Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi Duta Badung Sukses Tampil di PKB 2025

Suguhkan Cerita ‘’Sirnaning Dirada Sungsang’’, Sampaikan Pesan Kejujuran, Cinta dan Patriotisme

Loading

BALIILU Tayang

:

badung
ARJA KLASIK: Suguhan drama tari Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung di panggung Kalangan Ayodya, Art Centre, Denpasar, Selasa (24/6) malam, yang merupakan rangkaian dari Pesta Kesenian Bali 2025. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Suguhan drama tari Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung di panggung Kalangan Ayodya, Art Centre, Denpasar, Selasa (24/6) malam, sukses membuat ratusan penonton terkesima. Dalam pertunjukan yang merupakan rangkaian dari Pesta Kesenian Bali 2025 ini, Sanggar Citta Usadhi mengusung cerita ‘’Sirnaning Dirada Sungsang’’.

Cerita ini digarap atau ditulis langsung oleh sang pemimpin sanggar yang juga guru besar ISI Denpasar, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi bersama suaminya, I Nyoman Cakra. Naskah ini bercerita tentang tokoh Made Umbara yang berhasil memenangkan sayembara mengalahkan Raksasa Dorada Sungsang untuk merebut hati Rahaden Galuh.

Sebelumnya, Rahaden Galuh dijadikan tumbal oleh Ratu Pramiswari dari keraton Kastila Manik Ratna untuk Raksasa Dirada Sungsang. Syukurnya Dirada Sungsang belum mau memangsa Rahaden Galuh dan bahkan meninggalkan serta menyisakan makanan untuknya. Dalam kondisi itu, Galuh berdoa agar Tuhan mengutus malaikat penolong. Jika yang menolongnya adalah seorang wanita dia akan dijadikan sebagai saudara teman hidupnya. Namun jika yang menolongnya adalah lelaki, ia akan bersedia untuk mengabdikan hidupnya berbakti untuknya.

Di sisi lain, Made Umbara yang sudah menginjak dewasa disarankan untuk segera mencari pendamping hidup oleh gurunya bernama Ki Dukuh. Made Umbara lalu diminta sang guru untuk menyelamatkan Rahaden Galuh, putri mahkota Kerajaan Swarnakaradwipa dengan cara membunuh Raksasa Dirada Sungsang yang bermukim di Kawah Gohmaya Cambra di Gili Parang Gamping.

Pertarungan pun bergolak dan akhirnya Raksasa dapat dibunuh dengan menggunakan taring permata kalung Rahaden Galuh bernama Motiwirasadi menjungkalkan si Raksasa dan menemui ajalnya. Sang Raksasa adalah penjelmaan kutukan seorang Gandarwa harus ditebus di dunia Pada dan dia berterima kasih sudah menyupat dirinya untuk kembali ke kahyangan.

Baca Juga  Sekda Adi Arnawa Buka Turnamen Ceki ST Wastra Kwanija

Dalam perjalanan kembali ke Swarnakaradwipa dia dihadang oleh Prabu Gilingwesi. Pertempuran pun tidak dapat dielakkan. Prabu Gilingwesi percaya pada keyakinan dan penglihatannya bahwa musuhnya sudah mati ditusuk pusaka Liwungpitana milik Swarnakaradwipa. Dengan pongahnya punggalan Raksasa dirampas dan sang putri diboyong sebagai tanda bukti kemenangannya.

Dihadapan sang Prameswari, sang prabu dengan bangga mempersembahkan bukti kesuksesannya. Rahaden Galuh Diah Ratna Juita membeberkan bahwa pembunuhnya bukan sang prabu. Dia merampas dari seorang pangembara dan bila diperkenankan dilakukan perang tanding secara terbuka yang disaksikan oleh rakyat.

Di luar dugaan Prabu Gilingwesi, muncullah bukti bahwa dia bukanlah pembunuh raksasa yang sesungguhnya. Tidak terima sang raja dipermalukan, perang tanding pun terjadi di Kastila Manik Ratna pusat pemerintahan Kerajaan Swarnakaradwipa. Akhirnya sang Prabu Gilingwesi Rahaden Warak Worosakara bertekuk lutut di bawah kekuatan Made Umbara yang sesungguhnya adalah Rahaden Anindita Kirtana trah Prabu Kenakadwipa.

badung1

ARJA KLASIK: Suguhan drama tari Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung di panggung Kalangan Ayodya, Art Centre, Denpasar, Selasa (24/6) malam, yang merupakan rangkaian dari Pesta Kesenian Bali 2025. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi selaku penulis naskah mengatakan banyak pesan yang terkandung dalam kisah ini. Mulai dari pesan tentang kejujuran, tentang cinta dan kedudukan hingga tentang sikap patriotisme atau kepahlawanan.

”Pesan yang disampaikan bahwa betapa kejujuran sangat penting dalam kehidupan. Berawal dari kejujuran maka masa depan bangsa ini akan mencapai kemuliaan. Karena dewasa ini kan sulit sekali mencari mana yang benar. Semua mengaku benar, semua mengaku jujur. Kita tak tahu yang mana sebenarnya yang jujur. Pesannya semua harus waspada,” katanya sebelum pentas.

Baca Juga  Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Duta Badung Bius Penonton Ardha Candra pada Parade Gong Kebyar Wanita PKB 2025

Lebih jauh, persiapan pementasan tersebut dilakukan dari jauh-jauh hari. Pihaknya mempersiapkan mulai dari latihan dan perangkat lainnya sejak awal bulan September 2024 lalu. ”Kami latihan sejak awal September. Dan kurang lebih 30 seniman yang terlibat,” ujar wanita kelahiran Banjar Kawan Manggis, Karangasem, 28 Maret 1959 ini.

Menariknya seniman yang terlibat, khususnya penari juga didominasi dari kalangan anak muda. ”Seniman yang dilibatkan adalah seniman muda. Bahkan ada juga yang baru tamat SD. Ini karena banyak pemula, makanya kami latihan sejak awal September tahun lalu,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Revitalisasi Bale Sikap, Jejak Prajurit Munggu Menggema di PKB

Published

on

By

Grahasta Bawera
ELING: Komunitas Seni Grahasta Bawera, Banjar Pengayehan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, sebagai Duta Kabupaten Badung saat membawakan garapan bertajuk "ELING", dalam Rekasadana (Pergelaran) Revitalisasi Kesenian Klasik pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (6/7/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah dan jati diri budaya terus dilakukan. Hal itu tampak dalam Rekasadana (Pergelaran) Revitalisasi Kesenian Klasik yang dibawakan Komunitas Seni Grahasta Bawera, Banjar Pengayehan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, sebagai Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (6/7/2026).

Mengusung garapan bertajuk “ELING”, komunitas ini tidak sekadar menyajikan pertunjukan seni. Lebih dari itu, mereka menghidupkan kembali kisah perjuangan para prajurit Desa Adat Munggu yang selama ini menjadi bagian penting sejarah dan identitas masyarakat setempat.

Selama kurang lebih 90 menit, panggung Kalangan Angsoka dipenuhi harmonisasi tabuh klasik, gerak tari yang penuh makna, hingga lantunan gerong yang menyatu dalam sebuah pertunjukan sarat nilai filosofis. Sebanyak 22 penabuh, delapan penari Baris, empat penari Topeng, serta dua penembang (gerong) terlibat dalam pementasan yang dipersiapkan selama sekitar tiga bulan tersebut.

Penata tabuh sekaligus Ketua Komunitas Seni Grahasta Bawera, I Kadek Sugiarta, S.Sn., M.Sn., mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada komunitasnya untuk tampil sebagai bagian dari duta seni Kabupaten Badung di PKB 2026.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan dan Listibiya Kabupaten Badung yang telah memberikan kepercayaan kepada Komunitas Seni Grahasta Bawera untuk tampil di Pesta Kesenian Bali. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga dan mengembangkan kesenian klasik Bali,” ujarnya.

Sugiarta yang juga menjabat Sekretaris Listibiya Kabupaten Badung menjelaskan, garapan tahun ini mengangkat revitalisasi kesenian klasik Bale Sikap. Kata “Bale” dimaknai sebagai prajurit, sedangkan “Sikap” berarti gugur atau pengorbanan. Karya ini lahir dari penelusuran sejarah Desa Adat Munggu tentang para prajurit yang mendedikasikan hidupnya demi menjaga desa, adat, dan masyarakatnya.

Baca Juga  Sekda Adi Arnawa Buka Turnamen Ceki ST Wastra Kwanija

Menurutnya, kisah tersebut merupakan warisan budaya yang patut terus diwariskan kepada generasi muda. Revitalisasi dilakukan agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita rakyat dan sejarah lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Ini merupakan kearifan lokal Desa Adat Munggu. Kami ingin mengingat kembali perjuangan para prajurit desa yang telah mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui peninggalan Tameng Kolem yang ada di Pura Dalem Kahyangan Wisesa,” jelasnya.

Melalui garapan ELING, Komunitas Seni Grahasta Bawera mengajak masyarakat kembali mengingat akar sejarahnya. “Eling” yang berarti ingat menjadi simbol ajakan untuk selalu mengenang dedikasi, pengabdian, dan pengorbanan para leluhur terhadap tanah kelahirannya.

Pertunjukan dikemas melalui pendekatan spiritual yang memadukan tabuh, tari, vokal, dan simbol-simbol ritual. Alur garapan membawa penonton memasuki ruang perenungan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lahir dan batin melalui konsep Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha. Restu leluhur menjadi fondasi moral yang mengingatkan bahwa setiap bentuk pengabdian pada masa kini semestinya berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah perkembangan zaman. Kesetiaan terhadap tanah kelahiran, budaya, dan tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan komitmen untuk menjaga identitas Bali agar tetap hidup di tengah perubahan.

Pergelaran revitalisasi kesenian klasik ini sekaligus menunjukkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Badung dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi. Melalui dukungan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bersama Listibiya Kabupaten Badung, berbagai kesenian klasik yang nyaris terlupakan terus didokumentasikan, direvitalisasi, dan ditampilkan kepada publik melalui panggung Pesta Kesenian Bali. Tak hanya menjadi ruang pertunjukan, PKB 2026 kembali membuktikan diri sebagai wadah pelestarian nilai-nilai budaya Bali. Kehadiran ELING menjadi penanda bahwa sejarah, pengabdian, dan semangat para leluhur akan terus bergema selama generasi penerus masih bersedia mengingat, mempelajari, dan merawat warisan budaya yang mereka tinggalkan. (gs/bi)

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Tutup dan Apresiasi Turnamen Voli Laksana Umbara Cup II

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Tampil Luar Biasa, Sekaa Gong Tri Tunggal Desa Adat Tanjung Bungkak Duta Denpasar Sukses Sihir Ribuan Penonton PKB XVIII

Published

on

By

GONG KEBYAR DEWASA DUTA DENPASAR: Sekaa Gong Tri Tunggal, Desa Adat Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur berfoto bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan Walikota Denpasar IGN Jaya Negara usai tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII Tahun 2026, Minggu (5/7/2026) malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal, Desa Adat Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur menyihir ribuan penonton yang memadati area Panggung Terbuka Ardha Candra, pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII Tahun 2026, Minggu (5/7/2026) malam.

Sekaa Gong Tri Tunggal pada malam itu, tampil dengan totalitas dan atraktif berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana yang diwakili oleh Sekaa Gong Widya Taruna, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo.

Hadir untuk menyaksikan pertunjukkan memukau itu, Gubernur Bali, I Wayan Koster dan juga Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara dan juga Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.

Koordinator Sekaa Gong Tri Tunggal, I Kadek Bhaswara Dwitiya didampingi Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, menjelaskan, pada malam itu, Duta Kota Denpasar membawakan tiga garapan karya sekaligus.

Garapan pertama, Tabuh Lima Lelambatan Gora Kala Aci, yang merupakan karya tabuh lelambatan kreasi yang terinspirasi dari ritual persembahan suci dalam upacara karya melaspas Paryangan Kawitan I Gusti Ngurah Sentong sebagai pakar Gamelan Gambang.

Dalam garapan Tabuh Kelambatan ini, penata tabuh berupaya menuangkan ke dalam musikal konseptual dengan transformasi permainan arpeggio atau memainkan nada-nada akor gamelan gambang, yang dikomposisi apik menjadi Tabuh Lima Lelambatan yang masih menerapkan pola-pola tradisi tabuh pegongan.

Garapan kedua lanjut Kadek Bhaswara, adalah Tari Kreasi Gagak Pitru Loka yang merupakan karya tari kreasi yang meinterpretasikan keterkaitan burung Gagak sebagai transformasi atau pembawa pesan ke tempat persemayaman pitri (roh leluhur) sebelum reinkarnasi.

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Gelontorkan Rp 9 Miliar Dana BKK TPS3R 2023

Karya tari ini, menerjemahkan nilai filosofi Gagak Ora yang memiliki konsep purusa-pradana, yang tersirat dalam gending Gambang Pura Kelaci. Secara umum, karya ini memiliki makna ngelelatik (saling mengisi) bhakti karma (perbuatan dalam pengabdian hidup) sebagai bekal menuju akhirat.

Inspirasi tari sendiri lanjut Kadek Bhaswara, diimplementasikan melalui struktur karya, tabulasi awal dengan motif gerak tari yang merupakan kompilasi simbol sesuai makna ekologis kehidupan manusia, dan roh, serta burung gagak sebagai ceciren (karakteristik) di kehidupan alam, dan terakhir gagak ora pangungkab lawang swargaloka.

Garapan ketiga atau garapan terakhir, kata Kadek Bhaswara adalah Fragmentasi Tari bertajuk Ngumbara Jiwa. Karya ini sendiri adalah takeh igel yang merepresentasikan laku lampah, semita, dan nandangan dinamika pengembaraan I Gusti Ngurah Sentong atas titah Raja Sweca Linggarsapura Gelgel, untuk mencari gending gambang sebagai pengantar jiwa, di saat Raja nanti mangkat menuju alam akhirat.

Karya ini secara garis besar menarasikan Ngumbara Jiwa I Gusti Ngurah Sentong, sehingga menemukan karya gending. Gambang mistik monumental juga disebutkan Kadek Bhaswara sebagai sebuah bentuk spiritual/metafisik berskala besar serta memiliki dampak historis dalam kaitan pitra yadnya ageng di Bali.

“Seluruh persiapan tiga garapan karya ini telah kami laksanakan sejak beberapa waktu lalu. Sebagai Duta Kota Denpasar, kami ingin tampil sebaik mungkin,” ungkapnya.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan apresiasi tinggi atas penampilan Duta Kota Denpasar ini. Seluruh garapan Sekaa Gong Tri Tunggal dinilainya sangat apik dan luar biasa.

Jaya Negara juga menyebut, penampilan para seniman Kota Denpasar ini tidak hanya sekedar pementasan seni budaya semata. Namun lebih dari itu, dedikasi mereka adalah refleksi dari usaha kuat untuk tetap menjaga kelestarian warisan budaya dan kesenian Bali.

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Tutup dan Apresiasi Turnamen Voli Laksana Umbara Cup II

Astungkara, penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal Desa Adat Tanjung Bungkak, Sumerta Kelod sangat luar biasa dan metaksu. Terima kasih dedikasi luar biasa para seniman Kota Denpasar,” kata Jaya Negara. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Sanggama Rohani Getarkan Ardha Candra, Tradisi Tipat Bantal Pukau PKB XLVIII

Published

on

By

Tugek Carangsari
SANGGAMA ROHANI DUTA BADUNG: Sanggar Seni Tugek Carangsari, dari Banjar Pemijian, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Duta Kabupaten Badung, saat menampilkan garapan kolosal bertajuk "Sanggama Rohani" pada ajang PKB XLVIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, Jumat (3/7) malam. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, bergemuruh saat Sanggar Seni Tugek Carangsari, dari Banjar Pemijian, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Duta Kabupaten Badung, menampilkan garapan kolosal bertajuk “Sanggama Rohani” pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Jumat (3/7) malam. Mengusung kekuatan tradisi dan nilai spiritual, pertunjukan ini sukses memikat ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan.

Mengangkat kisah perjalanan Patih Kebo Iwa, garapan tersebut mengisahkan saat Raja Bumi Banten mengutus Kebo Iwa untuk merestorasi Pura Sada di Desa Kapal. Dalam perjalanannya bersama empat pengabih, Kebo Iwa mendapati masyarakat Desa Kapal tengah dilanda wabah penyakit.

Di tengah situasi tersebut, Kebo Iwa melakukan meditasi di Pura Sada hingga memperoleh pawisik atau petunjuk spiritual agar masyarakat melaksanakan ritual penyucian roh. Ritual tersebut kemudian diwujudkan melalui Tradisi Tipat Bantal yang hingga kini masih dilaksanakan setiap Sasih Purnama Kapat sebagai simbol penyucian sekaligus keharmonisan kehidupan.

Pertunjukan kolosal ini memadukan tari, dramatari, musik tradisional, serta tata artistik yang megah, sehingga mampu menghadirkan suasana sakral sekaligus spektakuler di atas panggung. Tak hanya menyuguhkan hiburan, garapan ini juga menjadi media edukasi tentang kekayaan warisan budaya Kabupaten Badung.

Koreografer sekaligus penata kostum, Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja, mengatakan penampilan tahun ini terasa sangat istimewa karena mengangkat salah satu tradisi yang masih lestari di Desa Adat Kapal, yakni Tradisi Tipat Bantal. Sebanyak kurang lebih 150 seniman terlibat dalam menyukseskan pertunjukan kolosal tersebut.

“Hari ini sangat spesial karena kami menampilkan sebuah tradisi tentang Siat Tipat Bantal yang ada di Desa Adat Kapal. Tradisi inilah yang kami angkat pada kesempatan kali ini bersama sekitar 150 peserta,” ujarnya.

Baca Juga  Minimalisir Kebakaran, Badung Gelar ‘’Roadshow’’ Edukasi Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran

Menurutnya, pemilihan tema tersebut didasari keinginan memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Kabupaten Badung kepada masyarakat luas melalui panggung PKB.

Ia menjelaskan, Tipat Bantal memiliki makna filosofis yang sangat mendalam sebagai simbol pertemuan purusa dan pradana, atau laki-laki dan perempuan, yang melahirkan kehidupan baru. Filosofi itulah yang ingin diterjemahkan dalam garapan seni yang ditampilkan.

“Tipat Bantal merupakan simbol pertemuan purusa dan pradana. Dari pertemuan itu lahir kehidupan baru. Filosofi tersebut kami harapkan juga mampu melahirkan karya-karya baru yang terus menjaga dan mengembangkan tradisi Bali,” jelasnya.

Melalui garapan “Sanggama Rohani”, Sanggar Seni Tugek Carangsari tidak hanya menghadirkan tontonan yang memukau, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memahami nilai spiritual, filosofi kehidupan, serta pentingnya menjaga tradisi leluhur sebagai identitas budaya Bali. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca