Tuesday, 5 March 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Peguyangan Denpasar: Tempat Jalan Hidupkan Daya Dalam Tubuh

BALIILU Tayang

:

de
PELINGGIH HYANG SIWA: Posisi di Tengah-tengah Menghadap ke Empat Punjuru Mata Angin

BALI dijuluki pulau seribu pura, karena memang memiliki banyak pura yang diperkirakan berjumlah 12.000-an lebih. Namun dari seluruh pura yang berdiri di Bali, Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha yang berada di wilayah Banjar Pondok Desa Peguyangan  Kaja Kecamatan Denpasar Timur Denpasar terbilang unik. Secara struktural pura ini berbeda dari pura-pura lainnya walaupun pola yang dipakai sudah begitu dikenal yakni pengider-ider dewata nawa sanga.

Untuk mengenal lebih jauh keberadaan Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha, baliilu menemui Jro Dewa Niang Mangku yang sekaligus pengempon tunggal pura yang diperkirakan dibuat sejak 10 keturunan nenek moyangnya atau sekitar abad ke-17-18. 

de
JRO DEWA NIANG MANGKU: Pengempon Tunggal Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari

Dari penuturan Jro Dewa Niang Mangku dan juga mengutip dari hasil penelitian Kajian Estetika Hindu yang dilakukan Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si dan Dr. Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar tahun 2019 perihal ‘’Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha’’, bahwa pura ini dibangun oleh leluhurnya  Dewi Ibu sesuai yang tersurat di bancangah Dewa Manggis Kuning yang disimpan di pura. Disebutkan Dewa Alit dari Peraupan beristri dengan Jro Manoraga dari Kadua. Setelah medwijati bergelar Dewi Ibu.

de
DR. DRS. I NYOMAN LINGGIH, M.SI: Bersama Dr. Ketut Wisnawa, S.Sn, M. Ag Meneliti Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha

Jro Dewa Niang Mangku menuturkan bahwa Jro Manoraga yang bergelar Dewi Ibu konon memiliki kelebihan dari manusia biasa. Memiliki kesaktian yaitu ketika hamil jika beliau merasa letih membawa kandungannya, ia dapat menitipkan anak kandungannya pada bunga teratai. Itu sebab di pura ini selalu ada bunga teratai sampai kini.

Setelah putranya lahir keanehan kembali terlihat, dimana putranya lahir tanpa pusar. Baik Jro Manoraga dan putranya keduanya sama-sama sakti, disegani orang-orang dan mampu menyembuhkan orang dari berbagai macam penyakit. Dewi Ibu ini juga memiliki jnana yang tinggi. Konon bisa pulang pergi ke sorga. Apa yang dilihat di sorga  lalu dibuat di dunia. Maka, dibuatlah Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha.

Baca Juga  KPPG dan Satgas Covid-19 Partai Golkar Bantu Sembako Warga Pasek-Bali
de
TAMPAK DEPAN: Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Beradadi Jalan Antasura Denpasar Tampak dari Depan

Pada saat membuat pura tersebut tidak dilakukan oleh manusia biasa melainkan para pengayah atau orang-orang yang datang membantu namun entah dari mana asalnya. Serempak datang pengayah dari rimur, selatan, barat, utara dan setiap sudut bersorak sorai. Lalu secara tak kasat mata Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari tiba-tiba selesai dibangun. Setelah wafat Dewi Ibu konon dikubur di jaba Pura Dalem Kahyangan dan setelah beberapa hari dibongkar kembali, jasadnya sudah tidak ada hanya tersisa kwangen dan diyakini Jro Manoraga yang bergelar Dewi Ibu ini moksa.

Secara etimologis, seperti yang dituturkan Dr. Linggih, bahwa Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha berarti empat ajaran utama tentang atau untuk mencapai kesaktian atau kemasyuran yang merupakan sinar suci dari sembilan dewata nawa sanga yang menduduki sembilan penjuru mata angin.

Kanda pat lanjut Linggih merupakan salah satu aliran spiritual dan kebhatinan yang berkembang di Bali yang di dalamnya menguraikan berbagai teori tentang kehidupan manusia dari awal hingga akhir serta kekuatan yang diberkahi dewa untuk melindungi manusia dari berbagai macam gangguan.

de
PELINGGIH HYANG SIWA: Sebagai Sentral dari Pelinggih-pelinggih Dewata Nawa Sanga yang Ada

Dalam kanda pat sari disebutkan ada banyak intisari/kekuatan/daya dalam tubuh manusia yang harus mendapat perhatian yakni intisari yang perlu dihidupkan, dikembangkan karena sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ada kekuatan yang perlu dikendalikan karena kekuatan tersebut dapat merusak atau mendukung kehidupan manusia, ada intisari yang patut dilindungi karena dapat menentukan hidup-matinya manusia.

Intisari/kekuatan atau daya dalam tubuh manusia itulah yang disebut sarining merta. Cara menghidupkan, mengembangkan, mengendalikan dan melindungi sarining merta tersebut yakni dengan meditasi yang diturunkan oleh Bhatara Siwa dan merupakan meditasi khusus yang disebut meditasi sarining merta agar dapat membuka, membangkitkan dan menghidupkan tirta amerta (panca tirtha) yang ada dalam diri manusia.

de
PURA LUHUR CATUR KANDA PAT SARI: Asri, Dikelilingi Taman Dengan Pohon Teratai Berwarna-warni Sesuai Arah Mata Angin

Dalam prakteknya tirta amerta itu diposisikan di empat penjuru mata angin dan di tengah-tengah utama mandala pura sebagai pusatnya dan dilindungi oleh panca dewata. Tirta Kamandalu terletak di utara pada tetamanan Hyang Wisnu, Tirta Sanjiwani berada di timur pada tetamanan Hyang Iswara, Tirta Pawitra terletak di selatan pada tetamanan Hyang Brahma, Tirta Kundalini terletak di barat pada tetamanan Hyang Mahadewa dan Tirta Hamerta Kesuma terletak di tengah pada pelinggih Hyang Siwa. Konsep padma buana sebagai stana dewata nawa sanga dalam bentuk mikro diterapkan di Pura Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha.

Baca Juga  Bantuan Sembako Kemensos, Ny. Putri Koster Berharap dapat Berikan Semangat Masyarakat Bangkit dari Keterpurukan

Sesuai bancangah Dewa Manggis Kuning tersurat bahwa sepuluh generasi di atas keluarga Jro Dewa Niang Mangku ialah Anak Agung Manggis yang bersaudara dengan Anak Agung Manggis Dimade dan Anak Agung Manggis Rirangki. Beberapa dekade terakhir pura ini diempon dan disungsung oleh desa-desa yang berada di sekitar pura. Namun kemudian pengempon dan penyungsung-nya mulai menyusut sampai akhirnya yang menjadi pengempon saat ini hanyalah keluarga Jro Dewa Niang Mangku yang terdiri dari tiga orang. Suaminya Dewa Made Suci dan putranya Dewa Rai Anom.

Berbagai peristiwa keluarga membuat pura tidak terawat. Baru pada tahun 1995 pura direnovasi. Renovasi kembali dilakukan tahun 2007 setelah mendapat perhatian dari penekun spiritual dan mulai saat itu pula lingkungan pura ditata dan pelinggih dipugar sesuai keadaan aslinya.

Dari pengamatan baliilu struktur pelinggih di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sangha sebagai berikut. Pertama: pelinggih Hyang Siwa yang berada tepat di tengah-tengah berbentuk bangunan sama sisi menghadap ke empat penjuru mata angin dengan 7 tangga masing-masing sisinya.

de
PELINGGIH HYANG ISWARA: Berada di Sisi Timur Menghadap ke Pelinggih Hyang Siwa ke Barat

Kedua: pelinggih Hyang Iswara  berbentuk padma capah, pada pelinggih ini terdapat 5 buah padma kecil serta di bagian depan terdapat arca Hyang Iswara. Pelinggih ini terdapat di bagian timur pelinggih Bhatara Siwa menghadap ke barat. Di belakang pelinggih Hyang Iswara terdapat pelinggih tetamanan berupa padmasari dan pengaruman. Ada 7 arca yang ditempatkan di masing-masing sudut dan di sebelah kanan pelinggih padmasari ada sebuah sumur kecil  sebagai tempat memohon tirta yang disebut Tirta Sanjiwani. Areal pelinggih tetamanan dikelilingi kolam lengkap dengan teratai putih. Di luar kolam terdapat perantenan.

de
PELINGGIH HYANG ISWARA TAMPAK BELAKANG: Pelinggih Hyang Iswara Tampak dari Belakang, Ada Pelinggih Tetamanan

Ketiga: pelinggih Hyang Maheswara berada di sudut tenggara yang berbentuk dugul tumpang 8.

Baca Juga  Kasatgas Covid-19 Dewa Indra: Kata Kunci Menangkan Perang Melawan Covid-19 adalah Ketaatan dan Kedisiplinan
de
PELINGGIH BRAHMA: Berada di Sisi Selatan Menghadap ke Pelinggiuh Hyang Siwa ke Utara

Keempat: pelinggih Hyang Brahma yang berada di sisi selatan menghadap ke pelinggih Hyang Siwa. Pelinggih berbentuk padma capah dengan 9 padma kecil di depannya ada arca Hyang Brahma. Di areal tetamanan ini juga ada sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Kamandalu. Di luar areal bagian belakang ada perantenan.

de
PELINGGIH TETAMANAN HYANG BRAHMA: Menghadap ke Selatan

Kelima: pelinggih Hyang Rudra berada di posisi barat daya berbentuk pelinggih dugul tupang 3.

de
PELINGGIH HYANG MAHADEWA; Berada di Sisi Barat Menghadap Ke Pelinggih Hyang Siwa

Keenam: pelinggih Hyang Mahadewa terletak di sisi barat menghadap ke timur ke pelinggih Hyang Siwa  berbentuk padma capah, terdapat 7 buah padma kecil di depannya ada arca Hyang Mahadewa. Di areal pelinggih tetamanan terdapat sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Kundalini. Di bagian belakang di luar areal tetamanan terdapat perantenan.

de
PELINGGIH TETAMANAN HYANG MAHADEWA: Menghadap ke Arah Barat

Ketujuh: pelinggih Hyang Sangkara terdapat di sudut barat laut berupa pelinggih dugul tumpang tiga menghadap ke tenggara.

de
PELINGGIH HYANG WISNU: Berada di Sisi Utara Pelinggih Menghadap Ke Arah Pelinggih Hyang Siwa

Kedelapan: pelinggih Hyang Wisnu berada di sisi utara menghadap ke selatan berbentuk padma capah dengan 4 buah padma kecil di depannya terdapat arca Hyang Wisnu. Di areal pelinggih tetamanan terdapat sumur kecil sebagai tempat memohon Tirta Pawitra. Di bagian belakang di luar areal tetamanan terdapat perantenan.

de
PELINGGIH TETAMANAN HYANG WISNU: Pelinggih Menghadap ke Arah Utara

Kesembilan: pelinggih Hyang Sambu terletak di sisi timur laut menghadap ke barat daya berupa pelinggih dugul tumpang 6.

de
PELINGGIH RATU AYU MAS MEKETEL: Pelinggih Ratu Ayu Mas Meketel Saat Upacara di Pura Luhur

Selain sembilan pelinggih utama terdapat pelinggih Ratu Ayu Mas Meketel yang berada di antara pelinggih Hyang Wisnu dan Hyang Sambu  berupa piasan saka pat menghadap ke selatan. Pelinggih ini difungsikan sebagai tempat dilinggihkannya Ida Sesuhunan Ratu  Ayu Mas Meketel berupa rangda ketika lunga saat upacara piodalan.

de
PELINGGIH RATU KIDUL DAN DEWI KWAM IM: Berada di Sisi Paling Selatan

Pelinggih tambahan yang belum lama dibangun yakni pelinggih Ratu Kidul dan pelinggih Dewi Kwam Im yang berada di sisi paling selatan menghadap ke utara. *balu01

galungan
Advertisements
galungan dprd badung
Advertisements
galungan dprd bali
Advertisements
pln ucapan
Advertisements
stikom
Advertisements
pemprov bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Kantor Pusat UNESCO Paris Gelar Kegiatan Mengusung Penguatan Ekosistem Film di Indonesia 

Published

on

By

UNESCO Convention di paris
Kegiatan talkshow di acara Intergovermental Committee for the UNESCO 2005 Convention, Paris, Prancis. (Foto: kemdikbud.go.id)

Paris, Prancis, baliilu.com – Indonesia mengadakan serangkaian acara sampingan di Kantor Pusat UNESCO Paris, Prancis, untuk memperkenalkan dan memperluas pengaruh budaya Indonesia di dunia. Kegiatan yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan ini, bertujuan untuk memperkuat ekosistem film dan mendukung kebebasan artistik di Indonesia.

Dalam sela-sela sesi ke-17 Intergovermental Committee for the UNESCO 2005 Convention, berbagai acara seperti gelaran wicara, pemutaran film pendek, dan pameran poster yang dilaksanakan dengan tema besar Empowering Artistic Freedom in Indonesia.

Acara tersebut menampilkan panelis terkemuka seperti Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk UNESCO, Ismunandar; Perwakilan dari Koalisi Seni Indonesia, Hafez Gumay; dan sutradara ternama Riri Riza. Mereka membahas pentingnya dukungan pemerintah terhadap kebebasan artistik serta peran Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan nomor 5 tahun 2017 dalam memajukan film sebagai praktik budaya.

Selain itu, pameran poster dan pemutaran film pendek, seperti “Ride to Nowhere” dan “Membicarakan Kejujuran Diana”, serta cocktail recognition yang menampilkan hidangan khas Indonesia dan minuman herbal tradisional, jamu, juga menyemarakkan kegiatan ini, dan menarik perhatian pelajar Indonesia dan Prancis serta diaspora Indonesia yang hadir.

Dubes RI untuk Prancis, serta Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menyampaikan pentingnya kebebasan artistik dalam mendorong dialog dan membentuk tatanan masyarakat. “Melalui side event ini diharapkan dapat menampilkan secara singkat perjalanan ruang eksplorasi dan persimpangan dinamis antara kreativitas, keragaman, dan kebebasan ekspresi budaya dalam konteks Indonesia,” jelas Dubes Oemar saat membuka talkshow dan pemutaran film pendek, pada Selasa (27/2) yang dikutip dari laman kemdikbud.go.id.

Baca Juga  KPPG dan Satgas Covid-19 Partai Golkar Bantu Sembako Warga Pasek-Bali

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 150 peserta, termasuk delegasi dari sidang ke-17 Intergovermental Committee for the UNESCO 2005 Convention dan delegasi negara anggota UNESCO di Paris. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan budayanya kepada dunia internasional dan memperkuat kerja sama dalam bidang budaya. (gs/bi)

galungan
Advertisements
galungan dprd badung
Advertisements
galungan dprd bali
Advertisements
pln ucapan
Advertisements
stikom
Advertisements
pemprov bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

‘‘Karya Ngenteg Linggih‘‘ di Gedung Mako Polres Bandara Ngurah Rai

Published

on

By

polres bandara ngurah rai
KARYA NGENTEG LINGGIH: Wabup Ketut Suiasa saat menghadiri Karya Ngenteg Linggih dan Piodalan di Gedung Mako Polres Bandara I Gusti Ngurah Rai, Sabtu (24/2). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Markas Komando (Mako) Polres Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, melangsungkan serangkaian upacara Ngenteg Linggih, Pecaruan Rsi Gana, Pedudusan Alit, Melaspas, dan Piodalan Purnama Kesanga. Upacara adat tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Badung, Ketut Suiasa, menandai komitmen spiritual dalam menjaga harmoni dan keseimbangan di kawasan strategis ini.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakapolres Bandara IGN Rai Kompol I Ketut Darta, perwakilan dari Angkasa Pura, Otoritas Bandara, Bea Cukai, Imigrasi, dan Lanud, serta seluruh jajaran anggota Polres Bandara IGN Rai.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa, menekankan pentingnya pembangunan Gedung Mako Polres Kawasan I Gusti Ngurah Rai yang telah dianggarkan dari dana belanja hibah Pemkab Badung sebesar Rp. 20,3 miliar lebih pada perubahan tahun anggaran 2023. Pembangunan ini merupakan bentuk dukungan dan komitmen Pemkab Badung dalam mendukung kepolisian bandara dan jajarannya agar dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

“Dengan adanya Gedung Mako Polres Kawasan Bandara yang baru diharapkan mampu meningkatkan kinerja kepolisian yang presisi terkhusus kepolisian di kawasan bandara,” ungkap Wabup Suiasa pada Sabtu (24/2).

Wabup Suiasa juga menambahkan bahwa keberadaan fasilitas representatif ini diharapkan dapat mendukung pelayanan kepada masyarakat, memberikan rasa aman dan nyaman, terutama di Kabupaten Badung yang merupakan kawasan pariwisata utama.

“Tentunya harapan ke depan dengan adanya fasilitas yang representatif ini dapat mendukung pelayanan kepada masyarakat sehingga dapat memberikan layanan yang maksimal. Ini merupakan tanggung jawab kita semua memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat, terkhususnya di Badung. Sebab Kabupaten Badung merupakan kawasan pariwisata, maka rasa aman merupakan hukum wajib yang harus dilaksanakan,” pungkasnya. (gs/bi)

Baca Juga  Soal Privat Party Ekspatriat, Begini Kronologi Kejadiannya

galungan
Advertisements
galungan dprd badung
Advertisements
galungan dprd bali
Advertisements
pln ucapan
Advertisements
stikom
Advertisements
pemprov bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wabup Suiasa Hadiri Upacara ‘’Melaspas’’ di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Padonan

Published

on

By

wabup suiasa
MELASPAS: Wabup Ketut Suiasa saat menghadiri upacara Melaspas, Mendem Pedagingan dan Ngelinggihang Ida Betara Pura Desa dan Pura Puseh, Desa Adat Padonan, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Sabtu (24/2). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa menghadiri upacara Melaspas, Mendem Pedagingan dan Ngelinggihang Ida Betara Pura Desa dan Pura Puseh, Desa Adat Padonan, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Sabtu (24/2).

Turut hadir dalam kesempatan ini Camat Kuta Utara I Putu Eka Permana serta unsur Tripika Kecamatan Kuta Utara, Perbekel Desa Tibubeneng I Made Kamajaya, Kelian Dinas se-Desa Tibubeneng, Bendesa Adat se-Desa Tibubeneng serta masyarakat setempat.

Upacara Melaspas, di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Padonan dipuput oleh Ida Peranda Gede Putra Arsa Manuaba Griya Gede Mayun Babakan. Upacara ini terlaksana setelah rampungnya pembangunan Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Padonan yang dibantu dana hibah induk tahun 2023 sebesar Rp. 6,7 miliar.

Dalam sembrama wacananya Wabup Ketut Suiasa menyampaikan rasa syukur dan bahagia bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Padoman serta bisa ikut ngastiti bakti dalam upacara Melaspas, Mendem Pedagingan serta Ngelinggihang di Pura Desa dan Pura Puseh Padonan ini. Wabup mengatakan bahwa kehadiran Pemerintah di tengah-tengah masyarakat tidak lain untuk meringankan beban masyarakat seperti membantu pembangunan Pura Desa dan Pura Puseh.

“Ini sudah menjadi komitmen saya selaku Wakil Bupati bersama Bapak Bupati Badung untuk selalu hadir di tengah-tengah masyarakat krama Badung sendiri seperti saat ini, saat masyarakat Desa Adat Padonan melaksanakan upacara melaspas lan ngelinggihang. Semoga Ida Bhatara sesuhunan mapaica wara nugraha ring jagad sami, serta diberi kerahayuan dan kelancaran dalam melaksanakan upacara ini dan juga masyarakat semua agar segilik, seguluk, selulung sebayantaka nyujur jagad gemah ripah loh jinawi,” ucap Wabup Suiasa.

Baca Juga  PENGUMUMAN TIM SELEKSI CALON ANGGOTA KOMISI INFORMASI PROVINSI BALI MASA JABATAN 2020-2024

Sementara itu Bendesa Adat Padonan I Gede Mitarja, menyampaikan banyak terimakasih atas kehadiran Bapak Wakil Bupati Badung bersama undangan lainnya sudah bersedia hadir nodia karya Melaspas, Mendem Pedagingan lan Ngelinggihang ring Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Padonan. Dalam kesempatan yang baik ini, mewakili masyarakat Desa Adat Padonan menyampaikan ucapan terimakasih kepada Nayaka Praja Kabupaten Badung bersama jajaran berkat bantuan Pemerintah Kabupaten Badung, masyarakat Desa Adat Padonan bisa membangun Pura Desa lan Pura Puseh yang bagus seperti ini.

“Kami mewakili masyarakat tidak henti-henti mengucapkan banyak terimakasih dan juga kami sampaikan kehadapan Bapak Wakil Bupati bersama undangan lainnya,” ujarnya. (gs/bi)

galungan
Advertisements
galungan dprd badung
Advertisements
galungan dprd bali
Advertisements
pln ucapan
Advertisements
stikom
Advertisements
pemprov bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca