Brosur-brosur
kepariwisataan mencitrakan: Bali begitu identik dengan tari Cak. Tapi amat
sedikit yang paham, Cak lahir dari
lelaki kukuh bernama I Wayan Limbak dari Desa Bedulu Gianyar.
SUATU senja April 2003 di bawah naungan pohon leci rindang,
angkul-angkul pekarangan rumah itu tertutup rapat. Penulis datang
mengetuk-ngetuk daun pintu kayu beberapa kali. Pada ketukan terakhir, bukan
sapaan orang menyahut melainkan gonggongan anjing menyalak. Baru kemudian ada
anak muda terburu-buru membukakan pintu, menyilakan kami masuk.
Toh kami tak serta merta merasa tenang. Enam anjing merubung
kaki kami, meskipun tiada satu pun yang menggigit. Dari jarak dekat mereka
menyalak kencang, lalu perlahan mengendur. Inilah ‘’upacara sapaan’’ barangkali
bagi tetamu asing yang hendak berkunjung ke rumah dengan seluruh bangunan
bergaya Bali itu. Setelah kami berdiri di natah (halaman) rumah, anjing-anjing
itu sontak jinak, melengos manja. Ekornya kutal-kutil
memberi isyarat bersahabat. Lamat-lamat lagu ‘si unyil’ dilantunkan burung Koak
Kaok, Lombok dari sangkarnya di depan bale
delod (selatan).
Gaya bangunan itu terlihat kukuh mempertahankan tradisi
Bali. Sanggah-sanggah kuna berukir, ada bale
daje di sisi utara, bale gede (tiang
12) di sisi timur, bale dauh di sisi
barat dan rumah tinggal di sisi selatan, dapur berada di sisi tenggara berjejer
dengan rumah tinggal di sisi selatan.
Seorang kakek hanya berselempang handuk, tanpa baju, duduk
di kursi di samping pintu dapur, kakek itu tidak menghiraukan gonggongan
anjing-anjing ras peking dan Kintamani tadi. Tangannya sibuk menggaruk-garuk
sekujur tubuhnya. Dari kepala, tangan, dada, punggung, sampai ke kaki. Lelaki
renta itulah I Wayan Limbak, pencipta tari Cak asal Banjar Marga Bingung Desa Bedulu
Blahbatuh Gianyar. ‘’Kak anggo bajune,
ada tamu!’’ tegur menantunya dengan suara meninggi, menyuruh mertuanya
memakai baju.
I WAYAN LIMBAK: Di bangunan bale dauh dimana Krisman menginap. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)
Kakek itu tergagap. Matanya awas melihat kami. Sontak ia berdiri, tergopoh-gopoh menuju bale dauh, kamar yang digunakan untuk tidur. Di bale dauh bertiang paras berukir itulah Krisman, arkeolog purbakala Belanda, penemu situs Goa Gajah nun sebelum menjadi objek wisata tenar, sehari-hari tidur.
Beberapa menit kakek yang sudah berkelab (anak dari cicit) keluar menggunakan sarung, baju dan kaca
mata hitam. Menantunya bilang, kakek kini doyan berdandan, memang. ‘’Tiang kapok naar be celeng,’’ ungkap I
Wayan Limbak kepada kami yang telah menunggu di bale daja. Katanya, dia kini merasa kapok menyantap daging babi,
karena membikin sekujur tubuhnya gatal-gatal. Mungkin ia alergi. Sudah beberapa
kali diobati dokter kulit, tetap saja tidak kunjung sembuh.
Tak terasa sudah 17 tahun berlalu penulis berbincang lama
dengan I Wayan Limbak, sebelum akhirnya berpulang lima bulan kemudian. Dan, siang
umanis Galungan 20 Februari 2020, penulis kembali berkunjung ke rumah sang
pencipta tari Cak yang kini tarian teatrikal itu banyak dipentaskan sebagai
tontonan para turis. Di antara stage
besar di Bali yang menampung ratusan bahkan ribuan penonton saban hari adalah
Cak Uluwatu, Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana, Sahadewa Stage Batubulan, Pura
Taman Saraswati Ubud dan masih banyak lagi termasuk khusus pementasan di hotel.
Memang, tari Cak kini menjadi paket wisata yang paling digandrungi wisatawan. Terasa
belum lengkap jika berkunjung ke Bali tanpa merasakan sensasi atraksi tari Cak sambil
menikmati sunset (matahari terbenam).
Pohon leci masih kokoh berdiri di samping angkul-angkul.
Cuma pintu yang sudah terbuka penuh diberi rangka besi setengah badan, ada
lonceng mini yang digantung di bawah. Manakala penulis mencoba mendorong pintu
besi itu, suara dentingan lonceng berbunyi nyaring. Anjing-anjing mini kembali menyalak
berbarengan pertanda sapaan. Sebentar kemudian wanita paruh baya datang
tergopoh-gopoh menyilakan kami masuk sambil menanyakan tujuan datang.
Siang itu, penulis datang memang bukan ingin bertemu I Wayan
Limbak yang sempat kami wawancarai pertengahan April 2003. Karena kami tahu, I
Wayan Limbak telah berpulang pada 3 November 2003, 5 bulan setelah kami sempat
berbincang seputar kelahiran tari Cak hingga ngelimbak (terkenal) sampai seantero dunia. Tetapi, ingin bertemu
dengan salah seorang putranya I Wayan Patra meminta izin untuk kembali memutar
ulang tulisan I Wayan Limbak yang pernah dimuat di majalah Sarad edisi 37 April
2003 untuk diunggah di sebuah media online baliilu.com.
‘’Silakan saja pak, tidak apa-apa!,’’ ujar I Wayan Patra menyilakan sambil berbincang
di bale delod yang kemudian mencetuskan
keinginannya membuat yayasan I Wayan Limbak yang bergerak di bidang pelestarian
dan pengembangan seni budaya Bali. Tentu pembentukan yayasan ini tak lepas dari
semangat almarhum yang selama hidupnya mendedikasikan diri mengabdi di bidang
seni.
Kembali mengenang Limbak yang kala itu sudah berusia hampir
seabad, 96 tahun, Limbak memang tidak lagi seperti tampak di setiap
foto-fotonya yang dipajang di berbagai museum di Bali maupun di luar negeri.
Cuma di buku-buku yang bercerita tentang tari Cak zaman lampau, pada masa-masa
awal Cak, Limbak kerap memerankan tokoh kokoh perkasa Kumbakarna, adik maharaja
raksasa Rahwana. Tubuhnya tegap, kukuh, bola batanya bulat berbinar. Rambutnya
keriting memanjang. Lengan-lengannya kukuh layaknya batang-batang pohon leci di
depan rumahnya.
KUKUH: Di usia senja Limbak masih kukuh, penuh semangat. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)
Tak heran bila Limbak menjadi idola zamannya, untuk peran-peran perkasa. Selain Kumbakarna, ia juga kerap memerankan tokoh sakti Subali, maupun penari jauk dan baris. Setiap pentas, sakaa (kelompk) Cak Bedulu yang dibentuknya pun memukau. Dan, di sana Limbak adalah pusat perhatian, medan magnet, penyedot rasa kagum penonton. Mereka puas bila dapat menyaksikan kibasan tangan, sabetan kaki, dan sorot mata cemerlang Limbak. Orang-orang pun mempersamakan sekaa Cak Bedulu dengan sekaa Cak Limbak.
Di layar potret dan kenangan ingatan, Limbak ketika ditemui
penulis, hanyalah sesosok kakek renta. Pendengarannya tidak lagi bernas,
kulitnya keriput. Matanya yang dulu berbinar kini menyipit. Ia tidak lagi awas
melihat benda jauh, sehingga kerap mengenakan kaca mata hitam, agar tidak
silau. Yang tersisa pada pemilik belasan cicit kelahiran 1907 ini adalah, semangat
hidupnya yang energik, tiada putus berdenyut, meskipun usianya hampir genap
seabad.
Di usia hampir seabad Limbak masih kuat dan teguh, menyapu
halaman rumah. Saban pagi ia ngayah nyapuh
di Pura Samuan Tiga. Bila diminta menari, ia masih tangkas menarikan polah
Kumbakarna dengan nengkleng, ngulap-ulap,
dan ngecak. Daya ingatnya pun masih
bernas. Pun, ketika kami bertanya perihal kisah kelahiran tari Cak, ia sanggup
bertutur berjam-jam tiada jeda. Tangannya berkelebat-kelebat mengikuti
penggambaran ingatannya, episode demi episode, dengan data akurat.
Tari Cak dalam kesaksian Limbak terlahir dari inspirasi tari
Shang Hyang Jaran. Di Bedulu, ketika itu, ada tradisi: Jika ada orang sakit
maka pihak keluarga nguntap
(menanggap) tari Shang Hyang Jaran. Selain sebagai pengusir roh jahat, tarian
yang disakralkan masyarakat Bedulu itu juga dipentaskan di Pura Goa Gajah saat piodalan.
LIMBAK: Ketika menari Cak tempo dulu. (FT: Koleksi keluarga)
Walter Spies, seniman asal Jerman menetap di Ubud yang menonton tari Shang Hyang Jaran itu, lantas tertarik menciptakan tarian yang bisa disuguhkan untuk para pelancong. Keinginan Walter Spies tersebut dilontarkan kepada I Wayan Limbak. Dari tari Shang Hyang Jaran itulah, tahun 1930 Limbak lantas melahirkan tarian yang kelak diberi nama tari Cak.
Nyanyiannya, diambil dari ritme tari Shang Hyang Jaran, sedangkan
komposisi diciptakan baru bersama Walter Spies, juga suara cak cak cak itu. Nama Cak itu, memang diangkat dari suara cak cak cak yang bersahutan,
berinterkoneksi, silih berganti.
Hanya beranggotakan 40 orang yang diambil dari warga Bedulu,
sekaa Cak pun berdiri. Semula mereka
pentas, di depan tetamu Jerman yang khusus diundang Walter Spies pentas selama 45
menit. Mereka kerap menukil kisah-kisah epos Ramayana, yang memang tenar di
Bali.
Tari Cak ciptaan Limbak pun bersambut dengan cita rasa
tetamu Jerman. Meskipun digarap bersahaja. Tata rias muka dan busananya serba
sederhana. Mereka hanya mabulet ginting,
kain dililitkan sebatas untuk menutupi kemaluan. Terang saja pantat penari
menyembul benderang. Rambut dibiarkan tergerai.
TERIMA PENGHARGAAN: Dari banyak penghargaan, Piagam Parama Satya Citra Kara diterima tahun 2019. (Foto: GS)
Kesahajaan itulah yang justru memikat, memancarkan karakter kuat, hingga menebarkan aura pesona. Saat Limbak ngagem Kumbakarna, misalnya, empat butir kelapa digantungkan di lengannya untuk mencitrakan kekukuhan. Penonton seakan diajak mengingat adegan Kumbakarna yang dikeroyok di medan laga oleh pasukan kera pimpinan Sugriwa dari Gunung Kiskenda. Kokoh, kuat, dan pantang menyerah.
Gambaran sosok Limbak sebagai tokoh Kumbakarna dalam tarian Cak
tempo dulu ini banyak tersimpan di museum-museum ternama, seperti di museum
Suteja Neka, serta di museum negeri Belanda dalam bentuk-bentuk berukuran
besar.
Limbak memang sosok seniman terbuka. Ia tidak segan menimba
ilmu kepada orang lain, tidak pula jerih ditiru seniman lain. Dasar-dasar tari ia banyak reguk dari I Gusti Ngurah
Regug, penari jauk asal Tegal Tamu, dan I Made Jagung, penari Gambuh asal
Denjalan, Batubulan. Namun, ia tetap giat menciptakan perbendaharaan gaya tari
Cak yang sebelumnya gerakannya sederhana, terus diperbaharui dengan gaya
telungkup, menaikkan tangan, atau tidur. Limbak juga mengajak I Gusti Kompyang
Gelas, penari Cak asal Bona Gianyar untuk bergabung di sekaa-nya.
Dari orang inilah, kemudian di Bona tari Cak berbiak dan
meretas ke berbagai wilayah di Bali sampai ke luar negeri. Limbak juga
mendorong kemunculan sekaa Cak di Bedulu
Delod Pempatan, sehingga di Desa Bedulu ada dua sekaa Cak: Sekaa Delod Pempatan
dan Dajan Pempatan. Kedua sekaa ini
bahkan sempat adu kepiawaian saat pasar malam di alun-alun Gianyar. ‘’Tiang bahagia, tari Cak bisa berkembang
menjadi duen jagat, milik masyarakat,’’
tutur Limbak, polos.
Keterbukaan Limbak kepada siapa saja terlihat dari banyaknya
tamu yang datang ke rumahnya. Termasuk para tamu asing yang bermaksud belajar
budaya Bali, terkhusus tari Cak. Tidak terhitung jumlah orang yang berkunjung.
Mereka datang dari Jerman, Cekoslovakia, Belanda, Jepang. Ada juga mahasiswa
Narova University, Amerika Serikat, yang kerap meneliti tari Cak di rumah
Limbak.
Ia pun dengan lapang memberikan informasi berjam-jam tanpa
keluh lelah, sebaliknya ia justru merasa puas secara bathin. Dengan bertutur
kata ia merasa gelora kesenimanannya tidak beku tersumbat, melainkan terus
mengalir deras lewat orang-orang yang datang menimba ilmu padanya.
‘’Jika hanya berpentas untuk para tamu, kelak tari Cak hanya
akan dikenal turis-turis asing,’’ pikir Limbak terhadap tari Cak-nya semula
hanya pentas di depan tamu asing. Karena itu, untuk memperkenalkan tari Cak
kepada masyarakat luas di Bali, Limbak bersama sekaa Cak Bedulu ngelawang
ke pelosok-pelosok desa. Selain menambah penghasilan sekaa, pentas itu sekaligus memperkenalkan tari Cak kepada masyarakat
luas di Bali. Ini tentu pengorbanan tiada ternilai, karena anggota sekaa harus berjalan kaki ke seantero
Bali, meninggalkan keluarga, berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan.
‘’Tiang sempat menerima undangan tuan Branch, subandar
pelabuhan Buleleng. Setelah pentas di
depan para tamu di pelabuhan, kami kemudian ngelawang
ke daerah-daerah di Buleleng,’’ kenang Limbak, satu-satunya penari sekaa Cak Bedulu generasi pertama yang masih
hidup tahun 2003.
Kegigihan Limbak memperkenalkan tari Cak, mendapat sambutan
hangat masyarakat. Sampai-sampai terdengar ke telinga Presiden Soekarno yang doyan tari Bali. Sekaa Cak Limbak pun kerap pentas di Istana
Tampak Siring, di hadapan Presiden Soekarno.
Suatu ketika, sekaa
Cak pentas di pura. Mereka menari menggunakan pakaian ada ke pura. Dari sinilah
kemudian busana tari Cak tidak lagi mabulet
ginting. Mereka mulai menggunakan saput
dan kamben (kain). ‘’Tapi para tamu
asing lebih menyukai mabulet ginting,’’
papar Limbak.
Ketenaran sebagai penari cak menjadikan kakek bercucu 21 ini
didaulat sebagai perbekel Desa Bedulu oleh raja Gianyar. Kemampuan melobi dan
hubungan bagus dengan tetamu manca negara, lebih-lebih lagi dengan Walter
Spies, menjadikan banyak aliran sumbangan mengarus ke Desa Bedulu termasuk ke
kantongnya sendiri. Dana itu lantas digunakan untuk membangun Pura Samuan Tiga
dan Pura Pengastulan. ‘’Wenten jinah tumbasang
paras, anggen ngewangun pura,’’ ujar kakek beristri tiga ini.
Gaya kepemimpinan Limbak memang lain. Dia tidak saja mengorbankan
materinya, yang sepatutnya dia terima, juga memberikan cuma-cuma rumahnya untuk
kantor kepurbakalaan dan tempat tinggal Krisman, bertahun-tahun. Kemurahan
Limbak tersebut membuahkan penemuan berbagai benda purbakala di Bedulu. Salah
satunya Pura Goa Gajah yang kini banyak dikunjungi wisatawan, sebagai sumber
pendapatan warga Bedulu.
Keterbukaan Limbak sebagai pemimpin di desa tidak saja
disukai masyarakat juga para pejabat. Rumahnya yang terbuka bagi para tetamu
itu pun disinggahi orang-orang terkenal semisal Raja Gianyar AA Gde Agung dan pahlawan
nasional I Gusti Ngurah Rai, juga arkeolog Prof. Dr. Soekmono. ‘’Saya sering
berbincang-bincang tentang Bali dengan mereka di sini,’’ kenang Limbak yang
membiarkan bangunan bale dauh-nya
tetap kuno hingga kini. Dengan gaya ceplas-ceplosnya, Presiden Soekarno pun
doyan ngobrol berlama-lama dengannya. Kerap pula ia diajak makan semeja.
Keakraban itu mengantarkan Limbak suatu kali lolos nyelonong masuk ke ruangan presiden
di Tampak Siring. Saat itulah ia melihat sang Presiden RI pertama itu tanpa
topi. ‘’Wah, saya tidak menyangka yang tidak memakai topi itu Pak Karno, tampangnya
lain sekali bila tidak memakai topi,’’ kenang Limbak.
Kesibukan sebagai perbekel, tidak mengurangi jadwal pentasnya
ke desa-desa lain, memang, namun dia tak lagi bisa mengajar menari orang lain
secara khusus. Dia seakan kehabisan kesempatan buat menularkan kemampuannya. Namun
ia tak menampik ketika orang lain meniru watak maupun gaya tariannya. Andaikan
Limbak orang barat yang fanatik dengan hak cipta, tentulah dia sudah kaya raya,
karena kebanjiran royalti. Kini tari Cak ciptaannya telah dikenal luas, menjadi
maskot industri kepariwisataan Bali. Saban kali dipentaskan, dipotrek jadi
kartu pos dijadikan sampul kaset, vcd, latar iklan, dll.
Tapi, Limbak tidak pernah minta hak royalti. Dia sama sekali
tidak bermaksud kikir terhadap ilmu yang dimilikinya. Ketika tidak sedikit yang
berhasil meniru gayanya, Limbak pun tidak keberatan. Sebut saja, tari Cak yang kini
berkembang pesat di Bona, yang mengalir ke daerah-daerah pariwisata, seperti
Nusa Dua, Kuta, Ubud, Batubulan. Tarian ini juga banyak mengilhami koreografer
maupun pencipta lagu seperti Guruh Soekarno Putra lewat lagu ‘’Kembalikan Baliku
Padaku’’ yang kental nuansa caknya. Padahal di Bedulu tempat kelahirannya, tari
Cak nyaris punah. Artinya sekaa tersebut
sekarang sudah tidak lagi aktif, walaupun benih-benihnya masih ada.
‘’Walaupun ditiru-tiru, saya tidak apa-apa. Yang penting tarian
itu tetap hidup dan tetap disukai masyarakat luas,’’ papar peraih penghargaan pencipta
tari Cak dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Republik Indonesia 1996, ini.
Yang membuat dia kerap merasa sedih, justru pementasan tari
di hotel-hotel yang berdampak buruk terhadap sekaa-sekaa sebunan yang berbasis di desa. Dalam ingatan dia, tahun
1960-an turislah yang datang ke desa dan menikmati tari-tarian di desa. Para
tamu itu, di samping menikmati tarian juga bisa melihat perajin di desa
bersangkutan. Sebaliknya kini, senimanlah datang ke hotel menjajakan tarian. ‘’Ini
jelas membunuh sekaasebunan,’’ ujar Limbak.
Sekaa Cak Bedulu,
contohnya. Dulu mereka sempat pentas rutin di tiga tempat di seputar Bedulu: di
Goa Gajah, Pura Samuan Tiga, dan Mandala Wisata Samuan Tiga. Kini mereka
praktis menganggur, karena wisatawan tidak mau lagi datang ke desa. Sekaa Cak dan Legong Ganda Manik Bedulu
ini sempat pentas di hotel namun buru-buru tidak dilanjutkan karena upah tidak
sesuai dengan pengorbanan kreativitas yang mereka berikan. Kini mereka beralih
menjadi perajin ukir.
‘’Meskipun sekaa
bubar, namun jika suatu ketika pentas, mereka cukup latihan beberapa kali, pasti
jadi,’’ jamin Limbak yang sejak 1967 mengundurkan diri menjadi perbekel, lalu
mengabdi sebagai ketua panitia Pura Samuan Tiga hingga tahun 1992. ‘’Tiang merasa ditakdirkan mengabdi di desa
ini sampai akhir hayat,’’ ujar bapak empat putra ini.
I WAYAN PATRA: Putra Limbak yang segera akan membentuk Yayasan I Wayan Limbak untuk mengenang dedikasinya di bidang seni khususnya tari Cak. (Foto:GS)
Meski usia Limbak mendekati 1 abad, toh semangat Kumbakarna membela negeri kelahirannya hingga akhir hayat tiada putus berdenyut di jiwanya. Raganya yang kian rapuh tiada dihiraukan benar. Saban pagi ia setia kukuh bergegas menuju Pura Samuan Tiga, 500 meter dari rumahnya. Di tempat suci yang disebut-sebut sebagai lokasi pendeta visioner asal tanah Jawa Mpu Kuturan mempersatukan sekta-sekte di Bali abad ke-11 itu, Limbak penuh bakti menunaikan tugasnya: menyapu kotoran, ranting-ranting, dan dedaunan yang jatuh ke natar pura nan luas. ‘’Bahkan 10 hari sebelum Bapak meninggal masih sempat berjalan sendiri nyayah nyapuh ke pura,’’ ujar I Wayan Patra, suatu siang setelah 17 tahun berlalu.
Di pura tersebut ia serahkan seluruh jiwa dan raganya. Lewat
sapu lidi, Limbak saban hari bermeditasi menghilangkan sifat-sifat rajas dan tamas yang melekat di tubuhnya. Usai ngayah nyapuh terkadang ia tertidur pulas di bale-bale pura, begitu
lepas merdeka, tiada beban. ‘’Tiang
merasa segar setelah ngayah iriki,’’
ujarnya polos.
I WAYAN LIMBAK: Lahir tahun 1907 dan meninggal 3 November 2003. (Foto: Repro Sarad karya Prayatna Sudibya)
Di lain waktu, jika ada tamu-tamu yang datang menjenguk baik di pura saat pagi hari maupun di rumahnya, ia dengan riang meluangkan waktu berjam-jam memaparkan sejarah tari Cak disertai gerakan-gerakannya yang kuat, kukuh, penuh daya pukau. Ia tidak tampak begitu tua. Namun setelah orang-orang pergi meninggalkannya, ia kembali dalam kesendirian, pun ketika menghadap Hyang Maha Kuasa. Namanya kian sayup seperti irama suara cak-cak cak penari Cak yang kian menjauh. (Gede Sumida)
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.
Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.
Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.
Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.
Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.
Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Atmosfer magis dan reflektif menyelimuti Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, saat pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dipentaskan dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore.
Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung sajian artistik persembahan Dermaga Seni Buleleng tersebut.
Memasuki hari ketujuh pelaksanaannya, FSBJ VIII terus menghadirkan pertunjukan seni modern, kontemporer, dan inovatif yang menggugah rasa sekaligus pemikiran. “Sura-Atma” menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian melalui perpaduan puisi, musik, dan visual yang sarat makna filosofis.
Karya ini mengisahkan perjalanan jiwa (Atma) setelah terlepas dari belenggu duniawi. Terlempar ke dalam keheningan Alam Surya, Atma terbangun tanpa ingatan, hanya ditemani cahaya misterius yang menuntunnya menuju Sang Suratma—penjaga batas sekaligus pencatat takdir.
Dalam perjumpaan tersebut, terbukalah Catatan Atma, sebuah representasi perjalanan hidup yang memantulkan kembali setiap niat, ucapan, hingga tindakan manusia. Dari kebaikan yang nyaris tak terlihat hingga kesalahan yang membekas, semuanya hadir sebagai cermin yang tak terbantahkan.
Setiap lembar catatan yang terbuka memengaruhi lanskap dunia roh di sekitarnya. Kebaikan menjelma menjadi jembatan emas yang menenangkan, sementara dosa menghadirkan badai api dan makhluk-makhluk astral sebagai simbol konsekuensi karma yang tak terelakkan.
Pergelaran ini tidak hanya menjadi tontonan artistik, tetapi juga tuntunan reflektif tentang makna kehidupan, tanggung jawab moral, dan perjalanan spiritual manusia setelah kehidupan di dunia. (gs/bi)
HADIRI PENUTUPAN PKB 2026: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri Penutupan PKB XLVIII Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Pembukaan Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre, Denpasar, Sabtu (11/7). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri Penutupan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre, Denpasar, Sabtu (11/7).
Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup PKB dan membuka FSBJ tahun ini ditandai dengan pemukulan Gong Beri dan peluncuran tema PKB XLIX Tahun 2027, Wana Kerthi : Byana Sandharana Loka.
Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman dan pelaku budaya yang telah menyukseskan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali. Menurutnya, PKB dan Festival Seni Bali Jani merupakan dua ruang penting yang saling melengkapi dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Bali.
“Melalui Pesta Kesenian Bali kita memperkuat pelestarian seni dan tradisi yang menjadi identitas masyarakat Bali. Di sisi lain, Festival Seni Bali Jani memberikan ruang bagi lahirnya kreativitas, inovasi, dan ekspresi seni baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Bali. Keduanya menjadi kekuatan untuk menjaga warisan budaya sekaligus menjawab perkembangan zaman. Budaya adalah roh pembangunan dan pariwisata Bali. Karena itu, kami di Kabupaten Badung berkomitmen untuk terus mendukung para seniman dan pelaku budaya agar mampu berkarya, berinovasi, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus,” ucapnya.
Dalam PKB tahun ini, duta Kabupaten Badung berhasil keluar sebagai Juara Umum dalam perlombaan olahraga tradisional (Jantra Tradisi Bali). Kontingen Badung sukses meraih prestasi tersebut setelah memborong 4 medali emas dari 5 cabang yang dipertandingkan. Selain itu, di bidang Seni Tradisi, Wimbakara Gender Wayang Anak-anak Sekaa Batel Giri Sunari Duta Badung berhasil meraih Juara I, Wimbakara Tari Barong Ket yang diwakili oleh Sekaa Gong Satya Winangun Budaya meraih Juara III, Wimbakara Baleganjur Remaja, Sekaa Gong Cakradhara meraih juara III dan Wimbakara Taman Penasar, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru meraih juara harapan 1.
Pada kesempatan ini, Pemprov Bali menyerahkan penghargaan Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026 yaitu anugerah tertinggi yang diberikan kepada 12 tokoh Seniman dan Budayawan Bali yang telah berdedikasi tinggi dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan Bali.
Sementara Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para seniman, sastrawan, budayawan yang telah menampilkan yang terbaik untuk PKB tahun ini. Selain itu, dirinya juga mengapresiasi antusiasme masyarakat yang telah menyaksikan pagelaran PKB.
“Seniman yang terlibat dalam PKB tahun ini mencapai 20.929 dan karya seni sebanyak 879 karya seni. Pengunjung yang hadir sampai siang tadi mencapai 1.822.857. Total omzet penjualan kuliner dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Rp. 16 miliar. Jadi selain menyaksikan seni, kita juga mendorong pertumbuhan IKM,” ujarnya.
Acara ini dihadiri Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya beserta jajaran Forkopimda Provinsi Bali, para Bupati/Wali Kota se-Bali, Pimpinan OPD, seniman, budayawan, serta masyarakat dari berbagai daerah di Bali. (gs/bi)