Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Buleleng Tampil Beda, “Medawang-dawang” Curi Perhatian Pengunjung PKB XLVIII 2026

BALIILU Tayang

:

Komunitas Seni Rare Kual, Buleleng menampilkan garapan Ngelawang yang menghadirkan kekhasan tradisi lokal Medawang-dawang di PKB 2026
NGELAWANG: Komunitas Seni Rare Kual, duta Buleleng saat tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, dengan garapan Ngelawang yang menghadirkan kekhasan tradisi lokal Medawang-dawang sebagai daya tarik utama bertempat di Gedung Kriya, Denpasar, Jumat (19/6). (Foto: Hms Buleleng)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah beragam sajian seni tradisi yang ditampilkan dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Kabupaten Buleleng hadir dengan warna yang berbeda. Melalui Komunitas Seni Rare Kual, Buleleng menampilkan garapan Ngelawang yang menghadirkan kekhasan tradisi lokal Medawang-dawang sebagai daya tarik utama bertempat di Gedung Kriya, Denpasar, Jumat (19/6).

Berbeda dengan tradisi ngelawang yang selama ini identik dengan Barong Bangkung maupun Barong Landung, penampilan Duta Kabupaten Buleleng ini menghadirkan kekhasan tersendiri melalui penggunaan Medawang-Dawang yang menjadi identitas budaya lokal di wilayah Buleleng. Duta Kabupaten Buleleng menghadirkan Medawang-dawang sebagai elemen pendukung dalam garapan Wewaler. Kehadiran Medawang-dawang memperkuat identitas budaya Buleleng sekaligus menjadi simbol yang mendukung penyampaian pesan-pesan wewaler atau nasihat kehidupan yang diangkat dalam pertunjukan. Hal ini menjadi pembeda sekaligus memperkaya ragam ekspresi seni pertunjukan dalam ajang PKB tahun ini.

Konseptor sekaligus pembina Komunitas Seni Rare Kual, Ngurah Indra Wijaya, mengatakan bahwa kehadiran garapan ini menjadi upaya untuk menampilkan kekhasan tradisi Buleleng dalam ruang yang lebih luas.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Buleleng memiliki bentuk ngelawang yang berbeda dan memiliki karakter tersendiri dalam tradisi pertunjukan rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, pemilihan Medawang-Dawang dalam garapan “Wewaler” berangkat dari keinginan untuk mengangkat salah satu tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Buleleng. Tradisi tersebut kemudian dihadirkan dalam sebuah pertunjukan yang mampu menjembatani nilai-nilai budaya lokal dengan ruang apresiasi seni yang lebih luas.

Melalui penampilan ini, Duta Kabupaten Buleleng menghadirkan sebuah sajian seni yang berakar kuat pada tradisi lokal. Kehadiran Medawang-Dawang dalam garapan Wewaler menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya khas Buleleng kepada masyarakat luas. Di saat yang sama, pertunjukan ini menunjukkan bahwa warisan leluhur tetap relevan dan mampu hadir dalam kemasan kreatif yang dekat dengan generasi masa kini tanpa kehilangan makna yang diwariskan turun-temurun. (gs/bi)

Baca Juga  Wimbakara PKB XLVIII Tahun 2026, Sekaa Gong Kencana Wiguna Banjar Kehen Kesiman Tampil Memukau

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

GKW Swara Ratna Kencana Duta Denpasar Tampil Memukau di PKB XLVIII

Sajikan Tabuh Kreasi Kebyar-kebyar Rong hingga Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah

Loading

Published

on

By

duta denpasar
SAKSIKAN GONG KEBYAR WANITA: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya saat menyaksikan penampilan Sekaa Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, Banjar Anyar-anyar, Desa Ubung Kaja, Duta Kota Denasar pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Sabtu (20/6) malam. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kesenian Kota Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 kembali menunjukkan kualitas terbaiknya. Kali ini, Sekaa Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, Banjar Anyar-anyar, Desa Ubung Kaja sukses memukau penonton lewat penampilan terbaiknya pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Sabtu (20/6/2026) malam.

Tampil mebarung dengan Duta Kabupaten Buleleng, GKW Swara Ratna Kencana sukses mengundang sorak sorai hingga tepuk tangan penonton yang hadir. Sebanyak tiga materi turut dibawakan, yakni Tabuh Kreasi Kebyar-kebyar Rong, Tari Kreasi Jaran Teji dan Sandya Gita bertajuk Mati Tan Tumut Pejah.

Hadir langsung untuk memberikan dukungan, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Wayan Sutama dan I Made Mudra, serta Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya. Tampak pula Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Suwandewi Eddy Mulya serta Pimpinan OPD di lingkungan Kota Denpasar.

Koordinator Sekaa GKW Swara Ratna Kencana, I Nyoman Suarsa, mengatakan seluruh materi dipersiapkan secara serius untuk menghadirkan sajian yang tidak hanya menarik secara artistik, tetapi juga memiliki makna mendalam.

“Tabuh Kreasi Kebyar-kebyar Rong menggambarkan kehidupan sebagai ruang yang penuh dinamika, tempat manusia dihadapkan pada pilihan untuk menuju kemuliaan atau kehancuran sesuai hukum alam. Konsep tersebut kami tuangkan melalui permainan gamelan yang atraktif dan dinamis,” ujarnya.

Selain itu, Tari Kreasi Jaran Teji turut menjadi daya tarik dalam penampilan tersebut. Tarian karya I Wayan Dibia ini mengisahkan perjalanan Dewi Sekar Taji yang menyamar sebagai pria untuk mencari kekasihnya, Raden Panji Inu Kertapati.

Baca Juga  Garap “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani Pukau Penonton PKB XLVIII

“Tarian ini memadukan karakter putra dan putri yang menggambarkan keberanian, perjuangan, kesetiaan, sekaligus kelembutan dalam pencarian cinta yang heroik,” kata Suarsa.

Sebagai penampilan pemuncak, Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah hadir dengan semangat patriotisme yang terinspirasi dari nilai-nilai perjuangan para pahlawan. Melalui karya tersebut, para penampil ingin mengajak generasi muda untuk meneladani semangat pengabdian kepada bangsa dan negara, sekaligus memahami pentingnya kepemimpinan, pengetahuan, teknologi, dan ekonomi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Atas keberhasilan penampilan tersebut, Suarsa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses persiapan hingga pementasan berlangsung. Terutama para penabuh, tim pembina dan panitia yang telah bekerja keras selama ini.

“Kami sangat bersyukur karena seluruh materi dapat dibawakan dengan maksimal. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendampingi selama kurang lebih delapan bulan proses latihan. Semoga penampilan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya Bali,” tutup Suarsa.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa memberikan apresiasi atas penampilan yang ditunjukkan Sekaa Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, Banjar Anyar-anyar, Desa Ubung Kaja. Menurutnya, penampilan yang disajikan mampu mencerminkan kualitas, kreativitas, dan semangat pelestarian seni budaya yang terus tumbuh di Kota Denpasar.

Tak hanya itu, Arya Wibawa mengaku kagum dengan konsep garapan yang dihadirkan dalam setiap materi pementasan. Mulai dari Tabuh Kreasi Kebyar-kebyar Rong yang sarat makna filosofis, Tari Kreasi Jaran Teji yang memadukan semangat perjuangan dan kesetiaan, hingga Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah yang mengangkat nilai patriotisme. Seluruh sajian tersebut mampu dikemas secara harmonis melalui perpaduan tabuh, tari, vokal, dan penghayatan yang kuat sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Tinjau Kesiapan Duta PKB Badung 2026

“Tadi kita telah menyaksikan penampilan yang sangat maksimal dan luar biasa dari Sekaa Gong Kebyar Wanita Swara Ratna Kencana yang didominasi anak-anak. Garapan yang ditampilkan tidak hanya menarik dari sisi artistik, tetapi juga memiliki makna yang mendalam sesuai dengan tema yang diusung. Ini menjadi bukti bahwa semangat berkesenian dan kreativitas seniman Kota Denpasar terus berkembang serta mampu melahirkan karya-karya berkualitas yang patut kita banggakan bersama,” ujar Arya Wibawa. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Garap “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani Pukau Penonton PKB XLVIII

Published

on

By

Barong Binal
DUTA BADUNG: Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani saat tampil dalam ajang PKB XLVIII Tahun 2026 di panggung terbuka Art Centre Denpasar, Sabtu (20/6/2026) sore. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tampil memukau dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di panggung terbuka Art Centre Denpasar, Sabtu (20/6/2026) sore.

Dalam penampilannya, mereka mengangkat garapan bertajuk Srotragrahana, sebuah pertunjukan yang sarat nilai spiritual, harmoni alam, dan makna pemurnian jiwa dalam ajaran Hindu.

Koordinator pertunjukan, Made Dita Cahyadinata, menjelaskan bahwa Srotragrahana menggambarkan suasana di jantung Hutan Greseh, tempat beragam satwa seperti unggas, kera, anjing, kura-kura, babi, hingga macan hidup berdampingan dalam harmoni.

Menurutnya, karya tersebut tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritualitas Bali.

“Menjaga taksu leluhur kita, kemudian melestarikan budaya Bali, terlebih adalah proses pemurnian roh,” ujarnya.

Dalam garapan tersebut, sosok macan yang lazim dikenal sebagai pemangsa buas ditampilkan dengan tafsir berbeda. Meski tetap digambarkan tangguh dan agresif, macan justru mengalihkan kekuatannya untuk menjaga keamanan seluruh penghuni hutan. Simbol itu menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman, melainkan juga perlindungan.

Keharmonisan di Hutan Greseh diceritakan semakin sempurna berkat kehadiran Dang Hyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Di sebuah taman asri di sisi timur hutan, tokoh suci tersebut digambarkan tengah menjalani laku spiritual sambil menyusun untaian sastra pada lembaran lontar.

Pancaran jenyana atau pengetahuan suci yang dimiliki Dang Hyang Nirartha disebut menciptakan aura kasih sayang yang menyelimuti seluruh makhluk. Berkat kemuliaan batinnya, ia mampu memahami bahasa alam dan berkomunikasi dengan setiap ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.

Dari sanalah, kisah Srotragrahana mencapai puncak spiritual ketika para satwa dengan penuh bakti bersedia menjadi bagian dari sarana ritual di Pura Sada Kapal. Pertunjukan ini kemudian mengarah pada makna Mapepada, sebuah prosesi sakral dalam tradisi Hindu Bali.

Baca Juga  Garapan Drama Musikal "Lung Sri Sunari" Sukses Membius Ratusan Penonton di PKB 2025

Dalam pandangan Hindu, hewan yang digunakan sebagai sarana upacara tidak dipandang sekadar sebagai korban, melainkan makhluk yang sedang menempuh jalan pengabdian suci. Melalui upacara Mapepada, roh atau atman hewan diyakini disucikan dari sifat-sifat kebinatangan agar pada kelahiran berikutnya dapat meningkat ke derajat kehidupan yang lebih luhur.

“Upacara Mapepada bertujuan untuk menyucikan roh (atman) hewan tersebut dari sifat-sifat kebinatangan agar nantinya, saat bereinkarnasi, jiwa mereka dapat meningkat statusnya ke derajat kehidupan yang lebih tinggi atau lebih baik,” katanya pula.

Melalui Srotragrahana, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tak hanya menyuguhkan tontonan yang artistik, tetapi juga menghadirkan tuntunan spiritual tentang hubungan manusia, alam, dan seluruh ciptaan Tuhan.

Pertunjukan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga taksu leluhur dan kesucian nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Maréka Marakata: Saat Seluruh Warisan Seni Batuan Menjelma dalam Gemuruh Baleganjur

Published

on

By

Batur Mahaswara
LOMBA BALEGANJUR: Gemuruh baleganjur yang berpadu dengan gaung syair pujian mengawali penampilan Sekaa Gong Batur Mahaswara Desa Batuan, Sukawati, Gianyar pada Wimbakara Baleganjur Remaja Pesta Kesenian Bali XLVIII 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar, Jumat (19/6). (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Gemuruh baleganjur yang berpadu dengan gaung syair pujian mengawali penampilan Sekaa Gong Batur Mahaswara Desa Batuan, Sukawati, Gianyar pada Wimbakara Baleganjur Remaja Pesta Kesenian Bali XLVIII 2026. Melalui garapan Maréka Marakata, para penabuh muda Batuan menghadirkan refleksi artistik tentang Panji sebagai jiwa yang terus hidup, tumbuh, dan menjiwai beragam ekspresi kesenian masyarakatnya.

Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar, Jumat (19/6), Sekaa Gong Batur Mahaswara mengajak penonton menapaki jejak-jejak altar pemujaan di tanah Baturan. Garapan tersebut berangkat dari ritus seorang Agra Bumi dalam merawat gema sakral dan meniti lorong peradaban, yang kemudian melahirkan sosok Panji sebagai ruh yang hidup dalam denyut kesenian masyarakat Batuan.

Dalam konsep garapan tersebut, Panji tidak dipahami semata sebagai tokoh dalam kisah lama ataupun fragmen sejarah yang tersimpan dalam usana. Panji dihadirkan sebagai jiwa yang mengembara melampaui ruang dan bentuk, bersemayam dalam berbagai ekspresi seni yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Maréka Marakata hadir sebagai poros peleburan kosmis dalam garapan ini. Maréka dimaknai sebagai proses merangkai warna-warni elemen kesenian Batuan, sementara Marakata merupakan kilau cahaya inspirasi Panji yang membebaskan sukma. Keduanya menjadi simbol pertemuan berbagai unsur seni dalam satu kesadaran yang utuh.

Kepala Desa Batuan, Ari Anggara, menjelaskan bahwa proses penggarapan Maréka Marakata telah dimulai sejak pelaksanaan nuasen pada malam Siwaratri. Selama hampir lima bulan, para seniman muda menjalani lebih dari seratus kali latihan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat Desa Batuan, mulai dari penyaji, komposer, hingga koreografer, sebagai wujud komitmen untuk mengutamakan potensi dan sumber daya lokal.

Baca Juga  Garap “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani Pukau Penonton PKB XLVIII

“Spirit yang kami bangun sejak awal adalah mengutamakan kelokalan Desa Batuan. Seluruh penyaji, komposer, koreografer, dan pendukung garapan merupakan warga Batuan. Semangat ini sudah kami jalankan sejak Gong Kebyar Dewasa tahun 2023 dan terus kami pertahankan hingga sekarang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ari Anggara menyampaikan bahwa tema Maréka Marakata lahir dari upaya menggali dan menyajikan kembali kekayaan budaya Batuan yang terekam dalam Prasasti Baturan. Garapan tersebut merangkum berbagai warisan seni yang tumbuh di desa setempat, seperti Gambuh, Genggong, hingga seni lukis gaya Batuan, ke dalam satu kesatuan karya yang relevan dengan semangat pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat kita alpa terhadap pelestarian budaya. Pesta Kesenian Bali ini merupakan momentum yang tepat untuk memajukan kebudayaan kita, kebudayaan asli Desa Batuan,” ujarnya.

Garapan Maréka Marakata dikomposeri sekaligus dikoreografi oleh I Komang Winantara, dengan dukungan koreografi dari I Made Arma Wilingga Arsa dan I Nyoman Tri Arta Murti, serta dibawakan oleh Sekaa Gong Batur Mahaswara Desa Batuan sebagai duta seni yang mewakili kekayaan tradisi dan kreativitas generasi muda Batuan di ajang PKB XLVIII Tahun 2026. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca