Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Benarkah Malam Siwaratri Sebagai Malam Peleburan Dosa?

Ini Penjelasan Penyuluh Agama Kabupaten Buleleng

Loading

BALIILU Tayang

:

I Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Pemujaan kepada Dewa Siwa yang paling dikenal oleh masyarakat Hindu khususnya di Bali adalah perayaan Hari Siwaratri. Hari ini masyarakat Hindu khususnya di Bali merayakan Hari Suci Siwaratri, hari dimana kita sebagai umat akan melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Siwa dalam Tri Murti adalah sebagai pemralina, yaitu mengembalikan segala sesuatu yang ada di alam ini ke asal mulanya.

Di dalam melaksanakan hari suci ini banyak diantara umat yang merasa penasaran seputar begitu hebatnya brata Siwaratri yang dilakukan oleh seorang Lubdaka dalam susastra Siwaratrikalpa, yang mampu mengantarkannya sebagai tujuan tertinggi umat yaitu menyatu ke alam siwa.

Bagaimanakah sesungguhnya pelaksanaan Siwaratri ini sehingga mampu memberikan kekuatan yang sangat hebat dalam rangka melebur karma kita?

Dalam catatan I Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, pada Senin (27/1) menyampaikan, dalam Kitab Siwa Purana, dikatakan keagungan Brata Siwaratri dalam bagian Jnana Samhita, yang mengisahkan tentang percakapan seorang Rsi dengan seorang bhakta yang sangat tekun bernama Suta. Dalam percakapannya itu terceritakan seorang manusia yang sangat jahat yang bernama Rurudruha yang pada akhirnya atmanya mampu mencapai pembebasan dan mencapai alam Siwa.

Dijelaskan oleh Kadek Satria, pada kitab lainnya yaitu kitab Skanda Purana juga mengisahkan tentang percakapan seorang murid yang bernama Lomasa, dengan gurunya yaitu para Rsi. Dalam diskusi itu diceritakan seorang manusia yang bernama Canda yang sangat jahat dan kejam dalam hidupnya yang juga pada akhirnya mendapatkan penyadaran, dan mencapai alam Siwaloka. Di dalam Garuda Purana juga ada yang memuat kehebatan Brata Siwarati yaitu pada percakapan Dewa Siwa dengan Dewi Parwati. Di dalam percakapan beliau itu Dewi Parwati menanyakan tentang brata yang paling baik dilakukan untuk melakukan peleburan dosa, dan jawaban Dewa Siwa adalah Brata Siwaratri.

Baca Juga  Pemkot Denpasar ‘’Ngaturang Bhakti’’ Siwaratri di Pura Agung Jagatnatha Denpasar

Terakhir adalah kitab Padma Purana yang mana menceritakan tentang seorang raja bernama Dilipa yang berdiskusi dengan Rsi Wasistha. Di sini diceritakan dalam diskusi tersebut tentang seorang pemburu bernama Nisada yang kemudian mampu mencapai pembebasan dengan cara melakukan Brata Siwaratri.

Teks suci Hindu yang memuat tentang keagungan Brata Siwaratri di atas memberikan kita penegasan bahwa adalah benar dengan melakukan yadnya dan Brata Siwaratri seseorang akan mampu menuju Siwa. Yang perlu digarisbawahi dalam Siwaratri ini adalah bahwa kita akan melakukan peleburan Dosa, yaitu meminimalkan perbuatan buruk kita dengan cara menebusnya dengan berbagai keluhuran atau dengan melakukan Brata. Brata yang dilakukan yaitu dengan Jagra (tidak tidur), Upawasa (berpuasa) dan Monobrata (perenungan dengan Meditasi) adalah brata yang akan utama apabila dilakukan dengan kesungguhan.

Lebih jauh, pertanyaannya mengapa Brata ini dilakukan pada Purwanining Tilem Kepitu? Tentu menjadi pertanyaan sebab bagaimana kita tercerahkan dalam kegelapan? Sehari sebelum Tilem Kepitu sering disebut dengan Purwanining Tilem Kepitu di dalam padewasan disebutkan sebagai malam yang paling gelap selama kurun waktu 1 tahun. Malam ini dipercaya sebagai malam perenungan dan peleburan segala macam dosa dengan cara melakukan Brata Siwaratri. Bagaimanapun juga bahwa kegelapan fikiran manusia mesti dicerahkan dengan pengetahuan dan kesucian.

“Siwa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widh adalah pemberi dan penganugerah kecemerlangan fikiran itu. Secara nyata, kita yang terliputi oleh awidya (kegelapan) akan mampu tercerahi dengan Vidya (Sinar pengetahuan) apabila kita mampu menemukan penyadaran di malam Siwa itu (Atutur Ikang Atma Rijatinnya),” jelas Satria dikutip dari laman bulelengkab.go.id.

Pengujung saran Kadek Satria, lakukanlah Brata Siwaratri dengan kesungguhan dan bukan karena kemampuan, sebab dengan itu maka anugerah yang berlimpah dari Siwa akan mampu membebaskan atau menerangi kegelapan kita. Penyadaran adalah kunci dari segala yang menjadi tujuan Brata Siwaratri itu, sehingga sesungguhnyalah kesadaran itu muncul setiap hari, sehingga berkah Siwaratri pun akan kita dapatkan setiap hari. “Kita sadar sebagai manusia yang sangat perlu untuk bekerja, sadar dengan diri sebagai ciptaannya sehingga perlu memuja dan sadar bahwa segalanya itu perlu untuk kita syukuri. Rahajeng Nyanggre Rahinan Suci Siwaratri,” tutupnya. (gs/bi)

Baca Juga  Wabup Suiasa Hadiri Persembahyangan Siwaratri di Puspem Badung

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Diikuti 16 Sawa, Wagub Giri Prasta Hadiri Ngaben Massal Perdana Desa Adat Mengandang

Published

on

By

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia saat menghadiri upacara Ngaben Massal di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan.
SERAHKAN PUNIA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia saat menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Buleleng, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). Ngaben massal yang diikuti 16 sawa ini menjadi yang pertama digelar di desa tersebut, sekaligus menandai kuatnya komitmen krama dalam menjaga tradisi leluhur.

Dalam sambutannya, Giri Prasta mengaku bahagia dapat hadir langsung di tengah masyarakat yang melaksanakan yadnya secara gotong-royong. Ia menyampaikan apresiasi atas kekompakan krama Desa Adat Mengandang yang bersama-sama menjalankan upacara sesuai dresta Bali.

“Apresiasi kepada krama yang telah bersatu, guyub, saling gotong-royong melaksanakan yadnya ini. Sagilik saguluk salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya,” ujarnya.

Wakil Gubernur Bali juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus mendukung pelaksanaan upacara yadnya sebagai bagian dari pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali.

Sementara itu, Bendesa Adat Mengandang Wayan Sudiana dalam laporannya menjelaskan bahwa ngaben massal ini bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ini merupakan ngaben massal pertama yang kami laksanakan. Sebelumnya, kami melaksanakan ngaben metuun sesuai dresta Bali Aga di desa ini,” ungkapnya.

Rangkaian upacara telah berlangsung sejak 24 Juli dan akan berakhir pada 8 Agustus 2026. Puncak prosesi dijadwalkan pada 7 Agustus 2026, diawali dengan mecaru, dilanjutkan prosesi pengabenan, hingga upacara penyucian yang melibatkan pemangku, Ida Pandita, serta krama desa setempat.

Sebagai bentuk dukungan, Wagub Giri Prasta turut menyerahkan punia kepada panitia karya sebesar Rp 25 juta. Selain itu, bantuan juga diberikan kepada Sekaa Angklung sebesar Rp 5 juta, Sekaa Santhi sebesar Rp 2 juta, serta kepada pemangku sebesar Rp 4 juta. (gs/bi)

Baca Juga  Sekda Alit Wiradana Hadiri Malam Renungan Suci Siwaratri bersama Penyandang Tuna Netra

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Hadiri “Mapurwa Daksina”, Walikota Jaya Negara Apresiasi Pelaksanaan “Karya Atma Wedana”

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wawali I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina rangkaian Karya Atma Wedana Maligia di Puri Agung Dangin Puri.
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Ngusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina pada rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Utama di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri, Jumat (7/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Ngusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Mapurwa Daksina pada rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Utama di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri, Jumat (7/8).

Dalam acara ini juga hadir Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo David Simatupang, S.I.K., M.H, Penglingsir Puri Ageng Mengwi Ida Cokorda Mengwi XIII dan para Tokoh Puri di Kota Denpasar.

Rangkaian puncak karya diawali dengan prosesi Atetangi, dilanjutkan dengan puncak Karya Ngadegang Puspa Lingga serta Melaspas Puspa. Usai prosesi tersebut, dilaksanakan Upacara Mapurwa Daksina, yang kemudian dilanjutkan dengan Rsi Bujana dan Utpeti Stiti Puja. Seluruh rangkaian upacara dipuput oleh Ida Pedanda Gede Made Karang, Ida Pedanda Gede Raka Timbul, Ida Pedanda Gede Putra Keniten, serta Ida Pedanda Buddha Jelantik Adnyana.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Karya Pitra Yadnya di Peyadnya Puri Agung Dangin Puri.

Menurutnya, pelaksanaan karya ini mencerminkan sinergi dan kekompakan antara Puri Agung Dangin Puri dengan krama adat Denpasar dalam menjaga serta melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur agama Hindu di Kota Denpasar.

“Kekompakan antara puri dan krama adat dalam mendukung pelaksanaan karya ini patut diapresiasi. Tentunya karya ini memberikan manfaat sekaligus kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai umat Hindu Bali,” ujar Jaya Negara.

Lebih lanjut, Jaya Negara menegaskan bahwa Pemerintah Kota Denpasar senantiasa memberikan dukungan terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan dan adat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Bali.

“Sebagai pemerintah kami memberikan apresiasi serta dukungan atas pelaksanaan karya ini. Semoga seluruh rangkaian karya dapat berjalan lancar, memberikan makna spiritual, serta kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara yadnya,” tambahnya.

Baca Juga  Pemkot Denpasar ‘’Ngaturang Bhakti’’ Siwaratri di Pura Agung Jagatnatha Denpasar

Sementara itu, Manggala Karya, Anak Agung Ngurah Made Mahendra menjelaskan bahwa keberadaan Puri Agung Dangin Puri dengan Desa Adat Denpasar merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan erat dan saling mendukung dalam pelaksanaan kegiatan adat maupun keagamaan.

Ia mengatakan, dalam pelaksanaan Karya Penileman Maligia Punggel Utama kali ini diikuti sebanyak 60 puspa, sebagai wujud kebersamaan dan semangat ngayah dari seluruh krama yang terlibat demi kelancaran pelaksanaan yadnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak “Karya Wrespati Kalpa Agung” Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan

Published

on

By

Wawali Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung di Pura Gunung Sari, Desa Adat Peraupan, Denpasar.
HADIRI KARYA: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8).

Wawali Arya Wibawa usai melaksanakan persembahyangan bersama mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Pihaknya juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan ini seluruh umat terutama warga Banjar Adat Jurang Asri dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal-hal negatif di lingkungan banjar setempat,” katanya.

Sementara Ketua Panitia Karya, I Made Sueca mengatakan Karya Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan dilaksanakan karena rampungnya semua palinggih pura yang diperbaharui.

Pada hari ini kata Made Sueca, dilaksanakan upacara Puncak Karya Ngeteg Linggih, Mahingkup, Bangun Ayu, Padyus-dyusan. Adapun Pujawali ini yang dipuput oleh Ida Peranda Mpu Nabe Yoga Daksa Paramitha dari Griya Peraupan.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Wakil Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan Puncak Karya upacara Ngenteg Linggih. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Pj. Gubernur Bali Mahendra Jaya Bersama Jajaran Pemprov Bali Muspayang Bhakti Hari Suci Siwaratri
Lanjutkan Membaca