SEJAK berdiri 17 tahun silam, Toya Devasya Natural Hot Spring yang berada di kaldera Batur Kintamani Bangli dari tahun ke tahun tak pernah henti melakukan pembenahan. Sehingga Toya Devasya Natural Hot Spring kini selain dikenal dengan permandian air panas alami di pinggir danau dengan view Gunung Abang, juga memiliki berbagai fasilitas berkelas yang menarik.
Mulai dari The Ayu Kintamani Villa dengan 12 kamar (8
deluxe, 2 family, 2 honeymoon) dengan private pool. Flamboyan Restaurant yang
menyajikan menu buffet Western, Balinese, Chinese, Indonesian serta ala carte.
Di Flamboyan Restaurant juga terdapat Coffee House yang menyediakan kopi
Kintamani terbaik serta berbagai varian kopi serta kue-kue menarik. Untuk food
and beverage juga terdapat makanan ringan seperti bakso, mie ayam, gado-gado,
ayam geprek di food stall, juga terdapat aneka minuman seperti es kelapa muda
dan es campur serta berbagai kudapan seperti pisang, tempe, tahu goreng.
KEJUTAN: Kedatangan tamu The Prediksi, meriah banget
Selain villa juga terdapat tenda untuk camping yang disebut Hiker’s Camp yang sering digunakan baik untuk nginap keluarga atau pasangan maupun kegiatan gathering perusahaan, instansi. Ayurvedic Spa juga siap memanjakan pengunjung yang ingin menyegarkan badan sehabis menikmati fasilitas adventure seperti bersepeda atau jeep tour. Fasilitas paling belakangan adalah dua waterbom yang bisa dinikmati pengunjung hanya dengan membayar tiket masuk serta fasilitas watersport di Danau Batur.
Di balik berbagai
fasilitas berkelas yang menarik, General Manager Toya Devasya yang sekaligus
owners DR. Ketut Mardjana menandaskan hal
yang betul-betul baru adalah bagaimana menyajikan satu culture budaya yang ada
di lingkungan geopark, budaya yang ada di Indonesia, khususnya yang ada di Bali
yang akan diperkenalkan dan dikembangkan terus.
GM KETUT MARDJANA: Dampingi The Prediksi sarapan pagi
Karena itu, ada dua sasaran pengembangan pariwisata Toya Devasya. Pertama pariwisata di bidang alam yang sudah merupakan buatan Tuhan yang indahnya luar biasa. Sedangkan yang kedua adalah budayanya. Di kawasan ini, lanjut Ketut Murdjana, adalah kawasan Bali Mula yang dikenal dengan Catur Sanak Bali Mula di antaranya ada Trunyan, Kayu Selem, Celagi, Songan yang merupakan satu kawasan yang asal-muasalnya di sini. Begitu juga raja Bali yang pertama ada di kawasan geopark.
Culture ini
akan terus digali yang akan dimunculkan ke permukaan, yang nanti pada
gilirannya diwujudkan dalam bentuk pertunjukan yang bersifat kultural.
Akulturasi budaya China dan Bali yang hari ini bisa disaksikan di Toya Devasya mulai
buka dari 19 Januari-9 Februari 2020 bertepatan dengan tahun baru Imlek. Akulturasi budaya Bali dan China ini tak terlepas
dari adanya perkawinan raja Bali dengan putri Tionghoa.
Pertujukan yang
mengedepankan kearifan local akan diagendakan secara berkala. Tidak menutup
kemungkinan, bertepatan dengan hari raya Galungan akan digelar fragmen yang
sesuai dengan tema galungan. Begitu juga saat ngembak geni serangkaian hari raya
Nyepi di mana pertunjukannya sesuai dengan kultur penyepian. ‘’Seperti itulah yang
akan kami upayakan untuk mengenalkan Bali secara lebih luas lagi, khususnya
khawasan geopark dan tentunya Toya Devasya ini,’’ papar Ketut Mardjana.
Namun cukup
memprihatinkan, di tengah persiapan Kintamani Festival yang sudah matang, ada
suatu berita akan diadakan satu evaluasi karena adanya penyebaran virus corona.
Ini yang sedikit membuat kita prihatin, yang tidak bisa diprediksi. ‘’Tetapi saya
apreciate, pemerintah daerah yang begitu cepat melakukan action. Bagaimana memproteksi
Bali sehingga tidak terkena virus corona. Mudah-mudahan sifatnya temporer saja.
Dan setelah ini selesai akan semakin banyak lagi kunjungan ke Toya Devasya,’’
harap Ketut Mardjana.
CO Ayu
Saraswati menandaskan dengan kehadiran 13 artis ibukota yang dipimpin Andre Taulany
tentunya berharap Toya Devasya makin dikenal. Walaupun tingkat kunjungannya
cukup tinggi dan sudah banyak dikenal, tentunya berharap lebih banyak lagi
melalui penggemar-penggemarnya. Pengunjung tidak terbatas wisatawan manca negara
tetapi wisatawan Nusantara, temasuk juga dari bali. Rencana akan ada penambahan
kamar dan tahun ini fokus mengangkat
kearifan local dengan cita-cita mempersembahkan suatu acara budaya di danau.
‘’Saya
kebetulan bersama Bu Ayu hadir di China dalam rangka memperomosikan Bali Tourism
Board. Pada kesempatan itu, kami menyaksikan perfoma danau yang luar biasa di Angchau.
Pertunjukan tari-tariannya benar-benar spektakuler. Di sini juga tentu bisa dan
kami akan mohon izin pada pemerintah daerah. Jika diizinkan menggelar pertunjukan
di danau dengan menumbuhkan culture budaya Bali, maka kami akan kembangkan.
Kalau ini terwujud, Bangli akan semakin dikenal,’’ tandas Ketut Mardjana.
Tentunya, ekosistem
yang ada patut dijaga, dan bagaimana pemerintah turun tangan menjaga Danau Batur
yang kita sucikan dan sekarang dikritik orang terlalu banyak kontaminasi. Pemerintah
sangat well care dan mudah-mudahan pemerintah melakukan action untuk menjaga
kelestarian ini.
Sebagai destinasi
wisata yang sudah mendunia yang hadir di tengah masyarakat dengan kultur budaya
yang kuat, Toya Devasya menggunakan tenaga
kerja yang 99,9 persen adalah orang lokal. Begitu juga produk-produk yang
digunakan memanfaatkan dan menyerap dari masyarakat local mulai dari ikan,
jeruk, sayur-mayurnya dll. Termasuk fokus mengangkat kembali budaya local yang saat
ini sedikit tenggelam.
Toya Devasya
mengangkat terong belanda, yang disajikan buat tamu-tamu yang camping, villa,
welcome drink dengan terong belanda. Kita juga mengembangkan mujair
menyat-nyat. Di sini tidak ada bahan beef, pork dan MSG. Berbagai makanan dari Nusantara juga ada, makanan terbuat dari
aneka lontong, beragam minuman yang disajikan mengikuti keinginan dari
tamu-tamu. Begitu juga mengembangkan Ayuverdic spa. Adalah satu system terapi
yang berdasarkan dari weda. Jadi ke depannya mulai dari makanannya yang
sifatnya herbal. Kearifan local akan menjadi hal yang sangat diperhatikan.
Rencananya,
pertunjukan danau akan bersifat kolosal, melibatkan sanggar di wilayah ini.
Mereka punya gagasan yang luar biasa. Ada permainan lampu, dll. Bagaimana
perdagangan China ke daerah ini yang kemudian Raja Bali kawin dengan Putri
China yang kemudian terjadi akulturasi budaya dan mungkin itu yang akan digali.
‘’Mudah-mudah pemerintah kabupaten dan provinsi mendukung penuh gagasan ini,’’
harap Ketut Mardjana. (Balu1)
BUKA BBTF: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri sekaligus turut membuka secara resmi gelaran Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 yang berlangsung di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, pada Kamis (28/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri sekaligus turut membuka secara resmi gelaran Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 yang berlangsung di Hotel The Westin Resort Nusa Dua, pada Kamis (28/5). Kegiatan ini turut dihadiri Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, perwakilan Menteri Luar Negeri RI yang diwakili Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ketua BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa BBTF tahun ini mengusung tema Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage. Ia menegaskan BBTF bukan sekadar ajang business matching antara buyer dan seller, melainkan platform strategis untuk membangun kepercayaan pasar, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan membuka peluang bisnis nyata bagi industri pariwisata Indonesia.
Tahun ini, BBTF diikuti 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers, yang menjadi bukti tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap Bali dan Indonesia sebagai destinasi unggulan di tengah dinamika global.
Sementara itu, Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan BBTF sebagai salah satu travel fair terbesar dan paling strategis di Indonesia. Menurutnya, penyelenggaraan BBTF merupakan bagian dari upaya nyata pemerintah bersama seluruh pelaku industri pariwisata untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara di tengah tantangan krisis global, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan tren perjalanan dunia.
Ia menegaskan, ajang ini menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi pariwisata Indonesia, memperluas jejaring pasar internasional, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional. (gs/bi)
AUDIENSI: Gubernur Bali Wayan Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Bali telah memiliki posisi kuat sebagai pusat pertemuan internasional dunia atau meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Untuk itu, ia mendorong pelaku industri pariwisata dan pemangku kepentingan MICE di Bali membangun standar penyelenggaraan yang berkarakter, berbasis budaya Bali, sekaligus memberi dampak nyata bagi pelaku ekonomi lokal.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5).
“Bali sudah secara de facto menjadi pusat meeting internasional. Selama ini begitu banyak pertemuan dunia diselenggarakan di Bali karena fasilitas kita kuat, SDM siap, keamanan dan kenyamanan VVIP terjaga,” ujar Koster.
Menurutnya, kekuatan utama Bali bukan hanya pada fasilitas ballroom, convention center, dan hotel berstandar internasional, melainkan budaya Bali yang unik dan tidak dapat ditiru daerah lain secara instan.
Ia mencontohkan keberhasilan Bali menjadi tuan rumah berbagai agenda dunia seperti G20 dan World Water Forum yang menghadirkan puluhan ribu delegasi dari ratusan negara. Dalam forum internasional tersebut, khususnya World Water Forum, Bali dinilai unggul karena mampu memadukan fasilitas modern dengan konsep budaya dan filosofi lokal seperti Sad Kerthi, Danu Kerthi, serta sistem subak.
“Kita jangan terlalu terbawa arus luar karena branding Bali sudah sangat kuat. Yang menjadi nilai jual utama adalah budaya Bali,” katanya.
Koster meminta BaliCEB merumuskan standar MICE khas Bali agar memiliki identitas dan karakter berbeda dibanding destinasi lain di dunia.
“Organisasi silakan rumuskan standar MICE di Bali yang unik supaya punya identitas. Kontennya harus orisinal, dipikirkan dan diurus dengan benar sehingga semua penyelenggara punya acuan,” ujarnya.
Selain memperkuat identitas budaya, Koster juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam setiap kegiatan MICE di Bali, mulai dari transportasi, dekorasi hingga souvenir.
“MICE harus mampu mendukung UMKM lokal Bali. Bangkitkan spirit kelokalan agar dampaknya lebih optimal terhadap pelaku ekonomi Bali,” tegasnya.
Ia juga memastikan persoalan sampah dan kemacetan yang selama ini menjadi sorotan wisatawan akan terus dibenahi secara bertahap guna memperkuat daya tarik Bali sebagai destinasi global.
Ratusan Pelaku Industri Gabung BaliCEB
Sementara itu, Ketua Umum Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) Ketut Jaman mengungkapkan minat pelaku industri pariwisata Bali untuk bergabung dalam organisasi tersebut sangat tinggi.
“Sudah ratusan yang ancang-ancang bergabung dengan MICE ini. Kita ingin Bali menjadi pusat MICE dunia,” ujarnya.
Menurut Ketut Jaman, Bali memiliki ratusan fasilitas MICE dengan sekitar 30 ballroom berkapasitas di atas 200 orang yang tersebar di berbagai kawasan pariwisata.
Pelantikan pengurus BaliCEB dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni mendatang di kawasan The Meru, Sanur. Organisasi tersebut menargetkan Bali menjadi destinasi utama penyelenggaraan meeting internasional yang jumlahnya mencapai ribuan agenda setiap tahun di berbagai negara.
Selain itu, BaliCEB juga menyatakan komitmennya mendukung program pungutan wisatawan asing melalui sosialisasi kepada peserta dan penyelenggara event MICE di Bali.
“MICE sangat membantu tingkat hunian hotel maupun kunjungan ke daya tarik wisata di Bali,” kata Ketut Jaman. (gs/bi)
Gubernur Bali Wayan Koster mengalungkan bunga menyambut wisatawan yang datang ke Bali saat Tahun Baru 2026. (Foto: bi)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster gembira dan berterima kasih kepada semua stakeholders dan masyarakat yang terus aktif menjaga kualitas pariwisata Bali. Kerja keras semua pihak diapresiasi dunia. Bali Indonesia baru saja meraih peringkat 1 World’s Best Destination 2026, dalam ajang bergengsi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best oleh TripAdvisor. Bali di posisi teratas, melampaui sembilan destinasi kenamaan dunia lainnya seperti London, Roma, Hanoi, Paris, New York (NY) hingga Dubai.
Penghargaan dunia ini diakui Koster bahwa Bali tetap kuat dengan pariwisata berbasis budaya, tradisi, seni dan alam meskipun sering digoyang dengan isu sampah, macet dan sepi.
“Bali di posisi nomor 1 dari 10 Top Destinasi Pariwisata Dunia. Bali menempati posisi tertinggi di dunia sepanjang sejarah. Digoyang dengan isu sampah, macet, sepi dan lain ternyata tak bisa menggoyahkan posisi Bali,” kata Gubernur Koster, Jumat, 16 Januari 2026.
Tak hanya dianugerahi peringkat satu Top Destinasi Pariwisata Dunia oleh TripAdvisor, Bali juga diakui global dalam berbagai kategori lainnya seperti diakui sebagai peringkat pertama Honeymoon Destination. kemudian masuk Top 10 Cultural Destination, Top 10 Solo Travel Destination, Top 20 Trending Cities.
Berikut ini data dan fakta Top 10 World’s Best Destinations Travelers’ Choice Awards Trip Advisor dan Bali Indonesia berada di posisi pertama. Setelah itu disusul urutan kedua London, Britania Raya, dan ketiga Dubai, Uni Emirat Arab, keempat Hanoi, Vietnam, kelima Paris, Prancis, keenam Roma, Italia, ketujuh Marrakesh, Maroko, kedelapan Bangkok, Thailand, kesembilan Kreta, Yunani dan sepuluh New York, Amerika Serikat. (gs/bi)