Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

OPINI

‘’The Power of Healing Hypnosis’’, Tuntunan Bekerja Lebih Sehat, Bahagia dan Produktif

BALIILU Tayang

:

suwenten
Peluncuran buku ''The Power of Healing Hypnosis'' karya Made Suwenten di Gramedia Teuku Umar Denpasar, Juni 2024 lalu. (Foto: gs)

APAKAH Anda sering merasa terdistraksi saat bekerja? Kurang produktif? Kesulitan untuk mencapai target atau ekspektasi yang diharapkan?

Memiliki fokus yang mendalam dan bekerja produktif memang menjadi tantangan nyata pada kehidupan modern kini. Realitasnya, lingkungan kerja juga tidak selalu menawarkan situasi yang ideal bagi semua orang. Dan, pada akhirnya, kita sendirilah yang perlu turut memiliki kesadaran untuk berubah dan menyesuaikan.

Buku ‘’The Power of Healing Hypnosis’’ yang mengupas tentang healing hypnosis menawarkan cara untuk memprogram ulang pikiran kita agar tetap positif, bersyukur, sehat, dan bahagia. Ulangilah secara terus-menerus dan implementasikan dalam kehidupan untuk menemukan perubahan besar, baik dalam pekerjaan maupun keseharian Anda.

‘’Buku ini saya tulis untuk membantu para profesional agar dapat lebih produktif dalam bekerja, mereka yang kelelahan atau bahkan stres karena tuntutan dari pekerjaan dan orang lain,’’ ucap Made Suwenten, penulis buku The Power of Healing Hypnosis dalam satu kesempatan peluncurannya pada Juni 2024 ini di Gramedia Teuku Umar Denpasar.

Buku ”The Power of Healing Hypnosis” sudah tersedia di Gramedia. (Foto: gs)

Made Suwenten yang adalah seorang love & light energy master teacher, enlightment life coach, dan trainer, menjelaskan bekerja di perusahaan itu ibarat menggunakan treadmill. Beban kecepatannya ditentukan oleh diri kita sendiri. Dan, setiap program yang kita atur memengaruhi tingkat stres dan juga hasil yang dicapai.

Para pekerja yang tidak profesional tentu mengharapkan imbal balik yang tinggi dari perusahaan dengan kontribusi yang terbatas. Sedangkan, mereka yang profesional berupaya untuk menjadikan pekerjaannya terbaik demi memperoleh hasil yang melampaui ekspektasi. Untuk itulah mereka perlu daya tahan fisik, psikologis, dan spirit yang baik agar terhindar dari kelelahan yang berujung pada kondisi tidak sehat.

Made Suwenten menegaskan, sangat penting bagi para profesional untuk menjaga kesehatan dan kebahagiaan dengan mengedepankan rasa syukur secara terus-menerus. Bagaimana seseorang mengelola emosi di dalam bekerja juga amatlah penting. Artinya, seseorang perlu tetap bersemangat, positif, dan menempatkan setiap masalah yang ada sebagai ‘referensi’ untuk meningkatkan semangat berkarya.

Bahagia adalah kondisi mental, yakni pikiran dan emosi yang dapat menerima situasi apa adanya serta melihatnya dari sisi yang positif. Dalam buku ini disebutkan ada empat hormon yang memengaruhi emosi manusia menuju kebahagiaan yakni pertama, hormon Dopamin sebagai neurotransmitter yang memengaruhi emosi, konsentrasi hingga gerakan. Kedua hormon Endorfin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang dan berkaitan dengan kekebalan tubuh. Endorfin umumnya diproduksi oleh tubuh pada saat kita merasa bahagia, tertawa, dan beristirahat cukup. Ketiga hormon Serotonin adalah hormon yang terdapat dalam kelenjar oinealis, saluran pencernaan, sistem saraf pusat, dan keping darah (trombosit). Sering disebut sebagai ‘hormon bahagia’. Serotonin memiliki fungsi penting bagi kesejahteraan mental kita. Hormon ini juga sangat dominan untuk membangkitkan mood manusia. Dan keempat, hormon Oksitosin yang disebut-sebut sebagai ‘hormon cinta’. Hormon inilah yang bekerja saat kita berpelukan, berpegangan tangan, berciuman, dan melakukan kegiatan romantis lainnya. Sebagai hormon cinta, oksitosin memberikan kebahagiaan melalui keintiman dan kepercayaan. Hormon ini membuat kita merasa aman, bahwa semua akan berjalan dengan baik-baik saja.

Baca Juga  Memantapkan Resolusi 2025 dengan Healing-Hypnosis

suwenten

Made Suwenten saat menjelaskan tentang Healing Hypnosis di acara peluncuran buku ”The Power of Healing Hypnosis” di Gramedia Teuku Umar Denpasar. (Foto: gs)

Made Suwenten menyebutkan untuk memaksimalkan fungsi hormon-hormon tersebut sehingga memperoleh kebahagiaan yakni dengan berpikir dan berperilaku yang positif dengan lebih banvak memberikan penghargaan kepada orang lain ataupun diri sendiri. Jalan-jalanlah sesekali ke tempat wisata, khususnya yang bernuansa alam seperti pantai, taman, dan lain sebagainya.

Melakukan olahraga secara teratur minimal 30 menit setiap hari. Di samping untuk melenturkan otot, memperbaiki aliran darah dan oksigen dalam tubuh, olahraga juga bisa melepaskan ketegangan dan meningkatkan rasa bergairah. Jalin hubungan baik dengan orang lain, khususnya dengan orang-orang terkasih Anda. Lakukan pelukan setiap hari selama 20 detik, mengobrollah secara langsung dengan rekan-rekan Anda. Bagi yang sudah memiliki pasangan, jagalah gestur dan aktivitas romantis Anda bersama pasangan.

Atur pola makan yang bergizi seimbang (mengandung karbohidrat, protein, lemak. vitamin, mineral, air dan serat) dengan berkecukupan. Lakukan meditasi atau relaksasi untuk menjaga kesehatan emosi, mental, fisik, dan spiritual Anda. Dengan meditasi, pikiran untuk menjadi positif dan jinak. Anda-lah yang menjadi nahkoda untuk pikiran Anda, bukan Anda melatih sebaliknya.

Made Suwenten mengungkapkan, untuk menangani karyawan yang sudah menderita adiksi atau perilaku kerja seperti ketergantungan (ketagihan) nikotin atau rokok karena beberapa alasan seperti memandang rokok bisa menghilangkan stres, menggunakan ponsel yang dipakai untuk bermain online game dengan menghabiskan waktu berjam-jam, kelelahan akibat tekanan dalam rumah tangga, jauhnya jarak rumah-kantor, dan tuntutan ekonomi, berutang, hingga dikejar-kejar penagih utang, dan masuk dalam pola perjudian yang dilakukan secara langsung dan online, bukan perkara mudah. Namun bila tidak ditangani dengan serius, kondisinya dapat merusak produktivitas dan dapat berlanjut menular kepada karyawan lainnya.

Baca Juga  Memantapkan Resolusi 2025 dengan Healing-Hypnosis

Pendekatan manajemen dan hukum saja tidaklah cukup. Diharapkan juga upaya ‘penyembuhan’, terlebih oleh karyawan yang bersangkutan. Orang yang bermasalah itu sendiri perlu memiliki kesadaran dan keinginan untuk berubah, yang kemudian didukung oleh sistem tempat kerja. Itulah sebabnya Healing Hypnosis ini dapat bermanfaat bagi para pekerja kantoran.

Hipnosis adalah keadaan relaksasi mendalam yang memungkinkan kita untuk mengakses pikiran bawah sadar kita. Melalui hipnosis, kita dapat memprogram ulang keyakinan negatif dan mengatasi perilaku yang membatasi kita. Hipnosis adalah saat Anda menghentikan niat untuk makan makanan tertentu dan Anda berhasil melakukannya.

Namun Made Suwenten menyebutkan masalah bagi sebagian besar orang adalah kesulitan untuk melakukan relaksasi dan fokus kepada diri sendiri. Hal ini yang kemudian menjadikannya tidak dapat memasuki pikiran bawah sadarnya, untuk melakukan perubahan melalui sugesti-sugesti.

Sementara itu, Healing Hypnosis adalah suatu proses penyehatan fisik, mental, emosi, dan spiritual menggunakan teknik hipnosis.

Dalam buku Made Suwenten berjudul Practical Hypnotherapy Guide Book, dimana kemampuan manusia untuk mencapai kesuksesan 10% ditentukan oleh pikiran sadarnya dan 90% ditentukan oleh pikiran bawah sadarnya. Ada beberapa cara untuk memasuki bawah sadar kita dan melakukan perubahan, termasuk melejitkan potensi-potensi yang dimiliki. Cara-cara tersebut antara lain berkomunikasi secara langsung dengan bawah sadar.

Healing bisa dilihat sebagai upaya memperbaiki semua yang ada di semesta ini. Seseorang yang tertarik untuk healing tidak harus mengikuti pelatihan khusus agar dapat mengakses entitas energi penyembuhan tertentu. Healing bisa dilakukan dengan melakukan perubahan-perubahan kebiasaan dan melatih fokus terhadap hal yang diinginkan.

Healing bukan sekadar kunci untuk menyelesaikan semua masalah yang Anda hadapi, melainkan juga batu loncatan untuk meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri. Healing merupakan proses untuk meningkatkan kesadaran atas diri sendiri. Dan sejatinya, healing menjadikan diri kita sebagai pemilik hati kita sendiri. Anda dan siapa pun bisa mengaktifkan energi healing yang sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Dalam buku ini pembaca akan dituntun teknik sederhana untuk mengaktifkan energi healing tersebut.

Baca Juga  Kekuatan “Mind Over Matter” dalam Healing

made

Penulis

Made Suwenten yang lahir di Wanagiri Buleleng adalah seorang love & light energy master teacher, enlightment life coach, dan trainer. Made Suwenten berpengalaman luas selama lebih dari 30 tahun menjadi praktisi dan pengelola sumber daya manusia di berbagai perusahaan. Posisinya yang pernah dijabatnya adalah sebagai direktur HR pada sebuah hotel berbintang lima di Jakarta.

Dalam perjalanan kariernya, Made Suwenten telah banyak memberikan kursus, training, seminar, workshop, maupun konsultasi dalam bidang manajemen. la juga melayani konsultasi untuk kehidupan perseorangan dan keluarga. Topik-topik yang dibawakannya selalu sesuai dengan tuntutan zaman dan berfokus pada outcomes yang diinginkan oleh para kliennya. Made juga dikenal sebagai seorang terapis yang menggunakan keilmuan esoteric, prana, neuro-linguistic programming, maupun hypnotherapy.

la sudah menulis beberapa buku, seperti Ultimate Self Healing, Great Leader in You, Practical Hypnotheraphy Guide Book, Life Journey, Working Spirit for Success, dan Sebuah Seni Untuk Damai dan Bahagia di Hati.

Pada tahun 2009, ia mendirikan Yayasan Mahogani Focus Solution Indonesia yang memberikan pelayanan dalam bidang pengembangan SDM di luar sekolah, seperti pemberdayaan diri, manajemen SDM, dan kepemimpinan. la juga mendirikan klinik hipnoterapi untuk membantu masyarakat luas yang terkena penyakit emosi dan fisik. Alamat Mahogani Centre di Jalan Tukad Petanu II Nomor 4, Puskopad 1, Sanggulan Indah, Banjar Anyar, Kediri Tabanan

Selanjutnya tulisan-tulisannya akan dimuat secara berseri di media ini. (Gede Sumida)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Menata Ulang MBG: Selamat Datang Kantin Sekolah 

Published

on

By

mbg
Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri 2010-2014, dan Pj. Gubernur Riau 2013-2014. (Foto: ist)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis digadang sebagai solusi stunting dan gizi buruk. Tapi di lapangan, yang banyak terdengar justru kritik: menu monoton, distribusi telat, anggaran membengkak, dan pemda yang mengurus anak sekolah tak dilibatkan.

Program kerja pemerintah hanya akan jadi baik jika manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, berdampak luas. Pertanyaannya sekarang: sudahkah MBG benar-benar dinikmati anak-anak sekolah untuk memperbaiki gizi, atau baru sampai ke woro-woro dan seremonial?

Program MBG mendapat momentum baru pasca diciduknya Kepala BGN beserta dua wakilnya oleh Kejaksaan Agung. Kini tongkat komando dipegang Ninik S. Deyang, mantan wartawan yang naik dari Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik menjadi orang nomor satu.

Ada satu pernyataannya yang penting: “MBG akan dijalankan oleh kantin sekolah”. Selama ini kita mengenal MBG dilaksanakan oleh SPPG—Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Pernyataan ini membuka ruang diskusi besar tentang arah kebijakan.

MBG adalah program andalan Presiden Prabowo Subianto yang selalu disebut dalam pidatonya baik di dalam maupun luar negeri. Harapannya besar: perbaikan gizi anak sekolah, penurunan stunting, penguatan SDM Indonesia Emas 2045.

Namun niat baik itu terbentur persoalan klasik tata kelola kita: tarik-menarik antara sentralisasi kebijakan dan realitas lapangan yang sangat beragam kondisi sosial-kulturalnya.

Sejumlah kasus keracunan makanan, distribusi berantakan, inefisiensi, pembentukan ribuan SPPG, hingga dugaan korupsi menunjukkan desain MBG masih problematik. Ia terlalu sentralistik, padahal yang paling memahami kondisi riil anak-anak justru pemerintah daerah.

Dan solusinya sudah ada pula dalam Pasal 18, 18 A dan 18 B konstitusi kita: desentralisasi dan otonomi daerah. Pusat melibatkan dan memberi peran bermakna kepada daerah yang posisinya lebih dekat dengan rakyat yang dilayani: the closer the governance to the people the better their services.

Sentralisasi yang Tidak Selalu Efisien 

Baca Juga  Kekuatan “Mind Over Matter” dalam Healing

Desain MBG terpusat menciptakan rantai birokrasi panjang: pusat → vendor → dapur produksi → distribusi → sekolah. Rantai ini menambah biaya logistik dan memperbesar risiko: keterlambatan, kualitas makanan turun, pengawasan lemah di lapangan.

Ironisnya, pemerintah daerah justru punya semua instrumen yang dibutuhkan: data jumlah siswa, peta gizi, peta kemiskinan, jaringan UMKM pangan lokal. Tapi kapasitas itu belum dimanfaatkan optimal.

Di sinilah paradoksnya: yang paling tahu kondisi lapangan, tidak diperankan.

Mengembalikan Esensi Otonomi Daerah

Reformulasi MBG harus kembali ke prinsip dasar otonomi: urusan sehari-hari seperti memberi makan anak sekolah seharusnya dilepaskan ke daerah. Pusat fokus sebagai penyedia anggaran, regulator, penetap standar gizi nasional, dan pengawas.

Sementara gubernur, bupati, walikota ditempatkan sebagai koordinator utama. Didukung dinas pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan perangkat daerah lain. Daerah yang paling paham kebutuhan warganya, harus diberi ruang lebih besar melayani warganya.

Dari Dapur Sentral ke Kantin Sekolah

Perubahan paling fundamental: geser model dari dapur sentral SPPG ke kantin sekolah sebagai penyedia MBG.

Model ini lebih efisien, transparan, mudah diawasi. Makanan langsung diterima sekolah tanpa rantai distribusi panjang. Guru, kepala sekolah, orang tua bisa langsung mengawasi kualitasnya.

Sekaligus menjawab selera lokal yang berbeda-beda: nasi pecel di Jawa, nasi uduk di Jakarta, nasi kuning di Kalimantan, sagu-jagung-ubi di Papua. MBG jadi terasa “milik” daerah, bukan kiriman pusat.

Peran Kesehatan & Respons Cepat

Dengan desentralisasi, dinas kesehatan dan puskesmas naik kelas. Mereka bukan hanya pengawas, tapi unit respons cepat jika ada keracunan atau alergi. Kecepatan respons ini kunci menjaga kepercayaan publik.

Menghidupkan Ekonomi Lokal 

Nilai tambah terbesar reformulasi ini ada di ekonomi. Libatkan UMKM lokal sebagai pemasok: beras, telur, sayur, buah, ayam, ikan, susu. Maka MBG bukan hanya memberi makan anak, tapi menggerakkan ekonomi rakyat.

Baca Juga  Peta Jalan Menuju Kesuksesan di Tahun 2025

Setiap rupiah MBG yang dibelanjakan di daerah akan berputar ke petani, peternak, nelayan, pedagang kecil, transportasi lokal. Pegawai ASN dan PPPK pemda yang minim aktivitas di era efisiensi juga bisa dilibatkan. Ini esensi pembangunan inklusif yang sesungguhnya.

Desentralisasi memperkuat akuntabilitas. Pengawasan tak hanya di tangan BPK/BPKP, tapi juga guru, komite sekolah, dinas daerah, orang tua siswa. Sistem yang dekat dengan warga membuat setiap rupiah lebih mudah ditelusuri dan dikontrol.

MBG tidak boleh dipahami sekadar program pemberian makan gratis dari pusat. Ia adalah instrumen pembangunan manusia, penguatan ekonomi daerah, dan ujian nyata konsistensi kita pada desentralisasi.

Jika kita sungguh ingin Indonesia Emas 2045, kita harus jujur: tidak semua urusan harus dilaksanakan oleh pusat. Keberhasilan program nasional justru ditentukan seberapa besar ruang yang diberikan kepada daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak diukur dari besarnya anggaran, tapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan rakyat di daerah.

“Daerah yang paling memahami kebutuhan warganya seyogianya diberi ruang lebih besar untuk melayani mereka”. (*/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

OPINI

Teori Genggam Anak Ayam dalam Politik Desentralisasi

Published

on

By

teori gengam anak ayam
Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN, Dirjen Otda Kemendagri 2010-2014, Pj. Gubernur Riau 2013-2014. (Foto: dok)

DALAM setiap diskusi tentang hubungan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, saya sering mengemukakan sebuah analogi sederhana yang mudah dipahami masyarakat: teori genggam anak ayam. Teori ini lahir bukan dari ruang seminar atau laboratorium akademik, melainkan dari pelajaran sederhana yang diberikan alam. Filosofinya, alam terkembang jadi guru.

Seekor anak ayam yang digenggam terlalu erat akan kehilangan napas, lemas, lalu mati. Sebaliknya, jika genggaman terlalu longgar, ia akan meloncat dan lepas. Dalam kedua keadaan itu, tujuan memelihara anak ayam tidak tercapai. Yang diperlukan adalah genggaman yang pas: tidak mencekik, tetapi juga tidak membiarkan bablas.

Begitulah sesungguhnya hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dalam negara kesatuan yang menganut desentralisasi.

Otonomi daerah bukanlah pemberian kedaulatan alias kebebasan tanpa batas. Sebaliknya, sentralisasi juga bukanlah penguasaan “Jakarta” tanpa ruang memadai bagi daerah untuk berkembang. Keduanya harus berada dalam titik keseimbangan yang sehat melalui mekanisme checks and balances yang proporsional agar timbul stabilitas. Sehingga, republik ini tak sempoyongan bila berjalan, atau terguncang bila didera krisis global.

Selama hampir tiga dekade pelaksanaan otonomi daerah, Indonesia terus bergerak seperti pendulum yang berayun antara dua kutub: desentralisasi dan sentralisasi. Pada awal reformasi, kewenangan daerah diperluas secara drastis sebagai koreksi atas sentralisme Orde Baru. Namun dalam perjalanannya, berbagai penyimpangan di daerah memunculkan dorongan kaum sentralist untuk menarik kembali sebagian kewenangan ke pusat.

Masalahnya, sering kali respons yang muncul bersifat berlebihan. Lebih-lebih bila terjadi pergantian rezim pemerintahan.

Ketika pusat terlalu dominan, mendikte dan mengomando dengan macam2 inpres, daerah kehilangan ruang berinovasi. Kepala daerah menjadi sekadar pelaksana instruksi. Kreativitas birokrasi mati. Program pembangunan menjadi seragam, padahal karakteristik daerah sangat beragam. Otonomi hanya tinggal slogan administratif tanpa makna substantif.

Baca Juga  Kekuatan “Mind Over Matter” dalam Healing

Namun ketika pusat terlalu longgar, persoalannya tidak kalah serius. Sejumlah kepala daerah merasa memiliki kekuasaan yang nyaris tanpa batas. Muncul fenomena: politik dinasti, korupsi kepala daerah, pemborosan anggaran, proyek-proyek mercusuar yang minim manfaat publik, pengadaan fasilitas mewah, renovasi rumah jabatan bernilai fantastis, praktik jual beli jabatan, hingga pungutan terselubung dalam pelayanan perizinan.

Dalam kondisi seperti itu, desentralisasi dibajak oleh elit lokal. Yang berkembang bukan daulat rakyat tapi daulat tuanku sebagaimana pernah diingatkan Bung Hatta.

Ironisnya, masyarakat sering terjebak dalam pilihan semu: memilih sentralisasi atau desentralisasi. Padahal yang dibutuhkan bukan memilih salah satunya, melainkan menemukan titik keseimbangan di antara keduanya.

Negara-negara yang berhasil mengelola pemerintahan daerah tidak menempatkan pusat sebagai penguasa tunggal, tetapi juga tidak membiarkan daerah berjalan tanpa arah. Pemerintah pusat bertugas menetapkan norma, standar, prosedur, atau NSPK, serta melakukan pengawasan. Sementara pemerintah daerah diberi ruang yang cukup untuk berinovasi dan menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan lokal berdasarkan kewenangan yang dilimpahkan mulai dari perencanaan hingga evaluasi (otonomi paripurna).

Dalam konteks Indonesia saat ini, PR terbesar adalah bagaimana memberikan urusan yang pas bagi setiap daerah sesuai kondisinya masing-masing, membinanya agar bisa mengelola urusan itu dengan prinsip good governance, dan membangun sistem pengawasan yang efektif. Pusat sendiri bisa fokus pada urusan pemerintahan yang absolut dan strategis. Bukan urusan “receh-receh” seperti perkara makan buat anak sekolah dan bikin kios di desa.

Pengawasan tidak boleh identik dengan intervensi. Pembinaan tidak boleh berubah menjadi dominasi. Sebaliknya, otonomi tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan untuk bertindak sesuka hati.

Di sinilah relevansi teori genggam anak ayam. Negara harus hadir dengan genggaman yang tepat: cukup kuat untuk menjaga arah agar jangan salah, cukup longgar untuk memberi ruang tumbuh kesejahteraan warga.

Baca Juga  Hipnoterapi adalah Alat yang Efektif Membantu Mencapai Resolusi

Karena pada akhirnya tujuan otonomi daerah bukanlah memperbesar kekuasaan daerah ataupun memperkuat kontrol pusat. Tujuannya adalah menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, pembangunan yang lebih merata, dan kesejahteraan yang lebih dekat dengan rakyat.

Jika genggaman terlalu erat, otonomi mati. Jika terlalu longgar, negara kehilangan kendali. Hanya keseimbangan yang akan menjaga Indonesia tetap kokoh sebagai negara kesatuan yang demokratis dengan menghargai keberagaman daerahnya. (*/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

OPINI

Kekuatan “Mind Over Matter” dalam Healing

Published

on

By

mind over metter
I Made Suwenten. (Foto: dok)

KEKUATAN Mind Over Matter dalam healing artinya “pikiran menguasai materi” — ide bahwa kondisi mental, keyakinan, dan fokus pikiran bisa memengaruhi kondisi fisik dan proses penyembuhan tubuh.

Ini bukan sulap, tapi ada dasar ilmiahnya lewat hubungan otak-tubuh:

  1. Cara kerjanya di tubuh

Otak dan sistem saraf terhubung langsung ke sistem imun, hormon, dan saraf otonom. Kalau kamu stres, cemas, marah terus, otak aktifkan respons fight or flight. Hasilnya: kortisol naik, imun turun, tidur kacau, penyembuhan melambat. Kalau pikiran tenang, percaya diri bisa sembuh, dan rileks, tubuh masuk mode rest and digest. Hormon endorfin dan oksitosin naik, peradangan berkurang, proses perbaikan sel jalan lebih optimal.

  1. Bentuknya dalam praktik healing

Konsep ini yang dipakai di banyak metode: Hipnosis & self-hypnosis: Memprogram ulang pikiran bawah sadar supaya nggak lagi memelihara pola stres, sakit, atau trauma. Placebo effect: Pasien yang yakin obatnya bekerja sering menunjukkan perbaikan nyata, meski obatnya gula. Itu bukti pikiran bisa memicu perubahan fisiologis. Visualisasi penyembuhan: Membayangkan luka sembuh, sel kanker mati, atau organ berfungsi normal, dipakai untuk bantu fokus sistem saraf ke arah penyembuhan. Mindfulness & meditasi: Menurunkan aktivitas amigdala yang mengatur rasa sakit dan cemas, sehingga rasa sakit fisik berkurang.

  1. Batasan yang penting dipahami

Mind Over Matter bukan berarti “kalau sakit parah, cukup berpikir positif pasti sembuh”.

Pikiran itu faktor pendukung, bukan pengganti perawatan medis. Yang paling efektif biasanya kombinasi: perawatan medis untuk masalah fisik + kerja mental untuk dukung sistem saraf dan emosi.

  1. Kenapa relevan di healing

Banyak penyakit kronis, psikosomatis, dan luka batin yang dipelihara oleh pola pikir bawah sadar. Begitu pola itu diubah lewat hipnosis, terapi, atau afirmasi, tubuh sering ikut merespons karena beban stresnya lepas. Itu alasan kenapa sesi healing seperti yang dilakukan Made Suwenten fokus ke pikiran dulu — supaya tubuh ikut tenang dan punya ruang untuk menyembuhkan diri sendiri.

Baca Juga  Peta Jalan Menuju Kesuksesan di Tahun 2025

Intinya: pikiranmu bukan cuma penonton, tapi sutradara. Kalau sutradaranya tenang dan fokus ke arah sembuh, “aktor” di tubuhmu jadi lebih kooperatif.

Praktek teknik Scan & Reframe 5 menit yang sering dipakai di hipnosis diri dan mindfulness buat aktifkan Mind Over Matter:

  1. Duduk tenang, tarik napas 3x [1 menit]

Tutup mata. Tarik napas 4 hitungan, tahan 2, buang 6. Tujuannya biar sistem saraf pindah dari mode stres ke mode tenang. Kasih tau diri sendiri: “Sekarang waktunya tubuhku istirahat dan pulih”.

  1. Scan tubuh cari area tegang [1 menit]

Perhatikan dari kepala sampai kaki. Di mana ada rasa berat, panas, nyeri, atau sesak? Nggak usah dilawan. Cukup sadari dan bilang dalam hati: “Aku lihat kamu, aku aman sekarang”.

  1. Reframe dengan gambar mental [2 menit]

Bayangkan area itu seperti lampu. Kalau tegang, warnanya merah gelap. Sekarang bayangkan cahaya hangat warna emas atau biru lembut masuk lewat napasmu dan menyinari area itu.

Sambil bayangkan, katakan dalam hati:

“Saya aman. Tubuh saya tahu cara menyembuhkan diri. Setiap napas membantu saya lebih rileks.”

  1. Afirmasi & tutup [1 menit]

Akhiri dengan 3x afirmasi singkat yang personal, contoh: “Tubuhku mendukungku”. “Aku layak merasa tenang”. “Penyembuhan sedang terjadi”.

Lalu buka mata perlahan.

Kenapa ini jalan: Kamu pakai napas buat matiin alarm stres, pakai perhatian buat nggak denial sama rasa sakit, lalu pakai imajinasi + kata-kata buat kasih instruksi baru ke sistem saraf. Otak nggak bedain imajinasi kuat dan realita — dia merespons keduanya dengan perubahan kimia tubuh.

Lakuin 1-2x sehari, terutama sebelum tidur. Hasilnya biasanya kerasa di kualitas tidur dan tingkat cemas dalam 3-7 hari.

Baca Juga  Menjadikan Pengalaman Masa Lalu Sebagai Sumber Daya Pemberdayaan Diri

Love is in my heart, and Energy is in my Hand.

Oleh MADE SUWENTEN, Mahogani Center, house of healing hypnosis.

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca