Ubud, Gianyar, baliilu.com – Seniman dan akademisi seni I Wayan Sujana Suklu berpartisipasi dalam pameran internasional seni kekriyaan “Prakriti Pustaka Padma” yang diselenggarakan di ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud, pada 8–18 Juli 2026. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun Museum ARMA, yang diperingati pada 9 Juni 2026. Pameran diresmikan oleh Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn.
Menghadirkan 50 seniman dari delapan negara, pameran ini menampilkan 79 karya seni kriya dwimatra dan trimatra yang merepresentasikan beragam pendekatan kontemporer terhadap tradisi kekriyaan. Melalui tema “Prakriti Pustaka Padma”, para seniman diajak mengeksplorasi hubungan antara alam, pengetahuan, spiritualitas, dan praktik artistik.

LUKISAN: Karya I Wayan Sujana Suklu, ”Purnama di Jeju, Ingatan di Bali”, 200X200 Cm. Acrylic, Sodas, Fox on Canvas. (Foto: bi)
Dalam pameran ini, I Wayan Sujana Suklu menghadirkan dua karya berjudul Femina Lunaris dan Purnama di Jeju, Ingatan di Bali. Kedua karya tersebut berangkat dari pengalaman artistik selama dua dekade setelah kunjungannya ke Pulau Jeju, Korea Selatan, pada tahun 2005. Bulan purnama menjadi metafora utama yang merekam perjalanan batin, memori lintas budaya, sekaligus simbol pencapaian spiritual yang terus bertumbuh.
Secara visual, kedua karya dibangun melalui metode menganyam garis, yaitu pengulangan ribuan sapuan garis dan lapisan warna yang disusun secara ritmis hingga membentuk bidang-bidang padat bertekstur. Pendekatan repetitif ini tidak hanya menghadirkan kualitas meditatif dalam proses penciptaan, tetapi juga memperlihatkan kedekatan yang kuat dengan nilai-nilai kekriyaan, di mana ketekunan, presisi, kesabaran, dan pengulangan menjadi bagian penting dari estetika maupun metode kerja. Setiap garis berfungsi layaknya sehelai serat dalam anyaman, membangun struktur visual yang utuh sekaligus menyimpan jejak waktu dan kerja tangan.
Bagi Sujana Suklu, proses melukis melalui repetisi garis merupakan praktik kontemplatif. Setiap sapuan menjadi rekaman pengalaman, sehingga permukaan kanvas berubah menjadi “pustaka” yang menyimpan ingatan tentang perjalanan antara Jeju dan Bali. Dalam konteks tema “Prakriti Pustaka Padma”, kedua karya tersebut memaknai alam sebagai sumber pengalaman (prakirti), lukisan sebagai arsip pengetahuan hidup (pustaka), dan purnama sebagai simbol tumbuhnya kesadaran batin (padma).
Keikutsertaan dua karya ini sekaligus menjadi penanda awal bagi proyek pameran tunggal bertajuk Full Moon in Jeju, Memories in Bali, yang tengah dipersiapkan di Sudakara Art Space. Pameran mendatang dirancang sebagai sebuah pengalaman artistik lintas disiplin yang tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga mempertemukan seni rupa, mode, musik, dan pertunjukan dalam satu kesatuan narasi.
Proyek tersebut akan melibatkan para pendiri Intermingle Art Project (IAP) sebagai bentuk kolaborasi yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Tjok Ratna Cora akan menghadirkan TARAKA Eco Art Fashion, sebuah karya yang memadukan fesyen, material berkelanjutan, dan ekspresi artistik. I Gusti Ngurah Sudibya akan menampilkan pertunjukan Agni Diri, yang mengeksplorasi simbolisme tali-tali merah berpendar jingga dan emas sebagai metafora energi kehidupan dan transformasi. Sementara itu, Ketut Sumerjana akan menyajikan komposisi musik Cosmic Octave, yang berangkat dari konsep planetary frequencies sebagai upaya menerjemahkan harmoni kosmis ke dalam pengalaman bunyi.

Karya “Femina Lunaris” dan pecinta seni. (Foto: bi)
Melalui rangkaian karya tersebut, Full Moon in Jeju, Memories in Bali dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas medium yang mempertemukan memori, kosmologi, dan praktik artistik kontemporer. Purnama menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh ekspresi kreatif, bukan hanya sebagai citra visual, melainkan sebagai simbol perjalanan, kesadaran, dan keterhubungan manusia dengan alam semesta.

Pengunjung pameran dan karya-karya seni kekriyaan. (Foto: bi)
Keikutsertaan Femina Lunaris dan Purnama di Jeju, Ingatan di Bali dalam “Prakriti Pustaka Padma” menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa praktik kekriyaan tidak hanya hadir melalui pilihan material, tetapi juga melalui disiplin proses, pengulangan yang tekun, dan kerja tangan yang melahirkan nilai-nilai kontemplatif. Dari ribuan garis yang dianyam di atas kanvas, lahirlah sebuah bahasa visual yang menjembatani Bali dan Jeju, masa lalu dan masa kini, serta tradisi dan praktik seni kontemporer. (*/bi)