Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sanggar Seni Sudha Wirad Duta Badung Tampil Beda dalam Parade Gong Kebyar Anak-anak PKB Ke-47

Di Sela Atraksi, Mereka Melepaskan Burung Sebagai Bentuk Menjaga dan Melestarikan Alam

Loading

BALIILU Tayang

:

gong kebyar
PARADE GONG KEBYAR ANAK-ANAK: Puluhan seniman anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Seni Sudha Wirad, Banjar Pipitan, Desa Canggu Kecamatan Kuta Utara saat tampil dalam Parade Gong Kebyar Anak-anak serangkaian PKB Ke-47 Tahun 2025, Senin (23/6) malam di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Kabupaten Badung menerjunkan puluhan seniman anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Seni Sudha Wirad, Banjar Pipitan, Desa Canggu Kecamatan Kuta Utara dalam Utsawa (Parade) Gong Kebyar Anak-anak serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-47 Tahun 2025.

Tampil pada Senin (23/6) malam di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), anak-anak Badung bermain lepas di atas panggung saat menyuguhkan pesan bagaimana menyikapi hidup di antara masa dulu dan kekinian.

Dalam parade Gong Kebyar Anak-anak yang mempertemukan Sanggar Seni Sudha Wirad Canggu dengan Sanggar Seni Kembang Bali, Banjar Tunjuk Kelod, Desa Tunjuk, Kecamatan/Kabupaten Tabanan, duta Kabupaten Badung tampil beda sejak awal. Saat opening, penabuh Sanggar Seni Sudha Wirad diiringi dengan sedikit atraksi di atas panggung. Di sela atraksi itu, mereka sambil melepaskan burung sebagai bentuk menjaga dan melestarikan alam.

“Dalam pementasan malam ini, di samping untuk peningkatan kreativitas anak-anak dan pelestarian budaya, kami juga menjaga harmonisasi alam. Saat opening di awal kami ada pelepasan burung perkutut sekitar 50 ekor yang telah kami lestarikan,” ujar Sekretaris Sanggar Sudha Wirad, I Putu Wahyudi Cahaya Putra, ditemui seusai pementasan.

Lebih lanjut saat pementasan berlangsung, Sanggar Seni Sudha Wirad membuka penampilan dengan sajian tabuh kreasi “Tala Bhanga” dengan penata tabuh I Nyoman Wiradarma Yoga, S.Sn dan pembina tabuh Nyoman Astadi Jaya Pramana, S.Sn. Tabuh kreasi ini menggambarkan ‘ritme yang pecah’ sebagai refleksi musikal tentang harmoni yang lebih jujur, bahwa bukan lahir dari yang seragam, tapi yang lahir dari pertentangan antara keindahan dan ketidakindahan. Tabuh ini menyiratkan bahwa harmoni merupakan ruang yang memberi tempat bagi segala perbedaan untuk bersuara.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Gelar Pembinaan Sekaa Joged Bumbung Sekar Sari Pedungan

Kemudian sajian kedua, Sanggar Seni Sudha Wirad menampilkan tari Tedung Sari dengan pembina tari Ni Nyoman Budawati, S.Sn dan Ni Putu Leslyani, S.Sn serta pembina tabuh I Gede Purnama Eka Saputra, S.Sn M.Pd dan Agus Ari Priyastana, S.Sn. Tari ini diciptakan pada tahun 1989, dikembangkan oleh I Nyoman Suarsa yang terinspirasi dari keberadaan sebuah properti yang sehari-hari digunakan masyarakat Bali sebagai sarana prasarana upacara, dengan pencipta tabuh I Nyoman Sudarma.

Sebagai pamungkas, Sanggar Sudha Wirad menampilkan dolanan “Kidal Kidul” dengan penata dialog I Made Ariawan, S.S., M.Si, penata tari I Wayan Tisna Dana, S.Sn, dan penata tembang Ni Putu Tina Ratna Puspa Dewi, S.Sn, penata iringan I Wayan Ardana, S.Sn, pembina tabuh I Gede Purnama Eka Saputra, S.Sn., M.Pd. Dolanan berlangsung atraktif di atas panggung. Tingkah polah anak-anak yang lucu, lugu, dan menggemaskan mengundang gelak tawa ribuan penonton yang memadati tribun Ardha Candra.

Dolanan “Kidal Kidul” memberikan gambaran banyaknya perbedaan yang terjadi seiring perubahan zaman. Anak-anak di masa kini memiliki beragam pilihan permainan, baik permainan tradisional maupun modern. Namun tantangannya adalah menyesuaikan diri, tidak terpaku pada yang kuno, juga tidak larut pada hal modern. Fleksibilitas ini diibaratkan Boko-boko, kura-kura kecil yang bebas bermain di air maupun di darat.

PEMAINAN MODERN: Duta Badung dalam Parade Gong Kebyar Anak-anak serangkaian PKB Ke-47 Tahun 2025 saat menampilkan permainan modern. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Makanya, di atas panggung disajikan dua jenis permainan. Pada permainan tradisional, ditampilkan permainan melayangan dan medagang-dagangan. Sedangkan permainan modern lebih pada penggunaan teknologi seperti game dan vlog. Wahyudi Putra mengatakan, tema ini berangkat dari fenomena Canggu sebagai salah satu wilayah Badung yang cukup maju di sektor pariwisata, namun anak-anak harus tetap memiliki ruang untuk bermain permainan tradisional dan modern.

Baca Juga  Tutup PKB Badung, Bupati Adi Arnawa Lepas 26 Duta Seni ke Provinsi

“Untuk dolanan memang kita melihat dari fenomena lapangan yang terjadi. Kami mencoba menuangkan fenomena itu ke dalam garapan dan juga propertinya juga mendukung. Di sini kami memberi pesan betapa pentingnya menjaga diri dari pengaruh modernisasi khususnya di gadget,” jelasnya.

Adapun dalam Gong Kebyar Anak-anak ini, Sanggar Seni Sudha Wirad melibatkan sebanyak 38 penabuh, 9 penari, dan 28 orang pemain dolanan. Pemilihan seniman cilik yang akan tampil pun melalui proses seleksi. “Proses awal kita sosialisasi di Kecamatan Kuta Utara. Yang daftar seleksi untuk dolanan 70 orang, tapi kita nyari 28 orang. Sedangkan tari kita nyari 9 orang, yang ikut 27 orang,” terang Wahyudi Putra.

Pihaknya menuturkan, proses latihan dilakukan pertama kali sejak 13 Februari 2025, dengan intensitas seminggu tiga kali latihan. Namun memasuki bulan Juni 2025, latihan diintensifkan setiap hari. Pengaruh teknologi cukup menjadi tantangan tersendiri bagi penggarap dalam melatih anak-anak. Sebab saat ini, ketergantungan pada HP tidak dapat dipungkiri. “Di sini kami juga melatih fokus dan disiplin anak-anak. Kalau lagi latihan, HP mereka kami kumpulkan dulu. Setelah selesai, baru dikembalikan,” katanya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Pemkot Denpasar Gelar Pembinaan Sekaa Joged Bumbung Sekar Sari Pedungan
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Sanggar Seni Majalanggu Duta Badung, Tampilkan “Arja Cupak” dalam Pergelaran Revitalisasi Kesenian Klasik

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Disambut Antusias, Sanggar Seni Cakup Kaler Duta Badung Dalam Pagelaran Semara Pegulingan PKB 2025

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Sanggar Seni Majalanggu Duta Badung, Tampilkan “Arja Cupak” dalam Pergelaran Revitalisasi Kesenian Klasik

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca