Saturday, 13 April 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Denpasar: Penetralisir Alam Menuju Harmonisasi

BALIILU Tayang

:

de
RATU AYU MAS MEKETEL: Saat-saat Bersama Penari Legong Dedari Napak Pertiwi (FT: I Nyoman Linggih)

LEBIH dari 60 tahun sesolahan Legong Dedari tenggelam karena tidak ada yang meneruskan. Sampai penduduk Banjar Pondok Desa Peguyangan Kaja Denpasar, dimana Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha berada, suatu ketika merasakan ada satu keanehan di wilayahnya. Kematian secara beruntun terjadi hingga 8 kali berturut-turut, perpecahan di antara anggota banjar, kehilangan sesari di balai banjar, dan keanehan lainnya.

Setelah warga nunasang  akhirnya penduduk Banjar Pondok nangiang kembali sesuhunan Ratu Ayu Mas Meketel untuk mesolah yang diiringi tari Legong Dedari. Pertama kali mesolah pada April 2018 dan kemudian setelah direkonstruksi oleh Tim ISI Denpasar kembali mesolah pada September 2019.

de
NAPAK PERTIWI: Sebelum Mesolah, Ratu Ayu Mas Meketel dan Gelungan Sakral Legong Dedari Napak Pertiwi (FT: I Nyoman Linggih)

Sesolahan Legong Dedari ditarikan tiga kali dalam setahun. Saat Tumpek Wayang (dua kali setahun) ketika piodalan di Pura Balai Banjar Pondok Peguyangan Kaja yang digelar saat mesineb pada Selasa Klau di jaba balai banjar atau di jalan raya. Selanjutnya pada purnama Jiyestha, purnama setelah nyepi bertepatan dengan piodalan di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari, biasanya mesolah di utama mandala pura.

de
JRO DEWA NIANG MANGKU: Tulus Bhakti Rawat Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Bersama Keluarga

Dari penuturan Jro Dewa Niang Mangku dan juga mengutip dari hasil penelitian Kajian Estetika Hindu yang dilakukan Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si dan Dr. Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar tahun 2019, perihal ‘’Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha’’, bahwa sebelum sesolahan Legong Dedari dilaksanakan ada serangkaian upacara digelar nedunang ida sesuhunan Ratu Ayu Mas Meketel napak pertiwi ngider tiga kali ke arah ke kiri. Paling depan kober anoman, senjata keris, gelungan Legong Dedari dan terakhir sesuhunan Ratu Ayu Mas Meketel berupa rangda.

Baca Juga  Wakapolsek Sukawati Pimpin Jumat Curhat di Kantor Perbekel Desa Celuk
de
DR. DRS I NYOMAN LINGGIH, M.SI: Bersama Dr. Dewa Ketut Wisnawa,S.Sn, M. Ag Melakukan Penelitian Perihal Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari

Penari Legong Dedari berjumlah 12 orang wanita yang masih berstatus remaja. Sesolahan Legong Dedari diiringi gambelan gong semar pegulingan duwe Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari. Sesolahan Legong Dedari tahap pertama keluar 6 orang  penari masing-masing 3 penari legong berwarna kuning dan 3 berwarna merah. Tahap kedua keluar lagi 4 penari bergerak menari mengikuti gerak tari tahap pertama. Penari ini masing-masing 2 orang memakai kostum putih dan 2 orang kostum hitam.

de
LEGONG DEDARI: Memakai Kostum dengan Warna Putih, Merah, Kuning dan Hitam (FT: I Nyoman Linggih)

Tahap ketiga keluar dua penari yang masing-masing menggunakan atau memundut gelungan pejenengan yang disakralkan berkostum hitam dan putih, dimana penarinya tidak boleh digantikan. Ketika dua penari ini memasuki kalangan maka sepuluh penari lainnya mengikuti gerakan ngumbang. Bergerak menari posisi bersimpuh berbentuk lingkaran menghadap ke dalam ke arah dua orang penari yang menggunakan gelungan yang disakralkan seolah-olah menyambut kedatangan serta menghormat kepada dua kakak tertuanya para widyadari dan widyadara.

de
LEGONG DEDARI: Menari di Jaba Balai Banjar (FT: I Nyoman Linggih)

Saat itu dilantunkan suara gending Shang Hyang seperti memanggil-manggil atau mengundang kehadiran para widyadari-widyadara untuk hadir memeriahkan acara sesolahan Legong Dedari.

de
PENARI LEGONG DEDARI MUNDUT GELUNGAN SAKRAL: Paling Depan Disambut Penari Lainnya

Saat para penari bergerak menari dengan sikap bersimpuh dan dua penari yang menggunakan gelungan yang disakralkan dengan sikap berdiri serta gerakan dan komposisi para penari mengikuti komposisi pengideran dewata nawa sanga yaitu sesuai dengan komposisi pelinggih yang ada di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha.

de
GONG SEMAR PEGULINGAN: Mengiringi Tari Legong Dedari (FT: I Nyoman Linggih)

Setelah gending Shang Hyang dilantunkan, penari Legong Dedari menghadap ke arah medalnya sesuhunan Ratu Ayu Mas Meketel yang sedang melakukan upacara katuran banten. Selanjutnya tari Legong Dedari melakukan gerak tari memendak menjadi dua baris menuju ke arah Ratu Ayu Mas Meketel. Dua penari legong mundut gelungan sakral bergerak maju menjemput ikut bersama katuran banten. Ratu Mas Ayu Meketel dituntun oleh dua penari Legong Dedari. Yang memakai kostum hitam di sebelah kanan dan kostum putih di sebelah kiri keluar bersama-sama kemudian bergabung menari bersama penari Lengong Dedari lainnya.

Baca Juga  Melalui GEBRAK Masker, Ketua TP PKK Provinsi Bali Ajak Seluruh Kader Wujudkan Bali Bebas Covid-19
de
RATU AYU MAS MEKETEL: Disambut Dua Penari Legong Dedari Mundut Gelungan Sakral (FT: I Nyoman Linggih)

Ratu Ayu Mas Meketel disambut penari legong lainnya dengan gerakan murwa daksina sementara Ratu Ayu Mas Meketel bergerak melingkar ke kiri lanjut para penari duduk melingkar dengan komposisi berdasarkan warna pengideran dewata nawa sanga. Di sanalah Ratu Ayu Mas Meketel mengajak semua widyadari untuk bertimbang rasa yang dilanjutkan dengan semua penari legong bergerak menari. Ketika penari legong kembali bersimpuh maka Ratu Ayu Mas Meketel yang meraga Siwa Pasupati berucap-ucap ke arah timur, selatan, barat dan utara yang pada intinya meminta kala petak, kala bang, kala jenar dan kala ireng untuk pulang ke tempatnya masing-masing.

de
RATU AYU MAS MEKETEL: Saat-saat Melakukan Somya pada Bhuta Kala di Empat Penjuru Mata Angin (FT: I Nyoman Linggih)

Ketika komposisi tarian membentuk posisi bunga teratai di mana Ratu Ayu Mas Meketel di tengah sebagai simbol Siwa, maka para penari Legong Dedari serentak sontak mekaik bersorak minta menari lagi. Dalam keadaan tidak sadarkan diri. Para penari kemudian dipapah dan dibawa ke jeroan Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengederan Dewata Nawa Sangha. Di sana para penari melanjutkan tarian yang sudah tidak beraturan lagi. Bergerak menari yang kadang di luar akal sehat seperti berendam, mesucian di kolam sampai larut malam hingga pagi hari. Anehnya para penari tidak merasakan dingin. Hal aneh juga terjadi dialami Jro Mangku Bale Banjar Pondok I Wayan Ruda secara tidak sadar menceburkan diri ke kolam dan sedikit pun tidak basah. Lebih aneh lagi para penari seketika begitu fasih berbahasa Cina.

Ketika para penari telah merasa puas mungkin menari, mesucian dan selanjutnya penari dalam keadaan tidak sadarkan diri mengarahkan dirinya menuju pelinggih masing-masing sesuai dengan warna kostum penari dan warna masing-masing pelinggih pengideran dewata nawa sanga. Selanjutnya beliau ngeluhur di depan pelinggih masing-masing.

Baca Juga  Sekda Bali Perintahkan Kalaksa BPBD Siapkan 10 Hotel Karantina untuk OTG dan Gejala Ringan

BANGKIT SETELAH MUSIBAH

Setelah nangiang Rayu Ayu Mas Meketel yang diiringi Legong Dedari inilah warga masyarakat Banjar Pondok merasakan lebih tenang, nyaman dan semakin harmonis di antara warga.

Dr. Linggih menyebut fungsi dari Legong Dedari memiliki fungsi religi merupakan pengejawantahan dari beliau yang tak terbayangkan menjadi terbayangkan dalam bentuk sesolahan Legong Dedari. Fungsi penyucian dimana masyarakat memiliki keyakinan besar sebagai penetralisir dari situasi dan kondisi negatif menjadi positif, fungsi social dimana masyarakat ngaturang ngayah penuh bakti tanpa pamrih sehingga menyadarkan masyarakat dari dis harmonis menjadi harmonis kembali. Dan berfungsi estetika dimana sesolahan ini mampu meningkatkan rasa estetik yang mendalam menuju kedamaian abadi.

de
PENARI LEGONG DEDARI: Mengalami Kesurupan dengan Perilaku di Luar Akal Sehat (FT: I Nyoman Linggih)

Seiring tari Legong Dedari kembali ditarikan, Jro Dewa Niang Mangku menuturkan, masyarakat dari berbagai daerah mulai banyak berdatangan. Tidak saja warga masyarakat Bali juga ada yang dari Madura, Kalimantan dan Jawa. Mereka datang dengan tujuan yang beragam.  Seperti melukat untuk penyucian diri, memohon pengobatan, memohon anak, dan ada juga yang meditasi dari malam hingga pagi. *balu01

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Pemkot Denpasar Peringati Tumpek Krulut, Dirangkaikan dengan Dharma Santhi Nyepi

Walikot Jaya Negara Ikuti Prosesi dan Persembahyangan Bersama

Published

on

By

tumpek krulut
Walikota Jaya Negara bersama para tamu undangan dalam kesempatan Peringatan Rahina Tumpek Krulut dan dirangkaikan dengan Dharma Santhi Nyepi, Sabtu (13/4) di Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Rangkaian peringatan Rahina Tumpek Krulut yang digelar Pemkot Denpasar dikoordinir Bagian Kesejahteraan Rakyat, Setda Kota Denpasar pada Sabtu (13/4). Peringatan Rahina Tumpek Klurut yang jatuh setiap Saniscara Kliwon, Wuku Krulut dipusatkan di Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung yang juga dirangkaian dengan Puja Dharma Santhi Nyepi, Tahun Saka 1946.

Peringatan Rahina Tumpek Krulut dipuput Ida Pedanda Gede Putra Keniten, Griya Satya Loka dan Dharma Wacana oleh Dr. Komang Indra Wirawan. “Wewalen” peringatan Rahina Tumpek Krulut meliputi, pembacaan Sloka dan Puja Dharma Santhi, Tari Rejang Dewa oleh siswa SMPN 1 Denpasar, Tari Rejang Taksu Bhuwana dari PHDI Kota Denpasar, Tari Rejang Renteng dari WHDI Denpasar, Rejang Napik Siti binaan I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Bebarongan, Gandrung, Bondres, hingga Tabuh Semarandana.

Tampak Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir dan mengikuti prosesi Rahina Tumpek Krulut yang juga dihadiri Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana, Ketua Komisi I DPRD Denpasar, I Ketut Suteja Kumara, Forkopimda Denpasar, pimpinan OPD Pemkot Denpasar, Ketua MDA Denpasar, A.A Ketut Sudiana, dan Ketua PHDI Denpasar, I Made Arka.

Walikota Jaya Negara disela-sela prosesi acara menjelaskan, filosofis dari perayaan Tumpek Krulut mencerminkan penghormatan terhadap alat musik sebagai bagian penting dari kehidupan dan budaya Bali yang menstanakan Dewa Iswara sebagai Dewa Suara. Keindahan suara banyak terdapat dalam karya seni, seperti gamelan atau alat musik. Selain itu, perayaan ini juga bertujuan untuk melestarikan dan mendorong keberlanjutan warisan budaya Bali.

“Sebagaimana tersurat dalam Lontar Prakempa dan Aji Gurnita, hari yang baik atau Dewasa Ayu untuk mengupacarai Sarwa Tetangguran atau Gamelan adalah Rahina Tumpek Krulut. Pada Rahina Tumpek Krulut kita memuja Dewa Iswara atau Kawiswara sebagai Dewa Keindahan, memohon waranugraha agar manusia terus menerus diberi kesenangan dan kebahagiaan Sekala-Niskala,” jelasnya

Baca Juga  Jangan Asal Kerja, Gubernur Koster: ASN Hendaknya Bekerja sesuai Landasan Yuridis dan Visi Misi Gubernur/Wakil Terpilih

Dikatakanya, Rahina Tumpek Krulut memiliki makna yang mendalam dalam konteks keberlanjutan budaya. Hari ini adalah waktu untuk merenungkan peran seni tradisional dalam kehidupan sehari-hari, serta untuk menghormati kreativitas dan keterampilan para seniman. Ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya merawat alat-alat musik dan peralatan tradisional, serta mempertahankan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, bertepatan dengan Rahina Tumpek Krulut yang juga diperingati sebagai Rahina Tresna Asih yang bermakna kasih sayang. Hal ini juga berkaitan dengan visi misi mewujudkan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju dengan dilandasi spirit Weda Wakya “Vasudaiva Khutumbakam” yang mengandung makna dalam kehidupan ini kita semua bersaudara, atau menyama braya, menjalin hubungan yang harmonis dalam mewujudkan suatu kebahagiaan lahir batin.

“Dalam peringatan Tumpek Krulut mari kita maknai peran seni tradisional dan menghormati kreativitas para seniman, dengan merawat alat musik tradisional menuju keharmonisan bersama yang mengedepankan saling asah asih asuh, salunglung sabayantaka dalam pemaknaan Rahina Tresna Asih,” ujarnya. (gs/bi)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Giri Prasta Hadiri ‘’Pujawali’’ di Pura Kawitan Kayu Selem Songan

Published

on

By

Pura Kawitan Kayu Selem Songan
SERAHKAN DANA HIBAH: Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menyerahkan dana hibah secara simbolis saat menghadiri Pujawali di Pura Kawitan Kayu Selem Gwasong - Songan Banjar Kayu Selem, Kintamani, Bangli, Selasa (9/4). (Foto: Hms Badung)

Bangli, baliilu.com – Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri Pujawali di Pura Kawitan Kayu Selem Gwasong – Songan Banjar Kayu Selem, Kintamani, Bangli, Selasa (9/4). Turut hadir dalam kesempatan ini Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, anggota DPRD Provinsi Bali terpilih Dapil Bangli Sang Putra Irawan, anggota DPRD Bangli I Wayan Wirya, dan anggota DPRD terpilih I Wayan Artom Krisna Putra, Camat Kintamani Ketut Hery Soena Putra serta unsur Tripika Kecamatan Kintamani, tokoh dan warga masyarakat Kayu Selem.

Bupati Giri Prasta juga menyerahkan bantuan dana Hibah Induk 2024 secara simbolis sebesar Rp 3,2 miliar untuk pembangunan pura serta secara pribadi membantu dana sebesar Rp 30 juta.

Giri Prasta mengucapkan, rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta Ida Batara-Batari yang berstana di Pura Kawitan Kayu Selem dan berharap seluruh krama pengempon diberikan keselamatan dan kerahayuan dalam melaksanakan karya pujawali.

“Kehadiran kami disini untuk meringankan beban krama semua dan ini murni dari pikiran yang suci dan ning nirmala, apalagi untuk masyarakat pengempon kawitan Kayu Selem khususnya, waktu banyak habis di adat seperti ada pitra yadnya, manusa yadnya dan dewa yadnya, piodalan di tingkat dadia sampai Sad Kahyangan itu waktu dan uang banyak habis di adat untuk meyadnya maka dari itu kami hadir di tengah-tengah masyarakat untuk meringankan beban masyarakat seperti saat ini. Untuk membangun Pura Kawitan Kayu Selem kami bantu sebesar Rp 3,2 miliar agar tuntas supaya masyarakat tidak mengeluarkan uang,” ucapnya.

Pujawali ini, lanjut Giri Prasta, dapat dikatakan Puja itu dilaksanakan oleh Sulinggih bersama Pemangku sedangkan Wali-nya dilaksanakan oleh welaka, ada Sekaa Gong, Pesantian, Topeng Sidakarya, tari Rejang lan Renteng itu yang dimaksud pujawali, dimana masyarakat laksanakan di hari yang baik ini.

Baca Juga  Mahasiswa UGM Kembangkan Detektor Neuropati Perifer Penderita Diabates

Sementara itu Manggala Karya I Wayan Suyasa, mewakili keluarga besar Kayu Selem seluruh Bali menghaturkan banyak terima kasih atas kehadiran Bupati Badung bersama para undangan lainnya. “Kami keluarga besar Kayu Selem sudah banyak dibantu untuk pembangunan di Pura Kayu Selem dari awal pembangunan diberikan bantuan sebesar Rp 3 miliar untuk pembangunan Pura Kayu Selem dan sekarang untuk melanjutkan pembangunan pura di jaba sisi juga kami dibantu dana Hibah Induk 2024 sebesar Rp 3,2 miliar. Sekali lagi saya mewakili keluarga besar Kayu Selem mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Badung Bapak Nyoman Giri Prasta,” ujarnya. (gs/bi)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Sekda Alit Wiradana Hadiri Puncak ‘’Karya Angasti Puja Atma Wedana’’ Griya Gede Telaga Tegal

Published

on

By

sekda alit wiradana
NGUPASAKSI: Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana saat menghadiri sekaligus ngupasaksi Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal Denpasar, Senin (8/4). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana menghadiri sekaligus ngupasaksi Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal Denpasar, Senin (8/4). Rangkaian puncak Karya diawali dengan Atetangi, Ngadegang Puspa Lingga, Mapurwa Daksina dan Stiti Puja.

Sejak pagi hari tampak silih berganti masyarakat yang ikut serta dalam upacara mendatangi lokasi upacara. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Camat Denpasar Barat, Ida Bagus Made Purwanasara, Panglingsir Griya dan Puri, serta undangan lainnya.

Pengrajeg Karya, Ida Bagus Ngurah Widasna didampingi Prawartaka Karya, Ida Bagus Witamaja, menjelaskan, rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal Denpasar ini telah berlangsung sejak tanggal 5 Januari lalu yang diawali dengan Matur Piuning Karya. Dilanjutkan dengan Upacara Nganam Daun Waringin pada tanggal 4 April.

Selanjutnya, pada tanggal 5 April dilaksanakan upacara Mepandes. Sedangkan puncak Karya dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kedasa pada 8 April. Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Pralina Puja dan Nganyut ke Segara pada tanggal 9 April. Sedangkan upacara Nyegara Gunung akan dilaksanakan di Segara Pantai Goa Lawah pada 11 April mendatang.

Lebih lanjut dijelaskan, secara keseluruhan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal diikuti oleh 304 pengiring sawa. Sedangkan untuk upacara mepandes diikuti oleh 179 peserta. Sehingga besar harapannya karya ini dapat berjalan lancar dan sesuai dengan harapan bersama.

Astungkara kita berharap seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan sesuai dengan harapan kita bersama,” ujarnya.

Sementara, Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana memberikan apresiasi atas pelaksanaan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal ini. Tentunya hal ini merupakan wujud sradha bhakti antara Griya atau Purahita dengan masyarakat atau Para. Sinergi ini tentu sangat baik dalam mewujudkan masyarakat Kota Denpasar yang paras paros sarpanaya dan sagilik, saguluk salunglung subayantaka sesuai dengan spirit Vasudhaiva Khutumbakam bahwa kita semua bersaudara.

Baca Juga  Mahasiswa UGM Kembangkan Detektor Neuropati Perifer Penderita Diabates

“Dengan pelaksanaan karya ini tentu kami berharap kedepannya dapat menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, begitupun manusia dengan alam lingkungan harus tetap dijaga sebagaimana mestinya sehingga kehidupan tetap harmonis,” ujar Alit Wiradana. (eka/bi)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca