Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Songsong Era Bali Bangkit, BPRKanti Perkuat SDM dan Sinergitas Antar-Lembaga Keuangan

BALIILU Tayang

:

de
SEMINAR: BPRKanti menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema ‘’Penguatan Lembaga Keuangan Menuju Bali Bangkit di Era Digitalisasi Sektor Keuangan’’ dilanjutkan sesi foto bersama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Direktur Utama BPRKanti Made Raya Amitaba, Perwakilan Bank Indonesia Prov Bali, OJK, Rabu, 17 November 2021 di Grand Inna Bali Beach, Sanur Denpasar-Bali. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – BPR Pancakanti Sukawati (BPRKanti) dengan dukungan Pemerintah Daerah Provinsi Bali, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta Strategic Stakeholders lainnya menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema ‘’Penguatan Lembaga Keuangan Menuju Bali Bangkit di Era Digitalisasi Sektor Keuangan’’, pada Rabu, 17 November 2021 di Grand Inna Bali Beach, Sanur Denpasar-Bali.

Seminar internasional yang dibuka Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace), dihadiri Perwakilan Bank Indonesia, OJK Regional 8 Bali Nusra, Analis Eksekutif Senior DKB IV OJK Jakarta, Financial Attache ASEAN ROK Financial Coore Ration Centre The Mission Of ROK to ASEAN, Operation Officer Financial Institutions Group Advisory Service Asia Pasific, Direktur Utama BPRKanti, Direktur Utama BRI Research Institute, para pembicara serta peserta dari lembaga keuangan lainnya.

Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba di sela-sela seminar mengungkapkan, Bali sebagai destinasi pariwisata yang paling terpuruk karena pandemi Covid-19. PDRB posisi Triwulan III/2021 mengalami kontraksi dengan minus sebesar 2,91% year on year. Namun turunnya Bali ke Level 1 seiring pulihnya situasi krisis pandemi Covid-19, Bali segera menuju era Bali bangkit.

‘‘Ada keinginan Pemerintah Korea untuk membantu apa yang bisa dibantu untuk menuju era Bali Bangkit dan Bali menjadi pilot project. Untuk menuju era Bali bangkit ini, tentu kami memperkuat sumber daya manusianya. Dan kami mengawali bekerjasama dengan BRI Research Institute dan Lembaga Sertifikasi Profesi Microfinance Indonesia, bagaimana SDM BPRKanti tersertifikasi kompetensinya,’’ terang Amitaba.

Penandatanganan kerjasama BPRKanti dengan lembaga keuangan dan stakeholder. (Foto: gs)

Langkah selanjutnya dari seminar internasional ini berupa penandatanganan kerjasama dengan BRI Research Institut,  Lembaga Sertifikasi Profesi  Microfinance Indonesia (LSP MFI) sebuah lembaga sertifikasi yang melaksanakan sertifikasi kompetensi untuk pengawas/pengurus dan pengelola lembaga keuangan mikro (BPR/KSP/LPD) juga dengan Yayasan Lembaga Keuangan Indonesia (YLKI),  Lembaga Keuangan Indonesia Law Firm,  dan penandatanganan realisasi kerjasama linkage program  Bank Mayapada sebesar Rp. 50 miliar. Selain itu BPRKanti juga akan merintis kerjasama dengan beberapa lembaga internasional (international NGO).

Baca Juga  Presiden Jokowi Resmi Mulai Pembangunan Gedung Kantor BI di IKN

Lebih lanjut Amitaba mengatakan, selain kerjasama ini, penguatan SDM juga dalam konteks mempersiapkan BPRKanti melaksanakan fungsi apec bank. Bagaimana BPRKanti mensupport lembaga keuangan baik BPR, koperasi dan LPD dari sisi modal usaha. Seperti realisasi kerjasama dengan Bank Mayapada sebesar Rp 50 miliar yang akan disalurkan ke BPR, koperasi dan LPD.

Ketika melaksanakan fungsi apec bank, BPRKanti juga ikut memperkuat capacity bulding SDM dari mitra BPRKanti baik BPR, koperasi dan LPD. ‘’Nah kami bekerjasama dengan BRI Research Institute dan LSP Microfinance Indonesia melalui Yayasan Pengembangan Lembaga Keuangan Indonesia akan mensupport capacity bulding SDM-nya seperti melalui seminar internasional ini,’’ ujar Amitaba, seraya menegaskan juga akan memback up, baik lembaga maupun SDM-nya jika menghadapi persoalan hukum, melalui Lembaga Keuangan Indonesia Low Firm.

Direktur Utama BPRKanti Made Arya Amitaba bersama stakeholder saat menyapa awak media (Foto: gs)

Dalam seminar internasional ini, BPRKanti memperkenalkan transformasi digitalisasi keuangan karena ini sangat penting dan mutlak. ‘’Dengan transformasi digitalisasi keuangan ini bagaimana kerjasama tersebut akan memudahkan mitra BPRKanti untuk mengakses digitalisasi keuangan,’’ ujarnya.

Amitaba mengatakan, BPRKanti yang bermakna “Sahabat Sejati” lebih dari sekedar arti persahabatan. Namun ingin mengimplementasikan dalam arti luas. Dimana BPRKanti akan menjalin aliansi strategis dengan stakeholder yang memiliki visi dan misi sama guna meningkatkan sinergitas yang saling menguntungkan. Melalui seminar internasional ini diharapkan akan muncul gagasan-gagasan bersama untuk saling menguatkan dalam kerjasama kelembagaan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada BPRKanti yang telah menyelenggarakan seminar international, dan berharap acara ini dapat menjadi momen refleksi dan komunikasi antara lembaga keuangan dengan stakeholders, dimana lembaga keuangan dapat menyampaikan tentang Penguatan Lembaga Keuangan menuju Bali Bangkit di era Transformasi Digitalisasi Keuangan.

Baca Juga  Temu Wirasa MDA-BPR Kanti Ngorta Desa Adat
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati saat membuka seminar internasional di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Rabu (17/11)

Wagub Cok Ace juga berharap BPRKanti sebagai salah satu lembaga keuangan yang terus berperan membangun sinergi bersama pemerintah daerah dalam menyongsong era baru Bali kemBALI, dimana ekonomi bangkit telah tampak dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah pusat.

Dr. Roberto Akyuwen, Analis Eksekutif Senior DKB IV OJK Jakarta yang turut hadir mengapresiasi positif kegiatan yang diinisiatif BPRKanti ini. Menurutnya, digitalisasi merupakan instrumen strategis untuk BPR. “Kami berterimakasih kepada BPRKanti telah melaksanakan kegiatan ini dan mengedukasi BPR, koperasi dan lembaga keuangan lainnya mengenai kebijakan-kebijakan OJK yang nanti akan diikuti dengan peraturan OJK terkait,” pungkasnya. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  ArisanKu BPR Kanti Gelar Seminar, Kumpulkan Pelaku BPR Se-Indonesia

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Baca Juga  Temu Wirasa Stakeholder Gathering Bank BPR Kanti 2024

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  ArisanKu BPR Kanti Gelar Seminar, Kumpulkan Pelaku BPR Se-Indonesia

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada Triwulan I 2026

Published

on

By

harga properti bali
Infografis Harga Properti Residensial Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy). Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 ), dan besar (luas bangunan > 70 m2 ) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah.

“Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah. Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non-bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%.

Baca Juga  Temu Wirasa MDA-BPR Kanti Ngorta Desa Adat

Dari sisi konsumen, sebut Achris Sarwani, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca