Connect with us

BUDAYA

Ketua MGPSSR Bali I Nyoman Giri Prasta: MGPSSR harus Jadi Organisasi Pemersatu Umat dengan Konsep Trilogi Kepasekan

BALIILU Tayang

:

de
SERAHKAN SK: Ketua MGPSSR Bali I Nyoman Giri Prasta, Minggu (26/7-2020) menyerahkan SK (surat keputusan) kepada pengurus baru bertempat di rumah jabatan bupati, Puspem Badung.

Badung, baliilu.com – Setelah ditetapkan sebagai ketua Mahagotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) Provinsi Bali masa bakti 2020-2025 melalui Lokasabha X yang dilaksanakan Minggu, 15 Maret 2020 lalu, I Nyoman Giri Prasta, Minggu (26/7-2020) menyerahkan SK (surat keputusan) kepada pengurus baru bertempat di rumah jabatan bupati, Puspem Badung.

Di depan pengurus yang hadir, Giri Prasta yang juga menjabat sebagai Bupati Badung, menyampaikan rasa terimakasihnya kepada pengurus dan warga Pasek di seluruh wilayah Provinsi Bali atas kepercayaan dan tanggung jawab dalam memimpin MGPSSR provinsi untuk menjalankan roda organinasi yang berbasis kekeluargaan terbesar yang ada di wilayah Provinsi Bali.

‘’MGPSSR adalah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan srada bakti kepada Ida Bhatara Kawitan dan mewujudkan Bali yang unggul sesuai bhisama untuk pengabdian pada agama, bangsa dan negara. Kita harus tetap komitmen berkonsolidasi membangun masyarakat, daerah dan semoga MGPSSR tetap ajeg ke depannya,’’ terang Giri Prasta.

de
DIABADIKAN: Usai pertemuan, Ketua MGPSSR Bali I Nyoman Giri Prasta berfoto bersama dengan pengurus MGPSSR Bali 2020-2025.

Ia menyatakan MGPSSR adalah organisasi yang sesuai dengan 4 pilar kebangsaan yang didasarkan oleh ikatan kekeluargaan/klan sehingga diharapkan tidak hanya memberikan manfaat internal saja namun juga kepada masyarakat luas daerah dan bangsa. ‘’MGPSSR dan pemerintah akan selalu berjalan bersama menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama dengan konsep manusa pada (kesetaraan manusia, red) serta menghindari sikap radikalisme,’’ ucapnya.

Lebih lanjut Giri Prasta menjelaskan, MGPSSR saat ini telah memiliki struktur lengkap sehingga pengurus punya tanggung jawab besar mendorong dan mendistribusikan warga Pasek untuk ikut berperan aktif membangun daerah ke depannya. MGPSSR harus menjadi organisasi pemersatu umat dengan konsep trilogi kepasekan, bakti ring kawitan, tindih ring bhisama dan wirang ring semeton. ’’Dengan mengaplikasikan Tri Hita Karana tidak hanya kepada sesama warga Pasek tapi juga kepada umat sedharma dan umat lainnya,’’ tegasnya.

Baca Juga  Status Isolasi Dicabut, Dewa Indra: Warga Abuan Harus Tetap Waspada, Penanganan Covid-19 Belum Berakhir

Ia mengingatkan setelah menerima SK seluruh pengurus harus bekerja sesuai dengan program yang bakal disusun dan ditetapkan oleh organisasi. ‘’Setelah menerima SK ini kita harus bekerja maksimal, keberadaannya harus dibangun melalui penyamaan pola pikir karena keberhasilan organisasi itu lahir dari solidaritas serta peran aktif pengurus dari bawah,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Saba Walaka MGPSSR Bali Wisnu Bawa Temaja menyampaikan rasa bangganya pada kepengurusan yang terbentuk dengan kesadaran tulus ngayah. Kapan pun dipanggil akan mampu dengan tugas suci kepasekan. Ia berharap organisasi yang sudah berdiri tahun 1952 sampai sekarang sebagai organisasi besar jangan sampai terjadi benturan, selisih paham dan jangan ada bibit-bibit perpecahan. ‘’Kita tetap berkolaborasi dan menyatu di setiap kegiatan. Ke depan ada dua momen penting yakni melanjutkan pembangunan Pura Punduk Dawa dan membangun pergeseran Pura Catur Lawa Pasek di Besakih agar lebih luas untuk para pemedek,’’ ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Satgas Covid-19 MGPSSR Bali Putu Bagus Suryadi melaporkan kegiatan kemanusiaan Satgas MGPSSR Bali selama pandemi Covid-19 yang dilakukan di 7 kabupaten dan kota di Bali berupa penyerahan sembako dan APD kepada semeton Pasek yang membutuhkan yang diperoleh dari donasi semeton Pasek. Selanjutnya sebagai penutup akan dilakukan bakti sosial di Kabupaten Badung.

Acara turut dihadiri oleh Ketua Saba Pandita MGPSSR Provinsi Bali Ida Pandita Mpu Dharmika Sandhi Kerta Satwika, Wakil Ketua I Ida Pandita Mpu Dharmaya Purusa Parama Daksa, Ketua Saba Walaka MGPSSR Bali Wisnu Bawa Temaja, Sekretaris MGPSSR Provinsi Bali Pandu Prapanca Lagosa serta jajaran pengurus MGPSSR Bali masa Bakti 2020-2025 serta Satgas Covid-19 MGPSSR Bali. (*/gs)

BUDAYA

Wayan Koster Rancang Pelabuhan Sampalan & Bias Munjul Bermotif Ukiran Kuno Khas Nusa Penida

Published

on

By

de
GUBERNUR BALI WAYAN KOSTER

Nusa Penida, baliilu.com – Sejarah pembangunan infrastruktur diciptakan Gubernur Bali Wayan Koster di Pulau Nusa Penida. Pulau yang terkenal akan suasana spiritualnya dengan keberadaan Pura Dalem Ped, serta dilengkapi oleh pesona alam yang menjadi daya tarik wisata, tercatat pulau yang berada di tenggara Pulau Bali ini selalu dihadapi oleh kondisi pelabuhan yang tidak memberikan kesan aman dan nyaman bagi masyarakat atau wisatawan yang memasuki pintu gerbang Nusa Penida.

Merujuk dari masalah tersebut, Gubernur Koster akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya tepat pada, hari Purnama, Senin, Soma, Umanis, Tulu (3/8-2020), dimana sejarah yang ia lakukan di tengah pandemi Covid-19 ini ialah berhasil mengajak Menteri Perhubungan (Menhub) RI Budi Karya Sumadi melaksanakan Ground Breaking Pelabuhan Nusa Penida di Sampalan dan Pelabuhan Nusa Ceningan di Bias Munjul yang ke depannya akan menghubungkan langsung ke Pelabuhan Sanur di Matahari Terbit atau dikenal dengan sebutan Pelabuhan Segi Tiga Emas di Bali.

Sejarah selanjutnya yang ingin diciptakan Gubernur Koster, ialah membangkitkan kembali seni arsitektur khas Nusa Penida, yang selama ini tenggelam dan tidak diketahui keberadaannya. Sehingga pembangunan Pelabuhan Nusa Penida di Sampalan dan Pelabuhan Nusa Ceningan di Bias Munjul yang mengambil tema Alam Semesta Segara – Wukir, Tradisi Pulau Guru – Nusa Tiga itu akan memenuhi interior ruangan di kedua pelabuhan tersebut.

“Arsitektur bangunannya, ruang dalamnya/interior, arsitektur ruang luarnya akan didesain dengan muatan kearifan lokal Nusa Penida. Kemudian ukiran kuno Nusa Penida yang terdapat di Pura Batu Medawu, Pura Puncak Mundi, Pura Sahab, Pura Prajapati Sampalan, Pura Puseh Lembongan juga akan ditampilkan di bangunan pelabuhan tersebut. Karena Nusa Penida memiliki Kain Cepuk dan Kain Rangrang, maka desain pelabuhan di Sampalan dan Bias Munjul itu juga akan memiliki motif kain Cepuk dan kain Rangrang yang dikombinasikan dengan ukiran kuno tersebut,” ujar mantan anggota DPR-RI 3 periode ini seraya berharap ukiran ini dilestarikan keberadaannya.

Baca Juga  Status Isolasi Dicabut, Dewa Indra: Warga Abuan Harus Tetap Waspada, Penanganan Covid-19 Belum Berakhir

Alasan Gubernur Koster yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini memasukkan konten kearifan lokal pada gaya bangunan di kedua pelabuhan tersebut, karena Wayan Koster konsisten berpegang teguh pada Perda No.4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali yang resmi diberlakukan pada, Kamis (16/7) lalu. (gs)

Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Minta ISI Denpasar Bangkitkan Kekayaan dan Kejayaan Budaya Bali

Published

on

By

de
HADIRI PENGUKUHAN GURU BESAR: Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Suastini Koster dan Wakil Gubernur yang juga Guru Besar ISI Denpasar Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menghadiri Sidang Terbuka Senat Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dalam rangka Dies Natalis XVII dan Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn,M.Sn dan Prof. Dr. Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn. di Gedung Natya Mandala, Kampus ISI Denpasar, Selasa (28/7-2020).

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Suastini Koster dan Wakil Gubernur yang juga Guru Besar ISI Denpasar Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menghadiri Sidang Terbuka Senat Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dalam rangka Dies Natalis XVII dan Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn,M.Sn dan Prof. Dr. Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn. di Gedung Natya Mandala, Kampus ISI Denpasar, Selasa (28/7-2020).

Dalam sambutannya Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan pencapaian visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali di bidang kebudayaan semakin maju dengan diundangkannya Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan. “Hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Bali dikandung semua di dalam peraturan daerah ini, sehingga kita sekarang telah memiliki aturan yang cukup memadai untuk memperkuat dan memajukan kebudayaan Bali yang menjadi jantung kehidupan masyarakat Bali,” ujarnya.

Gubernur menambahkan Bali memiliki kekayaan tradisi sejak dahulu yang tumbuh dan dimanfaatkan oleh para leluhur. Selama ini kekayaan tradisi ini masih kurang serius dibangkitkan, dijaga, dipelihara serta dimajukan sehingga secara perlahan-lahan semakin mundur, luntur dan mungkin sudah ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat di desa adat. “Karena itu ini harus kita gali kembali, dibangunkan agar dia menjadi satu potensi yang mencerahkan kehidupan masyarakat di Provinsi Bali serta juga mendorong perekonomian masyarakat Bali,”  kata Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini.

Gubernur mengatakan dalam konteks pelaksanaan Peraturan Daerah ini serta Peraturan Gubernur sebelumnya yang berkenaan dengan kebudayaan, ISI Denpasar memiliki ruang yang cukup memadai untuk mengaktualisasikan potensi yang ada. 

Menurutnya ISI Denpasar memiliki sumber daya yang mumpuni yakni dosen, mahasiswa serta sembilan 9 orang guru besar. “Saya kira ini sumber daya yang luar biasa untuk mengembangkan seni yang ada di Bali ini termasuk seni tradisi. Saya titip nanti dengan satu skema tertentu seni-seni tradisi yang berakar di desa adat yang tumbuh di desa adat yang digeluti oleh masyarakat desa adat kemudian sekarang ditinggal punah lantas dia tidak lagi muncul sebagai kekayaan seni, mohon supaya ISI Denpasar bergerak ke bawah melalui kegiatan pengabdian masyarakat, kuliah kerja nyata maupun juga kegiatan kemasyarakatan lainnya, turun ke bawah untuk masuk ke wilayah itu agar bersentuhan langsung dengan kekayaan seni yang ada di akar rumput,” katanya.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Terima Bantuan dari Bank BNI, Segera Disalurkan ke Pelaku Pariwisata yang Dirumahkan

Menurut Gubernur inilah yang harus dikembangkan oleh ISI Denpasar dalam kegiatan Tri Dharma yang menjadi tugas utama sebagai perguruan tinggi. “Dengan demikian saya kira seni dan budaya di Bali yang berbasis tradisi maupun juga yang berbasis modern itu akan terus maju terus berkembang di tengah-tengah dinamika lokal nasional dan global inilah yang menjadi kekayaan kita,” ujarnya.

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum mengatakan dalam bidang pengabdian masyarakat tahun 2020 mahasiswa ISI Denpasar mengadakan KKN di desa adat masing-masing sebagai dukungan terhadap program Gubernur Bali.

Hanya dengan situasi pandemi program ngayah ke desa-desa dan pura-pura di Bali dengan berat hati harus dihentikan sementara. “Namun, kami merasa bersyukur karena Bapak Gubernur dan Pemprov Bali telah menginisiasi dan membiayai penciptaan seni virtual yang telah tayang di media sosial dapat kami pastikan dari 202 sanggar seni yang dibantu oleh Bapak Gubernur mendapatkan bantuan penciptaan seni virtual itu 80 persen mahasiswa dan alumni ISI Denpasar,” ujarnya.

Pada kesempatan ini Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati memberi ucapan selamat kepada dua guru besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn. dan Prof. Dr. I Wayan (Kun) Adnyana, S.Sn.M.Sn yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. (*/gs)

Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Lomba Ogoh-ogoh Hadiah Total 1,7 Milyar, Penyerahan Hadiah 31 Oktober 2020

Published

on

By

de

Denpasar, baliilu.com – Kondisi pandemi Covid-19 memaksa pemerintah melarang semua kegiatan keramaian yang mengumpulkan banyak orang. Imbasnya pengarakan ogoh-ogoh pada saat pengerupukan dalam rangka Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 tidak dapat dilaksanakan. Pada tanggal 23 Maret 2020 Gubernur Bali setelah mendengar masukan dan diskusi dengan bupati/walikota se-Bali serta Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali mengeluarkan rilis yang memutuskan penyelenggaraan festival/parade ogoh-ogoh se-Bali dilaksanakan dalam rangka Hari Jadi Ke-62 Provinsi Bali.

“Namun setelah memperhatikan perkembangan pandemi Covid-19 saat ini, khususnya di Bali, Bapak Gubernur menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa melaksanakan festival/parade ogoh-ogoh pada 8 Agustus 2020 seperti yang direncanakan sebelumnya. Festival dalam format lomba tersebut, sesuai arahan Gubernur, tetap akan dilaksanakan, dengan puncaknya pemberian hadiah bagi pemenang pada Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Krama Bali, Sabtu 31 Oktober 2020. Sekaligus pula pada momen itu juga digelar Pembukaan Festival Seni Bali Jani,” kata Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali Gede Pramana di Denpasar, Rabu (15/7-2020).

Pramana mengatakan lomba ogoh-ogoh dengan desa adat se-Bali yang masih menyimpan karya ogoh-ogoh Hari Raya Nyepi Saka 1942. Prajuru atau yowana dapat mendaftarkan keikutsertaannya melalui majelis desa adat kecamatan masing-masing, dari 8 Agustus s.d 11 September 2020. Penjurian tingkat kecamatan dilakukan pada 15-25 September 2020 dan tiga terbaik akan diumumkan pada 26 September 2020. Selanjutnya penjurian tingkat kabupaten/kota akan dilakukan dari 10-20 Oktober 2020 dan hasilnya diumumkan pada 22 Oktober 2020.

Apabila kondisi memungkinkan untuk mengadakan pengarakan, maka seluruh karya ogoh-ogoh yang disertakan dalam lomba dapat dilakukan pengarakan pada Sabtu Kliwon, 31 Oktober 2020, secara terbatas bertempat di areal depan wantilan desa adat/catuspata/areal yang memungkinkan melakukan pengarakan, tidak dengan berkeliling di wewidangan desa adat. Mantan Kadis Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Bali ini menekankan pengarakan harus tetap menyesuaikan protokol Tatanan Kehidupan Era Baru untuk Krama Bali yang produktif dan aman Covid-19.

Baca Juga  Serahkan Bantuan, Gubernur Koster Pastikan Berbagai Infrastruktur tetap Terlaksana di Jembrana

Lebih lanjut Pramana mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Bali menyediakan hadiah total berupa uang tunai sebesar 1,7 miliar lebih untuk pemenangnya. Ogoh-ogoh terbaik 1 masing-masing kabupaten/kota akan mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan piagam penghargaan. Terbaik 2 masing-masing kabupaten/kota mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) dan piagam penghargaan. Terbaik 3 masing-masing kabupaten/kota mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.

“Ada tambahan dalam lomba ini, yaitu sebanyak 144 terbaik kecamatan se-Bali juga akan mendapat hadiah hiburan uang tunai sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan piagam penghargaan,” ujar Pramana seraya menambahkan untuk info lebih lanjut dapat menghubungi panitia Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, melalui Seksi Cagar Budaya nomor telepon 0361-246474 ext. 108 atau HP 0813 3732 5665. (*/gs)

Lanjutkan Membaca