Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sekeha Gong Eka Dharma Swara Ikuti Pembinaan Konsultan Seni Denpasar

Angkat Cerita ‘’Hyangbatu’’ pada Rekasedana Topeng Prembon PKB XLIV

Loading

BALIILU Tayang

:

yangbatu
Pembinaan Sekeha Gong Eka Dharma Swara, Banjar Yangbatu Kauh yang merupakan Duta Kota Denpasar pada Rekasedana (Pergelaran) Topeng Prembon pada Senin (16/5) di Jaba Pura Dalem Desa Adat Yangbatu. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kebudayaan Kota Denpasar kembali melakukan pembinaan Duta Kesenian Kota Denpasar di ajang PKB XLIV pada Senin (17/5) di Jaba Pura Dalem Desa Adat Yangbatu. Adapun Sekeha Gong Eka Dharma Swara, Banjar Yangbatu Kauh yang merupakan Duta Kota Denpasar pada Rekasedana (Pergelaran) Topeng Prembon.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kadisbud Kota Denpasar, Raka Purwantara, Ketua Komisi III DPRD Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana, Camat Denpasar Timur, I Made Tirana, Tokoh Masyarakat, Prajuru Adat/Dinas, serta undangan lainnya. 

Kadisbud Kota Denpasar, Raka Purwantara mengatakan, secara umum persiapan Sekeha Kesenian Duta Kota Denpasar yang akan tampil di ajang PKB XLIV Tahun 2022 khususnya pada Sekeha Topeng Prembon yang dilaksanakan pembinaan telah siap untuk tampil. Namun, dalam upaya penyempurnaan penampilan seni perlu diperhatikan poin-poin penting atau uger-uger dalam sebuah pementasan seni tabuh yang terbentuk dalam sebuah pakem tertentu.

“Secara umum Duta Kota Denpasar, khususnya Sekeha Topeng Prembon telah siap untuk tampil, namun perlu dilaksanakan penyempurnaan dan penjiwaan saat penampilan,” jelasnya.

Koordinator Sekeha, I Wayan Agus Yuliawan menjelaskan, pada intinya Sekeha Gong Eka Dharma Swara, Banjar Yangbatu Kauh siap tampil di PKB XLIV tahun 2022. Hal ini lantaran persiapan dan penajaman materi terus dimaksimalkan.

“Untuk materi saya kira sudah siap, dan sekarang tinggal proses penajaman dan penyempurnaan sehingga saat tampil dapat lebih maksimal,” jelasnya.

Agus mengatakan, dalam sajian pementasan Topeng Prembon tahun ini pihaknya mengangkat judul ‘’Hyangbatu’’ yang mengandung cerita sejarah Desa Adat Yangbatu. Dimana dikisahkan Raja Gelgel, Ida Dalem Waturenggong melaksanakan perjalanan ke Bandana Negara. Hal ini bertujuan untuk menelusuri keberadaan Pasraman Ida Brahmana Keling.

Baca Juga  Gubernur Wayan Koster Dibanjiri Apresiasi oleh Mendagri di PKB XLIV

“Perjalanan tersebut dilaksanakan untuk mengingat jasa-jasa Ida Brahmana Keling yang sudah mensukseskan atau menyempurnakan pelaksanaan Yadnya Nangluk Merana di Pura Agung Besakih,” jelasnya.

Singkat cerita, kata Agus, kehadiran Ida Dalem Waturenggong di Bandana Negara disambut oleh para patih dan masyarakat. Dalam perjalanannya, atas permohonan Bandesa Hyangbatu, sebelum melanjutkan perjalanan ke pasraman, agar sebaiknya Ida Dalem Waturenggong memohon keselamatan, khususnya di Pura Dalem Hyangbatu. Yang sudah dibangun sejak pemerintahan Raja Dalem Watu Ireng.

“Disanalah Ida Dalem Waturenggong me-Hyang-Hyang memohon keselamatan. Dimana, tiba-tiba muncul kepulan asap dari sebuah batu yang dibarengi dengan keluarnya air suci. Hingga kini, wilayah tersebut dikenal dengan Desa Adat Yangbatu,” tuturnya. (way/eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Lewat “Titi Gonggang”, GKA Duta Gianyar Curi Perhatian Insan Seni

Published

on

By

gong kebyar gianyar
GKA DUTA GIANYAR: Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar saat tampil di ajang Parade Gong Kebyar Anak-anak pada PKB 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Jumat (26/6) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah semarak suasana dan riuhnya tabuh pepanggulan, penampilan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar berhasil mencuri perhatian para pecinta seni yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Jumat (26/6) malam. Mengenakan balutan busana bernuansa  hitam dengan sentuhan khas Blahbatuh, para penabuh tampil penuh percaya diri, ditingkahi tarian puluhan seniman cilik Gianyar.  Setiap hentakan panggul berpadu harmonis dengan gerak tubuh yang luwes, seolah menari di atas bilah-bilah gamelan. Kekompakan, energi, dan penguasaan panggung mereka menghadirkan daya tarik tersendiri yang mengundang decak kagum penonton.

Tabuh pepanggulan “Titi Gonggang” menjadi pembuka yang sarat makna filosofis. Karya ini mengangkat konsep kepercayaan Hindu di Bali tentang lintasan perjalanan Atman setelah kematian. “Titi” berarti jembatan, sedangkan “Gonggang” melambangkan keseimbangan sekaligus ujian kehidupan.

Di alam duniawi, Titi Gonggang menjadi cerminan sifat dan perilaku manusia dalam memisahkan kepentingan ego dengan kesadaran murni sehingga keseimbangan hidup tetap terjaga. Filosofi tersebut kemudian dikontekstualisasikan dengan kehidupan anak-anak di era modern. Di tengah berbagai tantangan perkembangan zaman, mereka diharapkan mampu melewati “titi gonggang” kehidupan dengan memilih hal-hal yang baik dan benar untuk dijalani serta menjauhkan diri dari kebiasaan yang dapat menghambat masa depan.

Usai memukau melalui tabuh pembuka, GKA Gianyar menghadirkan Tari Puspa Bala Agung, sebuah tari penyambutan yang dibawakan penari putra dan putri dengan gerak dinamis, penuh semangat, dan ekspresi yang hidup. Tarian ini bukan sekadar bentuk penghormatan kepada tamu agung, melainkan juga simbol penyambutan Atman suci yang kembali hadir di tengah keluarga melalui prosesi Atma Wedana.

Dalam konteks penyucian Atman, Puspa Bala Agung dimaknai sebagai persembahan bunga jiwa. Gerak agem, ngeseh, hingga ngegol melambangkan keharmonisan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Setiap hentakan kaki ke bumi dan sembah ke angkasa menjadi doa agar Atman memperoleh jalan menuju tempat yang terang, sementara keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan. Properti bunga dan tedung semakin memperkuat simbol keharuman doa suci yang mengantarkan roh menuju pelepasan sempurna.

Baca Juga  Gubernur Wayan Koster Dibanjiri Apresiasi oleh Mendagri di PKB XLIV

Puncak pertunjukan malam itu ditutup dengan dolanan “Masemal Semalan”, sebuah mahakarya yang menghidupkan kembali permainan tradisional anak-anak dalam balutan pementasan yang jenaka, lincah, dan menghibur. Gelak tawa penonton pecah berkali-kali mengikuti tingkah polos para pemain. Namun di balik nuansa ringan tersebut tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini.

Karya dolanan ini lahir dari kisah nyata di Banjar Kebon, Desa Bona. Berawal dari kegelisahan para tetua melihat anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam di balai banjar, mereka kemudian mengajak generasi muda kembali mengenal akar budayanya. Dari sanalah terbentuk Sekehe Semal yang menjadi cikal bakal Sekaa Gong Anak-anak Banjar Kebon. Anak-anak tidak hanya belajar megambel, tetapi juga menganyam daun lontar, menarikan Kecak dan Sanghyang, hingga memainkan wayang.

Koordinator Gong Kebyar Anak-anak Banjar Kebon, Desa Bona, I Gusti Nyoman Oka Arsila, mengatakan pembentukan sekaa gong anak-anak pada awalnya bertujuan sebagai wadah regenerasi seni di lingkungan banjar. Namun melihat perkembangan kemampuan, potensi, dan semangat anak-anak yang begitu besar, pembinaan kemudian dilakukan secara lebih serius hingga dipercaya menjadi Duta Kabupaten Gianyar pada Pesta Kesenian Bali 2026.

“Awalnya kami membentuk sekaa gong ini untuk regenerasi. Tetapi melihat perkembangan, potensi, dan semangat anak-anak yang luar biasa, kami semakin serius melakukan pembinaan. Untuk persiapan tampil di PKB, kami berlatih selama kurang lebih enam bulan,” ujarnya.

Oka Arsila juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan penuh selama proses pembinaan hingga pementasan berlangsung.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, Kelihan Banjar, Perbekel Desa Bona, para pembina tabuh dan tari, serta semua pihak yang telah terlibat. Berkat dukungan dan kebersamaan semua pihak, anak-anak dapat tampil maksimal di panggung PKB,” katanya.

Baca Juga  Jadi Duta Denpasar, Sekaa Baleganjur Telung Barung Desa Adat Penatih Siap Berlaga di PKB XLIV

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia, mengaku bangga sekaligus terpukau menyaksikan penampilan para seniman cilik Gianyar. Menurutnya, kemampuan teknis yang dimiliki anak-anak berpadu dengan mental yang kuat sehingga mampu tampil percaya diri di hadapan ribuan penonton.

“Penampilan mereka sungguh luar biasa. Anak-anak ini memiliki kemauan belajar yang tinggi, kemampuan yang sangat baik, serta mental yang kuat untuk tampil di panggung sebesar PKB. Ini menjadi bukti bahwa regenerasi seni budaya di Gianyar berjalan dengan baik dan harus terus mendapat dukungan dari semua pihak,” ungkapnya.

Melalui keseluruhan garapan yang berpijak pada nilai-nilai tradisi namun dikemas secara segar dan komunikatif, Gong Kebyar Anak-anak Duta Kabupaten Gianyar tidak hanya menyuguhkan tontonan yang memukau, tetapi juga menghadirkan tuntunan tentang pentingnya menjaga warisan budaya, membentuk karakter generasi muda, dan memastikan denyut kesenian Bali terus hidup dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bupati Adi Arnawa Apresiasi Penampilan Gong Kebyar Anak-anak Duta Badung

Published

on

By

gong kebyar badung
HADIRI GONG KEBYAR ANAK-ANAK: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti berfoto bersama usai menyaksikan langsung pementasan Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala, Br. Basangkasa, Kelurahan Seminyak, Kuta sebagai Duta Badung dalam ajang Parade Gong Kebyar Anak-anak pada PKB XLVIII tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art cemter Denpasar, Jumat (26/6/2026). (Foto: Hms Badung)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung kembali tampil memukau di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026. Kali ini, Badung unjuk gigi melalui Gong Kebyar Anak-anak (GKA) yang diwakili oleh Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala, Br. Basangkasa, Kelurahan Seminyak, Kuta di Panggung Terbuka Ardha Candra. Pada saat bersamaan, Topeng Bebadungan dari Sanggar Seni Wayang Waduk, Br. Uma Kepuh, Desa Buduk, Mengwi juga tampil memikat di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (26/6/2026).

Penampilan energik dan menghibur dari kedua duta Badung tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa yang hadir bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menyaksikan langsung pementasan. Turut mendampingi Sekda Badung IB Surya Suamba, Ketua TP PKK Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Ketua Gatriwara Nyonya Trisna Dewi Anom Gumanti, Ketua DWP Nyonya Oliviana Surya Suamba, Kadis Kebudayaan I Gede Sukadana, serta jajaran pejabat terkait di lingkungan Pemkab Badung.

Bupati Adi Arnawa mengaku sangat bangga atas semangat para penabuh dan penari muda Badung. Menurutnya, mereka tampil maksimal dan menyuguhkan setiap materi garapan dengan sangat luar biasa. “Anak-anak tampil lepas dan sangat menghibur. Bahkan banyak mengeksplor hal-hal yang edukatif pada suguhan dolanan. Semoga memberikan warna baru khususnya bagi anak-anak kita kedepan, tidak hanya bermain gadget saja, namun berkegiatan seni budaya dan tidak keluar dari akar budaya kita,” jelasnya usai pementasan.

Ia menambahkan, penampilan ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Badung memiliki potensi besar dalam melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya Bali. “Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh anak-anak, pelatih, pembina, dan orang tua yang telah bekerja keras mempersiapkan penampilan ini. Mereka telah menunjukkan dedikasi luar biasa sehingga mampu membawa nama baik Kabupaten Badung di ajang Pesta Kesenian Bali,” tambahnya.

Baca Juga  Gubernur Wayan Koster Dibanjiri Apresiasi oleh Mendagri di PKB XLIV

Bupati berharap momentum PKB ini benar-benar dijadikan wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan kreativitas seni mereka. Kesempatan tampil di panggung besar diharapkan mampu memotivasi generasi muda lainnya untuk mempersiapkan diri ambil bagian pada PKB tahun depan.

Pemerintah Kabupaten Badung pun menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pembinaan seni dan budaya, khususnya bagi generasi muda. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian seni tradisi Bali agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan dengan baik kepada generasi penerus.

Dalam pementasan yang dikemas dalam bentuk mebarung (parade bersanding) dengan GKA Duta Kabupaten Gianyar tersebut, Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala sukses membawakan tiga materi garapan. Ketiganya meliputi Tabuh Kreasi Pepanggulan “Bayung Bidak”, Tari Kreasi Penyambutan “Adnyaswari”, dan Tari Dolanan “Jong Jang Sir”. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Topeng Suluh Badung, Hidupkan Warisan Maestro Carangsari di Panggung PKB 2026

Published

on

By

topeng suluh
TOPENG SULUH: Sanggar Seni Waduk, Banjar Umakepuh, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi sebagai Duta Badung saat tampil dalam Rekasadana (Pergelaran) Kesenian Khas Kabupaten pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 melalui pementasan Topeng Suluh, di Kalangan Ratna Kanda, Jumat (26/6/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung menghadirkan kekuatan tradisi dalam Rekasadana (Pergelaran) Kesenian Khas Kabupaten pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 melalui pementasan Topeng Suluh yang dibawakan Sanggar Seni Waduk, Banjar Umakepuh, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, di Kalangan Ratna Kanda, Jumat (26/6/2026).

Pementasan ini juga sebuah penghormatan kepada maestro topeng Bali asal Carangsari, I Gusti Ngurah Windia, yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk menjaga eksistensi seni topeng Bali. Melalui garapan Topeng Melampahan yang memadukan tari, tabuh gamelan, dialog, dan karakter topeng, penonton diajak menyelami perjalanan pengabdian seorang seniman yang mewariskan nilai budaya lintas generasi.

Konsep garapan yang disusun oleh I Gusti Ngurah Artawan, S.Sn. dan I Ketut Gede Narmada, S.Sn., M.Sn. menghadirkan tokoh ikonik Ni Luh Manik atau Tugek Carangsari sebagai simbol perempuan bijaksana yang menyampaikan ajaran tattwa dan satua melalui humor khas Bondres. Kehadiran Topeng Keras, Topeng Tua, dan Bondres memperkaya dramatika sekaligus menyampaikan pesan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Koordinator pementasan, Ida Pandita Empu Putra Maha Agung Parama Nirvana Biru Daksa, mengatakan karya ini lahir sebagai bentuk penghormatan terhadap para maestro seni yang telah menjadi fondasi lahirnya identitas kesenian Badung.

“Topeng Suluh menceritakan asal-usul lahirnya Topeng Carangsari di Badung. Kami ingin generasi muda berkiblat kepada para senior dan maestro yang telah mewariskan kekayaan seni. Berkarya boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan pernah melupakan sejarah dan akar budaya yang menjadi identitas setiap daerah,” ujarnya.

Ia menjelaskan proses penggarapan dilakukan sekitar empat bulan untuk menyusun struktur dramatik, koreografi, hingga penyelarasan setiap adegan dengan karakter topeng. Menurutnya, Badung memiliki kekayaan seni yang sangat beragam, mulai dari topeng, wayang, hingga gambuh, yang harus terus dijaga dan menjadi inspirasi lahirnya karya-karya baru.

Baca Juga  Jadi Duta Denpasar, Sekaa Baleganjur Telung Barung Desa Adat Penatih Siap Berlaga di PKB XLIV

Sejalan dengan tema PKB 2026, Atma Kerthi, Topeng Suluh menjadi refleksi pemuliaan jiwa melalui pengabdian, ketulusan, dan kecintaan terhadap seni budaya. Pementasan ini sekaligus mengajak generasi muda untuk melanjutkan estafet pelestarian seni tradisi dengan penuh tanggung jawab dan kebanggaan sebagai pewaris budaya Bali.

Selain Topeng Suluh, Duta Kabupaten Badung juga mempersembahkan Tabuh Kreasi Pepanggulan “Arutala” garapan I Made Pande Yoga Pranata, S.Sn. Karya ini menggambarkan sosok yang menjadi cahaya bagi sekitarnya, penuh empati, namun tetap tegar menghadapi pergulatan hidup.

“Arutala” dipersembahkan sebagai ungkapan terima kasih kepada para guru yang dengan tulus membentuk karakter dan jati diri generasi muda. Melalui komposisi tabuh kreasi pepanggulan, karya ini menyampaikan pesan bahwa makna kehidupan bukan hanya menjadi terang bagi diri sendiri, tetapi juga mampu menerangi orang lain. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca