Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Di Acara Natal Bersama Polri, Kapolri Titip Cooling System ke Tokoh Lintas Agama

BALIILU Tayang

:

kapolri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Mabes Polri tahun 2023 di Auditorium PTIK, Jakarta, Kamis (11/1/2024). (Foto: Hms Polri)

Jakarta, baliilu.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berpesan kepada para tokoh lintas agama untuk turut menjadi pendingin suhu politik atau cooling system menjelang Pemilu 2024. Hal itu diungkapkan Sigit dalam Perayaan Natal Mabes Polri tahun 2023 di Auditorium PTIK, Jakarta, Kamis (11/1/2024).

Selain kepada para tokoh lintas agama, orang nomor satu di Korps Bhayangkara ini juga meminta para jemaat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, meski berbeda pendapat dan pilihan.

Cooling system, saya titipkan mumpung di sini yang hadir berbagai macam saudara-saudara lintas agama dan ini penting sekali kita sampaikan kepada jemaat kita. Kepada jemaat kita untuk terus bisa menjaga persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan pendapat yang ada,” kata Kapolri dalam sambutannya.

Sigit menegaskan apa yang sudah diraih oleh pemimpin negara harus bisa dilanjutkan dan juga ditingkatkan. Untuk bisa mempertahankan itu sambungnya, syarat utamanya yakni menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Dirinya mengingatkan kepada seluruh anggota bahwa tugas Polri sangat berat. Kendati demikian, dengan modal dan semangat yang ada, dapat menjaga keberagaman, salah satunya dengan perayaan natal hari ini.

“Yakini dengan modal yang ada ditambah semangat kita untuk menjaga keberagaman salah satunya dengan perayaan Natal kali ini kita terus menjaga toleransi dan ini merupakan bagian dari menjaga keberagaman,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Polri akan Susun Aturan Pengamanan Liga Sepak Bola di Indonesia

NEWS

Gubernur Koster: Bali Bangun Aksi Iklim Berbasis Kearifan Lokal dan Membuka Peluang Ekonomi Hijau

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster memberikan sambutan Aksi Iklim Bali dalam Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 di Nusa Dua.
BERI SAMBUTAN: Gubernur Bali Wayan Koster memberikan sambutan pada acara Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026, melalui paparan bertajuk “Aksi Iklim Bali: Regulasi, Implementasi, dan Peluang Kolaborasi" bertempat di Hotel Westin Resort, Nusa Dua, Badung pada Selasa (8/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan sambutan pada acara Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026, melalui paparan bertajuk “Aksi Iklim Bali: Regulasi, Implementasi, dan Peluang Kolaborasi” bertempat di Hotel Westin Resort, Nusa Dua, Badung pada Selasa (8/9). Ia menegaskan bahwa aksi iklim di Bali tidak hanya merupakan respons terhadap perubahan iklim, tetapi menjadi bagian integral dari pembangunan Bali yang berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Gubernur Koster menjelaskan, Nangun Sat Kerthi Loka Bali menjadi landasan filosofis dalam menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, baik secara niskala maupun sekala.

Dalam kerangka tersebut, aksi iklim Bali dibangun melalui keseimbangan antara Manusia Bali, Alam Bali, dan Kebudayaan Bali. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan Bali.

Manusia Bali diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pembangunan yang berkelanjutan. Alam Bali dijaga melalui perlindungan hutan, ekosistem pesisir, mangrove, padang lamun, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Sementara Kebudayaan Bali menjadi fondasi nilai, tradisi, dan kearifan lokal dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Gubernur Koster menyampaikan bahwa Bali saat ini telah memiliki aset iklim yang nyata dan dapat menjadi modal penting dalam pengembangan ekonomi hijau. Di sektor energi terbarukan, Bali telah memiliki sekitar 45 MWp PLTS terpasang, sebanyak 17.225 kendaraan listrik roda dua dan roda empat, serta 302 unit SPKLU yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.

Pada sektor blue carbon, Bali memiliki sekitar 2.330 hektare kawasan mangrove, dengan 88 persen berada dalam kategori lebat, serta sekitar 1.307 hektare padang lamun. Potensi ini dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi blue carbon credit dengan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga  Polri akan Susun Aturan Pengamanan Liga Sepak Bola di Indonesia

Bali juga memiliki potensi besar dalam karbon pertanian. Sekitar 52.909 hektare sawah telah menerapkan sistem pertanian organik, atau sekitar 82 persen dari total sawah, yang menjadi modal penting dalam pengembangan soil carbon dan biodiversity credits.

Di sektor kehutanan, Bali memiliki sekitar 131.171 hektare kawasan hutan, yang terdiri atas sekitar 96.688 hektare hutan lindung dan 26.396 hektare kawasan konservasi. Aset tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan fungsi ekosistem dalam menyerap karbon.

Menurut Gubernur Koster, berbagai aset tersebut bukan sekadar angka atau potensi ekologis, tetapi dapat dikembangkan menjadi aset ekonomi baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat Bali, sepanjang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, tata kelola yang baik, dan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Bali membuka tiga peluang kolaborasi karbon yang dinilai bankable, yaitu: Blue Carbon, melalui pengembangan mangrove dan padang lamun; Solar Energy, melalui pembangunan PLTS skala besar; dan Agricultural Carbon, melalui pengembangan pertanian organik dan soil carbon.

Untuk PLTS skala besar, Bali membuka peluang pengembangan dengan target tahap pertama sekitar 300 MWp, yang selanjutnya dapat dikembangkan hingga 700–1.200 MWp. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung transisi energi sekaligus menciptakan peluang renewable energy certificate dan carbon credit.

Gubernur Koster menegaskan, Bali membutuhkan kolaborasi dengan investor, pengembang proyek, lembaga standar internasional, akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Namun, kolaborasi tersebut harus tetap berada dalam kerangka regulasi dan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali sehingga memberikan kepastian, menjaga kepentingan masyarakat, serta memastikan manfaat ekonomi dari pengembangan karbon dapat kembali kepada Bali.

Aksi iklim Bali dengan demikian tidak berhenti pada upaya mengurangi emisi, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan peluang ekonomi baru, memperkuat ketahanan lingkungan, menjaga keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga  Hari Jadi Ke-72, Humas Polri Dapat Dua Kado Terindah

Gubernur Koster menegaskan bahwa pembangunan Bali ke depan harus tetap berpijak pada prinsip ekonomi hijau, keberlanjutan, dan keseimbangan antara manusia dengan alam.

“Bali ingin menunjukkan bahwa menjaga alam bukan hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Justru dengan menjaga alam, kita membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” demikian garis besar pesan Gubernur Koster.

Melalui pendekatan tersebut, Nangun Sat Kerthi Loka Bali menjadi bukan hanya filosofi pembangunan, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun Bali yang hijau, mandiri, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global.

Chairman Indonesia Carbon Credit and Biodiversity Alliance (ICCBA) Rob Raffael Kardinal mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Bali yang telah membangun fondasi kebijakan dan memiliki berbagai aset nyata untuk dikembangkan dalam ekosistem karbon dan keanekaragaman hayati.

Menurut Rob, Bali memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis karbon dan biodiversitas yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Berbagai potensi seperti mangrove, padang lamun, pertanian organik, energi terbarukan, dan kawasan hutan dapat dikembangkan melalui kolaborasi multipihak dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan manfaat bagi masyarakat.

“Bali memiliki sesuatu yang sangat kuat, yaitu kombinasi antara alam, budaya, kebijakan, dan masyarakat. Ini menjadi modal penting untuk membangun ekosistem karbon dan biodiversitas yang kredibel. Kami melihat Bali bukan hanya memiliki potensi untuk menghasilkan carbon credit, tetapi juga dapat menjadi contoh bagaimana carbon credit dan biodiversity credit dikembangkan dengan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Rob.

Rob menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, investor, lembaga standar, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk memastikan potensi tersebut dapat diwujudkan menjadi proyek yang konkret, terukur, dan memiliki standar yang dapat diterima secara internasional.

Baca Juga  Kapolri Luncurkan Kartu Bhayangkara Prioritas Buruh, Permudah Akses Layanan Kesehatan Pekerja

“Kami siap mendorong kolaborasi dan mempertemukan Bali dengan berbagai mitra strategis, baik nasional maupun internasional. Harapannya, apa yang dikembangkan di Bali dapat menjadi model yang tidak hanya bermanfaat bagi Bali dan Indonesia, tetapi juga dapat direplikasi di berbagai wilayah dan negara lain,” tambahnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” Sasar Tiga Desa di Bangli, Putri Koster Tekankan Pemenuhan Gizi Keluarga dan Pemberdayaan PKK

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menyerahkan bantuan dalam Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi di Desa Pengotan, Bangli.
AKSI SOSIAL: Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menyerahkan bantuan saat menghadiri Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” dengan menyasar masyarakat di tiga desa di Kabupaten Bangli, Rabu (9/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Tim Penggerak PKK (TP PKK) Provinsi Bali kembali melaksanakan Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” dengan menyasar masyarakat di tiga desa di Kabupaten Bangli, Rabu (9/9/2026). Tiga lokasi tersebut yakni Desa Pengiangan, Kecamatan Susut; Desa Pengotan, Kecamatan Bangli; dan Desa Satra, Kecamatan Kintamani.

Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” tidak hanya difokuskan pada penyaluran bantuan sosial, tetapi juga dirangkaikan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui bimbingan teknis (bimtek) memasak, layanan kesehatan gratis, serta vaksinasi rabies gratis bagi hewan penular rabies (HPR). Rangkaian kegiatan tersebut merupakan upaya TP PKK Provinsi Bali untuk menyentuh kebutuhan masyarakat dari aspek sosial, kesehatan, hingga peningkatan keterampilan keluarga.

Pada masing-masing lokasi, bantuan diberikan kepada 50 penerima yang terdiri atas lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, kader PKK, dan balita. Masing-masing penerima memperoleh bantuan berupa 30 kilogram beras, dua krat telur, dan dua kotak susu.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Bali. Bantuan yang disalurkan antara lain berupa paket Gemarikan, sembako, susu, multivitamin, bibit pohon dan tanaman cabai, serta buku resep kuliner.

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menekankan bahwa pemberian bantuan perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan keluarga mengenai pemenuhan kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi. Menurutnya, tempat tinggal bukan menjadi penghalang bagi keluarga untuk memperoleh dan mengkonsumsi makanan berkualitas.

“Walaupun kita tinggal di desa, makanan yang dikonsumsi oleh keluarga harus tetap makanan yang baik dan penuh gizi,” ujar Ny. Putri Koster.

Ny. Putri Koster berharap masyarakat, khususnya para anggota PKK, semakin memperhatikan asupan makanan keluarga dengan mengutamakan makanan yang baik, sehat, dan bergizi. Pengetahuan serta keterampilan dalam mengolah makanan menjadi penting agar bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi hidangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan keluarga.

Baca Juga  Kapolri Luncurkan Kartu Bhayangkara Prioritas Buruh, Permudah Akses Layanan Kesehatan Pekerja

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” dirangkaikan dengan bimtek memasak yang dilaksanakan di masing-masing lokasi bekerja sama dengan Bali Chef Community (BCC). Sebanyak 30 anggota PKK desa dilibatkan dalam setiap pelaksanaan bimtek untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah makanan.

Bimtek memasak tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan anggota PKK dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya pangan lokal. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha produktif sehingga turut membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Bantuan yang disalurkan melalui kegiatan tersebut dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Ni Nengah Masih, anggota PKK Banjar Sunting, Desa Pengotan, mengatakan bantuan TP PKK Provinsi Bali sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Ia juga mengapresiasi perhatian yang diberikan kepada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, hingga anak-anak.

Hal senada disampaikan Ni Luh Sulastri, anggota PKK Dusun Padpadan, Desa Pengotan. Ia berharap Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak desa sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di seluruh Bali.

Ketua TP PKK Kabupaten Bangli Ny. Sariasih Sedana Arta menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas pelaksanaan Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” yang kali ini menyasar tiga desa di Kabupaten Bangli. Menurutnya, kehadiran Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster beserta berbagai program dan bantuan yang dibawa selalu mendapat sambutan positif dan dinantikan masyarakat Kabupaten Bangli.

Selain bantuan sosial dan bimtek memasak, kegiatan di tiga desa tersebut juga dilengkapi dengan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat serta vaksinasi rabies gratis bagi hewan penular rabies (HPR). Layanan tersebut semakin memperluas manfaat Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi”, tidak hanya dalam membantu kebutuhan keluarga, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Baca Juga  KKB Bunuh Pilot WNA Selandia Baru di Mimika

Melalui pendekatan yang memadukan bantuan sosial, edukasi gizi, peningkatan keterampilan, layanan kesehatan, serta pencegahan rabies, TP PKK Provinsi Bali berharap Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan sekaligus memperkuat peran PKK dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

FGD “Anggrek Kembali”, Putri Koster Berharap Anggrek Lokal Bali Kembali Menjadi Primadona di Daerah Asalnya Sendiri

Published

on

By

Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia Bali Ibu Putri Koster menjadi keynote speaker dalam FGD Anggrek Kembali di Universitas Udayana.
FGD: Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali, Ibu Putri Koster, menjadi keynote speaker dalam FGD Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali yang berlangsung di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Selasa (8/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)  

Denpasar, baliilu.com – Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali, Ibu Putri Koster, menjadi keynote speaker dalam FGD Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali yang berlangsung di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Selasa (8/9/2026).

Ibu Putri Koster selaku Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah fokus pada pelestarian anggrek lokal Bali, khususnya pada sektor hulu, melalui upaya konservasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek asli Bali.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) tersebut, Putri Koster menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana, BKSDA Bali, BRIN, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, serta BRIDA Provinsi Bali untuk melakukan upaya adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali agar tetap lestari dan semakin diminati masyarakat.

“Banyak sekali anggrek lokal Bali, seperti anggrek linjong, anggrek Vanda tricolor, dan lainnya, yang dahulu banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat. Namun, setelah berpuluh-puluh tahun, keberadaannya mulai berkurang, kurang diminati, dan perlahan ditinggalkan,” ujar Putri Koster.

Mengusung tajuk “Anggrek Kembali”, Putri Koster berharap anggrek lokal Bali kembali menjadi primadona di daerah asalnya sendiri. Untuk itu, ia menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana untuk menginisiasi langkah-langkah konservasi dan pengembangan anggrek lokal Bali yang lebih unggul sehingga semakin diminati masyarakat.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, menyampaikan bahwa sejumlah upaya yang dilakukan meliputi adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali, perbanyakan massal dan pengembangan anggrek lokal Bali, serta pengembangan desa wisata anggrek di Dusun Dosang, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Baca Juga  Polri Hormati Putusan Mahkamah Konstitusi soal Perubahan Pasal Perintangan Hukum

Ia memandang anggrek lokal Bali memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata yang memiliki keunikan tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Pulau Dewata. Dengan demikian, pengembangannya tidak hanya berorientasi pada pelestarian anggrek lokal Bali, tetapi juga diharapkan dapat menjadi salah satu motor penggerak kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan berkeadilan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan bahwa anggrek merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi, estetika, dan budaya, sekaligus berpotensi sebagai sumber daya genetik untuk dikembangkan menjadi varietas unggul pada masa mendatang.

FGD tersebut membahas upaya identifikasi, karakterisasi, strategi konservasi, pelestarian, dan pengembangan anggrek lokal Bali. Kegiatan ini juga menjadi media pertukaran informasi dan gagasan antara akademisi, peneliti, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.

FGD menghadirkan tiga narasumber, yakni Aninda Retno Utami Wibowo dari BRIN, Made Dwi Jayanti dari BKSDA Bali, dan Dr. I Putu Sudana dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Kegiatan FGD diharapkan tidak berhenti pada aspek penelitian semata, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program pengembangan yang konkret serta memberikan dampak luas terhadap peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca