Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

OPINI

Koster Adalah Gubernur Bali yang Berhasil Melembagakan Warisan Pengobatan Usada ke Dalam Pengobatan Kesehatan Tradisional

BALIILU Tayang

:

agus
Prof. apt.Dr.rer.nat., Drs. I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si. (Foto: dok)

PENGOBATAN Tradisional Usada sebelum Wayan Koster menjabat Gubernur Bali periode 2018- 2023 hanya menghiasi khasanah literatur warisan budaya usada Bali dalam berbagai kajian, prakteknya belum bisa dilaksanakan di layanan kesehatan. Peraturan Gubernur Bali Nomor 55 Tahun 2019, Koster meletakkan pondasi hukum pelaksanaan pelayanan kesehatan tradisional Bali dan mewajibkan praktek pelayanan kesehatan tradisional Bali di fasilitas kesehatan tingkat 1 (Puskesmas) hingga tingkat lanjut (rumah sakit). Bahkan Koster memasukkan pelayanan kesehatan tradisional Bali dalam jaminan kesehatan Nasional Krama Bali Sejahtera (JKN-KBS).

Praktek pengobatan Tradisional Bali di Puskesmas dan Rumah Sakit, belum berjalan semulus yang direncanakan. Hal ini disebabkan oleh persyaratan SDM tenaga kesehatan tradisional yang harus memiliki Surat Tanda Register Tenaga KesehatanTradisional (STRTKT). Persyaratan pengusada Bali agar bisa mengajukan STRTKT harus lulus dari pendidikan vokasional D3 atau D4 Kesehatan Tradisional.

Sampai saat ini pendidikan D4 Kesehatan Tradisional hanya diselenggarakan oleh UNJ Yogyakarta dan Airlangga. Kedua D4 ini tidak menempatkan praktek Usada Bali sebagai unggulan lulusannya.

Koster tidak pernah menyerah dalam mengajegkan pelaksanaan pengobatan Tradisional Bali. Tim Kelompok Ahli yang mendampingi selama Koster memimpin tanpa henti berupaya membantu mewujudkan cita-cita luhur Pak Wayan Koster. Tim ini bersama UNHI menyusun kurikulum pendidikan D4 Kesehatan Tradisional dengan keunggulan Usada Bali. Perjuangan dan perjalanan tidak kenal lelah akhirnya atas ijin dan berkah Betara Lelangit ijin penyelenggaraan pendidikan D4 KesehatanTradisional dengan keunggulan Usada Bali diijinkan oleh Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI bernomor 90/D/0/2024, tertanggal 19 Maret 2024, tentang Ijin Penyelenggaraan Pendidikan Vokasional D4 KesehatanTradisional di UNHI. Pendidikan D4 Kesehatan Tradisional UNHI akan meluluskan Tenaga Kesehatan Tradisional (Nakes Trad).

Lulusan D4 ini menurut UU No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, berhak mendapatkan STRTKT. Niat baik dari Gubernur Wayan Koster dalam mengajegkan pelayanan kesehatan tradisional Bali akhirnya mendapatkan restu dari Betara Lelangit, warisan beliau akan real dapat dinikmati dan memberikan kesejahteraan bagi generasi Bali. Warisan pengobatan usada tidak hanya terukir pada lontar, namun menjadi sumber ilmu kesehatan yang diterapkan dalam pelayanan kesehatan. Tenaga Kesehatan Tradisional (Nakestrad) adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan tradisional serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan tradisional yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan tradisional.

Baca Juga  Hasto Kristiyanto dan Wayan Koster Kompak Gelorakan Semangat Berpolitik Merawat Lingkungan

Peluang Kerja Lulusan D4 Kesehatan Tradisional UNHI

Tenaga kesehatan tradisional dapat bekerja di berbagai peluang, termasuk klinik, puskesmas, dan masyarakat. Peluang karier tenaga kesehatan tradisional di dunia pariwisata dapat menjadi pilihan menarik. Meskipun tidak selalu terlihat secara eksplisit, ada beberapa peran yang dapat diisi oleh tenaga kesehatan tradisional dalam industri pariwisata.

Berikut beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan: Health Tourism (Wisata Kesehatan): Di era saat ini, banyak orang mencari pengalaman kesehatan yang holistik saat berlibur. Indonesia memiliki potensi besar dalam health tourism, terutama dengan kekayaan budaya dan tradisi pengobatan tradisional. Tenaga kesehatan tradisional dapat berperan dalam menyediakan layanan kesehatan alternatif bagi wisatawan yang mencari pengalaman kesehatan yang berbeda.

Pengelolaan Kawasan Wisata: Tenaga kesehatan tradisional dapat berkontribusi dalam pengelolaan kawasan wisata. Mereka dapat memberikan edukasi kesehatan kepada wisatawan, mengenali potensi risiko kesehatan di area wisata, dan memberikan saran tentang pencegahan dan perawatan.

Pengobatan Alternatif: Beberapa wisatawan mungkin tertarik pada pengobatan alternatif selama perjalanan mereka. Tenaga kesehatan tradisional dapat berperan dalam menyediakan layanan seperti pijat tradisional, akupunktur, atau ramuan herbal.

Promosi Kesehatan: Tenaga kesehatan tradisional dapat berpartisipasi dalam kampanye promosi kesehatan di destinasi pariwisata. Mereka dapat membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan memberikan informasi tentang praktik kesehatan yang baik.

Konsultan Pariwisata: Tenaga kesehatan tradisional yang memiliki pengetahuan tentang budaya lokal dan pengobatan tradisional dapat bekerja sebagai konsultan pariwisata. Mereka dapat membantu mengintegrasikan aspek kesehatan tradisional ke dalam pengalaman wisata. Wellness Tourism merupakan tren yang semakin berkembang di dunia pariwisata. Tenaga kesehatan tradisional memiliki peran penting dalam industri ini.

Berikut adalah penjelasan mengenai peluang kerja dan usaha tenaga kesehatan tradisional di dunia Wellness Tourism: Pengembangan Produk Lokal: Pemerintah dan industri pariwisata semakin memperhatikan pengembangan produk lokal berbasis kearifan tradisional. Tenaga kesehatan tradisional dapat berkontribusi dengan mengembangkan herbal drink, aromaterapi, dan makanan sehat menggunakan bahan baku lokal. Ini tidak hanya mendukung perekonomian lokal, tetapi juga memperkaya pengalaman wisatawan.

Baca Juga  Krama Bali Wajib Tahu, Hanya Koster-Giri Usung Warna Sakral Tridatu

Penggabungan Tradisional dan Modern: Tenaga kesehatan tradisional dapat menggabungkan pengetahuan tradisional dengan ilmu pengetahuan modern. Misalnya, menggabungkan pengobatan herbal dengan teknologi digital untuk menciptakan pengalaman kesehatan yang holistik.

Konsultan Kesehatan: Tenaga kesehatan tradisional dapat bekerja sebagai konsultan kesehatan di destinasi wellness. Mereka dapat memberikan saran tentang penggunaan ramuan tradisional, praktik kesehatan, dan pencegahan penyakit.

Pengembangan Kawasan Khusus: Pemerintah telah mencanangkan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Bali. KEK ini bertujuan untuk membangun fasilitas kesehatan berkualitas tinggi dan menciptakan lapangan kerja.

Inovasi Teknologi: Pemanfaatan teknologi digital dan inovasi dalam layanan kesehatan menjadi peluang bagi tenaga kesehatan tradisional. Penggunaan aplikasi, telemedicine, dan platform online dapat memperluas jangkauan layanan. Prediksi keberlanjutan tenaga kesehatan tradisional dalam 10 tahun mendatang adalah suatu hal yang menarik untuk dipertimbangkan.

Ada beberapa faktor yang dapat membantu kita memahami tren dan peluang di bidang ini: Peningkatan Kesadaran Kesehatan: Masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan holistik dan alternatif. Tenaga kesehatan tradisional dapat memainkan peran penting dalam menyediakan layanan kesehatan yang berbasis pada pengobatan tradisional. Pengakuan Resmi: Beberapa negara mulai mengakui tenaga kesehatan tradisional sebagai bagian dari sistem kesehatan. Ini dapat membuka peluang kerja dan pengakuan lebih lanjut bagi praktisi tradisional. Wisata Kesehatan: Industri wisata kesehatan terus berkembang. Tenaga kesehatan tradisional dapat berperan dalam menyediakan layanan kesehatan alternatif bagi wisatawan yang mencari pengalaman kesehatan yang berbeda. Penggabungan Tradisional dan Modern: Penggabungan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern dapat menciptakan peluang baru. Misalnya, penggunaan telemedicine atau aplikasi kesehatan berbasis teknologi.

Pendidikan dan Pelatihan: Investasi dalam pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan tradisional dapat meningkatkan kualitas layanan dan membuka peluang kerja.

Baca Juga  Adian Napitupulu: Bali Istimewa, Harus Dipimpin Figur Istimewa Koster-Giri

Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan tingginya kebutuhan dan peluang kerja sebagai Tenaga Kesehatan Tradisional dengan STRTKT, seperti kebutuhan pelayanan pengobatan Kesehatan Tradisional di Puskesmas, Rumah Sakit dari type D sampai A.

UU Kesehatan No 17 Tahun 2023, bertujuan peningkatan pelayanan kesehatan pada Preventif dan Promotif, hal ini akan menuntut peningkatan kebutuhan Nakestrad, dimana pada awal 2023 hanya tercatat 447 orang. Tingginya kebutuhan dunia wisata kebugaran, menjadi kebutuhan khusus Nakestrad. Pendidikan vokasional D4 Kesehatan Tradisional UNHI memberikan kompetensi kearifan lokal, Kesehatan Tadisional Bali, mengacu pada Peraturan Gubernur Bali No. 55 Tahun 2019. Keahlian khusus yang diberikan pada pendidikan D4 Kesehatan Tradisional UNHI menjadi pembeda dan keunggulan lulusan D4 KesehatanTradisional UNHI

Adapun Profil Lulusan D4 Kesehatan Tradisional UNHI adalah:

  1. Tenaga Kesehatan Tradisional, dengan: ketrampilan, managemen layanan dan edukator bidang Usada Bali. Tenaga Kesehatan Tradisional mampu memberikan pelayanan pengobatan tradisional Indonesia dengan keunggulan kearifan lokal Bali (Usada Bali).
  2. Cummunity Leader bidang wisata kebugaran dan herbal terapi berbasis kearipan Usada Bali. Lulusan yang mampu menjadi community leader pada bidang wisata kebugaran Bali (Balinese wellness) di dunia industri pariwisata berbasis kearipan Usada Bali.
  3. Manajemen Pelayanan Usada yaitu Manajemen Pelayanan Usada mampu membuat perencanaan dan langkah-langkah strategis dalam pelaksanaan dan pengembangan pelayanan Pengobatan Tradisional Indonesia.
  4. Edukator yaitu Lulusan yang mampu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengobatan tradisional Indonesia, khususnya pengobatan Usada Bali.

Akhirnya kami mengucapkan selamat kepada Gubernur Bali periode 2018 sd 2023 Bapak Wayan Koster atas kebijakannya dan kami mengajak adik-adik lulusan SMA atau Semeton Gotra Pengusada Bali untuk bergabung dengan D4 Kesehatan Tradisional UNHI.

Penulis: Prof. apt.Dr.rer.nat., Drs. I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si.

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Menata Ulang MBG: Selamat Datang Kantin Sekolah 

Published

on

By

mbg
Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri 2010-2014, dan Pj. Gubernur Riau 2013-2014. (Foto: ist)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis digadang sebagai solusi stunting dan gizi buruk. Tapi di lapangan, yang banyak terdengar justru kritik: menu monoton, distribusi telat, anggaran membengkak, dan pemda yang mengurus anak sekolah tak dilibatkan.

Program kerja pemerintah hanya akan jadi baik jika manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, berdampak luas. Pertanyaannya sekarang: sudahkah MBG benar-benar dinikmati anak-anak sekolah untuk memperbaiki gizi, atau baru sampai ke woro-woro dan seremonial?

Program MBG mendapat momentum baru pasca diciduknya Kepala BGN beserta dua wakilnya oleh Kejaksaan Agung. Kini tongkat komando dipegang Ninik S. Deyang, mantan wartawan yang naik dari Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik menjadi orang nomor satu.

Ada satu pernyataannya yang penting: “MBG akan dijalankan oleh kantin sekolah”. Selama ini kita mengenal MBG dilaksanakan oleh SPPG—Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Pernyataan ini membuka ruang diskusi besar tentang arah kebijakan.

MBG adalah program andalan Presiden Prabowo Subianto yang selalu disebut dalam pidatonya baik di dalam maupun luar negeri. Harapannya besar: perbaikan gizi anak sekolah, penurunan stunting, penguatan SDM Indonesia Emas 2045.

Namun niat baik itu terbentur persoalan klasik tata kelola kita: tarik-menarik antara sentralisasi kebijakan dan realitas lapangan yang sangat beragam kondisi sosial-kulturalnya.

Sejumlah kasus keracunan makanan, distribusi berantakan, inefisiensi, pembentukan ribuan SPPG, hingga dugaan korupsi menunjukkan desain MBG masih problematik. Ia terlalu sentralistik, padahal yang paling memahami kondisi riil anak-anak justru pemerintah daerah.

Dan solusinya sudah ada pula dalam Pasal 18, 18 A dan 18 B konstitusi kita: desentralisasi dan otonomi daerah. Pusat melibatkan dan memberi peran bermakna kepada daerah yang posisinya lebih dekat dengan rakyat yang dilayani: the closer the governance to the people the better their services.

Sentralisasi yang Tidak Selalu Efisien 

Baca Juga  Koster Tegaskan Generasi Muda Bali Penjaga Terakhir Warisan Budaya Leluhur

Desain MBG terpusat menciptakan rantai birokrasi panjang: pusat → vendor → dapur produksi → distribusi → sekolah. Rantai ini menambah biaya logistik dan memperbesar risiko: keterlambatan, kualitas makanan turun, pengawasan lemah di lapangan.

Ironisnya, pemerintah daerah justru punya semua instrumen yang dibutuhkan: data jumlah siswa, peta gizi, peta kemiskinan, jaringan UMKM pangan lokal. Tapi kapasitas itu belum dimanfaatkan optimal.

Di sinilah paradoksnya: yang paling tahu kondisi lapangan, tidak diperankan.

Mengembalikan Esensi Otonomi Daerah

Reformulasi MBG harus kembali ke prinsip dasar otonomi: urusan sehari-hari seperti memberi makan anak sekolah seharusnya dilepaskan ke daerah. Pusat fokus sebagai penyedia anggaran, regulator, penetap standar gizi nasional, dan pengawas.

Sementara gubernur, bupati, walikota ditempatkan sebagai koordinator utama. Didukung dinas pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan perangkat daerah lain. Daerah yang paling paham kebutuhan warganya, harus diberi ruang lebih besar melayani warganya.

Dari Dapur Sentral ke Kantin Sekolah

Perubahan paling fundamental: geser model dari dapur sentral SPPG ke kantin sekolah sebagai penyedia MBG.

Model ini lebih efisien, transparan, mudah diawasi. Makanan langsung diterima sekolah tanpa rantai distribusi panjang. Guru, kepala sekolah, orang tua bisa langsung mengawasi kualitasnya.

Sekaligus menjawab selera lokal yang berbeda-beda: nasi pecel di Jawa, nasi uduk di Jakarta, nasi kuning di Kalimantan, sagu-jagung-ubi di Papua. MBG jadi terasa “milik” daerah, bukan kiriman pusat.

Peran Kesehatan & Respons Cepat

Dengan desentralisasi, dinas kesehatan dan puskesmas naik kelas. Mereka bukan hanya pengawas, tapi unit respons cepat jika ada keracunan atau alergi. Kecepatan respons ini kunci menjaga kepercayaan publik.

Menghidupkan Ekonomi Lokal 

Nilai tambah terbesar reformulasi ini ada di ekonomi. Libatkan UMKM lokal sebagai pemasok: beras, telur, sayur, buah, ayam, ikan, susu. Maka MBG bukan hanya memberi makan anak, tapi menggerakkan ekonomi rakyat.

Baca Juga  Adian Napitupulu: Bali Istimewa, Harus Dipimpin Figur Istimewa Koster-Giri

Setiap rupiah MBG yang dibelanjakan di daerah akan berputar ke petani, peternak, nelayan, pedagang kecil, transportasi lokal. Pegawai ASN dan PPPK pemda yang minim aktivitas di era efisiensi juga bisa dilibatkan. Ini esensi pembangunan inklusif yang sesungguhnya.

Desentralisasi memperkuat akuntabilitas. Pengawasan tak hanya di tangan BPK/BPKP, tapi juga guru, komite sekolah, dinas daerah, orang tua siswa. Sistem yang dekat dengan warga membuat setiap rupiah lebih mudah ditelusuri dan dikontrol.

MBG tidak boleh dipahami sekadar program pemberian makan gratis dari pusat. Ia adalah instrumen pembangunan manusia, penguatan ekonomi daerah, dan ujian nyata konsistensi kita pada desentralisasi.

Jika kita sungguh ingin Indonesia Emas 2045, kita harus jujur: tidak semua urusan harus dilaksanakan oleh pusat. Keberhasilan program nasional justru ditentukan seberapa besar ruang yang diberikan kepada daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak diukur dari besarnya anggaran, tapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan rakyat di daerah.

“Daerah yang paling memahami kebutuhan warganya seyogianya diberi ruang lebih besar untuk melayani mereka”. (*/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

OPINI

Teori Genggam Anak Ayam dalam Politik Desentralisasi

Published

on

By

teori gengam anak ayam
Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN, Dirjen Otda Kemendagri 2010-2014, Pj. Gubernur Riau 2013-2014. (Foto: dok)

DALAM setiap diskusi tentang hubungan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, saya sering mengemukakan sebuah analogi sederhana yang mudah dipahami masyarakat: teori genggam anak ayam. Teori ini lahir bukan dari ruang seminar atau laboratorium akademik, melainkan dari pelajaran sederhana yang diberikan alam. Filosofinya, alam terkembang jadi guru.

Seekor anak ayam yang digenggam terlalu erat akan kehilangan napas, lemas, lalu mati. Sebaliknya, jika genggaman terlalu longgar, ia akan meloncat dan lepas. Dalam kedua keadaan itu, tujuan memelihara anak ayam tidak tercapai. Yang diperlukan adalah genggaman yang pas: tidak mencekik, tetapi juga tidak membiarkan bablas.

Begitulah sesungguhnya hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dalam negara kesatuan yang menganut desentralisasi.

Otonomi daerah bukanlah pemberian kedaulatan alias kebebasan tanpa batas. Sebaliknya, sentralisasi juga bukanlah penguasaan “Jakarta” tanpa ruang memadai bagi daerah untuk berkembang. Keduanya harus berada dalam titik keseimbangan yang sehat melalui mekanisme checks and balances yang proporsional agar timbul stabilitas. Sehingga, republik ini tak sempoyongan bila berjalan, atau terguncang bila didera krisis global.

Selama hampir tiga dekade pelaksanaan otonomi daerah, Indonesia terus bergerak seperti pendulum yang berayun antara dua kutub: desentralisasi dan sentralisasi. Pada awal reformasi, kewenangan daerah diperluas secara drastis sebagai koreksi atas sentralisme Orde Baru. Namun dalam perjalanannya, berbagai penyimpangan di daerah memunculkan dorongan kaum sentralist untuk menarik kembali sebagian kewenangan ke pusat.

Masalahnya, sering kali respons yang muncul bersifat berlebihan. Lebih-lebih bila terjadi pergantian rezim pemerintahan.

Ketika pusat terlalu dominan, mendikte dan mengomando dengan macam2 inpres, daerah kehilangan ruang berinovasi. Kepala daerah menjadi sekadar pelaksana instruksi. Kreativitas birokrasi mati. Program pembangunan menjadi seragam, padahal karakteristik daerah sangat beragam. Otonomi hanya tinggal slogan administratif tanpa makna substantif.

Baca Juga  Adian Napitupulu: Bali Istimewa, Harus Dipimpin Figur Istimewa Koster-Giri

Namun ketika pusat terlalu longgar, persoalannya tidak kalah serius. Sejumlah kepala daerah merasa memiliki kekuasaan yang nyaris tanpa batas. Muncul fenomena: politik dinasti, korupsi kepala daerah, pemborosan anggaran, proyek-proyek mercusuar yang minim manfaat publik, pengadaan fasilitas mewah, renovasi rumah jabatan bernilai fantastis, praktik jual beli jabatan, hingga pungutan terselubung dalam pelayanan perizinan.

Dalam kondisi seperti itu, desentralisasi dibajak oleh elit lokal. Yang berkembang bukan daulat rakyat tapi daulat tuanku sebagaimana pernah diingatkan Bung Hatta.

Ironisnya, masyarakat sering terjebak dalam pilihan semu: memilih sentralisasi atau desentralisasi. Padahal yang dibutuhkan bukan memilih salah satunya, melainkan menemukan titik keseimbangan di antara keduanya.

Negara-negara yang berhasil mengelola pemerintahan daerah tidak menempatkan pusat sebagai penguasa tunggal, tetapi juga tidak membiarkan daerah berjalan tanpa arah. Pemerintah pusat bertugas menetapkan norma, standar, prosedur, atau NSPK, serta melakukan pengawasan. Sementara pemerintah daerah diberi ruang yang cukup untuk berinovasi dan menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan lokal berdasarkan kewenangan yang dilimpahkan mulai dari perencanaan hingga evaluasi (otonomi paripurna).

Dalam konteks Indonesia saat ini, PR terbesar adalah bagaimana memberikan urusan yang pas bagi setiap daerah sesuai kondisinya masing-masing, membinanya agar bisa mengelola urusan itu dengan prinsip good governance, dan membangun sistem pengawasan yang efektif. Pusat sendiri bisa fokus pada urusan pemerintahan yang absolut dan strategis. Bukan urusan “receh-receh” seperti perkara makan buat anak sekolah dan bikin kios di desa.

Pengawasan tidak boleh identik dengan intervensi. Pembinaan tidak boleh berubah menjadi dominasi. Sebaliknya, otonomi tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan untuk bertindak sesuka hati.

Di sinilah relevansi teori genggam anak ayam. Negara harus hadir dengan genggaman yang tepat: cukup kuat untuk menjaga arah agar jangan salah, cukup longgar untuk memberi ruang tumbuh kesejahteraan warga.

Baca Juga  Wayan Koster Bakar Semangat SOGAN Tabanan Menangkan Ganjar Pranowo Jadi Presiden RI

Karena pada akhirnya tujuan otonomi daerah bukanlah memperbesar kekuasaan daerah ataupun memperkuat kontrol pusat. Tujuannya adalah menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, pembangunan yang lebih merata, dan kesejahteraan yang lebih dekat dengan rakyat.

Jika genggaman terlalu erat, otonomi mati. Jika terlalu longgar, negara kehilangan kendali. Hanya keseimbangan yang akan menjaga Indonesia tetap kokoh sebagai negara kesatuan yang demokratis dengan menghargai keberagaman daerahnya. (*/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

OPINI

Kekuatan “Mind Over Matter” dalam Healing

Published

on

By

mind over metter
I Made Suwenten. (Foto: dok)

KEKUATAN Mind Over Matter dalam healing artinya “pikiran menguasai materi” — ide bahwa kondisi mental, keyakinan, dan fokus pikiran bisa memengaruhi kondisi fisik dan proses penyembuhan tubuh.

Ini bukan sulap, tapi ada dasar ilmiahnya lewat hubungan otak-tubuh:

  1. Cara kerjanya di tubuh

Otak dan sistem saraf terhubung langsung ke sistem imun, hormon, dan saraf otonom. Kalau kamu stres, cemas, marah terus, otak aktifkan respons fight or flight. Hasilnya: kortisol naik, imun turun, tidur kacau, penyembuhan melambat. Kalau pikiran tenang, percaya diri bisa sembuh, dan rileks, tubuh masuk mode rest and digest. Hormon endorfin dan oksitosin naik, peradangan berkurang, proses perbaikan sel jalan lebih optimal.

  1. Bentuknya dalam praktik healing

Konsep ini yang dipakai di banyak metode: Hipnosis & self-hypnosis: Memprogram ulang pikiran bawah sadar supaya nggak lagi memelihara pola stres, sakit, atau trauma. Placebo effect: Pasien yang yakin obatnya bekerja sering menunjukkan perbaikan nyata, meski obatnya gula. Itu bukti pikiran bisa memicu perubahan fisiologis. Visualisasi penyembuhan: Membayangkan luka sembuh, sel kanker mati, atau organ berfungsi normal, dipakai untuk bantu fokus sistem saraf ke arah penyembuhan. Mindfulness & meditasi: Menurunkan aktivitas amigdala yang mengatur rasa sakit dan cemas, sehingga rasa sakit fisik berkurang.

  1. Batasan yang penting dipahami

Mind Over Matter bukan berarti “kalau sakit parah, cukup berpikir positif pasti sembuh”.

Pikiran itu faktor pendukung, bukan pengganti perawatan medis. Yang paling efektif biasanya kombinasi: perawatan medis untuk masalah fisik + kerja mental untuk dukung sistem saraf dan emosi.

  1. Kenapa relevan di healing

Banyak penyakit kronis, psikosomatis, dan luka batin yang dipelihara oleh pola pikir bawah sadar. Begitu pola itu diubah lewat hipnosis, terapi, atau afirmasi, tubuh sering ikut merespons karena beban stresnya lepas. Itu alasan kenapa sesi healing seperti yang dilakukan Made Suwenten fokus ke pikiran dulu — supaya tubuh ikut tenang dan punya ruang untuk menyembuhkan diri sendiri.

Baca Juga  Hasto Kristiyanto dan Wayan Koster Kompak Gelorakan Semangat Berpolitik Merawat Lingkungan

Intinya: pikiranmu bukan cuma penonton, tapi sutradara. Kalau sutradaranya tenang dan fokus ke arah sembuh, “aktor” di tubuhmu jadi lebih kooperatif.

Praktek teknik Scan & Reframe 5 menit yang sering dipakai di hipnosis diri dan mindfulness buat aktifkan Mind Over Matter:

  1. Duduk tenang, tarik napas 3x [1 menit]

Tutup mata. Tarik napas 4 hitungan, tahan 2, buang 6. Tujuannya biar sistem saraf pindah dari mode stres ke mode tenang. Kasih tau diri sendiri: “Sekarang waktunya tubuhku istirahat dan pulih”.

  1. Scan tubuh cari area tegang [1 menit]

Perhatikan dari kepala sampai kaki. Di mana ada rasa berat, panas, nyeri, atau sesak? Nggak usah dilawan. Cukup sadari dan bilang dalam hati: “Aku lihat kamu, aku aman sekarang”.

  1. Reframe dengan gambar mental [2 menit]

Bayangkan area itu seperti lampu. Kalau tegang, warnanya merah gelap. Sekarang bayangkan cahaya hangat warna emas atau biru lembut masuk lewat napasmu dan menyinari area itu.

Sambil bayangkan, katakan dalam hati:

“Saya aman. Tubuh saya tahu cara menyembuhkan diri. Setiap napas membantu saya lebih rileks.”

  1. Afirmasi & tutup [1 menit]

Akhiri dengan 3x afirmasi singkat yang personal, contoh: “Tubuhku mendukungku”. “Aku layak merasa tenang”. “Penyembuhan sedang terjadi”.

Lalu buka mata perlahan.

Kenapa ini jalan: Kamu pakai napas buat matiin alarm stres, pakai perhatian buat nggak denial sama rasa sakit, lalu pakai imajinasi + kata-kata buat kasih instruksi baru ke sistem saraf. Otak nggak bedain imajinasi kuat dan realita — dia merespons keduanya dengan perubahan kimia tubuh.

Lakuin 1-2x sehari, terutama sebelum tidur. Hasilnya biasanya kerasa di kualitas tidur dan tingkat cemas dalam 3-7 hari.

Baca Juga  Pj. Gubernur Bali Mahendra Jaya Kunjungi Turyapada Tower

Love is in my heart, and Energy is in my Hand.

Oleh MADE SUWENTEN, Mahogani Center, house of healing hypnosis.

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca