Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Sejahterakan Nelayan, Wabup Suiasa Buka Diseminasi Inovasi Teknologi Fish-Go

BALIILU Tayang

:

de
Wabup Suiasa saat membuka sosialisasi Inovasi Fish-Go kepada kelompok nelayan di Badung di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kecamatan Kuta, Kamis (17/12).

Badung, baliilu.com – Setelah dilaunching oleh Bupati Badung beberapa hari lalu, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Badung kembali melakukan sosialisasi Inovasi Fish-Go kepada kelompok nelayan di Badung melalui kegiatan Diseminasi Inovasi Teknologi Penangkapan Ikan Berbasis Android (Fish-Go) Dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pariwisata.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa didampingi Kepala Balitbang Badung I Wayan Suambara, bertempat di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kecamatan Kuta, Kamis (17/12).

Wabup Suiasa sangat mengapresiasi kegiatan diseminasi inovasi Fish-Go kepada kelompok nelayan, yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khusus masyarakat nelayan. Inovasi Fish-Go telah pula mendapat penghargaan dari pemerintah pusat kategori inovasi daerah yang dinilai KemenPAN-RB dan Fish-Go masuk top 45 inovasi daerah. Menurut Suiasa, inovasi ini dibuat didasari atas dua hal, pertama potensi laut di Badung begitu besar dan kedua nelayan harus tetap ada. 

Wabup Ketut Suiasa

Namun diakui kelemahan dari nelayan tradisional begitu banyak sehingga generasi muda enggan untuk menjadi nelayan. Kelemahan dari para nelayan yaitu nelayan menghabiskan waktu 8 hingga 14 jam di laut, mengakibatkan interaksi sosialnya cukup rendah, waktu berkumpul dengan keluarga juga sedikit. Kemudian efektivitas melakukan penangkapan juga sangat rendah, yang mengakibatkan hasil tangkapan rendah, sehingga tidak seimbang antara waktu, tenaga maupun biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Dari segi keamanan sebagai nelayan juga cukup tinggi, yang juga menjadi faktor kelemahan nelayan. 

Untuk itu, inovasi Fish-Go ini diharapkan dapat memberikan jawaban dari kendala yang dihadapi nelayan. “Kita buat inovasi ini agar nelayan semakin sedikit waktunya di laut, hasil tangkapannya lebih banyak dan selamat di laut dengan mengetahui cuaca, kondisi ombak termasuk perubahan arus. Setidaknya inovasi ini sudah memberikan jawaban terhadap kendala mendasar dari nelayan kita,” terangnya.

Baca Juga  PPKM di Bali, Satgas Provinsi Bali Gencarkan Penertiban Prokes

Oleh karena itu konten-konten yang ada di Fish-Go disosialisasikan, diberikan pembekalan kepada nelayan sehingga nelayan memahami tentang kontennya dan bisa mengaplikasikan serta dapat digunakan saat menangkap ikan. “Pada prinsipnya dengan Fish-Go, potensi laut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat dan nelayan tetap eksis ke depannya. Terpenting dapat menarik minat generasi muda dan mampu melahirkan regenerasi nelayan di Badung,” tambahnya. 

Sementara itu Kepala Balitbang Badung I Wayan Suambara menyampaikan, dalam pengembangan aplikasi Fish-Go, Pemkab Badung telah merekrut generasi muda kreatif dan inovatif. Aplikasi ini terus dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan perguruan tinggi di bawah kendali Balitbang Badung. Aplikasi Fish-Go secara resmi telah diluncurkan Bupati Badung pada 15 Desember lalu di Puspem Badung. Bupati juga telah memberi nama alat Fish-Go bagi kelompok nelayan yang diberi nama Nelayan Badung Mandiri 20. Ditambahkan kegiatan diseminasi ini menjadi rangkaian dari peluncuran tersebut, dengan tujuan untuk memperkenalkan secara lebih mendalam fitur-fitur baru dari Fish-Go. Kegiatan diseminasi akan berlangsung selama 3 (tiga) hari yang diikuti para nelayan di Kabupaten Badung.

Dijelaskan, fitur-fitur yang dikembangkan berdasarkan masukan dari para nelayan yang selama ini telah berinteraksi dengan tim inovator Fish-Go, yang dipadukan pula dengan hasil pengkajian tim inovator. Fitur-fitur yang dikembangkan dalam aplikasi Fish-Go di antaranya fitur cuaca, fitur pasang surut gelombang, fitur SOS, fitur hasil penangkapan ikan, menu jenis ikan yang diprediksi, menu pemantauan user, fitur pemasaran ikan dan fitur IOT Fishfinder.

“Kami harapkan aplikasi ini tidak hanya untuk saat ini, namun juga untuk generasi masa depan. Sehingga kita bersama-sama bertekad bahwa nelayan tradisional Badung go digital, menuju Badung hebat,” katanya. (bt)

Baca Juga  Kasus Covid-19 Melonjak, Kelurahan Ubung Gencarkan Sosialisasi Prokes dan Pendataan Penduduk

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Survei Penjualan Eceran Bali Juni 2026: Optimisme Penjualan Eceran Tetap Kuat Didorong Momentum Hari Raya

Published

on

By

Infografis Indeks Penjualan Riil Provinsi Bali dari Bank Indonesia Bali
Infografis indek penjualan riil Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pada Mei 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 125,7 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,3% (mtm), terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada kategori barang lainnya 4,1% (mtm), sandang 3,7% (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,9% (mtm). Peningkatan tersebut sejalan dengan menguatnya aktivitas mobilitas masyarakat pada periode Mei 2026 didorong oleh peningkatan aktivitas pariwisata, momentum libur panjang HBKN, serta meningkatnya konsumsi rumah tangga yang menopang permintaan di berbagai sektor ritel. Kinerja penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juni 2026 diprakirakan sebesar 126,3, atau meningkat 0,4% (mtm), ditopang oleh prakiraan peningkatan penjualan pada kategori barang budaya dan rekreasi, kategori makanan, minuman, dan tembakau serta kategori barang lainnya.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani melalui keterangan tertulisnya bahwa perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat di tengah periode Hari Raya Galungan dan Kuningan pada Juni 2026. Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Agustus 2026 dan November 2026 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 dan November 2026 masing-masing sebesar 188 dan 200.

Sejalan dengan hal tersebut, lanjut Achris Sarwani, inflasi Bali pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,27% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Optimisme penjualan ritel ke depan juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP tiga bulan mendatang yaitu Agustus 2026 sebesar 190,0, meningkat dari IEP Juli 2026 sebesar 172,0. Sementara itu, IEP enam bulan mendatang, yaitu November 2026 tercatat sebesar 190,0, masih sama dibandingkan IEP Oktober 2026 sebesar 190,0. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100) yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek penjualan ritel Bali tetap terjaga.

Baca Juga  Warga Merespons Positif Sosialisasi Program TP PKK Bali Melalui Radio

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani menegaskan bahwa keyakinan pelaku usaha tersebut juga didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Mei 2026 tercatatat tumbuh sebesar 1,95% (yoy). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapai inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Provinsi Bali Juni 2026 Terkendali di Tengah HBKN

Published

on

By

inflasi bali
Infografis inflasi Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Juli 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,71% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Mei sebesar 0,42% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh permintaan barang/jasa akibat perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) non subsidi.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,99% (yoy) pada Mei 2026 menjadi 3,27% (yoy), masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% serta berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,92% (mtm) atau 3,43% (yoy).

Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,75% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,46% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,80% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Buleleng yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,46% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,26% (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Juni 2026 bersumber dari kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, wortel, dan buncis. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, angkutan udara, dan telur ayam ras. “Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%,” ujarnya.

Baca Juga  Pesan Pangdam Udayana kepada Letkol Cba Kelly Jufri sebagai Kabekangdam yang Baru

Ke depan, kata Achris Sarwani, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino moderat yang memengaruhi produksi pertanian, serta potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkahlangkah implementasinya diantaranya melalui intensifikasi operasi pasar murah, pemantauan harga secara berkala, monitoring serta sidak distribusi LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Keyakinan Konsumen Bali Tetap Terjaga pada Mei 2026

Published

on

By

ikk bali
Infografis indeks konsumen. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada di level optimis sebesar 121,9 (nilai indeks > 100). Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya (124,09), IKK Bali masih lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 120,9. Optimisme konsumen pada Mei 2026 didorong oleh peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp 6-7 juta sebesar 21% (mtm), Rp 5-6 juta sebesar 11% (mtm), Rp 2-3 juta sebesar 9% (mtm), dan Rp 3-4 juta sebesar 8% (mtm). Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor informal (124,7) dan sektor formal (119,3), sebagaimana hasil Survei Konsumen Bank Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa perlambatan IKK dibandingkan bulan sebelumnya terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 120,7 pada April 2026 menjadi 117,5 pada Mei 2026 atau menurun sebesar 2,7% (mtm).

Penurunan IKE bersumber dari seluruh komponen utama, yaitu konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (105,0), ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (125,0), serta penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (122,5).

Sementara, kata Achris Sarwani, komponen kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu relatif stabil pada level 100,0. Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan menjadi 126,3 atau turun 0,9% (mtm) dibandingkan IEK April 2026. Penurunan terutama terjadi pada komponen prakiraan penghasilan (125,5) dan kegiatan usaha (127,5).

Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang masih menunjukkan peningkatan sebesar 0,8% (mtm) atau menjadi 126,0. “Penurunan IKK pada periode awal hingga pertengahan Mei 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan domestik, antara lain meningkatnya kekhawatiran kenaikan harga pangan global dan perlambatan kunjungan wisatawan, akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah,“ ujar Achris Sarwani.

Baca Juga  Warga Merespons Positif Sosialisasi Program TP PKK Bali Melalui Radio

Selain itu, inflasi Provinsi Bali pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,42% (mtm) dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas seperti beras, cabai rawit, cabai merah yang memengaruhi persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Sebagai respons, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar, pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca