Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Wujudkan Denpasar Bebas Stunting, TP PKK Gencar Lakukan Program Pemberdayaan Keluarga

BALIILU Tayang

:

PKK
Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat menjadi narasumber dalam sosialisasi bertema "Melalui PKK Berdayakan Keluarga, Wujudkan Aman Pangan, Keluarga Bebas Stunting" pada Selasa (13/12) di Gedung Pers K. Nadha. (Foto : ist)

Denpasar, baliilu.com – Sebagai mitra Pemerintah Kota Denpasar dalam upaya mewujudkan Denpasar Bebas Stunting, TP PKK Kota Denpasar gencar melakukan edukasi dan program pemberdayaan keluarga dalam hal keamanan pangan. Hal ini disampaikan Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat menjadi narasumber dalam sosialisasi bertema “Melalui PKK Berdayakan Keluarga, Wujudkan Aman Pangan, Keluarga Bebas Stunting” pada Selasa (13/12) di Gedung Pers K. Nadha.

Kegiatan sosialisasi itu sendiri dikemas dalam bentuk dialog, yang turut menghadirkan pula Dosen Poltekkes Kota Denpasar sekaligus Ahli Gizi Pande Putu Sri Sugiani.

Dipandu pembawa acara Putu Ayu Susanti, saat itu Ny. Antari Jaya Negara banyak membahas mengenai program yang menjadi terobosan TP PKK Kota Denpasar dalam upaya pencegahan stunting di Kota Denpasar.

Sebagai informasi, menurut data prevalensi stunting tahun 2021, Kota Denpasar memiliki angka 9%, di mana angka tersebut tergolong angka yang rendah secara nasional.

“Sekalipun angka 9%, namun hal ini tidak membuat kami berpuas diri. Kami melaksanakan program pemberdayaan keluarga dalam ketahanan pangan melalui gerakan Akuhatinya PKK. Seperti, mengedukasi sekaligus mengajak para masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan atau halaman sekecil apapun untuk menanam aneka tanaman,” jelasnya.

Ny. Antari Jaya Negara menyebut, untuk mendukung pemanfaatan lahan pekarangan oleh para keluarga, TP PKK Kota Denpasar juga melaksanakan program pembagian bibit tanaman, seperti cabai, tanaman buah dan tanaman lainnya.

“Kami membentuk kelompok- kelompok yang kita sebut Dasawisma di mana kami menyerahkan bantuan bibit tanaman untuk ditanam. Di tingkat kelurahan / desa, kami juga memiliki taman pangan. Saat ini, kami juga sedang gencar untuk mensosialisasikan pemanfaatan bahan pangan lokal seperti kelor, dan lainnya untuk dijadikan alternatif penganan yang lebih kreatif dan inovatif,” papar Ny. Antari Jaya Negara.

Baca Juga  Kelurahan Penatih Laksanakan Giat Bank Sampah

Dosen Poltekkes Denpasar sekaligus Ahli Gizi Pande Putu Sri Sugiani menyebut, saat ini pencegahan stunting dapat diedukasi sejak dini.

“Seperti yang kita tahu, pada 1000 HPK, sangat penting mengasup nutrisi dan gizi yang seimbang dan kompleks kepada anak- anak kita. Pemberian edukasi kepada para remaja, calon pengantin dan ibu hamil merupakan hal yang bisa dijadikan langkah antisipatif dalam peningkatan angka stunting,”katanya.

Pande Putu juga menambahkan, jika secara konsisten pola penceghan stunting dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan harapan Kota Denpasar untuk menuju angka stunting di bawah 5% akan terwujud.

“Dalam penyajian piring kita dalam 1 porsi terutama untuk anak usia tumbuh kembang, pemenuhan asupan gizi hal utama yang harus kita fokuskan. Hendaknya, kandungan gizi yang harus memenuhi unsur yang mendukung perkembangan otak dan juga pertumbuhan fisik si anak sendiri untuk mencegah kejadian stunting,” lanjutnya.

Pemanfaatan bahan pangan lokal di sekitar kita yang mengandung nilai gizi tinggi, menurut Pande Putu bisa dijadikan alternatif makanan sehat dengan pengolahan yang tepat. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Peringatan HUT Ke-80 RI di Denpasar Berlangsung Khidmat

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Pemkot Denpasar Komitmen Dukung Optimalisasi Penggunaan Produk Dalam Negeri dan Pemberdayaan UMKK

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Ny. Putri Koster: Permasalahan Stunting Perlu Mendapat Perhatian dan Upaya Kita Bersama

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca