekta-sekte di Bali abad ke-11 itu, Limbak penuh bakti menunaikan tugasnya: menyapu kotoran, ranting-ranting, dan dedaunan yang jatuh ke natar pura nan luas. ‘’Bahkan 10 hari sebelum Bapak meninggal masih sempat berjalan sendiri nyayah nyapuh ke pura,’’ ujar I Wayan Patra, suatu siang setelah 17 tahun berlalu.

Di pura tersebut ia serahkan seluruh jiwa dan raganya. Lewat sapu lidi, Limbak saban hari bermeditasi menghilangkan sifat-sifat rajas dan tamas yang melekat di tubuhnya. Usai ngayah nyapuh terkadang ia tertidur pulas di bale-bale pura, begitu lepas merdeka, tiada beban. ‘’Tiang merasa segar setelah ngayah iriki,’’ ujarnya polos.

de
I WAYAN LIMBAK: Lahir tahun 1907 dan meninggal 3 November 2003. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)

Di lain waktu, jika ada tamu-tamu yang datang menjenguk baik di pura saat pagi hari maupun di rumahnya, ia dengan riang meluangkan waktu berjam-jam memaparkan sejarah tari Cak disertai gerakan-gerakannya yang kuat, kukuh, penuh daya pukau. Ia tidak tampak begitu tua. Namun setelah orang-orang pergi meninggalkannya, ia kembali dalam kesendirian, pun ketika menghadap Hyang Maha Kuasa. Namanya kian sayup seperti irama suara cak-cak cak penari Cak yang kian menjauh. (Gede Sumida)

Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Sampaikan Rasa Bangga, Ny. Putri Koster Hadiri Pameran Lukisan Virtual Agus Mertayasa

Published

on

By

se
GEDE AGUS MERTAYASA

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster mengapresiasi dan menyampaikan rasa bangga terhadap Gede Agus Mertayasa yang memiliki keterbatasan fisik sejak kecil, namun mampu mencurahkan imajinasi dan kreativitas dengan membuat lukisan guna mengaktualisasikan bahasa batinnya dengan jelas di atas kanvas.

Pendamping orang nomor satu di Bali ini menyampaikan hal itu saat menghadiri pameran lukisan virtual Agus Mertayasa (22), putra dari Ketut Sudana, di Jayasabha Denpasar, Rabu (5/8-2020). Pameran ini terselenggara atas kerja sama Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bali dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali.

Selaku Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster berharap semoga sosok Agus Mertayasa mampu menjadi contoh bagi anak-anak difabel yang lain untuk tidak menyerah oleh keadaan, melainkan harus tetap semangat dan bangkit menjadi pribadi yang tekun dan penuh ide, serta mampu berkreativitas menumbuhkan keahlian yang dimiliki secara lugas.

Kepada para orangtua, Ny. Putri Koster mengingatkan untuk dapat memanfaatkan pandemi ini dengan lebih meluangkan waktu memberikan perhatian kepada putra-putri di rumah, sehingga peran sebagai guru rupaka tidak semakin terkikis oleh kemajuan informasi dan teknologi.

“Penguasaan terhadap teknologi memang sangat penting di zaman saat ini karena persaingan menguasai pasaran dan dunia ada pada kecekatan dan kecepatan kita memfungsikan IT tersebut. Namun, mari kita terus berupaya memberikan sentuhan perhatian, kasih sayang, mengayomi dan dukungan terhadap anak-anak kita, tetapi tidak dengan cara memanjakan. Jangan sesekali memberikan mereka ikan yang siap disantap, namun berikan mereka kail untuk berusaha mendapatkan ikan yang sesungguhnya agar kemandirian untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dapat dirasakan. Dengan demikian, nantinya akan dapat memberikan dampak positif untuk anak-anak kita, yakni akan ada usaha dalam menggapai masa depannya secara pasti dan mandiri,” ujar Ny. Putri Koster, menekankan.

de
HADIRI PAMERAN: Ny. Putri Suastini Koster hadiri pameran lukisan secara virtual karya-karya Gede Agus Mertayasa di Jayasabha Denpasar.

Ny. Putri Koster merasa sangat bahagia karena hari ini dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan pameran lukisan yang sebelumnya direncanakan pameran tunggal, namun terhambat oleh kondisi yang diakibatkan wabah Covid-19 yang belum kunjung usai. Akhirnya, Ny. Putri Koster memiliki keinginan untuk melaksanakan pameran virtual.

“Di balik fisik yang diharuskan tetap di rumah, namun kreativitas harus tetap aktif di tengah plafon digitalisasi. Saat pandemi kita berinisiatif melaksanakan kegiatan pameran virtual sebagai wahana digitalisasi untuk ikut melibatkan instansi pemerintah, para dermawan, swasta dan donatur untuk ikut serta dalam situasi era baru yang kembali produktif dan berkreativitas dengan tidak melanggar protokol kesehatan di tengah pandemik, sehingga digitalisasi virtual adalah jawaban saat ini. Kita tetap berkegiatan yang sehat terutama bagi anak-anak kita yang memiliki talenta, dan pengembangan mental yang harus terus digali,” kata seniman multitalenta itu.

Pada pameran ini, Agus Mertayasa yang mulai melukis sejak tahun 2017 (atau 3 tahun silam) memamerkan sebanyak 45 karyanya yang hampir keseluruhan mengangkat tema ‘’Maut’’ atau tentang ‘’Pralina’’. Suatu karya yang khas dengan penguasaan energi garis dan kemampuan menggores ritme bahasa nafas layaknya orang yang sedang meditasi. Ia memiliki kesempurnaan untuk berfokus pada suasana batiniah yang ingin disampaikan dalam sebuah tema secara visual yang kuat dengan pancaran aura magisnya. Tema ini menjadi pilihan karena Agus Mertayasa memiliki kepekaan kuat terhadap semesta dan kehidupan untuk menjawab kemungkinan maut yang ada, karena manusia adalah bagian dari maut itu sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. I Wayan Adnyana yang turut hadir dalam pameran tersebut mengatakan, kegiatan pameran virtual ini merupakan salah satu bentuk nyata dari visi kemanusiaan yang hadir di tengah kondisi pandemi, yang merupakan insiatif untuk langsung menuntun masyarakat dari rasa kemanusiaan yang universal.

Karya Agus Mertayasa yang mulai menggoreskan garisan karyanya sejak tiga (3) tahun ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa. Ia dapat menampilkan karya seni dengan pilihan tematik yang tidak mudah, yakni menampilkan karya tema Maut atau Pralina bukan pilihan yang sembarangan untuk sebuah kreativitas karya lukisan. “Salah satunya adalah contoh lukisan Corona yang menandakan bahwa maut itu memang dekat dengan manusia dan sudah tergariskan untuk menguasai semesta saat ini,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ny. Putri Koster berharap bahwa kegiatan pameran virtual Agus Mertayasa ini tidak berhenti sampai di sini, namun tetap berlanjut dan memberi imbas dan melibatkan anak-anak bertalenta lainnya yang ada di lain tempat, sehingga digital virtual mampu menjadi wadah untuk mengasah diri dan menghasilkan karya bagi anak-anak difabel, karena mereka juga memiliki kelebihan terpendam dan harus terus digali secara aktif dan masif. (gs)

Lanjutkan Membaca

SENI

Pergelaran Seni Virtual “Bung Karno dan Bali” Pukau Netizen

Published

on

By

de
BUNG KARNO DAN BALI, Karya seni virtual, ''Bung Karno dan Bali'' mendapat apresiasi dari para netizen.

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Kebudayaan tidak pernah berhenti berkreatifitas sekalipun di tengah situasi pandemi Covid-19.  Serangkaian penyelenggaraan Bulan Bung Karno tahun 2020, bekerjasama dengan 10 komunitas seni mengemas sajian pentas seni virtual.  Ajang seni budaya yang ditayangkan perdana bertepatan dengan peringatan 50 tahun wafatnya Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, memanfaatkan kanal media sosial youtube Pemrov Bali dan Disbud Prov Bali, Minggu (21/6-2020) disambut antusias ratusan penonton.

“Masyarakat atau netizen menyambut kegiatan tersebut dengan antusiasme tinggi, bahkan tidak sedikit yang melontarkan komentar positif. Artinya, pergelaran virtual bertajuk “Bung Karno dan Bali” tersebut diterima masyarakat. Harapannya melalui pergelaran virtual ini, seluruh krama Bali, khususnya generasi penerus semakin menjiwai ajaran Bung Karno, Bapak Bangsa Kita,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutan serangkaian pergelaran virtual seni tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan ‘Kun’ Adnyana menyampaikan apresiasi atas partisipasi  seluruh komunitas yang terlibat. “Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, tentu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas partisipasinya. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada tim pendukung, antara lain penyair Warih Wisatsana, pekerja seni Kadek Wahyudita, Indra Parusha, Iwan, serta tim kameramen dan editor, sehingga pergelaran seni virtual yang dimaksud berjalan lancar.

Mereka sepenuhnya tampil dengan sukarela dan penuh suka cita untuk merayakan semangat Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Bung Karno dengan tanpa biaya. Ini kerja gotong-royong kita dalam mengaktualisasikan ajaran Trisakti Bung Karno untuk Menyongsong Bali Era Baru,“ kata Kun Adnyana, Senin (22/6-2020).

Pergelaran seni virtual berdurasi 50 menit yang memadukan pentas teater, musikalisasi puisi, kesenian tradisional dalam teknik sinematografi itu diawali dengan pembacaan puisi “Ode Bagi Bung Karno” oleh penyair Warih Wisatsana diiringi dentingan nada gangsa serta alunan suara kidung.

Berikutnya, Komunitas Mahima berjudul “Nyoman Rai Srimben” dengan pengambilan gambar berlokasi di Bale Agung Buleleng, tempat kelahiran Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, Ibunda Bung Karno, dengan puisi dan iringan gitar yang dipadu nyanyian. Kemudian SLBN 1 Badung menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Aku Melihat Indonesia” yang mengambil lokasi di aula SLBN 1 Badung.

SMAN 3 Denpasar menampilkan karya seni berjudul “Pelecut Baja” bertempat di aula SMAN 3 Denpasar, menyajikan alat musik tradisional seperti suling yang dipadu dengan gamelan Bali dan musik modern. Sementara SMKN 5 Denpasar menyajikan garapan berjudul “Minum Seni dan Kultur” menampilkan garapan tari dan vocal, diiringi gamelan Bali. Penabuh nampak memakai masker yang menawan berwarna merah dan putih.

Sanggar Gumiart menampilkan garapan berjudul “Merajut Adab Nusantara” yang menampilkan 5 penari wanita dengan permainan kipas, dan wastra songket. Sebagai pengiring kendang, suling yang dipadu dengan musik modern. SMKN 3 Sukawati mengangkat garapan berjudul “Spirit Bung Karno dengan memadukan semua unsur seni, seperti tari, tembang, musik, seni vokal, teater, puisi, dan pedalangan.

Teater Selem Putih menampilkan teater dengan judul “Sarinah” dengan lokasi di Studio Teater Selem Putih Buleleng yang menyindir kaum politisi yang sengaja menirukan penampilan mirip Bung Karno, namun tidak mengamalkan ajarannya, seperti Trisakti. Pertunjukan ditutup dengan penampilan Grup Band Mr. Botax yang berjudul “Bung Karno Bapak Bangsa”. (*/gs)

Lanjutkan Membaca

SENI

Di Tengah Pandemi, Ny. Putri Koster: Pemprov Bali Beri Ruang bagi Seniman untuk Berkreasi

Published

on

By

se
NY. PUTRI SUASTINI KOSTER

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Bali telah memberi dampak ke berbagai sendi kehidupan, tidak hanya kesehatan, ekonomi dan sosial, tetapi juga pada seni. Kegiatan seni panggung yang biasanya melibatkan banyak orang dan penonton, tidak lagi bisa dilakukan mengingat virus akan menyebar cepat di keramaian. Social distancing dan physical distancing yang menyebabkan pertunjukan tidak bisa dilakukan.

‘’Namun bukan berarti kreativitas seni akan ikut mati di tengah pandemi ini. Kreativitas harus terus berjalan. Hanya aktivitasnya dilakukan dalam format yang berbeda. Kegiatan seni dialihkan dari panggung ke pementasan virtual. Tidak ada yang bisa menghalangi seniman untuk terus berkreativitas, malah di tengah pandemi ini seniman diharapkan untuk terus berkarya,’’ ujar Ny. Putri Koster ketika menjadi narasumber dalam acara Webinar ‘Kreativitas Seni di Era Pandemi’ yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Bali, Jumat (19/6-2020)

Seniman multitalenta ini kembali memaparkan gejolak, gelegat dan gairah berkesenian orang Bali sangat luar biasa dan kita terlahir untuk itu. Jangan sampai dihambat tetapi malah harus diwadahi, diberikan kesempatan dan beri ruang yang seluas-luasnya. Dalam hal ini pemerintah hadir untuk menggawangi dengan payung hukum, mendorong dan mensupport sehingga akan terlahir seniman yang mumpuni.

Istri orang nomor satu di Bali ini menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali memberi ruang dan suatu wadah yang besar bagi para seniman untuk berkreasi. Pemprov Bali memiliki dua wadah besar yang memberi keleluasaan bagi para seniman dari segala lini untuk berkreasi. Jika dilihat dari pelaksanaan  Pesta Kesenian Bali, kegiatannya mengerucut pada seni tradisional yang diwariskan para leluhur. Ruang gerak bagi seni modern seperti puisi, teater modern ruangnya sangat terbatas di PKB.

Untuk itu, Pemprov Bali memberi ruang pada seni modern melalui Festival Seni Bali Jani. Di arena Festival Seni Bali Jani dilombakan seni modern seperti teater, puisi, lomba drama modern serta pameran buku bagi para pegiat sastra.

Sastrawan Bali harus terus didorong untuk terus berkarya sehingga akan menghasilkan karya sastra yang luar biasa, sehingga nantinya dapat diselenggarakan pameran buku tingkat internasional di Bali yang materinya dipenuhi oleh karya-karya sastrawan Bali. Dengan demikian, sastrawan Bali akan bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Tidak hanya sastrawan, ke depannya harus bisa menggawangi seniman dari semua ranah seni, baik itu seni modern maupun perupa dan yang lainnya.

Ke depannya, Ny. Putri Koster berharap agar kreativitas seni kita menjadi kreativitas seni di Bali Era Baru. Bali yang kembali pada jati dirinya, Bali yang kembali pada tatanan lamanya, Bali yang sujatinya Bali, Bali yang orang-orangnya adalah para seniman. Seniman Bali tidak hanya menghasilkan karya, tapi juga mengolah jati dirinya dan memiliki taksu.

Ny. Putri Koster berpesan untuk para generasi muda yang baru masuk ke dalam dunia sastra atau seni bidang apa pun untuk terus tekun dan tidak meninggalkan tradisi keaksaraan yang ada. Seniman yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga meminta generasi muda untuk rajin mendengar, karena ketika kita rajin mendengar maka memori kita akan penuh, sehingga kita mampu mengucap dengan baik dan benar. Karenanya, rajin-rajinlah membaca, karena dengan membaca memori kita akan terisi sehingga kita mampu menulis dengan baik dan benar, apa yang ada dalam hati dan pikiran. Dari sana kita beranjak menjadi seniman yang berkreasi tinggi.

Di akhir arahannya, Ny. Putri Koster mengajak para seniman lewat kemampuan berkesenian terus dapat berkreasi di bidang seninya masing-masing untuk tetap bisa menjaga imun dan iman, sehingga pada akhirnya bisa melewati wabah Covid-19 ini dengan aman dan sampai pada waktunya kita bisa berkarya seperti sedia kala. Ny. Putri Koster juga mengajak para peserta webinar untuk terus mematuhi imbauan serta anjuran pemerintah. Harus disiplin dan jangan bengkung dan mesti patuh pada protokol kesehatan yang ada karena virus ada di mana-mana.

Webinar juga menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu Putu Fajar Arcana serta Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, MLit, serta diikuti oleh Rektor Universitas Udayana Prof. AA Raka Sudewi serta Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dr. Made Sri Satyawati, SS, MHum.  Webinar yang berlangsung sekitar tiga jam itu mendapat antusias yang luar biasa dari sekitar 150 peserta yang terdiri atas para tokoh seniman dan sastrawan, baik dari Bali maupun luar Bali. Kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab serta pembacaan puisi oleh Ny. Putri Koster. (*/gs)

Lanjutkan Membaca