BALI dijuluki pulau seribu pura, karena memang memiliki banyak pura yang diperkirakan berjumlah 12.000-an lebih. Namun dari seluruh pura yang berdiri di Bali, Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha yang berada di wilayah Banjar Pondok Desa Peguyangan Kaja Kecamatan Denpasar Timur Denpasar terbilang unik. Secara struktural pura ini berbeda dari pura-pura lainnya walaupun pola yang dipakai sudah begitu dikenal yakni pengider-ider dewata nawa sanga.
Untuk
mengenal lebih jauh keberadaan Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata
Nawa Sangha, baliilu menemui Jro Dewa
Niang Mangku yang sekaligus pengempon
tunggal pura yang diperkirakan dibuat sejak 10 keturunan nenek moyangnya atau
sekitar abad ke-17-18.
JRO DEWA NIANG MANGKU: Pengempon Tunggal Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari
Dari penuturan Jro Dewa Niang Mangku dan juga mengutip dari hasil penelitian Kajian Estetika Hindu yang dilakukan Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si dan Dr. Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar tahun 2019 perihal ‘’Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha’’, bahwa pura ini dibangun oleh leluhurnya Dewi Ibu sesuai yang tersurat di bancangah Dewa Manggis Kuning yang disimpan di pura. Disebutkan Dewa Alit dari Peraupan beristri dengan Jro Manoraga dari Kadua. Setelah medwijati bergelar Dewi Ibu.
DR. DRS. I NYOMAN LINGGIH, M.SI: Bersama Dr. Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag Meneliti Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha
Jro Dewa Niang Mangku menuturkan bahwa Jro Manoraga yang bergelar Dewi Ibu konon memiliki kelebihan dari manusia biasa. Memiliki kesaktian yaitu ketika hamil jika beliau merasa letih membawa kandungannya, ia dapat menitipkan anak kandungannya pada bunga teratai. Itu sebab di pura ini selalu ada bunga teratai sampai kini.
Setelah
putranya lahir keanehan kembali terlihat, dimana putranya lahir tanpa pusar.
Baik Jro Manoraga dan putranya keduanya sama-sama sakti, disegani orang-orang
dan mampu menyembuhkan orang dari berbagai macam penyakit. Dewi Ibu ini juga memiliki
jnana yang tinggi. Konon bisa pulang pergi
ke sorga. Apa yang dilihat di sorga lalu
dibuat di dunia. Maka, dibuatlah Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran
Dewata Nawa Sangha.
TAMPAK DEPAN: Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Beradadi Jalan Antasura Denpasar Tampak dari Depan
Pada saat membuat pura tersebut tidak dilakukan oleh manusia biasa melainkan para pengayah atau orang-orang yang datang membantu namun entah dari mana asalnya. Serempak datang pengayah dari rimur, selatan, barat, utara dan setiap sudut bersorak sorai. Lalu secara tak kasat mata Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari tiba-tiba selesai dibangun. Setelah wafat Dewi Ibu konon dikubur di jaba Pura Dalem Kahyangan dan setelah beberapa hari dibongkar kembali, jasadnya sudah tidak ada hanya tersisa kwangen dan diyakini Jro Manoraga yang bergelar Dewi Ibu ini moksa.
Secara
etimologis, seperti yang dituturkan Dr. Linggih, bahwa Catur Kanda Pat Sari Pengideran
Dewata Nawa Sangha berarti empat ajaran utama tentang atau untuk mencapai
kesaktian atau kemasyuran yang merupakan sinar suci dari sembilan dewata nawa sanga yang menduduki sembilan
penjuru mata angin.
Kanda pat lanjut Linggih merupakan salah satu
aliran spiritual dan kebhatinan yang berkembang di Bali yang di dalamnya
menguraikan berbagai teori tentang kehidupan manusia dari awal hingga akhir serta
kekuatan yang diberkahi dewa untuk melindungi manusia dari berbagai macam
gangguan.
PELINGGIH HYANG SIWA: Sebagai Sentral dari Pelinggih-pelinggih Dewata Nawa Sanga yang Ada
Dalam kanda pat sari disebutkan ada banyak intisari/kekuatan/daya dalam tubuh manusia yang harus mendapat perhatian yakni intisari yang perlu dihidupkan, dikembangkan karena sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ada kekuatan yang perlu dikendalikan karena kekuatan tersebut dapat merusak atau mendukung kehidupan manusia, ada intisari yang patut dilindungi karena dapat menentukan hidup-matinya manusia.
Intisari/kekuatan
atau daya dalam tubuh manusia itulah yang disebut sarining merta. Cara menghidupkan, mengembangkan, mengendalikan dan
melindungi sarining merta tersebut
yakni dengan meditasi yang diturunkan oleh Bhatara Siwa dan merupakan meditasi
khusus yang disebut meditasi sarining
merta agar dapat membuka, membangkitkan dan menghidupkan tirta amerta (panca tirtha) yang ada dalam diri
manusia.
PURA LUHUR CATUR KANDA PAT SARI: Asri, Dikelilingi Taman Dengan Pohon Teratai Berwarna-warni Sesuai Arah Mata Angin
Dalam prakteknya tirta amerta itu diposisikan di empat penjuru mata angin dan di tengah-tengah utama mandala pura sebagai pusatnya dan dilindungi oleh panca dewata. Tirta Kamandalu terletak di utara pada tetamanan Hyang Wisnu, Tirta Sanjiwani berada di timur pada tetamanan Hyang Iswara, Tirta Pawitra terletak di selatan pada tetamanan Hyang Brahma, Tirta Kundalini terletak di barat pada tetamanan Hyang Mahadewa dan Tirta Hamerta Kesuma terletak di tengah pada pelinggih Hyang Siwa. Konsep padma buana sebagai stana dewata nawa sanga dalam bentuk mikro diterapkan di Pura Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha.
Sesuai bancangah Dewa Manggis Kuning tersurat
bahwa sepuluh generasi di atas keluarga Jro Dewa Niang Mangku ialah Anak Agung Manggis
yang bersaudara dengan Anak Agung Manggis Dimade dan Anak Agung Manggis Rirangki.
Beberapa dekade terakhir pura ini diempon
dan disungsung oleh desa-desa yang berada
di sekitar pura. Namun kemudian pengempon
dan penyungsung-nya mulai menyusut
sampai akhirnya yang menjadi pengempon saat
ini hanyalah keluarga Jro Dewa Niang Mangku yang terdiri dari tiga orang.
Suaminya Dewa Made Suci dan putranya Dewa Rai Anom.
Berbagai
peristiwa keluarga membuat pura tidak terawat. Baru pada tahun 1995 pura direnovasi.
Renovasi kembali dilakukan tahun 2007 setelah mendapat perhatian dari penekun
spiritual dan mulai saat itu pula lingkungan pura ditata dan pelinggih dipugar sesuai keadaan aslinya.
Dari pengamatan
baliilu struktur pelinggih di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa
Sangha sebagai berikut. Pertama: pelinggih
Hyang Siwa yang berada tepat di tengah-tengah berbentuk bangunan sama sisi menghadap
ke empat penjuru mata angin dengan 7 tangga masing-masing sisinya.
PELINGGIH HYANG ISWARA: Berada di Sisi Timur Menghadap ke Pelinggih Hyang Siwa ke Barat
Kedua: pelinggih Hyang Iswara berbentuk padma capah, pada pelinggih ini terdapat 5 buah padma kecil serta di bagian depan terdapat arca Hyang Iswara. Pelinggih ini terdapat di bagian timur pelinggih Bhatara Siwa menghadap ke barat. Di belakang pelinggih Hyang Iswara terdapat pelinggih tetamanan berupa padmasari dan pengaruman. Ada 7 arca yang ditempatkan di masing-masing sudut dan di sebelah kanan pelinggih padmasari ada sebuah sumur kecil sebagai tempat memohon tirta yang disebut Tirta Sanjiwani. Areal pelinggih tetamanan dikelilingi kolam lengkap dengan teratai putih. Di luar kolam terdapat perantenan.
PELINGGIH HYANG ISWARA TAMPAK BELAKANG: Pelinggih Hyang Iswara Tampak dari Belakang, Ada Pelinggih Tetamanan
Ketiga: pelinggih Hyang Maheswara berada di sudut tenggara yang berbentuk dugul tumpang 8.
PELINGGIH BRAHMA: Berada di Sisi Selatan Menghadap ke Pelinggiuh Hyang Siwa ke Utara
Keempat: pelinggih Hyang Brahma yang berada di sisi selatan menghadap ke pelinggih Hyang Siwa. Pelinggih berbentuk padma capah dengan 9 padma kecil di depannya ada arca Hyang Brahma. Di areal tetamanan ini juga ada sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Kamandalu. Di luar areal bagian belakang ada perantenan.
PELINGGIH TETAMANAN HYANG BRAHMA: Menghadap ke Selatan
Kelima: pelinggih Hyang Rudra berada di posisi barat daya berbentuk pelinggih dugul tupang 3.
PELINGGIH HYANG MAHADEWA; Berada di Sisi Barat Menghadap Ke Pelinggih Hyang Siwa
Keenam: pelinggih Hyang Mahadewa terletak di sisi barat menghadap ke timur ke pelinggih Hyang Siwa berbentuk padma capah, terdapat 7 buah padma kecil di depannya ada arca Hyang Mahadewa. Di areal pelinggihtetamanan terdapat sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Kundalini. Di bagian belakang di luar areal tetamanan terdapat perantenan.
PELINGGIH TETAMANAN HYANG MAHADEWA: Menghadap ke Arah Barat
Ketujuh: pelinggih Hyang Sangkara terdapat di sudut barat laut berupa pelinggih dugul tumpang tiga menghadap ke tenggara.
PELINGGIH HYANG WISNU: Berada di Sisi Utara Pelinggih Menghadap Ke Arah Pelinggih Hyang Siwa
Kedelapan: pelinggih Hyang Wisnu berada di sisi utara menghadap ke selatan berbentuk padma capah dengan 4 buah padma kecil di depannya terdapat arca Hyang Wisnu. Di areal pelinggihtetamanan terdapat sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Pawitra. Di bagian belakang di luar areal tetamanan terdapat perantenan.
PELINGGIH TETAMANAN HYANG WISNU: Pelinggih Menghadap ke Arah Utara
Kesembilan: pelinggih Hyang Sambu terletak di sisi timur laut menghadap ke barat daya berupa pelinggih dugul tumpang 6.
PELINGGIH RATU AYU MAS MEKETEL: Pelinggih Ratu Ayu Mas Meketel Saat Upacara di Pura Luhur
Selain sembilan pelinggih utama terdapat pelinggih Ratu Ayu Mas Meketel yang berada di antara pelinggih Hyang Wisnu dan Hyang Sambu berupa piasan saka pat menghadap ke selatan. Pelinggih ini difungsikan sebagai tempat dilinggihkannya Ida Sesuhunan Ratu Ayu Mas Meketel berupa rangda ketika lunga saat upacara piodalan.
PELINGGIH RATU KIDUL DAN DEWI KWAM IM: Berada di Sisi Paling Selatan
Pelinggih tambahan yang belum lama dibangun yakni pelinggih Ratu Kidul dan pelinggih Dewi Kwam Im yang berada di sisi paling selatan menghadap ke utara. *balu01
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar di Pura Agung Lokanatha Denpasar, Sabtu (3/10). Keterlibatan tersebut menjadi bentuk kebersamaan sekaligus kepedulian dalam membantu masyarakat melaksanakan upacara keagamaan.
Metatah massal tersebut diikuti sebanyak 157 peserta. Selain metatah, kegiatan juga dirangkaikan dengan upacara Menek Kelih yang diikuti 107 peserta dan Mewinten Saraswati sebanyak 35 peserta. Kegiatan turut dihadiri Anggota DPD RI Dapil Bali, IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang juga turut ngayah sebagai sangging.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan keterlibatannya sebagai sangging merupakan bagian dari ngayah sekaligus wujud kebersamaan bersama masyarakat dalam pelaksanaan yadnya.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan dan gotong-royong dalam meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Semoga seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan lancar dan mendapatkan kerahayuan,” ujar Jaya Negara.
Menurutnya, pelaksanaan metatah massal tidak hanya menjadi sarana pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai agama Hindu serta memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota Denpasar, kata Jaya Negara, akan terus mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan, adat, dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.
Sementara itu, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi Walikota Denpasar yang turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan metatah massal. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
“Melalui pelaksanaan Metatah Massal, Menek Kelih, dan Mewinten Saraswati, PHDI Kota Denpasar berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keberlangsungan adat, agama, dan budaya Bali di tengah kehidupan masyarakat,” ujarnya. (eka/bi)
HADIRI KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin serangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh) di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Bangli, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan peradaban Bali melalui penguatan desa adat dan pelestarian kawasan sakral. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin serangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh) di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore.
Dalam kesempatan tersebut, Koster menyebut Pura Bukit Mentik sebagai salah satu simbol penting peradaban Bali yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang harus terus dijaga.
Menurutnya, kawasan Kintamani memiliki anugerah alam yang sangat besar dengan keberadaan Gunung dan Danau Batur. Kekayaan tersebut, kata Koster, harus dirawat secara berkelanjutan agar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali.
“Ini harus kita rawat dengan baik,” tegas Koster.
Koster juga menyampaikan bahwa dirinya memberikan perhatian serius terhadap pembangunan di Kabupaten Bangli. Pembangunan, menurutnya, harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam, budaya, adat, dan kehidupan spiritual masyarakat.
Komitmen tersebut, lanjut Koster, menjadi bagian dari haluan pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan. Arah pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga memastikan Bali tetap ajeg dengan kekuatan adat dan budaya sebagai fondasinya.
“Jaga Bali agar tetap ajeg,” ujarnya.
Ia menegaskan, penguatan seluruh desa adat di Bali menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Bali ke depan. Desa adat dinilai memiliki peran strategis dalam mempertahankan nilai-nilai budaya, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat Bali. (gs/bi)
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman, Kamis (1/10). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman yang dilaksanakan pada Wraspati Umanis Ugu, bertempat di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Kamis (1/10).
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPD RI Dapil Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Bendesa Adat se-Kota Denpasar, perwakilan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta undangan terkait lainnya.
Di sela rangkaian upacara, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Desa Adat Kesiman.
“Sinergitas antara krama adat dengan pemerintah dalam melaksanakan upacara yadnya ini patut diberikan apresiasi. Tentunya pelaksanaan upacara yadnya yang kolaboratif ini dapat meringankan masyarakat dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Hindu di Bali,” ujar Arya Wibawa.
Lebih lanjut, Arya Wibawa menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat di Kota Denpasar sejalan dengan visi pembangunan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju.
“Pemerintah Kota Denpasar juga berharap seluruh rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat berjalan baik dan memberikan kebaikan bagi masyarakat yang melaksanakannya,” tambah Arya Wibawa.
Bendesa Adat Kesiman, Jro Mangku Ketut Wisna di sela acara mengatakan, upacara Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Desa Adat Kesiman dapat terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman.
“Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September 2026 lalu, dilanjutkan prosesi Ngingsah pada 16 September 2026 serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September 2026. Dilanjutkan prosesi Nganget Don Bingin pada 24 September 2026, dilanjutkan upacara Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta pada 27 September 2026. Lalu dilanjutkan upacara Metatah Massal yang diikuti 345 peserta, dilanjutkan prosesi Ngajum Puspa pada tanggal 29 hingga 30 September 2026,” jelasnya.
Selanjutnya, Jro Mangku Ketut Wisna mengatakan setelah dilaksanakan rangkaian upacara tadi, dilanjutkan dengan rangkaian upacara lainnya.
“Barulah dilaksanakan puncak Karya yang diikuti 307 puspa pada 1 Oktober 2026 yang dipuput oleh lima sulinggih Siwa-Buddha. Selanjutnya seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober 2026 mendatang,” imbuhnya. (eka/bi)