BALI dijuluki pulau seribu pura, karena memang memiliki banyak pura yang diperkirakan berjumlah 12.000-an lebih. Namun dari seluruh pura yang berdiri di Bali, Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha yang berada di wilayah Banjar Pondok Desa Peguyangan Kaja Kecamatan Denpasar Timur Denpasar terbilang unik. Secara struktural pura ini berbeda dari pura-pura lainnya walaupun pola yang dipakai sudah begitu dikenal yakni pengider-ider dewata nawa sanga.
Untuk
mengenal lebih jauh keberadaan Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata
Nawa Sangha, baliilu menemui Jro Dewa
Niang Mangku yang sekaligus pengempon
tunggal pura yang diperkirakan dibuat sejak 10 keturunan nenek moyangnya atau
sekitar abad ke-17-18.
JRO DEWA NIANG MANGKU: Pengempon Tunggal Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari
Dari penuturan Jro Dewa Niang Mangku dan juga mengutip dari hasil penelitian Kajian Estetika Hindu yang dilakukan Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si dan Dr. Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar tahun 2019 perihal ‘’Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha’’, bahwa pura ini dibangun oleh leluhurnya Dewi Ibu sesuai yang tersurat di bancangah Dewa Manggis Kuning yang disimpan di pura. Disebutkan Dewa Alit dari Peraupan beristri dengan Jro Manoraga dari Kadua. Setelah medwijati bergelar Dewi Ibu.
DR. DRS. I NYOMAN LINGGIH, M.SI: Bersama Dr. Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag Meneliti Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha
Jro Dewa Niang Mangku menuturkan bahwa Jro Manoraga yang bergelar Dewi Ibu konon memiliki kelebihan dari manusia biasa. Memiliki kesaktian yaitu ketika hamil jika beliau merasa letih membawa kandungannya, ia dapat menitipkan anak kandungannya pada bunga teratai. Itu sebab di pura ini selalu ada bunga teratai sampai kini.
Setelah
putranya lahir keanehan kembali terlihat, dimana putranya lahir tanpa pusar.
Baik Jro Manoraga dan putranya keduanya sama-sama sakti, disegani orang-orang
dan mampu menyembuhkan orang dari berbagai macam penyakit. Dewi Ibu ini juga memiliki
jnana yang tinggi. Konon bisa pulang pergi
ke sorga. Apa yang dilihat di sorga lalu
dibuat di dunia. Maka, dibuatlah Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran
Dewata Nawa Sangha.
TAMPAK DEPAN: Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Beradadi Jalan Antasura Denpasar Tampak dari Depan
Pada saat membuat pura tersebut tidak dilakukan oleh manusia biasa melainkan para pengayah atau orang-orang yang datang membantu namun entah dari mana asalnya. Serempak datang pengayah dari rimur, selatan, barat, utara dan setiap sudut bersorak sorai. Lalu secara tak kasat mata Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari tiba-tiba selesai dibangun. Setelah wafat Dewi Ibu konon dikubur di jaba Pura Dalem Kahyangan dan setelah beberapa hari dibongkar kembali, jasadnya sudah tidak ada hanya tersisa kwangen dan diyakini Jro Manoraga yang bergelar Dewi Ibu ini moksa.
Secara
etimologis, seperti yang dituturkan Dr. Linggih, bahwa Catur Kanda Pat Sari Pengideran
Dewata Nawa Sangha berarti empat ajaran utama tentang atau untuk mencapai
kesaktian atau kemasyuran yang merupakan sinar suci dari sembilan dewata nawa sanga yang menduduki sembilan
penjuru mata angin.
Kanda pat lanjut Linggih merupakan salah satu
aliran spiritual dan kebhatinan yang berkembang di Bali yang di dalamnya
menguraikan berbagai teori tentang kehidupan manusia dari awal hingga akhir serta
kekuatan yang diberkahi dewa untuk melindungi manusia dari berbagai macam
gangguan.
PELINGGIH HYANG SIWA: Sebagai Sentral dari Pelinggih-pelinggih Dewata Nawa Sanga yang Ada
Dalam kanda pat sari disebutkan ada banyak intisari/kekuatan/daya dalam tubuh manusia yang harus mendapat perhatian yakni intisari yang perlu dihidupkan, dikembangkan karena sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ada kekuatan yang perlu dikendalikan karena kekuatan tersebut dapat merusak atau mendukung kehidupan manusia, ada intisari yang patut dilindungi karena dapat menentukan hidup-matinya manusia.
Intisari/kekuatan
atau daya dalam tubuh manusia itulah yang disebut sarining merta. Cara menghidupkan, mengembangkan, mengendalikan dan
melindungi sarining merta tersebut
yakni dengan meditasi yang diturunkan oleh Bhatara Siwa dan merupakan meditasi
khusus yang disebut meditasi sarining
merta agar dapat membuka, membangkitkan dan menghidupkan tirta amerta (panca tirtha) yang ada dalam diri
manusia.
PURA LUHUR CATUR KANDA PAT SARI: Asri, Dikelilingi Taman Dengan Pohon Teratai Berwarna-warni Sesuai Arah Mata Angin
Dalam prakteknya tirta amerta itu diposisikan di empat penjuru mata angin dan di tengah-tengah utama mandala pura sebagai pusatnya dan dilindungi oleh panca dewata. Tirta Kamandalu terletak di utara pada tetamanan Hyang Wisnu, Tirta Sanjiwani berada di timur pada tetamanan Hyang Iswara, Tirta Pawitra terletak di selatan pada tetamanan Hyang Brahma, Tirta Kundalini terletak di barat pada tetamanan Hyang Mahadewa dan Tirta Hamerta Kesuma terletak di tengah pada pelinggih Hyang Siwa. Konsep padma buana sebagai stana dewata nawa sanga dalam bentuk mikro diterapkan di Pura Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha.
Sesuai bancangah Dewa Manggis Kuning tersurat
bahwa sepuluh generasi di atas keluarga Jro Dewa Niang Mangku ialah Anak Agung Manggis
yang bersaudara dengan Anak Agung Manggis Dimade dan Anak Agung Manggis Rirangki.
Beberapa dekade terakhir pura ini diempon
dan disungsung oleh desa-desa yang berada
di sekitar pura. Namun kemudian pengempon
dan penyungsung-nya mulai menyusut
sampai akhirnya yang menjadi pengempon saat
ini hanyalah keluarga Jro Dewa Niang Mangku yang terdiri dari tiga orang.
Suaminya Dewa Made Suci dan putranya Dewa Rai Anom.
Berbagai
peristiwa keluarga membuat pura tidak terawat. Baru pada tahun 1995 pura direnovasi.
Renovasi kembali dilakukan tahun 2007 setelah mendapat perhatian dari penekun
spiritual dan mulai saat itu pula lingkungan pura ditata dan pelinggih dipugar sesuai keadaan aslinya.
Dari pengamatan
baliilu struktur pelinggih di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa
Sangha sebagai berikut. Pertama: pelinggih
Hyang Siwa yang berada tepat di tengah-tengah berbentuk bangunan sama sisi menghadap
ke empat penjuru mata angin dengan 7 tangga masing-masing sisinya.
PELINGGIH HYANG ISWARA: Berada di Sisi Timur Menghadap ke Pelinggih Hyang Siwa ke Barat
Kedua: pelinggih Hyang Iswara berbentuk padma capah, pada pelinggih ini terdapat 5 buah padma kecil serta di bagian depan terdapat arca Hyang Iswara. Pelinggih ini terdapat di bagian timur pelinggih Bhatara Siwa menghadap ke barat. Di belakang pelinggih Hyang Iswara terdapat pelinggih tetamanan berupa padmasari dan pengaruman. Ada 7 arca yang ditempatkan di masing-masing sudut dan di sebelah kanan pelinggih padmasari ada sebuah sumur kecil sebagai tempat memohon tirta yang disebut Tirta Sanjiwani. Areal pelinggih tetamanan dikelilingi kolam lengkap dengan teratai putih. Di luar kolam terdapat perantenan.
PELINGGIH HYANG ISWARA TAMPAK BELAKANG: Pelinggih Hyang Iswara Tampak dari Belakang, Ada Pelinggih Tetamanan
Ketiga: pelinggih Hyang Maheswara berada di sudut tenggara yang berbentuk dugul tumpang 8.
PELINGGIH BRAHMA: Berada di Sisi Selatan Menghadap ke Pelinggiuh Hyang Siwa ke Utara
Keempat: pelinggih Hyang Brahma yang berada di sisi selatan menghadap ke pelinggih Hyang Siwa. Pelinggih berbentuk padma capah dengan 9 padma kecil di depannya ada arca Hyang Brahma. Di areal tetamanan ini juga ada sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Kamandalu. Di luar areal bagian belakang ada perantenan.
PELINGGIH TETAMANAN HYANG BRAHMA: Menghadap ke Selatan
Kelima: pelinggih Hyang Rudra berada di posisi barat daya berbentuk pelinggih dugul tupang 3.
PELINGGIH HYANG MAHADEWA; Berada di Sisi Barat Menghadap Ke Pelinggih Hyang Siwa
Keenam: pelinggih Hyang Mahadewa terletak di sisi barat menghadap ke timur ke pelinggih Hyang Siwa berbentuk padma capah, terdapat 7 buah padma kecil di depannya ada arca Hyang Mahadewa. Di areal pelinggihtetamanan terdapat sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Kundalini. Di bagian belakang di luar areal tetamanan terdapat perantenan.
PELINGGIH TETAMANAN HYANG MAHADEWA: Menghadap ke Arah Barat
Ketujuh: pelinggih Hyang Sangkara terdapat di sudut barat laut berupa pelinggih dugul tumpang tiga menghadap ke tenggara.
PELINGGIH HYANG WISNU: Berada di Sisi Utara Pelinggih Menghadap Ke Arah Pelinggih Hyang Siwa
Kedelapan: pelinggih Hyang Wisnu berada di sisi utara menghadap ke selatan berbentuk padma capah dengan 4 buah padma kecil di depannya terdapat arca Hyang Wisnu. Di areal pelinggihtetamanan terdapat sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Pawitra. Di bagian belakang di luar areal tetamanan terdapat perantenan.
PELINGGIH TETAMANAN HYANG WISNU: Pelinggih Menghadap ke Arah Utara
Kesembilan: pelinggih Hyang Sambu terletak di sisi timur laut menghadap ke barat daya berupa pelinggih dugul tumpang 6.
PELINGGIH RATU AYU MAS MEKETEL: Pelinggih Ratu Ayu Mas Meketel Saat Upacara di Pura Luhur
Selain sembilan pelinggih utama terdapat pelinggih Ratu Ayu Mas Meketel yang berada di antara pelinggih Hyang Wisnu dan Hyang Sambu berupa piasan saka pat menghadap ke selatan. Pelinggih ini difungsikan sebagai tempat dilinggihkannya Ida Sesuhunan Ratu Ayu Mas Meketel berupa rangda ketika lunga saat upacara piodalan.
PELINGGIH RATU KIDUL DAN DEWI KWAM IM: Berada di Sisi Paling Selatan
Pelinggih tambahan yang belum lama dibangun yakni pelinggih Ratu Kidul dan pelinggih Dewi Kwam Im yang berada di sisi paling selatan menghadap ke utara. *balu01
HADIRI METATAH MASSAL: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Desa Dangin Puri Kaja di Pura Agung Lokanatha, Rabu (19/8). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, menghadiri pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Desa Dangin Puri Kaja di Pura Agung Lokanatha, Rabu (19/8). Kegiatan ini diikuti sebanyak 42 peserta dan menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam melaksanakan salah satu rangkaian upacara Manusa Yadnya.
Kehadiran Wakil Walikota Denpasar dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelaksanaan kegiatan adat dan keagamaan masyarakat, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.
Metatah atau Mepandes merupakan salah satu upacara penting dalam kehidupan umat Hindu di Bali. Pelaksanaan secara massal juga dinilai dapat membantu meringankan beban masyarakat, karena berbagai kebutuhan upacara dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan semangat kebersamaan.
Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, mengapresiasi pelaksanaan Metatah Massal tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan rasa kebersamaan antarwarga.
“Pelaksanaan Metatah Massal ini merupakan bentuk nyata semangat gotong-royong masyarakat. Selain membantu meringankan beban, kegiatan bersama seperti ini juga menjadi bagian penting dalam menjaga dan melestarikan adat, budaya serta tradisi Bali,” ujarnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Dangin Puri Kaja, A.A.N. Gede Cahyadi, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak sehingga pelaksanaan Metatah Massal dapat berjalan dengan baik.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta dan keluarga, serta semakin memperkuat kebersamaan masyarakat Desa Dangin Puri Kaja.
“Dengan dilaksanakannya Metatah Massal ini, diharapkan tradisi dan nilai-nilai luhur masyarakat Bali dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus menjadi wadah memperkuat persatuan dan gotong-royong di tengah masyarakat,” harapnya. (eka/bi)
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri Karya Agung Memungkah, Ngenteg Linggih, Mapududusan Agung, Menawa Ratna, Nubung Pedagingan, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Mendasar Tawur Agung Labuh Gentuh di Pura Desa lan Pura Puseh Adat Adnyasari Desa Adat Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, pada Kamis (Wraspati Paing, Tambir) 13 Agustus 2026 malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta melakukan penandatanganan prasasti Karya Agung Memungkah, Ngenteg Linggih, Mapududusan Agung, Menawa Ratna, Nubung Pedagingan, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Mendasar Tawur Agung Labuh Gentuh di Pura Desa lan Pura Puseh Adat Adnyasari Desa Adat Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
Penandatanganan Prasasti yang dilakukan Wagub Giri Prasta disaksikan langsung oleh Ida Pedanda Kawi Sunia, Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna, Perbekel, Bendesa dan Krama Desa Adat Ekasari pada, Kamis (Wraspati Paing, Tambir) 13 Agustus 2026 malam.
Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta dalam kesempatannya mengajak seluruh krama Desa Adat Ekasari untuk selalu guyub dalam menjalankan swadharma agama dan adat, seni budaya Bali. Giri Prasta juga mengingatkan agar seluruh masyarakat di Desa Adat untuk senantiasa menjaga kelestarian adat istiadat, tradisi, seni budaya Bali. boleh maju, tetapi dengan kemajuan Desa Adat Ekasari jangan sampai mengerus akar adat dan budaya Bali.
“Titiang nyaksi, ida danekrama sami sampun ngemargiang pemargi Karya Agung puniki. Astungkara memargi antar, sida – sidaning don lan nemu labda karya,” doa Wakil Gubernur Bali asal Desa Pelaga, Kabupaten Badung ini sembari menghaturkan punia sebesar Rp 25 juta ke Manggala Prawartaka Karya, Kadek Darta.
Sebagai bentuk apresiasi Wagub Nyoman Giri Prasta terhadap pelestarian seni budaya Bali di Desa Adat Ekasari, mantan Bupati Badung 2 periode ini juga menghaturkan dana motivasi senilai Rp 5 juta masing – masing kepada Sekaa Baleganjur, Sekaa Tari Rejang Dewa, Sekaa Gong Kebyar Sadnyasari dan Sekaa Gong Kebyar Adnyasari. “Matur Suksma Bapak Wakil Gubernur Bali,” ucap seluruh perwakilan sekaa sembari berfoto bersama.
Di akhir sambrama wacananya, Wakil Gubernur Bali mengingatkan seluruh tokoh masyarakat dan krama adat setempat untuk tetap menjaga kelestarian adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Kata Giri, Desa Adat Ekasari boleh maju, tetapi dengan kemajuan Desa Adat ini, jangan sampai mengerus akar adat dan budaya Bali. “Setuju?,” tanya Wagub Bali dihadapan masyarakat, yang langsung dijawab serentak dengan nada setuju.
Terakhir di sektor ekonomi, Wagub Giri meminta pelestarian Taman Gumi Banten harus kita wujudkan secara bergotong-royong, tujuannya agar semua bahan upakara adat dan agama Hindu di Bali pada umumnya, atau Kabupaten Jembrana pada khususnya bisa didatangkan dari wilayah Desa Adat kita masing-masing atau tidak dari luar wilayah.
“Saya sudah berbicara dengan Bupati dan Wakil Bupati Jembrana, agar mengajak masyarakat melestarikan Taman Gumi Banten, di saat ada upacara semua bahan upakara seperti busung bisa kita datangkan dari taman ini langsung, agar Kabupaten Jembrana Berdikari secara Ekonomi,” jelasnya.
Sementara Manggala Prawartaka Karya, Kadek Darta melaporkan Karya Agung Memungkah, Ngenteg Linggih, Mapududusan Agung, Menawa Ratna, Nubung Pedagingan, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Mendasar Tawur Agung Labuh Gentuh ini sudah kita siapkan pelaksanaannya sejak tanggal 31 Mei 2026 lalu. Karya ini digelar selama 30 tahun, dan sebelum terlaksananya Karya Agung tersebut, kami pada tahun 2024 sangat dibantu oleh program Bapak Nyoman Giri Prasta sewaktu menjabat sebagai Bupati Badung, dengan adanya program pembangunan atau revitalisasi Pura.
“Suksma Bapak Wakil Gubernur Bali atas bantuannya, demogi Ida Bhatara mapaice kerahayuan. Saking sayangnya Bapak Nyoman Giri Prasta ring Krama Desa Adat Ekasari, malam ini beliau meluangkan waktunya menghadiri uleman puncak karya ini, sekali lagi matur suksma,” ujar Manggala Prawartaka Karya sembari menyampaikan Pura Desa lan Pura Puseh Adat Adnyasari ini diempon oleh 5 Banjar Adat dengan jumlah mencapai 600 KK. Untuk mensukseskan Karya Agung ini, setiap krama bergotong-royong mengeluarkan rezekinya senilai Rp 1.500.000, dan ada juga bantuan punia dari warga yang merantau di luar Desa Adat. (gs/bi)
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri “Karya Mamungkah Ngenteg Linggih lan Ngusaba Desa Padudusan Agung Menawa Ratna lan Tawur Manca Rupa Wrespati Kalpa” di Pura Desa lan Pura Puseh Desa Adat Delodbrawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Kamis (Wraspati Paing, Tambir), 13 Agustus 2026. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak seluruh krama Desa Adat Delodbrawah untuk masikian dalam menjalankan swadharma agama serta melestarikan adat dan budaya Bali.
Pesan persatuan tersebut disampaikan Wagub Giri Prasta saat menghadiri Karya Mamungkah Ngenteg Linggih lan Ngusaba Desa Padudusan Agung Menawa Ratna lan Tawur Manca Rupa Wrespati Kalpa di Pura Desa lan Pura Puseh Desa Adat Delodbrawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Kamis (Wraspati Paing, Tambir), 13 Agustus 2026.
Wagub Giri Prasta yang hadir didampingi Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dan Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna turut mendoakan agar pelaksanaan Karya Mamungkah Ngenteg Linggih lan Ngusaba Desa tersebut prasida memargi antar, sida-sidaning don lan nemu labda karya.
“Titiang merasa bangga atas terlaksananya karya ini. Semoga krama Desa Adat Delodbrawah senantiasa sagilik saguluk, salunglung sabayantaka, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” ujar Wagub Giri Prasta.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta juga menghaturkan punia senilai Rp 25 juta yang diterima Manggala Prawartaka Karya I Ketut Narya. Selain itu, Wagub Giri Prasta menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 5 juta kepada sekaa gamelan jegog serta masing-masing Rp 500 ribu kepada para penari.
Wakil Gubernur Bali asal Desa Pelaga, Kabupaten Badung, tersebut menegaskan bahwa upacara yang diselenggarakan merupakan wujud bhakti seluruh krama kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di Pura Desa lan Pura Puseh Desa Adat Delodbrawah.
“Jadi, apa yang sudah baik ini agar terus dilestarikan supaya generasi penerus kita, oka-oka atau anak-anak, alit-alit, hingga cucu, menjadikannya sebagai landasan dalam menjalankan swadharma di desa adat agar berjalan dengan baik,” jelas mantan Bupati Badung dua periode tersebut.
Sementara itu, Manggala Prawartaka Karya I Ketut Narya menyampaikan bahwa rangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih lan Ngusaba Desa Padudusan Agung Menawa Ratna lan Tawur Manca Rupa Wrespati Kalpa di Pura Desa lan Pura Puseh Desa Adat Delodbrawah telah dimulai sejak 31 Juli 2026. Puncak karya berlangsung pada 11 Agustus 2026, sedangkan seluruh rangkaian upacara dijadwalkan berakhir pada 15 Agustus 2026.
“Karya ini kami selenggarakan dengan tujuan menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa di Pura Desa lan Pura Puseh sekaligus sebagai pengikat keharmonisan alam beserta isinya secara niskala dan sekala di desa adat, dengan doa agar seluruh krama dianugerahi keamanan dan kesejahteraan,” ujar I Ketut Narya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta dalam pelaksanaan karya tersebut.
“Kedatangan Bapak Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta pada upacara ini merupakan kehormatan bagi kami semua. Kehadiran ini merupakan bentuk kepedulian nyata Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Jembrana terhadap kelestarian adat dan budaya Bali yang telah menjadi jati diri desa adat,” ujarnya. (gs/bi)