Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Wawali Arya Wibawa Beri Kuliah Umum dalam “Utsawa Brahma Widya”

Ajak Generasi Muda Jaga Harmoni, Wujudkan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju

Loading

BALIILU Tayang

:

Wawali Arya Wibawa
PEMBICARA: Wawali Arya Wibawa dalam kesempatan menjadi pembicara dalam kegiatan Utsawa Brahma Widya yang diselenggarakan oleh Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, bertempat di Graha Sewaka Dharma Lumintang, Sabtu (11/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, menjadi pembicara dalam kegiatan Utsawa Brahma Widya yang diselenggarakan oleh Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, bertempat di Graha Sewaka Dharma Lumintang, Sabtu (11/10).

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kadis Pariwisata Kota Denpasar Ni Luh Putu Ryastiti, Plt. Kepala Diskominfos Kota Denpasar I Nyoman Denny Widya, perwakilan Disdikpora Denpasar, serta jajaran OPD terkait. Hadir pula Dekan Fakultas Brahma Widya Prof. Dr. I Wayan Wastawa, MA didampingi Ketua Utsawa Brahma Widya 2025 Dr. Ida Bagus Subrahmaniam Saitya, SH., S.Ag., M.Fil.H.

Dalam kuliah umumnya, Wawali Arya Wibawa menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Denpasar terus berkomitmen mewujudkan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju. Melalui berbagai program prioritas, Pemkot Denpasar berupaya menjawab tantangan kota modern dengan tetap menjaga harmoni antara kemajuan, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

“Seluruh arah pembangunan di Kota Denpasar berpijak pada nilai-nilai budaya dan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Pembangunan Denpasar tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga menjaga jati diri dan kearifan lokal,” ujar Wawali Arya Wibawa.

Lebih lanjut, Wawali Arya Wibawa menjelaskan berbagai langkah strategis Pemkot Denpasar dalam menghadapi tantangan perkotaan seperti kemacetan dan pengelolaan sampah. Saat ini, tingkat pengelolaan sampah di Kota Denpasar telah mencapai 96,25 persen, termasuk pengangkutan sampah dari sungai yang rata-rata mencapai 25 ton per hari. Pemerintah juga tengah membangun 5.500 Teba Modern sebagai upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pengelolaan.

“Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan bersama masyarakat. ASN dan perangkat daerah kami dorong menjadi contoh melalui penerapan Teba Modern di lingkungan kerja,” tegasnya.

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Lepas Fun Walk HUT Ke-40 Pasemetonan Ageng Warih Anglurah Lanang Tainsiat

Selain di bidang lingkungan, Denpasar juga terus menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif dan digital melalui ruang-ruang publik seperti Dharma Negara Alaya (DNA) dan Graha Yowana Suci, yang menjadi pusat kolaborasi generasi muda di bidang seni, teknologi, dan kewirausahaan. Beragam festival seperti Denpasar Festival (Denfest), D’Youth Fest, dan Denpasar Teknologi Informasi dan Komunikasi Festival (DTIK Fest) juga digelar untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkuat transformasi digital di kalangan anak muda.

Di bidang sosial, Pemkot Denpasar melalui Graha Nawasena menghadirkan program pemberdayaan penyandang disabilitas dengan kegiatan seperti Kelas Kreativitas Disabilitas dan siaran edukatif Radio Raditya, yang kini melibatkan enam penyiar disabilitas aktif. Inovasi layanan sosial berbasis digital juga diwujudkan melalui Pojok Kebaikan (Pobia) sebagai one stop service pelayanan publik bidang sosial.

“Setiap program sosial Pemkot Denpasar berorientasi pada nilai empati dan inklusivitas. Denpasar bukan hanya kota kreatif, tetapi juga kota yang berempati. Kami ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam pembangunan,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Brahma Widya Prof. Dr. I Wayan Wastawa, MA didampingi Ketua Panitia Utsawa Brahma Widya 2025, Dr. Ida Bagus Subrahmaniam Saitya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Walikota Denpasar yang memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk ikut menjaga nilai budaya dan harmoni dalam kehidupan berbangsa.

Dalam kegiatan ini juga diselenggarakan berbagai lomba seperti Utsawa Dharma Gita, Debat Agama dan Budaya, Tri Sandhya, dan Cerdas Cermat tingkat SD hingga SMA/SMK se-Bali.

“Denpasar menjadi contoh bagaimana kota modern dapat tetap berpijak pada nilai budaya dan spiritualitas yang kuat,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Tabanan Sebagai Titik Kumpul Touring Volkswagen Lost in Paradise #6 

Bawa Dampak Positif bagi Pariwisata dan Ekonomi Tabanan

Loading

Published

on

By

Suasana touring komunitas Volkswagen dalam kegiatan Volkswagen Lost in Paradise #6 di Kabupaten Tabanan.
TOURING: Suasana touring komunitas Volkswagen dari berbagai daerah dalam rangka kegiatan Volkswagen Lost in Paradise (VLIP) #6, Sabtu (29/8), di Kabupaten Tabanan. (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Touring komunitas Volkswagen dari berbagai daerah dalam rangka kegiatan Volkswagen Lost in Paradise (VLIP) #6, Sabtu (29/8), di Kabupaten Tabanan membawa dampak positif bagi perkembangan pariwisata dan perekonomian daerah. Kehadiran para peserta touring tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat komunitas Volkswagen, tetapi juga turut memperkenalkan potensi wisata, budaya, serta produk-produk ekonomi kreatif yang dimiliki Kabupaten Tabanan kepada para peserta dari berbagai daerah.

Touring mengambil rute start dari Ciputra Pangkung Tibah Kediri – Desa Jatiluwih – Pura Luhur Batukau – dan finish di Kantor Bupati Tabanan, dilepas oleh Sekda I Gede Susila Mewakili Bupati Tabaunda

Turut hadir Kepala Perangkat Daerah terkait serta Ketua dan Panitia Volkswagen Lost in Paradise (VLIP) #6, seluruh jajaran Ciputra Group dan undangan terkait lainnya. Kegiatan touring berlangsung dalam suasana penuh antusias dan kebersamaan para peserta.

Selain menjadi ajang silaturahmi komunitas pecinta Volkswagen, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menikmati sekaligus memperkenalkan potensi alam dan pariwisata Tabanan, khususnya kawasan Jatiluwih yang memiliki daya tarik budaya dan panorama alam yang khas.

Menyampaikan arahan Bupati, Sekda Susila menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini dan mengapresiasi pihak penyelenggara yang telah memilih Tabanan sebagai titik kumpul dari rangkaian Volkswagen Lost In Paradaktivita

Menurutnya, kegiatan komunitas seperti ini dapat menjadi salah satu media promosi pariwisata sekaligus memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kami tentu menyambut baik kegiatan ini. Mudah-mudahan para peserta tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga membawa pengalaman dan cerita yang baik tentang Tabanan, sehingga potensi wisata yang kita miliki semakin dikenal luas,” ujar Susila.

Baca Juga  BEM FKH Unud Selenggarakan Kuliah Umum Perdana

Pihaknya berharap ini menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan keindahan alam dan potensi pariwisata Tabanan kepada para peserta. Pemerintah daerah menyambut baik kegiatan Volkswagen Lost In Paradise #6 dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di Tabanan, dengan tetap mengedepankan tertib berlalu lintas, menjaga kebersihan lingkungan, serta ikut mempromosikan destinasi-destinasi wisata yang ada di Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Regenerasi Kepemimpinan, Kodam IX/Udayana Perkuat Soliditas dan Kesiapan Hadapi Dinamika Tugas

Published

on

By

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto memimpin Upacara Serah Terima Jabatan di Aula Supardi, Denpasar.
PIMPIN SERTIJAB: Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto saat memimpin Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Tradisi Laporan Korps Pejabat Kodam IX/Udayana di Aula Supardi, Jalan Udayana Nomor 1, Denpasar, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Hms Kodam IX/Udayana)

Denpasar, baliilu.com – Regenerasi kepemimpinan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan dan kesiapan organisasi TNI Angkatan Darat menghadapi dinamika tugas. Hal tersebut disampaikan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto saat memimpin Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Tradisi Laporan Korps Pejabat Kodam IX/Udayana di Aula Supardi, Jalan Udayana Nomor 1, Denpasar, Sabtu (29/8/2026).

Dalam amanatnya, Pangdam menyampaikan bahwa pergantian jabatan bukan sekadar perpindahan personel, melainkan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan dan penyegaran organisasi untuk menghadirkan semangat serta gagasan baru dalam menjawab tuntutan tugas.

“Pergantian jabatan bukan sekadar pergantian personel, tetapi merupakan proses regenerasi kepemimpinan dan penyegaran organisasi agar senantiasa mampu menjawab tuntutan tugas dan perkembangan zaman,” ungkap Pangdam.

Pangdam menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah dan tanggung jawab, bukan semata-mata penghargaan. Karena itu, para pejabat baru dituntut segera beradaptasi dengan karakteristik wilayah, satuan, dan dinamika tugas di lingkungan Kodam IX/Udayana, serta menjalankan amanah dengan integritas, profesionalisme, loyalitas, disiplin, dan keteladanan.

“Bangun komunikasi serta sinergi dengan seluruh unsur pimpinan, pemerintah daerah, Polri, tokoh masyarakat, dan seluruh komponen bangsa. Hadirkan TNI AD sebagai solusi bagi kesulitan masyarakat, terutama dalam penanganan bencana, kegiatan sosial, dan berbagai persoalan di wilayah,” pesan Pangdam.

Pada kesempatan tersebut, Pangdam IX/Udayana menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pejabat lama beserta istri atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian selama menjalankan tugas di lingkungan Kodam IX/Udayana. Kepada para pejabat baru, Pangdam menyampaikan selamat datang dan selamat bertugas serta berharap amanah yang diberikan dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Adapun pejabat Kodam IX/Udayana yang melaksanakan serah terima jabatan, yaitu:  Kolonel Kav Guruh Prabowo Wirajati, M.Eng., sebelumnya menjabat sebagai Asintel Kasdam IX/Udayana, selanjutnya mengemban tugas sebagai Dirbinum Pusintelad, digantikan oleh Kolonel Inf Dharmawan Setyo Nugroho, S.I.P.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Siap Support Perhelatan Sanur Bali International Half Marathon

Kolonel Cba Ilham Rusydi, S.E., M.M., sebelumnya menjabat sebagai Kabekangdam IX/Udayana, selanjutnya mengemban tugas sebagai Dirbinjasaang Pusbekangad, digantikan oleh Letkol Cba Nazharnoor, S.Sos.

Kolonel Cke Gerson Alexander M.K., S.I.P., sebelumnya menjabat sebagai Kakomlekdam IX/Udayana, selanjutnya mengemban tugas sebagai Kakomlekdam XXIII/PW, digantikan oleh Kolonel Cke I Gusti Ngurah Sumahardika, S.E.

Kolonel Inf Amin M. Said, S.H., sebelumnya menjabat sebagai Kajasdam IX/Udayana, selanjutnya mengemban tugas sebagai Kasiter Kasrem 162/WB (Mataram) Kodam IX/Udayana, digantikan oleh Letkol Arm Ketut Wira Purbawan, S.I.P., M.Han.

Mayor Kav Fariz Yukito, S.T.Han., sebelumnya menjabat sebagai Dandenkav 4/Shimha Pasopati, selanjutnya mengikuti Pendidikan Seskoad, digantikan oleh Kapten Kav Eka Syarif Hidayat Sunarto, S.T.Han.

Selain serah terima jabatan, rangkaian kegiatan juga laksanakan tradisi penerimaan beberapa pejabat Kodam IX/Udayana. Tradisi ini menjadi momentum untuk menyambut personel yang mendapat kepercayaan mengemban amanah baru sekaligus memperkuat semangat kebersamaan, soliditas, dan kesinambungan pengabdian dalam menjalankan tugas di lingkungan Kodam IX/Udayana.

Rangkaian sertijab dan tradisi laporan korps tersebut tidak hanya menjadi bagian dari mekanisme pembinaan organisasi, tetapi juga mencerminkan komitmen Kodam IX/Udayana untuk terus menjaga kesinambungan kepemimpinan dan meningkatkan kesiapan satuan dalam melaksanakan tugas. Pergantian pejabat diharapkan mampu membawa semangat baru sekaligus memperkuat soliditas dan sinergi dalam menghadapi berbagai tantangan di wilayah.

Sementara itu, Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution menegaskan bahwa serah terima jabatan merupakan bagian dari proses pembinaan personel yang secara berkesinambungan dilakukan untuk menjaga dinamika dan efektivitas organisasi.

Menurutnya, kehadiran pejabat baru diharapkan dapat memberikan energi positif, inovasi, serta memperkuat kualitas pelaksanaan tugas sesuai tanggung jawab dan bidang masing-masing.

“Setiap jabatan memiliki tanggung jawab dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pejabat yang menerima amanah harus mampu beradaptasi, membangun komunikasi, serta memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Kodam IX/Udayana berkomitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme prajurit dan menghadirkan pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Kapendam. (gs/bi)

Baca Juga  Wawali Arya Wibawa Lepas Fun Walk HUT Ke-40 Pasemetonan Ageng Warih Anglurah Lanang Tainsiat

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

“Satu Jiwa, Tiga Rupa”, Konsep Ny. Putri Koster Kembangkan Wastra Bali Menuju Panggung Mode Global

Seni Beri Taksu, Bisnis Hidupi Perajin, Politik Kebudayaan Beri Perlindungan

Loading

Published

on

By

Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri Dekranasda Bali Fashion Road Show Wastra Hita Kara di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana.
WASTRA HITA KARA: Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat menghadiri Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (27/8/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, memperkenalkan konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” sebagai strategi mengembangkan wastra Bali agar tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga tumbuh menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan mampu menembus panggung mode global. Konsep tersebut disampaikan dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (27/8/2026).

Ny. Putri Koster mengatakan, Dekranasda Provinsi Bali secara berkelanjutan menjalankan tiga program peragaan busana, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show. Ketiga program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri mode berbasis wastra sekaligus meninggalkan warisan bagi perkembangan mode Bali.

“Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujarnya.

Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana merupakan pelaksanaan ketiga setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung peragaan busana, tetapi juga ruang untuk membuka wawasan mengenai arah pengembangan industri mode berbasis wastra yang ingin dibangun Bali.

“Satu Jiwa, Tiga Rupa”

Menurut Ny. Putri Koster, membawa wastra Bali menuju industri mode global membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas dan estetika. Wastra Bali harus memiliki jiwa yang bersumber dari kekayaan seni dan budaya Bali, kemudian dikembangkan melalui tiga “rupa”, yakni seni, bisnis, dan politik kebudayaan.

“Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan, dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.

Baca Juga  Peringatan Hari Anak Nasional di Denpasar Usung Tema "Sastraning Rare"

Rupa pertama, seni. Seni menjadi roh dan jiwa yang membedakan wastra tradisional Bali dengan tekstil pabrikan. Motif dan ikatan dalam wastra Bali tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga mengandung filosofi, identitas, dan nilai spiritual.

“Seni yang memberi roh dan jiwa dari kain-kain dalam ikatan itu. Di dalamnya mengandung filosofi kuat sebagai anak Bali yang mewakili tanah Bali, yang konon adalah Pulau Dewata, pulau kesenian. Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu. Itulah yang membedakan tenun tradisional dengan bahan tekstil pabrikan yang begitu dingin,” ungkapnya.

Rupa kedua, bisnis. Ny. Putri Koster menekankan bahwa pelestarian wastra harus berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekonominya. Wastra Bali harus mampu menggerakkan roda perekonomian dan memberikan manfaat langsung kepada para perajin, khususnya penenun yang berada di desa-desa. Nilai ekonomi yang semakin baik diharapkan meningkatkan kesejahteraan perajin sekaligus mendorong regenerasi agar tradisi menenun terus berlanjut.

Rupa ketiga, politik kebudayaan. Aspek ini dinilai menjadi pemungkas dalam menjaga keberlangsungan wastra Bali. Pemerintah perlu hadir melalui kebijakan dan regulasi untuk melindungi kain tradisional beserta nilai filosofis, spiritual, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.

“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.

Menurut Ny. Putri Koster, kekuatan ekonomi wastra tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hukum. Tanpa regulasi, produk budaya lokal berisiko terdesak dalam persaingan pasar dan kehilangan nilai serta identitasnya.

“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.

Baca Juga  Arya Wibawa Paparkan Strategi Tuntaskan Kemiskinan Ekstrem di Kota Denpasar

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak bergerak bersama menjaga keberlanjutan wastra Bali. Pelestarian, kreativitas, pengembangan pasar, hingga perlindungan hukum harus dijalankan secara kontinu dan konsisten.

“Mari kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.

Dorong Desainer Jembrana Mengglobal

Khusus di Kabupaten Jembrana, Ny. Putri Koster berharap semakin banyak desainer lokal tumbuh dan mampu membawa kreativitas berbasis wastra daerah menuju panggung yang lebih luas. Kehadiran desainer lokal dinilai penting untuk menghubungkan perajin, kekayaan motif tradisional, kreativitas, dan kebutuhan pasar sehingga terbentuk ekosistem mode yang kuat.

“Di Jembrana saya ingin tumbuh lagi desainer-desainer lokal yang kemampuannya mengglobal. Kalau itu tumbuh, maka akan terbangun ekosistem,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Kabupaten Jembrana, Ny. Ani Setiawarini Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Jembrana untuk menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Dekranasda Jembrana, ini merupakan suatu kehormatan bagi Kabupaten Jembrana karena dapat menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show ‘Wastra Hita Kara’,” ungkapnya.

Menurut Ny. Ani, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya lokal sekaligus mempertemukan desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi produk sekaligus kesejahteraan para perajin.

“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi momentum dalam mempertemukan para desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku UMKM,” ujarnya.

Jembrana sendiri memiliki beragam potensi budaya yang terus dikembangkan, salah satunya penggunaan cepaka purih sebagai ciri khas masyarakat setempat. Dekranasda Jembrana juga telah memilih Duta Tenun Jembrana yang diharapkan tidak hanya menjadi ikon, tetapi turut mengedukasi generasi muda serta memperkenalkan tenun Jembrana kepada masyarakat yang lebih luas.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Siap Support Perhelatan Sanur Bali International Half Marathon

“Kami harap melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show ini akan semakin banyak para perajin yang semakin naik dan berkelas serta mampu berkancah di tingkat nasional maupun internasional,” harap Ny. Ani.

Tampilkan Tujuh Desainer, IKM, dan UKM

Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana menampilkan karya tujuh desainer, yakni Busana Adat AAA Turah Mayun, Body N Mine, Urban Etnik, Kacarita, Deluxe, Luh Jaum, dan Taksu. Peragaan busana turut diiringi musik dari Gus Teja.

Selain peragaan busana, kegiatan dimeriahkan dengan pameran produk IKM dan UKM. Sebanyak 11 IKM ambil bagian, yakni Putri Mas Collection, Kembar Sari, Arca Collection, Ani Galery, Caka Kembang, Bali Rajut, Linggasari, Ariati Embroidery & Handlace, Butik Jepun, Surya Putra, dan Dana Jaya. Pameran juga menghadirkan 10 UKM kuliner, yaitu Sibabui, Warung Bu Alit, Lumpia Potong Tugu, Kopi Kelana, Jamu Kunyit Asam, Uma Pia Kasih, Umah Tuak, Sambal Gorlin, Bakii, dan JeCo.

Melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”, Dekranasda Provinsi Bali bersama Dekranasda Kabupaten Jembrana mendorong terbentuknya ekosistem mode dan ekonomi kreatif yang berpijak kuat pada identitas budaya. Dengan sinergi seni, bisnis, dan politik kebudayaan, wastra Bali diharapkan tidak hanya lestari sebagai warisan leluhur, tetapi juga mampu memberikan kesejahteraan bagi perajin serta membawa identitas Bali menuju panggung mode nasional dan global. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca