Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Duta Badung Bius Penonton Ardha Candra pada Parade Gong Kebyar Wanita PKB 2025

BALIILU Tayang

:

badung
GONG KEBYAR WANITA: Penampilan Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Desa Adat Ungasan yang merupakan Duta Kabupaten Badung yang membawakan tiga garapan yakni Tabuh Telu, Tari Tedung Jagat dan Sandya Gita Jagatdhita pada Senin, 7 Jui 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Art Center Denpasar. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Antusias masyarakat Bali untuk menyaksikan pementasan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita pada Pesta Kesenian Bali Ke-47 Tahun 2025 begitu luar biasa. Terlebih lagi hadirnya Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Desa Adat Ungasan yang merupakan Duta Kabupaten Badung yang membawakan tiga garapan yakni Tabuh Telu, Tari Tedung Jagat dan Sandya Gita Jagat Hita pada Senin, 7 Juli 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Art Center Denpasar.

Tiga garapan Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Desa Adat Ungasan yang tampil dengan busana bernuansa biru dan silver itu mampu membius penonton yang saat itu mebarung dengan penampilan Sanggar Sanjiwani Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar.

Koordinator Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala I Made Suada, S.Ag, M.Si mengatakan Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Desa Adat Ungasan pada Parade Gong Kebyar Wanita PKB 2025 membawakan tiga buah garapan. Pertama, membawakan Tabuh Telu kreasi yang berjudul Yogi Suara yang dilatarbelakangi bahwa kita melihat zaman globalisasi dan zaman yang penuh dengan paradoks. Bali yang semula dikenal ramah tenang mempesona kini telah penuh, terpenuhi paradoks-paradoks ekstrim dengan berbagai kedok yang sengaja secara radikal menggerogoti tata pesona nyaman Bali. Terinspirasi dari hal tersebut, penata berusaha memadukan unsur musikal ke dalam audio visual yang berjudul Yogi Suara. ‘’Nah inilah kita tuangkan dalam sebuah tabuh, bagaimana kita harus mulat sarira dan bagaimana kita harus bisa menciptakan ini menjadi sebuah karya tabuh,’’ ujar Suada.

Kedua, Tari Tedung Jagat. Tedung berarti payung atau peneduh, jagat berarti bumi atau dunia. Tedung Jagat adalah sebuah istilah kiasan kata untuk seorang pemimpin yang memiliki kebijaksanaan dan kewajiban memberikan kenyamanan kepada rakyatnya. Seorang pemimpin yang dikagumi oleh rakyatnya adalah seorang pemimpin yang tajam akan ilmu pengetahuan, selalu berbakti kepada sang pencipta tidak pernah lupa dengan jasa para leluhur dan mencintai, menghargaai serta menghormati semua makhluk yang hidup di bumi ini. Tari kreasi ini diciptakan pada ajang PKB ke-40 tahun 2018. ‘’Nah itulah sebagai gambaran daripada Tari Tedung Jagat ini,‘‘ ucap Suada.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Hadiri Prosesi “Ngodak Pelawatan” di Pura Dalem Bebalang Carangsari

Sedangkan garapan ketiga, menampilkan Sandya Gita yang menceritakan sebuah fenomena sesuai dengan tema PKB Jagat Kerthi. Jagat kerthi inilah yang diimplentasikan dalam sebuah sandya gita yang diberi judul Jagat Hita.

Sandya Gita Jagat Hita menyiratkan kesadaran dalam pencapaian moksartam jagaditha konsepsi holistik dunia sekala niskala. Dengan konsep garapan paduan suara Bali mengedepankan harmoni dan acord dengan ornamentasi tembang Bali mengajak kita menjaga keharmonisan di antara sesama sebagai wujud saling hormat menghormati dalam interaksi kemasyarakatan dan mengedapnkan toleransi. Memelihara dan menjaga kelestarian alam semesta dengan segala isinya dengan penuh welas asih mewujudkan lingkungan asri lestari untuk mencapai kesejahteraan wujud pencapaian jagat kerthi.

Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala yang didukung 75 orang ini sebagai penata I Wayan Widia, Pembina Tabuh I Komang Sumastra Jaya dan I Wayan Karyana. Penata Gerak I Made Nova Antara. Penasehat Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa dan Perbekel Desa Ungasan  I Made Kari. Penanggung Jawab Kadisbud Badung, Ketua Listibya Kuta Selatan & Listibya Kabupaten Badung, dan Bupati Badung.

Melalui kesempatan ini, Suada menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung yang telah mempercayai dan menunjuk Desa Adat Ungasan sebagai Duta Kabupaten Badung dalam PKB ke-47 dalam rangka untuk melestarikan nilai-nilai seni kerawitan yang ada. ‘‘Nah, ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Desa Adat Ungasan karena Desa Adat Ungasan telah mampu menciptakan sebuah sekaa kebyar wanita yang dinamai Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala,‘‘ ucap Suada seraya menegaskan Desa Adat Ungasan melalui bendesa adat juga mensupport pelaksanaan gong kebyar wanita ini.

Bendesa Desa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Adat Ungasan sebagai duta Kabupaten Badung dalam ajang Lomba Gong Kebyar Wanita pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Tinjau Banjir di Kawasan Kuta, Wabup Alit Sucipta Pantau Bencana di Sempidi

“Seiring dengan tujuan kami, saya ingin membangkitkan semangat serta memberikan motivasi kepada sekaa gong kebyar wanita agar terus tampil dalam berbagai kegiatan, baik dalam Pesta Kesenian Bali, saat pujawali, maupun dalam upacara keagamaan di desa. Ini adalah salah satu bentuk motivasi untuk meningkatkan peran serta perempuan dalam pelestarian seni dan budaya,” ujarnya.

Disel Astawa juga menyampaikan harapannya agar perempuan terus aktif dalam kelompok gambelan. Menurutnya, peran ini penting sebagai upaya pewarisan budaya dari generasi ke generasi.

“Semangat ini sejalan dengan langkah mulia Ida Bagus Mantra dalam mewujudkan Pesta Kesenian Bali, yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak melupakan seni, agama, adat, dan budaya,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya keikutsertaan perempuan dalam setiap kegiatan budaya dan keagamaan di Desa Adat Ungasan. “Saya ingin perempuan di Desa Adat Ungasan senantiasa hadir dan terlibat dalam setiap kegiatan. Ini bagian dari pelaksanaan pelestarian adat dan budaya kita,” ucapnya seraya menyampaikan bentuk motivasi dengan memberikan dana dari desa adat sebesar 500 juta, selain anggaran 800 juta yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Badung. ‘’Kami mensuport dengan tujuan ingin masyarakat kami di Desa Ungasan setelah ini agar selalu bangkit, menjadi cemeti bagi generasi penerus khususnya bagi perempuan untuk selalu eksis tampil sehingga di kemudian hari ke depan kita tidak susah mencari bibit,‘‘ tutupnya.

Di akhir pementasan, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyampaikan rasa senang dan bangga dengan penampilan Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala yang begitu luar biasa. Mudah-mudahan penampilan hari ini dan untuk penampilan duta-duta Badung selanjutnya akan lebih baik lagi sehingga tidak mengecewakan masyarakat Badung.

Baca Juga  Sekaa Gong Anak-anak Semara Winangun, Tampil di Pesta Kesenian Bali Ke-46

‘‘Tadi luar biasa sekali, mohon maaf penampilan antara Gianyar dengan Badung hanya dibedakan kualitas gambelannya, tetapi cara memukulnya, semangatnya dan kekekompakannya begitu luar biasa,‘‘ ujar Bupati yang hadir bersama Sekda Badung IB Surya Suamba. Hadir pula Gubernur Bali Wayan Koster.

Bupati Adi Arnawa menegaskan bahwa penampilan-penampilan hari ini dan juga untuk penampilan pada PKB tahun depan, Pemkab Badung akan lebih fokus lagi memperhatikan pelatih, tim pembina sehingga penampilan duta Kabupaten Badung jauh lebih hebat lagi. ‘‘Mungkin dengan cara  memberikan reward yang lebih baik lagi kepada peserta,‘‘ pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Bupati Badung dan Nyonya Rasniathi Adi Arnawa Hadiri Perayaan Puncak “Pesona Ibu Badung”
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Pastikan Kesiapan Duta Denpasar pada Ajang PKB XLVII 2025

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Komit Hadir untuk Warga Badung Melalui Program Rumah Layak Huni

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Pendataan Potensi Pajak Daerah, Validasi 2.749 Izin Usaha di Wilayah Kerobokan dan Kerobokan Kaja Dimulai

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca