Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Fasilitasi UMKM dan IKM Ikuti Pameran, Ny. Putri Koster Ingin Produk Kerajinan Lokal Kuasai Pasar

BALIILU Tayang

:

des
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster

Denpasar, baliilu.com – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali bekerja sama dengan BPD Bali dan Bali Funtastic Tegallalang Gianyar menggelar pameran produk lokal Bali. Kegiatan yang akan dilaksanakan selama dua hari mulai 29 hingga 30 Agustus 2020 itu melibatkan 20 pelaku UMKM/IKM yang bergerak di bidang usaha produk sandang seperti tenun lokal dan perhiasan khas Bali.

Guna mematangkan persiapan pameran tersebut, Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster menggelar rapat koordinasi yang melibatkan pihak pengelola Bali Funtastic dan para peserta pemeran, berlangsung di Ruang Pertemuan Gedung Gajah Jayasabha Denpasar, Rabu (26/8).

Pada kesempatan itu, Ny. Putri Koster menyampaikan harapan agar produk kerajinan yang dihasilkan pelaku UMKM/IKM Bali dapat menguasai pasar lokal. Menurutnya, salah satu upaya untuk mewujudkan harapan tersebut adalah melalui pelaksanaan pameran.

Pendamping orang nomor satu di Bali itu menyampaikan, sebelum pandemi Covid-19, pihaknya sempat merancang kegiatan pameran yang lebih intensif bagi UMKM/IKM Bali. Melalui ajang pameran, ia ingin Bali jadi etalase untuk mempromosikan produk kerajinan lokal. “Jangan bangga berpameran di luar, Bali justru harus jadi etalase,” ujarnya, menekankan.

Namun karena pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir, Ny. Putri Koster mengaku  harus memutar otak agar pelaku UMKM/IKM kembali bergairah dan tetap bisa mempromosikan produk mereka. Selain lewat pameran konvensional yang akan digelar di Bali Funtastic, ia juga tengah merancang pameran virtual agar produk kerajinan Bali bisa diperkenalkan secara lebih luas. “Kalau pameran konvensional, produk hanya dilihat oleh mereka yang berkunjung secara langsung. Namun jika digelar secara virtual, orang dari berbagai belahan dunia bisa melihat apa saja yang kita pamerkan,” ucapnya menjelaskan.

Baca Juga  Giat Cegah Corona, Desa Dauh Puri Kangin Data Penduduk Non-Permanen

Terkait dengan pameran yang akan digelar di Bali Funtastic, wanita yang dikenal sebagai penyair berbakat ini menyampaikan rasa bangga karena bisa memfasilitasi para UMKM/IKM untuk menggelar pameran. “Merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi Dekranasda Bali karena dipercaya memilih UMKM/IKM yang ikut dalam pameran,” katanya sembari menegaskan bahwa penentuan peserta bukan karena hubungan pertemanan, namun atas dasar kualitas produksi.

Dalam menentukan peserta pameran, Dekranasda Bali mempertimbangkan kualitas produk yang dipasarkan pelaku UMKM/IKM. Ny. Putri Koster menyebut, produk yang dipamerkan kali ini adalah hasil kerajinan berkualitas primier.

Ke depannya, ia memacu seluruh pelaku UMKM/IKM agar berlomba-lomba menghasilkan produk berkualitas yang layak ditampilkan, sehingga peserta pameran tak terkesan yang itu-itu saja. “Untuk saat ini, memang peserta pameran adalah mereka yang bisa menampilkan produk primier. Kalau yang lain bisa tingkatkan kualitas dan pantas hadir, tentu akan memperoleh kesempatan yang sama,” ujarnya.

Untuk bisa menciptakan produk berkualitas, sosok perempuan multitalenta ini mengarahkan para pelaku UMKM/IKM dapat menciptakan ciri khas pada produk yang mereka hasilkan. Terkait upaya menciptakan produk yang memiliki ciri khas, ia lantas mencontohkan inovasi yang dilakukan Ketut Ardanen, owner Baliwa Songket Collections. Dengan sentuhan inovasi dan kreativitas, Arda berhasil menyulap berbagai kain tenun tradisional Bali menjadi produk dengan warna dan tampilan baru yang lebih elegan.

“Ia membeli berbagai jenis tenun Bali seperti songket dan endek dari mana-mana. Tapi kemudian mampu memunculkan produk baru dengan ciri khas sendiri. Ibarat sosok wanita yang dipoles jadi lebih cantik, luwes dan lembut,” kata Ny. Putri Koster, mengandaikan.

Masih dalam arahannya, ibu dua putri ini berpesan kepada peserta agar memahami prinsip sebuah pameran. Ia mengingatkan peserta jangan berjualan seperti di pasar senggol. Menurutnya, prinsip dari kegiatan pameran adalah memanjakan mata pengunjung dan mempengaruhi selera masyarakat. “Namanya pameran, jangan memaksa untuk membeli. Yang penting peserta pameran bisa menerangkan secara detail tentang produk yang dipajang. Transaksi tak harus terjadi pada saat itu, tapi bisa di lain waktu,” ucapnya menandaskan.

Baca Juga  Tim Gugas Covid-19 Bali Pastikan Protokol Kesehatan Berjalan Tertib dan Konsisten di Pasar Ketapian Denpasar

Pada bagian lain, Ny. Putri Koster kembali menyinggung pentingnya pemanfaatan IT dalam pemasaran produk. Ia menganjurkan pelaku UMKM/IKM memanfaatkan platform market place karena menurutnya promosi produk akan jauh lebih efektif.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Wayan Jarta menyampaikan bahwa pameran kali ini merupakan momentum yang luar biasa, sehingga harus dipersiapkan semaksimal mungkin. Ia berharap kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan UMKM/IKM Bali yang terpuruk karena terdampak Covid-19.

Sedangkan onwer Bali Funtastic Tegallalang Made Ardana yang hadir dalam rapat koordinasi siang itu menyampaikan terima kasih karena terpilih menjadi tuan rumah pelaksanaan pameran. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  Atasi Dampak Wabah Covid-19, MGPSSR Klungkung Serahkan Paket Sembako kepada Pemangku

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Baca Juga  Giat Cegah Corona, Desa Dauh Puri Kangin Data Penduduk Non-Permanen

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Seleksi Ketat Masuk Bali, Penumpang Tiba di Bandara Ngurah Rai Wajib Tunjukkan Hasil Negatif Uji Swab/PCR

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada Triwulan I 2026

Published

on

By

harga properti bali
Infografis Harga Properti Residensial Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy). Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 ), dan besar (luas bangunan > 70 m2 ) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah.

“Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah. Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non-bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%.

Baca Juga  Dari GWK, Sekda Dewa Indra Berpesan Objek Wisata Salah Satu Tempat Berisiko Tinggi Penyebaran Covid-19

Dari sisi konsumen, sebut Achris Sarwani, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca