FOTO BERSAMA: Sekda Kota Denpasar IB Alit Wiradana foto bersama dengan pemenang the best 6 Program Hindupreneur Academy saat penutupan di lantai III Gedung Sewaka Dharma Mahottama Lumintang Denpasar, Senin, 6 Desember 2021. (Foto: gs)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan saat pandemi Covid-19 dimana lapangan kerja semakin sulit dan terbatas, maka menjadi wirausaha merupakan alternatif jalan keluar.
‘’Saat ini pandemi Covid-19 belum juga reda, dan kita semua masih dihadapkan pada situasi yang sulit. Baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan. Namun kita tidak boleh serta merta menyerah menghentikan langkah dalam usaha pemulihan ekonomi di masa yang sulit ini. Pandemi Covid-19 bukan sebuah alasan bagi generasi muda untuk tidak berkarya. Kita bisa berkarya dengan segala kecanggihan teknologi yang ada membangun sisi baru di masa Covid-19,’’ kata Sekda Kota Denpasar IB Alit Wiradana saat membacakan sambutan Walikota Denpasar IGN Jaya Negara yang berhalangan hadir karena meninjau dampak dari hujan lebat di beberapa lokasi di Denpasar, pada penutupan Hindupreneur Academy di lantai III Gedung Sewaka Dharma Mahottama Lumintang Denpasar, Senin, 6 Desember 2021.
Sekda Kota Denpasar IB Alit Wiradana saat menutup Program Hindupreneur Academy
Hadir wakil dari Kejaksaan Negeri Denpasar, Kadisperindag Kota Denpasar, wakil dari Bappeda, inspektorat, BPKAD Kota Denpasar, Yayasan Gatra Wirausaha, dan pemenang The Best 6 Program Hindupreneur Academy.
Lebih lanjut, Sekda Wiradana memaparkan, jumlah wirausahawan di Indonesia hanya 4 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Angka tersebut melampaui standar internasional yaitu 2 persen. Namun jumlah wirausahawan perlu terus ditingkatkan, apalagi jika mengacu kepada negara lain. Jumlah interpreneur di Indonesia jauh lebih rendah. Malaysia memiliki 4,74 persen, Thailand 4,26 persen, Singapura 8,76 persen, dan negara-negara Benoa Eropa dan Amerika lebih dari 12 persen.
Sekda IB Alit Wiradana saat membacakan sambutan Walikota Denpasar
Mencermati hal tersebut, kata Sekda, Pemerintah Kota Denpasar terus berupaya membangkitkan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan generasi muda Kota Denpasar melalui program unggulan. Salah satunya melalui Program Hindupreneur Academy yang digagas Yayasan Gatra Wirausaha. Kewirausahaan dipilih dengan tujuan untuk mendorong generasi muda agar dapat menjadi aktor utama pertumbuhan kesejahteraan di Bali saat ini dan untuk menciptakan pemuda Indonesia yang kreatif, inovatif dan kompetitif. Dikatakan, kreativitas mental positif dan pola pikir maju menjadi unsur utama bagi penciptaan karakter generasi muda yang andal untuk menjadi wirausaha yang professional di bidangnya.
’’Saya ingin berpesan kepada seluruh komponen masyarakat terutama para interpreneur untuk bersama mendukung membangun Denpasar dengan mengembangkan potensi kreativitas dan kearifan lokal serta menumbuhkan jiwa wirausaha yang pada gilirannya mampu bersaing di tingkat regional maupun internasional,’’ ujarnya, seraya mengharapkan melalui usaha yang dikembangkan, diharapkan dapat menghasilkan multiplier effect yang positif bagi perekonomian.
Kepada para the best Hindupreneur Academy, Sekda menyampaikan selamat dan berpesan agar modal usaha yang diperoleh dapat dimanfaatkan dalam mengobarkan semangat kewirausahaan sehingga dapat memberikan inspirasi kepada para generasi muda serta dapat mengembangkan bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat dan bagi perekonomian daerah. ‘’Saya yakin sinergi dan kolaborasi yang digerakkan oleh weda wakya wasudewa kutumbakan, dalam kehidupan ini kita semua bersaudara. Semua sektor kehidupan harus diselesaikan dengan paras paros sarpanaya selulung sebayantaka. Semua persoalan yang kita hadapi mari kita selesaikan bersama-sama dan menyama braya,’’ ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Yayasan Gatra Wirausaha Dr. Sayu Ketut Sutrisna Dewi, S.E., M.M., AK melaporkan Program Hindupreneur Academy adalah program pemulihan ekonomi selama masa pandemi yang digagas dan dilaksanakan oleh Yayasan Gatra Wirausaha bekerjasama dengan Disperindag Kota Denpasar. Program ini diperuntukkan bagi wirausaha muda pemula berusia 18-30 tahun. Selain untuk memberikan edukasi kewirausahaan, program ini bertujuan membantu penciptaan wirausaha baru dan pengembangan usaha bagi wirausaha muda Kota Denpasar.
‘’Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Denpasar yang secara konsisten memberi ruang dan perhatian kepada pengembangan kewirausahaan khususnya di kalangan generasi muda,’’ ucap Sutrisna Dewi.
Program Hindupreneur Academy terdiri dari 7 tahap, yaitu tahap sosialisasi pada 4 Oktober 2021 dan diikuti oleh 158 orang, tahap seleksi pertama untuk menghasilkan the best 16 diikuti oleh 49 peserta, tahap pendidikan dan pelatihan kewirausahaan pada 15-17 Oktober 2021 bagi the best 16, tahap seleksi kedua (presentasi) untuk menghasilkan the best 6 dilaksanakan 24 Oktober 2021, penyerahan seed capital (bantuan permodalan usaha@Rp. 10.000.000 bagi the best 6, dan pendampingan usaha selama 2 bulan serta berakhir pada penutupan dengan penyerahan piagam.
Undangan dan peserta yang hadir pada penutupan Program Hindupreneur Academy
Wirausaha yang masuk The Best 6 Program Hindupreneur Academy yakni Ni Wayan Dessy Indrayanti (Toko Dwi Kenanga), Kadek Angga Dwi Astina (Adventura KEI Animation), I Putu Arya Finkayana (Sila Krama), I Nyoman Tantra Pradnyana (Gumineponik), IGA Krisna Lestari (Dapoer Toengkoe), dan I Komang Bayu Sanjaya (Bali Cleaning Plus). Total bantuan modal usaha yang telah diberikan kepada peserta The Best 6 adalah Rp 60 juta.
Mengakhiri laporannya Sutrisna Dewi menegaskan program yang dirancang komprehensif ini diharapkan mampu membentuk para peserta menjadi wirausaha muda Hindu yang tangguh, mandiri, berwawasan budaya, serta bertanggung jawab.
Acara diakhiri penyerahan piagam penghargaan kepada The Best 6 Hindupreneur Academy dilakukan Sekda Wiradana mewakili Walikota Denpasar. (gs/eka)
Infografis Indek Penjualan Riil Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)
Denpasar, baliilu.com – Pada Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 126,4 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,5% (mtm), terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada kategori Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 2,2% (mtm), Makanan, Minuman dan Tembakau 2,0% (mtm), serta Barang Lainnya sebesar 0,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode libur sekolah serta persiapan berbagai aktivitas pariwisata yang berlangsung pada musim wisata pertengahan tahun. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat, sehingga turut menopang kinerja perdagangan dan penjualan eceran di Bali.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juli 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 128,7, atau meningkat 1,8% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori Sandang, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat memasuki periode ajaran baru serta momentum high season. Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu September 2026 dan Desember 2026 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 dan Desember 2026 masing-masing sebesar 192 dan 200. Sementara itu, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Inflasi yang tetap terkendali tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat, sehingga memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh dan menopang aktivitas perdagangan eceran.
Optimisme pelaku usaha tetap terjaga sebagaimana tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang berada di level optimis (>100). IEP enam bulan mendatang (Desember 2026) meningkat menjadi 198 dari 190 pada survei sebelumnya. Sementara itu, IEP tiga bulan mendatang (September 2026) tercatat 184, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi Agustus 2026 sebesar 190. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 1,47% (yoy).
Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapai inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Pada Juli 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali mengalami peningkatan sebesar 126,3 (nilai indeks > 100) dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 121,5. IKK Bali lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 116,8. Peningkatan pada Juli 2026 didorong oleh peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran >Rp 8 juta sebesar 32,5% (mtm), Rp 7-8 juta sebesar 12,5% (mtm), Rp 6-7 juta sebesar 7,8% (mtm), Rp 5-6 juta sebesar 11,4% (mtm), Rp 4-5 juta sebesar 9,0% (mtm), dan Rp 2-3 juta sebesar 7,2% (mtm). Meski demikian, masih terdapat moderasi keyakinan pada sebagian responden kelompok pengeluaran Rp 1-2 juta dan Rp 3-4 juta, masing-masing sebesar 2,6% (mtm) dan 10,4% (mtm). Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (127,3) dan sektor informal (124,8).
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa lebih detail, peningkatan IKK pada Juli 2026 didorong oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami peningkatan dari 119,3 pada Juni 2026 menjadi 122,3 pada Juli 2026 atau tumbuh sebesar 2,5% (mtm). Peningkatan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (132,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (106,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga mengalami peningkatan dari 123,7 pada Juni 2026 menjadi 130,3 pada Juli 2026 atau tumbuh sebesar 5,4% (mtm). Peningkatan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,5), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (133,0), dan perkiraan kegiatan usaha (130,5).
Achris Sarwani lanjut mengungkapkan, peningkatan IKK Bali pada Juli 2026 mencerminkan semakin kuatnya optimisme masyarakat terhadap perekonomian Bali, setelah menunjukkan tren moderasi sepanjang Semester I 2026. Kondisi tersebut sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 yang tumbuh 5,78% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2026 sebesar 5,58% (yoy). Pertumbuhan tersebut juga berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29% (yoy), didukung peningkatan aktivitas konstruksi, perdagangan, pertanian, serta berlanjutnya aktivitas pariwisata pada periode libur sekolah dan rangkaian Hari Raya Keagamaan. Optimisme konsumen juga tercermin dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat selama periode liburan sekolah dan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata dan perdagangan yang mendorong peluang usaha serta penyerapan tenaga kerja di Bali. Menguatnya keyakinan konsumen ini menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi Bali ke depan, seiring dengan semakin baiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi perekonomian.
Achris Sarwani menegaskan bahwa menguatnya keyakinan konsumen juga ditopang oleh terjaganya daya beli masyarakat di tengah perkembangan harga yang kondusif. Inflasi Bali pada Juli 2026 tetap rendah dan berada dalam rentang sasaran nasional. Kondisi tersebut didukung oleh terjaganya pasokan serta menurunnya harga sejumlah komoditas pangan strategis. Kondisi tersebut turut memperkuat persepsi positif masyarakat terhadap kemampuan konsumsi dan prospek ekonomi ke depan.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta sinergi dengan pemangku kepentingan terkait. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penguatan pengendalian inflasi, antara lain melalui pelaksanaan operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, serta penguatan kelancaran distribusi pangan guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia juga menetapkan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Sinergi bauran kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah dan stabil sehingga menciptakan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. (gs/bi)
Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga property residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (HPR) pada triwulan II 2026 yang tumbuh sebesar 1,02% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode triwulan I 2026 sebesar 0,87% (yoy).
Peningkatan IHPR Provinsi Bali utamanya disebabkan oleh kenaikan harga jenis properti menengah (luas bangunan antara 36 m² sampai dengan 70 m²), dan besar (luas bangunan> 70 m²) yang masing-masing meningkat sebesar 1,52 % (yoy), dan 0,82% (yoy).
Pada triwulan II 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sebanyak 81,3% responden menyatakan kenaikan harga bahan bangunan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga rumah, diikuti oleh peningkatan upah tenaga kerja yang disampaikan oleh 46,9% responden. Selain itu, tekanan harga juga berasal dari peningkatan biaya perizinan, kenaikan harga BBM, serta penambahan fasilitas dan fasilitas sosial perumahan.
Di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah.
Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan property residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (develope) dengan pangsa sebesar 56,6%, dikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%. Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 67,6% dari total pembelian rumah.
Ke depan, responden memperkirakan harga properti residensial masih akan mengalami peningkatan pada triwulan II 2026. Kenaikan harga diperkirakan terjadi baik pada harga tanah maupun harga rumah, termasuk untuk rumah yang dibeli melalui skema tunai maupun KPR. Namun demikian, ekspektasi kenaikan harga tersebut relatif terbatas, sejalan dengan kehati-hatian responden dalam melakukan penyesuaian harga di tengah kondisi penjualan yang masih menghadapi berbagai tantangan. (gs/bi)