Connect with us

SENI

Telah Luncurkan 3 Video Klip, Namsore Band Siap Rilis Album Tahun Ini

BALIILU Tayang

:

se
NAMSORE BAND: Personil Wira (ex Postman & Chick Magnet) pemegang guitar dan vocal, Tom (Chick Magnet) pemegang bass dan vocal, dan Dopel (Snap Rawks) pemegang drum/back vocal.

Denpasar, baliilu.com – Walau baru berumur 1,5 tahun, namun Namsore Band telah banyak menghibur masyarakat Bali, khususnya pecinta music pop punk atau rock. Bahkan sejak kelahirannya 18 Juli 2018, Namsore Band telah meluncurkan tiga lagu dalam bentuk video klip dan tahun ini siap-siap bakal merilis album yang ke perdana.

Bermula dari keisengan Wira yang membuatkan studio latihan untuk Kevin, anak sulungnya, tergugah rasa  keinginan untuk kembali membentuk sebuah band. Wira mengajak Tom dan Dopel yang juga berlatar belakang pemusik. Lahirlah Namsore Band pada 18 Juli 2018 di Vin’z Studio di Jl. Dewi Supraba II, No. 3 Antasura, Denpasar dengan memilih gunre Pop Punk, Rock.

de
NAMSORE BAND: Usung gunre musik Pop Punk dan Rock

Gitaris sekaligus vokalis Namsore Band Wira mengatakan pilihan pada nama Namsore tak terlepas dari mudah menyebut dan gampang mengingat. Namsore sendiri singkatan dari enam sore yang memilliki beberapa arti. Bisa diidentikkan dengan sunset, dimana saat-saat aktivitas santai menikmati minuman segar sambil mendengarkan iringan lagu di pinggir pantai. Juga berarti jadwal latihan Namsore yang selalu mulai pukul 6 sore, mengingat seluruh personal adalah pekerja. Namsore juga mengingatkan personelnya akan waktu yang spesial buat Tri Sandya yang biasanya dilakukan jam 6 sore.

Namsore beranggotakan Wira (ex Postman & Chick Magnet) pemegang guitar dan vocal, Tom (Chick Magnet) pemegang bass dan vocal, dan Dopel (Snap Rawks) pemegang drum/back vocal.

Meski terbilang band baru, namun Namsore sudah menjajal beberapa panggung di Bali. Ini berawal dari pertemanan yang sangat baik antara Tom dengan Koter, bass/vocal dari Racun Timur Menggoda, yang akhirnya Koter banyak membantu Namsore mencarikan panggung, seperti: Twice Bar, Gimme Shelter, Lingkara Space, Locally Session at Boshe VVIP Bali, Stel Peleng, dan acara lainnya. Salah satu acara besar untuk Namsore adalah 22 Februari 2019, turut serta memeriahkan acara Total Chaos World Tour 2019, bertempat di Pantai Mertasari, Sanur-Bali.

Baca Juga  Update Covid-19 Senin (27/4) Kabar Baik Pasien Sembuh 6 Orang, Dewa Indra: Transmisi Lokal Memprihatinkan
de
NAMSORE BAND: Beri Pesan Buat Generasi Muda Melalui Kritik Sosial Dalam Lagu-lagunya

Awalnya, kehadiran Namsore di blantika music Bali hanya meng-cover lagu band Punk dari Washington, America, MXPX, seperti: Let’s Ride, Doing Time, Responsibility, Chick Magnet. Seiring berjalannya waktu Namsore mencoba untuk menciptakan lagu sendiri. ‘’Sampai saat ini kami sudah mencipta 3 lagu, Muak, Bergegas dan Terdepan yang sudah kami rekam di 49wreckchord milik Dimas, Instant Karma pada awal Desember, 2018,’’ ungkap Wira.

Bahkan telah meluncurkan 3 video clip: Muak, Bergegas dan Terdepan yang bisa ditonton di channel youtube @NAMSOREband Official. Bisa juga didengarkan melalui iTunes, Amazon Music, Spotify, Deezer, iHeart Radio, Reverbnation, Soundcloud. ‘’Akhir 2019 kemarin, kami kembali berkarya dan melanjutkan untuk rekaman 5 lagu baru. Harapan kami, semoga di tahun 2020 ini Namsore bisa segera meluncurkan album perdana,’’ harap Wira.

de
AKSI SOSIAL: Penggalangan dana demi adik-adik yang membutuhkan

Sebagai salah satu band idie Bali, Namsore lanjut Wira bertujuan untuk ikut meramaikan industri musik tanah air. Dengan bermunculan band-band indie di Bali maka persaingan pun pastinya sangat ketat. Wira, Tom dan Dopel yang sama-sama mencintai music ingin terjun secara maksimal dalam musik dan bertekad akan terus berusaha untuk memberikan karya yang terbaik.

Meski masing-masing anggota sudah pernah memiliki band, namun saat ini mereka kembali memutuskan mengawali karier dari bawah dan masih di dalam jalur indie meski tidak menutup kemungkinan juga mengikuti jalur mayor label jika suatu saat nanti mendapat tawaran rekaman dari salah satu label music di Indonesia.

de
NAMSORE BAND: Ikut Peduli Promosikan Anti Sampah Plastik

Sederet aktivitas Namsore Band yang sudah dilewati sejak kemunculannya. Di antaranya Twice Bar  (11 November 2018),  Gimme Shelter (3 Januari 2019), Locally Session at Boshe VVIP Club (15 Januari 2019), Sunday Funday at Stel Peleng (3 Februari 2019), Februari Berbagi Kasih (Charity) at Stel Peleng (12 Februari 2019), Eh, KAGET KAGET! At Lingkara Space (16 Februari 2019), Total Chaos 30 Years of World Tour 2019 (22 Februari 2019), Twice Bar (13 Maret 2019), Namsore Fiesta, Music Video Release NAMSORE – Muak. (at Colony Creative Hub, Lt. 3, Plaza Renon Dps, 24 Maret 2019), Namsore Launching Single & Video Clip “Bergegas” and Charity Event. (at Boshe VVIP Bali, Sanur – Bali, 14 Mei 2019), Twice Bar with Sketch Method, Australia (16 Juli 2019) Tabanan Light Festival (26 Juli 2019), Twice Bar (28 September 2019), Twice Bar (25 Oktober 2019), Locally Session at Boshe VVIP Club (5 November 2019), Gempita Undian Kopi ABC di Lap. Astina – Gianyar (17 November 2019), Lucky Street Bar with Alien Ass (Semarang) Tour (12 Desember 2019), Twice Bar with Alien Ass (Semarang) Tour (14 Desember 2019).

Baca Juga  Direktorat Intelkam Polda Bali Bantu Sembako Mahasiswa Manggarai di Bali
de
PERSONIL NAMSORE BAND: Penggila Holden

Di sela kegiatan memanggung, Namsore juga secara aktif melakukan aksi sosial. Di antaranya gencar mempromosikan tas anti plastik dalam rangka mengurangi sampah plastik. Begitu juga menggalang dana saat meluncurkan salah satu singlenya. Dana yang terkumpul kemudian disumbangkan ke panti asuhan. ‘’Setiap manggung, kami selalu ingat adik-adik yang ada di panti asuhan, karena itu kami selalu selipkan acara penggalangan dana,’’ ungkap Wira, yang juga penggila Holden.

Musik tak sekadar alunan suara, tetapi musik itu adalah pengantar pesan. Bisa dalam bentuk kritik sosial, politik, alam yang semakin rusak atau juga menginspiratif yang bisa memberikan energi positif bagi penikmatnya.

Begitulah Namsore selalu ada yang melatarbelakangi di setiap hasil karyanya. Seperti Muak yang menjadi lagu perdananya. Lagu ini menceritakan laki-laki yang menyukai seorang wanita. Namun pada saat mendekati wanita itu, selalu saja ada penghalang, yaitu laki-laki lain. Perburuan pun berlanjut, hingga beberapa kali mencoba, tetap saja tidak berhasil. Entah sudah berapa macam cara ditempuh, hingga laki-laki itu bosan dan penat akan usahanya yang sia-sia.

de
SEMANGAT: Menghibur Pecinta Musik Punk rock

Di sisi lain, wanita itu diam-diam juga menyukainya. Namun hanya berharap agar dia lebih gigih dalam berjuang. Apa daya, kenyataan berkata lain, laki-laki itu lebih memilih untuk menyerah karena muak sudah dengan segala keadaan yang telah dilalui selama ini.

Sementara itu, lagu kedua Bergegas dalam video clipnya, Tom merasakan kegundahan hati atas apa yang terjadi pada saat itu, yaitu banyaknya beredar berita-berita di media sosial maupun di televisi yang sangat memanas oleh debat politik, konflik SARA, perseteruan antar-ormas, berita hoax, hingga sampai berita konflik sesama artis. Melalui lagu ini, Tom berharap agar masyarakat bisa menyikapi semua berita itu dengan tenang dan kita tetap berpikir positif untuk hidup yang lebih baik.

Baca Juga  Ajak Grup Motor The Prediksi, Andre Taulany dkk Nikmati Toya Devasya Natural Hot Spring

‘’Namun kami mencoba mengemas cerita ini di dalam video clip menjadi sangat sederhana. Dimana representasi konflik di video kami wakilkan dengan adanya pria pengusaha kaya raya dan seorang photographer yang memperebutkan seorang wanita,’’ ungkap Wira.

Pada akhirnya dalam proses rayuan kepada wanita itu, kedua pria tersebut tersulut amarah hingga menimbulkan sebuah konflik. Hingga akhirnya konflik tersebut berhasil didamaikan oleh seorang satpam, yang membuat wanita tersebut jatuh hati. Kedua pria (pengusaha dan photographer) merasa usaha yang mereka lakukan sia-sia, bahkan hampir memicu perkelahian. Kemudian mereka pun sepakat untuk berdamai. ‘’Sejatinya, jika kita mau membuka pikiran, duduk berdiskusi, bisa menerima masukan dari kekurangan kita dan saling mendukung atas kelebihan orang lain. Maka kami yakin untuk ke depannya akan menjadi pribadi dan negara yang lebih baik,’’ imbuh Wira.

Dan pada lagu ketiganya Terdepan, menceritakan tentang sebuah motivasi kepada seluruh pemuda-pemudi yang ingin meraih cita-citanya agar selalu terus melangkah dan menemukan cara untuk menggapainya. Meski banyak rintangan, ataupun ketika di pertengahan jalan sempat terjatuh, harus bangkit kembali dengan penuh semangat. Tidak ada sesuatu yang instant semudah membalikkan telapak tangan. Jika percaya dan berusaha, yakinlah suatu saat nanti bisa menggapai semua cita dan harapan untuk menjadi yang terdepan. (balu1)

SENI

Sampaikan Rasa Bangga, Ny. Putri Koster Hadiri Pameran Lukisan Virtual Agus Mertayasa

Published

on

By

se
GEDE AGUS MERTAYASA

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster mengapresiasi dan menyampaikan rasa bangga terhadap Gede Agus Mertayasa yang memiliki keterbatasan fisik sejak kecil, namun mampu mencurahkan imajinasi dan kreativitas dengan membuat lukisan guna mengaktualisasikan bahasa batinnya dengan jelas di atas kanvas.

Pendamping orang nomor satu di Bali ini menyampaikan hal itu saat menghadiri pameran lukisan virtual Agus Mertayasa (22), putra dari Ketut Sudana, di Jayasabha Denpasar, Rabu (5/8-2020). Pameran ini terselenggara atas kerja sama Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bali dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali.

Selaku Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster berharap semoga sosok Agus Mertayasa mampu menjadi contoh bagi anak-anak difabel yang lain untuk tidak menyerah oleh keadaan, melainkan harus tetap semangat dan bangkit menjadi pribadi yang tekun dan penuh ide, serta mampu berkreativitas menumbuhkan keahlian yang dimiliki secara lugas.

Kepada para orangtua, Ny. Putri Koster mengingatkan untuk dapat memanfaatkan pandemi ini dengan lebih meluangkan waktu memberikan perhatian kepada putra-putri di rumah, sehingga peran sebagai guru rupaka tidak semakin terkikis oleh kemajuan informasi dan teknologi.

“Penguasaan terhadap teknologi memang sangat penting di zaman saat ini karena persaingan menguasai pasaran dan dunia ada pada kecekatan dan kecepatan kita memfungsikan IT tersebut. Namun, mari kita terus berupaya memberikan sentuhan perhatian, kasih sayang, mengayomi dan dukungan terhadap anak-anak kita, tetapi tidak dengan cara memanjakan. Jangan sesekali memberikan mereka ikan yang siap disantap, namun berikan mereka kail untuk berusaha mendapatkan ikan yang sesungguhnya agar kemandirian untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dapat dirasakan. Dengan demikian, nantinya akan dapat memberikan dampak positif untuk anak-anak kita, yakni akan ada usaha dalam menggapai masa depannya secara pasti dan mandiri,” ujar Ny. Putri Koster, menekankan.

Baca Juga  Update Covid-19 Selasa (5/5) Positif 277, Dewa Indra: TL Naik, Minta Tokoh Bali Bersatu Kuatkan Disiplin Cegah Covid-19
de
HADIRI PAMERAN: Ny. Putri Suastini Koster hadiri pameran lukisan secara virtual karya-karya Gede Agus Mertayasa di Jayasabha Denpasar.

Ny. Putri Koster merasa sangat bahagia karena hari ini dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan pameran lukisan yang sebelumnya direncanakan pameran tunggal, namun terhambat oleh kondisi yang diakibatkan wabah Covid-19 yang belum kunjung usai. Akhirnya, Ny. Putri Koster memiliki keinginan untuk melaksanakan pameran virtual.

“Di balik fisik yang diharuskan tetap di rumah, namun kreativitas harus tetap aktif di tengah plafon digitalisasi. Saat pandemi kita berinisiatif melaksanakan kegiatan pameran virtual sebagai wahana digitalisasi untuk ikut melibatkan instansi pemerintah, para dermawan, swasta dan donatur untuk ikut serta dalam situasi era baru yang kembali produktif dan berkreativitas dengan tidak melanggar protokol kesehatan di tengah pandemik, sehingga digitalisasi virtual adalah jawaban saat ini. Kita tetap berkegiatan yang sehat terutama bagi anak-anak kita yang memiliki talenta, dan pengembangan mental yang harus terus digali,” kata seniman multitalenta itu.

Pada pameran ini, Agus Mertayasa yang mulai melukis sejak tahun 2017 (atau 3 tahun silam) memamerkan sebanyak 45 karyanya yang hampir keseluruhan mengangkat tema ‘’Maut’’ atau tentang ‘’Pralina’’. Suatu karya yang khas dengan penguasaan energi garis dan kemampuan menggores ritme bahasa nafas layaknya orang yang sedang meditasi. Ia memiliki kesempurnaan untuk berfokus pada suasana batiniah yang ingin disampaikan dalam sebuah tema secara visual yang kuat dengan pancaran aura magisnya. Tema ini menjadi pilihan karena Agus Mertayasa memiliki kepekaan kuat terhadap semesta dan kehidupan untuk menjawab kemungkinan maut yang ada, karena manusia adalah bagian dari maut itu sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. I Wayan Adnyana yang turut hadir dalam pameran tersebut mengatakan, kegiatan pameran virtual ini merupakan salah satu bentuk nyata dari visi kemanusiaan yang hadir di tengah kondisi pandemi, yang merupakan insiatif untuk langsung menuntun masyarakat dari rasa kemanusiaan yang universal.

Baca Juga  Terkait Hasil Rapid Test, Gubernur Koster Minta Desa Abuan Bangli Diisolasi Ketat

Karya Agus Mertayasa yang mulai menggoreskan garisan karyanya sejak tiga (3) tahun ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa. Ia dapat menampilkan karya seni dengan pilihan tematik yang tidak mudah, yakni menampilkan karya tema Maut atau Pralina bukan pilihan yang sembarangan untuk sebuah kreativitas karya lukisan. “Salah satunya adalah contoh lukisan Corona yang menandakan bahwa maut itu memang dekat dengan manusia dan sudah tergariskan untuk menguasai semesta saat ini,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ny. Putri Koster berharap bahwa kegiatan pameran virtual Agus Mertayasa ini tidak berhenti sampai di sini, namun tetap berlanjut dan memberi imbas dan melibatkan anak-anak bertalenta lainnya yang ada di lain tempat, sehingga digital virtual mampu menjadi wadah untuk mengasah diri dan menghasilkan karya bagi anak-anak difabel, karena mereka juga memiliki kelebihan terpendam dan harus terus digali secara aktif dan masif. (gs)

Lanjutkan Membaca

SENI

Pergelaran Seni Virtual “Bung Karno dan Bali” Pukau Netizen

Published

on

By

de
BUNG KARNO DAN BALI, Karya seni virtual, ''Bung Karno dan Bali'' mendapat apresiasi dari para netizen.

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Kebudayaan tidak pernah berhenti berkreatifitas sekalipun di tengah situasi pandemi Covid-19.  Serangkaian penyelenggaraan Bulan Bung Karno tahun 2020, bekerjasama dengan 10 komunitas seni mengemas sajian pentas seni virtual.  Ajang seni budaya yang ditayangkan perdana bertepatan dengan peringatan 50 tahun wafatnya Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, memanfaatkan kanal media sosial youtube Pemrov Bali dan Disbud Prov Bali, Minggu (21/6-2020) disambut antusias ratusan penonton.

“Masyarakat atau netizen menyambut kegiatan tersebut dengan antusiasme tinggi, bahkan tidak sedikit yang melontarkan komentar positif. Artinya, pergelaran virtual bertajuk “Bung Karno dan Bali” tersebut diterima masyarakat. Harapannya melalui pergelaran virtual ini, seluruh krama Bali, khususnya generasi penerus semakin menjiwai ajaran Bung Karno, Bapak Bangsa Kita,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutan serangkaian pergelaran virtual seni tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan ‘Kun’ Adnyana menyampaikan apresiasi atas partisipasi  seluruh komunitas yang terlibat. “Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, tentu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas partisipasinya. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada tim pendukung, antara lain penyair Warih Wisatsana, pekerja seni Kadek Wahyudita, Indra Parusha, Iwan, serta tim kameramen dan editor, sehingga pergelaran seni virtual yang dimaksud berjalan lancar.

Mereka sepenuhnya tampil dengan sukarela dan penuh suka cita untuk merayakan semangat Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Bung Karno dengan tanpa biaya. Ini kerja gotong-royong kita dalam mengaktualisasikan ajaran Trisakti Bung Karno untuk Menyongsong Bali Era Baru,“ kata Kun Adnyana, Senin (22/6-2020).

Pergelaran seni virtual berdurasi 50 menit yang memadukan pentas teater, musikalisasi puisi, kesenian tradisional dalam teknik sinematografi itu diawali dengan pembacaan puisi “Ode Bagi Bung Karno” oleh penyair Warih Wisatsana diiringi dentingan nada gangsa serta alunan suara kidung.

Baca Juga  Update Covid-19 Senin (27/4) Kabar Baik Pasien Sembuh 6 Orang, Dewa Indra: Transmisi Lokal Memprihatinkan

Berikutnya, Komunitas Mahima berjudul “Nyoman Rai Srimben” dengan pengambilan gambar berlokasi di Bale Agung Buleleng, tempat kelahiran Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, Ibunda Bung Karno, dengan puisi dan iringan gitar yang dipadu nyanyian. Kemudian SLBN 1 Badung menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Aku Melihat Indonesia” yang mengambil lokasi di aula SLBN 1 Badung.

SMAN 3 Denpasar menampilkan karya seni berjudul “Pelecut Baja” bertempat di aula SMAN 3 Denpasar, menyajikan alat musik tradisional seperti suling yang dipadu dengan gamelan Bali dan musik modern. Sementara SMKN 5 Denpasar menyajikan garapan berjudul “Minum Seni dan Kultur” menampilkan garapan tari dan vocal, diiringi gamelan Bali. Penabuh nampak memakai masker yang menawan berwarna merah dan putih.

Sanggar Gumiart menampilkan garapan berjudul “Merajut Adab Nusantara” yang menampilkan 5 penari wanita dengan permainan kipas, dan wastra songket. Sebagai pengiring kendang, suling yang dipadu dengan musik modern. SMKN 3 Sukawati mengangkat garapan berjudul “Spirit Bung Karno dengan memadukan semua unsur seni, seperti tari, tembang, musik, seni vokal, teater, puisi, dan pedalangan.

Teater Selem Putih menampilkan teater dengan judul “Sarinah” dengan lokasi di Studio Teater Selem Putih Buleleng yang menyindir kaum politisi yang sengaja menirukan penampilan mirip Bung Karno, namun tidak mengamalkan ajarannya, seperti Trisakti. Pertunjukan ditutup dengan penampilan Grup Band Mr. Botax yang berjudul “Bung Karno Bapak Bangsa”. (*/gs)

Lanjutkan Membaca

SENI

Di Tengah Pandemi, Ny. Putri Koster: Pemprov Bali Beri Ruang bagi Seniman untuk Berkreasi

Published

on

By

se
NY. PUTRI SUASTINI KOSTER

Denpasar, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Bali telah memberi dampak ke berbagai sendi kehidupan, tidak hanya kesehatan, ekonomi dan sosial, tetapi juga pada seni. Kegiatan seni panggung yang biasanya melibatkan banyak orang dan penonton, tidak lagi bisa dilakukan mengingat virus akan menyebar cepat di keramaian. Social distancing dan physical distancing yang menyebabkan pertunjukan tidak bisa dilakukan.

‘’Namun bukan berarti kreativitas seni akan ikut mati di tengah pandemi ini. Kreativitas harus terus berjalan. Hanya aktivitasnya dilakukan dalam format yang berbeda. Kegiatan seni dialihkan dari panggung ke pementasan virtual. Tidak ada yang bisa menghalangi seniman untuk terus berkreativitas, malah di tengah pandemi ini seniman diharapkan untuk terus berkarya,’’ ujar Ny. Putri Koster ketika menjadi narasumber dalam acara Webinar ‘Kreativitas Seni di Era Pandemi’ yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Bali, Jumat (19/6-2020)

Seniman multitalenta ini kembali memaparkan gejolak, gelegat dan gairah berkesenian orang Bali sangat luar biasa dan kita terlahir untuk itu. Jangan sampai dihambat tetapi malah harus diwadahi, diberikan kesempatan dan beri ruang yang seluas-luasnya. Dalam hal ini pemerintah hadir untuk menggawangi dengan payung hukum, mendorong dan mensupport sehingga akan terlahir seniman yang mumpuni.

Istri orang nomor satu di Bali ini menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali memberi ruang dan suatu wadah yang besar bagi para seniman untuk berkreasi. Pemprov Bali memiliki dua wadah besar yang memberi keleluasaan bagi para seniman dari segala lini untuk berkreasi. Jika dilihat dari pelaksanaan  Pesta Kesenian Bali, kegiatannya mengerucut pada seni tradisional yang diwariskan para leluhur. Ruang gerak bagi seni modern seperti puisi, teater modern ruangnya sangat terbatas di PKB.

Baca Juga  Terima Bantuan dari PT. Urban Company, Wagub Cok Ace: Harapkan Makin Banyak yang Tergerak

Untuk itu, Pemprov Bali memberi ruang pada seni modern melalui Festival Seni Bali Jani. Di arena Festival Seni Bali Jani dilombakan seni modern seperti teater, puisi, lomba drama modern serta pameran buku bagi para pegiat sastra.

Sastrawan Bali harus terus didorong untuk terus berkarya sehingga akan menghasilkan karya sastra yang luar biasa, sehingga nantinya dapat diselenggarakan pameran buku tingkat internasional di Bali yang materinya dipenuhi oleh karya-karya sastrawan Bali. Dengan demikian, sastrawan Bali akan bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Tidak hanya sastrawan, ke depannya harus bisa menggawangi seniman dari semua ranah seni, baik itu seni modern maupun perupa dan yang lainnya.

Ke depannya, Ny. Putri Koster berharap agar kreativitas seni kita menjadi kreativitas seni di Bali Era Baru. Bali yang kembali pada jati dirinya, Bali yang kembali pada tatanan lamanya, Bali yang sujatinya Bali, Bali yang orang-orangnya adalah para seniman. Seniman Bali tidak hanya menghasilkan karya, tapi juga mengolah jati dirinya dan memiliki taksu.

Ny. Putri Koster berpesan untuk para generasi muda yang baru masuk ke dalam dunia sastra atau seni bidang apa pun untuk terus tekun dan tidak meninggalkan tradisi keaksaraan yang ada. Seniman yang akrab dipanggil Bunda Putri ini juga meminta generasi muda untuk rajin mendengar, karena ketika kita rajin mendengar maka memori kita akan penuh, sehingga kita mampu mengucap dengan baik dan benar. Karenanya, rajin-rajinlah membaca, karena dengan membaca memori kita akan terisi sehingga kita mampu menulis dengan baik dan benar, apa yang ada dalam hati dan pikiran. Dari sana kita beranjak menjadi seniman yang berkreasi tinggi.

Baca Juga  Update Covid-19 Minggu (7/6) Transmisi Lokal makin Meningkat Tajam, Dewa Indra: Masih Ada Warga tak Indahkan Upaya Pencegahan

Di akhir arahannya, Ny. Putri Koster mengajak para seniman lewat kemampuan berkesenian terus dapat berkreasi di bidang seninya masing-masing untuk tetap bisa menjaga imun dan iman, sehingga pada akhirnya bisa melewati wabah Covid-19 ini dengan aman dan sampai pada waktunya kita bisa berkarya seperti sedia kala. Ny. Putri Koster juga mengajak para peserta webinar untuk terus mematuhi imbauan serta anjuran pemerintah. Harus disiplin dan jangan bengkung dan mesti patuh pada protokol kesehatan yang ada karena virus ada di mana-mana.

Webinar juga menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu Putu Fajar Arcana serta Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, MLit, serta diikuti oleh Rektor Universitas Udayana Prof. AA Raka Sudewi serta Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dr. Made Sri Satyawati, SS, MHum.  Webinar yang berlangsung sekitar tiga jam itu mendapat antusias yang luar biasa dari sekitar 150 peserta yang terdiri atas para tokoh seniman dan sastrawan, baik dari Bali maupun luar Bali. Kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab serta pembacaan puisi oleh Ny. Putri Koster. (*/gs)

Lanjutkan Membaca